Sabtu, 31 Desember 2016

Year-End Note Special: The 10 (+1) Indonesian Films of 2016


Tidak menyangka bahwa artikel spesial ini bisa ditulis lagi hanya selang satu tahun setelah yang terakhir. Year-end note spesial film Indonesia baru dua kali gw posting di blog ini, terakhir di tahun 2015 lalu, dan sebelumnya tahun 2012. Gw memang biasanya akan melebur film luar dan Indonesia dalam satu list Top 10--dan gw maunya tetap begitu, tetapi ketika dalam satu tahun gw merasa banyak film Indonesia yang berkesan dan sampai 10 judul, postingan ini musti dibuat. Dan gw pikir akan banyak yang setuju, bahwa 2016 adalah tahun yang luar biasa untuk film Indonesia.

Pertama dari kuantitas dulu, 2016 terbukti jadi tahun rekor film Indonesia dari penjualan tiket di bioskop. Tahun ini kita akhirnya menemukan film pemecah rekor penjualan tiket bioskop tertinggi sepanjang sejarah, yang diraih Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 dengan 6,8 juta (!) lembar tiket. Angka yang diraih film-film di bawahnya juga menggembirakan, Ada Apa dengan Cinta 2 jual 3,6 juta tiket, My Stupid Boss 3 juta tiket, dan Rudy Habibie 2 juta tiket. Tak berhenti di sana, hingga akhir tahun 2016, sudah ada 9 film (!!) Indonesia yang menjual tiket di atas 1 juta lembar. Mau kabar menyenangkan lagi? Dari 15 film Indonesia terlaris 2016 sejauh ini, hanya satu film horor, dan itu pun bukan horor murahan. In fact semua film yang laku tak ada satu pun yang cheap. Maka, anggapan bahwa film Indonesia lebih banyak horor murahan esek-esek kini hanyalah mitos belaka. Mungkin otak situ yang esek-esek, film Indonesia sih udah lama move on *lah malah nyindir pembaca*.

Kenapa gw kasih tanda seru pada data-data di atas, karena perbandingannya cukup jauh dari tahun-tahun belakangan. Ngintip website filmindonesia.or.id, tahun 2015 hanya ada 3 film yang mencapai penjualan di atas 1 juta (Surga yang Tak Dirindukan, Comic 8: Casino Kings Part 1, Single), itu pun digit depannya cuma 1 juta. Apalagi lihat tahun 2014, cuma ada dua film (Comic 8 dan The Raid 2: Berandal), dan itu juga "mentok" di angka 1,6 juta tiket. Jadi jangan tahan diri, silahkan merayakan 2016 sebagai tahun homecoming film Indonesia, dan mari saling menjaga agar para filmmaker tidak mengkhianati kepercayaan penonton ya.

Anyway, tentu saja untuk daftar yang gw bikin tidak berhubungan dengan kelarisan, melainkan dari penilaian pribadi, baik karena kualitasnya gw anggap baik, atau ada nilai-nilai lain yang bikin film-film ini begitu berkesan. Dari sekian puluh film Indonesia yang gw tonton sepanjang tahun 2016, judul-judul di bawah ini memiliki kesan yang paling paling buat gw. Sengaja gw bikin dalam urutan abjad, bukan peringkat, demi menekankan gw sama-sama respek terhadap film-film ini, yang sukses membuat gw tetap percaya bahwa film Indonesia bisa bagus. Dan, khusus kali ini gw menyebut 11 ketimbang 10 seperti biasa, karena gw ingin memasukkan special mention terhadap salah satu judulnya (tapi bukan ILY from 38.000 Ft., sorry =P). 

Baiklah, berikut ini 11 film Indonesia paling berkesan buat gw di tahun 2016.





3 Srikandi
sutradara Iman Brotoseno

Film olahraga bukannya jarang dibuat di Indonesia, tetapi yang disajikan semenghibur ini memang nggak banyak. Film ini tidak hanya mengingatkan kembali pada pembuka sejarah prestasi atlet Indonesia di Olimpiade--dalam hal ini tentang regu pemanah putri yang sukses raih medali perak di Olimpiade Seoul 1988, tetapi memberikan sajian zero-to-hero yang sangat menghibur. Lewat film ini dikisahkan perjuangan empat orang dengan motivasi dan latar berbeda tetapi mengarah pada mimpi yang sama, namun juga tidak meninggalkan sisi cerah dan humornya, sehingga bikin rela mengikuti perjalanan cerita mereka hingga akhir. Review di sini.





Aach...Aku Jatuh Cinta
sutradara Garin Nugroho

Entah harus memuji sutradaranya atau justru gw sendiri, ini adalah film Garin Nugroho yang paling bisa bikin gw terhibur. No kidding. Seakan membangkitkan kembali gaya drama percintaan dan rumah tangga di film-film Indonesia era lampau, film yang konon memang sengaja dibuat "lebay" ini mampu mempersembahkan rangkaian adegan yang mencolek emosi dan saraf senyum, selain dengan nilai produksi yang indah serta penataan musik yang keren. Review di sini.





Ada Apa dengan Cinta 2
sutradara Riri Riza

Jeda 14 tahun dari film pertamanya yang fenomenal membuahkan sebuah pendewasaan yang layak dinantikan. Gw pribadi pasti akan menyatakan lebih suka sekuelnya ini, berkat jalan cerita yang tidak se-cheesy pendahulunya, pertaruhan yang lebih berbobot, serta permainan emosi yang lebih pas takarannya, semuanya naik kelas. Namun, film ini juga masih mempertahankan charm dari karakter-karakternya, performa para pemain yang masih sanggup membangkitkan karakter masing-masing dengan sangat baik, sehingga faktor fun-nya nggak hilang. Review di sini.





Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara
sutradara Herwin Novianto

Ini adalah contoh film "baik-baik" (dalam artian ingin memberi tontonan "mendidik dan inspiratif dengan kearifan lokal dan membangun karakter bangsa" =D) yang untungnya ditangani oleh keterampilan yang baik pula. Kemasan luarnya memang seperti kurang menarik, menurut gw materi promonya nggak ada yang beres, seakan mengaburkan bahwa kualitas film ini lebih daripada itu. Dengan tema yang berpotensi sensitif--seorang guru muslim berjilbab ditugaskan mengajar sendiri di desa terpencil NTT yang mayoritas Katolik, film ini ditangani dengan sensitivitas yang lembut namun pesannya mengena, tanpa harus terlalu verbal. Bicara soal kebhinnekaan dan toleransi, film ini adalah contoh yang paling tepat saat ini. Review di sini.





Athirah
sutradara Riri Riza

Selalu ada tempat untuk film seperti ini di hati gw. Film yang indah, artistik, puitis, namun tetap komunikatif dan jelas apa yang mau disampaikan. Menonton film ini membuat gw terkagum-kagum atas pilihan-pilihan artistiknya dalam cerita, dalam beradegan (yang jarang dialog terujar), dalam performa aktornya, dalam visualnya, dalam musiknya, dan yang paling mendasar adalah pemilihan topik yang diangkat. Belum ada film tentang kisah nyata tokoh besar dan topik poligami yang dibuat seberkelas ini. Review di sini.





Catatan Dodol Calon Dokter
sutradara Ifa Isfansyah

Gw nggak tahu pasti apa yang terjadi sama film ini sehingga kayak gampang banget terlewatkan dari radar, padahal gw merasa ini adalah salah satu yang paling menghibur di tahun ini. Tata visual yang bagus serta pembawaannya yang ringan dan humoris membalut sebuah kisah romantika para calon dokter, baik dalam hal pencapaian profesi--dengan detail yang informatif--maupun cinta. Plus performa yang baik dari para aktor bahkan oleh mereka yang sebelumnya gw ragukan kemampuannya. Review di sini.





Cek Toko Sebelah
sutradara Ernest Prakasa

Sudah menarik sejak dari premisnya yang orisinal, film drama komedi ini pun dieksekusi dengan baik, malah sukses jadi salah satu film yang paling menghibur dan menyentuh, dan jadi penutup tahun 2016 yang menyenangkan. Kisahnya mungkin tampak spesifik, soal manula etnis Tionghoa yang hendak mewariskan usaha keluarga kepada anak-anaknya, yang sayangnya responsnya tak seperti yang diharapkan. Namun, kisah ini juga dituturkan sedemikian rupa sehingga mampu berbicara kepada hampir semua kalangan, dan itu bertumpu pada karakterisasi yang simpatik, serta dibumbui parade humor dari pada stand up comedian yang sedang naik daun. Review di sini.





Ngenest
sutradara Ernest Prakasa

Apakah ini salah satu praktik cheat gw setiap bikin senarai di blog? Bisa jadi. Sebagai pembelaan, gw nggak cukup waktu untuk mempertimbangkan film ini untuk masuk dalam daftar tahun 2015, lah rilisnya aja tanggal 30 Desember 2015 dan itu sudah lewat deadline (yang gw bikin-bikin sendiri, heuheu), makanya gw memutuskan masukkan ke 2016, dan rupanya bertahan hingga akhir. Film ini mengangkat sebuah isu sensitif tentang diskriminasi ras di Indonesia yang dengan brilian dibahas dari sudut pandang humor, tanpa menghilangkan seruan kegelisahannya. Debut penulisan dan penyutradaraan film dari Ernest Prakasa ini mampu memikat perhatian sejak awal, baik karena kelucuannya yang cerdas, maupun karena tema penting yang dibawakannya, yang sukses bikin gw memaafkan buruknya rambut palsu yang dipakai pemerannya. Review di sini.





Surat dari Praha
sutradara Angga Dwimas Sasongko

Ternyata film yang dirilis awal tahun banget ada benefitnya dari segi penilaian. Film ini adalah salah satu dari sedikit film Indonesia yang gw tonton ulang-ulang lewat berbagai medium, dan terbukti masih memancarkan kesan dan keindahan yang sama kuatnya dengan pertama kali nonton. Film ini tak hanya cerdas dalam mengolah "gimmick" sejarah kelam bangsa, lokasi luar negeri, dan lagu-lagu Glenn Fredly menjadi kesatuan yang utuh sehingga sama sekali tak lagi berfungsi gimmick. Tuturan cerita, pengadeganannya, aktingnya, tata visualnya, musik dan lagunya, begitu menyihir gw sampai-sampai bikin kangen dan ingin terus menonton lagi. Review di sini.





The Window
sutradara Nurman Hakim

Ini bisa jadi item paling unlikely di sini. Awalnya gw tertarik sama film ini lantaran ini comeback aktingnya Titi Rajo Bintang. Kisahnya sendiri bergerak dari upaya seorang wanita mencari tahu bagaimana adiknya yang cacat mental dan tak pernah keluar rumah bisa tiba-tiba hamil, tetapi bergulir menjadi upaya bertindak atas trauma masa lalu, serta melawan psychological abuse dari sosok yang harusnya jadi panutan. Namun, film yang sekilas tampak nyeni-nyenyi Jogja gimana gitu ini rupanya menampilkan kejanggalan dan quirkiness yang justru menghibur buat gw, baik dari adegan maupun karakternya, seakan mengolok ciri-ciri "film nyeni" itu sendiri. Mungkin itulah yang bikin film ini tetap bertahan di ingatan gw hingga akhir tahun ini. Review di sini.





Uang Panai'
sutradara Asril Sani & Halim Gani Safia

Dan inilah film ke-11 pilihan gw, yang tadi gw sebut-sebut sebagai special mention. Ini adalah roman komedi berdasarkan adat Bugis-Makassar, yang benar-benar memuat kisah cinta anak muda, komedi, dan penjelasan adat, yang lebih kurangnya berhasil memberikan hiburan yang segar. Kalau mau bicara jujur, kualitas film ini memang masih jauh dari sempurna, jalan cerita masih ke mana-mana, pemain pun masih kaku-kaku. Tetapi, apa yang dicapai oleh film ini patut disorot. Pertama, film ini berhasil dengan tepat menangkap apa yang diinginkan (atau dibutuhkan) oleh target penontonnya, yaitu konten yang sangat connect dengan orang Makassar maupun perantau asal Makassar, dan karena itu pula film ini sanggup menjual lebih dari setengah juta lembar tiket bioskop (!!!), sebagian besar didapat dari bioskop di Sulawesi. Kedua adalah penggarapannya, nilai produksi, dan teknisnya sangat proper, standar nasional, sehingga enak sekali disaksikan di bioskop, bahkan mungkin lebih bagus dari sebagian film buatan Jakarta yang katanya pusat segalanya itu. Buat gw, Uang Panai' patut dijadikan panutan dan penyemangat bagi film-film produksi daerah lain di Indonesia, asalkan know what you're doing and doing it properly, pasti nggak akan sia-sia. Review di sini.




2 komentar:

  1. Balasan
    1. itu belum termasuk yang paling buat saya, tapi masih termasuk yang baik kok =)

      Hapus