Selasa, 27 Desember 2016

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2016 (International)

Ah, akhir tahun, salah satu periode yang paling ditunggu oleh banyak blogger seperti gw untuk membuat senarai tahunan. Kita telah tiba pada periode itu dan gw juga nggak mau tahan-tahan lagi untuk menggelontorkan beberapa daftar Top 10 versi gw untuk tahun 2016. 

Seperti biasanya gw akan awali dengan lagu, dan untuk yang pertama gw akan share 10 lagu internasional (non-Indonesia dan non-Jepang) terfavorit gw sepanjang tahun ini. Kalau sering mampir ke blog gw sejak tahun-tahun belakangan ini, pasti kebacalah ya kalau soal lagu internasional gw adalah budak mainstream, karena biasanya yang gw suka dan masukin di senarai ini adalah yang sering gw temukan di radio (yes gw masih dengerin radio) atau media massa lain. Jadi, mohon maaf sebelumnya kalau pilihan gw masih kurang eklektik untuk yang satu ini, huhu.


Baiklah kita mulai saja, inilah 10 teratas lagu internasional tahun 2016 versi gw.




10. "Heathens" – twenty one pilots

You can say what you want about Suicide Squad, tetapi patut diingat bahwa film ini mampu mengawinkan kembali film superhero dengan soundtrack kekinian seperti zamannya Spider-Man pertama dulu. "Heathens" tak hanya mewakili filmnya, tetapi juga merepresentasikan makin kaburnya batasan antara rock, hip-hop, dan elektronik sebagaimana karakter twenty one pilots *sotoy padahal baru tahu band ini setahun belakangan*.






9. "We Don't Talk Anymore" – Charlie Puth feat. Selena Gomez

Gw sejak awal merasa ada sesuatu yang menghalangi untuk bisa menyukai Charlie Puth (mungkin gara-gara suaranya yang kayak orang dicekik dan dipencet hidungnya sekaligus, who knows), ataupun lagu-lagunya. Tetapi, "We Don't Talk Anymore" muncul sebagai lagu yang mudah memikat perhatian gw lewat nada-nada catchy santai berderap sekaligus sendu itu. 






8. "Ophelia" – The Lumineers

Band folk-rock Amerika ini mungkin agak kurang menginternasional, namun nggak berarti mereka berhenti bikin karya bagus. "Ophelia" buat gw adalah cara terbaik untuk mengingatkan kembali bahwa The Lumineers ini boleh aja tampak sederhana, namun masih punya daya magis lewat melodi, instrumen, irama, lirik, serta pemilihan judulnya. Plus sentuhan playfulness-nya asyik banget di sini.






7. "Hymn for the Weekend" – Coldplay feat. Beyoncé

Bukan sekadar nama besar artisnya—too big, even. Masuknya unsur R&B dalam rock yang makin kalem khas Coldplay ternyata adalah perpaduan yang nikmat. Melodi dan lirik yang bagaikan anthem bikin lagu ini gampang banget diterima kuping.






6. "No" – Meghan Trainor

Gw akui Meghan kerap bikin lagu-lagu yang menguji batas kesabaran karena terlampau catchy dan terlalu sering diputar. Tetapi, bikin yang berhasil diterima luas kayak gitu berkali-kali sangat sulit lho. Buat gw, "No" adalah hit ter-oke dari Meghan, dengan musiknya yang seperti pop R&B ala Destiny's Child, juga dengan liriknya yang agak lucu, bukan karena keseringan diputar di mana-mana seperti tuduhan banyak orang. 






5. "Secret Love Song" – Little Mix feat. Jason Derulo

It's this close to be a gulity pleasure, sebelum gw sadar bahwa lagu balada perselingkuhan gombal dan biasa banget ini memang disusun dalam tatanan nada yang sangat menguras emosi, selain menunjukkan kemampuan vokal penyanyi-penyanyinya. Lagu pop murni yang tidak mencoba jadi terlalu "berontak" adalah sebuah kesegaran di iklim musik mainstream hari-hari ini.






4. "Closer" – The Chainsmokers feat. Halsey

Satu lagi lagu terlampau populer tapi gw tak kuasa untuk nggak suka. Selain catchy, yang gw suka dari lagu ini adalah unsur EDM-nya (electronic dance music) nggak dibuat medok sehingga enak dinikmati setiap saat dan di mana saja layaknya lagu pop "normal". Nggak cuma unjuk kebolehan di ritme dan beat tapi juga di melodi. Hasilnya lagu ini ya terdengar seperti "lagu", bukan cuma suara buat rame-ramean "pokoknya joget" di party atau iringin credit title Insert.






3. "Water Under the Bridge" – Adele

Lagu terfavorit gw di album 25 dan gw geregetan kapan ini dijadiin single malah keduluan "When We Were Young" dan "Send My Love (To Your New Lover)". Indah, megah, nuansa urban pop 80s-90s, dan mood-nya yang cenderung lebih positif—dan danceable—daripada lagu-lagu Adele yang sudah ada. This is a great track, dan sudah sepatutnya dan sepantasnya jadi hit juga.






2. "봄이 좋냐?? (Bomi johnya??/What the Spring??)" – 10cm

Gw tuh sudah lama menantikan saatnya menemukan artis K-Pop yang bukan girlband-boyband ataupun lagu-lagu cengeng soundtrack sinetron. Pertemuan gw dengan lagu "What the Spring??" ini agak nggak sengaja, setelah melihat salah satu peserta acara I Can See Your Voice meng-cover lagu akustik santai ini dengan enaknya. Pas gw ulik ternyata aslinya tak hanya enak, tetap punya lirik yang ironis sama nuansa lagunya yang adem—terima kasih pada subtitle di YouTube. Salah satu penemuan yang menyenangkan dari blantika K-Pop, sekaligus salah satu lagu paling bagus yang gw dengar sepanjang tahun ini.








1. "7 Years" – Lukas Graham

Ini bukan hanya lagu yang gw suka hanya karena gw suka, tetapi bikin gw heran gimana caranya lagu yang rangkaian melodinya kayak cuma satu bar diulang-ulang tapi bisa terdengar seenak dan sedramatis ini tanpa terkesan monoton. Lirik dengan cerita memikat, pembawaan si vokalis yang berartikulasi mantap, juga musik yang memuat melankoli, kelembutan, sekaligus hentakan yang seakan memerangkap yang dengar untuk ikutin terus "ceritanya" sampai ke bagian tamat. Ini lagu yang sudah nyantol sejak pertama gw dengar di awal tahun dan sampai sekarang kesan itu belum luntur juga.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar