Sabtu, 31 Desember 2016

Year-End Note: My Top 10 Films of 2016

10 film yang akan gw sebut adalah yang paling favorit, berkesan, dan sometimes paling "racun" buat gw (yang menyebabkan skor yang gw beri per film kadang jadi nggak ngaruh di sini), yang dirilis di bioskop komersial Indonesia sepanjang tahun 2016. No time to waste, mari kita mulai.


Eh sebelum itu =P, gw coba mention film-film yang hampir masuk 10 besar, kali ini dalam urutan abjad:

Ada Apa dengan Cinta? 2, directed by Riri Riza
Film yang memuat pesona yang sama dengan film pertamanya, bahkan lebih lagi dengan cerita yang mendewasa dan lebih matters.

Dangal, directed by Nitesh Tiwari
Film yang moving dalam kemasan menghibur khas Bollywood, tetapi yang paling mengesankan buat gw film ini menampilkan adegan-adegan pertandingan yang sama serunya seperti menonton pertandingan langsung.

Deadpool, directed by Tim Miller
Plotnya remeh banget, tetapi diramu sebagai laga komedi yang violent sekaligus sukses mengocok perut lewat humor-humor self-conscious-nya.

Mermaid directed by Stephen Chow
Film komedi fantasi absurd produksi China yang salah satu adegannya sukses bikin gw tertawa yang saking kerasnya sampai nggak sanggup bersuara.

One Way Trip directed by Choi Jung-yeol
Mengangkat sebuah kisah ujian persahabatan empat remaja di tengah tuduhan tindak kriminal, film ini sukses menghindar dari pakem-pakem klise film Korea--sejauh yang gw tahu ya.




Kalau begitu, silahkan simak 10 teratas film terfavorit gw di tahun 2016.




10. Finding Dory
directed by Andrew Stanton

Memang tidak gampang untuk mengulang rasa yang timbul saat dulu menyaksikan Finding Nemo (2003), namun Finding Dory tetap berhasil mencuri hati. Dengan petualangan baru yang berfokus pada pencarian orang tua si ikan pelupa Dory, film animasi Pixar ini mampu memunculkan kelucuan yang setara dengan pendahulunya, ditambah dengan kemunculan karakter-karakter baru yang sama lovable-nya dengan karakter-karakter lama. 






9. Warcraft
directed by Duncan Jones

Nonton kali pertama merasa nggak bagus-bagus amat tapi masih terhibur. Terus terpanggil lagi untuk nonton lagi, kok jadi tambah tertarik pada cerita dan dunianya. Eh terus jadi pengen nonton lagi dan akhirnya gw melihat kerennya film adaptasi game online ini. Salah satu ciri film dengan label "favorit" adalah yang ngangenin--atau mungkin ngeracunin, dan Warcraft sangat masuk dalam kelompok itu. Kompleksitas ceritanya mampu disajikan bersamaan dengan konsep visual dan laga yang oke, dan kelihatan bahwa yang bikin film punya kecintaan sama materi aslinya, sehingga hasilnya pun juga menyenangkan. 







8. Your Name.
directed by Makoto Shinkai

Belum terkikis kekaguman gw sama cara penuturan film anime Jepang bertema romansa remaja dengan sentuhan fantasi ini. Ketika romansa yang berkisar pada "takdir mempertemukan kita" nggak berakhir gombal, melainkan jadi kisah yang punya daya magis karena diiringi konsep yang sangat imajinatif namun terjelaskan dengan terampil. Film ini juga menampilkan makna baru tentang "saling kenal luar dalam". 







7. Room
directed by Lenny Abrahamson

Film yang amazingly mampu menuturkan kisah getir bersamaan dengan kepolosan anak sebagai sudut pandang utamanya. Getir itu kuat terasa, karena berkisah tentang wanita (dulunya) remaja korban penculikan yang disekap di sebuah ruang selama bertahun-tahun sampai dihamili oleh penculiknya. Namun, kelembutan dan kepolosan itu pun tetap mencuat berkat karakterisasi Jack, si anak yang selama ini hanya tahu dunia sebatas ruang sempit kemudian akhirnya bisa keluar dan mengalami dunia luar yang sesungguhnya.
Review di sini







6. Eye in the Sky
directed by Gavin Hood

Inilah film thriller di tahun 2016 yang paling bikin gw deg-degan dan terkuras emosi saat nonton di bioskop. Berpusat pada upaya pemberantasan teroris di sebuah negara Afrika lewat teknologi drone, film ini memperkenalkan bahwa aksi ini melibatkan berbagai macam pihak di tempat berbeda-beda (kali ini Inggris dan AS dan sekutunya), dengan keruwetan birokasi serta dilema moral yang setiap detik muncul. Meskipun fiksi, film ini juga dengan sangat baik menyatakan statement-nya tentang perang terhadap terorisme yang tidak sesederhana hitam dan putih. 







5. Sully
directed by Clint Eastwood

Tak hanya tentang peristiwa nyata pendaratan darurat sebuah pesawat berpenumpang di atas sungai besar di New York, film ini membawa gw menyelami psikologis Sully sang pilot dengan cukup menyeluruh, serta penggarapan adegan-adegannya yang mungkin sebenarnya tampak biasa, tidak serba dramatis, namun mampu menimbulkan rasa yang semestinya. Adegan detail pendaratan dan penyelamatan itu juara sekali. 





4. Athirah
directed by Riri Riza

Dari sebuah episode kisah hidup tokoh pemerintahan Indonesia saat ini, ditambah isu poligami, film ini akan mudah jatuh jadi pemujaan tokoh, jualan motivasi, menye-menye, dan sejenisnya. Untunglah film ini jatuh ke tangan Miles Films dan Riri Riza, yang mampu mengolah kisah melodrama ini tanpa mengkompromikan sense artistik mereka. Hanya dalam 80-an menit, film ini menyajikan apa yang perlu disajikan dengan komplet, ikut mengalami pergulatan batin tokoh-tokohnya, yang tentu saja dibungkus dalam presentasi yang amat sangat menawan. 







3. Zootopia
directed by Byron Howard & Rich Moore

Film ini masih belum keluar dari lingkaran nilai-nilai kekeluargaan dan motivasi untuk jadi yang terbaik sekalipun banyak rintangan, yang selalu ada di film-film Disney, khususnya yang animasi. Heran juga ketika film tentang peradaban modern hewan mamalia ini, yang plotnya digerakkan pada sebuah misteri kriminal, tetap mampu menyampaikan nilai-nilai itu, dan lebih lagi. Bahwa film ini disajikan dengan laju yang exciting, keseimbangan laga, humor, dan drama menyentuh, serta karakter-karakter yang mudah disukai dan wujudnya menggemaskan, semakin memantapkannya sebagai salah satu film animasi Hollywood terbaik dalam tahun-tahun belakangan. 







2. Spotlight
directed by Tom McCarthy

Ini mungkin adalah the truest form of film. Berdasarkan kisah nyata investigasi jurnalistik skandal pelecehan anak di lingkungan gereja di Boston, film ini hanya melakukan satu tugasnya dengan tepat: bercerita. Dengan susunan dan penuturan cerita yang solid, nggak pakai yang fancy-fancy, film ini sukses bikin gw fokus terus pada ceritanya, yang bikin emosi naik turun saat menyaksikan fakta demi fakta digulirkan dan tantangan demi tantangan menghimpit. Performa luar biasa dari deretan aktornya pun bukannya berusaha saling pamer kebisaan, semuanya tampil sama kuat dalam menyokong topik dan kisah yang hendak disampaikan, sebagaimana sebuah film semestinya. 
Review di sini










1. Surat dari Praha
directed by Angga Dwimas Sasongko

Film ini muncul di Januari 2016, dan setelah nonton pertama kali gw tahu film ini akan masuk daftar 10 teratas akhir tahun gw. Sekarang gw ingat-ingat lagi, sepanjang tahun ini belum ada yang bikin gw bereaksi seperti nonton Surat dari Praha. Film yang membuai gw dengan cerita tentang cinta yang tak terbereskan--baik sebagai kekasih, keluarga, ataupun rakyat, juga memberi perlakuan tepat porsi dan terintegrasi tentang episode kelam sejarah politik Indonesia. Dibungkus dalam persembahan visual yang sederhana namun penuh estetika, dan musiknya sebagai bagian dari cerita yang dieksekusi dengan efek menggetarkan. Buat gw adegan duet dadakan Laras dan Jaya adalah salah satu adegan terbaik tahun ini, dan salah satu movie music moment terbaik di film Indonesia manapun. Pukauan film ini pun ternyata sangat awet saat gw nonton beberapa kali--di bioskop, di streaming, hingga saat tayang di TV, sehingga gw merasa punya tanggung jawab kepada diri sendiri untuk menaruh film ini di posisi teratas tahun ini. 



Demikian bagian akhir catatan akhir tahun gw, semoga kiranya berkenan adanya. Selamat menyongsong tahun yang baru. Cheers.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar