Jumat, 18 November 2016

[Movie] Billy Lynn's Long Halftime Walk (2016)


Billy Lynn's Long Halftime Walk
(2016 - TriStar)

Directed by Ang Lee
Screenplay by Jean-Christophe Castelli
Based on the novel by Ben Fountain
Produced by Marc Platt, Ang Lee, Stephen Cornwell, Rhodri Thomas
Cast: Joe Alwyn, Garrett Hedlund, Kristen Stewart, Vin Diesel, Steve Martin, Chris Tucker, Makenzie Leigh, Deirdre Lovejoy, Bruce McKinnon, Arturo Castro, Mason Lee, Ismael Cruz Cordova, Barney Harris, Beau Knapp, Ben Platt


Sebesar apa pun respek gw sama Ang Lee serta upayanya untuk mencoba teknologi mutakhir pada film-filmnya belakangan (terakhir di Life of Pi), dan seharum apa pun kedengarannya film terbarunya ketika bintang-bintang terkenal seperti Vin Diesel, Kristen Stewart, Steve Martin, hingga Chris Tucker dinyatakan bergabung, seiring berjalannya waktu gw mengendus sesuatu yang fishy dari Billy Lynn's Long Halftime Walk. Selain judulnya yang ngerepotin dan kurang catchy apalagi buat gw yang orang Indonesia--karena "halftime" itu istilah olah raga American football, ada pula percobaan syuting menggunakan kamera 3D berkecepatan 120 frame per detik, yang artinya gambarnya akan 5 kali lebih halus daripada film biasa (atau mungkin 3 kali lebih halus daripada sinetron =P). Ini agak berisiko, karena terakhir film bioskop yang kecepatan frame gambarnya cepat adalah trilogi The Hobbit (48 frame per detik) yang sambutan terhadap kehalusan gambarnya tak selalu positif. Apalagi, mengingat teknologinya masih sangat baru, toh buntut-buntutnya Billy Lynn belum bisa diputar dalam format 120 frame per detik di sebagian besar bioskop umum jadi ya buat apa juga =_='. Akan tetapi, yang makin bikin heran adalah, dengan nama-nama besar serta cerita tentang patriotisme AS, kok ya sokongan studio Hollywood-nya terbilang minim. TriStar itu bukan label yang seutama Columbia di Sony Pictures, dan ternyata film ini banyak dibantu dari rumah produksi Inggris dan China. Semacam film indie tapi nggak juga.

Film ini mengisahkan tentang Billy Lynn (Joe Alwyn), tentara muda yang sedang pulang ke tanah airnya untuk melakukan sebuah tur media di AS bersama rekan-rekan yang baru bertugas di Irak, tepat setelah tindakan Billy melindungi sersannya, Shroom (Vin Diesel) dari serangan milisi Irak tertangkap kamera dan diberitakan di mana-mana. Billy jadi semacam lambang patriotisme AS dan akhirnya disuruh tampil demi misi "public relations". Tugas terakhirnya adalah tampil di acara panggung hiburan pengisi waktu istirahat halftime di sebuah pertandingan American football. Bukan tampil biasa, tapi bakal muncul bareng Destiny's Child (!) yang perform di sana, dan tentu saja disiarkan secara langsung di TV. Berkutat pada persiapan hingga kesudahan acara tersebut, cerita film ini berutur bolak-balik tentang apa yang terjadi pada Billy sebelumnya, mulai dari penugasannya di Irak, motivasinya, hingga reaksi keluarga tentang keadaannya sekarang terutama dengan saudarinya, Kathryn (Kristen Stewart) yang sebenarnya tak setuju dengan keberangkatan Billy ke medan perang.

Gw melihat sebenarnya film ini punya ide-ide menarik yang bermuara pada perang. Kisah film ini ingin menyorot soal perbedaan pandangan antara prajurit di lapangan dengan rakyat yang dibelanya tentang perang--di sisi sana penuh ancaman yang menguji rasa kemanusiaan dengan taruhan nyawa, di sisi sini anggap perang sesederhana pihak musuh mesti diberantas dan pihak kawan musti dielu-elukan dengan selebrasi. Film ini juga terlihat ingin menggali lebih dalam lagi tentang mempertanyakan apa motivasi mereka sebenarnya sampai harus berperang, trauma yang banyak menimpa veteran perang, peran media massa, hingga eksploitasi kisah tragis demi kepentingan segelintir orang. Dan banyak lagi persoalan seputar itu. Like, banyak banget. Yang gw sayangkan, banyaknya isu dan persoalan yang ingin ditengahkan oleh film ini tidak diikuti dengan penuturan yang luwes dan menggugah, kayak semuanya dilempar aja secara berderet dan bahkan acak sehingga nggak fokus sebenarnya statement apa yang ingin ditekankan di sini. Pada akhirnya mungkin mau menekankan pada kegalauan Billy antara tetap tinggal atau menaati penugasan kembali bertaruh nyawa di medan perang, tapi itu tidak dijalin dengan kuat dalam durasi ceritanya.

Tentu saja yang terbesit di pikiran gw kemudian adalah "ini filmnya Ang Lee?", karena gw merasa bahwa sensitivitas dramatik-nya doi seperti banyak diredam demi unsur-unsur yang seolah-olah terlalu berusaha menunjukkan "film ini (walaupun banyakan ngobrolnya) asyik lho, moderen abeiss". Ini terbukti dari film ini mencoba memunculkan banyak komedi dalam dialog, gaya editing "tiba-tiba" (kadang mengingatkan sama filmnya Lee juga, Hulk yang btw gw suka), grafis layar handphone, serta permainan filter gambar untuk adegan-adegan khayal. Well, buat gw film ini...emmm...seperti ada yang kurang sinkron antara muatan drama dengan keinginan untuk jadi "asyik" itu. Mungkin maunya seasyik Danny Boyle bikin Slumdog Millionaire yang konsep penuturan bolak-baliknya mirip. Tapi, jadinya ibarat ngeliat oom-oom manula yang udah puluhan tahun nggak olah raga nyoba senam zumba tanpa pemanasan, ritmenya nggak terkejar. Karakternya buanyak dengan statement masing-masing yang menarik, kalau lihat adegan per adegan sih bagus, pemainnya juga main bagus-bagus, tapi somehow jadi kurang menggigit karena nggak menyatu mulus dalam konstruksi keseluruhan ceritanya, gw gagal nangkep adegan-adegan ini hendak menyokong adegan/karakter/statement yang mana. 'Kan gregetan jadinya.

So yeah, film ini jatuhnya cukup jauh dari ekspektasi gw, dan mungkin dari ekspektasi banyak orang. Mulai dari yang sesederhana "film perang yang adegan perangnya cuma seiprit", which for me is fine asal bagian lain juga sama serunya, sampai bahwa film ini nggak bisa menggelitik sisi emosi seperti film-film Lee sebelumnya--you know bahkan film silat Crouching Tiger Hidden Dragon itu kuat di drama. Presentasi gambarnya pun buat gw nggak membantu untuk memberi nilai tambah, mungkin karena gw--dan practically 99,5% orang yang sudah dan akan nonton film ini di dunia--nontonnya bukan dalam format yang seharusnya yang 3D dan 120 frame per detik itu. Yang gw lihat di format 2D dan 24 frame per detik biasa hanyalah gambar jernih yang kurang warna dan at times seperti sinetron atau reality show (yang penuh rekayasa) di MTV. Mungkin gambar "sangat realistis" memang jadi tujuan presentasi film ini, tetapi buat gw, it's not pretty. Bisa jadi karena belum biasa, but still it's just weird

Yang akhirnya bisa gw beri ke film ini adalah respek pada usaha mencoba sesuatu yang baru, performa oke dari para pemain, pandangannya tentang isu perang, dan konsep ceritanya, sekalipun eksekusinya gw sangat kurang enjoy. Oh iya, lucunya sekalipun sejak awal pemberitaan film ini hendak mencoba breakthrough lewat teknologi visual, ranah teknis yang paling menonjol di sini justru malah sound-nya, megah sekali. Selebihnya, maaf-maaf saja. Dengan potensi yang sebesar itu, film ini sayangnya jadi karya yang termasuk lemah dari film-film bertema perang yang pernah gw tonton belakangan ini. Dan tentu saja, kekecewaan yang tak kalah besar adalah film ini nggak sanggup menampilkan Destiny's Child asli (yang sudah bubar) untuk reuni di film ini. Jangan-jangan mereka udah punya firasat makanya nggak mau...*ditimpuk high heels*.





My score: 6,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar