Minggu, 23 Oktober 2016

[Movie] Wonderful Life (2016)


Wonderful Life
(2016 - Visinema Pictures/Creative & Co)

Directed by Agus Makkie
Screenplay by Jenny Jusuf
Based on the novel by Amalia Prabowo
Produced by Angga Dwimas Sasongko, Rio Dewanto, Handoko Hendroyono
Cast: Atiqah Hasiholan, Sinyo, Alex Abbad, Lydia Kandou, Arthur Tobing, Putri Ayudya, Edward Akbar, Abdurrachman Arif, Totos Rasiti, Didik Nini Thowok


Dari berbagai segi, anggapan yang timbul di gw tentang film Wonderful Life adalah betapa modest-nya film ini. Dari judul yang kurang spesifik, premis cerita yang kurang "nyubit", sampai pada sutradaranya yang debutan dan belum pernah gw dengar sebelumnya. Satu-satunya unsur yang masih membuat gw tertarik sama film ini adalah rumah produksinya, Visinema Pictures yang dipimpin sineas Angga Dwimas Sasongko—yang melahirkan film Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi, dan Surat dari Praha. Kali ini Angga menyerahkan kursi sutradara kepada Agus Makkie yang katanya berasal dari dunia iklan. Kisah Wonderful Life sendiri juga diangkat dari kisah nyata seorang ibu yang anaknya disleksia--gangguan fisik yang membuatnya kesulitan membaca.

Anak tersebut bernama Akil (Sinyo), di cerita film ini digambarkan masih kelas tiga SD. Di saat-saat ini, ibunya, Amalia (Atiqah Hasiholan) menyadari bahwa Akil tidak sama seperti anak-anak yang lain. Akil hampir tidak pernah menyimak pelajaran, belum bisa membaca, malah lebih sering menggambar. Akil didiagnosis disleksia dan autis ringan, yang secara medis tidak bisa "disembuhkan", tetapi Amalia bersikeras untuk mencari cara agar Akil sembuh dan bisa mengejar ketertinggalan dengan anak-anak lain, belum lagi ada tekanan dari ayah Amalia (Arthur Tobing_ dalam hal mendidik anak selepas Amalia berpisah dari suaminya (Edward Akbar). Maka sebagaimana orang Indonesia umumnya jikalau merasa solusi medis tak bisa dipercaya, Amalia mengajak Akil dalam sebuah perjalanan mencari pengobatan-pengobatan alternatif. Di saat-saat ini mungkin harusnya jadi momen Amalia semakin dekat dengan Akil, tetapi yang terjadi Amalia semakin tidak mengerti bagaimana mendidik Akil agar jadi anak "normal".

Satu hal yang gw cukup salut dari film ini adalah pilihannya untuk tidak bermelodrama. Biasanya jika dalam proyek cerita film sudah ada frase "perjuangan seorang ibu" pasti langsung dieksekusi dengan cara-cara memeras air mata, seperas-perasnya. Mungkin itu juga karena pembuat film memilih karakterisasi Amalia yang bukan sosok sempurna. Seorang wanita karier dengan ambisi tinggi, ambisi itu kemudian ditransfer ke Akil, tetapi ternyata ambisi itu juga punya latar belakang yang cukup panjang. Sebenarnya bisa dibaca bahwa cerita film ini bergerak ke arah Amalia dan Akil bisa berdamai dan saling memahami, khususnya dalam road trip yang mereka lakukan bersama dalam mobil terbaru Toyota Sienta =)). Dan, yah kalaupun Akil sering dipandang punya kekurangan, nyatanya dia excells di bidang lain, tetapi ini pun bagusnya tidak serba dieksploitasi untuk jadi "inspiratif", semuanya berjalan natural saja. 

Namun, gw merasa ketika film ini memang nggak serba melebih-lebihkan, kadang kala itu juga dieksekusi dengan mengurang-ngurangkan. Maksud gw, sayang banget bahwa selama road trip Amalia dan Akil, tidak pernah ada titik-titik emosi yang sampai memuncak, semua berjalan lempeng saja, walaupun situasi yang dihadapi ibu dan anak itu bermacam dan berwarna. Bukan berarti nggak tersentuh, cuma tersentuhnya kayak sampai ke depan mata saja, nggak sampai ke hati gw, ada yang kurang di-ugh-in pada adegan-adegan ini, ini termasuk salah satu adegan yang mungkin jadi titik emosi tertinggi road trip ini (hint: pasar), tetapi itu juga sayangnya happened too quickly, jatuhnya hambar. Gw baru merasakan emosi itu saat Amalia sudah kembali ke rumah, tetapi itu pun gw merasa ada set-up yang kurang ditekankan jelas sebelumnya sehingga adegan-adegan ini agak terasa tiba-tiba muncul.

Buat gw, Wonderful Life adalah film yang cukup mampu menyampaikan maksudnya dalam penuturan ceritanya, hanya saja kurang didukung oleh eksekusinya, yang baru sebatas menuturkan cerita, belum memberi "rasa" yang maksimal, atau bahasa populernya "pil-nya kurang dapet " =p. But you know, dengan segala ke-modest-annya, film ini tetap cukup bisa dinikmati secara apa adanya, bisa ditonton dengan santai tanpa beban. Toh, film ini didukung oleh akting bagus dari para pemain-pemainnya sekalipun mungkin masih bisa di-"korek" lagi sih kemampuan mereka untuk lebih menghidupkan film ini. Belum sampai wonderful, tapi cukup.





My score: 6,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar