Kamis, 01 September 2016

[Movie] Surat Untukmu (2016)


Surat Untukmu
(2016 - Aletta Pictures)

Directed by Harris Nizam
Screenplay by Bunga Rizka Nizam
Story by Harris Nizam, Bunga Rizka Nizam
Produced by Sarjono Sutrisno, Harris Nizam
Cast: Prilly Latuconsina, Tio Pakusadewo, Tetty Liz Indriati, Arbani Yasiz, Sheila Dara Aisha, Gritte Agatha, Fandy Christian, Syafira Rachmadani, Anrez Putra Adelio, Rima Melati


Tadinya gw pikir film ini ambil cerita dengan premis basic yang bertujuan utama menderaikan air mata. Surat Untukmu mengisahkan seorang remaja putri di daerah yang hidup tanpa mengenal ibunya, bertekad untuk menemukan ibunya di ibukota. Very basic. Tetapi, sepertinya yang punya film hendak memberikan bumbu yang cukup berani dan berisiko, yaitu memasukkan unsur teka-teki di dalamnya. Mencari clue untuk menemukan sesuatu bukanlah materi baru di film Indonesia, yang paling gw inget itu ada Adriana (2013). Makanya, mempukah Surat Untukmu ini menampilkan sesuatu yang segar dengan masuknya nilai hubungan keluarga?

Gendis (Prilly Latuconsina) tinggal di wilayah dataran tinggi Dieng bersama ayahnya (Tio Pakusadewo), seorang seniman wayang orang yang kerap ngamen di kawasan candi. Hubungan mereka mulai bergejolak ketika Gendis semakin berkeinginan kuat menemukan ibunya, yang tak pernah dikenalnya sejak bayi karena yang bersangkutan minggat tanpa penjelasan yang bisa Gendis pahami. Ia hanya tahu ibunya ada di Jakarta, lewat surat-suratnya yang kadang berisi teka-teki. Saat sang ayah tak mau menyanggupi keinginan Gendis, kesempatan datang justru lewat sebuah kamp kreativitas yang berlokasi di Jakarta. Gendis nekat memulai petualangan mencari sang ibu lewat petunjuk-petunjuk yang ia punya, dibantu pula oleh teman-teman barunya di kamp. Berhubung Jakarta itu luas dan rumit, pencarian ini jelas tak akan mudah.

Gw cukup bisa mengapresiasi idenya, yang dalam bayangan gw sebenarnya bisa dikembangkan dan dikemas dengan exciting dan menyenangkan. Pencarian orang hilangnya di sini nggak random dan nekat, tapi pakai petunjuk-petunjuk ala-ala gitu biar bisa keliling berbagai tempat--dan di sini menampilkan penggunaan angkot yang cukup representatif, haha. Pokoknya cocoklah untuk tokoh-tokohnya yang digambarkan masih remaja. Masalahnya, potensi itu menurut gw agak di-betrayed sama pilihan-pilihan kreatifnya, dan kemasannya. Yang gw lihat, entah apa pun yang terjadi, film ini seperti diharuskan untuk sendu, sebagaimana tercermin ekspresi Prilly di hampir seluruh adegannya di sini. 

Nggak ada excitement untuk memecahkan teka-teki yang seharusnya dapat menambah kepenasaranan terhadap tujuan utamanya, yang ada hanyalah "kapan lagi nih adegan nangisnya". Maksud gw, 'kan bisa aja menggabungkan sisi fun dengan sisi haru, tapi film ini lebih pilih bersandar sepenuhnya sama yang haru, jadi gw nggak terlalu nyaman nontonnya, main teka-teki kok sambil muram durja. Sayangnya pula, mungkin supaya menimbulkan tanya dalam sukma penontonnya, film ini lebih memilih memakai the often-called "twist", yang menurut gw malah mengesalkan, karena mereka memakai trik zadul yang udah nggak bikin kagum lagi saking seringnya digunakan di karya-karya lain, udahlah nggak segitunya surprising, yang ada malah bingung sama tujuan di balik adanya bagian ini. Buat apa gitu.

But, well, jika memang yang diincar adalah penonton yang senang sendu-senduan dan haru-haruan apa pun tema filmnya--perlu diingat bahwa sutradara film ini dulu buat Surat Kecil untuk Tuhan (2011), film ini mungkin sudah berjalan sesuai fungsinya itu. Akting pemainnya cukup pas dengan tuntutan-tuntutan ceritanya, tak terkecuali si Prilly dalam debut peran utama di layar lebarnya ini, yang menurut gw menunjukkan potensi sebagai serious actress, nggak jomplang ketika berdampingan dengan pemain-pemain jagoan kayak Tio Pakusadewo dan Rima Melati. Secara teknis juga film ini fine-fine aja, masih bisa dipandang dengan enak di bioskop. Namun, untuk keseluruhan, yang berarti termasuk belokan-belokan cerita dan pembawaan mood kemasannya yang nyaris tak memunculkan unsur fun, gw harus jujur menyatakan jadi nggak terlalu menikmati film ini.





My score: 6/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar