Selasa, 13 September 2016

[Movie] Algojo: Perang Santet (2016)


Algojo: Perang Santet
(2016 - IFS/Underdog Fightback)

Directed by Rudi Soedjarwo
Written by Anggi Septianto, Kim Kematt
Produced by Rudi Soedjarwo, Aulia Mahariza
Cast: Darius Sinathrya, Stevie Domminique, Otig Pakis, Christoffer Nelwan, Emil Kusumo, Galih Galinggis, Wani Siregar, Andi Bersama, Sabrina Athika, Osh Indah, Siska Sandy, Betet Kunamsinam, Kim Kematt


Apa kabar Rudi Soedjarwo? *pendahuluan ala infotaiment ^_^*. Sineas ini mencuat sebagai salah satu faktor kesuksesan film drama remaja fenomenal Ada Apa dengan Cinta? (2002) yang disutradarainya, lanjut Mengejar Matahari (2004) dan 9 Naga (2006), lalu mem-paving jalur kreatifnya sendiri dengan membuat komunitas film indie bagi pemula. Kalau menelusuri sejak periode 2011-2012, Rudi couldn't be more indie, menjadi sutradara serta produser film-film yang lebih berskala kecil dan banyak memakai pemain dan kru pendatang baru asuhannya, dan lebih condong menghasilkan drama cinta--terakhir Rudi sutradarai Stay with Me (2015). Jadi, ketika Rudi menggelontorkan film Algojo: Perang Santet, yang bermain di antara laga superhero dan mistis, jadinya lumayan menarik perhatian gw. Yup, you read that right, gabungan laga superhero dan mistis.

Seperti judulnya, Algojo berangkat dari ide santet, sebuah ilmu klenik yang dikenal oleh bangsa Indonesia cukup lama, biasanya dipakai untuk melukai atau mencelakai orang dari jarak jauh, dengan metode si dukun "mengirim" celaka ke tubuh targetnya lewat jalur supranatural. Di universe Algojo, ada sekelompok orang yang memiliki kemampuan supranatural itu, dan mereka juga bisa melihat proses "pengiriman" itu secara kasat mata, ya mirip-mirip hadouken dan kamehameha gitu. Tiap orang punya "bentuk kiriman" berbeda-beda, umumnya berbentuk senjata tajam, namun efeknya sih nggak akan jadi luka seperti kena senjata tajam, soalnya 'kan pake elmu daleman, lukanya jadinya ya luka dalam tanpa ada jejak yang bisa dijelaskan secara ilmu eksakta, hehe. Anyway, menurut gw world-building seperti ini sangat menarik, dan Algojo juga cukup oke dalam men-deliver itu semua dalam ceritanya. Idenya buat gw sangat menarik, apalagi mengandung kearifan lokal *halah*.

Sementara ceritanya sendiri mungkin mengikuti pola film silat, soal dendam lintas generasi. Desta (kecilnya Christoffer Nelwan, gedenya Darius Sinathrya) adalah keturunan keluarga dengan kemampuan supranatural. Namun, suatu ketika, ayahnya, Bima (Emil Kusumo) terjebak dalam intrik sesama orang-orang berkemampuan yang hendak memintanya menggunakan kemampuannya untuk keperluan politik seseorang. Penolakan Bima yang keras tak berdampak baik, Bima dibunuh oleh Patih (Otig Pakis) lewat kemampuan supranaturalnya. Setelah besar, Desta bergabung ke satuan kejahatan supranatural dengan satu tujuan utama, membalas dendam terhadap pembunuh ayahnya. Suatu ketika ia bersilang jalan dengan Moska (Stevie Domminique) beserta adiknya, Supra (Gali Galinggis) dan dua teman lainnya, anak-anak muda yang kerap menggunakan kemampuan supranaturalnya untuk menyembuhkan orang. Adanya Desta di antara mereka rupanya terendus kelompok Patih, dan ancaman mulai membayangi mereka.

Dari konsep dan jalan ceritanya, Algojo menurut gw sangat berpotensi menjadi sebuah film yang fun, bahkan cool, terlepas dari produksinya yang masih skala kecil dan mungkin teknisnya tidak mewah—gambar-gambar dan penataan adeganya sih termasuk baiklah, palingan digital effects-nya yang masih basic. Ada drama-drama sebagaimana film-filmnya Rudi juga pasti tak terhindarkan dan mungkin akan memberi warna tersendiri terhadap genre ini, toh sejumput cinta atau politik bisa jadi bumbu yang sedap. 

Tetapi, gw agak underwhelmed bahwa ternyata filmnya tidaklah fun ataupun cool, bahwa filmnya ternyata mostly drama dengan mood yang murung, sendu, mengkerut, pokoknya kagak ada asyik-asyiknya dan santai-santainya. Dibawakan juga dalam pace yang lambaaaaat sekali, dengan grafik emosi yang stagnan di kemurungan dan kesenduan itu. Entah kenapa di film ini setiap ada adegan percakapan, setiap lawan bicara kayak harus diam minimal tiga detik sebelum menimpali, that's how slow this film felt to me.  Adegan "tarung" santet-nya juga terbilang minimalis, sisanya diisi banyak adegan melamun dan lihat-lihatan. I mean, come on, it's not even an artsy film, durasi 90 menit pun rasanya kayak lama sekali. Mungkin dengan cara-cara itu maunya film ini dikondisikan thrilling, tapi yang gw tangkap adalah terlalu banyaknya adegan yang dilama-lamain tanpa substansi. Dan atmosfer murungnya sama sekali tidak membantu.

Entahlah, gw merasa idenya terlalu precious untuk dieksekusi seperti ini. Gw berharap ide yang cenderung komikal tersebut bisa jadi tontonan alternatif bagi film Indonesia yang menurut gw saat ini masih kekurangan variasi genre dan ide. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Gw nggak bilang filmnya jelek, cuma ya gw merasa potensinya bisa lebih keluar jika arah pengembangan cerita dan style-nya tidak seperti ini. Mungkin bisa di-remake di masa mendatang?





My score: 6/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar