Minggu, 14 Agustus 2016

[Movie] Winter in Tokyo (2016)


Winter in Tokyo
(2016 - Unlimited Productions/Maxima Pictures)

Directed by Fajar Bustomi
Screenplay by Titien Wattimena
Based on the novel by Ilana Tan
Produced by Oswin Bonifanz
Cast: Pamela Bowie, Dion Wiyoko, Morgan Oey, Kimberly Ryder, Brandon Salim, Ferry Salim, Brigitta Cynthia, Tokio Shinozuka


Sepertinya udah beberapa kali gw ungkit di blog ini bahwa gw punya ikatan tersendiri dengan yang namanya Jepang. I like Japan stuff since forever, I studied it, pernah nyicip tinggal di sana *bentar doang sih*, ya begitulah. Jadi, ketika muncul film-film Indonesia yang ada unsur Jepangnya, gw langsung merasa terpanggil. Apalagi jika muncul seperti apa yang dilakukan sangat lancang berani oleh film Winter in Tokyo, yaitu cerita orang Jepang berlatar Jepang yang dibuat dan dimainkan oleh orang Indonesia. Ini jelas konsep yang ridiculous, tapi buat gw standar-nya sih simpel, bisakah mereka bisa membuat gw larut sama ceritanya sampai abai bahwa ada sebuah budaya/bangsa spesifik yang diangkat di sini dan melupakan Indonesian-washing *versi lokal dari white-washing ala Hollywood =P* yang dilakukannya. Gw bukannya anti, karena di Hollywood udah sering lakukan ini, dan tentu saja film Indonesia yang menampilkan karakter Jepang yang dimainkan orang Indonesia bukan pertama kalinya dilakukan, cuman terbukti nggak semua bisa menggambarkan dengan tepat tentang salah satu bangsa dan kebudayaan terkenal dunia dan banyak referensinya sehingga mudah dipelajari itu. Misalnya, gw cukup impressed dengan penampilan Joe Taslim dan nyaris semua unsur ke-Jepangan yang digambarkan di film La Tahzan, Abdullah v Takeshi itu bolehlah untuk ukuran komedi, sementara kalau yang di Love You Love You Not itu ngaco banget. Nah, Winter in Tokyo ini gimana?

Story-wise, ini adalah kisah roman lembut sepasang pemuda-pemudi tetanggaan yang akrab tapi nggak jadian karena satu dan lain hal. Satu hal itu adalah karena si cewek, Keiko (Pamela Bowie) jatuh cinta sama orang lain, Akira (Morgan Oey), dokter yang ternyata dulu adalah kakak kelas yang sempat ditaksirnya waktu SD. Si lakinya, Kazuto (Dion Wiyoko) melakukan berbagai cara untuk bisa menjadi kepercayaan Keiko dan always be there for her, tapi ya gimana Keiko lebih memilih mem-pursue hubungannya dengan Akira yang lama tertunda. Sementara 'lain hal'-nya adalah Kazuto mengalami kecelakaan dan mengalami kehilangan sebagian ingatannya, sehingga hatinya kini lebih terpaut sama kekasih lamanya, Yuri (Kimberly Ryder). Nah, di saat inilah si nggak-peka-Keiko *lah kebawa emosi* mulai menyadari kekosongan dalam dirinya saat Kazuto "hilang".

Manis banget nggak siih ceritanyaaah uwuwuwu =D. Menurut gw, se-menye-menye ceritanya, film ini sudah cukup mengikuti pakem film atau dorama roman khas Jepang dengan tokoh-tokoh muda. Dari kebetulan-kebetulannya--ada kali tiga adegan tokoh-tokohnya saling nabrak di sini, sampai ke nggak adanya adegan serba bombastis emosinya, karena itu bagiannya drama Korea. Dari isi ceritanya, sebenarnya nggak masalah-masalah amat selain emang gw-nya yang nggak selera sama cerita beginian. Tetapi, koreksi gw di sini mungkin sama dengan film-film roman Indonesia lain dengan target remaja, yaitu membesar-besarkan hal kecil dan menggampangkan hal besar. Di sini poinnya adalah soal hilang ingatan yang dialami Kazuto. Itu kondisi yang make sense dan sebenarnya serius, sehingga gw tertarik dengan bagaimana psikologi seseorang yang kehilangan sebagian memorinya, yang nggak tahu sekian waktu ia sudah melakukan apa dan bertemu dengan siapa saja, semacam eksaminasi apabila ingatan hilang apakah perasaan yang menyertainya juga akan terhapus. Sayangnya, di sini itu cuma dianggap sebuah "twist" sehingga baru dibahas di sepertiga akhir filmnya dan diselesaikan dengan mudah pula.

However, jika hanya itu problemnya, film ini masih gw kasih nilai aman deh. Akan tetapi, film ini gagal dalam melakukan satu PR besar yang tak kalah penting dari menyusun cerita, yaitu konsep universe-nya. Sebagaimana disinggung di atas, film berkisah tentang orang Jepang di Jepang, tanpa intervensi unsur ke-Indonesia-an kecuali latar tokoh Keiko yang ada darah Indonesianya, which was nggak relevan juga sama ceritanya. Nah, apakah orang-orang Indonesia ini bisa meyakinkan gw bahwa mereka orang Jepang? I should say tidak. Menurut gw, hanya si Morgan, dan dalam porsi tertentu si Pamela juga, yang mampu meyakinkan gw dia could be orang Jepang dengan semua gestur yang ditunjukkannya, ke cara berdiri, jalan, dan ekpsresi bicaranya, sekalipun ia berbahasa Indonesia, yah minimal kelihatannya mereka yang paling bener dalam mencari dan memanfaatkan referensi dalam perannya. Sisanya, bah, cuma dibantu pakaian doang. Gini ya mas-mas, mbak-mbak, kakak-kakak, adek-adek, jika ada yang paling membedakan China-Jepang-Korea, itu bukan di muka, tapi di gestur, dan gestur itu keluar dari dalam diri, bukan dari pakaian. Lihatlah bedanya Jepang jadi-jadian ini dengan dua pemain Jepang betulan yang tampil di sini dengan speaking role--si ibu pemilik apartemen dan teman kerja Keiko di perpustakaan. Dan, itu jadinya juga terbawa ke akting mereka yang kayak nggak ada usaha untuk ingat bahwa mereka ceritanya bukan orang Indonesia.

Atau yang versi amannya, bisakah film ini membuat gw nyuekin bangsa dan budaya spesifik Jepang yang diangkat di sini? Yang ini malah 100 persen nggak. Kesalahan yang paling fatal dan paling bikin gw geregetan adalah, untuk nunjukkin "ini Jepang loh", mereka maksa memasukkan beberapa kalimat bahasa Jepang dalam dialog-dialognya. Itu nggak perlu karena: 1) terkadang nggak sesuai konteks--balasan untuk "arigatou gozaimasu" tidak harus selalu bentuk formal "dou itashimashite", di sehari-hari gw lebih sering dengar  balasannya cuma "iie" (maksudnya "nggak perlu berterima kasih"); dan 2) PEMAINNYA KELIHATAN JELAS NGGAK BISA BAHASA JEPANG! My God bagian ini paling painful untuk disaksikan, setiap ada yang ngomong bahasa Jepang rasanya pengen tutup kuping dan teriak "stop speaking Japanese already!"--tapi karena nggak sopan ya harus ditahan. Dan gw nggak tahu harus menyalahkan apa dan siapa, katanya orang Jepang tinggal di Jepang tapi ngomong bahasa Jepang yang cuma sepotong-sepotong itu nggak ada fasih-fasihnya, berusaha terdengar fasih pun tidak, kayak kekurangan referensi tontonan dorama dan anime Jepang atau nggak mau bayar pelatih/konsultan, jadi cuma tabrak aja apa yang ditulis di skenario atau disuruh sutradara/siapapun yang menyuruh mereka melakukan itu. Rusak sudah upaya suspension of disbelief-nya. 

Padahal, ini dengan bisa dengan mudah dihindari, entah itu belajar yang benar sampai (terdengar) fasih, atau nggak perlu pakai bahasa Jepang sama sekali di dialognya. Gw nggak masalah film berlatar suatu negara dan bangsa diceritakan dalam bahasa lain, teater 'kan sering begitu, film atau anime Jepang juga sering begitu. Gw ngistilahkannya "self-dubbing", ganti semua bahasa utamanya dengan bahasa penutur ceritanya. Contoh paling perfect dalam konteks ini adalah 47 Ronin (2013), yang me-replace semua bahasa Jepang dengan bahasa Inggris, bahasa di luar itu ya tetap pakai bahasa asing. Simpel. Winter in Tokyo seharusnya bisa kayak gitu, bahkan dialog bahasa Indonesia-nya sebenarnya sudah terdengar formal karena mungkin di-seolah-olah-kan ini di-"dubbing" dari bahasa Jepang, tetapi mungkin itu dianggap kurang gimmicky, jadi dipaksain ada bahasa Jepangnya di beberapa tempat. Ya maap aja, itu pilihan yang keliru, karena sumber daya yang tak memenuhi.

Dan, setelah gw pikir-pikir, Winter in Tokyo ini juga nggak harus banget dibuat di Tokyo betulan dengan karakter orang Jepang. Kalau mau dan memang berniat mengulik secara kreatif, setting-nya bisa ditukar dengan tempat lain, karena nggak ada hal krusial dalam cerita yang mengharuskannya terjadi di Jepang. Gw akan lebih memilih mengembangkan cerita ini berlatar Indonesia dalam gaya dorama Jepang, atau sekalian dibuat kerja sama produksi dengan Jepang dengan bahasa sana dan pemain dari dua negara--jadi ada karakter yang dirombak dikit kebangsaanya, serta diedarkan juga di sana, toh ada nilai uniknya bahwa kisah berlatar dan berkarakter Jepang ini (novelnya) justru dibuat oleh orang Indonesia, karena menurut gw ceritanya nggak malu-maluin amat untuk jenis ini. What a missed opportunity

Jadi, itulah permasalahan gw sama film ini. Mungkin reaksi gw berlebihan tetapi kalau hari gini udah zamannya internet, udah ada pusat bahasa dan kebudayaan Jepang, udah cukup banyak link kerja sama Indonesia-Jepang, dan udah ada channel WakuWaku Japan, memaksimalkan referensi dan riset untuk hal-hal yang diperlukan untuk film seperti Winter in Tokyo ini malah kayak disepelekan, cuma diambil gampangnya aja, ya sulitlah gw untuk respek. Gw akui, jika memang benar-benar mengabaikan itu semua, film ini kayaknya akan cocok dengan yang suka roman mellow begini, dan itu nggak ada salahnya, I'm not judging, toh sebenarnya secara konten jalan cerita dan sebab akibatnya nggak terlalu membodohi. Namun, gw sendiri sangat sulit menikmatinya sedemikian...dengan titik kulminasi pada dialog "Tokyo dan Kobe 'kan tidak terlalu jauh", karena gw yang masih sangat tradisional ini belum bisa menerima bahwa 500-an kilometer atau 3 jam-an sekali jalan dengan kereta Shinkansen (!) itu masuk dalam kategori "tidak terlalu jauh".





My score: 5,5/10

2 komentar:

  1. karena kesibukan beberapa waktu lalu saya nggak sempat nonton film ini. Padahal saya sudah lama menantikan film ini. Maklum saya salah satu penggemar bukunya. Dan saya tebak admin gak pernah atau belum baca bukunya kan?

    Yah jika reviewnya kayak yang admin tulis jujur saya jadi kecewa berat. #PadahalBelumNonton. But thanks reviewnya asik

    BalasHapus
  2. ah aku sudah sudah menduganya, pasti filmnya gak bakal sebagus novelnya. coba deh baca novelnya, aku yakin kamu pasti gak bakal mikir ato ngerasa kayak yang kamu tulis tentang filmnya itu. novelnya ilana tan yang winter in tokyo ini.... recommended banget deh buat penyuka jepang. aku aja waktu baca novelnya, berasa kayak di jepang meskipun ga pernah kesana. coba aja baca novelnya ilana tan ini, dijamin ga kecewa.

    BalasHapus