Kamis, 25 Agustus 2016

[Movie] Sadako vs Kayako (2016)



貞子vs伽椰子
Sadako vs. Kayako
(2016 - Kadokawa/NBC-Universal)

Written & Directed by Kouji Shiraishi
Based on Ringu characters by Takashi Shimizu and Ju On characters by Kouji Suzuki
Produced by Daiji Horiuchi, Hideyuki Sakurai, Yoshio Yokozawa, Jungo Maruta, Tooru Emori
Cast: Mizuki Yamamoto, Tina Tamashiro, Aimi Satsukawa, Masahiro Komoto, Masanobu Ando, Mai Kikuchi, Misato Tanaka, Runa Endo, Elly Nanami, Rintaro Shibamoto


Dua demit tersohor dari blantika horor Jepang dipertemukan. Gila? Emang. Seri Ring (atau Ringu) dengan si demit Sadako berhasil mempopulerkan horor sunyi-sunyi serem khas Jepang ke mata dunia di akhir era 1990-an. Lalu seri Ju On dengan si demit Kayako dan Toshio juga mengikuti. Keduanya lalu jadi franchise penghasil uang bagi pemilik hak ciptanya--bahkan keduanya sudah diadaptasi ke Hollywood, terlepas kualitas tiap filmnya yang tentu nggak seragam. Film Ringu (1998) menjadi salah satu alasan gw ogah nonton film horor sering-sering >,<, sementara Ju On adalah seri yang mengesalkan gw karena aksi si demitnya tuh seenak udel aja nggak pake aturan. Kedua seri ini punya satu kesamaan besar, yaitu kutukan yang jadi sorotan utamanya tak akan berakhir, manusia fana pasti kalah. Lalu apakah mengadu Sadako dengan Kayako dapat mematahkan dua kutukan itu? Yakali. Kalau iya, habis dong franchise-nya nggak bisa dilanjutin lagi. Kapitalis.

Sadako vs Kayako mungkin tepat disebut sebuah nostalgia dengan cara aneh. Kutukan Sadako-nya masih pakai kaset video--beberapa seri teranyarnya soalnya udah pake digital, yang kalau ditonton maka yang nonton akan mati beberapa hari. Tapi, memang ada perubahan dari isi videonya, lebih singkat, dan sepertinya menggugurkan syarat menghindari kematiannya--kalau nggak salah dulu harus kopi videonya dan tunjukkin ke orang maka nggak jadi mati, makanya disebut 'ring' karena akan berputar terus bukan? Kalau di sini pokoknya ya mati aja *agak nggak mau mikir ya sutradaranya*. Kutukan Kayako-nya juga masih di sebuah rumah jelek, siapa saja yang masuk dalam rumah itu akan mati. Soal kapan, di mana, dan bagaimana, itu suka-suka Kayako karena dia adalah demit ter-random yang pernah ada di sinema =(. Korbannya adalah tetap orang-orang bodoh yang cari mati: dua anak kuliah yang iseng nonton video kutukan Sadako karena nggak percaya urban legend semacam itu, lalu ada anak SMA pindahan yang "merasa" ditarik untuk masuk ke rumah jelek terkutuk Kayako. 

Well, sebodoh apa pun itu, paling nggak, Sadako vs Kayako masih "setia" pada pakem film-film sebelumnya. Pasalnya, film ini ya isinya cuma itu, ngulang-ngulang apa yang udah pernah dilakukan aja. Kalaupun ada sesuatu yang baru, adalah keberadaan paranormal bernama Keizou (Masanobu Ando) dan Tamao (Mai Kikuchi) yang mempunyai ide mengadu domba Sadako dan Kayako yang akan berebutan korban. Tapi, ya itu juga nggak menambah value apa-apa, selain menggarisbawahi bahwa film ini sebenarnya berangkat dari ide yang seru-seru konyol, lalu kemudian mentok di situ. Percuma saja berharap "pertarungan" seru nan akbar antara dua demit seleb ini karena we barely see anything dan kemudian malah bergeser ke gaya grotesque yang sama sekali nggak nyambung sama jiwa kengerian yang membuat Ringu dan Ju On terkenal. Dan, kalau mau ditertawakan sebagai sebuah meta-horror-black-comedy juga ternyata nggak segitunya, mungkin karena akting pemainnya juga agak lifeless dan filmnya memang tidak diniatkan lucu. Kecenderungannya berpanjang-panjang sementara pertarungan yang dinantikan cuma nongol di penghujung akhir juga nggak membantu kenikmatan film ini.

If anything, gw sebagai bukan penggemar horor setidaknya masih bisa deg-deg serr sama beberapa adegan. Berarti film ini tetap menjalankan hakikatnya sebagai film horor, atau cuma gw-nya yang masih bisa diperdaya oleh permainan anitisipasi khas film horor kayak gini, huhuhu. Tapi, ya begitulah, Sadako vs Kayako jadi satu lagi perwujudan wahana rumah hantu yang masih mampu menakut-nakuti walau tanpa makna. I mean, bodohnya kita bila menganggap akan ada konklusi revolusioner dari film ini, akan ada titik balik, turning point yang membuat film ini punya posisi penting dan tak tergantikan di franchise-nya. Tapi ternyata intinya ya tetap orang-orang semuanya akan mati dan demit-demit ini akan tetap digdaya. So what's the point? Sehabis menonton gw merasa film ini nggak ada gunanya selain mengulang gimmick-gimmick yang itu lagi-itu lagi. Sesekali sih lucu juga tapi kalau kebanyakan ya jadi males juga.





My score: 5,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar