Selasa, 02 Agustus 2016

[Movie] Bangkit! (2016)


Bangkit!
(2016 - Oreima Films/Kaninga Pictures)

Directed by Rako Prijanto
Written by Anggoro Saronto
Produced by Reza Hidayat
Cast: Vino G. Bastian, Deva Mahenra, Acha Septriasa, Putri Ayudya, Adriyan Bima, Yasamin Jasem, Yayu Unru, Ferry Salim, Donny Damara, Khiva Iskak, Ernest Samudra, Gito Gilas, Joshua Pandelaki 


Sebelum memulai review, gw mau coba bikin pendahuluan berupa semacam kesimpulan kasar hasil dari beberapa kali mewawancarai atau mendatangi acara yang dihadiri para filmmaker kita dalam beberapa tahun ini, tapi gw janji ini bakal ada hubungannya sama filmnya. Oke, jadi di tengah-tengah perfilman Indonesia yang masih berusaha berkembang, gw menyimpulkan ada kayak dua macam jenis visi dari para filmmaker kita. Yang pertama adalah "kita harus berkarya dari apa yang ada di sekitar kita dan sesuai dengan jati diri kita," sementara yang kedua "supaya survive di bioskop, kita harus bisa menyamai standar film-film yang disukai masyarakat, termasuk Hollywood." Terus terang gw nggak bilang yang satu salah dan yang satu benar, malah gw bilang dua-duanya ada benarnya, dan dari dua-duanya bisa menghasilkan karya yang bagus, serta bukan nggak mungkin bisa digabungkan. Cuma, memang selama ini banyak film (dan pengamat) yang lebih berpatokan sama visi yang pertama, dan kebanyakan nggak pede sama visi yang kedua. Biasalah, masalah duit, dan penonton kitanya juga sih udah mendarahdaging sama mindset "halah Indonesia bisa apa sih" sejak zaman kolonial. 

Rako Prijanto, filmmaker Indonesia yang dulunya lebih dikenal sebagai kru Ada Apa dengan Cinta? yang menciptakan puisi-puisi tokoh Rangga, kayaknya cenderung berada dalam visi yang kedua. Filmografinya belakangan ini pun menunjukkan itu: Sang Kiai (2013), 3 Nafas Likas (2014), dan Terjebak Nostalgia (2016), semuanya dikemas dalam production value tinggi—desain produksi, sinematografi, sound, visual effects, kostum, make-up, sampai lighting, yang menurut gw di atas rata-rata film Indonesia saat ini, dan enakkk bannngettt untuk disaksikan di bioskop. Tapi, gw tadinya nggak menyangka Rako dkk bisa sampai berpikir bikin film tentang bencana. Gimanalah caranya bikin begitu setelah kita udah telanjur kena sama film-film raksasa macam 2012 dan San Andreas? Gw sih udah cukup yakin bahwa Rako nggak akan bikin film dengan kualitas ble'e, tetapi keyakinan gw terhadap film terbarunya, Bangkit! tetap harus diuji.

Bangkit! sepertinya mengikuti pakem film-film bencananya Roland Emmerich, ditambah sentimentalitas film-film sejenis dari Korea. Sorotan utamanya ada di dua kelompok karakter, pertama ada petugas SAR, Addri (Vino G. Bastian) beserta istrinya, Indri (Putri Ayudya) dan anak-anaknya, Eka (Yasamin Jasem) dan Dwi (Adriyan Bima). Lalu yang kedua adalah pasangan bertunangan Arifin (Deva Mahenra) yang bekerja di BMKG dan Denanda (Acha Septriasa) yang seorang dokter. Suatu hari sebuah kondisi abnormal melanda Jakarta dengan hujan yang tak henti dan luapan air yang merendam sebagian besar wilayah Jakarta dengan cepat. 

Di hari pernikahannya dengan Denanda, Arifin terjebak luapan air yang merendam parkir basement sebuah gedung, di situlah ia bersinggungan dengan Addri yang menyelamatkannya. Akan tetapi, itu adalah awal dari berbagai rintangan yang harus mereka hadapi di hari-hari selanjutnya. Kesetiaan Addri harus terbelah antara tugasnya menyelamatkan korban bencana yang terus bertambah dan keluarganya yang juga butuh kehadirannya di masa sulit. Sementara Arifin, belum sempat memperbaiki hubungannya dengan Denanda, harus meyakinkan atasannya bahwa perlu tindakan darurat untuk menyelamatkan penduduk Jakarta, karena banjir dan badai tak akan semakin surut.

Buat gw, sebagai sebuah film drama-action-disaster, Bangkit! sangat, sangat watchable. Gambarnya asyik, akting pemainnya bagus-bagus, beberapa momen dramatis pengadeganannya keren, dialog-dialognya pun tidak menggelikan, sekalipun berbagai unsur ceritanya jelas-jelas fantastikal--alias ngarang =)-- dan nyaris cheesy seperti halnya film-film Emmerich. Susunan ceritanya juga bikin gw stick untuk nonton, entah itu dari drama keluarganya, ataupun kesulitan-kesulitan harus dihadapi setiap tokoh kita untuk bisa bertahan hidup. Bagian yang paling fragile, yaitu visual effects, ternyata juga nggak buruk lho. Practical effects-nya bagus, gw paling suka adegan-adegan bawah air, sementara efek animasi CGI-nya juga nggak malu-maluin amat, nggak mendistraksi keseluruhan filmnya. Paling nggak gw melihat bahwa ini bukan film asal buat dan nggak murah.

In a perfect world, semua itu akan cukup untuk membuat Bangkit! sebagai salah satu film yang layak diberi jempol tanpa ragu. Sayangnya, we're not in a perfect world. Dan sayangnya lagi, ketidaksempurnaan Bangkit! yang paling mengganggu justru tidak terletak pada segi teknisnya. Beberapa kali, gw merasa film ini kehilangan adegan ataupun shot, sehingga di banyak bagian film ini tidak mengalir dalam sequence yang utuh dan komprehensif. Misalnya, proses rumah keluarga Addri terkena banjir yang kayak ke-skip, atau Denanda menyelamatkan profesor Pongky (Yayu Unru)--karena film-film seperti ini selalu perlu tokoh profesor, hehe--yang tiba-tiba udah beres aja. Sering juga timeframe-nya agak membingungkan, jarak waktu antara satu adegan ke adegan yang lain kadang-kadang lama kadang-kadang kilat tiba-tiba. Gw kurang tahu ini kesalahan ada di mana, dan gw sih masih ngerti maksud ceritanya, tetapi sungguh film ini penuturannya jadi inkonsisten, kadang detail, kadang nggak, kurang nyamanlah jadinya.

Gw sendiri menilai bahwa film ini sebenarnya bisa lebih enak lagi disaksikan jika waktu pembuatannya lebih lama, dan mungkin jika biayanya lebih banyak. Dengan itu, bakal ada waktu untuk ngecek lagi apakah tuturannya sudah cukup lengkap, dan bakal ada biaya untuk syuting tambahan atau syuting ulang demi mengisi yang kurang-kurang dan yang hilang-hilang itu--sebagaimana sering dilakukan film-film besar Hollywood. Mungkin perlu juga test screening untuk mendapat feedback dari orang-orang awam gimana caranya supaya filmnya lebih asyik disantap, after all ini film mainstream bertujuan komersial bukan yang nyeni yang sesuka-suka yang bikin *kalau gw ikut test screening mungkin gw akan usulkan nggak perlu ada gempa bumi karena kayak out of place aja gitu, hehe*. Pun dengan waktu pula CGI-nya gw yakin bisa disempurnakan lagi. Dan in the mean time, film ini juga bisa memperbanyak referensi sains biar muatan pengetahuannya bertambah--walaupun film ini cukup oke dalam menunjukkan tindakan yang perlu dilakukan saat banjir datang. Pokoknya, dengan sumber daya dan waktu yang lebih, Bangkit! sangat bisa dan pantas untuk jadi lebih baik daripada yang sekarang ada.

Namun, untuk sementara, gw sangat mengapresiasi keberadaan film ini, terutama karena keberaniannya memproduksi film dengan teknikalitas yang rumit, dan bukan sekadar nekat tanpa kemampuan. Kemampuan itu terbukti ada, tetapi mungkin masih butuh dukungan sumber daya, waktu, dan trust, agar bisa menyempurnakannya. Sekurang-kurangnya, Bangkit! buat gw masih menghibur, malahan pantas untuk diingat sebagai sebuah film bencana berskala besar (mungkin) yang pertama di Indonesia. Sepertinya memang tujuan lebih besar dari pembuat film ini adalah menjadikan Bangkit! sebagai permulaan agar Indonesia nggak ciut untuk bikin film dengan tema-tema yang dulu dianggap kita nggak sanggup, dan gw mau sepakat dengan harapan itu. 




My score: 7/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar