Senin, 18 Juli 2016

[Movie] Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea (2016)


Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea
(2016 - Rapi Film)

Directed by Guntur Soeharjanto
Screenplay by Alim Sudio
Based on the novel by Asma Nadia
Produced by Gope T. Samtani
Cast: Bunga Citra Lestari, Morgan Oey, Giring Ganesha, Ringgo Agus Rahman, Dewi Yull, Lee Won-joo, Wawan Wanisar, Indra Bekti, Tasya Nur Medina, Ferry Ardiansyah, Jonathan Na Kwang-hoon, Lim Kyung-ae, Shim Sang-soon, Adlila Jelita


Sepertinya belakangan memang ada semacam perkawinan antara melodrama cinta dan unsur Islami, dalam artian filmnya sendiri pada dasarnya cerita cinta yang menampilkan tokoh-tokoh yang mementingkan identitas agamanya--dalam hal ini Islam, bukan film religi yang eksklusif untuk kalangan sendiri, dan not necessarily religius-religius amat, menurut gw. Salah satu nama yang lagi hits dalam cerita-cerita tersebut adalah Asma Nadia, pengarang yang karya-karyanya lagi sering-seringnya diadaptasi ke film maupun sinetron, yang semuanya memang memuat unsur Islami sekalipun genrenya bukan cuma cinta-cintaan aja. Beliau ini yang bikin cerita Emak Ingin Naik Haji, Assalamualaikum Beijing, Surga yang Tak Dirindukan, Pesantren Impian, dan the phenomenal sinetron Catatan Hati Seorang Istri. Kini giliran kisah Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea yang diadaptasi ke layar lebar.

Kalau dilihat dari permukaan, film ini memang formulaik sekali: kisah cinta, pemain rupawan dan terkenal, tokoh utama wanita berjilbab, setting di luar negeri *dan gw baru ngeh di posternya tulisan 'Korea'-nya paling gede*, berdasarkan novel yang katanya laris dan fenomenal--sekalipun gw nggak pernah tahu standar "laris" dan "fenomenal" di penerbitan Indonesia itu kayak gimana =P. Plus satu tokoh yang secara general tidak akan disangka muslim (dalam hal ini cowok Korea tampan dan bisa bahasa Indonesia) ternyata muslim. Salah satu, beberapa, atau semua unsur tersebut akhir-akhir ini sering muncul di film-film bioskop mainstream kita, yang membuat gw berkesimpulan para produser film ini menganggap inilah formula film yang dapat menarik banyak penonton kita, dengan asumsi kebanyakan dari mereka adalah wanita, muslim, dan masih remaja hingga ibu-ibu muda *entah survei-nya bagaimana tapi yah iyain aja*. Tapi, untuk membuat film ini nggak cuma alat untuk memancing audiensnya untuk rela membeli tiket bioskop semata, filmnya sendiri harus digarap dengan proper dong.

Ceritanya memang rather soapy, tapi yah aku bisa apa =p. Di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, Rania (Bunga Citra Lestari) ketemu dengan pemuda Korea Selatan, Hyun-geun (Morgan Oey, patut dipuji usahanya untuk tampilkan aksen dan gestur Koreanya, satu hal yang lebih penting daripada muka) dengan first impression yang kurang baik, debat soal negara mana yang lebih indah, sekalipun sudah dijembatani oleh Alvin (Ringgo Agus Rahman) yang memang sepertinya jadi semacam database segala sesuatu dalam cerita ini, haha. Beberapa waktu kemudian, Rania diundang sebuah proyek penulisan di Korea Selatan. Rania dan Hyun-geun bertemu lagi di sana, tapi kini dengan impresi yang berbeda, malah timbul percik-percik cinta *biar mirip sama judulnya*. Dengan hati dan keyakinan udah sejalan, keadaan jadi lebih mudah? Yaaaaa nnnggggaaaaaklaaaah. Rania ternyata sudah didesak oleh saudara-saudaranya yang resek semua untuk segera kawin dengan teman lamanya, Ilhan (Giring vokalis Nidji), sementara Hyun-geun juga somehow sudah bertunangan dengan Jeung-hwa (Lee Won-joo). But of course, komitmen Rania dan Hyun-geun masing-masing jadi semakin tegoyahkan seiring kebersamaan mereka berdua.

Terlepas dari susunan ceritanya yang demikian--gw nggak mau banyak berkomentar karena siapalah gw nge-judge fantasi milik orang =P, menurut gw Jilbab Traveler termasuk lolos sebagai film yang proper digarap dan enak ditonton. Konsep idenya cukup menarik buat gw, Rania dikisahkan sebagai seorang traveler, lalu menceritakan hasil perjalanannya dalam bentuk tulisan yang diterbitkan dan foto dari kamera mirrorless Panasonic Lumix-nya =), sekaligus menjadi semacam "duta" tentang nilai-nilai Islam di setiap tempat yang ia singgahi. Hal ini didukung penuh oleh ayahnya (Wawan Wanisar), yang tak seperti anggota keluarga yang lain, lebih mendukung Rania menjelajahi dunia ketimbang memaksa kawin cepat-cepat. Mungkin ini semacam upaya dari Asma Nadia--yang juga seorang wanita berjilbab--untuk mematahkan anggapan bahwa wanita berjilbab itu "nggak bisa ke mana-mana". Dan, walaupun di tengah cerita gw sampai terlarut bahwa memilih jodoh yang lebih dekat tentu akan lebih make sense buat Rania, which is Ilhan yang woh lelaki baik-baik suami-material banget dan menantu idaman mamah-mamah deh, tetap saja akan lebih heartwarming bila wanita mandiri seperti Rania mendapat pria yang lebih sehati sepikiran *aawww* *garuk-garuk salju di hutan Winter Sonata*.

So you see, dengan cerita yang serba melodramatik, kalimat-kalimat dialog yang (maksa) oh-so-touching, belokan-belokan cerita yang disiapkan buat bikin "meleleh"--lagi-lagi soal segala hal romantis yang dilakukan para lelaki untuk wanita yang dicintainya *aawww* *garuk-garuk gentong pasta kedelai fermentasi*, ditambah lagi menjelang akhir filmnya jadi stretchy dengan kesenduan berlebih, rupanya gw masih bisa mengunyah dan menelan film ini. Sepertinya ini berkat penuturan plot yang mengalir lembut tapi lancar, which is good karena selama ini gw memang merasa sutradara Guntur Soeharjanto termasuk penutur cerita yang baik dan mampu mengarahkan para pemainnya untuk bermain maksimal walau tampak effortless--Bunga, Morgan, Ringgo, Giring, dan Dewi Yull mainnya asyik sekali di sini. Dan, yang jadi keberuntungan terbesar buat gw yang sudah beberapa kali nonton film garapan Guntur--yang sering tertutupi oleh upaya komersialisasi produksi filmnya (99 Cahaya di Langit Eropa, Runaway, LDR, kecuali Tampan Tailor which remains his best), Jilbab Traveler didukung oleh nilai produksi yang nggak main-main. Dari desain produksi, sinematografi, kostum, suara, semuanya enak banget untuk dinikmati, sangat niat dan dirancang untuk memberikan tekstur sehingga filmnya lebih kaya secara audio visual, tanpa colong-colongan, poles-polesan darurat, ataupun keblingeran gambar pemandangan. 

Buat gw, film ini nggak sempurna, tetapi paling tidak bisa menjadi salah satu display yang pantas dari talenta orang-orang yang terlibat di dalamnya, dan memuat ide dasar yang bisa gw terima dengan nyaman, sesuatu yang jarang bisa gw dapatkan di film-film roman semacam ini. Ke sana-sananya sih jadi nggak spesial lagi, tetapi dengan penggarapan dan kemasan yang oke, film ini nggak sampai bikin kesal dan masih adalah logikanya dikit. Mungkin nggak menimbulkan spark =), tapi kalau dikatakan layak ditonton, ya layak.





My score: 7/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar