Sabtu, 04 Juni 2016

[Movie] X-Men: Apocalypse (2016)


X-Men: Apocalypse
(2016 - 20th Century Fox)

Directed by Bryan Singer
Screenplay by Simon Kinberg
Story by Bryan Singer, Simon Kinberg, Michael Dougherty, Dan Harris
Produced by Simon Kinberg, Bryan Singer, Lauren Shuller Donner
Cast: James McAvoy, Michael Fassbender, Jennifer Lawrence, Oscar Isaac, Nicholas Hoult, Rose Byrne, Evan Peters, Tye Sheridan, Sophie Turner, Kodi Smit-McPhee, Olivia Munn, Alexandra Shipp, Ben Hardy, Lucas Till, Josh Helman, Lana Condor


Sebagai salah satu pelopor kesuksesan film-film superhero Hollywood era milenium, franchise X-Men versi layar lebar terbukti sukses bertahan sampai 16 tahun. Bahkan, bisa dibilang semua film di franchise ini—di luar dua spin-off Wolverine dan Deadpool—masih melibatkan tenaga kreatif yang sama. Ini terutama berlaku bagi sineas Bryan Singer, yang kini kembali menyutradarai film terbarunya, X-Men: Apocalypse, film keenam sejak X-Men (2000) atau yang ketiga sejak reboot X-Men: First Class (2011).

Karena usia franchise X-Men yang lumayan panjang, dalam Apocalypse sudah tak banyak dijelaskan lagi apa itu yang disebut mutan—notabene manusia-manusia yang memiliki kekuatan super karena mutasi genetik alias 'sudah dari sananya', ataupun latar belakang sebagian tokoh yang sudah muncul di hampir setiap episode franchise ini. Apocalypse bisa dibilang diuntungkan dengan bangunan universe yang sudah dimulai terutama dari First Class dan X-Men: Days of Future Past (2014). Latar belakang universe kisah ini otomatis hanya ditampilkan sekilas di Apocalypse.

Bila disimpulkan, semua film dari franchise X-Men bertumpu pada pembahasan tentang posisi mutan di antara manusia. Mutan umumnya ditakuti dan ditindas lantaran dianggap aneh dan berbeda. Dari sana timbul pertentangan pendapat dari dua mutan bersahabat, Professor Charles Xavier dan Erik Lensherr tentang bagaimana menyikapinya. Charles punya keyakinan manusia dan mutan bisa hidup berdampingan dengan damai asal ada saling pengertian. Erik lebih melihat bahwa manusia penindas mutan tak akan mengerti dan harus disingkirkan. Tema besar ini masih dijadikan dasar untuk Apocalypse.

Berlatar era 1980-an, kisah Apocalypse mengambil waktu sekitar 10 tahun sejak akhir film Days of Future Past. Keberadaan para mutan sudah jadi rahasia umum, terutama sejak upaya pembunuhan presiden AS oleh Erik Lensherr alias Magneto (Michael Fassbender) yang berhasil dicegah oleh sesama mutan, Raven alias Mystique (Jennifer Lawrence). Ini menjadi titik perubahan besar terhadap keberadaan mutan: para mutan lain tak lagi harus takut akan jati dirinya, dan manusia pun makin tahu cara menghadapi, mengatasi, bahkan mengontrol mutan. Ya, nyatanya manusia dan mutan belum bisa benar-benar hidup membaur.

Plot Apocalypse sendiri digerakkan oleh kemunculan En Sabah Nur (Oscar Isaac)—yang dalam versi komiknya juga disebut dengan nama Apocalypse. Di awal film digambarkan bahwa En Sabah Nur menjadi sembahan bak dewa bagi penduduk Mesir kuno, karena memiliki berbagai kekuatan dahsyat. Ternyata, dia sebenarnya adalah sang mutan pertama di bumi, yang kerap mengambil berbagai kekuatan dari mutan lainnya dan mampu berumur panjang. Namun, sebuah pemberontakan dari tentara Mesir membuatnya terkubur di dasar sebuah piramida hingga ribuan tahun.

Sampai akhirnya, En Sabah Nur dibangkitkan lagi di tahun 1983 oleh sebuah kultus. Kebangkitannya pun menimbulkan petaka baru, karena ia ingin menghancurkan bumi yang dianggap telah menyimpang dari yang seharusnya, lalu membangun tatanan baru menurut kemauannya. Untuk mencapai tujuannya, ia merekrut empat mutan yang menjadikannya mutan terkuat: Storm (Alexandra Shipp), Psylocke (Olivia Munn), Archangel (Ben Hardy), dan Magneto.

Keadaan ini memaksa Professor Charles Xavier (James McAvoy) untuk bertindak. Ia masih percaya pada jalan damai, namun kekuatan En Sabah Nur yang dahsyat membuatnya kehabisan pilihan. Kehadiran kembali Mystique mendorong rekan-rekan dan anak-anak didik Charles untuk siap melawan En Sabah Nur demi kelangsungan bumi. Para personel X-Men senior seperti Hank McCoy alias Beast (Nicholas Hoult) dan Alex Summer alias Havoc (Lucas Till) bergabung dengan para mutan muda: Peter Maximoff alias Quicksilver (Evan Peters), Jean Grey (Sophier Turner), Scott Summers alias Cyclops (Tye Sheridan), hingga Kurt Wagner alias Nightcrawler (Kodi Smit-McPhee).

Di antara film-film superhero yang selama ini dibuat, X-Men memang punya karakteristik tersendiri. Selain karena tokoh-tokoh berkekuatan supernya lebih banyak, bangunan cerita-cerita X-Men tak sesederhana si baik melawan si jahat. Konflik-konflik yang ditampilkan hampir selalu berkaitan dengan perang prinsip, dan itu seringkali membuat tokoh yang tadinya baik bisa berbuat jahat dan sebaliknya—ini terutama terlihat pada Magneto dan Mystique sejak First Class.

Apocalypse tampaknya masih bergerak pada bingkai tersebut, bagaimana para mutan ini mencari jalan mana yang ingin dipilih, antara menguasai bumi atau melindunginya. Namun, agak berbeda dari film-film pendahulunya, film yang skenarionya dikerjakan Simon Kinberg ini kelihatan lebih menyorot ke sisi personal. Taruhannya masih keselamatan dunia, namun tak seperti First Class yang berupaya mendorong para mutan untuk lindungi dunia, atau Days of Future Past yang bertujuan mengubah persepsi terhadap kaum mutan, perubahan keadaan yang diupayakan di Apocalypse lebih condong pada Charles dan Mystique membuat Magneto berbalik dari kejahatan.

Angle ini sebenarnya mampu membuat film ini menjadi menarik, bahwa sekalipun dijejali dengan rangkaian aksi dan visual riuh rendah, serta pameran kekuatan para mutan secara bergilir, film ini berpegang pada sesuatu yang dekat dan sederhana, tentang dinamika hubungan antarkarakter ini. Akan tetapi, dari segi ide, kesederhanaan ini membuat Apocalypse jadi tidak lebih kuat dari para pendahulunya. Apa yang diperjuangkan para X-Men di sini tak memberikan dampak perubahan sebesar dua film sebelumnya yang lebih principle bagi universe-nya.

Kemunculan En Sabah Nur yang seharusnya mahadahsyat jadi seolah kurang mengancam, hanya seorang penjahat yang harus dibasmi lalu selesai. Keberadaan sebagian tokoh mutannya pun jadi lebih banyak diam menunggu giliran disorot kamera ketimbang berbuat sesuatu yang signifikan—kecuali Magneto yang punya banyak momen menarik dan emosional. Tidak membantu juga bahwa film ini jadi terlalu panjang karena banyaknya potongan cerita yang ingin disampaikan dari karakter-karakternya yang cukup banyak itu, dan kurang berenerginya adegan laga pamungkasnya sekalipun didesain megah.

Meski demikian, Apocalypse tidak bisa dibilang gagal dalam melanjutkan bangunan cerita X-Men versi layar lebar, memperpanjang 'mitos' tentang superhero yang disebut mutan tersebut. Apocalypse juga masih dihiasi oleh karakterisasi yang menarik sekalipun porsinya terbagi-bagi, baik dari tokoh lama, tokoh baru, maupun tokoh lama yang diperbarui, serta masuknya unsur humor yang bisa jadi melebihi film-film sebelumnya, yang membuat film ini tetap menghibur secara keseluruhan. Tidak memberi pengembangan yang hebat, tapi paling tidak film ini masih menunjukkan konsistensi tema yang selama ini diusung. Bukan film X-Men yang kuat, tetapi bukan berarti lemah juga.





My score: 6,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar