Sabtu, 02 April 2016

[Movie] Abdullah v Takeshi (2016)


Abdullah v Takeshi
(2016 - MVP Pictures)

Written & Directed by Kemal Palevi
Produced by Raam Punjabi
Cast: Kemal Palevi, Dion Wiyoko, Nasya Marcella, Karina Nadilla, Mike Lucock, Natali Sarah, Lolox, Abdur Arsyad, David Nurbianto, Chef Harada, Ayumi Harada


Everything about this film never sound serious, is it? Premisnya absurd sekali, tentang tertukarnya anak Arab dan anak Jepang lalu baru ketemu waktu kuliah saat suka sama cewek yang sama. Kalau didengar awal-awal sih emang lucu dan menarik untuk dilihat. Padahal, kalau digali secara seksama, tertukarnya keluarga juga bisa masuk ke ranah budaya, sosial, psikologi, bahkan hukum. Lucu, tapi bisa juga memunculkan aspek-aspek yang serius. Nah....itulah yang nggak terlalu digali di Abdullah v Takeshi.

Dari awal sudah di-setup bahwa film ini akan konyol, dua bayi beda negara lahir di waktu dan tempat yang sama, lalu perlahan-lahan penonton melihat ada perbedaan mencolok antara anak dengan keluarga masing-masing. Abdullah yang dari keluarga Arab-Indonesia tapi mukanya Dion Wiyoko, Takeshi yang dari keluarga ekspatriat Jepang di Indonesia tapi mukanya Kemal Palevi. Seumur hidup mereka yakin mereka berasal dari keluarga yang wajar, sampai teman-teman kuliah, terutama si Indah (Nasya Marcella) yang jadi rebutan kedua orang ini ingin menyelidiki jangan-jangan Abdullah dan Takeshi tertukar sejak lahir.

Gw sih nggak masalah bahwa film ini akan lebih menonjolkan guyonan. Gw terhitung banyak ketawa selama nonton film ini, walau ada juga yang miss sih--the penis jokes are just too much. It's fine, tapi agak sayang aja bahwa aspek-aspek potensial yang membuat film ini bisa lebih "isi" tidak ditindaklanjuti. Solusi dari tertukarnya kedua anak itu semacam digampangkan, dan eventually solusi semua cerita film ini juga terkesan digampangkan, udahan aja gitu. Gw pun menyayangkan Kemal tidak sampai berusaha lebih keras untuk bikin kita percaya dia dibesarkan di keluarga Jepang, padahal yang jadi orang tuanya si Chef Harada yang orang Jepang asli, yah bahasa Jepangnya bisa kali dibagusin dikit.

Untungnya, penataan sisi emosionalnya masih bisa terangkat di paruh akhir filmnya, dan tidak terlalu jomplang dengan komedi-komedi absurd yang sudah diberikan di depan, karena juga masih ada sedikit jokes berkadar sopan di tengah adegan-adegan emosional itu. Dan, cast-nya oke-oke juga, mereka kayak nyaman memainkan peran masing-masing yang tentu saja sangat karikatural tapi nggak sampai ngeselin. Kalau memang awalnya ini film hore-hore, ya hasilnya pun cukup bikin hore-hore, menghibur, alurnya masih enak diikuti, dan untung production value-nya juga nggak asal-asalan. Tapi, bahwa film ini melewatkan kesempatan untuk go deeper dengan ceritanya, nggak bisa nggak kelihatan.




My score: 6,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar