Minggu, 13 Maret 2016

[Movie] Jingga (2016)


Jingga
(2016 - Lola Amaria Production)

Directed by Lola Amaria
Written by Gunawan Raharja, Lola Amaria
Produced by Lola Amaria
Cast: Hifzane Bob, Qausar Harta Yudhana, Hany Valery, Aufa Assegaf, Keke Soeryokusumo, Ray Sahetapy, Joshua Pandelaki, Isa Raja Loebis, Nina Tamam


Buat gw film-filmnya Lola Amaria selalu menarik temanya. Dari romantika kehidupan TKI di Minggu Pagi di Victoria Park hingga satir soal korupsi di pemerintahan di Negeri Tanpa Telinga. Terlepas dari hasil akhirnya gw suka atau nggak, gw harus apresiasi bahwa mbak Lola punya sense yang oke dalam memilih tema. Tahun ini dia bikin kisah kehidupan remaja tunanetra di Jingga, lagi-lagi membuktikan itu. Tentu saja kalau mau dirunut, ini bukan film Indonesia pertama yang mengangkat soal keseharian remaja tunanetra--tahun 2013 udah ada What They Don't Talk About When They Talk About Love yang menyorot kehidupan asrama SLB. Tapi Lola sendiri sering statement bahwa Jingga akan jadi filmnya yang paling light dan ceria, karena nggak cuma soal remaja tunanetra, tapi soal remaja tunanetra yang nge-band. Hmmm, we'll see about that.

Jingga (Hifzane Bob) adalah nama seorang remaja laki-laki  yang berbakat bermain drum. Hanya saja dia sejak kecil punya kondisi yang rapuh di bagian penglihatannya, sehingga saat dia kena pukul temannya, akhirnya dia jadi buta total. Awalnya situasi ini diterima cukup berat oleh Jingga dan keluarganya, tapi keputusan untuk pindah ke SLB rupanya berangsur-angsur dapat membalikkan keadaan. Jingga kemudian bergaul erat dengan tiga teman yang sudah tunanetra sejak lahir: Marun (Qausar H.Y.), Nila (Hany Valery), dan Magenta (Aufa Assegaf)--yeah, namanya dari warna semua, khususnya karena mereka bikin band =D. Jadi dimulailah kehidupan baru Jingga, membiasakan diri dengan kondisinya, juga menjalanai pertemanan baru, dan cinta baru.

Menurut gw film ini cukup baik dalam menggambarkan keseharian Jingga dkk, semacam representasi bahwa walau dalam kekurangan mereka tetap bisa menjalani hidup dengan positif dan seterusnya. Masalah yang mereka hadapi pun bukan soal mereka buta, tapi yah masalah khas ABG seperti soal cita-cita dan perih-perih ketika naksir teman nggak dibalas =P. Ada satu momen yang menurut gw menarik ketika ketiga teman Jingga nanya dia soal bagaimana bentuk kota Bandung (setting cerita ini) atau soal warna. Pertanyaan yang sebenarnya polos dan di-deliver dengan polos juga, tapi gw ngeliatnya deep-deep gimana gitu =P. Dan, gw rasa salah satu keberhasilan film ini adalah permainan para aktornya yang menurut gw cukup meyakinkan, you know, untuk jadi seperti penyandang tunanetra yang sudah biasa dengan kondisi mereka, lengkap dengan sisi emosinya, kerenlah.

Ada lagi yang menarik perhatian gw dari konten film ini, karena gw masih merasakan unsur aktivisme dari seorang Lola tentang isu sosial. Ini terutama bisa dilihat dari latar belakang tokoh Marun dan Magenta. Magenta itu ceritanya asal Maluku yang jadi buta karena waktu bayi sakit dan salah pengobatan, buat gw adalah hint tentang jaminan kesehatan yang masih kurang diperhatikan di negara ini terutama di daerah. Tapi yang lebih lantang adalah soal Marun, yang berasal dari daerah kawasan industri--spesifically disebut Karawang--yang banyak penduduk desanya jadi buta karena dampak limbah pabrik. Bahkan, si kondisi si Marun ini diteruskan dengan kondisinya yang sering mimisan yang eventually mengarah ke dampak kesehatan yang lain. Untuk sebuah film yang katanya ringan dan ceria, paling nggak ada sedikit pengetahuan yang bisa dipetik dari film ini.

Nah, masalahnya, gw merasa cerita film ini kayak "nggak diselesaikan". Seriously, gw mengira bahwa selain soal Jingga yang menerima kondisinya, plot soal band mereka akan diteruskan, macam tampil di panggung mana kek atau apa. Nggak tuh. Film ini malah memilih untuk mengakhirinya dengan melankolis, dan nggak menyelesaikan apa-apa. Jujur gw merasa being kaget dan kecewa dengan bagaimana film ini ditutup, atau "dipotong", karena rasanya ada yang nggak utuh. Too bad.

Pada dasarnya gw udah cukup menikmati bagaimana film ini disajikan, baik dari penuturan, akting, maupun segi teknis yang oke, bahkan lagu-lagu yang ditampilkan lumayan enak juga. Well, walau dialognya kadang preachy juga sih tapi karena ceritanya film maunya inspiratip jadi ya sudahalah. Film ini sebenarnya digarap dengan baik, cuma ya itu tadi, tutupannya kurang memberi...emm, satisfaction-lah buat gw. Yah, paling nggak sisi positifnya masih bisa meninggalkan kesan yang baik di gw terhadap film ini secara keseluruhan, dan ada anjing lucu =D.




My score: 7/10



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar