Kamis, 10 Maret 2016

[Movie] I Am Hope (2016)


I Am Hope
(2016 - Alkimia Production/Kaninga Pictures)

Directed by Adilla Dimitri
Written by Adilla Dimitri, Renaldo Samsara
Produced by Wulan Guritno, Ananda Soekasah, Janna Soekasah Joesoef
Cast: Tatjana Saphira, Tio Pakusadewo, Fachri Albar, Alessandra Usman, Feby Febiola, Kenes Andari, Ray Sahetapy, Ariyo Wahab


Dari gerilya promosi film ini sejak tahun lalu, first and foremost, I Am Hope adalah sebuah "film amal", karena ini ditujukan untuk awareness tentang penderita kanker dengan kampanye 'gelang harapan'-nya. Di sisi lain, film ini juga jadi proyek pertama suami istri Wulan Guritno-Adilla Dimitri, dengan sang suami lakukan debut film panjang sebagai sutradara. Well, tanpa harus malu-malu, film ini memang tampak seperti sebuah kisah melankolis tentang seseorang dan penyakitnya yang mematikan, nothing new. Tapi, menarik juga bahwa ada unsur fantasy di dalamnya, yang sudah diisyaratkan dari judulnya.

Film ini berkisah tentang Mia (Tatjana Saphira), anak dari keluarga seniman yang bercita-cita menggarap produksi pertunjukan teater pertamanya. Tapi, di justru di saat ini ia divonis kanker, satu hal yang membuat dia dan ayahnya (Tio Pakusadewo) terpukul, karena ibunya (Feby Febiola) dulu juga kena kanker dan tidak bertahan. Namun, Mia tetap melanjutkan proyeknya, sembari menjalani pengobatan yang belum pasti juga akan berhasil atau tidak. Di tengah-tengah proses ini ia bertemu seorang aktor bernama David (Fachri Albar) yang sanggup membantunya memperlancar produksi pertunjukan teaternya. Selama berbulan-bulan, well, producing a theatre play is hard, chemotherapy is also hard, apakah Mia sanggup mengatasi keduanya, itu yang jadi penggerak cerita film ini. 

Gw respek sama niat baik film ini. Kalau lihat ceritanya, pokok film ini ingin memberi secercah semangat bagi pengidap kanker, bahwa vonis penyakit tersebut bukan berarti berhenti berkarya dan berhenti berjuang untuk survive. Dan mungkin dalam konteks film-film Indonesia yang angkat soal penyakit, film ini menunjukkan penyakit mematikan bukan berarti terus-terusan sedih dan depresi. Seperti yang gw mention sebelumnya, film ini juga masukkan unsur fantasi dengan kehadiran Maya (Alessandra Usman) yang dari awal *jadi bukan spoiler dong* digambarkan sebagai sosok yang selalu ada bagi Mia saat dibutuhkan, yah bisa dibilang interaksi Mia dengan Maya adalah antara Mia dan dirinya sendiri untuk terus menjalani hidup, dan seterusnya dan seterusnya.

The problem I have with this film, terlepas dari niatnya yang baik itu, gw nggak merasakan semangat yang terpancar dari film ini. Untuk sebuah film yang mau menggugah semangat, well, terlalu mellow, yang didukung oleh adegan-adegannya yang banyak sekali dibikin draggy, macam buka pagar atau jalan dari teras ke pintu rumah, yang gw nggak paham kenapa musti begitu panjang ditampilkannya. Dari segi musik juga menurut gw kurang membantu karena komposisinya yang monoton dari sejak awal film. Aktingnya cukup fine, apalagi bagian Tatjana dan Tio dalam kegalauan mereka, tapi kembali lagi most of the time gw kurang merasakan 'semangat hidup' dari karakter-karakter ini. Mungkin karena tone filmnya yang memang lembut dan mellow tadi, tapi emosi sedihnya tak sampai benar-benar menusuk, unsur lucu sikit pun tak ada. Apakah film tentang penyakit harus begini caranya? Well, sialnya gw nonton film ini setelah ada Bidadari Terakhir tahu lalu, sebuah film roman dengan tema serupa tapi nyaris 2/3 film gw nggak sadar bahwa film itu soal penyakit saking asyiknya penuturannya. Mungkinkah juga karena karakter Mia itu not lively enough to make her more interesting selain dari cita-cita dan penyakitnya? 

I Am Hope pada akhirnya kurang berhasil jadi film yang nikmat ditonton untuk gw, kurang unsur 'ugh' gitu, sehingga dampaknya bikin gw jenuh menantikan bagaimana kisah ini akan berakhir sekalipun durasinya nggak panjang juga. Tetapi, untuk message yang disampaikan, film ini boleh dibilang berhasil. Ada ketakutan yang ditunjukkan dari sepasang ayah-anak yang punya riwayat kanker dalam keluarga, menunjukkan ini memang bukan penyakit yang diremehkan, tetapi kemudian itu dibayar dengan, misalnya, adegan konseling para penyintas kanker. Paling nggak ada informasi komprehensif yang disampaikan, bukan asal sebut kanker dan tokoh dokter bilang hidup tinggal berapa bulan terus mati gitu aja. 





My score: 6,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar