Senin, 14 Maret 2016

[Movie] Gods of Egypt (2016)


Gods of Egypt
(2016 - Summit/Lionsgate)

Directed by Alex Proyas
Written by Matt Sazama, Burk Sharpless
Produced by Basil Iwanyk, Alex Proyas
Cast: Nikolaj Coster-Waldau, Brenton Thwaites, Gerard Butler, Elodie Yung, Chadwick Boseman, Geoffrey Rush, Courtney Eaton, Rufus Sewell, Emma Booth


Eksistensi film Gods of Egypt mungkin dianggap hanya mengekor film-film laga fantasi petualangan yang sering dibuat Hollywood, sebut saja Clash of the Titans, The Mummy, sampai The Lord of the Rings. Belum lagi film ini memasang aktor dan aktris berbagai bangsa tanpa satu pun yang berdarah Mesir. Seolah film ini tidak dibuat dengan serius, hanya mencari bahan cerita yang bisa digunakan untuk pamer efek visual CGI dan dinikmati secara ringan. Tetapi, sutradara Alex Proyas—sineas Australia yang kebetulan berlatar keluarga Mesir keturunan Yunani—seperti tidak membiarkan hasil akhir film ini hanya jadi seperti demikian.

Gods of Egypt dituturkan dalam bentuk fantasi berdasarkan konsep mitologi Mesir kuno. Artinya, jangan harap ada realisme di sini, apalagi berhubungan dengan sejarah. 'Bumi' dalam kisah ini hanya sebatas tanah Mesir, dan bentuknya pun datar, terdiri dengan dua sisi: sisi dunia orang hidup dan dunia orang mati. Kisah ini berlatar ketika manusia dan dewa-dewi hidup berdampingan, dengan dewa-dewi ukuran tubuhnya lebih besar, berumur panjang, berdarah emas, sakti—dapat juga berubah menjadi bentuk hewan, dan bertahta sebagai raja dan bangsawan dengan wilayah kekuasaan masing-masing.

Kisah film ini sendiri terambil dari mitos tentang perebutan tahta kerajaan Mesir antara Horus, sang dewa udara, dan Set, sang penguasa gurun. Set (Gerard Butler) menyatakan terang-terangan ambisinya untuk mengambil tahta raja Mesir saat upacara penobatan Horus (Nikolaj Coster-Waldau) sebagai raja. Disaksikan oleh dewa-dewi dan rakyat manusia, Set bertarung dengan Horus demi merebut mahkota. Horus alami kekalahan, bahkan kedua matanya dicungkil oleh Set. Set naik menjadi raja Mesir, yang tak hanya membuat rakyat menderita, tetapi juga dewa-dewi yang hendak melawan akan disingkirkannya.

Di sisi lain, seorang manusia pencuri muda bernama Bek (Brenton Thwaites) mencari cara agar mendiang kekasihnya, Zaya (Courtney Eaton), tidak musnah di dunia orang mati. Bek datang kepada Horus di pengasingan, lalu mengadakan perjanjian agar Horus dapat menolong Zaya, dengan imbalan Bek menolong Horus merebut tahtanya kembali dari Set, dimulai dari mencuri kembali mata Horus yang disimpan Set. Tentu saja, Set tak akan tinggal diam, karena ia masih terus ingin menjadi dewa terbesar dan paling berkuasa di alam raya.

Satu hal yang harus diapresiasi dari Gods of Egypt adalah nilai kebaruan. Sekalipun plot tentang kerja sama dewa dan manusia seperti sudah pernah didengar, film ini termasuk berhasil dalam memperkenalkan mitologi Mesir kuno yang relatif jarang dikenal dengan cara yang menyenangkan. Memang kelihatan bahwa Proyas dan tim penulis skenario Matt Sazama dan Burk Sharpless banyak melakukan pengembangan sendiri dari tokoh-tokoh dan ceritanya, tetapi mereka menampilkannya masih dalam koridor yang dekat dengan mitologi aslinya—dan ini juga diuntungkan oleh sifat mitologi yang bebas interpretasi karena bukan literatur konkret.

Lewat film ini, penonton diperkenalkan pada konsep kepercayaan dan dewa-dewi Mesir kuno, tak hanya Set dan Horus, tetapi juga dewi cinta Hathor (Elodie Yung), dewa pengetahuan Thoth (Chadwick Boseman), dewa kematian Anubis (suara oleh Goran D. Kleut), hingga sang dewa matahari, Ra (Geoffrey Rush), ayah dari Set dan kakek dari Horus. Gambaran posisi dan fungsi mereka pun disampaikan dengan cukup mudah dimengerti dan dideskripsikan dengan visualisasi yang menarik berkat desain produksi, kostum, dan efek visualnya. Maka, bisa jadi akan banyak yang jadi tertarik mencari tahu tentang mitologi Mesir kuno selepas menyaksikan film ini.

Sebelum Gods of Egypt, Proyas selaku sutradara dikenal sebagai sineas yang memiliki visi yang cukup unik, khususnya dalam genre sci-fi. Sebut saja film The Crow, Dark City, I Robot, juga film kiamat Knowing yang terhitung sukses di pasaran. Namun, ciri khas Proyas bukan hanya pada visi cerita dan visual, tetapi juga subteks yang dalam lewat penceritaannya. Hal ini rupanya masih ada dalam Gods of Egypt, sekalipun tampilannya sekilas seperti film yang main-main.

Film Gods of Egypt seolah membuat refleksi tentang kemanusiaan, termasuk untuk manusia yang ada pada masa kini. Salah satu contoh adalah ketika Set membuat hukum bahwa orang yang ingin hidup tenang di alam baka harus mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan dipersembahkan kepada dewa. Hal ini membuat yang bisa mencapai 'surga' hanyalah orang-orang kaya yang mampu memberi harta—yang dampaknya membuat mereka jadi hidup tamak, sementara yang tak memberi apa-apa akan musnah. Bagian ini seperti komentar dari pembuat film ini tentang dunia yang terlalu berorientasi materi.

Hal itu juga tersambung dengan sifat Set, yang terobsesi menguasai semua yang ada di bumi, termasuk kesaktian dari dewa-dewi lainnya. Padahal, ketika ia dihadapkan pada Ra yang posisinya lebih tinggi, terbukti semua hal yang ada di bumi bukanlah segalanya. Set terlalu terpatok pada apa yang ada di bumi, sementara itu hanya bagian kecil dari alam yang luas.

Tak hanya itu, masih ada beberapa contoh yang bisa ditarik sebagai refleksi hubungan antara manusia dan kedewaan. Mulai dari sosok Thoth yang mengatakan Bek tak akan sanggup menyerap seluruh pengetahuan tentang alam semesta, atau Hathor yang harus berkorban diri sesuai fungsinya sebagai dewi cinta. Adapun Bek yang tak memiliki rasa percaya terhadap dewa-dewi terlepas bahwa mereka hidup berdampingan, kebalikan dari Zaya yang selalu berdoa pada Horus sekalipun tak kunjung dijawab. Ini seakan mencerminkan hubungan yang kompleks antara manusia dengan konsep ketuhanan, baik yang percaya maupun yang tidak.

Jadi, menganggap bahwa Gods of Egypt sedangkal tampilan luarnya adalah keliru. Memang, sisi action dan petualangan film ini tampil meriah dan mudah untuk diterima sebagai sebuah sajian hiburan ringan semata. Bahkan, ada kesan bahwa pembuat filmnya sendiri sengaja membuat filmnya terlihat absurd seperti kartun—latar tempatnya memang hampir seluruhnya CGI, ditambah dengan humor-humor yang bisa dianggap lucu dan bisa juga tidak. Namun, film ini tetap punya sesuatu di balik sekadar bersenang-senang hampa. Gods of Egypt bukanlah film yang layak diremehkan, asalkan mau dibaca dengan saksama.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar