Jumat, 04 Maret 2016

[Movie] A Copy of My Mind (2016)


A Copy of My Mind
(2016 - Lo-Fi Flicks/CJ Entertainment)

Written & Directed by Joko Anwar
Produced by Tia Hasibuan, Uwie Balfas
Cast: Tara Basro, Chicco Jerikho, Paul Agusta, Ario Bayu, Maera Panigoro, Ronny P. Tjandra


Kalau ada sineas Indonesia yang gw khatam nonton karyanya, maka itu adalah Joko Anwar. Well, paling nggak untuk film-film panjang yang disutradarainya. Gw rata-rata suka film-filmnya Joko, dari Janji Joni sampai Modus Anomali, terutama karena film-filmnya selalu kelihatan "kayak film" dengan production value yang cool dan edgy, namun masih dengan cerita dan penuturan yang asyik. Lalu datanglah A Copy of My Mind, sebuah film yang katanya 'kecil' dan jadi pertama kali Joko melepaskan semua elemen fantastikal. Artinya, menyaksikan ini agak gambling buat gw, apakah bakal suka atau nggak dengan pergantian gaya yang cukup drastis dari Joko di sini.

A Copy of My Mind ini menyorot dua orang yang hidup di dunia bawah Jakarta, yang cewek Sari pegawai salon kecil, yang cowok Alek jadi penerjemah DVD bajakan--which is not necessarilly a 'job' but hey ada duitnya jadi ya udahlah. Kerasnya lingkungan kayak bikin mereka nggak punya aspirasi apa-apa selain cita-cita kecil, seperti ingin nonton film dengan cara lebih proper selain dengan alat elektronik KW buatan China di kos-kosan dan DVD bajakan. Nevertheless, pertemuan sederhana Sari dan Alek akibat Sari protes terjemahan DVD-nya berantakan berujung pada jalinan cinta sederhana dan passionate dari mereka berdua. Tapi, kebahagiaan itu terusik ketika Sari nyolong DVD dari salah satu pelanggannya. Ternyata, DVD itu berisi rekaman bukti korupsi dari beberapa orang yang saat ini mendukung salah satu calon presiden. Nggak ingin dapat masalah, Sari berusaha kembalikan DVD itu, tapi pihak-pihak misterius lebih dahulu meneror mereka.

Ketika gw bilang gayanya Joko berubah drastis di sini, itu emang benar-benar berubah, kayak hampir nggak ada jejak-jejak 'Joko' kecuali beberapa dialog witty dan dekorasi DVD di tembok kostan Alek. Mulai dari visualnya yang raw dan tampak tidak di dressed-up, sampai penuturannya yang lamban (terutama di bagian perkenalan karakter) dan keputusan tanpa ilustrasi musik selain lagu-lagu yang terdengar di mana pun adegan berada. Gw menyimpulkan bahwa setelah lama Joko lebih bermain di genre-genre spesifik dan flashy, di sini mencoba jadi agak 'artsy' gitu. Did it work? Tergantung.

Di sini seperti ingin ditekankan tentang realisme kehidupan tokoh-tokohnya, dengan dialog natural dan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini mungkin nggak mau diaku sebagai bagian dari 'orang Jakarta', ditambah lagi meminjam euforia pemilihan presiden dua tahun lalu. Atmosfer riilnya sih bisa terasa. Tapi saking riilnya gw agak lost sama film ini ceritanya mau ke mana. Di paruh awal fokusnya begitu intim pada hubungan Sari dan Alek, yang memang dibangun dengan sangat baik, then what? Si DVD kontroversial itu baru masuk di paruh kedua, dan itulah menurut gw film ini mulai bergerak lagi, walau kemudian buntutnya jadi 'artsy' lagi dengan silent, long, dreamy takes dan sebagainya. This part, I'm not really fond of.

Tapi, gw setidaknya masih melihat bahwa se-riil-riil-nya film ini, paling nggak masih ada cerita si DVD itu, yang jadi semacam MacGuffin sehingga ceritanya masih ada arahnyalah walau agak telat =p. Okelah film ini ingin memotret tentang kerasnya hidup di Jakarta terutama bagi mereka yang duitnya nggak seberapa gara-gara opportunity terbatas, tapi untunglah film ini nggak sebatas deskripsi, ada jalinan cerita yang bisa diikuti. Film ini juga mungkin mau mencerminkan ironi bahwa bisnis DVD bajakan berjalan sangat lancar dibanding yang asli karena konsumennya cuma sanggupnya beli yang itu, tapi buat gw film ini jadi lebih ada gigitannya pas ada unsur thriller-nya itu. Memang in the end unsur thriller itu *sayangnya* nggak di-emphasize, karena keseluruhan film ini jadinya ya tadi, artsy drama gitu kan, tapi at least Joko tidak benar-benar meninggalkan cirinya dalam menyusun cerita yang interesting dan unik.

Jadi kalau mau disimpulkan, it's a nice change and all, tapi kayaknya untuk gw bilang 'suka' masih agak sulit sih.




My score: 7/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar