Kamis, 28 Januari 2016

[Movie] Midnight Show (2016)


Midnight Show
(2016 - Renee Pictures)

Directed by Ginanti Rona Tembang Asri
Screenplay by Husein M. Atmodjo
Produced by Gandhi Fernando, Laura Karina
Cast: Acha Septriasa, Ratu Felisha, Gandhi Fernando, Ganindra Bimo, Gesata Stella, Arthur Tobing, Ronny P. Tjandra, Boy Hasya, Ade Firman Hakim, Daniel Topan


Selama ini horor menjadi genre film yang cukup mudah menarik penonton. Karena itu pula, film-film jenis ini banyak sekali dibuat di mana pun di dunia. Terkadang muncul pertanyaan, mengapa banyak orang bisa menikmati tayangan yang pada dasarnya memuat kekerasan dan kengerian yang lazim di genre ini—dari kematian, siksaan, hingga teror. Mungkin ada yang menganggap menonton film-film genre ini sebagai pemacu adrenalin yang dapat memunculkan efek fun, semakin seram akan semakin menyenangkan. Tetapi, genre ini juga bisa jadi sebuah sarana melihat gambaran sisi tergelap manusia.

Film thriller Indonesia terbaru, Midnight Show garapan Ginanti Rona menjadi sebuah contoh menarik. Dari konsepnya, film ini jelas menampilkan darah sebagai jualan utamanya. Akan tetapi, mungkin karena terlalu royal mengumbar darah, banyak visual kekerasan yang dihilangkan atas nama sensor. Sehingga, daya tarik dan unsur fun dari film ini sebagai horor jenis slasher agak berkurang, tersisa hanya sapuan darah yang sudah tertumpah tanpa diperlihatkan prosesnya secara gamblang.

Ketika kadar darah dikurangi, Midnight Show harus benar-benar mengandalkan cerita yang mampu memberikan efek ngeri bagi penontonnya. Untungnya, film yang skenarionya ditulis Husein 'Monji' Atmodjo ini punya amunisi yang cukup untuk itu. Sebab, film ini juga menampilkan misteri yang mampu merekatkan kisah filmnya menjadi bukan cuma parade berbagai cara orang terbunuh dengan keji. 

Film ini diawali seperti lazimnya horor slasher dengan menempatkan para korban dalam posisi lemah menghadapi sosok pembunuh sadis dan unpredictable. Para korban ini adalah pengunjung dan petugas sebuah bioskop bernama Podium yang memutarkan film di jam tayang tengah malam atau midnight. Film yang diputar berjudul Bocah—film yang dibuat khusus untuk cerita Midnight Show ini—yang dicap kontroversial karena berdasarkan kisah nyata anak laki-laki yang tega membantai orang tuanya. 

Rupanya kengerian tidak hanya terjadi dalam cerita film yang mereka tonton. Di tengah pemutaran film, tiba-tiba muncul sosok bertopeng di antara kursi penonton yang hendak menghabisi nyawa semua orang yang ada di gedung itu dengan senjata tajam. Orang-orang yang belum terjerat sang pembunuh pun tak bisa segera meminta tolong, sebab gedung bioskop telah disabotase agar tak seorang pun bisa keluar maupun menghubungi pihak luar. Dan lagi, kisah ini berlatar tahun 1998, ketika belum semua orang punya alat komunikasi pribadi yang dapat mempermudah segala sesuatu.

Dalam menciptakan kengerian, film Midnight Show menggunakan jalan yang cukup efektif walaupun klise. Film ini menempatkan tokoh-tokoh utama—petugas loket karcis Naya (Acha Septriasa), petugas proyektor Juna (Gandhi Fernando), serta pengunjung bernama Sarah (Ratu Felisha)—dalam posisi serba tidak tahu, sampai akhirnya dalam satu titik terungkap semua misterinya. Keadaan tidak tahu itu juga yang menciptakan ketegangan, misalnya, ketika para tokoh utama berusaha berpindah tempat, yang berarti mereka lebih terpapar terhadap si pelaku yang bisa muncul dari mana saja. 

Hampir semua film horor atau thriller sejenis menggunakan jalan serupa, dan Midnight Show termasuk sanggup mengikuti pakem tersebut dengan cukup rapi—juga diuntungkan perfilman Indonesia jarang yang menggarap genre seperti ini. Namun, seperti disinggung tadi, adegan-adegan yang secara visual berpotensi 'berdarah' terpaksa berkurang, sehingga kengerian dan upaya membuat syok dalam film ini jadi kurang menggigit. Dan, sayangnya sisi musik latarnya juga tidak membantu membangkitkan atmosfer mencekam dan menutupi kekurangan itu.

Meski demikian, Midnight Show tetap bisa menanamkan kengerian jenis lain. Ini terlihat ketika misteri tentang siapa dan mengapa teror ini terjadi mulai terungkap. Petunjuk tentang itu sebenarnya sudah ada sejak awal, bahwa film Bocah yang diputar di bioskop dalam film ini punya kaitan erat dengan tindakan si pembunuh. Tanpa bermaksud spoiler, film ini berhasil merangkai cerita dengan pernyataan yang sangat lumrah tapi kadang luput, bahwa kekerasan melahirkan kekerasan yang lain, dan itu bukan hanya dalam konteks fisik. Cara penggambarannya dalam film ini memang ekstrem, tetapi paling tidak film ini lolos dari sekadar jadi film horor tanpa maksud dan tujuan.

Satu hal lagi yang cukup impresif dari Midnight Show adalah detail yang tampak sangat diperhitungkan. Ada bagian film ini yang menjadi semacam 'kenang-kenangan' terhadap bisnis bioskop di era 1990-an, termasuk jenis film-film yang diputar di bioskop pinggiran semacam Podium, hingga ada pula detail tentang seorang penonton yang membawa perlengkapan kamera video ke bioskop, yang disinyalir hendak membajak. 

Memang tidak semua detail bisa tereksekusi dengan sempurna, misalnya gambar di layar bioskop Podium yang tampak 'digital', hingga pembawaan Naya sebagai pegawai bioskop yang terlalu ramah untuk zaman itu. Tetapi, hal tersebut masih bisa dikompensasi dengan rancangan visual yang bercitarasa dan serta deretan pemain yang rata-rata bisa memberi performa sesuai dengan yang dibutuhkan. Ini pun menguatkan impresi bahwa film ini dibuat tidak asal jadi, dan itu patut diapresiasi.





My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar