Jumat, 22 Januari 2016

[Movie] The Hateful Eight (2015)


The Hateful Eight
(2015 - The Weinstein Company)

Written & Directed by Quentin Tarantino
Produced by Richard N. Gladstein, Shannon McIntosh, Stacey Sher
Cast: Samuel L. Jackson, Kurt Russell, Jennifer Jason Leigh, Bruce Dern, Michael Madsen, Tim Roth, Walton Goggins, Demián Bichir, James Parks, Channing Tatum, Dana Gourrier, Zoë Bell, Gene Jones


Bagi penggemar film, nama sineas Quentin Tarantino biasa diidentikkan dengan gaya filmnya yang unik dan eksentrik. Tarantino telah merebut perhatian dunia lewat film-film yang ditulis dan disutradarainya, seperti Pulp Fiction, dwilogi Kill Bill, Inglourious Basterds, hingga Django Unchained. Keunikan Tarantino bukan hanya pada penulisan dialog yang presisi dan unsur kekerasan yang serba dilebih-lebihkan, tetapi juga upayanya meniru gaya mirip film-film lawas bergenre khas, semacam tribute darinya terhadap film-film yang disukainya.

Film The Hateful Eight menjadi salah satu perwujudan ciri khas Tarantino, dengan mengambil latar pedalaman Amerika Serikat tak lama setelah berakhirnya Perang Sipil di pertengahan abad ke-19. Istilah gampangnya, ini adalah film berjenis Western, atau di Indonesia dikenal dengan sebutan 'film koboi'. Tarantino memang pernah bercerita kisah dari latar serupa di Django Unchained.

Namun, jika Django Unchained lebih berciri petualangan, The Hateful Eight adalah sebuah drama mencekam berisi karakter-karakter unik yang terjebak di satu ruangan yang sama dalam satu malam—walau jika mengenal kebiasaan Tarantino, tentu saja ini tak sepenuhnya drama.

Ini adalah era ketika batas antara penjahat dan penegak hukum sangat tipis, yang dibedakan hanya dari sepucuk surat. Orang-orang masih bebas memegang dan menembakkan senjata, sehingga setiap orang patut dicurigai niatnya. Di era ini juga masih marak para bounty hunter, orang-orang bersenjata yang memburu para penjahat untuk diserahkan kepada pemerintah demi imbalan uang.

Awal film ini mempertemukan dua orang bounty hunter kawakan di tengah salju tebal pegunungan Wyoming, Major Marquis Warren (Samuel L. Jackson) dan John Ruth (Kurt Russell). John sendiri tengah membawa tangkapan terbarunya, Daisy Domergue (Jennifer Jason Leigh) yang dibiarkannya hidup untuk nanti dihukum gantung. Marquis kemudian menumpang di kereta kuda yang disewa John menuju kota Red Rock. Tak lama, di tengah jalan mereka juga mengangkut Chris Mannix (Walton Goggins), yang mengaku sebagai sheriff—semacam kepala polisi—yang baru akan dilantik di Red Rock.

Datangnya badai salju membuat mereka terpaksa singgah di penginapan Minnie's Haberdashery. Di sana, keempat orang ini bertemu dengan empat orang lain yang juga tengah berlindung. Mereka adalah Oswaldo Mobray (Tim Roth) yang mengaku sebagai seorang algojo, Joe Gage (Michael Madsen) yang mengaku sebagai seorang gembala sapi biasa, Jenderal Sanford Smithers (Bruce Dern) dari kubu Konfederasi yang telah ditundukkan pemerintah pasca-Perang Sipil, dan Bob (Demián Bichir), orang Meksiko yang mengaku ditugaskan menjaga penginapan saat pemiliknya sedang pergi.

Kata keterangan 'mengaku' menjadi begitu penting, karena Marquis maupun John tahu betul bahwa di dalam dunia kekerasan, pasti ada pihak yang ingin menjegal mereka. Apalagi, Daisy yang ditawan John punya nilai yang sangat tinggi jika berhasil diserahkan ke pemerintah, sehingga bisa saja ada yang berniat merebutnya, atau justru ingin membebaskannya. Permainan untuk saling membongkar rahasia pun dimulai, di tengah-tengah kuatnya badai salju yang menahan mereka untuk keluar dari penginapan itu.

Patut diketahui, film ini sedikit sekali menampilkan adegan baku tembak. Sisanya adalah sajian intrik dan pembongkaran karakter yang dituturkan lewat dialog di ruangan-ruangan terbatas. Bila dihitung, adegan-adegan utama di film ini hanya berlangsung di dalam kereta kuda yang disewa John dan di dalam Minnie's Haberdashery yang tak bersekat, ditambah beberapa adegan di perjalanan, bagian luar penginapan, dan di dalam kandang kuda. Tantangannya adalah bagaimana kerangka cerita yang sederhana dan ruangan itu-itu saja tetap jadi sajian yang memaku perhatian hingga akhir.

Kuncinya ada pada karakternya. Delapan karakter yang ditempatkan sebagai utama menjadi motor dalam membangun dinamika film ini. Apalagi, sebagaimana sikap dan juga pernyataan karakter John secara lugas dalam dialognya, belum tentu semua orang ini adalah benar-benar seperti yang mereka katakan. Ketika para karakter ini ditampilkan berlaku sebagaimana adanya—duduk, makan, minum, berbincang di ruangan yang sama, penonton seolah-olah terus dipancing untuk curiga terhadap masing-masing dari mereka, dan karena itu sewaktu-waktu sesuatu pasti bisa terjadi.

Pembangunan tiap karakter tampak begitu teliti dan memang bisa saling menimbulkan konflik. Film ini jelas dibuat dengan semangat fantasi, mempertemukan berbagai karakter individu yang punya keunikan masing-masing—bounty hunter yang jarang membunuh buruannya, mantan tentara kulit hitam, jenderal yang anti-kulit hitam, algojo asal Inggris, koboi pendiam, sheriff dari keluarga pembelot, orang Meksiko yang bekerja cukup jauh negara asalnya, hingga seorang wanita yang disebut sebagai pembunuh keji yang tampak penuh rahasia dari gelagat dan tatapannya.

Pembangunan karakter itu juga ditunjang oleh referensi sejarah dan sosial sesuai zamannya. Salah satu yang ditunjukkan dengan sangat detail adalah mekanisme pemberantasan penjahat dengan bounty hunter pada saat itu, yang memang dilakukan cukup brutal. Selain itu, ada pula gambaran dampak Perang Sipil di AS yang masih terbawa bertahun-tahun sesudah usai. Meski perbudakan terhadap kaum kulit hitam sudah dihapuskan di AS, sikap bermusuhan terhadap orang-orang berbeda ras masih tertinggal.

Benang merah utama film ini tetaplah pada misterinya, tetapi bukan sekadar mengira-ngira siapa kawan siapa lawan. Bahkan, tokoh yang dianggap 'jagoan' pun akan sulit ditentukan di sini. Sebab, masing-masing tokoh punya alasan untuk disukai, dan punya alasan pula untuk dibenci, efeknya membuat penonton semakin sulit untuk mengetahui nasib mereka seiring cerita bergulir.

Akan tetapi, penuturan cerita dan pembangunan karakter yang begitu teliti ternyata punya konsekuensi. Seperti disinggung sebelumnya, ini bukan film action. Sekalipun pistol dan senapan selalu hadir dalam setiap adegan, tembak-tembakan hanya ada di saat-saat tertentu. Sebagai gantinya adalah adu dialog di antara kedelapan karakter utama ini dan karakter lainnya, yang disajikan dengan laju yang sangat hati-hati. Bagi yang mengharapkan unsur laga hanya karena ini 'film koboi', mungkin akan menganggap film ini menjemukan, belum lagi durasinya mencapai dua jam 40-an menit.

Di lain pihak, susunan cerita, karakter, dan dialognya justru jadi daya tarik yang kuat dari film ini. Mulai dari penggambaran latar, penggunaan aksen dan dialek, hingga pemilihan kata dari masing-masing karakter ditata dengan apik dan sesekali lucu, tetap mampu menyerap perhatian. Bahwa semua itu didukung dengan desain produksi, sinematografi, dan tata musik yang megah, serta tentu saja performa yang hidup dari deretan pemainnya, membuat film ini menjadi semakin sedap dinikmati seutuhnya, meski mungkin perlu upaya untuk bertahan terhadap laju dan durasinya.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar