Kamis, 31 Desember 2015

Year-End Note: My Top 10 Films of 2015

Mari kita tutup tahun 2015 dengan senarai 10 film teratas versi gw. Dari tahun ke tahun penjelasan tentang syarat daftar ini selalu sama dan sederhana, yaitu film-film yang memberi kesan buat gw saat menonton dan setelah menontonnya. Belum tentu film-film ini "terbaik", bahkan tidak juga diurutkan sesuai skor di review gw. Tapi yang penting adalah film-film ini paling gw ingat mewakili tahun ini. Seperti biasa, prasyarat untuk bisa gw masukkan di senarai ini adalah film-film yang rilis resmi di bioskop Indonesia sepanjang tahun 2015.


Sudah siap? Eits, sebelumnya, gw juga mau mention beberapa runner-up yang sempat gw catat dan pertimbangkan untuk masuk 10 besar, tapi "terpaksa" ada di luar karena 10 teratas tempatnya cuma 10 *krik...krik..*. Ini dia dalam urutan abjad:


Cinderella, dir. Kenneth Branagh
Menghidupkan kembali dongeng klasik dengan gaya klasik tapi tetap menyenangkan dan indah,

Crimson Peak, dir. Guillermo del Toro
Sebuah "telenovela" dibungkus dengan keindahan visual dan karakterisasi, serta definisi "horor" yang mutakhir.

Heart Attack, dir.Nawapol Thamrongrattanarit
Film Thailand pertama gw di bioskop dan ternyata filmnya menuturkan kisah cinta karakter yang unik, berprofesi unik, dan gaya penuturan yang unik juga.

Mencari Hilal, dir. Ismail Basbeth
Salah satu film Indonesia paling indah tahun ini, dengan komentar-komentar tentang situasi sosial maupun situasi keluarga yang relevan.

The Walk, dir. Robert Zemeckis
Karena menerjemahkan pengalaman aksi gila wire-walk di antara gedung tinggi dengan cara menyenangkan dan "menggemaskan".


Dan, berikut 10 film teratas 2015 versi gw. Jangan kaget ya =P...

Rabu, 30 Desember 2015

Year-End Note Special: The 10 Indonesian Films of 2015


Sebelum sampai ke top 10 film tahunan versi gw, gw kepingin bikin postingan khusus didedikasikan untuk film Indonesia. Gw nggak bikin ini setiap tahun, karena emang gw selalu lebur film Indonesia yang gw suka ke top 10 film secara keseluruhan, dan nggak setiap tahun gw bisa "klik" sama film Indonesia dalam jumlah sampai 10 judul setiap tahun. Tapi, jumlah ini pernah tercapai di tahun 2012, ketika itu gw juga bikin postingan khusus tentang 10 film Indonesia paling berkesan tahun itu, dan emang tahun-tahun berikutnya belum sampe bilangan segitu lagi.

Surprisingly, itu bisa terjadi lagi di tahun 2015. Mungkin ini dipengaruhi tuntutan pekerjaan yang mengharuskan gw menyaksikan lebih banyak film. Yang pasti, di tengah perbandingan kurang menyenangkan antara bertambah banyaknya jumlah produksi film dengan berkurangnya rata-rata penjualan tiket untuk film Indonesia, ya gw senang aja menemukan ternyata dari antara film-film itu yang memang bagus, yang berkesan, dan yang menampilkan "sesuatu" (menurut pandangan gw tentu saja) ada cukup banyak dan berentetan. Makanya, gw terketuk untuk membuat postingan ini lagi.

Untuk artikel khusus ini, gw nggak akan bikin ranking, tapi akan gw gelar senarai dalam urutan abjad judulnya. Biar yang ditekankan adalah bahwa film-film ini telah memberikan kesan masing-masing di ingatan gw, bukan mana lebih bagus dari yang mana--kalau itu biarlah di senarai Top 10 film tahunan yang akan gw posting setelah ini, hehe. And so, inilah ke-10 film Indonesia paling berkesan buat gw tahun 2015 ini.









2014
sutr. Rahabi Mandra & Hanung Bramantyo

Karena film Indonesia jarang menampilkan political thriller, dan bahkan film ini berani membahas politik pemerintahan. Kadang kita beranggapan bahwa politk pemerintahan terlalu sensitif untuk dibuat dalam kemasan drama serius seperti yang dilakukan di film 2014 ini, karena konon minimal seseorang atau suatu pihak pasti akan merasa tersungging *padahal kalau bersih kenapa harus risih, ya kan?* sehingga mengancam kelangsungan karier si pembuat film. Mungkin itu sebabnya isu ini lebih banyak dikemas dalam komedi satir. Makanya, gw mau mengapresiasi 2014 karena, sekalipun tak sempurna, film ini sudah berani mengangkat isu permainan politik seputar pemilu dengan pendekatan dramatik yang asyik dan sentuhan action yang menghibur. Review di sini.






3 (Tiga)
sutr. Anggy Umbara

Ide film action futuristis ini gila, membuat Indonesia di masa depan jadi negara liberal yang di-set-up cukup masuk akal, didukung oleh daya imajinasi para kreatornya yang cukup liar tentang sebuah isu sensitif: politik dan agama. Yang menarik, film ini seakan bisa merenggut perhatian berbagai sisi pemikiran, dari yang pro-agama konvensional, sampai yang menganggap ini sebuah representasi fenomena sosial yang tengah marak. Film ini memang kurang meledak secara komersial, tapi itu nggak akan menghilangkan keberanian film ini untuk memprovokasi pemikiran setiap penontonnya tentang suatu isu yang tidak ringan, yang juga pas jadi motivasi serangkaian adegan laganya. Bisa saja film ini agak ahead of its time di bangsa kita, pun bantuan efek visualnya juga belum mulus. Tapi, film ini tetap punya kekuatan utama di ide dan ceritanya yang beda dari yang ada dan mungkin belum akan ada lagi yang membuat hal serupa, sehingga mungkin film ini malah akan jadi cult di masa mendatang. Review di sini.






Bulan di Atas Kuburan
sutr. Edo W.F. Sitanggang

Gw belum nonton film aslinya, tapi gw cukup terkesan sama versi remake-nya ini. Memang ada kesan film yang bicara soal impian vs kenyataan perjuangan di ibukota ini mencoba menyerempet ke gaya arthouse (mungkin karena penulisnya Dirmawan Hatta =P), tapi gw masih bisa menangkap dengan baik penuturan cerita maupun emosi dari setiap karakter dan babak yang ditampilkan di film ini. Di luar shot-shot cakep dan permainan para aktor yang ciamik (bahkan penyanyi lagu romantis Andre Hehanussa bisa sangat "preman" di sini), film ini juga berhasil mengangkat sebuah isu klasik menjadi relevan dengan masa sekarang tanpa kesan mengada-ada. Gw suka gambaran Jakarta di sini, bukan hanya dari pemandangan dan kontras sisi bawah dan atas, tapi bagaimana ibukota bisa benar-benar mengubah karakter orang, and not always for the better. Review di sini.






Comic 8: Casino Kings Part 1
sutr. Anggy Umbara

Entah dari mana datangnya ambisi tinggi dari film ini, yang pasti bisa gw bilang bahwa film ini bisa memenuhi ambisinya itu. Well, separuhnyalah, karena masih harus dibuktikan lagi dengan Part 2-nya di tahun 2016. Puluhan orang terkenal menjadi pemain, dengan desain produksi yang beragam dan luas, ditambah penggunaan teknologi efek khusus dan efek digital yang ekstensif, film ini peningkatan besar dari Comic 8 pertama dari segi produksi. Lebih besar, lebih ramai, lebih canggih, lebih enak dilihat, dan in a way lebih entertaining dengan idenya yang sebenarnya sederhana tapi dihiasi dengan berbagai "ornamen" yang playful dan wild. Sebuah film "besar" yang memang terbukti besar, dan seperti inilah blockbuster ala Indonesia mungkin seharusnya dibuat. Those crocodiles, anyone? Review di sini.






Doea Tanda Cinta
sutr. Rick Soerafani

Film ini ada di deretan ini lebih karena gw nggak menyangka filmnya tidak senorak dan sekampungan yang gw bayangkan dari sebuah film titipan intstitusi. Dibanding film-film titipan yang lain banyak beredar di tahun ini, buat gw film ini adalah yang paling smooth. Film ini jelas ingin mengampanyekan kehidupan Akademi Militer sebagai gerbang rakyat Indonesia untuk berpartisipasi membela negara secara langsung dalam bidang militer, pun dibawakan dalam sebuah plot percintaan yang klise sekali. Tapi, gw sangat menikmati penuturannya yang sederhana namun lancar jaya itu, karena mungkin memang niat film ini sederhana dan nggak neko-neko. Untungnya lagi, film ini didukung oleh desain produksi dan sinematografi yang cakep banget, plus sebuah adegan pertempuran melawan gerilyawan yang jarang sekali ada di layar lebar film Indonesia, and it was done in a solid execution. Review di sini.






Filosofi Kopi
sutr. Angga Dwimas Sasongko

There's a quite a lot to say about this film. Selain cerita, karakter, dan permainan para aktor yang kelas wahid, satu hal yang paling bisa gw tarik dari film ini adalah caranya mengakomodasi berbagai kepentingan, termasuk kepentingan artistik dan bisnis, menjadi sebuah tontonan yang menyenangkan. Sebuah film tentang pencarian cita rasa kopi sejati yang disponsori produk kopi instan? Simpel, biarkan plotnya berjalan, dan produknya hanya jadi bagian dari semestanya tanpa harus diagung-agungkan. Sebuah film tentang lifestyle kaum urban yang maunya serba hip tapi kemudian dilawan dengan kepolosan dan realita bahwa kompromi harus dilakukan demi bisa bertahan hidup, tapi masih mampu memancing orang untuk mengulik kopi lebih dalam, seantusias para karakternya tanpa terlihat palsu. Review di sini.






Guru Bangsa Tjokroaminoto
sutr. Garin Nugroho

Film ini adalah sebuah demonstrasi bagaimana jadinya jika sineas antik Garin Nugroho diberi bujet sangat besar untuk sebuah film. Hasilnya adalah sebuah film epik sejarah kolosal dengan nilai produksi dahsyat. Desin produksi keren, kostum keren, efek visual keren, casting keren, musik keren, sinematografi yang kueren mampus, pokoknya worth every penny. Filmnya sendiri nggak pakai adegan pertempuran, karena lebih membahas tentang cikal bakal ideologi yang membentuk bangsa Indonesia. Tapi ini tetap membuktikan kepiawaian Garin dalam membangun sebuah dunia sinematik dengan permainan terbaik dari para pemainnya yang banyak itu. Bahkan bagi gw film ini mengalir cukup enak untuk sebuah film bermuatan sejarah berdurasi 2 jam 40-an menit. That one-cut opening scene is titanium, dan Chelsea Islan beli pete adalah salah satu image paling memorable di sinema Indonesia tahun ini =). Review di sini.






Jenderal Soedirman
sutr. Viva Westi

In contrast to Tjokroaminoto, Jenderal Soedirman adalah sebuah film sejarah yang lebih spesifik, dan itulah yang membuat film ini gw masukkan di senarai ini. Selama ini gw melihat banyak film sejarah Indonesia di era milenium mengambil cakupan cerita yang terlalu luas, jadi kesannya filmnya ngalor ngidul. Film ini jadi agak berbeda karena hanya ambil satu event, yaitu gerilya Soedirman pasca-Agresi Militer Belanda II hingga akhirnya terjadi perjanjian Roem-Royen, yang terjadi dalam rentang waktu sekitar satu tahun saja. Film ini mengemas peristiwa itu dalam sebuah film kucing-kucingan yang cukup menegangkan dan entertaining, dengan persembahan audio visual yang keren, walau akhirnya juga harus berkompromi dengan penjelasan konteks sejarah yang kaku dan humor kecil-kecilan dari para pengikut Soedirman yang juga kadang kaku. But then again, ini cara yang cukup baik untuk mengingat kembali salah satu pahlawan nasional paling terkenal se-Indonesia ini. Review di sini.






Kapan Kawin?
sutr. Ody C. Harahap

Gw jarang suka komedi romantis karena biasanya mereka berpola sama dan berakhir sama. Lali muncul Kapan Kawin? yang tak hanya mau meng-emphasize sisi roman dan komedi, tapi juga membangun karakter-karakter yang bisa "muncul" dengan kuat dan dimainkan dengan sangat baik oleh para pemainnya. Segala keklisean (dan kekonyolan) cerita khas komedi romantis bisa ditangani dengan baik, dekat, relevan, believable, witty, menyenangkan, dan membumi di film ini, didukung oleh nilai produksi yang cantik. Tidak banyak film drama romantis Indonesia yang mau bikin effort sampai sejauh itu. Well, gw bilang membumi karena bagian awal film ini syutingnya di Bekasi kali ya, heuheuheu. Review di sini.






Mencari Hilal
sutr. Ismail Basbeth

Dua karakter bertolak belakang dan sebuah perjalanan, hanya dengan dasar ini Mencari Hilal bisa menjadi sebuah film yang indah. Diam-diam film ini cukup provokatif dalam menggambarkan perbedaan pandangan soal "hidup beragama", tapi cukup mulus juga menyamarkan itu dalam bangunan budaya yang agak diacak, mungkin biar mengurangi risiko ada yang merasa tersinggung (ya gitulah bikin film di kita, apa-apa tersinggung mulu). Yang pasti, gambaran-gambaran yang dibuat sangat representatif untuk Indonesia saat ini. Bahkan kayaknya ini film Indonesia pertama yang gw tahu ada adegan gamblang pengusiran ormas terhadap orang yang lagi beribadah. Tapi, at its core, film ini tetap sebuah kisah pendamaian bapak dan anak yang menyentuh, dikemas dalam rangkaian dialog dan peristiwa yang sering bikin cekikikan. Review di sini.




Selasa, 29 Desember 2015

Year-End Note: My Top 10 Albums of 2015


Ini seperti gejala tahunan yang gw alami, di pertengahan tahun gw jadi gelisah karena baru menemukan sedikit album musik yang gw favoritkan, dan takutnya gak bisa bikin top 10. Tapi ya sepertinya artis-artis dan album-album yang bagus malah rilis rame-rame di triwulan terakhir 2015, dan akhirnya terpenuhilah senarai ini, fiuh. Berikut ini adalah 10 album musik 2015 yang paling gw nikmati sepanjang tahun, gw udah putar berulang kali dan teruji secara klinis masih asyik di bermacam situasi (di walkman, di mobil, di kamar dsb), and here we go.






10. 風味堂6 (FUMIDO 6)
風味堂 (FUMIDO)

Kadang kita (atau gw doang mungkin) akan jengah kalau musisi favorit kita gayanya gitu-gitu aja, pengennya ada refreshment setelah sekian lama. Tapi anehnya gw nggak protes ketika trio pop rock jazz Jepang yang instrumennya cuma piano-bas-drum ini masih sama di albumnya yang keenam. Mungkin karena mereka belum ada tandingannya, sehingga apa pun karya mereka, asalkan lagu-lagunya masih asyik, cara bermain musiknya juga masih kece, dan energinya masih terpancar kuat, gw tetap menikmati. 






9. Smoke + Mirrors
Imagine Dragons

Band rock Amerika ini mulai mengerucutkan warna musik yang hendak mereka tampilkan di albumnya yang kedua. Masih membawa gabungan rock dan folk dan segala yang khas Amerika, di sini mereka juga mengambil jalur industrial *or so I think it is called* dengan beberapa sound dari efek elektronik dan distorsi yang menambah bobot (dan sedikit keganjilan) lagu-lagunya. Nggak sesemarak album debutnya, tapi masih menyenangkan.





8. Wonder Future
ASIAN KUNG-FU GENERATION

Band rock alternatif Jepang ini belakangan memang mood-mood-an. Di satu sisi mereka ingin mencoba advance dengan eksperimen sound dan gaya permainan yang baru sebagaimana album mereka sebelum ini, Landmark (2012). Di sisi lain, mereka juga nggak mau meninggalkan gaya mereka yang lebih loose dan just play, seperti yang pernah mereka bikin di rilisan awal-awal mereka, atau album konsep Surf Bungaku Kamakura (2008). Wonder Future itu jenis yang disebut belakangan. Mainkan lagi distorsi, mainkan lagi instrumen tanpa manuver berlebihan, mainkan lagi semua yang bisa dinikmati secara sederhana. Wonder Future yang konon sebagian besar direkam di studio punyanya Foo Fighters di Los Angeles ini pun jadi album yang gitu juga, menyenangkan dan asyik aja didengar sebagaimana mereka asyik juga mainnya.






7. TOKYO
I Don't Like Mondays.

Band ini mungkin jawaban Jepang untuk Fun yang actually memang menyenangkan. Album debut mereka ini seperti ingin mengupayakan segala cara agar pendengarnya bergoyang, mulai dari unsur disko 70's, Motown soul, funk, rock kontemporer, sampai elektropop kayak boyband-girlband Korea *hahaha, but seriously*. Sebuah konsep yang berisiko tetapi terbukti bisa menghasilkan sebuah album yang menyenangkan, apalagi hampir setiap lagunya punya melodi asyik dan catchy, tentu saja jika mengabaikan beberapa line bahasa Inggris yang kayaknya pilihan katanya itu-itu aja, hehe.






6. Dari Kita untuk Semua
The Banery

Ini agak cheating karena albumnya udah beredar secara digital di bulan Oktober 2014, tapi baru rilis fisiknya Desember 2014, jadi ya gw anggep aja masuk di tahun ini =D. It's been a while setelah band pop yang kental nuansa The Beatles ini merilis album sejak 2009—yang juga masuk di top 10 gw tahun itu, dan sekarang mereka juga ada perubahan karena nggak pakai kibordis lagi. Tapi, lewat album ini gw kembali merasakan keriaan dan kecerahan dari musik mereka, pop rock yang sound-nya lawas tapi masih asyik didengar track demi track. Bisa dibilang album ini memuaskan kekangenan gw yang suka sama album pertamanya, dan lebih nikmat karena segala sesuatu di album ini lebih rapi dan solid.





5. Cahaya dari Timur: Beta Maluku (Soundtrack)
various artists

Cahaya dari Timur: Beta Maluku sepertinya memang ditakdirkan untuk berprestasi di bidang apa pun. Awal tahun ini akhirnya soundtrack film ini dirilis barengan sama DVD-nya, dan seperti filmnya yang merupakan salah satu yang terbaik dalam beberapa tahun ini, album soundtrack-nya pun gw pikir adalah salah satu terbaik yang pernah ada. Album ini menampung hampir semua jenis talenta musik dari Maluku, dari yang sangat tradisional sampai yang modern, dari artis yang unknown sampai yang seterkenal Glenn Fredly—atau untuk kasus lagu "Maluku Maju" kayak semua artis berdarah Maluku of all generations =D. Bahkan saat didengar album ini bisa bikin efek mata berkaca-kaca seperti halnya saat nonton filmnya. That's powerful.





4. Explore!
Isyana Sarasvati

Isyana (atau tim manajemennya) melakukan hal yang tepat sebagai seorang artis yang clasically trained yang mau terjun ke musik pop: bikin musik yang bagus *maaf ya koko Delon*. Vokal bundar Isyana ternyata hanya satu sisi, karena terbukti dari album debut-nya ini, Isyana juga punya kepekaan soal musik yang ingin dia persembahkan dan bisa mudah diterima banyak orang. Tidak berkutat pada pop mellow, tidak juga ngos-ngosan di lagu-lagu yang up-beat (bahkan way up beat). Vokal Isyana ternyata fleksibel juga untuk menyesuaikan diri dengan semua jenis lagu, tanpa menanggalkan modal cara bernyanyi yang baik dan benar. Dan, pada akhirnya, bukan cuma suara dan cara nyanyinya yang diingat, tapi lebih ke karya musiknya yang jatuhnya jadi pop ringan yang nggak murahan, dari ballad yang hanya ditemani piano, sampai yang urban dance. Album yang mengalir variatif dan tak sedikit pun terasa monoton ini buktinya.





3. Taifun
Barasuara

Band yang berkonsep seperti Barasuara biasanya bukan termasuk yang mudah gw nikmati, karena terkesan terlalu "nyeni". Tapi, album ini membuktikam Barasuara memang beda. Iya, musik mereka memang nyeni, dan lagu-lagunya lebih seperti musikalisasi puisi yang lirik-liriknya juga sampe sekarang belum gw pahami betul. Namun, Barasuara punya semangat pop dan rock yang membuat mereka nggak sekadar "nyeni", tapi juga mudah dinikmati. Gw mendengar ada unsur modern rock awal dekade 2000-an, tapi ada juga funk hingga etnik. Aransemennya yang di luar standar mainstream ditata sangat presisi, sekaligus terpancar emosi dari permainannya yang sangat energetic. Nyeni nggak selalu berarti aneh.





2. 25
Adele

Tanpa gimmick macam-macam, Adele hadir sebagaimana adanya dirinya. Deretan lagu dengan lirik-lirik yang terdengar seperti ungkapan biasa tapi mendalam, diiringi musik yang agak soul, folk, dan acoustic rock vintage, yang aransemennya nggak terlalu elaborate, tapi mampu menunjukkan ketebalan kualitasnya. Kali ini Adele nggak terlalu galau, tapi satu hal yang pasti, kekuatannya sebagai seorang musisi tetap menonjol. Beberapa lagu bahkan hanya terdiri dari satu atau dua instrumen mengiringi suara Adele, seperti mengamini bahwa suara Adele worth a whole orchestra. Sebuah album yang sangat solid, layak untuk laku banget, dan mengukuhkan Adele sebagai tak hanya penyanyi bersuara hebat, tetapi punya musik yang hebat juga.









1. Seluas Harapan
Endah N Rhesa

Selalu ada perasaan sukacita ketika kita udah invested sama satu atau sekelompok artis cukup lama, terus mereka membuat sesuatu yang sudah lama kita nantikan dan ternyata hasilnya lebih bagus dari yang kita bayangkan. Itulah Endah N Rhesa dan album terbarunya ini. Selama ini lagu-lagu mereka yang acoustic blues-pop-rock dibuat dalam bahasa Inggris di tiga album sebelumnya. Kini, mereka mengumpulkan lagu-lagu berbahasa Indonesia yang pernah mereka buat—separuhnya adalah soundtrack film-film Indonesia—dalam satu album yang padu dan mantap didengar. Musiknya masih khas mereka, tapi yang agak beyond expectation adalah mereka juga jago bikin lirik yang puitik-komunikatif dalam bahasa Indonesia, which IMHO is a bit better than their English lyrics. Satu-satunya komplain yang gw punya untuk album ini adalah terlalu singkat dengan 9 lagu doang, tapi itu juga bikin gw want for more.



Senin, 28 Desember 2015

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2015 (Japan)


Agak berbeda dari beberapa tahun sebelumnya, tahun 2015 gw rupanya cukup lancar dalam menemukan lagu-lagu Jepang yang bisa jadi favorit--terbukti dalam setahun gw bisa bikin dua kompilasi J-Pop. Memang udah fix sih bahwa kalau mau cari lagu J-Pop yang oke nggak bisa lagi tergantung sama Oricon yang menghitung penjualan fisik, karena itu hanya akan membatasi pilihan pada idol, soundtrack anime, atau band-band yang sudah established lama. Sementara yang baru-baru lebih bergerak di digital atau pemutaran di radio, dan terbukti di lewat itulah gw bisa "menangkap" lagu-lagu yang enak-enak buat gw.

Berikut adalah 10 lagu Jepang teratas versi gw untuk tahun 2015



10. "大丈夫" (Daijoubu) – wacci

Ada kesan lagu ini terdengar terlalu bahagia untuk sebuah band yang isinya laki semua sekalipun bukan boyband. Tapi yah once in a while gw butuh lagu seperti ini, memberi aura positif dan kesejukan bagi pendengaran tanpa jatuh terlalu mellow.





9. "新宝島" - サカナクション ("Shin Takarajima" – sakanaction)

This weird alternative-new-wave-pop-rock-electronic band is always getting weirder, tapi di saat bersamaan semakin sering bikin lagu-lagu yang mudah nyantol. Di lagu ini gw merasakan memang ada pengulangan formula dari beberapa hit mereka sebelumnya, misalnya "Boku to Hana", tapi berhubung mereka selalu tampilkan bunyi-bunyian berbeda, gw masih enjoy aja sama lagu mereka ini.





8. "もっと光を" (Motto hikari wo) – BLUE ENCOUNT

Adalah lagu pop rock punk murni yang simpel dan ringkas, dengan melodi catchy dan performa enerjik yang bikin gw heran bahwa gw masih bisa suka sama musik seperti ini di umur segini *lah*. 





7. "YMM" – Suchmos

Being different is hard, tapi kadang itu yang harus dilakukan agar bisa mencuat. Suchmos ini adalah band dengan musik gabungan yang janggal antara funk dan hiphop, tapi lagu yang kalau nggak salah singkatan dari Yokohama Music something-something ini berhasil jadi sebuah karya yang groovy dan asyik masyuk, dan hampir nggak nyangka ini datang dari Jepang.





6. "水彩の月" - 秦 基博 ("Suisai no Tsuki" – Hata Motohiro)

Mas-mas bergitar dan bersuara serak ini meneruskan tradisi membuat simply good songs. Satu lagi lagu doi yang bernuansa kalem, yang memang jadi preference gw untuk karya-karyanya dia karena bisa meng-amplify vokalnya. Theme song dari film An (Sweet Bean Paste) ini juga kembali memberi kehangatan dari kesahajaan aransemen dan vokal yang effortless.





5. "WE ARE YOUNG" – I Don't Like Mondays.


Band nggak terkenal bukan berarti nggak menghasilkan karya yang bagus. Band pop dengan konsep "yang penting bisa goyang" ini sekali lagi buktikan mereka punya kemampuan untuk bikin lagu yang gampang diterima walau dengan bungkusan berbeda. Musik mereka di sini mungkin agak modern rock campursari macam Coldplay dan Imagine Dragons (kurang paham apa sebutannya) dalam versi lebih menyenangkan, sebuah anthem dansa yang asyik dan mampu menutupi pelafalan kata-kata Inggrisnya yang masih suka belepotan.





4. "幸せのありか" (Shiawase no arika) – LOCAL CONNECT


Percaya nggak kalau ada lagu Jepang yang mirip-mirip lagu Indonesia? Bukan dalam artian peniruan ya, tapi dalam hal struktur lagu, pemilihan nada, aransemen, cara bernyanyi, juga jiwa mellow ala Melayunya =D. Contoh paling anyar ya lagu dari duo ini. Lagunya penuh rasa seperti dengerin lagu-lagu Padi atau D'Masiv, dan vokal dari dua personelnya pun ternyata oke banget, powerful, nggak cempreng kayak penyanyi Jepang biasanya, which is good.





3. "私以外私じゃないの" - ゲスの極み乙女。("Watashi Igai Watashi ja nai no" – Gesu no Kiwami Otome)

Salah satu breakout artist di Jepang tahun ini juga punya tempat istimewa di playlist gw. Aransemen rock-jazz yang dimainkan dengan skill sinting langsung memincut perhatian gw, tapi yang lebih sinting lagi adalah mereka nggak asyik sendiri, melainkan bikin sebuah lagu yang juga mampu dinikmati secara pop. Sejauh ini, mereka bisa jadi the next great thing in J-Pop scene.





2. "SUN" – 星野源 (Gen Hoshino)


Gw nggak habis pikir bagaimana bapak ini bisa bikin quirkiness dari penampilannya berjalan selaras dengan musikalitasnya yang tinggi *seriously, kalau lihat tampangnya mana percaya dia bisa nyanyi, main musik, akting, dan nge-dance?*. Beberapa lagunya yang lalu berhasil masuk jadi favorit gw, dan gw rasa "SUN" adalah puncaknya. Ada semacam pop disko Motown dengan belokan melodi khas J-Pop, membuat sisi fun, cheerfulness, dan "sinarnya" bisa mencuat dengan enaknya. Bikin senang hati dengernya.











1. "PLAYBACK" – JUJU

Lagu ini sebelas-duabelas sama "SUN"-nya Gen Hoshino dalam hal atmosfer yang berhasil ditimbulkan dari nada-nada sederhana dan aransemen yang ceria. Tapi, mungkin lagunya mbak JUJU ini lebih universal, karena memang mengandung sound yang zaman sekarang banget—dengan memakai unsur elektronika, nggak terlalu berat, tapi juga menyimpan kompleksitas. Sangat mudah untuk sing-a-long dan dance-a-long sekalipun mungkin nggak tahu pasti liriknya apa (tapi bahasa Inggris-nya mbak JUJU cukup oke kok), dan punya satu hal yang jarang dimiliki lagi J-Pop sejenis: ringkas.




Minggu, 27 Desember 2015

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2015 (Indonesia)


Mungkin ada yang mengamati musik Indonesia sebagai sebuah industri sedang gawat darurat, karena hampir nggak ada cara lain untuk "menjual diri" selain banyak-banyakin manggung. Tapi, gw melihat sedikit sisi terangnya, karena dalam keadaan ini, semakin sedikit artis-artis "nggak serius" yang menuh-menuhin blantika musik rekaman, karena pada akhirnya kualitas karya dan integritas yang akan berbicara *weeeitss*.

Anyway, inilah 10 lagu Indonesia ter-oke yang berhasil gw temukan sepanjang tahun 2015 ini.




10. "Sampai Kapan" – Mike Mohede

Lagu ini mungkin masuk dalam kategori "standar lagu cinta Indonesia". Mellow, nelangsa, dan nggak pernah lepas dari bunyi solo gitar elektrik di bagian interlude. Mike, yang adalah pemenang Indonesian Idol favorit gw, selama ini pun terjebak pada lagu-lagu sejenis itu yang jatuhnya mboseni, yang gw sinyalir menjadi penyebab  kariernya dari kalah Judika. Tapi gw seperti menangkap sesuatu yang lain dari single yang ini. Melodinya diramu tepat, nggak nanggung, dan berhasil memfasilitasi kemampuan vokal Mike dengan baik dan kuat. This is a good "standar lagu cinta Indonesia".





9. "Dan Bernyanyilah" – Musikimia

Talk about udah lama nggak denger yang kayak gini, Musikimia—which is basically Padi tanpa Piyu, mempersembahkan sebuah lagu power pop yang sangat menyenangkan, lebih rancak dan bersemangat dari rata-rata lagu Padi atau Musikimia. Sebuah lagu dengan energi positif yang bikin pendengarnya ingin ikut air-guitaring dan...err..bernyanyilah.





8. "Cinta dan Rahasia" – Yura Yunita feat. Glenn Fredly

Terkadang gw sampai pada titik "Stop showing how a brilliant musician you are, mister!" setiap gw denger karya-karya terbaru Glenn Fredly. Tapi ya mau gimana. Sentuhan emas Glenn kini juga dialami oleh solois wanita baru, Yura lewat duet mereka yang begitu tender dan mudah menyerap ke setiap telinga yang mendengarnya.





7. "Cinta Kita Beda" – Kevin Lim feat. Nowela

Ada beberapa lagu duet atau kolaborasi yang kece gue temukan di tahun 2015. Salah satu yang paling mengikat adalah duet dari dua penyanyi yang sama-sama baru ini. Kesukaan gw lebih ke lagunya, yang melodinya nggak ribet tapi menarik, irama pop easy listening dengan memasukkan unsur soul. Tapi suara dua penyanyinya yang masing-masing punya karakter khas juga doesn't hurt kok.





6. "Mungkinkah Kau Dia" – Ivan Handojo

Gw perlu merasa bersyukur karena masih termasuk orang yang suka dengar radio, dan radio-radionya juga nggak cuma sekadar muter yang terkenal tapi mencoba memunculkan unknown/new talent yang karyanya nggak kalah dengan yang sudah lebih banyak dapat airtime. Ini adalah lagu yang legitimately good, berkarakter, berjiwa, dan suara raspy penyanyinya bikin lagunya jadi asoy, tapi somehow lagu ini nggak terlalu "beredar" setelah beberapa bulan dirilis di radio. Entahlah, yang pasti gw perlu menaruh lagu ini di senarai tahun 2015, karena memang layak.





5. "Siapkah Kau 'tuk Jatuh Cinta Lagi" – HiVi

Lagu anak muda zaman sekarang dengan jiwa lawas. Pola dan struktur lagu ini sekilas mirip dengan tembang-tembang pop jazz 1980-an Indonesia, tapi gw senang aja bahwa sekarang masih ada yang nggak males untuk menyusun nada-nada dengan range yang luas menjadi sebuah lagu yang nyaman didengar, kemudian dibungkus dalam musik yang nggak terlalu mellow tapi nggak terlalu centil juga.
 




4. "Terperangkap" – Anugrah Aditya

How Aditya isn't a bigger artist is beyond me. Aditya sekali lagi mengasilkan sebuah lagu romantis yang nggak mendayu-dayu, tetap dengan unsur pop R&B yang simpel tapi mudah melekat. Nilai magisnya terletak dari tiadanya manuver vokal ataupun aransemen yang trying-too-hard, tapi lagunya mampu menimbulkan nuansanya dengan kuat.





3. "Bahas Bahasa" – Barasuara

Kesan pretensius dari judul lagu dan nama bandnya tiba-tiba sirna ketika gw mendengar intro lagu ini. Liriknya memang masih puzzling, tapi musiknya itu loh, gabungkan unsur rock energik dengan irama Tai Chi Master =p, dan masih ada pop-nya. Bunyi instrumen dan paduan vokalnya punya variasi yang kenceng, tapi nggak keasyikan sendiri sehingga "melayang ke mana-mana", melainkan masih menimbulkan kenikmatan yang sederhana.





2. "Tetap dalam Jiwa" – Isyana Sarasvati

Isyana adalah salah satu breakout artist Indonesia dalam satu tahun terakhir ini berkat dua rilisan pop pertamanya, yaitu "Keep Being You" dan  "Tetap dalam Jiwa". Dengan formula pop ala Swedia yang sangat asyik didengar dan gampang diingat, kedua lagu ini sama-sama kuat dan berlomba untuk merebut tempat di senarai tahunan gw *halah*. Pada akhirnya, gw pilih "Tetap dalam Jiwa" yang lebih mellow karena....ending lagunya nggak pake fade out =p.










1. "Filosofi dan Logika" – Glenn Fredly feat. Monita Tahalea & Is "Payung Teduh"

Glenn Fredly nggak cuma jago bikin puluhan lagu heartbreaking tentang diputusin kekasihnya. Dia juga bisa menulis ulang keseluruhan cerita film Filosofi Kopi (yang turut diproduserinya) dalam sebuah lagu dengan lirik indah dan komposisi nada dan aransemen yang minta ampun keren, indah, permai, dan sejuknya. Pemilihan rekan vokal yang smooth dan berkarakter seperti Monita dan Is pun menambah indahnya harmoni lagu ini. It deserves the long run on the radios, like, forever.




Sabtu, 26 Desember 2015

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2015 (International)

Akhir tahun telah tiba, libur telah tiba, dan "kewajiban" untuk meluncurkan daftar top10-top10-an tahunan pun tiba, so here it is. Gw akui bahwa blog ini belakangan jadi semacam eksklusif review film, tapi untuk senarai favorit akhir tahun, gw akan meneruskan tradisi membuat pula senarai untuk musik. Toh, sepanjang tahun gw tak berhenti memerhatikan blantika musik, jadi ya dalam benak gw akan lumayan wajar kalau gw tetep maksa bikin senarai untuk musik, hehehe.

Seperti biasa, gw akan memulai dengan menggelontorkan senarai lagu-lagu, yang gw akan bagi jadi lagu internasional (non-Jepang), lagu lokal, dan lagu Jepang, masing-masing 10 lagu. Kayaknya gw nggak perlu berpanjang lebar lagi kasih pendahuluan, yang pasti lagu-lagu ini dengan rajin duduk manis di ingatan gw, dan gw selalu nikmati setiap lagunya muncul di radio ataupun gw kulik di YouTube (you know, karena MTV is so last decade). 


Mari kita mulai dari 10 lagu internasional terfavorit gw sepanjang tahun 2015, dalam urutan mundur.


10. "Party" – GIRLS' GENERATION

Well, it is catchy. Lupakan video musiknya yang menurut gw kok malah kelihatan agak men-downgrade keanggunan girlband yang juga dikenal dengan singkatan SNSD ini, yang penting bisa bikin goyang dengan campursari lagu pop Amerika kekinian dengan...err...bahasa Korea.






9. "Powerful" – Jussie Smollett & Alicia Keys

Demam serial Empire dengan lagu-lagu hiphop kekinian yang disajikannya sebenarnya nggak terlalu menghinggapi gw, sampai akhirnya lagu duet ini muncul. Bisa dibilang ini lagu paling pop dari deretan lagu lonjak-lonjak yang ada di serial ini, tapi sesuai judulnya, lirik dan melodi lagu ini begitu powerful.





8. "FourFiveSeconds" – Rihanna and Kanye West and Paul McCartney

Kalau inget Rihanna masih secupu zaman-zaman "Pon the Replay" kayaknya nggak nyangka dia bakal bisa kolaborasi sama artis sebesar Paul McCartney. Tapi, itulah yang terjadi di awal tahun ini. Lagu dengan melodi yang mudah diingat, hangat, dan cukup anthemic, walaupun hanya diiringi kocokan gitar McCartney.





7. "Nearly Forgot My Broken Heart" – Chris Cornell

Dengan suaranya yang dahsyat itu, Cornell bisa aja bikin lagu American rock standar dan he'd still sound great. Tapi, tahun ini doi muncul dengan sebuah lagu yang sangat terkonsep, acoustic rock yang ada unsur folk, country, dan susunan melodi minor yang mengikat liriknya yang mantap. Dramatis dan nancep dengan mudahnya.





6. "Can't Sleep Love" – Pentatonix

Akhirnya ada juga bintang YouTube yang sanggup bikin karya orisinal, DAN industry-worthy. Lagu gaya R&B kekinian diberi sentuhan unik lewat konsep a cappella dari grup ini. Liriknya juga lucu. Terkadang emang kedengaran agak cheesy tapi tak kuasa bikin goyang-goyang kepala.





5. "Like I'm Gonna Lose You" – Meghan Trainor feat. John Legend

Makin ke sini makin susah mencari lagu dan performance duet sekuat ini. Lagu dengan nada-nada menggugah dan dinyanyikan dengan soulful oleh dua penyanyinya, dan untungnya masing-masing bisa menunjukkan kebolehan vokalnya dalam sebuah harmoni yang asyik dan heartfelt sekali.





4. "Hello" – Adele

Adele selalu punya daya magis. Lagu ini mungkin terdengar sangat Adele, atmosfer-nya sendu, dinyanyikan dengan penuh perasaan tanpa improvisasi berlebihan, "galau", tapi kini dengan lirik yang lebih tegar. Entah mungkin ini karena kerinduan akan lagu baru dari Adele, atau memang lagunya yang sangat merasuk dengan mudahnya sejak 'hello' pertama.





3. "Love Me Like You Do" – Ellie Goulding

Simpel, karena lagunya catchy mampus. Agak gombal liriknya, dan pengulangan suku kata di chorus-nya itu harusnya konyol, soundtrack film yang premisnya konyol pula (yang konon adalah fanfiction Twilight versi jorok).Tapi somehow inilah lagu cinta masa kini yang sanggup mengolah itu semua jadi sebuah anthem. Dan bahwa lagu ini tidak menuntut Ellie Goulding mengeluarkan suara falcetto nyelekitnya terlalu sering juga jadi nilai plus =D.





2. "Shots" – Imagine Dragons

Band rock ini dikenal dengan sound gado-gado, kadang folk, elektronik, sampai dubstep. Kali ini mereka menampilkan semangat new wave dan pop 80-an lewat lagu ini. Dari beat-nya yang bikin semangat, ada suara synthesizer, masih ada petikan gitar yang atraktif dan tentu saja melodi yang catchy. Layer-layer suara yang agak kompleks nggak membuat lagu ini jadi terlalu aneh, malah dengan gampangnya dinikmati di keadaan apa pun.








1. "Can't Feel My Face" – The Weeknd

True story, gw baru tahu lagu ini setelah lihat video Lip Sync Battle-nya Tom Cruise. Gw pun belakangan jadi mengerti kenapa bapak itu pilih lagu ini, dan lagunya juga cukup sukses di chart internasional. Sebuah lagu urban pop R&B dengan instrumen electronic dance music, tapi tetap andalkan vokal unik si penyanyi. Ada pergantian suasana sound di setiap bagiannya yang bikin chorus-nya jadi 'pecah'. That, dan satu line di chorus-nya yang maut itu bikin lagu ini jadi yang paling nempel di tahun 2015.



Jumat, 25 Desember 2015

[Movie] Star Wars: The Force Awakens (2015)


Star Wars: The Force Awakens
(2015 - Lucasfilm)

Directed by J.J. Abrams
Screenplay by J.J. Abrams, Lawrence Kasdan, Michael Arndt
Based on the characters created by George Lucas
Produced by Kathleen Kennedy, Bryan Burk, J.J. Abrams
Cast: Daisy Ridley, John Boyega, Oscar Isaac, Adam Driver, Harrison Ford, Carrie Fisher, Mark Hamill, Domhnall Gleeson, Lupita Nyong'o, Andy Serkis, Anthony Daniels, Peter Mayhew, Gwendoline Christie, Max von Sydow


Mulai tahun ini, kisah epik fantasi Star Wars dibangkitkan kembali dalam sebuah trilogi baru, walau tanpa keterlibatan sang kreator, George Lucas. Ketimbang membuat remake atau reboot, trilogi baru ini justru memanfaatkan konsep Star Wars sebagai sebuah kisah panjang dalam semesta yang luas, sehingga sutradara J.J. Abrams—yang juga menulis skenario bersama Lawrence Kasdan dan Michael Arndt, hanya perlu melanjutkan kisah yang sudah bergulir di dua trilogi Star Wars sebelumnya.

Trilogi baru ini dimulai dengan Star Wars: The Force Awakens, berlatar 30 tahun sejak jatuhnya pemerintahan diktator Empire yang terjadi di film Star Wars: Episode VI – Return of the Jedi. Ketika pemerintahan Republik sedang dibangun kembali, timbul gerakan First Order yang ingin membangkitkan lagi pemerintahan Empire. Salah satu misi gerakan ini adalah membasmi Master Jedi terakhir, Luke Skywalker (Mark Hamill), yang kini menghilang. Pada saat bersamaan, gerakan Resistance membutuhkan Luke untuk bisa mengalahkan First Order yang juga memiliki seorang ksatria kegelapan dengan kekuatanThe Force, Kylo Ren (Adam Driver).

Kisah pun bergerak dari pencarian pihak First Order dan Resistance terhadap keberadaan Luke. Petunjuk pertama ada dalam sebuah peta yang dimiliki Lor San Tekka (Max von Sydow) di planet gersang Jakku. Pilot andalan Resistance, Poe Dameron (Oscar Isaac) berhasil mendapatkan peta itu, namun kemudian Kylo bersama pasukan Stormtrooper generasi baru berhasil menghadangnya. Untunglah, Poe berhasil menyembunyikan peta itu pada robot miliknya, BB-8 yang diperintahkannya untuk kabur.

Dari kejadian itu, cerita menyebar ke dua sisi. Perjalanan BB-8 mempertemuannya pada sosok wanita tangguh bernama Rey (Daisy Ridley). Rey adalah seorang yatim piatu dengan berbagai keahlian, yang hidup sendirian dengan memungut barang rongsokan dengan menjualnya ke pedagang gelap. Namun, pertemuannya dengan BB-8 menjadi gerbang bagi dirinya untuk memenuhi takdirnya yang sesungguhnya.

Sementara Poe yang ditawan Kylo membawa penonton pada sisi dalam dari gerakan First Order, yang memakai berbagai persenjataan dan atribut khas Empire dulu, namun kini dipimpin oleh pemimpin baru nan misterius. Di sini juga diperkenalkan sosok Finn (John Boyega), seorang tentara Stormtrooper yang tampak gamang dengan apa yang dilakukannya, sehingga memutuskan membelot dan menyelamatkan Poe. Poe memutuskan untuk menyelesaikan misi menemukan Luke dan turut menyeret Finn. Petualangan baru untuk menyelamatkan galaksi pun dimulai.

Bisa dikatakan bahwa The Force Awakens mengambil pola penceritaan yang mirip dengan trilogi Star Wars orisinal. Selain memulai cerita dari tengah-tengah sebuah peperangan, film ini memakai benang merah sederhana untuk memperkenalkan karakter-karakternya, serta menggulirkan cerita dari sudut pandang tokoh-tokohnya yang tergolong orang-orang kecil di tengah-tengah peperangan besar yang cukup kompleks. Sebagai sebuah episode baru dengan latar situasi yang baru, tentu saja film ini harus menghadirkan tokoh-tokoh baru yang perlu diperkenalkan dengan baik, sehingga penonton pun dapat mengikuti sepak terjang mereka dengan nyaman selama film berlangsung. 

Di titik inilah Abrams menunjukkan keahliannya. Sebagaimana ia pernah melakukannya dalam Star Trek (2009), ia berhasil memperkenalkan deretan karakter yang jumlahnya tak sedikit di The Force Awakens dengan efektif. Karakter-karakter ini jadi mudah dikenali, baik dari karakterisasi, tindakannya, maupun ciri fisiknya yang dirancang unik. Tak hanya yang baru, perkenalan kembali tokoh-tokoh lama seperti Luke, Han Solo (Harrison Ford), Chewbacca (Peter Mayhew), dan Leia (Carrie Fisher), berhasil memberi kesan sekaligus bernilai nostalgia yang kuat, tanpa harus menimbulkan kebingungan besar bagi penonton yang baru pertama kali menyaksikan franchise Star Wars di film ini.

Nilai nostalgia memang terasa kental di film ini. Dari pola cerita dan perkenalan karakternya, bahkan sampai rancangan visualnya, tampak merujuk langsung pada gaya trilogi orisinal Star Wars. Akan tetapi, The Force Awakens juga berhasil memberikan penyegaran penting. Di film terbaru ini, ada kesatuan yang solid antara drama, emosi, laga, dan humor, yang disajikan dalam laju yang lebih lincah dari film-film terdahulunya. Ini adalah sesuatu yang sangat khas film-film Hollywood era milenium dan, dalam kadar tertentu, khas Abrams. Dari penempatan Rey sebagai salah satu jagoan utama pun sudah menunjukkan nilai kontemporer dari film ini, bahwa kepahlawanan bukan milik kaum laki-laki semata.

Dengan modal itu, The Force Awakens juga berhasil membuat Star Wars menjadi exciting tidak hanya bagi penggemar lama, tetapi juga mereka yang baru bergabung. Dari segi plot, film ini memang agak meniru film Star Wars pertama. Akan tetapi, peniruan itu bukan sekadar mengulang, melainkan melakukan langkah-langkah penting yang membuat film Star Wars pertama itu menjadi sebesar sekarang.

Pertama dan terutama adalah dari membangun karakter-karakter baru yang mudah disukai penonton, tak terkecuali karakter non-manusianya. Konflik terbesar kisah ini memang belum akan dituntaskan di bagian ini, namun The Force Awakens telah sukses sebagai sebuah film yang menggugah untuk menantikan apa yang akan terjadi pada para karakternya di film-film selanjutnya. Bukan berarti film ini berakhir tanggung, karena misi "jangka pendek" di film ini juga akan diselesaikan dengan cara yang megah, sekaligus emosional.

Semua itu dilengkapi dengan akting yang baik dari para pemainnya—mungkin jadi film Star Wars dengan ensambel akting terbaik, intensitas dalam penataan adegan, polesan teknologi visual yang canggih dan sedap dipandang tanpa kesan kelewat berlebihan, The Force Awakens pun menjadi sebuah tontonan yang megah dan memikat. Mungkin tidak benar-benar baru ataupun orisinal, tetapi film ini berhasil membawa kesegaran dari semesta Star Wars, dengan tak mengkhianati brand Star Wars itu sendiri.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Kamis, 24 Desember 2015

[Movie] Single (2015)


Single
(2015 - Soraya Intercine Films)

Directed by Raditya Dika
Screenplay by Raditya Dika, Sunil Soraya, Donny Dhirgantoro
Story by Raditya Dika, Sunil Soraya
Produced by Sunil Soraya
Cast: Raditya Dika, Annisa Rawles, Pandji Pragiwaksono, Babe Cabiita, Chandra Liow, Rina Hassim, Elvira Devinamira, Tinna Harahap, Frederik Alexander, Dede Yusuf, Dewi Hughes, Pevita Pearce


Dari 7 film berlabel "filmnya Raditya Dika" yang rata-rata laris, ternyata gw baru nonton separuhnya. Label itu buat gue cukup spesifik karena Dika nggak pernah main di film buatan orang lain, selalu di film hasil tulisannya dan atau disutradarainya sendiri. Dari yang udah gue tonton pun film dengan label itu punya substansi yang sama, walau dikemas dalam style yang berbeda-beda. Most of the time, gw cukup menikmati guyonannya, tapi merasa penyelesaian ceritanya tak pernah se-deep yang dimaksudkan pembuatnya. Tapi yah mungkin itu cocok bagi target penontonnya yang dekat dengan isu-isu percintaan muda-mudi dan sebagainya, apa mau dikata *not that I'm confirming I'm old, though...*.

Anyway, setiap dengar proyek film Dika terbaru dan masih seputar percintaan, bayangan gw akan selalu kembali pada kesan di atas. Single, dengan statusnya sebagai kerja sama Dika dengan Soraya Intercine Films yang dikenal rumah produksi serba niat dan mahal (5 cm., Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck), juga gw rasa nggak akan ada bedanya. Mungkin dari style kemasan dia akan berbeda, tapi dengan judul yang jelas-jelas merujuk pada soal relationship again, gw menahan diri untuk berkekspektasi yang berlebihan.

Jadi, Single ini bercerita tentang isu-isu yang ringan, cowok yang nggak pernah pacaran seumur hidup dan kemudian "dilangkahi" adiknya yang akan nikah duluan. Lalu ketemu sama cewek cantik berhati mulia tapi juga punya orang dekat yang bukan pacarnya tapi menghadang si cowok untuk mendekati si cewek. Gw bilang ringan karena hal-hal tersebut nggak ada hubungannya sama sekali dengan survival seorang manusia ataupun pertaruhan tingkat nasional maupun global =P. The best thing this film can do adalah membuatnya jadi cukup terhubung sama orang-orang yang diasumsikan mempunyai pengalaman serupa, dan itu nggak ada salahnya juga.

Menurut gw Single ini mengalirnya cukup enak. Dibuka dengan cara menarik dari obrolan si Ebi (Dika) dan dua sahabatnya di dalam mobil, lalu dilanjutkan dengan a rather brilliant main title Ebi nyetir sambil ikut nyanyi dengan penuh perasaan lagu yang ceritanya ada di radio. Kemudian bergulirlah ceritanya dengan berbagai macam guyonan, mulai dari guyonan awkward khas Dika hingga toilet jokes klasik ala Warkop. Beberapa bisa bikin gw ketawa, beberapa bisa bikin senyum, sisanya biasa saja. Dari segi karakterisasi juga dibuat cukup menarik, salah satu yang paling nempel di gw adalah emaknya Ebi (Tinna Harahap) yang berusaha sok ikrib sama anak-anaknya.

Kesan-kesan tadi sebenarnya nggak jauh beda dengan yang gw dapat dari film-film Dika sebelumnya. Untungnya, film Single ini diberi "perlakuan Soraya", mulai dari pengambilan gambarnya yang lebih kelihatan filmis, pemilihan lokasi dan desain produksi yang niat banget, penataan adegan yang heboh-heboh dan "ramai", editing yang lincah, pemilihan Annisa Rawles sebagai lead female, pokoke enak bangetlah dilihat. 

Tapi, di saat gw berhasil menikmati berbagai fancy things yang disajikan Single yang lebih oke dari film-film Dika sebelumnya, gw juga harus dihadapkan pada fakta bahwa film ini kembali ke pola yang tu tadi, penyelesaian yang maunya dibikin jadi perenungan yang deep tapi efeknya ke gw nggak se-deep itu. Apa ya, mungkin dari susunan kata-kata seriusnya yang terlalu kontras dengan guyonannya, mungkin dari delivery dialog atau adegannya, mungkin juga gwnya aja yang frigid. Yang pasti ketika film ini mencoba menampar penonton dengan kata-kata yang dalem, gw kayak luput gitu, once again.

Tapi lagi, memang harus diakui bahwa film ini sukses dalam mengangkat isu-isu yang nggak penting ringan menjadi sebuah cerita yang bisa disajikan menarik dan menghibur di layar lebar. Minimal gw sudah bisa dapat hiburannya, and I guess that's all that matters. Lagipula, film ini adalah effort terbaik dari sebuah "filmnya Raditya Dika" sejak Cinta dalam Kardus, dan sebenarnya bakal jadi benchmark (a.k.a. beban) juga untuk Dika ke depannya, apakah setelah Single dia bakal memakai standar production value seperti ini untuk film-film selanjutnya, atau kembali ke gaya yang lebih sederhana seperti yang sebelum-sebelumnya.





My score: 7/10

Minggu, 13 Desember 2015

[Movie] In the Heart of the Sea (2015)


In the Heart of the Sea
(2015 - Warner Bros.)

Directed by Ron Howard
Screenplay by Charles Leavitt
Story by Charles Leavitt, Rick Jaffa, Amanda Silver
Based on the book "In the Heart of the Sea: The Tragedy of the Whaleship Essex" by Nathaniel Philbrick
Produced by Brian Grazer, Ron Howard, Joe Roth, Will Ward, Paula Weinstein
Cast: Chris Hemsworth, Benjamin Walker, Cillian Murphy, Ben Whishaw, Brendan Gleeson, Tom Holland, Michelle Fairley, Charlotte Riley, Frank Dillane, Joseph Mawle, Paul Anderson, Edwar Ashley, Donald Sumpter


Novel klasik Moby Dick karangan Herman Melville didaulat sebagai salah satu karya sastra terbaik yang dimiliki Amerika Serikat. Novel ini mengisahkan sekelompok pelaut dalam memburu seekor paus raksasa demi membalas dendam, karena paus tersebut telah menenggelamkan beberapa kapal penangkap paus. Memang sulit dipercaya bahwa seekor paus punya akal dan kehendak untuk menyerang balik para penyerangnya seperti diceritakan dalam novel itu, tetapi ternyata kisah tersebut pernah terjadi di kehidupan nyata.

Film In the Heart of the Sea mengangkat peristiwa nyata yang menginspirasi Melville dalam menulis Moby Dick. Tahun 1840-an, Herman Melville (Ben Whishaw) tergelitik untuk menggali kebenaran di balik tenggelamnya kapal pemburu paus bernama Essex. Kesempatan untuk menemui satu-satunya awak Essex yang masih hidup, Tom Nickerson (Brendan Gleeson) pun tak dilewatkannya. Dengan berbagai cara, termasuk menawarkan uang, Herman akhirnya berhasil meyakinkan Tom untuk menceritakan peristiwa itu dengan sebenar-benarnya.

Kisah pun mundur ke tahun 1820, ketika Tom masih berusia 14 tahun (Tom Holland). Ia menjadi salah satu awak termuda dari kapal Essex, di bawah kapten George Pollard (Benjamin Walker) yang tak berpengalaman, dan mualim satu Owen Chase (Chris Hemsworth). Owen adalah pemburu paus andal yang belum berkesempatan jadi kapten kapalnya sendiri, karena bukan dari keluarga terpandang. Namun, ia dijanjikan oleh pemilik kapal Essex akan dijadikan kapten bila berhasil membawa pulang 2.000 barel minyak paus—yang menjadi bahan bakar kebutuhan sehari-hari pada zaman itu.

Ketika kesulitan menemukan paus di samudera Atlantik, kapal Essex bergerak ke Barat setelah mendengar adanya kumpulan ratusan paus sperma yang hidup di tengah samudera Pasifik. Peringatan bahwa ada seekor paus monster yang mampu menyerang balik para penangkap paus pun dianggap sambil lalu. Padahal, itu bukan isapan jempol belaka. Ketika para awak hendak memanen paus di tengah lautan, paus 'monster' itu muncul dan berhasil menyerang kapal Essex hingga karam. Namun, itu hanya permulaan dari perjuangan para awak untuk bisa selamat dan kembali pulang.

Sesuai premisnya, kisah yang dituturkan di film ini adalah peristiwa nyata, yang kemudian pernah dibuat versi dramatisasinya di novel Moby Dick. Di satu sisi, film ini seolah dihadirkan untuk menyatakan bahwa kisah nyatanya tak kalah dramatis dari kisah fiksinya. Tetapi, kenyataannya film ini toh jatuhnya fiksi juga, pastinya butuh tambahan dramatisasi, yang membuatnya kurang valid disebut "lebih nyata" dari Moby Dick. Sehingga, sulit dibaca juga apa sebenarnya tujuan dibuatnya film In the Heart of the Sea ini, ketika yang ditawarkan belum tentu lebih baik dari versi yang pernah ada.

Film ini sebenarnya terlihat ingin menyampaikan banyak muatan dalam ceritanya. Selain interpretasi atas fakta tragedi kapal Essex yang diserang paus, film ini juga hendak memberi porsi besar untuk konflik yang dialami oleh manusianya. Sejak awal film, telah dibangun unsur rivalitas antara George sebagai kapten dan Owen sebagai mualimnya. Bahkan, itu pula yang mengawali penuturan Tom saat bercerita kepada Herman, seolah persaingan itu yang akan jadi tema besar film ini.

Tetapi, perkembangannya malah tidak terlihat jelas. Dualisme kepemimpinan yang berakibat pada kebingungan dan keberpihakan para awak tidak digali. Bahkan hubungan keduanya setelah segala peristiwa yang terjadi pun susah disimpulkan, apakah akhirnya saling menghargai atau tetap ada persaingan. Ekspektasi bahwa film ini akan bergulir dari interaksi kedua orang tersebut jadi tak terpenuhi, lantaran fokus terhadap bagian tersebut timbul tenggelam.

Tak cukup dengan itu, film ini juga kelihatan ingin memasukkan unsur dilema moral. Pada satu titik, Owen dan George mengesampingkan perbedaan demi mendapat tujuan yang sama, yaitu mengambil minyak paus sebanyak-banyaknya, sekalipun dengan risiko yang mengancam seluruh awak. Demikian juga ditunjukkan dilema saat mereka terlunta-lunta di tengah lautan tanpa persediaan makanan, yang kemudian berujung pada kanibalisme. Bagian ini pun ditunjukkan secara jinak saja, mungkin demi mengejar target usia penonton remaja.

Ditambah lagi, film ini mau mengungkap sebuah metafora modern tentang kecenderungan industri dalam menghalalkan segala cara demi kelangsungan bisnis, termasuk merusak alam dan berdusta demi citra. Padahal, bisnis mereka tidaklah abadi karena minyak paus kemudian digantikan dengan minyak bumi dan sumber energi lain. Sayangnya, bagian-bagian ini ditampilkan bak tambahan yang tak punya korelasi kuat dengan kisah utamanya, dan hanya menyentuh permukaan saja.

Terlepas dari semua itu, ada satu hal yang jelas ditunjukkan dari film ini, yaitu keseriusan dalam menggambarkan petualangan dan tragedi yang dialami kapal Essex dan awaknya saat mengarungi samudra. Penataan desain produksi, sinematografi, hingga efek visual berhasil menyajikan sebuah pengalaman dramatis baik di permukaan maupun di bawah air, khususnya saat adegan kapal Essex diserang oleh paus raksasa hingga karam.

Detail tentang cara kerja para pelaut ini pun ditunjukkan cukup komprehensif dan informatif. Dari cara menangkap paus, lalu diambil lemak dari tubuhnya dan minyak dari dalam kepalanya, sampai langkah-langkah tindakan darurat untuk menyelamatkan diri saat kapal mulai tenggelam. Paling tidak suasana dan cara hidup orang-orang AS pada abad ke-19 bisa digambarkan dengan baik di film ini.

Sebagai sebuah tontonan, In the Heart of the Sea sesungguhnya tetaplah memikat. Visual film ini dirancang megah, dan unsur ketegangan dari 'permusuhan' awak kapal Essex melawan paus raksasa juga dibangun dengan efektif. Tetapi, mungkin karena terlalu banyak muatan yang mau diceritakan, kedalaman karakter dan konflik antarkarakternya jadi agak terbengkalai.

Film ini boleh saja disebut versi realistis dari novel Moby Dick, tetapi itu jadi percuma jika tidak ada emosi yang terasa nyata keluar dari karakter-karakternya. Pada akhirnya, akan lebih nyaman menyaksikan film ini sebagai kisah petualangan saja, ketimbang sebuah kisah nyata yang diharapkan lebih dramatis daripada versi fiksinya.





My score: 6,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

[Movie] The Good Dinosaur (2015)


The Good Dinosaur
(2015 - Disney/Pixar)

Directed by Peter Sohn
Screenplay by Meg LaFauve
Story by Bob Peterson, Peter Sohn, Erik Benson, Meg LeFauve, Kelsey Mann
Produced by Denise Ream
Cast: Raymond Ochoa, Jack Bright, Frances McDormand, Jeffrey Wright, Sam Elliott, Anna Paquin, A.J. Buckley, Steve Zahn, Marcus Scribner, Maleah Padilla, Mandy Freund, Steven Clay


Pixar bukan sekadar studio animasi, melainkan sebuah brand. Konsep menarik, eksekusi menghibur, dan kedalaman cerita, hampir selalu bisa dihadirkan oleh film-film dari studio yang bernaung di bawah Disney ini. Baru setengah tahun lalu, Pixar merilis film Inside Out yang mempersembahkan sebuah konsep yang kompleks tentang psikologi manusia dengan visual warna-warni. Kini, hadir lagi film The Good Dinosaur,yang bisa dibilang agak berkebalikan dari Inside Out. Soalnya, film arahan Peter Sohn ini justru menghadirkan kisah yang sangat sederhana.

The Good Dinosaur dimulai dengan sebuah pengandaian, bagaimana jika dinosaurus tidak jadi punah dan tetap menghuni bumi selama jutaan tahun, sampai bisa hidup satu zaman dengan spesies manusia. Film ini pun melanjutkan pengandaian itu dengan cukup menarik sekaligus jenaka. Bahwa para dinosaurus tersebut berevolusi sampai mampu memproduksi makanan sendiri, baik dalam hal bertani—termasuk membajak tanah dalam garis lurus, beternak, maupun membuat rumah sendiri, tanpa harus mengubah anatominya sebagai dinosaurus.

Tidak punahnya dinosaurus pun membuat bumi menjadi kaya akan spesies menarik. Mulai dari spesies cikal bakal unggas dan mamalia modern, serangga kecil maupun raksasa, dan tentu saja, manusia. Mengingat The Good Dinosaur mengambil sudut pandang dari para dinosaurus yang sudah 'beradab', maka manusia pun dianggap sebagai makhluk liar yang tak bisa bicara—karena memang masih primitif.

The Good Dinosaur sendiri berfokus pada sebuah keluarga dinosaurus herbivora berjenis Apatosaurus. Keluarga ini terdiri dari Henry sang ayah (diisi suara Jeffrey Wright), Ida sang ibu (Frances McDormand), anak tertua Libby (Maleah Padilla), anak tengah Buck (Marcus Scribner), dan si bungsu Arlo (Raymond Ochoa). Bukan hanya dari urutan lahir, Arlo juga paling kecil dalam hal ukuran tubuh dan nyali dalam keluarganya. Alhasil, ia satu-satunya yang belum diperbolehkan mengecap tanda kakinya di lumbung keluarga.

Suatu ketika Arlo mencoba mengetes keberaniannya dalam menjaga persediaan makanan di lumbung keluarga, yang kerap dicuri oleh makhluk liar. Dasar penakut, Arlo panik ketika berhadapan langsung dengan seorang manusia kecil yang mencuri makanannya. Akibat kecerobohannya, Arlo pun terseret di sungai deras, sampai jauh dari rumahnya. Arlo lalu harus mencari cara untuk pulang, yang berarti juga ia mulai harus lebih berani dalam menghadapi segala sesuatu di alam liar. Ia tak sendiri, karena perlahan ia justru menjalin persahabatan dengan sang manusia kecil yang ditemuinya, yang kemudian diberi nama Spot (Jack Bright).

Bisa dilihat sendiri, cerita The Good Dinosaur memang sangat sederhana, jika dibandingkan dengan segala kompleksitas yang pernah ditampilkan di Inside Out, misalnya. Dari sini seperti timbul kesan bahwa kali ini Pixar sedang 'bermain aman' dengan penyusunan kisah pendewasaan dan pencarian jati diri yang sudah sering diangkat dalam film-film Disney, bahkan termasuk film Pixar sendiri, sebut saja Finding Nemo. Tidak ada kejutan dari kisahnya, karena hanya tentang perjalanan Arlo untuk pulang ke rumahnya, tumbuhnya persahabatan dengan spesies berbeda, dan pertemuan dengan pelbagai karakter menarik di perjalanan.

Cerita sederhana itu bukan persoalan besar, tetapi jadi soal bila ini menyangkut brand Pixar yang punya riwayat hebat dalam menampilkan sesuatu yang unik di setiap rilisannya. Pixar pernah menghasilkan kisah cinta antar robot di masa depan di WALL-E, tikus jadi koki di restoran elit di Ratatouille, keluarga superhero di The Incredibles, dan mewujudkan emosi manusia dalam bentuk karakter penuh warna di Inside Out.

Dibandingkan para pendahulunya itu, seperti halnya Arlo, The Good Dinosaur jadi agak kerdil dari segi orisinalitas. Belum lagi sudah banyak sekali kisah fabel dinosaurus dalam bentuk animasi yang pernah diangkat Hollywood, sebut saja The Land Before Time, atau pun Dinosaur milik Disney. Akibatnya, The Good Dinosaur terkesan hanya jadi pengikut dengan teknologi yang lebih maju.

Namun , di sisi lain, The Good Dinosaur justru jadi film yang sangat mudah dinikmati dan dipahami. Kesederhanaan kisahnya membuat penonton tak perlu sibuk mengartikan adanya perenungan atau makna bernada filosofis yang sering diselipkan dalam film-film Pixar. Tinggal duduk, melihat, dan rasakan nilai-nilai petualangan, persahabatan, dan keluarga dari cerita film ini. Penuturannya memang tergolong sendu dan tidak semarak, tetapi masih bisa menarik perhatian lewat karakterisasinya yang cerah dan beberapa humor di sana-sini.

Satu hal lagi yang membuat film ini layak simak adalah audio visual yang kelas tinggi. Teknik animasi dari studio sebesar Pixar memang tak perlu diragukan, namun dalam The Good Dinosaur, Pixar melangkah lebih jauh lagi dengan penataan gambar yang elok dipandang. Desain tokoh-tokohnya memang tetap seperti "kartun" dan berwarna-warni, tetapi mereka ditempatkan dalam sebuah lingkungan alam yang dibuat dengan fotorealistis, mendekati sebuah pemandangan alam asli. Disertai dengan alunan musik megah dari Mychael Danna dan Jeff Danna, film ini pun secara keseluruhan jadi lebih nyaman disaksikan.

Pada dasarnya, The Good Dinosaur adalah sebuah film sederhana dengan kemasan yang mewah, dan membuatnya cukup menyenangkan untuk diikuti. Film ini juga masih bisa memuat nilai-nilai yang berpotensi menyentuh hati penontonnya. Hanya saja, film ini mungkin kurang sanggup memenuhi ekspektasi yang terlampau tinggi terhadap film-film Pixar yang biasanya lebih unik dan mengesankan daripada The Good Dinosaur ini.





My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com