Rabu, 25 November 2015

[Movie] The Hunger Games: Mockingjay - Part 2 (2015)


The Hunger Games: Mockingjay - Part 2
(2015 - Lionsgate)

Directed by Francis Lawrence
Screenplay by Peter Craig, Danny Strong
Story Adaptation by Suzanne Collins
Based on the novel "Mockingjay" by Suzanne Collins
Produced by Jon Kilik, Nina Jacobson
Cast: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Woody Harrelson, Donald Sutherland, Julianne Moore, Philip Seymour Hoffman, Willow Shields, Sam Claflin, Elizabeth Banks, Mahershala Ali, Jena Malone, Jeffrey Wright, Natalie Dormer, Michelle Forbes, Patina Miller, Gwendoline Christie, Evan Ross, Elden Henson, Wes Chatham, Omid Abtahi, Stanley Tucci


Diangkat dari trilogi novel karya Suzanne Collins, seri film The Hunger Games menjadi salah satu sensasi beberapa tahun belakangan. Tiga film sudah dirilis, yakni The Hunger Games (2012), The Hunger Games: Catching Fire (2013), dan The Hunger Games: Mockingjay - Part 1 (2014), seri ini sukses mengumpulkan miliaran dolar AS di box office dunia, sekaligus meroketkan Jennifer Lawrence sebagai bintang Hollywood bersinar. Tahun 2015, The Hunger Games: Mockingjay - Part 2 dirilis untuk menuntaskan kisah berlatar dystopian future ini.

Menengok cerita sebelumnya, seri ini kisahkan sebuah negara di masa depan bernama Panem, yang dipimpin secara totaliter oleh Presiden Snow (Donald Sutherland). Untuk memperkokoh kuasanya sekaligus meredam pemberontakan, pemerintah merancang sebuah permainan maut tahunan bernama The Hunger Games, yang mengadu kekuatan dan keterampilan para remaja dari setiap distrik negara, sampai tersisa satu orang juara yang masih hidup sebagai juaranya. Pertandingan berbentuk survival game ini disiarkan ke penjuru negeri layaknya reality show, membuat pemenangnya akan jadi selebriti, lalu dijadikan alat propaganda negara agar rakyat tetap tunduk.

Kisah Mockingjay berkutat pada juara The Hunger Games dari distrik 12, Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) yang diajak bergabung oleh gerakan pemberontak distrik 13 pimpinan Presiden Alma Coin (Julianne Moore), untuk menggulingkan pemerintahan Snow di ibukota Capitol. Ini merupakan kelanjutan dari keberanian Katniss untuk melawan pemerintah saat memenangkan The Hunger Games, yang menjadikannya simbol perlawanan rakyat. Kala itu, aturan permainan terpaksa dilanggar dengan adanya dua orang pemenang, yaitu Katniss dan rekannya dari distrik 12—yang juga mencintainya—Peeta Mellark (Josh Hutcherson), karena Katniss mengancam akan mati bersama Peeta daripada membunuhnya.

Dalam film Mockingjay - Part 1, Katniss telah ditunjuk sebagai duta perlawanan dengan menggunakan popularitasnya. Ia ditugaskan melakukan kunjungan ke berbagai distrik demi menggalang dukungan, termasuk membintangi berbagai tayangan propaganda buatan distrik 13. Part 1 pun terhenti ketika distrik 13 berhasil membebaskan Peeta dari sekapan Snow di Capitol, namun Peeta ternyata sudah dicuci otak untuk membenci dan membunuh Katniss.

Dari sana, Mockingjay - Part 2 langsung memulai tuturannya ketika distrik 13 hanya beberapa langkah lagi untuk menyerang Capitol. Tekanan ini membuat Presiden Snow menitahkan berbagai perangkap yang biasa dipakai untuk The Hunger Games dipasang di seluruh penjuru Capitol, demi menghalangi pasukan pemberontak. Katniss sendiri dilarang oleh Presiden Coin untuk terjun ke lapangan, karena ia dibutuhkan untuk tetap hidup sebagai simbol. Namun, Katniss tak bisa tinggal diam, karena ia sudah bertekad untuk memusnahkan Snow yang jadi sumber penderitaan terhadap diri dan keluarganya seumur hidup mereka.

Seri The Hunger Games memang punya daya magis sendiri. Novel aslinya ditujukan untuk pembaca muda, menggabungkan unsur fantasi, fiksi ilmiah, action, thriller, dan tentu saja kisah cinta antara muda-mudi. Tetapi, film ini juga menyimpan kompleksitas dengan dimasukkannya tema politik dan sosial dalam bentuk metafora dan satir. Semua unsur tersebut dengan baik diterjemahkan dalam bentuk film layar lebar pertama kali oleh Gary Ross di film The Hunger Games pertama, yang ternyata juga sukses besar di box office, sekalipun skala produksinya terbilang sederhana bila dibandingkan film-film blockbuster Hollywood lain. Seri ini pun diteruskan dengan layak dalam sekuel-sekuelnya yang digarap Francis Lawrence.

Dari film-film yang ada, seri The Hunger Games memang lebih dari sekadar adegan-adegan akbar khas Hollywood yang membelalak mata. Ada dua hal yang sebenarnya menjadi titik kekuatan seri ini. Pertama, karakterisasi Katniss yang dimainkan tanpa cela oleh Jennifer Lawrence, yang berhasil menjadi panutan baru, baik bagi rakyat Panem maupun penonton, sehingga perjalanannya terus dinanti. Dan yang kedua, film ini masih bisa menampilkan lapisan tema sosial dan politik yang kuat dan mengena. Unsur itu pula yang membuat segala keputusan dan tindakan para tokohnya lebih kompleks daripada soal kebaikan melawan kejahatan.

Ini semakin terbukti di Mockingjay - Part 2, ketika semakin samar siapa yang benar dan yang salah. Sebelumnya, status selebriti Katniss dan Peeta sebagai juara Hunger Games membuat mereka jadi alat propaganda pemerintahan Snow. Kini, Katniss jadi alat propaganda kepentingan distrik 13, sementara Peeta digunakan oleh Snow untuk propaganda tandingan. Keduanya terjebak dalam permainan politik dua pihak, yang menggunakan media sebagai medan perang untuk memengaruhi rakyat. Dalam situasi demikian, dua film Mockingjay berfokus pada upaya Katniss untuk akhirnya bisa benar-benar memegang kendali atas hidupnya sendiri, terlebih saat dirinya sudah telanjur jadi "milik publik".

Harus diakui bahwa skala cerita Mockingjay memang yang terbesar dari dua judul sebelumnya, melibatkan banyak karakter dan adegan-adegan yang juga lebih besar. Namun, menariknya film ini tetap digarap dengan tetap berpegang pada sudut pandang Katniss. Dengan cakupan cerita yang semakin luas, film ini tetap setia pada tujuan utama Katniss sejak awal seri ini, yaitu melindungi keluarga dan orang-orang yang dicintainya, yang menurutnya hanya bisa terwujud jika Snow tewas.

Karena itu pula, adegan-adegan peperangan dan yang ditunjukkan pun hanya dari sisi Katniss yang ada di garis belakang. Dampaknya, film ini jadi terkesan lebih sunyi dari yang diekspektasi terhadap sebuah "kisah penutup", dan berpotensi menimbulkan kejenuhan. Mungkin ini juga dipengaruhi bahwa kisah ini dipecah jadi dua film, sehingga terasa banyak detail yang dipanjang-panjangkan, khususnya ketika Katniss ikut pasukan menyusup ke Capitol.

Akan tetapi, cara itu juga memunculkan kelebihan di tempat lain. Ketika Katniss berada dalam sebuah peristiwa yang besar dan ramai, kamera tetap menyorot Katniss dan apa yang dilihat dari sudut pandangnya, sehingga intensitas situasinya lebih terasa nyata. Cukup menyimpang dari film-film blockbuster Hollywood yang biasanya tak kuasa ingin memamerkan besarnya skala produksi mereka secara panorama, film ini memilih jalan berbeda. Sebab, sejak awal tujuan kisah ini bukanlah adegan perang besar-besaran, tetapi kembali lagi pada kisah Katniss dan perjuangannya dalam membuat perubahan, yang dalam film ini dituturkan dengan lancar.

Mockingjay - Part 2 pun pada akhirnya menjadi sebuah penutup yang cukup pantas bagi seri The Hunger Games. Mungkin kemasannya dan penyajiannya sebagai tontonan hiburan kurang sempurna, terutama dari laju cerita yang cenderung lambat di paruh awal, dan kenyataan bahwa harus menunggu sampai dua film berdurasi masing-masing dua jam untuk mencapai akhirannya. Namun, film ini berhasil menutup rangkaian kisah Katniss secara utuh. Bahkan, lapisan-lapisan tema yang membuat seri film The Hunger Gamespunya daya tarik lebih, juga ciri khasnya memunculkan kelegaan dan kegetiran di saat bersamaan, sanggup dipertahankan hingga akhir.





My score: 7/10

Artikel ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Senin, 23 November 2015

[Movie] Siti (2014)


Siti
(2014 - Fourcolours Film)

Written & Directed by Eddie Cahyono
Produced by Ifa Isfansyah
Cast: Sekar Sari, Titi Dibyo, Bintang Timur Widodo, Ibnu Widodo, Haydar Saliz, Delia Nuswantoro


Bagaikan arumanis dan simping yang dipasarkan di toko-toko roti dan supermarket besar. Atau kripik singkong yang dijual Indofood. Atau stand tahu gejrot di foodcourt mal. Atau kue cubit yang disajikan di kedai gahul yang dikasih rasa matcha green tea dan tambahan selai cokelat Nutella. Atau lagu melayu supercheesy yang diaransemen ulang oleh Andi Rianto. Kira-kira seperti itulah reaksi gw terhadap Siti, sebuah film indie asal Jogja yang nggak tayang di bioskop komersial tapi sepanjang tahun ini mendapat sorotan di beberapa festival nasional dan internasional, termasuk dinominasikan di Piala Citra (kebetulan gw nonton ini pas pekan pemutaran film-film nomine FFI). Apa maksud pengandaian gw tadi? We'll get to that later. First, ceritanya.

Kehidupan Siti (Sekar Sari) saat ini begitu berat. Bukan hanya karena ia tergolong miskin dengan tinggal di sebuah rumah semipermanen di pinggir pantai Parangtritis, tetapi ia kini menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Suaminya (Ibnu Widodo) tadinya nelayan kini lumpuh dan hanya bisa terbaring pasrah di kamar plus mogok ngomong, sementara Siti juga harus mengurus putra kecilnya (Bintang Timur Widodo) yang lumayan banyak tingkah. Belum lagi, ia dibebankan untuk melunasi utang suaminya. Untuk memenuhi semua itu, tak cukup hanya dengan jualan peyek di pantai barengan mertuanya di siang hari. Siti pun berusaha mencari penghasilan tambahan dengan kerja jadi pemandu lagu di tempat karaoke di malam hari. Beban diperumit lagi karena Siti juga mulai menjalin hubungan dengan seorang anggota polisi, Gatot (Haydar Saliz).

Sekarang, apa maksud pengandaian gw di paragraf pertama? Well, coba baca lagi ceritanya. Kalau buat gw, cerita ini benar-benar seperti premis FTV Pintu Taubat di Indosiar, bedanya di sini nggak sampai adegan tobat. Sebuah kisah yang berulang kali kita dengar dan saksikan dalam bentuk sinetron, film, dan mungkin di berita-berita, tentang tekanan hidup yang dialami seseorang akibat kemiskinan dan kemalangan, lengkap dengan keterpaksaan berada di tepi jurang kenistaan demi penuhi kebutuhan hidup, lengkap dengan adanya sosok penagih utang sebagai antagonis dan pendorong konflik, tokoh utama yang mabuk, dan dialog becandaan se-cheesy "Dia suka lho sama kamu, kalau kamu nggak mau ya buat aku aja. Ahahaha." =\. Seriously.

Akan tetapi, yang bikin Siti ini tetap menarik adalah bagaimana cerita tersebut bisa dituturkan dan dikemas dalam cara yang berbeda. Cerita yang standar banget itu bisa ditampilkan sedemikian rupa sehingga menimbulkan pemikiran baru di setiap momennya. Antara kontras persona Siti di rumah dan Siti di karaoke, tekanan yang memang benar-benar menekan emosinya secara diam-diam, kegetiran mengurus seseorang yang lumpuh dan anak yang nggak nurut, iba saat melihat peyek yang dijajakannya dengan muka melas nggak kunjung dibeli orang, tuntutan kerja di dunia malam yang penuh risiko, dan tentu saja dilema untuk membiarkan diri "diselamatkan" oleh sosok baru yang (mengaku) mencintainya atau tetap setia pada suami yang kayaknya udah segan hidup. Semua itu bisa ditangkap dari rentang waktu cerita yang terjadi lebih kurang 24 jam, tanpa ada terkesan kepenuhan muatan.

Istilah "sedemikian rupa"-nya pun cukup menarik. Gambar film ini tampil hitam-putih dan rasio gambar nyaris bujur sangkar kayak buat TV tabung atau film-film lawas. Banyak pula adegan-adegan tracking satu take tanpa putus yang cukup panjang durasinya, tapi berhasil ditangkap dengan sinematografi yang apik dan bergerak mulus sehingga nggak terlalu menjemukan. Kalau saja ceritanya nggak begitu-begitu amat, terkesan nyeni banget ya film ini. Film ini nyaris sepenuhnya berbahasa Jawa, sehingga ada kesan bahwa film ini sulit dipasarkan dan dinikmati secara luas. Apalagi ditambah bagian konklusi yang puanjang, tanpa kata, dan ambigu, kurang arthouse apa coba =p. 

Padahal, ya itu tadi, ceritanya tuh ibaratnya udah makanan sehari-hari kita banget, hanya saja ditata dengan cara berbeda. Dengan tata adegan yang intimate dan tata teknis audio visual yang ciamik, serta akting pemain yang pas, Siti membuktikan bahwa kisah "kayak begitu" tetap bisa dibuat jadi film yang punya kelas, realistis dan deep. Bahwa kisah seperti ini bisa juga disajikan tidak secara verbal (to tell) seperti di sinetron-sinetron (atau film-film yang masih berpola pikir sinetron), melainkan lebih banyak ditunjukkan (to show), tapi masih bisa mudah ditangkap maksudnya. Bagaikan jajanan pinggir jalan yang masuk restoran dan diperlakukan sebagai fine dining lengkap dengan plating cantik dan Instagram-able, gw tetap bisa menikmati film Siti tanpa keberatan, walau bukan berarti pasti lebih baik.




My score: 7,5/10

Minggu, 22 November 2015

[Movie] Eyes (2015)


アイズ (Aizu)
Eyes
(2015 - Jolly Roger)

Directed by Yohei Fukuda
Screenplay by Yohei Fukuda, Yuuwa Tanaka, Sachiko Kubo
Based on the short story by Koji Suzuki
Produced by Koji Saito, Hirofumi Yamano, Makoto Yamaguchi
Cast: Marika Ito, Kosuke Endo, Taichi Yamada, Seiko Ozone, Keiji Nakagawa, Yosuke Nishi, Akari Yamada


Dalam promonya di sini, Eyes ditekankan sebagai buah karya dari orang yang sama dengan yang bikin cerita film horor Jepang ikonik, The Ring. Well, keduanya memang adaptasi dari novel (untuk Eyes dari cerita pendek) karangan Koji Suzuki, tapi ya bakal keliru kalau menganggap Eyes disiapkan untuk mengikuti The Ring, baik dari skala penggarapan maupun keseramannya. Film ini hampir nggak ada kesamaan sama The Ring, tapi sebenarnya kalau mau dicoba boleh juga.

Seperti biasa, sulit untuk mengungkapkan cerita film ini tanpa spoiler, namanya juga horor. Yang mungkin bisa gw ungkap adalah filmnya tentang seorang anak siswi sekolahan yang sesekali melihat sosok arwah wanita di apartemennya, sampai suatu hari di papan nama keluarga di pintu apartemennya dicoret huruf-huruf misterius. Sejak itu, si siswi ini makin sering lihat sosok arwah itu, dan di saat bersamaan ibunya makin sering uring-uringan sampai akhirnya sang ayah minggat dari rumah. Misteri dan tanda tanya sana sini, pokoknya benang merahnya apakah penampakan arwah dan coretan itu ada hubungannya dengan retaknya kehidupan keluarga si siswi ini.

Film Eyes ini gw lihat seperti sangat "indie" dengan segala kesederhanaannya, termasuk deretan pemain yang aktingnya seadanya =P. Segala klise ala horor Jepang pun masih bertaburan di mana-mana, mulai dari jalan pelan-pelan setiap ingin ngecek ada setan atau nggak =.=, sampai revelation berupa flashback. Juga kelihatan bahwa pembuat film sengaja "menyembunyikan sesuatu" supaya filmnya tetap misterius sampai pada pengungkapan di akhir biar berasa twist gitu. Basi lah. Tapi, harus gw akui penataan adegan horornya masih punya taji, walaupun jumlahnya nggak banyak. Katanya membuat horor yang bagus adalah bukan menunjukkan penampakan, tapi bagaimana membangun antisipasi terhadap penampakan itu, dan Eyes bolehlah kalau soal itu.

Ditambah lagi, gw melihat bahwa cerita film ini punya unsur-unsur yang sebenarnya bagus. Meski masih pake setan-setanan sebagai gimmick-nya, cerita Eyes memuat tentang permasalahan keluarga dengan cukup dalam, dan kaitan dengan kisah horornya pun nggak maksa. Again, nggak bisa bahas lebih jauh karena takut spoiler, pokoknya begitulah, semacam mempertanyakan ulang apa itu 'horor'. Cuma ya itu baru bisa dilihat pas filmnya udah mau selesai, ketika gw udah agak lelah sama berbagai keklisean horor selama sekitar satu jam sebelumnya. Mungkin nggak groundbreaking atau mengejutkan gimana, tapi unsur tersebut ditampilkan cukup kuat dan sedikit menyelamatkan film ini secara keseluruhan di, err, mata gw.



My score: 6,5/10

Kamis, 19 November 2015

[Movie] Badoet (2015)


Badoet
(2015 - DT Films)

Directed by Awi Suryadi
Screenplay by Agasyah Karim, Khalid Kashogi, Awi Suryadi
Story by Daniel Topan
Produced by Daniel Topan, Haresh Kemlani
Cast: Daniel Topan, Christoffer Nelwan, Aurellie Moeremans, Ratu Felisha, Tiara Westlake, Fernandito Raditya, Ronny P. Tjandra, Marcel Chandrawinata


Selama berbulan-bulan, proyek film horor Badoet mendapat sorotan dari penggemar genre ini, berkat trailer dan posternya yang cukup menjanjikan beredar di media sosial. Kini, film garapan sutradara Awi Suryadi ini telah beredar di bioskop, saatnya dibuktikan apakah film ini memang menampilkan sebuah tontonan yang dinanti-nanti, yaitu film horor Indonesia yang digarap layak dan memang seram. Untuk syarat tersebut, film Badoet termasuk berhasil memenuhinya.

Kehidupan di sebuah rumah susun tampak berjalan seperti biasa. Orang-orang menjalani keseharian rumah tangga, anak-anak bermain ke sana ke mari, serta interaksi yang cukup akrab antara penghuni unit yang satu dengan yang lain. Keakraban itu pula yang membuat kabar seorang anak tewas tergantung di kamarnya menjadi menggemparkan. Terlebih lagi, tak lama sesudahnya, dua anak lain juga meninggal dengan cara yang tak kalah tragis. Kini tersisa satu teman sepermainan dari para korban, Vino (Fernandito Raditya), dan ia pun kini berperangai aneh, membuat sang ibu, Raisa (Ratu Felisha) jadi semakin gelisah.

Di sisi lain, adalah Donald (Daniel Topan), Farel (Christoffer Nelwan), dan Kayla (Aurellie Moeremans), tiga mahasiswa tetangga Raisa yang juga terpengaruh atas tragedi di lingkungan mereka. Mereka kemudian bersedia membantu mengumpulkan barang-barang peninggalan korban untuk disumbangkan. Namun, saat melakukan itu mereka menemukan bahwa masing-masing korban menyimpan gambar satu sosok badut yang sama. Padahal, di lingkungan mereka hampir tidak pernah terlihat adanya badut, termasuk di pasar malam yang sedang dibuka di dekat rumah susun tersebut. Ketiganya terdorong untuk mengungkap misteri sosok badut ini, dan di waktu bersamaan, mereka mulai alami teror yang tak terjelaskan.

Untuk sebuah film horor komersial, film Badoet termasuk matang dalam penyajiannya. Film ini mengambil badut sebagai momok dalam ceritanya, yang dibangun sebagai sosok yang seram sekaligus intimidatif, sekalipun frekuensi kemunculannya di layar tidak sering. Hal ini berhasil karena terlihat ada detail yang digarap rapi dari sosok badut tersebut, didukung oleh permainan apik Ronny P. Tjandra dan rancangan kostum dan tata riasnya. 

Bangunan ceritanya secara keseluruhan pun ditata dengan baik. Penonton dibuat dekat terlebih dahulu dengan karakter serta plot misterinya, sebelum dibombardir dengan adegan-adegan seram. Pilihan untuk menempatkan cerita di rumah susun juga tergolong efektif. Rumah susun yang ditampilkan memang terlihat biasa saja, tanpa ditambah-tambahi dengan unsur-unsur yang menambah angker. Akan tetapi, dengan pengambilan sudut gambar, pencahayaan, serta bantuan tata suara dan musik, atmosfer mencekam itu tetap bisa tercipta, sebagaimana dibutuhkan dalam sebuah film bergenre horor.

Bahwa cerita Badoet mampu menyimpangkan diri dari premis klise yang biasa ditampilkan dalam film-film horor umumnya juga patut mendapat perhatian. Film ini tidak mengisahkan sekelompok anak muda yang "cari gara-gara" dengan mendatangi sebuah tempat yang jelas-jelas angker. Setiap kejadian di Badoet diletakkan di situasi yang dekat dengan keseharian, tempat-tempat yang memang biasa didatangi dan dihuni orang-orang biasa tanpa prasangka macam-macam. Justru karakter-karakternyalah yang didatangi oleh teror. Penempatan cerita seperti ini paling tidak bisa memudahkan penonton untuk bersimpati pada karakternya, bahwa mereka hanyalah korban dari hal-hal yang tidak mereka ketahui.

Bukan berarti Badoet benar-benar lepas dari hal-hal klise. Bagian pengungkapan misteri di paruh akhir terbilang memakai jalan yang terlalu gampang dengan kemunculan sosok Nikki (Tiara Westlake), yang digambarkan memiliki kepekaan supranatural. Nikki hadir sebagai sosok yang mampu mengetahui segala hal di balik misteri badut—ditunjukkan dengan memakai flashback—sehingga bisa menuntun jalan mencari solusi. Untungnya penataan adegan di bagian ini tetap bisa dibuat dengan konsep yang menarik sehingga keklisean itu bisa sedikit dimaafkan.

Terlebih lagi, sosok Nikki bisa dibaurkan dengan mulus sekalipun muncul belakangan. Ia tidak ditampilkan sebagai dukun atau paranormal bermetode misterius dan jadi penyelamat satu-satunya, melainkan dibuat lebih membumi dengan perilaku yang tergolong biasa saja—hanya sedikit emosional dan berpenampilan punk, yang justru membuat karakternya lebih believable dan mudah meraih simpati penonton sebagaimana protagonis yang lain.

Cerita dan konsep seperti dalam film ini mungkin tidak benar-benar baru, tetapi dengan cara penggarapannya, Badoet bisa menyusun dan menyajikannya sebagai tontonan yang tetap fresh. Film ini tidak bertumpu pada seberapa sering sosok menyeramkan itu muncul, tetapi lebih peduli pada pengungkapan misteri dan membangun atmosfer ngeri terlihat tanpa harus terlihat overdone. Jika bermaksud membuktikan bahwa film horor Indonesia tidak harus "murahan", film ini sudah melakukannya dengan baik.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Jumat, 13 November 2015

[Movie] Mr. Holmes (2015)


Mr. Holmes
(2015 - AI Film/BBC Films)

Directed by Bill Condon
Screenplay by Jeffrey Hatcher
Based on the novel "A Slight Trick of the Mind" by Mitch Cullin
Produced by Iain Canning, Anne Carey, Emile Sherman
Cast: Ian McKellen, Laura Linney, Milo Parker, Hiroyuki Sanada, Hattie Moharan, Patrick Kennedy, Roger Allam, Frances de la Tour


Kalau yang lain banyak bikin reboot atau origin story, here's something a little different. Mr. Holmes adalah sebuah kisah tentang sosok detektif terkenal dalam literatur Inggris, Sherlock Holmes di masa tuanya, tepatnya umur 93 tahun, beberapa dekade setelah dia pensiun dari profesi detektif swasta di London. Kisah ini sebenarnya nggak bisa dibilang otentik, karena bukan ditulis sendiri oleh si pencipta Holmes, Arthur Conan Doyle. Malahan gw ngelihatnya ini semacam fanfiction berdasarkan tokoh terkenal--mungkin Holmes udah public domain atau gimana, kurang ngerti gw. So, no, film ini nggak ngikutin gaya misteri thriller bahkan action seperti film-film atau serial tentang Holmes yang sudah ada (halah padahal baru nontonnya versi Guy Ritchie sama serial BBC-nya doang =p). But, yes, film ini masih ada unsur misterinya. Dikit.

Di masa pensiunnya, Holmes (Ian McKellen) tetap hidup sendiri, tapi sekarang bermukim di sebuah rumah pedesaan tempat ia beternak lebah madu. Ia ditemani oleh housekeeper bernama Mrs. Munro (Laura Linney) dan anaknya yang masih kecil, Roger (Milo Parker). Holmes yang selama hidupnya terkenal antisosial kali ini cukup akrab dengan Roger, bahkan mengajarinya dalam hal lebah. Di sisi lain, Roger penasaran dengan sebuah kasus terakhir yang pernah ditangani Holmes sebelum ia pensiun, yang ia curi-curi baca catatannya dari ruang kerja Holmes. Holmes ternyata memang sedang mencoba menuliskan tentang kasus terakhir yang ia tangani itu dalam versi dirinya, bukan versi novel yang pernah ditulis oleh soulmate-nya dulu, Dr. Watson. Tetapi, Holmes butuh kerja keras untuk menyelesaikannya, karena ia sendiri mulai mengalami penurunan daya ingat.

Yang gw maksud misteri ya di situ, bagaimana sebenarnya penyelesaian dari kasus terakhir Holmes tersebut. Dan, pertaruhannya ditambah lagi dengan apakah Holmes berhasil mengingat kasus itu sampai habis. Tapi itu sebenarnya cuma separuh dari film ini. Separuhnya lagi, film ini ingin menganalisa bagaimana Holmes yang sudah setua itu bersikeras untuk hidup sendiri saja, apalagi dengan kondisi fisik yang sudah menurun, walupun kecerdasan, sifat kritis, no non-sense, dan kecermatannya masih tetap ada. Mrs. Munro dibuat mulai agak putus asa bekerja terus sama Holmes, tapi pilihan pekerjaan dan penghidupan lain pun tidak lebih baik. Ada semacam pengandaian bagaimana Holmes yang kayak "gitu" kali harus stuck sama orang-orang yang mungkin dianggap nggak selevel dengan dia, setelah orang-orang yang tahan sama dia, misalnya Dr. Watson, udah nggak ada.

Menarik sih apa yang ingin disampaikan di film ini. Tapi ya, begini, usia uzur Holmes dan kekosongannya seolah-olah diwakilkan secara sempurna oleh keseluruhan penyajian film ini yang benar-benar lelet dan sepi. Hadeuh, gw nonton malem tuh musti kerja keras melawan kantuk. Maksud gw, tahu sih ini cerita tentang kakek-kakek renta, tapi pembawaan filmnya nggak harus kayak gitu juga kalik.  Di film ini ada tiga plot mengalir selang-seling. Jadi selain tentang Holmes bangkotan dan kilas balik kasus terakhirnya, ada juga soal kunjungannya ke Jepang demi cari ramuan pencegah pikun--bukan, bukan ginkgo biloba. Bahwa the point of the whole film baru benar-benar terbaca menjelang akhir plot tuh bikin lelah juga, nah ini dikali tiga.

Dengan alur dan penuturan yang terlalu membuai, gw jadi merasakan kurangnya excitement dari film ini secara keseluruhan. Kurangnya letupan emosi, dan--mungkin ini juga pengaruh besar--musiknya yang terlalu mendayu-dayu mentang-mentang tokohnya udah bau tanah, bikin film ini terlalu menjenuhkan buat gw. But still, ini sebuah gambaran pengandaian menarik tentang sosok literatur terkenal serta masih memberikan homage yang pantas, diperankan juga dengan berbobot oleh Sir Ian McKellen didukung oleh tim makeup effects yang jempolan. Udah sih gitu aja.





My score: 6,5/10


Selasa, 10 November 2015

[Movie] Spectre (2015)


Spectre
(2015 - MGM/Columbia)

Directed by Sam Mendes
Screenplay by John Logan, Neal Purvis, Robert Wade, Jez Butterworth
Story by John Logan, Neal Purvis, Robert Wade
Based on the characters created by Ian Fleming
Produced by Michael G. Wilson, Barbara Broccoli
Cast: Daniel Craig, Ralph Fiennes, Léa Seydoux, Christoph Waltz, Ben Whishaw, Naomie Harris, Andrew Scott, Rory Kinnear, Dave Bautista, Monica Belucci, Jesper Christensen, Alessandro Cremona, Stephanie Sigman


My oh my, why oh why *bayangkan diucapkan dalam aksen Bri'ish*. Gw ngerti sih bahwa franchise James Bond itu udah puluhan tahun dan udah keluar 24 film (yang resmi) jadi gak mungkin gak ada yang mengecewakan, dan toh bagaimana pun film-film ini akan terus dibuat. Tapi ya di era sekarang ketika modal produksi semakin dinaikkan dan promosi semakin digalakkan, nggak habis pikir aja kalau film terbarunya, Spectre, bisa sedatar muka gw ketika usai menyaksikan dua seperempat jam durasinya. Mungkin ini ada hubungannya sama gw bukan penggemar Bond, tapi buat gw, gak ada yang bisa benar-benar dibanggakan bahwa seseorang pernah menyaksikan film ini selain karena kemakan iklan *sesuatu hal lain yang juga sebenarnya menarik dipelajari*.

Nggak menampilkan sesuatu yang baru bukan persoalan terbesarnya. Heck, bahkan film ini bagaikan sebuah museum reference terhadap film-film Bond lawas. Nggak masalah kok, apalagi Bond versi Daniel Craig adalah semacam reboot, jadi pengulangan dengan dalih "pembaruan" masih fine-lah. Tapi masalah terbesarnya adalah gw nggak merasakan energi, semangat, gairah yang memancar dari film ini. Entah itu dari cara bercerita, penataan adegan, desain laga, akting, tata musik, semua kayak rutinitas belaka yang dilakukan dalam keadaan kecapean atau males-malesan. Adegan yang paling rame praktis cuma di prolognya di Mexico City, itu pun disajikan agak stretchy sekalipun skalanya megah. Sisanya hanyalah kesunyian dan pergerakan lemah lunglai yang minim kegairahan.

Gw sendiri merasa ada ketidakcocokan antara skenario dan pengeksekusian. Buat gw, ceritanya tuh lumayan, taruhannya besar, dan dialog-dialognya banyak yang lucu-lucu. Tapi, eksekusinya sama sekali nggak mencerminkan itu, feel-nya kayak nggak klop. Seolah skenarionya sudah mempersiapkan agar filmnya menyenangkan, tapi sutradaranya nggak mau kayak gitu. Atau udah berusaha tapi ya cuma bisa sampai segitu aja "fun"-nya dia--yah kalau melihat track record-nya Sam Mendes yang hampir semuanya film-film depresi sih jadi agak make sense. Dan, gw tambah bingung ngelihat editornya adalah Lee Smith, yang biasa jadi langganan Christopher Nolan. Film-filmnya Nolan mau seribet dan se-dark apa pun masih tetap exciting kok, lah kenapa ini nggak ya? What went wrong?

Seandainya Spectre ini film spionase bukan Bond, mungkin gaya penyajian ini masih bisa dimaklumi. Pacing-nya "hati-hati" (kata ganti lambat) supaya memaksimalkan "detail" dan "nuansa"-nya (kata lain lagi dari lambat), juga pakai penataan gambar yang dingin-dingin artsy gimana gitu. Tapi, buat gw yang telanjur terpuaskan sama Casino Royale dan cukup menikmati Skyfall *contohnya pake versi Craig aja biar nggak jauh-jauh*, Spectre ini sulit gw percaya bisa kayak begini hasilnya. Segi positifnya, film ini masih nggak semengesalkan kegegabahan Quantum of Solace dalam segi penyajiannya, tapi tetep masuk kategori mengesalkan ketika intensitasnya nggak naik-naik, malah ketika udah menjelang akhir justru tambah turun, malah tambah selow, tambah dipanjang-panjangin. Gosh, mungkinkah ini film Bond ter-keong yang pernah ada (kemungkinan sih nggak tapi dari ingatan gw sih iya). Ketika masuk babak seru yang sudah *sangat* ditunggu-tunggu, ternyata ya nggak seseru itu juga.

Gw juga masih bertanya-tanya apa esensi dari keberadaan film ini *ya selain nyari duitlah ya*. Kedahsyatan SPECTRE sebagai organisasi jahat saja nggak ditunjukkan dengan proper, pun musuh utamanya jauh dari kata intimidatif (sorry Christoph). Pertentangan agen manusia versus teknologi pengawasan digital pun cepat ilang gaungnya. Again, gw lebih melihat film ini berpotensi sebagai film dengan kisah yang lebih simple, fun, dan ringan, tapi eksekusinya justru nggak ke sana. Jadi ketika dibikin dengan gayanya yang sok "deep-deep gimana gitu", nggak cocok sama fakta bahwa ceritanya tuh light. Wong dua cewek Bond-nya aja kembali pada fungsi hakikinya dalam film-film Bond dulu: sekadar hiasan dan pemuas syahwat Bond, berfungsi sih tapi nggak penting juga. I mean how can you treat her majesty Monica Belucci only for "that", seriously?

Mungkin sebagai sebuah film, Spectre ini sebenarnya not bad jika dipandang dari sisi...entah yang mana. Cuma buat gw, ketika nilai-nilai hiburannya nggak bisa gw temukan, ditambah cerita yang nggak bikin tercengang, apa lagi yang bisa didapat selain nguap-nguap? Walau masih stylish dari segi visual, gw merasa terkecewakan dan capek dengan Spectre yang terlalu keenakan sendiri ini.




My score: 6/10

Minggu, 08 November 2015

[Movie] The Little Prince (2015)


The Little Prince
(2015 - On Animation Studio/Orange Studio/Paramount)

Directed by Mark Osborne
Screenplay by Irena Brignull, Bob Perischetti
Based on the novel by Antoine de Saint-Exupéry
Produced by Dimitri Rassam, Aton Soumache, Alexis Vonarb
Cast: Jeff Bridges, Mackenzie Foy, Rachel McAdams, Paul Rudd, Riley Osborne, Marion Cotillard, James Franco, Benicio Del Toro, Ricky Gervais, Paul Giamatti, Albert Brooks, Bud Cort


Menjadi dewasa adalah hal yang tak terhindarkan dari hidup manusia. Selain secara biologis akan bertambah besar dan tua, manusia juga akan dituntut untuk bertanggung jawab atas kelangsungan hidupnya sendiri. Untuk itulah sejak dini manusia dipersiapkan untuk menghadapinya, misalnya melalui pendidikan. Ketika tuntutan itu semakin tinggi, maka persiapannya pun akan semakin berat, sehingga kadang manusia terdistraksi dari potensi diri yang sesungguhnya.

Pernyataan itu dilontarkan jelas di pembukaan film animasi produksi Prancis, The Little Prince. Sang narator mengisahkan masa kecilnya yang membuat gambar ular yang memakan gajah bulat-bulat, namun disangka oleh orang dewasa sebagai gambar topi. Ketika ia memperjelas gambarnya lagi, orang-orang dewasa menyuruhnya untuk stop menggambar dan memfokuskan diri pada pelajaran-pelajaran eksakta, karena itulah yang dianggap penting dan berguna bagi masa depannya.

Seolah paralel dengan itu, adegan berpindah ke situasi masa kini, ketika sepasang ibu muda (diisi suara Rachel McAdams) dan anak gadisnya (Mackenzie Foy) yang berumur 8 tahun sedang tes wawancara masuk sekolah bergengsi, Werth Academy. Sekalipun sudah dipersiapkan dengan matang, tes ini gagal. Namun, sang ibu masih punya rencana cadangan. Mereka pindah rumah yang dekat dengan sekolah, dan selama liburan musim panas, sang anak harus mendedikasikan hari-harinya untuk mempersiapkan diri masuk Werth Academy. Tak hanya pengaturan jadwal pelajaran, program ketat ini juga mencakup kegiatan fisik dan diet tepat waktu. Semua demi mempersiapkan sang anak menghadapi kerasnya persaingan saat ia besar nanti.

Suatu ketika, sang gadis kecil bersinggungan dengan tetangganya, seorang kakek penerbang (Jeff Bridges) yang tinggal di rumah yang antik dan berwarna. Interaksi mereka semakin erat ketika sang kakek memberikan sebuah rangkaian cerita bergambar, tentang pengalamannya bertemu dengan seorang pangeran kecil dari luar bumi di gurun Sahara. Jika di rumahnya sendiri ia dituntut terus belajar, sang anak justru bisa menikmati kembali masa kanak-kanaknya saat bermain bersama sang kakek dan mendengarkan cerita-ceritanya. Hanya saja, hal ini tidak boleh sampai diketahui sang ibu yang menetapkan bahwa sang anak tak punya waktu untuk hal lain selain belajar.

Film The Little Prince merupakan adaptasi terbaru dari buku cerita terkenal karya pengarang Prancis, Antoine de Saint-Exupéry. Aslinya, The Little Prince mengisahkan seorang pangeran kecil dari sebuah asteroid kecil yang berpetualang hingga ke bumi demi menemukan seekor domba, untuk membantunya mencegah tumbuhan baobab menguasai asteroidnya. Di dalam petualangannya, sang pangeran bertemu dengan berbagai macam karakter, baik yang bersahabat maupun yang tidak. Setiap pertemuan itu pun memunculkan makna berbeda-beda tentang kehidupan, dari keserakahan, persahabatan, hingga cinta.

Sebagaimana terlihat, versi film terbaru ini memang tak seluruhnya memindahkan cerita buku The Little Prince, melainkan menjadikannya bagian dari sebuah cerita baru. Cerita asli The Little Prince dijadikan "cerita di dalam cerita" (ditampilkan dengan teknik animasi stopmotion, berbeda dengan cerita utamanya yang memakai teknik CGI), sekaligus sebagai kisah masa lalu sang kakek penerbang yang bertemu dengan sang pangeran kecil. Dengan cara demikian, film ini hendak membuat penafsiran dari inti cerita buku The Little Prince, dengan harapan bisa lebih mudah diserap oleh penonton sekarang.

Persoalannya sekarang apakah penafsiran tersebut bisa benar-benar ditangkap oleh penontonnya. Sebab, film ini menafsirkan kisah yang penuh simbol dengan simbol yang lain lagi. Kisah sang pangeran kecil ditampilkan paralel dengan kisah si gadis kecil, tetapi kedua karakter ini dibuat kontras. Sang pangeran kecil adalah sosok polos yang merasa kehidupan orang dewasa yang "realistis" begitu aneh. Sebaliknya, si gadis kecil jadi representasi dari anak-anak yang kritis dan mempertanyakan keabsahan dari kisah si kakek penerbang yang penuh hal-hal yang tak masuk akal.

Si gadis kecil merupakan simbol terhadap apa yang terjadi pada masyarakat modern, ketika anak-anak usia belia sudah dipaksa untuk sibuk memikirkan masa depan sedetil mungkin, ketimbang menikmati masa kanak-kanak yang dipenuhi ragam keceriaan, kepolosan, dan imajinasi. Simbol itu diperkuat dengan tata visual kehidupan kota yang serba simetris, persegi, dan monokromatis, seakan semua orang punya pemikiran dan tujuan hidup yang seragam. Sementara, hanya di rumah sang kakek saja yang bentuknya tak beraturan, melambangkan bahwa ia tak terpenjara oleh tuntutan lingkungan sekitarnya, sekaligus menikmati masa-masa yang dahulu terlewatkan dalam hidupnya—karena sang kakek adalah adalah juga sang narator di awal film. Untungnya, tata visual dan penuturan akan simbol ini termasuk paling mudah dicerna.

Tetapi, film ini kemudian melangkah ke level kompleksitas berbeda ketika sampai pada topik kehidupan dan kematian. Hal ini juga terdapat dalam kisah sang pangeran kecil, yang memberikan gambaran ambigu tentang makna "pergi dari bumi". Film ini membawanya lebih jauh lagi ketika sang gadis kecil juga menuntut penjelasan tentang hal tersebut pada si kakek. Topik ini seakan menegaskan bahwa film animasi ini bukan tipe tontonan yang bisa dinikmati sambil lalu, melainkan menuntut perenungan sesudah menonton.

Terlepas dari warna ceria, tampilan visualnya yang indah, juga musiknya yang ditata lincah dan megah, sulit untuk merekomendasikan The Little Prince sebagai sebuah tontonan seluruh keluarga. Simbol serta nilai-nilai yang dikandungnya tergolong berat dan mungkin tak bisa ditangkap sekali simak. Pendekatan drama pun lebih kental dari pada unsur humor yang wajib hadir di film dengan target penonton keluarga seperti ini.

Tentu saja, itu bukan berarti itu salah. Di satu sisi, film ini mungkin memang tidak memberikan hiburan sekental film-film animasi Hollywood, misalnya. Tetapi, di sisi lain film ini tetap berhasil menjadi sebuah adaptasi yang cukup cermat, ditampilkan memanjakan mata dan telinga secara estetika, dan mengandung makna yang mendalam. Paling tidak, itulah yang membuat film ini tetap layak diingat.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Sabtu, 07 November 2015

[Movie] Veteran (2015)



베테랑 (Beterang)
Veteran
(2015 - CJ Entertainment)

Written & Directed by Ryoo Seung-wan
Produced by Kang Hye-jung, Kim Jung-min
Cast: Hwang Jung-min, Yoo Ah-in, Yoo Hae-jin, Oh Dal-su, Jang Yoon-ju, Jung Woong-in, Jung Man-sik, Jin Kyung, Song Young-chang, Kim Shi-hoo, Oh Dae-hwan, Yoo In-young, Chun Ho-jin


Jadi beberapa waktu lalu gw berkesempatan nonton Veteran di Korea Indonesia Film Festival 2015, yang tampilkan film-film Korea (dan Indonesia) pilihan setahun terakhir dengan harga hemat di bioskop CGV Blitz. Status Veteran yang jadi film Korea terlaris 2015 so far dengan menjual 13 juta tiket lebih di negaranya, jelas mengundang rasa penasaran gw. Belum tentu filmnya bagus--karena honestly film terlaris tahun lalu Roaring Currents gak segitu mengesankan buat gw, tapi penasaran akan apa yang bikin orang-orang Korea pada berbondong-bondong nonton film ini. So here we go.

Kalau gw mau gambarkan dengan sederhana, Veteran ini adalah sajian action hiburan yang menggabungkan drama kriminal dengan violence dan humor. Film ini kisahkan seorang detektif polisi handal, saking handalnya dia jadi konsultan untuk film-film kriminal. Suatu hari dia bersinggungan dengan sebuah kasus terlukanya seorang sopir kontrak di gedung perusahaan besar. Sedari awal dibilang bahwa si sopir mencoba bunuh diri karena stress honornya nggak dibayar-bayar, tetapi ternyata kasus sebenarnya lebih daripada itu.

Hal yang menurut gw paling menarik dari film ini bukan dari segi misterinya, tapi ada semacam komentar sosial yang mungkin memang benar-benar nyata. Kalau dilihat, film ini menyorot kongkalikong antara konglomerasi dengan pihak berwajib. Ketika salah satu orang dari pihak korporasi besar terkena skandal--apalagi di film ini menyangkut anak pemilik perusahaan yang rada psycho, pasti ada perjanjian tertentu supaya citra perusahaan tetap terjaga, dan kadang-kadang caranya cukup kejam, termasuk memutarbalikkan fakta lapangan atau menumbalkan salah satu anggota keluarga. Gw bilang ini menarik karena, well, ini terjadi di negara kita juga toh? Dan, gw juga inget bahasan yang sama juga diangkat di serial Sense8 yang entah kenapa setting-nya pas di Korea. Mungkinkah ini common di sana? Gue perlu riset lagi sih untuk itu.

Di luar itu, gw sih nggak menemukan sisi lain yang extremely menarik dari film ini. Oh, oke, adegan action di penghujung film itu gokil dan elemen humor yang diselipkan sana-sini juga cukup works. Tapi, yah, sisanya nggak memberikan gw sesuatu yang wah. Dan gw kayaknya perlu menyalahkan dua peran protagonis dan antagonis utamanya yang sama-sama ngeselin. Si detektif itu kok ya demen sih tereak-tereak mulu. Ngerti sih maksudnya orangnya tuh emosian tapi ya nggak gitu juga kale. Sementara si antagonisnya pun terlalu komikal sehingga lebih kelihatan pura-puranya. Ngeselin bukan karena karakternya memang dimaksudkan ngeselin, tapi gwnya kesal kenapa pembawaan aktornya kayak niru sepak terjang Leily Sagita di sinetron-sinetron kita. Alhasil, gw nggak bisa merasakan depth dari karakter-karakter penjuru ini.

Jadi, kenapa film ini laku banget? Hmm, tebakan gw, selain karena strategi promosinya mungkin oke berat, film ini mungkin mengandung formula yang diinginkan penonton sana. Action, komedi, drama, teriak-teriak, nangis-ngangis, pacing yang pas, dan juga relevansi temanya. Gw rasa film ini cukup pantas untuk disambut meriah. Tapi, kalau buat gue, filmnya belum bisa menimbulkan decak kagum segimananya, cukup aja.





My score: 7/10

Rabu, 04 November 2015

[Movie] Bridge of Spies (2015)


Bridge of Spies
(2015 - 20th Century Fox/DreamWorks Pictures)

Directed by Steven Spielberg
Written by Matt Charman, Joel Coen, Ethan Coen
Produced by Marc Platt, Kristie Macosko Krieger, Steven Spielberg
Cast: Tom Hanks, Mark Rylance, Amy Ryan, Alan Alda, Austin Stowell, Scott Shepard, Sebastian Koch, Mikhail Gorevoy, Will Rogers, Jesse Plemons, Eve Hewson, Billy Magnussen


Sineas Hollywood kondang, Steven Spielberg, kembali mempersembahkan sebuah film berlatar sejarah, Bridge of Spies. Nama Spielberg saja sebenarnya sudah menjadi daya tarik film ini, setelah ia terbukti sukses menggarap film berlatar sejarah lainnya, seperti Lincoln (2012), War Horse (2011), Munich (2005), Saving Private Ryan (1998), Amistad (1997), juga Schindler's List (1993). Daya tarik itu semakin kuat dengan adanya nama besar sang aktor utama, Tom Hanks, yang pernah sukses berkolaborasi dengan Spielberg di film Saving Private Ryan, Catch Me If You Can (2002), dan The Terminal (2004). Ditambah bahwa skenarionya turut melibatkan duo sineas Joel Coen dan Ethan Coen (True Grit, No Country for Old Men), film Bridge of Spies jelas jadi salah satu film yang patut mendapat perhatian tahun ini.

Nama-nama besar tersebut kini bersinergi mengangkat sebuah kisah nyata yang terjadi di masa Perang Dingin, ketika dua kubu adikuasa, Amerika Serikat yang berpaham liberal (blok Barat) dan Uni Soviet yang berpaham komunis (blok Timur), berlomba memberi pengaruh bagi dunia dalam berbagai bidang. Memang tidak pernah sampai ada perang terbuka di antara kedua negara tersebut. Akan tetapi, kekhawatiran bahwa kedua pihak sedang mengembangkan senjata nuklir yang akan mengakibatkan kehancuran, menimbulkan perang tak terlihat lewat aksi spionase atau mata-mata. Begitu terbelahnya kedua kubu ini, apabila mata-mata itu ketahuan, hukuman yang menanti begitu berat.

Pada tahun 1957, James Donovan (Tom Hanks), seorang pengacara spesialis asuransi di New York, tiba-tiba ditunjuk oleh firmanya untuk mendampingi Rudolf Abel (Mark Rylance), seorang anggota militer Inggris keturunan Rusia yang didakwa sebagai mata-mata Uni Soviet di AS. Sebuah tugas yang sebenarnya hanya formalitas semata. Sekalipun mengikuti prinsip semua orang berhak dapat pembelaan di pengadilan AS, hampir dipastikan bahwa Rudolf akan dinyatakan bersalah dan divonis hukuman berat. Namun, bukan berarti tugas ini tanpa risiko. Sebab, citra James terancam merosot lantaran masyarakat akan menyorotnya sebagai "pembela musuh".

Di sisi lain, kiprah James memunculkan potensi baru yang dapat dimanfaatkan oleh pihak pemerintah. Hampir bersamaan dengan kasus yang ditangani James, sebuah pesawat mata-mata AS ditembak jatuh oleh pihak Uni Soviet, dan pilotnya, Francis Gary Powers (Austin Stowell) dipenjarakan.

CIA lalu menugaskan James dalam misi rahasia merundingkan pertukaran tawanan, apalagi James diuntungkan pernah menjadi pengacara Rudolf yang berasal dari blok Timur, sehingga ia dianggap cukup netral. Dengan pengamanan yang minim, James harus masuk ke perbatasan blok Barat dan blok Timur di kota Berlin, Jerman, demi mengembalikan kedua orang tawanan ini ke rumahnya masing-masing.

Sekilas apa yang diangkat dalam film Bridge of Spies bisa dianggap cukup berat. Bukan hanya dari latar sejarahnya yang berskala besar, tetapi juga tema yang hendak diusung. Film ini memasukkan tentang hukum dan keadilan, serta persoalan pertukaran tawanan perang yang penuh risiko. Belum lagi, mengingat cerita ini dituturkan dari sudut pandang orang AS, mungkin muncul kecurigaan bahwa bakal ada muatan politis di dalamnya. Namun, itu tidak sepenuhnya terjadi di film ini. Film ini justru tampil dengan lembut dan cenderung menghibur, tanpa harus kehilangan esensi mengapa kisah ini harus diangkat.

Perang Dingin digambarkan sebagai masa-masa paranoia, ketika satu pihak mengantagonisasi pihak lain dengan segala cara, dan itu disebarkan ke rakyat masing-masing lewat berbagai macam propaganda. Perang Dingin juga menjadi alasan mengapa film-film bertema spionase Hollywood (atau juga film-film James Bond) banyak mengisahkan orang Uni Soviet atau Rusia sebagai sosok musuh.

Menariknya, Bridge of Spies tidak terjebak pada pada antagonisasi pihak lawan dengan berlebihan. Paling banter di sini hanya digambarkan bahwa blok Timur—Uni Soviet dan Jerman Timur—punya cara hidup yang berbeda dan agak aneh jika dibandingkan dengan kehidupan James di AS. Mulai dari cara unik anggota intelijen Uni Soviet menghubungi James—dengan dalih surat dari istri Rudolf, sampai para pengantar berkas di dalam lorong sebuah gedung di Berlin Timur yang memakai sepeda.

Jadi, ketika sosok James dalam cerita ini dituntut untuk berlaku adil, demikian pula penyampaian keseluruhan film ini. Benar bahwa ditunjukkan Uni Soviet bersukacita ketika pilot Powers divonis bersalah di pengadilan, terlepas itu benar-benar keputusan adil atau tidak, tetapi hal yang sama juga disaksikan James di pengadilan AS terhadap Rudolf. Benar bahwa pihak Uni Soviet menyiksa tawanan yang dianggap mata-mata, tetapi tindakan yang sama juga berlaku di AS.

Benar pula pihak Uni Soviet menganggap AS sebagai pihak yang jahat, tetapi hal serupa juga terjadi di AS, bahkan film propaganda tentang jahatnya Uni Soviet dipertontonkan untuk siswa-siswi SD. Dua kubu berlawanan, tetapi yang dilakukan untuk melanggengkan perang ternyata sama saja, sehingga sulit menentukan pihak mana yang lebih benar atau lebih salah.

Dengan sudut pandang demikian, film ini menaruh karakter James sebagai simbol harapan, bahwa keadilan dan orang-orang yang memperjuangkannya masih ada. Karakterisasi James sendiri mungkin agak terlalu heroik, karena ia seolah satu-satunya tokoh yang punya hati nurani di tengah mencekamnya perang, yang secara sederhana hanya mau semua orang selamat. Namun, bila mengacu kembali pada pernyataan keseluruhan film ini tentang perang dan keadilan, karakterisasi James yang demikian masih bisa diterima, sekaligus menambah unsur entertainment film ini.

Sebenarnya, sebagaimana salah satu ciri khas Spielberg, sangat terlihat bahwa Bridge of Spies tidak bermaksud disajikan dengan serba serius. Sekalipun topiknya tetap serius, begitu banyak unsur dalam film ini yang membuatnya nyaman untuk disaksikan sebagai hiburan. Drama dan ketegangan tetap ada, tetapi humor, nilai kekeluargaan, danadventure juga berhasil dimasukkan, walaupun mungkin dengan cara yang tidak biasa. Demikian juga dengan karakterisasi yang dibuat membumi dan mampu mengikat penonton, sebuah hal penting untuk membuat perhatian terhadap alurnya tetap terjaga.

James misalnya, dibangun sebagai tokoh yang santai tapi serius dalam segala situasi, walau sesekali kelicinannya sebagai pengacara tetap muncul. Kesahajaannya dengan keluarga yang kerap diwarnai percakapan jenaka dan hangat, dan ditambah dengan performa Hanks yang effortless, membuat James mudah untuk mendapat simpati penonton. Penampilan yang sama kuat juga ditunjukkan Rylance sebagai Rudolf yang hanya mengandalkan ekspresi subtil dan ketepatan intonasi dialog, berhasil merebut simpati walau tak satu kali pun tampil emosional.

Terlepas dari itu, sulit untuk dipungkiri pula bahwa Bridge of Spies agak terlalu panjang dalam bertutur. Bagian awal ceritanya dibangun dengan muatan yang banyak, mengandung detail yang kaya dan bermanfaat bagi keseluruhan cerita. Tetapi, perjalanan sampai tiba pada titik premisnya—James direkrut untuk berunding pertukaran tawanan—memakan waktu nyaris separuh dari total 141 menit durasinya. Di satu sisi, ini membuat bangunan ceritanya solid, tetapi di sisi lain beberapa penonton mungkin akan menganggap ini menjenuhkan.

Namun, dengan kepiawaian penataan adegan, didukung oleh akting mumpuni, desain produksi megah, juga sinematografi dinamis, Bridge of Spies mampu menyajikan tontonan yang tetap menarik untuk disimak sepanjang durasinya. Pada akhirnya, keberhasilan film ini terletak pada mulusnya penyampaian nilai-nilai yang ingin dikemukakan dalam sebuah sajian film yang mudah diikuti. Dan, yang pasti, nama-nama besar di depan maupun belakang layar film ini masih membuktikan kualitasnya, sama sekali tak dipermalukan.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com