Sabtu, 31 Oktober 2015

[Movie] Crimson Peak (2015)


Crimson Peak
(2015 - Universal)

Directed by Guillermo del Toro
Written by Guillermo del Toro, Matthew Robbins
Produced by Thomas Tull, Callum Greene, Jon Jashni, Guillermo del Toro
Cast: Mia Wasikowska, Tom Hiddleston, Jessica Chastain, Charlie Hunnam, Jim Beaver, Burn Gorman, Leslie Hope, Emily Coutts, Doug Jones


Crimson Peak bukanlah seperti kebanyakan film berlabel horor. Benar bahwa film ini berpusat pada sebuah kastil berdesain seram dan berhantu, ditambah dengan karakter-karakter utama yang berekspresi misterius. Akan tetapi, film ini tidak bergantung pada seberapa sering penonton dibuat kaget oleh adegan-adegan menakutkan. Bahkan, definisi "horor" atau kengerian yang hendak disampaikan di film ini mungkin tidak seperti yang diduga.

Kisah dimulai di kota Buffalo, negara bagian New York, Amerika Serikat, di masa peralihan abad ke-19 ke 20. Edith Cushing (Mia Wasikowska), putri semata wayang dari pengusaha kaya bernama Carter Cushing (Jim Beaver), adalah seorang gadis terhormat yang bercita-cita menjadi penulis novel. Sayangnya, karya novelnya kurang diterima oleh penerbit, karena ia menuliskan cerita dengan unsur hantu di dalamnya, sementara seorang wanita umumnya hanya menulis roman. 

Sampai suatu ketika muncul seorang bangsawan Inggris menawan, Baronet Thomas Sharpe (Tom Hiddleston) di hadapan keluarga Cushing. Ia mengaku tertarik dengan apa yang ditulis Edith, dan terlihat juga ia tertarik pada Edith. Keduanya pun semakin dekat, terlepas dari ketidaksukaan Carter terhadap Thomas dan kakaknya, Lucille Sharpe (Jessica Chastain) yang asal-usulnya simpang siur. Keduanya kemudian menikah dan Edith dibawa pulang Thomas ke rumah keluarga Sharpe yang sudah rapuh, Allerdale Hall. Di sinilah Edith mulai menyadari begitu banyak misteri yang menyelimuti kakak beradik Sharpe dan rumah mereka.

Sutradara dan penulis Guillermo Del Toro beberapa kali mengatakan bahwa Crimson Peak adalah sebuah gothic romance, terinspirasi dari karya literatur klasik abad ke-19 yang kerap menggabungkan roman dan nuansa horor—ia pernah menyebutkan novel Wuthering Heights karya Emily Bronte hingga Rebecca karya Daphne Du Maurier. Jika mengacu pada pernyataan ini, maka bisa dimaklumi kalau Crimson Peak lebih mengutamakan penuturan roman daripada unsur horor. Alhasil, film ini berfokus hubungan Edith dan Thomas serta Lucille—ditambah sedikit cinta segitiga dengan kehadiran Alan McMichael (Charlie Hunnam) yang sudah lama menaruh hati pada Edith, sementara porsi supranatural menjadi pendukung cerita.

Dengan penyajian demikian, bisa ditebak bahwa film ini berpotensi kurang berkenan bagi yang mencari tontonan horor yang lebih straightforward, yang berfokus pada melayani hasrat penonton akan adegan seram dan mengerikan bertubi-tubi, entah itu penampakan makhluk seram ataupun teror berdarah. Bukan berarti unsur itu tidak ada di Crimson Peak, tetapi horor yang hendak dibangun di film ini memang tidak berfondasi di sana. Di sinilah definisi "horor" itu menjadi meluas, bahwa horor bukan cuma sekadar memasukkan sosok hantu atau monster di dalam cerita, melainkan bagaimana keseluruhan ceritanya bisa menimbulkan kengerian.

Yang menarik untuk disimak adalah hantu di sini bukan sebagai sumber kengerian, sekalipun wujudnya seram seperti mayat membusuk. Mereka bahkan tidak menimbulkan bahaya. Perhatian justru tertuju pada kakak beradik Sharpe yang begitu misterius. Mungkin bisa ditebak bahwa sebagai bangsawan yang sumber pendapatannya semakin terbatas, salah satu motif Thomas menikahi Edith adalah karena istrinya itu pewaris kekayaan ayahnya—sesuatu yang ternyata lazim dilakukan di zaman itu. Tetapi, gestur dan perilaku Thomas dan Lucille mengisyaratkan ada sesuatu yang lebih daripada itu.

Hal ini seakan menampilkan ironi bahwa apa yang tampak indah justru bisa lebih berbahaya daripada yang terlihat seram, bahwa manusia bisa lebih menakutkan daripada hantu. Dan lebih dari itu, film ini seperti ingin mengaburkan makna apa itu indah dan apa itu seram, yang dengan sempurna diwakili oleh rumah Allerdale Hall yang berdesain gotik—berwarna gelap dengan berbagai sudut runcing, dan kondisinya yang setengah hancur. Ekspektasi penonton pun dimainkan di sini, bahwa kengerian tidak harus timbul di tempat yang gelap dan menyeramkan, malah lebih sering terjadi di tempat yang tampak indah dan terang benderang.

Crimson Peak bisa dikatakan sajian yang unik, bahkan mungkin sedikit ganjil, tidak cukup bila digambarkan dalam satu definisi sederhana. Porsi horornya tidak seperti yang biasa disajikan di film lain—dengan menggabungkan supranatural, darah, hingga psikologis. Sebaliknya, porsi romannya justru sudah sering disajikan dalam cerita-cerita klasik. Namun, unsur-unsur itu diramu jadi tontonan dengan visual menawan dan menyimpan makna lebih dari yang diujarkan lewat dialog, sekaligus masih mudah untuk diikuti. Pilihan untuk lebih banyak bercerita tentang intrik antara Edith dan kakak beradik Sharpe mungkin membuat laju film ini jadi tersendat di beberapa momen. Tetapi, Crimson Peak tetap berhasil menyampaikan apa yang ingin disampaikan, membangun cerita yang utuh dan menyajikannya lewat adegan-adegan yang ditata cermat, baik yang cantik maupun yang mencekam.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Jumat, 30 Oktober 2015

[Movie] The Wedding & Bebek Betutu (2015)


The Wedding & Bebek Betutu
(2015 - Awan Sinema Kreasi)

Directed by Hilman Mutasi
Screenplay by S. Tomo, Tantri Arinta
Story by Hilman Mutasi
Produced by Mieke Amalia
Cast: Tora Sudiro, Sogi Indra Dhuaja, Edric Tjandra, Ibob Tarigan, Tike Priatnakusumah, Ence Bagus, Aming, Ananda Omesh, Adinda Thomas, Ronal Surapradja, Indra Birowo, Mieke Amalia, TJ, Rony Dozer, Virnie Ismail, Marcel Chandrawinata


Di dekade 2000-an, salah satu alasan untuk menonton saluran Trans TV adalah adanya acara sketsa Extravaganza, semacam versi lokal dari Saturday Night Live. Through the years banyak penonton yang invested sama para pemainnya (gw sih lumayan), sebagian besar pun masih aktif jadi media personality atau *sebut saja* artis sampai sekarang. Jujur, kalau buat gw Extravaganza itu nggak lucu-lucu banget, para pemainnya pun sebenarnya nggak lucu. Buat gw mereka hanya menyenangkan. Tapi, yang pasti mereka adalah aktor-aktor yang oke dan kompak untuk format acara tersebut. Dengan demikian, lelucuan benar-benar harus diciptakan dari tahap skrip, dan ketika para pemain ini delivered it well, jadinya lucu. Ketika mereka mencoba melucu di luar skrip, seinget gw sih nggak pernah ada yang lucu. Jadi ketika para pemain eks-Extravaganza ini mau reuni dalam bentuk film komedi, concern gue adalah apakah mereka punya materi yang emang lucu. Ya itu tadi, dalam benak gue, mereka semua itu aktor yang hanya akan lucu kalau skripnya lucu, karena mereka bukan pelawak.

So, let's talk about The Wedding & Bebek Betutu, yang dari judulnya saja ingin menunjukkan keabsurdan dari film ini. Tapi, sebenarnya hal yang bikin gw tertarik sama film ini adalah tata visualnya yang benar-benar niat. Dari desain produksi, sinematografi, hingga kostum, cukup terlihat bahwa technically film ini bukan komedi asal jadi. Dan memang yang disajikan di layar terbukti demikian adanya, ditambah tata musiknya yang cukup asyik rada vintage gitu.

Nah, lalu kita masuk ke ceritanya. Dengan banyaknya pemain dan tokoh yang harus diakomodir, keputusan film ini untuk membagi plotnya jadi beberapa bagian cukup bisa dimaklumi. Benang merahnya adalah agar pernikahan seorang anak pemilik hotel berjalan lancar, tapi ada dua permasalahan, well tiga sih kalau menurut hitungan gw. Pertama disinyalir ada usaha sabotase pernikahan dengan adanya foto mesra calon mempelai wanita dengan mantannya, dan video calon mempelai pria yang lagi bachelor party liar, maka beberapa staf hotel disuruh untuk menyelidiki kebenarannya. Kedua, bapaknya calon mempelai pria mistakenly menganggap hotel calon besannya punya menu andalan bebek betutu, despite the fact hotelnya ada di Bandung, maka beberapa staf lain ditugaskan untuk mencari resep bebek betutu terlezat di Bandung. Ketiga, orang tua kedua belah mempelai ternyata belum sepakat tentang tata cara pernikahan, ya berantemlah terlepas acara pernikahannya tinggal 24 jam lagi.

Buat gw konsep ceritanya ini punya potensi, tinggal pengembangan dan penuturannya bagaimana. Tapi, yang gw takutkan terjadi juga. Meskipun ceritanya udah agak lumayan set-up-nya, gw hampir nggak ketawa selama nonton ini, pas ketawa pun cuma sebentar dan sebatas nyengir doang. Somehow, buat gw perkembangan cerita beserta lelucon-leluconnya itu gampang ketebak, kelewat sederhana, dan simply nggak selucu yang mungkin dibayangkan oleh yang punya film. Ini masalah selera humor mungkin ya, secara beberapa penonton di sekitar gw tertawa lebih sering daripada gw. Tapi, ya gitulah, ternyata hiburan visual kece yang berhasil gw dapat di film ini sayangnya nggak dilengkapi oleh segi cerita dan humor yang bisa menghibur gw.

Nevertheless, untuk sebuah proyek reuni, film ini lumayan bisa jadi pengobat rindu. Karakter-karakter yang dulu dikenal di Extravaganza bisa dikeluarkan lagi dengan cara yang cukup berbeda, para pemainnya masih terlihat kompak dan had a good time together, dan mereka masih aktor-aktor yang oke. Cuma materi filmnya aja yang kurang memberi hiburan dan surprise yang bisa membuat film ini lebih bernilai istimewa. Ya untung aja gambarnya bagus-bagus.




My score: 6/10

Kamis, 29 Oktober 2015

[Movie] Pan (2015)


Pan
(2015 - Warner Bros.)

Directed by Joe Wright
Written by Jason Fuchs
Based on the characters introduced by J.M. Barrie
Produced by Greg Berlanti, Sarah Schechter, Paul Webster
Cast: Levi Miller, Hugh Jackman, Garrett Hedlunc, Rooney Mara, Adeel Akhtar, Nonso Anozie, Kathy Burke, Amanda Seyfried, Cara Delevingne, Na Tae-joo, Lewis MacDougall


Jadi kalo nggak salah, hak cipta untuk kisah Peter Pan udah lewat 100 tahun sehingga udah jadi public domain alias bisa dipakai oleh siapa aja tanpa perlu sistem royalti, kalau nggak salah lho ya. Lalu Warner Bros. memanfaatkan ini dengan membuat kisah baru asal muasal Peter Pan yang berjudul Pan. Agak ngaco sih idenya, tapi dengan masuknya sutradara keren Joe Wright (Atonement, Anna Karenina) gw cukup menantikan bagaimana jadinya film ini. Maksud gue, bagaimana jadinya Wright yang sangat British dan gayanya yang nyeni-tapi-lincah bila dikasih kerjaan film Hollywood penuh visual effects dengan bujet di atas 100 juta dolar.

Karena ini origin story yang dibuat dari awal, gw nggak terlalu masalah dengan posisi film ini dalam timeline kisah Peter Pan. Mau dia bikin Peter sama Hook ternyata temenan, atau bikin metafora Neverland adalah tanah Amerika dengan praktik kolonialisme yang timbulkan perang antara pihak industrial dengan penduduk asli, ya terserah mereka. Gw bahkan sangat welcome dengan cerita seperti itu, kreatif tapi nggak terlalu ngasal. Dan, ternyata di bawah garapan Wright, gw sih masih enjoy dengan ceritanya. 

Film ini sebenarnya anak-anak banget, dengan batas baik dan jahat dibuat obvious sejak awal, dan porsi fantasi dan keajaiban yang akan lebih mudah diserap anak-anak atau yang masih memelihara excitement kekanak-kanakannya dalam hati *tsaaah*. Buat gw kelincahan Wright dalam bertutur berfungsi baik di sini. Filmnya nggak neko-neko, nggak diberat-beratin, ada bobot cerita (yah lumayanlah) tapi tetap dibuat ringan. Dan, semua disajikan dengan kreativitas visual yang sangat-sangat menarik--bahkan sangat-sangat cuantik, dan humornya juga nggak murahan. Pokoknya dari awal film ini udah kerasa exciting, sebagaimana film-film Wright yang pernah gw tonton, eh dimasukkan pula unsur semi-musical yang menambah ke-"ajaib"-an film ini dan turut berkontribusi untuk excitement itu.

Tapi, sayangnya, itu cuma terjadi di paruh awal. Somehow, ketika udah masuk deep into the story, laju-nya agak kendor dan lama-lama jadi generik layaknya film Hollywood yang mau sampe-mana-pun-ceritanya-yang-penting-heboh. Pengungkapan ceritanya jadi nggak ada yang menarik lagi, selain berbagai referensi teradap kisah Peter Pan aslinya. Luckily, setiap babak film ini menampilkan konsep visual dan warna yang berbeda, nggak berulang, dan nggak kalah cakep dari babak-babak sebelumnya, sehingga gw sih masih bisa betah menyaksikan film ini sampai habis. 

Well, dengan laju penuturan yang kurang konsisten itu, Pan memang seperti banyak "diselamatkan" oleh unsur-unsur pendukungnya. Baik desain visual kerennya--art direction, kostum, makeup, efek visual, animasi, dari para pemain yang oke-oke khususnya si Levi Miller yang jadi Peter (setidaknya terlihat mereka nggak males-malesan main film ini), maupun tata musik yang asyik banget. And that's okay for me. Sekalipun ceritanya agak tertatih, selama gw bisa sudah bisa larut dalam dunia fantasinya, gw udah cukup senang. 




My score: 7/10

Selasa, 27 Oktober 2015

[Movie] Sicario (2015)


Sicario
(2015 - Lionsgate)

Directed by Denis Villeneuve
Written by Taylor Sheridan
Produced by Basil Iwanyk, Edward L. McDonnel, Molly Smith, Thad Luckinbill, Trent Luckinbill
Cast: Emily Blunt, Benicio Del Toro, Josh Brolin, Daniel Kaluuya, Victor Garber, Jon Bernthal, Jeffrey Donovan, Maximiliano Hernández, Raoul Trujillo, Julio Cedillo


Call me sotoy, tapi kayaknya dari hanya dua film buatan Denis Villeneuve yang gw tonton, gw melihat doi cenderung membuat segala sesuatu seintim dan sesunyi mungkin sekalipun skala ceritanya sebenarnya besar dan ramai. Itu gw rasakan ketika gw nonton Prisoners yang agak bikin geregetan karena kasus kriminal yang jadi (mungkin gw salah kira) plot utamanya digulirkan dengan lelet demi menyorot sisi emosi karakter-karakternya. Sicario juga ternyata punya kecenderungan sama. Emang sih film ini menampilkan karakter polisi dan latarnya adalah "perang" narkoba di perbatasan AS dan Meksiko, tapi kalau mengharapkan akan ada aksi seru menegangkan memacu adrenalin ya sorry sorry jek. Again, semua itu dikecilkan porsinya in favour of memunculkan sisi emosi karakternya.

Dengan penyajian seperti itu, gw mencoba menyerap apa yang mau disampaikan film ini. Sicario itu punya semesta cerita yang berpotensi epic. Ada polisi, FBI, gangster, mafia, imigran gelap, sampai ke CIA, baik yang baik-baik maupun yang korup. Gw bisa membayangkan ke-epic-an film ini bisa seperti film Traffic. Tapi, something familiar happened, karena yang gw lihat justru Sicario memakai skala sunyi, seperti serial The Bridge (bisa-bisanya gw menyamakan dua film dari seorang sineas kelas Cannes dengan serial TV, lancang sekali *gantung diri*). 

Anyway, film ini gw lihat lebih berfokus pada seorang agen FBI bernama Kate (Emily Blunt) yang lurus dan tangguh dan kebetulan wanita, yang harus "melihat dunia nyata" dengan praktik-praktik jahanam yang dilakukan oleh pihaknya sendiri untuk melawan bandelnya bandar narkoba di AS-Meksiko. Jadi, metode untuk meringkus target operasi dan sebagainya itu nggak terlalu ditonjolkan. Isinya adalah si agen FBI ngikutin si agen pembasmi kartel narkoba bernama Matt (Josh Brolin) dan pria misterius bernama Alejandro (Benicio Del Toro) untuk "jalan-jalan" antara Amerika dan Meksiko tanpa tahu tujuannya apa. Pokoknya mereka ingin mancing salah satu petinggi kartel untuk membawa mereka ke markas dedengkot kartelnya, tapi pertanyaannya tetap sama: ngapain si agen FBI baru ini diajak-ajak? Tapi ya dalam perjalanannya si Kate melihat dan mengalami banyak hal sehingga ia disadarkan bahwa memberantas kejahatan dan menegakkan keadilan belum tentu sama pengertiannya.

Terus terang gw tertarik nonton ini karena ada nama sinematografernya, Roger Deakins, yang terkenal mampu membuat gambar-gambar cakep dalam berbagai situasi. Dalam film ini pun nggak terkecuali, dan itu yang bikin film ini enak banget dilihat. Rupanya kerja para aktor pun nggak kalah mumpuni, Emily Blunt bisa menyamai kharisma Brolin dan the always-viciously-cool Del Toro sehingga gw cukup betah menyaksikan film ini. Yang mungkin absen di sini adalah nilai entertainment-nya, karena mungkin arahnya nggak ke sana. Film ini akan lebih banyak menampilkan adegan-adegan panjang sebelum masuk dalam momen yang seru dan violent, ini istilahnya slow-burn. Nah, karena momen violent nan serunya itu dikit, ya jadinya film ini berasa berpanjang-panjang aja, sambil ngliatin pemandangan gurun Amerika (seriously, gambar pemandangannya banyak banget nggak kalah sama tayangan Discovery World HD atau NHK *anaknya TV berlangganan banget*). Bahkan adegan penyerbuan puncak di sebuah lokasi rahasia dibikin panjaaaang banget, gelap-gelapan yang hampir nggak ngapa-ngapain, sebelum 5 menit kemudian *akhirnya* ada tembak-tembakan.

Terlepas dari kurang terhiburnya gw sama film ini, gw tetap mengerti kok arah film ini mau ke mana *hasek, biar kesannya cerdas =P*. Ketika film-film lain (yang sama-sama bertema kriminal, terutama) yang lebih pop sering mengglorifikasi kejagoanan--tindakan protagonis melakukan kekerasan terhadap antagonis se-violent apa pun asalkan dia di pihak yang baik jadinya ya "gakpapa", film ini mengaburkan mana antagonis dan protagonis itu serta memandang bahwa tindakan violent ya violent aja, mau menimpa "protagonis" kek "antagonis" kek, pokoknya nggak enak dilihat dan sulit untuk dibuat pembenarannya. Sebuah statement yang oke dan mengena. Tapi, ya kadang-kadang "kesunyian" dalam penyajian film ini lho yang bikin nggak kuat, padahal ini film "perang" lho.




My score: 7/10

Minggu, 25 Oktober 2015

[Movie] Assassination Classroom (2015)


暗殺教室 (Ansastu Kyoushitsu)
Assassination Classroom
(2015 - Toho/Robot Communications)

Directed by Eiichirou Hasumi
Screenplay by Tatsuya Kanazawa
Based in the comics by Yusei Matsui
Produced by Juichi Uehara
Cast: Kazunari Ninomiya, Kippei Shiina, Ryousuke Yamada, Masaki Suda, Kang Ji-young, Masanobu Takashima, Maika Yamamoto, Seika Taketomi, Mio Yuki, Kanna Hashimoto, Seishiro Kato


Gotta trust the Japanese to make stories with the weirdest premises. Assassination Classroom ini katanya lagi hits di dunia per-manga-dan-anime-an sampai-sampai dibuatkan film live action-nya tahun ini. Awal bulan ini gw berkesempatan nonton film ini dan...well, geleng-geleng aja sama konsep ceritanya. 

Jadi, ada sesosok alien yang telah menunjukkan kekuatannya dengan menghancurkan bulan sehingga bentuknya sabit permanen (hahaha). Si alien sekarang ada di bumi dan menawarkan diri untuk dibunuh oleh siapa saja di bumi yang bisa. Soalnya, kalau nggak dibunuh, dia harus menghancurkan bumi pada tanggal yang telah ditentukan. Masalahnya, saking saktinya, persenjataan yang sekarang ada di bumi belum ada yang berhasil membunuh dia, sementara senjata nuklir berkekuatan besar terlalu berisiko bagi orang bumi sendiri. Sembari menunggu ada yang berhasil, dia mengajukan diri jadi guru wali kelas SMP di sebuah kelas yang isinya anak-anak pecundang. Oh, murid-muridnya juga diberi tugas untuk berusaha mencari cara membunuh alien yang sekarang dipanggil Koro-sensei itu.

Bikin film live action dari komik terkenal sekarang jadi keniscayaan di Jepang sejak beberapa tahun belakangan nggak sedikit judul-judul yang sukses di box office sana. Gw sebagai (mantan) pengikut manga dan anime merasa nggak ada yang salah dengan kecenderungan itu, cuma it always come down on how the material is treated, dan nggak semua materi cerita manga dan anime dengan segala kekhasannya itu bisa cocok dijadikan film live action. Assassination Classroom, untungnya, adalah contoh yang lumayan cocok atau "dibikin" cocok. Pembuat film ini kayak sadar betul betapa anehnya konsep cerita aslinya, sehingga mengambil langkah termudah tapi tepat: bikin filmnya jadi black comedy absurd sekalian.

Ada dua poin dari film ini yang menurut gw cukup admirable. Pertama adalah bahwa film ini "nggak serius-serius amat" dalam merancang adegan dan karakternya. Absurditas antara kehidupan para murid SMP (yang tentu saja demi kepentingan film wajah-wajahnya lebih tua dari seharusnya) yang diajar oleh guru alien, digabungkan dengan misi utama mencari cara membunuh gurunya, sampai menganggapnya itu kegiatan rutin kayak ngerjain PR. Mulai dari murid robot yang menembaki si alien tapi pelajaran terus berlanjut, sampai seorang murid yang memohon dengan sangat sopan untuk meracuni gurunya. Humornya kinda works buat gw. Kedua, film ini serius banget dalam bikin CGI si Koro-sensei, yang bentuknya berwarna kuning terang bertentakel dan kepala kayak Mr. Smiley. Dibilang bagus banget mungkin belum tapi yang pasti si sensei tampak sangat tangible dengan sekitarnya sekalipun dia (kayaknya sih) dibuat sangat komikal.

Di luar itu, gw sebenarnya belum menemukan keistimewaan berarti dari film ini. Cara film ini untuk bikin ada konflik besar yang sebenarnya bukan utama supaya kesannya cerita film ini utuh, hasilnya agak maksa (karena filmnya *sigh* dibagi jadi dua part). Masuknya tokoh-tokoh antagonis di sini harusnya jadi benang merah tapi jatuhnya kayak nggak penting aja, karena gw telanjur ngeh bahwa plot inti film ini adalah apakah murid-murid ini akan berhasil membunuh gurunya. Ini memang sesuatu yang ongoing dan kelihatan sekali tidak akan selesai di film bagian pertama ini (dan biasanya sih karena di komiknya juga belum muncul konklusinya). Bagian Koro-sensei dan murid-muridnya yang mulai muncul kedekatan emosional juga kurang dibangun dengan kuat.

Tapi, gw tetap menghargai bahwa film ini nggak keliru memperlakukan ceritanya. Nggak sok serius, nggak sok pintar, walau juga nggak main-main dalam penggarapannya, dan yang penting gets the whole joke of the story. Gw bisa ngerti the big idea, beberapa kali gw bisa dibikin tertawa dengan humor absurdnya (walau nggak sampai ngakak), dan konsep visualnya juga ada effort-lah. Belum benar-benar nendang secara cerita apalagi emosi, tapi ya nggak jelek juga. Minimal menghiburlah, walau mungkin baru akan benar-benar kena ke mereka yang sudah terbiasa dengan jejepangan, manga, dan anime.




My score: 6,5/10

Rabu, 21 Oktober 2015

[Movie] The Walk (2015)


The Walk
(2015 - TriStar)

Directed by Robert Zemeckis
Screenplay by Robert Zemeckis, Christopher Browne
Based on the book "To Reach the Clouds" by Philippe Petit
Produced by Tom Rothman, Steve Starkey, Jack Rapke, Robert Zemeckis
Cast: Joseph Gordon-Levitt, Charlotte Le Bon, Ben Kingsley, James Badge Dale, Clément Sibony, César Domboy, Steve Valentine, Ben Schwartz, Benedict Samuel


Ada dua sisi paling menonjol dari sineas kawakan Hollywood, Robert Zemeckis. Di satu sisi, ia termasuk salah satu sutradara yang fasih menggunakan teknologi perfilman, terbukti dari trilogi Back to the Future, Who Framed Roger Rabbit, Death Becomes Her, Contact, hingga film-film animasi motion capture seperti The Polar Express dan Beowulf, yang kental dengan visual effects. Di sisi lain, ia juga lihai dalam menggarap kisah-kisah yang humanis, seperti Cast Away, Flight, juga Forrest Gump yang membawanya menang piala Oscar.

Film terbaru Zemeckis, The Walk mungkin menjadi contoh yang paling representatif dari dua sisi tersebut. Film ini mengambil kisah nyata sederhana namun sensasional, seorang seniman wire walk (berjalan di atas seutas tali di ketinggian tertentu) yang melakukan aksi menyeberangi menara kembar World Trade Center (WTC) di New York, AS pada tahun 1974. Berhubung gedung WTC sekarang sudah lenyap, teknologi visual effects yang canggih akhirnya dimanfaatkan. Haslinya, kisah sederhana ini tetap terkesan sensasional meskipun peristiwa aslinya sudah berumur empat dekade.

Seniman wire walk Prancis, Philippe Petit (Joseph Gordon-Levitt) terobsesi untuk bisa membentangkan seutas kabel di antara puncak menara kembar WTC, melakukan aksi wire walk di atasnya di ketinggian 417 meter, dan tanpa izin—karena menurutnya di situlah salah satu nilai seninya. Obsesinya tak setengah-setengah. Ia mulai dari hal kecil seperti selalu berbicara dalam bahasa Inggris, meningkatkan kemampuannya untuk wire walk, hingga mengumpulkan tim "komplotan" yang dapat melancarkan aksinya.

Perencanaan yang matang harus dibuat oleh Philippe dan timnya agar segalanya berjalan sempurna. Tetapi, semakin mendekati waktu pelaksanaan, berbagai rintangan mulai berdatangan. Dan, kalaupun Philippe akhirnya bisa menginjakkan kakinya di antara menara kembar WTC, ia masih harus berhadapan dengan pihak berwajib atas aksi ilegalnya itu.

Judul The Walk jelas merujuk pada aksi Philippe dalam menyeberangi puncak menara kembar WTC. Sehingga, bisa diduga bahwa aksi ini akan menjadi daya tarik utama dari keseluruhan film ini. Akan tetapi, The Walk rupanya bisa menyiasati agar film ini tidak hanya maksimal di menu utamanya. Pada dasarnya, film ini juga menyorot sosok Philippe sebagai individu yang cukup unik, eksentrik, dan tak membiarkan apa pun menghalangi mimpi-mimpinya.

Seperti watak Philippe—setidaknya yang ditampilkan di film ini, perjalanan hidupnya dituturkan dengan cara yang fun. Mulai dari latar belakangnya sebagai seniman jalanan, cikal bakal obsesinya dengan gedung WTC, proses belajar wire walk, hingga caranya menemukan setiap anggota tim yang mendukungnya, semua itu dituturkan cukup komikal dalam laju yang lincah. Bahkan, sosok Philippe dijadikan narator atas kisahnya sendiri dengan berbicara langsung ke arah penonton, seolah-olah ia tengah membawakan sebuah acara.

Ini mungkin bisa dianggap seolah-olah film ini kurang serius, membuatnya sulit dipercaya bahwa yang ditampilkan adalah kisah nyata. Namun, memang sepertinya tujuan film ini bukan untuk menampilkan kisah nyata dengan cara senyata mungkin, melainkan lebih menonjolkan sensasi yang muncul dari memori Philippe atas semua itu. Contoh paling jelas, penonton akan tahu benar aksinya itu berbahaya bahkan mulai dari perencanaannya, namun film ini juga terus memancarkan optimisme Philippe, bahwa ia melakukannya dengan hati gembira. Lagipula, keseluruhan cerita film ini memang dituturkan langsung dari sudut pandang Philippe.

Akan tetapi, tak dipungkiri bahwa aksi Philippe di WTC menjadi bagian puncak film ini, dan memang paling mengundang decak kagum. Film ini sukses mereka ulang langkah demi langkah Philippe di atas kabel dengan sangat dramatis dan menegangkan, menggambarkan apa yang dirasakan Philippe beserta risiko yang harus dihadapinya saat itu. Visual effects yang berhasil "mengadakan" kembali gedung WTC dan lingkungan sekitarnya dengan detail dan tampak nyata, benar-benar turut andil atas sensasi hebat yang ditimbulkan di bagian ini.

Bila diibaratkan, aksi wire walk di WTC di film ini adalah atraksi utama sebuah pertunjukkan, dan lainnya adalah pelengkapnya. Namun, pelengkapnya pun cukup mampu menopang atraksi utamanya dengan sepadan. Sebagaimana disinggung sebelumnya, cara tutur yang komikal berhasil menjaga mood film ini sehingga tetap dinamis. Penantian atraksi utamanya—yang terjadi sekitar sepertiga akhir durasi—tetap dibuat menyenangkan dengan tuturan kisah hidup dan gambaran diri Philippe yang tak kalah menarik dari aksinya itu. Dan, sebagai puncaknya, sekalipun hampir semua orang sudah tahu bahwa aksi wire walk di WTC di film ini adalah hasil rekayasa teknologi, kesan yang dapat diambil tetaplah nyata, bahwa aksi Philippe ini memang gila.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Rabu, 14 Oktober 2015

[Movie] 3 (2015)


3
(2015 - FAM Pictures/MVP Pictures)

Directed by Anggy Umbara
Written by Fajar Umbara, Bounty Umbara, Anggy Umbara
Produced by Arie Untung
Cast: Cornelio Sunny, Abimana Aryasatya, Agus Kuncoro, Prisia Nasution, Tika Bravani, Piet Pagau, Donny Alamsyah, Teuku Rifnu Wikana, Arswendy Nasution, Cecep A. Rahman, Bima Azriel, Verdi Solaiman, Rangga Djoned, Tanta Ginting, Egi Fedly


Apa definisi film yang berani? Di Indonesia, bisa jadi ada yang mengartikannya dengan menampilkan hal-hal yang tabu, seperti seksualitas, kekerasan, atau pandangan yang kurang populer. Atau, mungkin ada yang mengartikannya berani keluar biaya besar untuk memproduksi sebuah film terlepas dari risiko bisnisnya. Tetapi, film 3 (Tiga) garapan Anggy Umbara mengingatkan bahwa ada satu lagi jenis keberanian yang selama ini jarang tersentuh: berani berimajinasi. Genre "laga futuristis" yang disematkan untuk film ini saja sebenarnya sudah cukup menegaskan itu.

Film 3 langsung memberikan gambaran perubahan yang terjadi di Indonesia selama 20 tahun ke depan. Sebagai respons terhadap berbagai perseteruan antarkubu agama dan pengeboman tempat-tempat umum, perburuan terhadap gerakan radikal agama semakin gencar oleh aparat negara, bahkan banyak dari mereka dieksekusi tanpa proses pengadilan. Di saat hampir bersamaan, timbul gerakan baru untuk menegakkan hak asasi manusia dalam setiap aspek.

Revolusi pun terjadi di Indonesia pada tahun 2036, dengan prinsip menunjung tinggi HAM dan kebebasan. Perdamaian tampaknya mulai tercipta. Senjata tajam dilarang, sehingga aparat hanya mengandalkan peluru karet dan keahlian bela diri, silat menjadi hal yang lumrah di masyarakat. Media menyorot gerak-gerik aparat agar tidak kecolongan melakukan pelanggaran HAM. Di sisi lain, ruang untuk kegiatan beragama semakin sempit, menjalankan ibadah telah dianggap tabu, bahkan tempat-tempat komunitas agama dianggap sarang terorisme.

Di sinilah tokoh Alif (Cornelio Sunny), Herlam (Abimana Aryasatya), dan Mimbo (Agus Kuncoro) ditempatkan. Mereka adalah tiga sahabat dari perguruan silat yang sama sewaktu remaja, namun revolusi mengubah segalanya. Perguruan silat mereka ditutup, dan ketiganya memilih jalan hidup masing-masing. Alif menjadi aparat detasemen antiteror yang bertekad memberantas kriminalitas dan terorisme apa pun bentuknya. Herlam menjadi seorang jurnalis di sebuah media liberal dengan tetap memegang idealismenya. Sementara Mimbo menjadi seorang ustaz di sebuah pondok pesantren yang terus dalam pengawasan negara.

Tiba-tiba, sebuah bom meledak di sebuah kafe dan menewaskan puluhan orang. Kasus ini mempertemukan Alif, Herlam, dan Mimbo dalam sebuah misteri yang mengancam mereka. Kecurigaan bahwa pengeboman ini dilakukan kelompok radikal agama membuat Alif harus berhadapan dengan Mimbo. Herlam pun terusik untuk mencari kebenaran di balik kasus ini, sekaligus berusaha menjaga agar kedua sahabatnya ini tak saling bertarung. Sedikit demi sedikit misteri tersingkap, mereka bertiga semakin menyadari bahwa kasus ini melibatkan sesuatu yang lebih besar.

Sejauh ini, mungkin baru film 3 yang berani menyajikan cerita dengan latar Indonesia jauh di masa depan, lengkap dengan perubahan keadaannya. Tidak berlebihan jika mengatakan bahwa kehadiran film 3 merupakan sebuah penyegaran. Tetapi, yang lebih utama dari sekadar mengaplikasikan latar waktunya, adalah merancang setiap detail dari dunia dan masa yang belum terjadi tersebut agar believable. Film 3 berhasil mengatasi itu.

Film 3 menampilkan Indonesia yang telah menjunjung nilai-nilai liberal setelah revolusi. Ini memang bukan sepenuhnya sebuah fantasi, karena sudah terjadi di dunia sekarang ini, hanya saja mungkin belum di Indonesia. Tetapi, film 3 berhasil memindahkan keadaan itu sehingga masuk akal dalam konteks bangsa Indonesia. Caranya? Lihat ke sejarah.

Di Indonesia, sudah pernah ada momen-momen yang mengubah tatanan kehidupan bangsa ini secara drastis—misalnya peristiwa 1965 dan 1998, sehingga bukan tidak mungkin hal semacam itu bisa terjadi lagi. Jika sekarang orang Indonesia lebih banyak yang mengaku beragama daripada yang tidak, siapa yang menjamin keadaan tidak bisa berbalik di masa depan?

Tidaklah salah apabila ada yang akan menganggap film ini sebagai ramalan yang amit-amit terjadi, dan membawa pesan bahwa sepatutnya ajaran agama tetap dijalani sekalipun mendapat tekanan. Hal ini diteguhkan dengan ketiga karakter utama yang masih memegang ajaran Islam—walau dalam kadar berbeda-beda. Bahkan, nama panggilan mereka adalah Alif, Lam, dan Mim, berdasarkan tiga huruf pertama dalam beberapa surat di Al-Qur'an yang tidak diketahui maknanya. Namun, bukan cuma itu yang bisa digali di film ini.

Misalnya, jika diperhatikan, film ini sebenarnya tidak mengantagonisasi nilai-nilai liberal, yang biasanya dianggap "musuh" dari nilai-nilai agama konvensional. Liberalisme di sini bukan dianggap sebagai paham yang menerapkan kebebasan, tetapi lebih sebagai sebuah kelompok yang menjadi mayoritas. Ini bisa diartikan sebagai gambaran keadaan yang terus berulang terjadi di kehidupan masyarakat mana pun di dunia, bahwa apa pun pahamnya, ada kecenderungan kelompok mayoritas akan menekan minoritas dan menganggap sikap itu hal yang wajar, baik dalam hal pemikiran maupun keberadaan secara fisik.

Itu pun bukan hal yang tersirat, sebab beberapa kali pandangan ini diungkapkan secara gamblang dalam dialog. Film 3 memang terbilang penuh dengan komentar-komentar verbal tentang agama, politik, sosial, hukum, media, teknologi, teori konspirasi, bahkan cinta, dan untungnya tidak datang dari satu sudut pemikiran saja. Pengujaran-pengujaran gamblang ini memang selalu muncul di film-film garapan Anggy Umbara (Mama Cake, Coboy Junior The Movie, Comic 8). Namun, di film 3 semua itu ditampilkan paling sesuai dengan fungsinya, baik untuk mendeskripsikan karakter, ataupun menggerakkan plotnya.

Jika plot film ini menghadirkan konsep satu masalah dari tiga sudut pandang tokoh-tokohnya, maka prinsip itu juga muncul dalam penuturannya. Itu sebabnya di awal film ada anjuran untuk menonton film ini sampai akhir, supaya penonton tidak salah sangka dengan apa yang ingin disampaikan. Contohnya, film ini menampilkan tokoh-tokoh yang secara gamblang mengucapkan kalimat yang menyudutkan agama, tetapi pada akhirnya film ini bisa juga dipandang pro-agama. Film ini bisa dianggap mengisahkan dystopian future,bisa juga tidak—tergantung ada di pihak yang mana. Film ini bisa dianggap bercerita tentang kebaikan melawan kejahatan, tetapi yang kemudian bergulir adalah pertarungan antara pihak-pihak yang sama-sama merasa berhak menciptakan perdamaian.

Yang pasti, segalanya tidak ditampilkan dalam dimensi yang tunggal, dan itu juga yang jadi salah satu bentuk keberanian dan kenekatan film ini. Mungkin yang agak sulit dilakukan adalah menganggap film ini hanya sekadar film laga dengan deretan adegan pertarungan. Sebab, justru cerita dan karakterisasinya yang lebih menonjol, kendati adegan laganya tidak sedikit.

Materi cerita yang cukup gemuk membuat tim produksi harus mengeksekusi adegan-adegannya semenarik mungkin dengan berbagai teknik, dan para penyunting harus bekerja keras membuat laju cerita ini tetap terjaga dari awal hingga akhir. Untuk bagian ini, film ini sudah menjalankannya dengan cukup baik. Penuturan plot maupun karakterisasinya ditampilkan nyaris tanpa celah, didukung dengan permainan para aktor dan aktris yang berhasil tampil menonjol, sekalipun yang porsinya hanya sebentar.

Di sisi lain, gaya penggarapan adegan-adegan laga yang sangat terpengaruh film-film action era milenium dari The Matrix hingga The Raid—lengkap dengan interupsi slow motion, juga disajikan dengan rancangan dan eksekusi yang serius. Hanya saja, tidak semuanya berhasil dalam tahap maksimal. Kualitas visual effects, tata suara, dan hasil proses visual antara yang satu dengan yang lain kerap terlihat tidak konsisten. Padahal, kualitasnya tampak bisa ditingkatkan seandainya punya biaya yang lebih besar, atau waktu yang lebih lama. Tetapi, paling tidak hal-hal teknis tersebut masih sanggup berfungsi sebagai penopang ceritanya yang berhasil tetap jadi sorotan utama.

Film 3 memang terbilang nekat dalam berbagai segi. Dari idenya, pemilihan genrenya, penulisan cerita dan dialognya, gaya visualnya, sampai pemanfaatan bujet dan waktu yang konon terbatas untuk membuat sebuah film dengan skala seperti ini. Film 3 pada akhirnya tidak hanya berhenti di ide yang berani beda, tetapi jadi tontonan dengan cerita dan eksekusi yang digarap cermat, komunikatif, serta dengan bonus nilai-nilai hiburan dan pemikiran, sebuah paket yang jarang ditemukan dalam film Indonesia sejauh ini.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Minggu, 11 Oktober 2015

[Movie] The Martian (2015)


The Martian
(2015 - 20th Century Fox)

Directed by Ridley Scott
Screenplay by Drew Goddard
Based on the novel by Andy Weir
Produced by Simon Kinberg, Ridley Scott, Michael Schaefer, Aditya Sood, Mark Huffam
Cast: Matt Damon, Jessica Chastain, Jeff Daniels, Chiwetel Ejiofor, Kristen Wiig, Kate Mara, Michael Peña, Sebastian Stan, Aksel Hennie, Sean Bean, Mackenzie Davis, Donald Glover, Benedict Wong


Dari permukaan, film The Martian tampak begitu megah. Film ini berlatar luar angkasa, disutradarai oleh sineas kawakan Ridley Scott (penggarap Alien, Blade Runner, Gladiator, Black Hawk Down, hingga Exodus: Gods and Kings), dan dibintangi pemain-pemain andal Hollywood seperti Matt Damon, Jessica Chastain, Sean Bean, Chiwetel Ejiofor, Kate Mara, Kristen Wiig, hingga Jeff Daniels. Kemegahan itu memang benar ada, tapi siapa sangka film dengan premis yang cukup depresif ini diperkaya dengan keceriaan dan humor.

Misi ekspedisi Ares 3 pimpinan Kapten Melissa Lewis (Jessica Chastian) mengalami masalah. Badai hebat menghentikan penelitian mereka di permukaan planet Mars, para awak pun diperintahkan untuk berangkat dari Mars dan pulang ke bumi. Namun, ahli botani Mark Watney (Matt Damon) terseret badai dan menghilang. Awak Ares 3 pun berjalan pulang ke bumi tanpanya.

Ketika badai berlalu, Watney ternyata masih hidup, dan langsung menyadari ia ditinggal sendirian di planet tak berpenghuni. Meski demikian, ia tak patah semangat. Ia bertahan hidup di kamp yang sedianya dipakai oleh para awak Ares 3 selama di Mars. Mengandalkan peralatan yang ada dan kemampuan sebisanya, Watney harus bertahan hidup sembari berharap datangnya pertolongan.

Di sisi lain, pihak NASA di bawah pimpinan Teddy Sanders (Jeff Daniels) harus menghadapi tekanan publik tentang kegagalan misi Ares 3, terutama dengan Watney yang diduga tewas, sementara awak lain sedang dalam perjalanan pulang ke bumi. Akan tetapi, NASA menangkap sebuah sinyal yang membuktikan Watney masih hidup. Upaya untuk bisa berkomunikasi dengan Watney dan membawanya pulang pun mulai digalakkan. Tetapi, jarak bumi dan Mars yang sangat jauh membuat waktu untuk menyelamatkan Watney lebih panjang daripada waktu yang dipunyai Watney untuk bisa bertahan hidup di Mars.

The Martian jelas bukan seperti film Gravity yang dirancang sebagai sebuah suspense. Bukan pula seperti Interstellar yang melankolis dan rumit (film yang disebut terakhir juga menampilkan Damon dan Chastain) dengan detail teori-teori fisikanya. Diangkat dari novel karya Andy Weir menjadi skenario oleh Drew Goddard, The Martian lebih memilih jalur yang bisa dibilang lebih ringan.

Film ini berjalan dalam dua jalinan cerita yang berkesinambungan, yaitu Watney berusaha bertahan hidup di Mars, dan para ahli di NASA yang memikirkan cara untuk menyelamatkannya. Tidak ada alien, tidak ada tokoh jahat, dan tidak ada horor selain bahwa Mars belum bisa menopang kehidupan manusia. Film ini memang sesederhana itu.

Namun, The Martian tetap berhasil menjadi sebuah tontonan memikat, terutama berkat karakterisasi dari Watney. Sejak awal, Watney digambarkan sangat cerewet, dan rupanya itu sangat bermanfaat saat ia harus tinggal sendirian di planet asing. Optimisme dan selera humornya berhasil mendorongnya untuk lebih kreatif untuk bertahan hidup. Dengan merekam dalam video log, Watney mencurahkan segala kegiatannya di sana, mulai dari merintis kebun kentang, mencari cara berkomunikasi dengan NASA dengan peralatan tua, sampai mengkritisi selera musik kapten Lewis.

Lebih menarik lagi, setiap menemukan kesulitan, ia selalu mengucapkan "fortunately", karena selalu ada sesuatu yang bisa menolongnya saat itu. Kepribadiannya itulah—beserta akting Damon yang mumpuni—yang membuat sosok Watney mudah menarik kepedulian penonton terhadap nasibnya. Dan, itu pula yang membuat durasi film yang mencapai 2 jam 20 menit ini tetap hidup.

Bukan berarti film ini tak menyimpan keseriusan. Ramuan drama survival Watney dan kerja keras NASA untuk menyelamatkan Watney—yang tak selalu temukan titik terang—tetap menjadi pegangan utama film ini. Hanya saja, cerita itu bisa menyatu dengan dialog-dialog jenaka yang diujarkan para tokohnya tanpa harus jatuh jadi konyol.

Langkah demi langkah cerita film ini pun dituturkan dengan lancar tanpa menimbulkan pertanyaan. Ini berbeda drastis dengan film luar angkasa garapan Scott sebelumnya, Prometheus yang penuh misteri dan perenungan. Masuknya terapan sains yang cukup akurat juga berhasil disampaikan film ini tanpa harus jadi membingungkan, sekalipun film ini tetap masuk dalam kategori fiksi ilmiah—karena sampai sekarang belum memungkinkan mengirim misi berawak manusia ke Mars.

Daya pikat dari cerita dan karakter The Martian kemudian dipoles dengan kelengkapan teknis audio visual yang nyaris tanpa cela. Ditambah lagi, Scott sebagai sutradara tidak kehilangan taji untuk menyajikan adegan-adegan menegangkan pada saat-saat yang diperlukan. Hasilnya, The Martian menjadi sebuah suguhan film yang tak hanya megah skalanya, tetapi juga menghibur, membumi, serta memberikan optimisme seperti halnya Watney di film ini.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Jumat, 09 Oktober 2015

[Movie] Black Mass (2015)


Black Mass
(2015 - Warner Bros.)

Directed by Scott Cooper
Screenplay by Mark Mallouk, Jez Butterworth
Based on the book by Dick Lehr, Gerard O'Neill
Produced by John Lesher, Brian Oliver, Scott Cooper, Patrick McCormick, Tyler Thompson
Cast: Johnny Depp, Joel Edgerton, Jesse Plemons, Peter Sarsgaard, Benedict Cumberbatch, Kevin Bacon, Dakota Johnson, Rory Cochrane, Adam Scott, Corey Stoll, Julianne Nicholson, Juno Temple


Johnny Depp lagi-lagi didandanin tidak seperti dirinya di film biografi Black Mass. Konon yang diperanin Depp, James 'Whitey' Bulger ini salah satu sosok mafia Irlandia terbesar di Boston era 1980-an, rambut putih, mata biru, botak di depan, buncit, nggak kayak Depp sama sekali. Karena itulah, demi sedikit memberi otentisitas, si Depp dibikin agak mirip sama tokoh aslinya, which I think is riddiculous, karena muka Depp itu udah terlanjur muda selamanya, mau ditua-tuain jelek ya akan susah. Gw rasa juga makeup effects-nya di sini agak kurang sih, aneh aja, kayak baru separuh selesai. Tapi ya sudahlah, mari bahas filmnya.

Black Mass ini menyusun plotnya tidak semata-mata perjalanan hidup si Bulger, tapi lebih ke sepak terjangnya dari sudut pandang John Connolly (Joel Edgerton), temen sekompleksnya Bulger waktu kecil tapi sekarang jadi agen FBI. Intinya sih si John menggunakan keistimewaan posisinya itu untuk menawari Bulger jadi informan FBI demi menjatuhkan mafia Italia. Tapi yang terjadi adalah Bulger yang memanfaatkan John untuk memperluas pengaruhnya. Nah sekarang jadi bingung sebenarnya John ini ngebantu FBI atau ngebantu Bulger, yang ternyata dalam diri John ada semacam utang budi waktu kecil dulu.

Kalau gw bikin ringkasan kayak gitu kesannya film ini bukan soal Bulger ya. Tapi nggak juga, film ini menjadikan Bulger sebagai pusat segala problemnya. Dan, sudut pandangnya pun bukan cuma dari John sebenarnya, tapi juga dari tokoh-tokoh lain di sekitar Bulger. Jadi, yang gw tangkep sih film ini jadi ingin menunjukkan berbagai dimensi dari Bulger, mulai dari perangai yang bikin ngeri, kekejaman sama pengkhianat, sampai kepeduliannya sama ibu-ibu lansia.

Buat gw, pemilihan jalan cerita yang nggak standar ini lumayan menarik. Lumayan bisa mengenal sang sosok yang disorot sekaligus seluk beluk pemberantasan kejahatan yang kadang bersifat abu-abu karena terlalu banyak kepentingan. Tapi, sebenarnya sih, sebagai sebuah tontonan, gw agak kurang terhibur sama Black Mass. Tone film ini memang agak sendu dan lajunya pelan, it's fine, cakep, tapi jadinya agak bikin terlena ampe nguap-nguap gimana gitu ^_^;. Well, bisa jadi karena waktu itu gw nontonnya kemaleman abis kerja sih, tapi ya gitu deh, bukan jenis film yang bisa bikin seger. Buat gw penuturannya agak menjenuhkan, adegan laga mencekam pun minim, dan kadang gw hanya ingin cepat-cepat filmnya lompat ke bagian si Bulger ketangkap atau gimana.

Tapi mungkin cantiknya sinematografi dan kecenya akting para pemain bisa lumayan menjaga agar film ini bisa diikuti, dan memang sampai akhir itu yang jadi pegangan gw. Black Mass ini sebenarnya bagus, well-made, informasinya cukup, cuma mungkin bukan film yang I'm crazy about. Dan jujur aja, berhubung jarak nonton sama nulis ulasannya ini agak jauh =p, cukup jarang yang gw bisa ingat dari filmnya selain gambar-gambar oke dan makeup gengges-nya Depp.





My score: 7/10

Sabtu, 03 Oktober 2015

[Movie] Hotel Transylvania 2 (2015)


Hotel Transylvania 2
(2015 - Columbia/Sony Pictures Animation)

Directed by Genndy Tartakovsky
Written by Robert Smigel, Adam Sandler
Produced by Michelle Murdocca
Cast: Adam Sandler, Andy Samberg, Selena Gomez, Kevin James, David Spade, Steve Buscemi, Keegan-Michael Key, Asher Blinkoff, Molly Shannon, Fran Drescher, Mel Brooks


Gw sebenarnya merasa kurang fair mengulas film Hotel Transylvania 2 tanpa menonton film pertamanya. Tapi, ya gimana ya, the whole concept of this franchise aja sebenernya nggak bikin gue tertarik sama sekali, apalagi ada Adam Sandler terlibat *sentimen*. Tapi ya sudahlah, kebetulan gw bisa menyaksikan fim yang keduanya yang untungnya secara plot sebenarnya bisa berdiri sendiri, mungkin gw akan kekurangan referensi background dari karakter-karakternya (yang terdiri dari tokoh-tokoh horor klasik Eropa-Amerika versi lucu), tapi ya itu nggak terlalu masalah juga.

Mungkin gw akan langsung saja mengutarakan kesan yang gue dapat dari film ini, ketimbang menceritakan isi filmnya. Sebab, buat gue isi ceritanya.....nggak penting banget. Oke, well, di atas kertas sebenarnya cukup penting, soal identitas. Jadi si Dracula yang tadinya antimanusia tapi jadi luluh karena sekarang punya menantu manusia, dan cucu blasteran vampir-manusia. Tapi, menurut gue pengembangan ceritanya itu cenderung flat dan penyajiannya pun kayak tidak ber-effort lebih, gw nggak merasakan ada cinematic feel dari sini. Menurut gw penuturannya terlalu sederhana: ada si Drac "nyulik" si cucu biar dilatih jadi vampir sejati, lalu ada anaknya si Mavis yang sowan ke mertuanya yang manusia dan agak "rasis". Tapi ya udah aja gitu doang, selipin humor kecil-kecilan sana sini dan selesai. 

Di sisi lain kalau mengatakan film ini jelek ya nggak juga. Paling enggak dari presentasi visual dan animasi film ini masih oke, cerah ceria lucu menggemaskan gimana gitu. Beberapa humor juga masih terbilang lucu, walau nggak pake banget. Ya untung bagi yang memang cocok dengan humornya minimal bisa terhibur, mereka yang nggak cocok ini yang kasihan. Cerita nggak membekas, terhibur pun nggak. Tapi kalau buat anak-anak sih film ini cenderung mudah sekali dicerna terutama karena visualnya oke.

Entahlah, gw merasa film ini ada hanya untuk hore-hore aja, nggak ada ambisi apa-apa selain berharap bisa laku di pasaran dan balik modal biar studionya bisa bikin film lagi--berhubung film pertamanya termasuk sukses di box office. Dan tentu saja perusahaan Sony menggunakan film ini untuk mempromosikan unit usaha yang lain seperti smartphone Xperia dan lagu-lagu (yang sangat gengges) dari Fifth Harmony. Ngelihat itu gw cuma pikir....bener-bener ya yang bikin film nih nggak serius deh, pantes dampaknya nggak membekas sama sekali. Tapi ya udahlah, untung masih watchable dan nggak busuk-busuk amat kemasannya.





My score: 6/10