Senin, 28 September 2015

[Movie] 3 Dara (2015)


3 Dara
(2015 - MNC Pictures)

Directed by Ardy Octaviand
Screenplay by Nataya Bagya
Story by Ardy Octaviand
Produced by Toha Essa, Rina Harahap
Cast: Adipati Dolken, Tora Sudiro, Tanta Ginting, Rianti Cartwright, Ayushita, Melayu Nicole Hall, Shara Virrisya, Farali Khan, Lembu Wiworojati, Hengky Solaiman, Melissa Karim, Indra Birowo


Jika judul dan premis film ini terdengar membingungkan, well, emmmang. 3 Dara (instead of the classic movie Tiga Dara) adalah sebuah film komedi tentang tiga pria--iya, pria--yang mengalami perubahan menjadi wanita. Well, di situ sih nggak membingungkan, justru menarik sebenarnya. Kebingungan itu justru datang setelah gw nonton dan mencoba menalar ceritanya, karena ketiga pria ini tidak "berubah" jadi wanita, tapi "punya perasaan wanita", sedangkan yang lain-lainnya tetap bersifat laki-laki, mulai dari tampilan sampai preferensi seksualnya. Bingung? Sama.

Gw sebenarnya membaca ada ide yang sebenarnya menarik di film ini tapi akhirnya ditahan-tahan di hasil akhirnya supaya menghindari kesan stereotipikal. Jadi, tiga orang pria metropolis bersahabat, sayangnya tidak dijelaskan bersahabatnya kenapa dan bagaimana, yang pasti mereka sama-sama brengsek sama wanita. Suatu kali mereka nggangguin seorang pelayan cewek bersuara lucu, terus di-"kutuk" akan merasakan apa yang dirasakan wanita. Besoknya, mereka jadi selalu merasa gendut, berani ngajak kawin, risih melihat foto perempuan sensual, gregetan nungguin miscall pacar sembari bikin teori yang nggak-nggak, dan karaoke centil lagu Raisa di mobil bareng-bareng. Seorang psikolog langsung mendiagnosis mereka sedang alami transisi menjadi wanita, dengan kemungkinan pada akhirnya nanti mereka akan berniat operasi kelamin.

I don't know, ada yang kurang dari sini. Gw nggak yakin bahwa apa yang digambarkan dari film benar-benar mewakili perubahan pria ke wanita. Kayaknya sih emang niatnya lebih subtle, emang nggak tiba-tiba mereka jadi kewanita-wanitaan altogether, tapi sayangnya itu jadi confusing. Gw rasa sih permasalahannya ada di set up awalnya. Gw nggak lihat sifat dan kelakuan khas tiga cowok ini saat jadi pria, sehingga nggak bisa membandingkannya ketika mereka jadi "wanita". Kalau diturunkan lagi, kayaknya masih rancu di sini juga apa sih yang disebut "perasaan wanita" dan "perasaan pria", apa bedanya, dan apakah itu semua valid secara ilmiah, misalnya.

Mungkin yang paling bermasalah di situ adalah karakterisasi dari Richard (Tanta Ginting), yang seriously hampir nggak kelihatan sama sekali bahwa ia sedang bertransisi sebagai perempuan (malah, sebenarnya kisah Richard ini bisa bikin film sendiri tentang cowok brengsek yang tiba-tiba "melanggar batas persahatan" *biar nggak spoiler =p*). That's why gw bilang gw bingung sama film ini. Gw hargai usaha film ini menghindari unsur banci-bancian yang notabene akan lebih sangat gampang dibuat dan dipahami, tapi kayaknya konsep yang dikembangkan ini agak terlalu rumit untuk dibikin jadi sebuah komedi ringan.

Tapi okelah, di tengah kebingungan gw, once in a while film ini masih bisa mencapai tujuannya untuk menghibur. Nggak sampe lucu banget, tapi beberapa humornya masih bisa bikin tersenyum dan tampilan visualnya juga nggak mure-mure amat. Penampilan para pemainnya juga okelah--gw kagum sama betapa naturalnya mbak Shara Virrisya (d/h Shara Aryo) jadi seorang istri rada Banyumasan =D. Other than that, kayaknya gw terlalu terdistraksi sama kebingungan gw terhadap pilihan-pilihan yang diambil film ini dalam ceritanya. Antara mau angkat message sederhana jangan kurang ajar sama perempuan, atau serumit kritik terhadap peran gender di masyarakat, film ini sayangnya hit neither of them. Ya untungnya saja secara kemasan film ini masih punya kelas dan masih menyimpan nilai hiburan.





My score: 6/10

Minggu, 27 September 2015

[Movie] Everest (2015)


Everest
(2015 - Universal Pictures)

Directed by Baltasar Kormákur
Screenplay by William Nicholson, Simon Beaufoy
Produced by Tim Bevan, Eric Fellner, Baltasar Kormákur, Nicky Kentish Barnes, Tyler Thompson, Brian Oliver
Cast: Jason Clarke, Josh Brolin, John Hawkes, Emily Watson, Sam Worthington, Keira Knightley, Michael Kelly, Elizabeth Debicki, Martin Henderson, Jake Gyllenhaal, Robin Wright, Thomas M. Wright, Ingvar Eggert Sigurðsson, Naoko Mori, Ang Pula Sherpa


Judul Everest, yang notabene nama puncak tertinggi di dunia, mengesankan bahwa film garapan Baltasar Komákur ini haruslah tampil megah dan grand. Apalagi, film ini menampilkan aktor-aktris Hollywood bereputasi tinggi, dan mengangkat sebuah peristiwa nyata tentang tragedi yang melanda sejumlah pendaki Everest pada tahun 1996. Dengan demikian, tak salah bila timbul ekspektasi bahwa mungkin film ini akan lebih engaging dari film-film bertema serupa yang kisahnya fiktif, seperti Cliffhanger (1993) atau Vertical Limit (2000). Tetapi, kenyataannya tidak selalu demikian.

Film ini berfokus pada sebuah kelompok pendakian gunung Everest, pegunungan Himalaya, Nepal yang memakai jasa pemandu Adventure Consultants pimpinan Rob Hall (Jason Clarke) asal Selandia Baru. Rob memimpin tim pemandu dan pelatihan untuk para pendaki amatir dari berbagai bangsa dan profesi. Niat sederhana para pendaki untuk menyentuh titik puncak tertinggi di bumi memang butuh persiapan panjang, bahkan lebih dari satu bulan. Namun, segala persiapan yang dilakukan seakan tak cukup ketika pada hari pendakian yang ditunggu-tunggu, kondisi alam berbicara lain.

Everest pada dasarnya adalah film yang baik. Film ini menuturkan sebuah kisah nyata yang tragis dengan sensitivitas, informatif, dan dikemas dengan nilai produksi tinggi. Film ini terbilang mendetail dalam mendeskripsikan situasi pendakian ke Everest. Segala macam tahapan latihan, hal-hal yang perlu dipersiapkan para pendaki, sulitnya medan, pengaturan pengamanan, hingga kenyataan bahwa tidak semua pendaki sanggup sampai ke puncak—ataupun kembali pulang—dengan berbagai alasan, digambarkan dengan begitu lancar di sini.

Jika mendaki Everest di kenyataan memang sangat berat dan penuh risiko, film ini sudah menyampaikan informasi itu dengan baik. Kualitas audio visual yang mumpuni—khususnya production design dan visual effects, berhasil mendukung gambaran dari situasi-situasi tersebut sehingga tampak meyakinkan.

Film Everest juga seperti berniat membuat rekonstruksi ulang sekaligus pemeriksaan terhadap penyebab tragedi 1996 yang menjadi poin utama film ini. Cuaca ekstrem, kondisi beberapa peserta, dan membludaknya jumlah pendaki—yang berimbas pada manajemen jalur pendakian dan perlengkapannya, ditekankan sebagai penyebab utama dari tewasnya sejumlah pendaki saat itu. Dituturkan cukup detail secara kronologis, bagian ini pun menjadi nilai tambah tersendiri dari film ini.

Namun, ketika kekuatan film Everest ada dalam menggambarkan kondisi dan penuturan kronologi peristiwa, film ini justru loyo dalam menimbulkan dinamika antar karakternya. Memang benar bahwa film ini menyorot beberapa tokoh dengan watak yang cukup kuat, seperti Jan (Keira Knightley) yang adalah istri Rob, pengurus base camp Helen (Emily Watson), miliuner AS Beck Weathers (Josh Brolin) dan istrinya Peach (Robin Wright), tukang pos Doug Hansen (John Hawkes), jurnalis Jon Krakauer (Michael Kelly), hingga pendaki profesional yang memimpin kelompok lain, Scott Fischer (Jake Gyllenhaal). Tetapi, nyaris tidak ada gejolak berarti di antara mereka.

Terbaca ada kecenderungan film ini ingin netral terhadap para tokohnya, berhubung semuanya berdasarkan tokoh nyata, dan menghindari fiksionalisasi terlalu banyak, misalnya mengantagonisasi tokoh tertentu ataupun menambahkan unsur humor. Dan, mungkin kecenderungan itu pula yang jadi penyebab interaksi para tokoh sangat datar. Para tokoh ini hanya menarik secara individual dengan kisah-kisahnya, tak diperkaya dengan interaksi dengan tokoh lain. Jika ada yang benar-benar disorot, mungkin hanya hubungan Rob dan Jan yang diolah emosional, sekalipun penyajiannya tidak istimewa.

Karena itu, dari segi cerita Everest lebih terlihat seperti sebuah reka ulang di sebuah program acara dokumenter di National Geographic Channel atau Discovery Channel, ketimbang sebuah film yang dramatis yang menguras emosi. Dengan penyajiannya yang sangat lempeng itu, film ini mungkin tidak akan mendapat perhatian besar seandainya pemerannya bukan aktor-aktris Hollywood kelas A. Keterbatasan ruang karakterisasi pun agak menghambat para pemain ini untuk tampil maksimal, walaupun tak satu pun yang bermain buruk.

Akan tetapi, sekali lagi, Everest tetap sebuah film yang baik bila dilihat bahwa film ini mencoba menuturkan selengkap mungkin tentang sebuah peristiwa nyata. Unsur emosi dan thrill mungkin agak dikorbankan, tetapi film ini tetap berhasil dalam menyampaikan gambaran kondisi dan informasi tentang apa yang perlu diketahui dari tragedi ini, dalam bentuk film naratif. Jika ternyata niat pembuat filmnya adalah tidak membuat dramatisasi berlebihan, maka film ini sudah melakukan tugasnya. Namun, untuk menjadi sebuah tontonan yang bernilai hiburan, film ini masih kurang menggigit.





My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Jumat, 25 September 2015

[Movie] Heart Attack (2015)


ฟรีแลนซ์..ห้ามป่วย ห้ามพัก ห้ามรักหมอ (Freelance...Hâam Bpùay, Hâam Pák, Hâam Rák Mŏr)
Heart Attack
(2015 - GTH)

Written & Directed by Nawapol Thamrongrattanarit
Produced by Jira Maligool, Wanruedee Pongsittisak, Chenchonnanee Soonthonsaratul, Suwimol Techasupinan, Weerachai Yaikwawong
Cast: Sunny Suwanmethanon, Davika Hoorne, Violette Wautier, Nottapon Boonprakob, Torpong Chantabubpha


Film Heart Attack resmi menjadi film Thailand pertama yang gw tonton di bioskop. Iye iye, I know, kenapa baru sekarang. Film Thailand sebenarnya udah mengalir lancar di bioskop kita (jaringan Blitz sih) sejak beberapa tahun lalu, tapi somehow memang belum menarik minat gw aja. Film ini juga tadinya nggak menarik-menarik amat buat gw, tetapi ya akhirnya gw berkesempatan nonton dan menemukan bahwa film ini di luar ekspektasi gw, dan mungkin di luar ekspektasi banyak orang. Setahu gw film-film Thailand yang masuk sini kebanyakan film hore-hore--komedi romantis konyol dan sebagainya, tapi Heart Attack ini sepertinya bukan masuk kategori itu, baik dari depth ceritanya maupun gaya penyajiannya.

Seorang freelance graphic designer bernama blablabla tapi panggilannya Yoon (Sunny Suwanmethanon)--suku kata yang sebenarnya nggak ada dalam namanya, tapi ya I guess it's a Thai thing--yang lagi banyak orderan dan hidupnya nggak sehat, terpaksa harus ke dokter karena mulai muncul bentol-bentol di tubuhnya. Karena rumah sakit swasta mahal dan Yoon sebagai freelancer nggak punya asuransi, dia akhirnya datang ke rumah sakit umum, dan diperiksa oleh dokter muda cantik yang dipanggil Im (Davika Hoorne). The first problem, semua saran dokter untuk sembuh sangat bertentangan dengan kebutuhan Yoon sebagai seorang freelancer yang harus meet the deadline dengan hasil maksimal. Kalau performa menurun karena dia break atau apa, ada kemungkinan dia nggak bisa dapat orderan sebanyak sekarang. The second problem, Yoon naksir Im yang orangnya juga ramah, tapi kalau ketemu harus sesuai perjanjian kontrol pemeriksaan sebulan sekali.

Kalau mau dibilang komedi romantis, Heart Attack bisa masuk kategori itu, bisa juga nggak. Karena, unsur komedi dan romantisnya itu nggak selalu beririsan di sini. Film ini lebih ke character-driven comedy, yang komedinya pun lebih ke dark comedy, sementara romannya lebih sebagai motivasi saja. Gw melihat skenario ini memang lebih menitikberatkan pada pergumulan Yoon sebagai seorang freelancer yang dipaksa menata ulang prioritas hidupnya. Bahwa dia juga digambarkan antisosial, ngomongnya matter-a-fact nggak mikirin perasaan orang, dan tahunya hanya kerja, membuat karakter ini semakin menarik. Untungnya juga, karakterisasi Yoon tidak terlalu komikal, malah cenderung natural, nggak berusaha keras untuk melucu, sekalipun tindak-tanduknya kadang nyeleneh. Kelucuan film ini justru hadir dari dialog yang witty, dan somehow tidak terdengar konyol sekalipun diujarkan dalam bahasa sono *eh? maksudnya? =p*.

That being said, sosok di luar Yoon benar-benar hanya penyanggah saja. Bahkan Im yang tampil di poster porsinya terbilang lebih sedikit dibandingkan liaison-nya Yoon, Je (Violette Wautier). Tapi, bukan berarti momen-momen Yoon bareng Im nggak signifikan sama sekali. Masih dengan gaya yang mengalir natural, romansanya tetap bisa muncul sekalipun tindakan mereka hanya ngobrol konsultasi dan pemeriksaan. Bagian ini sebenarnya mengingatkan gw sama salah satu dorama Jepang, Kekkon Dekinai Otoko/He Who Can't Get Married--yang kalau nggak salah pernah disadur Korea juga, tapi Heart Attack menurut gw tidak seeksentrik itu, dan mungkin lebih pas aja sama latar sosial budaya modern Thai saat ini *sok tahu*. 

Tapi, mungkin yang paling menarik perhatian gw dari Heart Attack adalah gaya penyajiannya yang gw nggak sangka datang dari sebuah film mainstream. Gw melihat ada sentuhan artsy dari film ini, khususnya dari pengambilan gambarnya. Semua gambar diambil dengan kamera secara hand-held dan banyak sekali adegan yang one take dengan kameranya gerak terus di dalam ruangannya. Adegan-adegan dan dialognya dibiarkan mengalir tapi tepat sesuai cue dan menurut gw itu cukup impressive buat sebuah film yang "dijual" sebagai komedi romantis. Ada vibe yang beda tapi juga nggak terlalu alienating.

Gw siap banget untuk memberi ponten bagus untuk film ini, cuman sayang film ini agak mulai terbawa suasana ketika menjelang akhir mulai terlalu kontemplatif yang makan durasi, padahal bisa aja di-cut dengan hasil ending yang sama. Tapi, yah, karena film ini udah mengangkat kisah yang oke dengan gaya penyajian yang oke juga, bagian itu nggak terlalu bikin nge-drop sih. Informatif, bisa bikin ketawa, dan bisa juga bikin mikir *tentang motivasi bekerja, misalnya* tanpa harus nge-judge apa yang benar dan yang salah. Heart Attack mungkin nggak bikin gw jantungan saking bagusnya, tapi minimal udah mencolek perhatian gw.




My score: 7,5/10

Kamis, 24 September 2015

[Movie] Bidadari Terakhir (2015)


Bidadari Terakhir
(2015 - Ganesa Perkasa Films/Im-a-gin-e)

Directed by Awi Suryadi
Screenplay by Priesnanda Dwisatria, Fauzan Adisuko
Based on the novel by Agnes Davonar
Produced by Chetan Samtani, Mashal Kishore, Dheeraj Kishore
Cast: Maxime Bouttier, Whulandary Herman, Stella Cornelia, Ikang Fawzi, Julian Jacob, Meirayni Fauziah, Ayu Diah Pasha, Monica Oemardi, Totos Rasiti


Dalam genre drama roman, seakan ada konvensi bahwa hanya ada dua jalan untuk mengakhirinya: bahagia atau sedih. Untuk akhir sedih, cara paling umum yang dilakukan adalah dengan membuat salah satu tokohnya meninggal, entah tiba-tiba karena tragedi, atau perlahan karena penyakit. Di film Indonesia, mungkin sudah hampir tak terhitung film yang mengangkat kisah cinta tragis karena salah satu tokoh utamanya berakhir meninggal karena penyakit berat. Sebuah formula yang sangat predictable tapi masih sering dilakukan, termasuk di film Bidadari Terakhir garapan Awi Suryadi.

Bukan bermaksud spoiler, tetapi untuk sebuah kisah adaptasi dari novel karya Agnes Davonar (juga menulis Surat Kecil untuk Tuhan, Ayah Mengapa Aku Berbeda, My Last Love, My Idiot Brother), kisah semacam itu bisa dibilang sudah terpola, apalagi ketika unsur penyakit itu disebutkan di sinopsisnya. Secara garis cerita, Bidadari Terakhir juga masih dalam pola yang sama. Kini tinggal masalah apakah film ini akan menuturkan cerita dengan cara dan pola yang predictable juga. Untungnya itu tidak terjadi.

Rasya (Maxime Bouttier) adalah siswa SMA di kota Balikpapan yang lurus-lurus saja. Atas tuntutan ayahnya (Ikang Fawzi), ia sangat fokus dalam sekolahnya demi mewujudkan rencana masa depannya bekerja di bidang migas, dan dia juga tidak keberatan menjalani itu. Namun, suatu malam Hendra (Julian Jacob), sahabat Rasya mengajaknya ke klub malam yang juga pusat pelacuran, dalam rangka merayakan ulang tahun Hendra. Rasya yang tak nyaman memilih untuk menunggu di luar. Dalam situasi yang kikuk, Rasya diajak ngobrol dengan Eva (Whulandary Herman), salah seorang pekerja seks di sana. Pertemuan dengan Eva yang bertuturkata cerdas rupanya berdampak besar bagi Rasya.

Rasya mulai mencari cara agar bisa bertemu lagi dengan Eva, bukan untuk tujuan seksual. Ia mulai dengan membayar Eva untuk menemaninya di kamar hotel untuk belajar. Lama-lama, kebersamaan mereka lebih dari sekadar transaksi, perasan cinta pun muncul. Rasya mulai mencoba membantu Eva, dari membiayai pengobatan ibu Eva (Ayu Diah Pasha), sampai mencarikan pekerjaan baru. Eva sebenarnya tersentuh, tetapi ia juga tidak nyaman dengan sikap Rasya, apalagi dengan kehidupannya yang keras dan rahasia besar yang ia pendam dari orang-orang terdekatnya.

Kembali pada pernyataan di awal, film Bidadari Terakhir terlihat berupaya untuk menyajikan cerita yang sebenarnya sangat klise ini menjadi tidak terlalu predictable, baik dari gaya bertutur maupun teknisnya. Salah satu hal yang paling kentara adalah bagaimana film ini pandai menyembunyikan topik penyakitnya, yang biasanya dipakai jadi jalan pintas untuk menarik simpati penonton sejak awal di film-film sejenis. Di bagian awal memang sempat disinggung desas-desus bahwa tokoh Eva mengidap penyakit sehingga tak banyak pelanggan yang mau menyewanya, tetapi itu tidak sampai mendistraksi ceritanya. Sebagai gantinya, film ini lebih mengutamakan romansa Rasya dan Eva, yang lebih terhalang oleh perbedaan status sosial daripada mengungkit-ungkit soal penyakit.

Dengan jalan demikian, Bidadari Terakhir berhasil lolos dari jeratan tontonan drama roman cengeng yang klise. Ketimbang berusaha memaksa penonton untuk menangis dengan adegan-adegan sedih, film ini lebih memilih jalan agar penonton simpati dengan karakternya, lewat pembangunan karakter yang cukup masuk akal, dan pertukaran dialog yang natural. Film ini ingin menyorot seorang Rasya yang melihat dunia di luar dunianya, dan seakan mendapat dorongan untuk mengikuti kata hatinya lewat pertemuannya dengan Eva. Sementara Eva sendiri berhasil digambarkan sebagai seorang perempuan yang berjuang di tengah kesulitan hidup. Bisa dibilang, film ini juga menyerempet ke cerita coming-of-age, meskipun tidak terlalu digali lebih dalam. Walaupun dari segi cerita keklisean masih (sangat) ada, tetapi setidaknya film ini sudah berupaya untuk tidak menyampaikannya dengan cara biasa-biasa.

Upaya itu juga tercermin dari penyampaian audio visual yang jauh dari sifat melankolis. Awi Suryadi yang sebelumnya sering menggarap film-film beratmosfer urban seperti Street Society dan Viva JKT48, tampaknya juga menerapkan gaya tersebut dalam Bidadari Terakhir. Ketimbang dengan gaya lemah lembut mendayu-dayu, hampir semua gambar di film ini diambil oleh kamera secara hand-held, dan penyuntingannya juga cepat tanpa harus memusingkan. Ditambah lagi, film ini menggunakan tata musik masa kini—gabungan indie rock dan elektronik. Kemasan yang lincah dan dinamis inilah yang mengurangi potensi kejenuhan dari cerita ini.

Film ini sebenarnya masih belum bisa terlepas dari romantisasi hal-hal yang sebenarnya cukup violent—seperti persoalan kemiskinan dan pekerja seks, juga keberadaan 'orang ketiga' yang sebenarnya sangat bisa disingkirkan dari cerita keseluruhan. Akan tetapi, itu masih bisa dimaklumi mengingat film ini tetaplah sebuah produk drama roman dengan target penonton muda. Terlepas dari itu, Bidadari Terakhir tetap sanggup mencapai tujuannya untuk menjadi film drama roman berunsur penyakit mematikan yang cukup berbeda dari biasanya, dan itu perlu diapresiasi.





My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com. 

Selasa, 22 September 2015

[Movie] Assassination (2015)


암살 (Amsal)
Assassination

(2015 - Showbox)

Directed by Choi Dong-hoon
Written by Choi Dong-hoon, Lee Gi-cheol
Produced by Ahn Soo-hyun, Choi Dong-hoon, Kim Sung-min
Cast: Gianna Jun, Lee Jung-jae, Ha Jung-woo, Cho Jin-woong, Choi Duk-moon, Oh Dal-su, Lee Kyoung-young, Park Byung-eun, Cho Seung-woo, Heo Ji-won, Kim Hae-sook



Industri film Korea sudah sampai pada tahap mampu mengangkat cerita apa pun menjadi sebuah tontonan yang appealing bagi banyak orang, sekalipun harus dengan upaya yang besar dan mahal. Film Assassination bolehlah menjadi salah satu buktinya. Sekilas, film ini seperti hendak membawa memori sejarah ketika semenanjung Korea dan negeri China menjadi jajahan Jepang di paruh awal abad ke-20. Namun, pada akhirnya film ini menjadikan action dengan unsur spionase sebagai suguhan utama yang dikemas menghibur oleh sutradara Choi Dong-hoon.

Tema dasar yang diangkat Assassination adalah upaya gerakan kemerdekaan Korea melawan pihak penjajah Jepang dan antek-anteknya. Ketika pergerakan mereka dilemahkan—yang membuat banyak dari mereka tersebar di wilayah luar Korea, maka tindakan ekstrem dilakukan. Dalam film ini, rencana pembunuhan terhadap pemimpin koloni Jepang serta pengkhianat Korea—sebagai sebuah statement bahwa gerakan kemerdekaan masih ada—akhirnya menjadi pilihan.

Berangkat dari konsep tersebut, film ini kemudian bergulir layaknya film spionase dengan kerja tim. Gerakan kemerdekaan Korea mengirim salah satu aktivis terbaiknya, Yeom Sok-jin (Lee Jung-ae) untuk merekrut orang-orang terbaik dari berbagai wilayah untuk menjalankan misi tersebut. Terpillihlah tiga orang, yaitu Ahn Ok-yun (Gianna Jun), Chu Sang-ok (Cho Jin-woong), dan Hwang Deok-sam (Choi Deok-moon) dengan keahlian masing-masing. Tugas Yeom hanya sampai di sana, karena ketiga rekrutan itu kemudian harus menemui Kim Won-bong (Cho Seung-woo) di Shanghai untuk detail misinya.

Ketiga orang ini harus menyusup ke Seoul, membunuh gubernur jenderal Jepang dan pengusaha Korea pro-Jepang, Kang In-gook (Lee Geung-young), dalam upacara pernikahan putra-putri mereka. Ini jelas sebuah misi maut, karena mereka harus masuk di pusat kekuasaan Jepang di Korea. Tapi, itu bukan permasalahan satu-satunya. Di masa kolonial ketika berbagai bangsa membaur, preman, pembunuh bayaran, dan mata-mata juga banyak berkeliaran. Misi pembunuhan ini kemudian mendapat intervensi dari tim pembunuh profesional, Hawaii Pistol (Ha Jung-woo) dan Old Man (Oh Dal-su), dan juga adanya mata-mata untuk Jepang di antara mereka.

Secara garis besar, Assassination adalah sebuah contoh yang berhasil dalam menggabungkan kisah fiksi menghibur dengan latar sejarah yang—mungkin—menimbulkan nasionalisme dari target penontonnya. Dari segi entertainment-nya, cukup jelas terlihat bahwa film ini sangat bersifat modern, dengan menyajikan gabungan laga, thriller, dan humor. Ini tidak jauh berbeda dengan film karya Choi Dong-hoon sebelumnya, The Thieves yang bertema tim perampokan. Hanya saja, kini semua itu ditaruh dalam setting waktu yang lampau.

Penggabungan ini terbilang menarik, karena intensitas dan ketegangannya bisa dibuat setara dengan film-film modern, namun dengan pakaian dan perlengkapan awal abad ke-20. Bahkan kejar-kejaran dengan rickshaw (kereta yang ditarik oleh manusia) bisa seseru adegan serupa dengan sepeda motor di film-film kontemporer.

Di lain pihak, sekalipun mungkin tidak menuturkan peristiwa atau tokoh sejarah sebagai menu utamanya,film ini tidak memperlakukan latar sejarah dengan sekenanya. Beberapa referensi sejarah berhasil dimasukkan dengan set dan efek-efek yang sangat megah dan mewah, serta informasi yang cukup mengenai situasi sosial, politik, serta gerakan kemerdekaan Korea terhadap Jepang pada saat itu. Walau mungkin akan sedikit membingungkan karena pace yang cukup cepat di awal film, secara keseluruhan semuanya itu disampaikan cukup mulus dan terkait erat dengan ceritanya.

Akan tetapi, penyatuan sisi hiburan modern dan sisi konteks sejarah dalam Assassination sebenarnya tidak senantiasa mulus. Ada kalanya, film ini terasa terlalu politis dengan pesan-pesan nasionalisme yang diselipkan. Pada dasarnya, walau memasukkan unsur mata-mata dan pengkhianatan, film ini cukup membuat kemudahan dalam menentukan keberpihakan: rakyat Korea adalah protagonis dan pemerintah kolonial Jepang adalah antagonis. Film ini pun tidak terlalu 'centil' untuk membuat itu jadi twist karena penonton tahu siapa berada di pihak siapa sejak awal dan pertengahan film.

Namun, seakan merasa masih kurang, film ini harus menekankan lagi bahwa pihak musuh itu benar-benar jahat, dengan memberi beberapa contoh perlakuan dan perkataan kejam tentara Jepang dan para mata-matanya. Terlepas bahwa gambarannya benar-benar tepat mewakili masa itu atau tidak, bagian ini seakan memberat-beratkan materi cerita filmnya yang sebenarnya sudah solid. Memang tidak salah, apalagi bila memang berhasil bagi penonton domestiknya, namun pernyataan-pernyataan politis ini cukup memakan durasi, dan terlalu kontras dengan value hiburannya yang sudah dibangun dengan baik sejak awal.

Meski demikian, Assassination secara umum tetap sebuah sajian yang berhasil bila dipandang sebagai hiburan berkualitas. Bahkan, unsur-unsur cerita yang 'film banget' seperti percikan cinta dan tragedi keluarga masih bisa disampaikan asyik tanpa kesan berlebihan. Jalinan adegan-adegan laga yang seru dengan intrik-intrik menarik, ditambah pembangunan karakter yang efektif, menjadikan film ini sebuah tontonan yang memikat. Paling tidak, usaha mememproduksi film ini dengan production value yang tinggi (melibatkan kru di Korea dan China) dan skala yang kolosal terbayar dengan semua yang ditampilkan di layar.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Minggu, 20 September 2015

My J-Pop 47

Yuhu, sebagaimana gw janjikan, My J-Pop 47 langsung hadir di hadapan Anda sekarang juga \^o^/. Senang juga bisa bikin secepat ini, setelah dalam dua tahun terakhir ini wawasan per-J-Pop-an gw agak kering dan sulit sekali menemukan yang enak menurut selera gw, ternyata tahun 2015 gw menemukan cukup banyak lagu-lagu baru yang layak gw keep dan masukkan dalam deretan rekomendasi rutin gw ini. Di volume 47 gw berhasil mengumpulkan 19 lagu yang cukup exciting, mungkin karena pengaruh sebagain lagunya dirilis musim panas di Jepang sana yang biasanya dihiasi lagu-lagu rancak menyenangkan.


Seperti biasa, ada beberapa nama yang cukup sering gw include di volume sebelumnya kembali lagi dengan lagu-lagu terbaru mereka. Mulai dari JUJU (with a very different sound), Gen Hoshino, ASIAN KUNG-FU GENERATION, Superfly, Fumido, Yu Takahashi, Ken Hirai, dan Hata Motohiro. Ada juga artis-artis yang baru di volume kemarin gw kenal sekarang balik lagi seperti I Don't Like Mondays dan wacci karena ternyata next single mereka masih enak.

Tapi mungkin yang cukup exciting adalah nama-nama barunya. Tahun ini gw menemukan sebuah band bernama Gesu no Kiwami Otome yang skill dan kegilaan aransemennya bisa mengobati kekangenan gw sama Tokyo Incidents yang udah bubar. Lalu ada juga Suchmos yang sangat groovy, BLUE ENCOUNT yang bisa-bisanya bikin gw masih betah dengerin musik rada nge-punk, Little Glee Monster yang adalah girl group yang benar-benar mengedepankan perpaduan vokal bukan cuma hore-hore *uhuk*, dan ada band LOCAL CONNECT yang menurut gw musiknya cocok banget sama selera Melayu, hehe.

Jadi silahkan disimak rekomendasi gw di My J-Pop 47, dan kalau suka silahkan diulik sendiri ya, hehe.


My J-Pop 47

1. JUJU – PLAYBACK
2. 星野源 (Gen Hoshino) – SUN
3. Superfly – On Your Side
4. ゲスの極み乙女。– 私以外私じゃないの (Gesu no Kiwami Otome – Watashi igai watashi Ja nai no)
5. ASIAN KUNG-FU GENERATION – Easter/復活祭 (Fukkatsusai)
6. 風味堂– 大空へ (FUMIDO – Oozora e)
7. LOCAL CONNECT – 幸せのありか (Shiawase no arika)
8. Little Glee Monster – 人生は一度きり (Jinsei wa ichidokiri)
9. Suchmos – YMM
10. BLUE ENCOUNT – もっと光を (Motto hikari wo)
11. wacci – 大丈夫 (Daijoubu)
12. Shiggy Jr. – サマータイムラブ (Summertime Love)

13. I Don't Like Mondays. – WE ARE YOUNG
14. 平井 堅 – 君の鼓動は君にしか鳴らせない (Ken Hirai – Kimi no kodou wa kimi ni shika narasenai)
15. 東京カランコロン – スパイス (Tokyo Karankoron – Spice)
16. GLIM SPANKY – 褒めろよ (Homero yo)
17. 土岐麻子 – セ・ラ・ヴィ 〜女は愛に忙しい〜 (Asako Toki – C'est La Vie ~Onna wa ai ni isogashii~)
18. 高橋 優 – 明日はきっといい日になる (Yu Takahashi – Ashita wa kitto ii hi ni naru)
19. 秦 基博 – 水彩の月 (Hata Motohiro – Suisai no tsuki)



Preview lagu-lagunya bisa disimak di bawah ini.

[Movie] Lily: Bunga Terakhirku (2015)


Lily: Bunga Terakhirku
(2015 - 700 Pictures)

Directed by Indra Birowo
Written by Priesnanda Dwisatria, Ilya Sigma
Produced by Ninin Musa
Cast: Baim Wong, Salvita Decorte, Wulan Guritno, Verdi Solaiman, Tanta Ginting, Abdurrahman Arif, Mike Lucock


Banyak hal yang disturbing buat gw dari film Lily: Bunga Terakhirku, entah itu sesuatu yang baik atau tidak. Kita mulai dari judulnya yang terdengar sangat nggak penting, font-nya yang "klasik" antara telenovela Meksiko 90-an dan undangan nikahan, posternya yang kayak promo sinetron. Tapi, film ini dibikin sama 700 Pictures, yang setahu gue film-filmnya punya production value yang oke, kayak Catatan Harian Si Boy dan Noah Awal Semula, jadi agak membingungkan juga jika mereka benar-benar membuat film yang remeh. Oh, dan bahwa ini directorial debut feature dari Indra Birowo yang setahu gue juga reputasinya nggak sembarangan sebagai aktor. Jadi agak gimana gitu melihat dua kontras ini.

Perasaan disturbing itu pun ternyata berlanjut ke filmnya. Film ini mengusung genre thriller dan roman, harusnya nggak ada ceria-cerianya. Tapi, pada kenyataannya desain dan warna-warna di film ini ditampilkan dengan cukup...err...norak, sekalipun tema thriller-nya tetap jalan. Di sini, gw akhirnya membaca bahwa ada kesengajaan timbulnya kontras-kontras tersebut dari pihak yang bikin film. 

Film ini kisahkan semacam brutal romance, antara seorang tukang bunga penyendiri dan seorang hostess berkodenama Lily di sebuah rumah pelacuran kelas elit *or so it seems despite the norakness of the wall paint*. Si tukang bunga juga adalah pembunuh berantai yang suka menculik tersangka pemerkosaan, meracuni sampai lumpuh, dan di-"kremasi" di rumahnya. Ketika dia mulai deket sama Lily, lalu mendengar kata "perkosa" untuk gambarkan pelanggan Lily yang main kasar, si tukang bunga akhirnya bertindak demi cintanya: mencari pelanggan yang menyakiti kekasihnya dan membuat nasib mereka sama dengan korban lain.

Entah kenapa gw bisa segitu terpengaruhnya sama kontras cerita dan tampilan gambar film ini. Kisahnya dark dan dituturkan dengan dark pula, tapi dari cara film ini memilih warna sampai perabotan (yang luar biasa vintage-nya) kurang bisa membuat gw masuk dalam atmosfer dark itu. Kontrasnya menarik, tapi kurang nyaman buat gw, ditambah pacing yang cukup slow juga bikin gw lebih agak nggak nyaman mengikuti film ini. Gw baru merasa engaged ketika film ini sampai pada titik paling suspense-nya, which is di menjelang akhir, dan itulah yang menurut gw cukup mencegah rasa tidak nyaman terus-terusan.

Nevertheless, masih banyak yang bisa gw apresiasi dari film ini. Pertama adalah ide dan cerita yang sebenarnya cukup unik, beda, dan berani, dan disusun dengan baik, gw nggak menemukan hal-hal vital yang tak terjelaskan di sini, semua berjalan dengan logika cerita yang okelah. Perlakuan terhadap ide cerita yang "sakit" juga oke, ibarat novel-novel dark romance *if there are such things =p*. Film ini juga memanfaatkan cukup maksimal dari skalanya yang kecil dan set-nya yang sedikit, nuansa intimate-nya dapetlah. Lalu penampilan mbak Salvita Decorte sebagai Lily yang ciamik sekaligus cantik, nggak ada kecanggungan sama sekali dan bakatnya aktingnya lebih benar-benar terpancar ketimbang debutnya di Mantan Terindah =p, mudah-mudahan karier aktingnya bagus setelah ini ^_^. 

Tapi memang secara keseluruhan gw juga kesulitan untuk sepenuhnya suka sama film ini. Dan, gw juga nggak bisa mengungkapkan secara konkret apa yang bikin begitu, selain rasa "nggak nyaman ngelihat-nya". Padahal mungkin rasa nggak nyaman itu memang disengaja, menekankan bahwa ini bukan roman biasa, bukan juga straight thriller atau horor, tapi ya efeknya di gw nggak nyaman tidak dalam artian menyenangkan. Namun, untuk sebuah film debut dari Indra Birowo, gue harus bilang ini jauh dari kata payah. Dari pilihannya untuk menggarap cerita seperti ini dan disajikan tidak dengan cara seadanya, plus menemukan dan mengarahkan para pemain yang hasilnya bermain oke (termasuk Baim), he's getting there-lah.  




My score: 6,5/10

Sabtu, 19 September 2015

[Movie] Gangster (2015)


Gangster
(2015 - Starvision)

Directed by Fajar Nugros
Written by Jujur Prananto
Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Cast: Hamish Daud, Nina Kozok, Agus Kuncoro, Dwi Sasono, Dominique Sanda, Ganindra Bimo, Kelly Tandiono, Eriska Rein, Andrea Bimo, Yayan Ruhian, Gunawan Maryanto, Raihan Khan, Avrilla Sigarlaki, Insan Nur Akbar, Dian Sastrowardoyo, Dede Yusuf, Lukman Sardi


Seriously, selain posternya, tidak ada yang benar-benar menarik perhatian gw dari film Gangster ini. Kebetulan gw udah aware sama film ini sejak teaser-nya dirilis dan tiada ketertarikan berarti yang timbul. Waktu akhirnya gw nonton pun, well, impresinya nggak berubah banyak sih, tapi untungnya film ini masih bisa memberikan beberapa titik yang di atas ekspektasi gw.

Gangster ini sebenarnya agak mirip film-film action Hong Kong selewat yang sering tayang di TV-TV dulu. Ceritanya doesn't really matter, yang penting bagaimana caranya si tokoh utama melewati segala tahapan di film dengan berantem. Dalam hal ini, si Jamroni (Hamish Daud) dari kampung  di Jogja datang ke Jakarta mencari jati diri tapi malah terjebak di pertikaian antarpreman necis gara-gara masalah....perjodohan. I know, right. Tapi ya nggak apalah, asal ada adegan-adegan berantem, pemain ceweknya cakep, silahkan film ini bergulir sebagaimana adanya. Maksudnya memang film hiburan jadi yasudahlah.

Tapi, problemnya buat gw adalah film ini nggak semenghibur itu. Diusung sebagai film action dengan banyak hand combat, sayangnya adegan fighting-nya kurang disajikan dengan baik karena kelihatan terlalu rehearsed banget, kering dan kurang, err, nonjok aja. Hanya ada dua adegan laga yang menurut gw layak disebut seru, yaitu kejar-kejaran di pasar tempat Jamroni mendarat di Jakarta, dan tendangan putar Dede Yusuf di awal film (doi cameo doang sayangnya). Sisanya, not even close. Sementara dari ceritanya juga walaupun udah dicoba tidak terlalu dipikirkan, tapi ketika intrik-intriknya dibangun fine-fine aja, penyelesaiannya justru sangat mentah, dan itu cukup mengganggu.

Above all that, mungkin yang jadi penghalang gw kurang bisa menerima film ini sebagai hiburan yang menghibur adalah perlakuan film ini terhadap ceritanya terkesan terlalu serius--dalam artian atmosfernya. Gw dengar film ini dibangun dengan konsep action komedi, tapi akhirnya komedinya benar-benar di-tone-down. Gw rasa sih ini semacam peluang yang disia-siakan, karena dari premisnya yang--jujur saja--konyol dan bangunan karakter-karakternya yang kurang bisa ditanggapi serius, harusnya film ini bisa menghibur sebagai action seru DAN komedi lucu. Minimal dark comedy-lah, bisa kok harusnya. Gw lihat sih karena approach-nya kelewat serius, ketika ada saatnya film ini mencoba melucu, jadi kentang gitu deh. Dalam beberapa bagian, gw tahu itu harusnya lucu, tapi nyatanya tidak otomatis bikin ketawa. Sayang.

Namun, walau tidak semenghibur itu buat gw, bukan berarti Gangster tidak punya nilai hiburan sama sekali. Buat gw, nilai hiburan itu datang dari performa pemainnya. Gw sangat terkesan dengan Agus Kuncoro (yang emang selalu nail every role) sebagai bos mafia bertempramen tenang tapi intimidatif, juga dengan Dwi Sasono sebagai bos mafia yang agak kepribadian ganda dan bisa ngeselin ketika dibutuhkan, Kelly Tandiono punya presence yang oke, Yayan Ruhian yang semakin jago mengujarkan one-liners dengan fenomenal, bahkan comeback Dominique "Mbak Yul" Sanda juga jauh dari mengecewakan, she's good. Penataan gambarnya boleh juga sekalipun tone-nya, itu tadi, kurang "berasa" action. Minimal mereka bisa membuat gw betah untuk mengikuti perjalanan cerita ini hingga akhir, seabsurd apa pun itu perkembangannya.

Gw nggak menyebut Hamish karena kayaknya terlalu dini untuk menyuruhnya jadi pemuda kampung (atau kekurangan waktu untuk membangun perannya), masih terlalu kebule-bulean and I'm talking about the gesture and speech. Ini kedua kali berturut-turut dia berperan seperti itu setelah Love You Love You Not. Terlihat sih usahanya, tapi--maap-maap nih--belum bisa se-believable itu. Nina Kozok sebagai lead female juga sama aja, cuma karena dalihnya dia lama di luar negeri jadi yasudahalah.

Jadi begitulah Gangster buat gw. Overall gw memang cukup sulit untuk terkesan sama film ini, tapi film ini nggak sampah-sampah amatlah. Sialnya adalah kemunculan film ini setelah ada film-film seperti The Raid dan Comic 8, yang penataan laganya terlihat lebih megah dan, emmm, lebih kelihatan effort-nya. Gangster tidak mencapai level itu, tapi seenggaknya masih punya value di tempat lain, misalnya di pemain....dan posternya. Seperti itu.





My score: 6,5/10

Selasa, 15 September 2015

[Movie] Jenderal Soedirman (2015)


Jenderal Soedirman
(2015 - Padma Pictures/Mabes TNI-AD/Yayasan Kartika Eka Paksi)

Directed by Viva Westi
Written by Viva Westi, TB Deddy Safiudin
Produced by Handi Ilfat, Sekar Ayu Asmara, M. Nolizam, Ratna Syahnakri
Cast: Adipati Dolken, Ibnu Jamil, Gogot Suryanto, Hans de Kraker, Anto Galon, Surawan Prihatnolo KA, Gregorius Andika SN, Angga Riyadi, Wawan Cenut, Anintriyoga Dian P, Abdus Samad, Ahmadulloh, Anggi Agus S, Ahmad Ramadhan A., Mathias Muchus, Baim Wong, Nugie, Lukman Sardi, Eric van Loon, Annisa Hertami


Naiknya jumlah produksi film Indonesia memasuki milenium berimbas pula pada semakin seringnya film biografi tokoh sejarah Indonesia dibuat belakangan ini. Salah satu keuntungan dari film jenis ini adalah bahan-bahan untuk menyusun cerita relatif sudah tersedia. Tetapi, tantangannya adalah memilih mana yang mau diceritakan, sisi apa yang mau ditunjukkan, dan bagaimana mengolahnya menjadi sebuah tontonan yang utuh sekaligus appealing untuk penonton luas. Film Jenderal Soedirman garapan Viva Westi mungkin yang paling jeli dalam menyiasati tantangan itu.

Dalam beberapa film sejarah atau biografi, langkah yang umum diambil adalah menceritakan satu tokoh dari awal hingga akhir hidupnya. Atau, ada juga yang mengisahkan perjalanan panjang dari hal yang diperjuangkan tokoh tersebut, seperti bisa dilihat di film Sang Pencerah, Soekarno, atau Guru Bangsa: Tjokroaminoto. Namun, Jenderal Soedirman mengambil jalur yang lebih mikro, yaitu tentang perang gerilya yang dilakukan Soedirman sebagai respons atas agresi militer kedua Belanda di Indonesia tahun 1948, hingga Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia di tahun 1949.

Film ini dibuka dengan latar belakang singkat soal Soedirman sebagai pemimpin tentara Indonesia. Setelah proklamasi kemerdekaan, Soedirman (Adipati Dolken) terpilih menjadi panglima besar tentara Indonesia. Soedirman sendiri menyatakan tunduk pada pemerintahan Republik Indonesia yang sah pimpinan Soekarno dan Hatta. Akan tetapi, keadaan negara tidaklah mulus karena masih berprosesnya pembentukan pemerintahan, yang kerap menimbulkan gejolak politik dan perpecahan. Ditambah lagi, pemerintah Belanda masih belum mau mengakui kemerdekaan Indonesia—pemerintahan Indonesia dan pendukungnya dianggap sebagai kriminal pemberontak pemerintah kolonial.

Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresi militernya yang kedua ke ibukota Indonesia saat itu, Yogyakarta. Belajar dari pengalaman agresi militer pertama Belanda di tahun 1947, Soedirman hendak turun langsung dalam perang gerilya, mengingat personel, keahlian, dan persenjataan yang tak seimbang dengan tentara Belanda. Presiden Soekarno (Baim Wong) sendiri lebih memilih jalan perundingan, dan membujuk Soedirman untuk tinggal di Yogyakarta karena sang jenderal tengah sakit parah. Akan tetapi, Soedirman tetap teguh pada rencana semula, dan dimulailah strateginya memimpin gerilya bersama hanya belasan anggotanya melintasi hutan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, demi menunjukkan bahwa Indonesia masih punya kekuatan dan tak akan menyerah pada Belanda.

Mulai dari sana, film ini menuturkan tentang perang gerilya yang dilakukan Soedirman dalam rentang waktu tujuh bulan. Ini kesempatan bagi pembuat film untuk menyajikan nilai-nilai hiburan sekaligus memberikan pengetahuan tentang apa itu perang gerilya. Gerilya memang bukan perang terbuka, sehingga yang banyak ditunjukkan dalam bagian ini adalah pasukan Soedirman melintasi hutan, dari dusun ke dusun, mencoba bertahan dan menghindari sergapan Belanda, meski dengan berbagai keterbatasan.

Tetapi, film ini memakai potensi hiburan yang lain, yaitu suspense dari kejar-kejaran antara pasukan Soedirman dan tentara Belanda yang memburunya. Di sinilah film ini menunjukkan kekuatannya dan membuat ceritanya terus bergulir tanpa harus menjenuhkan. Kesan bahwa Soedirman tak pernah aman sehingga harus terus bergerak, dapat dieksekusi dengan baik di film ini, tanpa perlu dramatisasi yang kelewatan.

Di luar itu, film ini tidak melupakan tugasnya untuk menggambarkan siapa dan bagaimana itu Soedirman. Cara penggambarannya pun digarap dengan aman dan cukup menyeluruh, tanpa terlalu mengglorifikasi. Memang benar bahwa keteguhannya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, tutur kata yang lembut namun tegas, dan kesetiaan pada pemerintahan Soekarno-Hatta membuat penonton mudah untuk mengerti kenapa sosok Soedirman layak disebut pahlawan.

Tetapi, film ini juga tidak malu-malu untuk menunjukkan Soedirman memilih merokok daripada minum obat saat menderita sakit paru-paru. Juga bahwa sebenarnya Soedirman tidak klop dengan Soekarno dan strategi-strategi politiknya, dan justru lebih hormat kepada Sultan Yogyakarta, sesuatu yang mungkin jarang diketahui orang. Sementara sosok Adipati Dolken mungkin masih terlihat terlalu belia sebagai pemeran sang jenderal karismatik, tetapi dibantu dengan kostum, tata rias, juga usahanya dalam menampilkan gestur dan aksen yang berbeda, ia tetap berfungsi dengan baik untuk film ini dapat terus bercerita.

Meski demikian, yang patut disayangkan adalah film ini kurang menunjukkan tokoh Soedirman menyusun strategi dan bagaimana eksekusinya. Bahkan, penyerangan aktif terhadap markas Belanda di sini hanya ditunjukkan satu contoh saja. Padahal, ini adalah kesempatan untuk menunjukkan apa yang membuat Soedirman begitu dihormati, sekaligus menjelaskan mengapa Belanda begitu getol ingin menangkapnya. Di bagian akhir film ada keterangan bahwa gerilya Soedirman ini diakui sebagai strategi terbaik di dunia saat itu, tetapi penonton tidak berkesempatan melihat sendiri strategi yang disebut terbaik itu seperti apa.

Sementara itu, demi memperkuat konteks sekaligus menghindari penjelasan menggunakan tulisan di tengah-tengah film, film ini memutuskan untuk memanfaatkan beberapa tokoh dan dialognya untuk menggambarkan keadaan yang sedang terjadi di sekitar Soedirman. Semisal proses perundingan yang terjadi antara Belanda dan Indonesia, juga adanya sosok Tan Malaka (Mathias Muchus), pemimpin gerakan kemerdekaan dari ideologi komunis yang bertujuan sama dengan Soedirman, tetapi bergerak di luar pemerintahan Soekarno-Hatta. Beberapa dari itu disampaikan cukup kaku karena kelihatan sekali ingin menjelaskan sesuatu kepada penonton—atau pengujaran dari pemainnya yang membuatnya jadi kaku, sementara yang lainnya yang disampaikan lebih mulus.

Di antara unsur-unsur penjelas konteks itu, tokoh Karsani (Gogot Suryanto) mungkin yang paling mencuri perhatian—dan porsinya terbilang besar. Viva Westi sempat menyatakan bahwa Karsani merupakan tokoh fiksi yang diciptakan untuk mewakili pihak rakyat dalam perjuangan Soedirman. Bila dipandang secara politis, keberadaan Karsani seperti ingin menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia juga turut melibatkan orang-orang yang namanya mungkin sekarang tidak dikenang. Di sisi lain, secara filmis, Karsani menjadi salah satu comic relief karena kepolosannya di tengah-tengah situasi perang. Namun, rupanya fungsi Karsani tidak hanya sebatas itu.

Keadaan militer Indonesia saat itu juga bisa dilihat melalui keberadaan Karsani. Perlu diingat bahwa saat merdeka, kemiliteran Indonesia tidak terbentuk oleh satu garis komando dan instansi yang sama. Ada yang pernah dilatih sebagai tentara kolonial Belanda (KNIL), tentara bentukan Jepang (PETA) seperti Soedirman, ada juga yang memang tanpa pelatihan sama sekali. Ketika datang kepada Soedirman, pertanyaan yang diajukan hanya apakah Karsani pernah latihan militer atau pernah ikut perang sebelumnya.

Paling tidak, dari sini bisa menjelaskan mengapa tentara Indonesia di zaman Soedirman di film ini terkesan sangat beragam dan "kurang meyakinkan", tidak seperti impresi tentara zaman sekarang. Sekaligus cukup menjelaskan adanya berbagai jenis tentara (misalnya di sini ada yang disebut tentara merah dan tentara liar) yang mungkin perekrutannya mirip seperti Karsani. Ini adalah salah satu contoh cara film ini dalam memberikan informasi dan konteks sejarah dengan cara yang subtil tanpa menggurui.

Melengkapi semua itu, Jenderal Soedirman disajikan dengan nilai produksi yang tinggi dan penggarapan teknis yang bagus—dari kostum, tata artistik, sinematografi, tata suara, hingga visual effects, yang mungkin setara dengan film-film berlatar sejarah Indonesia yang telah ada. Namun, Jenderal Soedirman punya satu nilai lebih, yaitu sebagai film sejarah Indonesia era milenium yang konsepnya paling jelas dan konsisten, terlepas dari beberapa kelemahan dalam beberapa titik penuturannya. Film ini juga boleh dibilang paling seimbang antara menyampaikan pengetahuan konteks sejarah, dan unsur hiburannya yang mudah disantap oleh kalangan lebih luas, tidak hanya bagi pemerhati film sejarah.





My score: 7,5/10


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Senin, 14 September 2015

[Movie] Attack on Titan (2015)


進撃の巨人 ATTACK ON TITAN (Shin'geki no Kyojin)
Attack on Titan
(2015 - Toho)

Directed by Shinji Higuchi
Screenplay by Yuusuke Watanabe, Tomohiro Machiyama
Based on the comic series by Hajime Isayama
Produced by Yoshihiro Sato
Cast: Haruma Miura, Kanata Hongo, Kiko Mizuhara, Hiroki Hasegawa, Takahiro Miura, Nanami Sakuraba, Satoru Matsuo, Satomi Ishihara, Pierre Taki, Jun Kunimura, Ayame Misaki, Rina Takeda, Shu Watanabe


Entah berapa kali nyebutin bahwa buat gw perfilman Jepang zaman sekarang itu kurang menarik, baik dari tema-tema yang diangkat maupun kualitas hasil akhir film-filmnya. Paling terlihat adalah dari film-film komersialnya, yang dalam dekade terakhir ketularan Hollywood dengan banyak mengadaptasi komik dan anime laris (atau pun yang nggak laris) jadi film live action. Gw nggak bilang semuanya jelek, ada yang bagus seperti Always: Sunset on the Third Street atau yang nggak malu-maluin seperti Rurouni Kenshin. Tapi, gw juga melihat beberapa contoh yang belum bisa meng-konversi kualitas komik atau anime yang terkenal itu menjadi film live action yang sama bagusnya, atau bahkan jadi "film bagus"--tanpa terkait sumber aslinya--juga belum bisa. Attack on Titan menjadi contoh teranyarnya.

Gw rasa sih sedari awal keputusan Attack on Titan jadi live action udah keliru. Some manga material does not need to be adapted into live action, apalagi kalau memang tidak sanggup membuat sebuah gebrakan berarti. Oke, sebenarnya gw nggak kenal sama komik atau anime Attack on Titan, tetapi gw bisa baca bahwa konsep dan premis utamanya cukup absurd: sebuah komunitas terakhir di bumi harus berjuang melawan kembalinya para raksasa pemangsa manusia yang dahulu jadi alasan mereka sekarang hidup di dalam benteng berbagai lapis. Raksasanya pun sebenarnya orang juga tapi dalam ciri-ciri mirip mutan percobaan gagal gitu. Oh, dan sebenarnya seting-nya tuh ke-Eropa-Eropa-an dengan hanya ada satu tokoh dari Jepang, yaitu si Mikasa (nama cewek, bukan merek bola voli).

Lalu bagaimana caranya ketika diadaptasi ke live action oleh studio di Jepang? Screw everything dan biarlah semua tokohnya berwajah Jepang dengan nama aneh-aneh. Well, that besides the point karena anggaplah ini film fantasi, tapi itu hanyalah salah satu desperate steps yang dilakukan oleh pembuat film ini untuk keukeh bagaimanapun caranya film adaptasi Attack on Titan bisa terwujud, dan dipecah dalam dua part, I mean like seriously? Emang jelas-jelas cuma mau memperalat sebuah materi terkenal untuk ngeruk duit kan?

Yang bisa gw nilai Attack on Titan (bagian pertama) ini adalah bahwa, emmm, level imajinasi dari konsep film ini tidak sama dengan level kemampuan dalam bercerita si pembuat filmnya. Agak jahat memang, tapi itu yang gw temukan. Maksud gw, dengan teknologi dan (sepertinya) biaya tinggi yang digunakan, penuturan film ini masih kayak bikin film era Godzilla tahun 1950-an. Kok ya masih aja bikin tokoh-tokoh berkelakuan bodoh yang banyak bengong-bukannya-lari saat ada dalam bahaya kayak tokoh-tokoh di film-film horor? Kok ya masih aja bikin adegan klise memperkenalkan karakter tambahan dengan cara rombongan dan berharap itu jadi 'emosional'? Dan dengan keleluasaan efek visual, kok ya bikin adegan-adegan laganya nggak bisa dibikin jelas dan setidaknya enak dilihat? Ini pun gw belum menyentuh karakterisasinya yang nggak bikin simpati sama sekali, karena dibikin bodoh-bodoh tadi. Boro-boro menyentuh unsur metafora sosialnya. Mending kalau filmnya lucu, lha ini sok serius banget malah..

Heran aja, ketika sudah ada live action Rurouni Kenshin yang peduli sama karakterisasi, adegan laga yang enak dilihat, serta punya sense of urgency yang wajar, Attack on Titan seolah belum move on dari penggarapan ala serial tokusatsu di TV yang simplisitik dan karikatural. Gw pun kemudian mengecek dan menemukan salah satu sebabnya: mungkin ini karena sutradaranya Shinji Higuchi memang segitu aja gayanya, sama seperti film disaster garapannya yang pernah gw tonton dulu, The Sinking of Japan (2006) yang oh-Tuhan-klisenya-bukan-main. Gw termasuk orang yang menganggap bahwa mengadaptasi komik atau anime Jepang dalam bentuk live action memang nggak boleh sembarang dan digampangkan--apalagi cuma bikin 'reka ulang' animenya because that would've been stupid, karena most of the time komik dan anime itu punya kompleksitas tersendiri yang bahaya kalau tidak diterjemahkan dengan benar. Kalau nggak bisa menangani ini, dan menerjemahkannya dalam sebuah tontonan yang layak sebagai sebuah 'film' utuh dan meyakinkan, mending nggak usah. 

Attack on Titan bagian pertama sebenarnya punya benang merah plot yang gampang diikutin, dan cukup memenuhi syarat untuk jadi sebuah tontonan layar lebar karena pertaruhannya yang besar. Itu pun didukung oleh production value yang cukup mewah, dari bangunan set dan kostum yang cukup serius dan efek visual yang juga termasuk canggih. Konsep para raksasa titan pun cukup bisa diterima walau terkadang terlihat kocak. Tapi, sayangnya semua itu kayak di-abuse oleh penyampaian cerita dan karakterisasi yang sangat lame, pengadeganan yang bikin gemetz saking kadaluarsanya, serta beberapa detail yang penting tapi cuma sambil lalu--semisal bagaimana teknik para pembasmi raksasa itu untuk lompat sana sini. Karena faktor itu semua, di mata gw film ini cuma film hore-hore sok cool yang tujuannya cuma eksploitasi merek terkenal dengan cara 'seadanya'. Nggak yakin juga mau lanjut ke bagian keduanya, Attack on Titan: End of the World, kecuali untuk tahu bagaimana lagi cara film ini masukkin lagu karaoke bokap-nyokap kita, "End of the World" di film selanjutnya setelah di film ini ada yang mainin lagu itu di piano rusak. Why...does the sun...go on shining....





My score: 5,5/10

Sabtu, 12 September 2015

[Movie] Battle of Surabaya (2015)


Battle of Surabaya
(2015 - MSV Pictures/AMIKOM Yogyakarta)

Directed by Aryanto Yuniawan
Screenplay by Aryanto Yuniawan
Story by Aryanto Yuniawan, M. Suyanto
Produced by Hery Soelistio, Adi Djayusman
Cast: Ian Saybani, Maudy Ayunda, Reza Rahadian, Hidetoshi Tanaka, Jason Williams


Gw pribadi sangat menyambut dengan tangan terbuka atas keberadaan Battle of Surabaya, sebagai film animasi (agak) tradisional--bukan CGI 3D--pertama Indonesia yang berhasil masuk bioskop. Walaupun sebenarnya format ini agak telat 10 tahun, tapi bahwa film ini akhirnya dibuat dengan promosi yang cukup niat (gw udah aware film ini dari setahunan yang lalu), dan materi promosinya cukup meyakinkan. Tentu, sebagaimana kecenderungan gw terhadap film-film Indonesia yang mencoba jadi "yang pertama", ekspektasi gw sama film ini nggak tinggi-tinggi amat. Tetapi, rupanya Battle of Surabaya bisa meleset dari ekspektasi gw, dalam artian baik maupun tidak.

Jujur, gw sangat impressed sama visual film ini. Lewat Battle of Surabaya, terbukti Indonesia bisa membuat film yang baik secara teknik. Baik dari meng-animate karakter-karakternya, tata artistik, warna, komposisi, hingga penggabungan dengan unsur digital images. Serius, bagus lho. Gayanya cenderung seperti anime Jepang, tetapi film ini kelihatan sekali mengerahkan semua teknik yang dipunya untuk memaksimalkan visual film ini dan hasilnya bener, definitely nggak bikin malu.

Nah, jujur, yang juga di luar ekspektasi gw juga adalah flow dari penuturan ceritanya yang lumayan kacau. Sekarang gw kurang bisa meng-summary film ini tentang apa. Oke ada seorang anak yang dijadikan kurir surat-surat rahasia militer Indonesia, tapi terus apa? Karakter-karakter di film ini kurang punya purpose yang dapat menggulirkan cerita. Apakah itu soal ada surat penting yang harus diantar tapi banyak halangannya (ada sih tapi porsinya dikit banget), atau pengungkapan organisasi rahasia bak ninja Kipas Hitam, ataupun keterlibatan karakternya dalam pertempuran Surabaya 1945 yang jadi judul film ini. Gw agak lost sama benang merah utama film ini, dan itu patut disayangkan.

Tapi mungkin yang patut diapresiasi adalah usaha film ini dalam menyampaikan konteks sejarahnya. Baik dalam reka ulang peristiwa sejarah dalam bentuk animasi (yang sangat-sangat detail dan menarik), maupun penggambaran betapa kacau dan membingungkannya siapa kawan siapa lawan selepas kemerdekaan. Sayang, penceritaan plot utamanya tidak semenarik bagian-bagian yang bisa dibilang hanya latar belakang itu, malah cenderung membingungkan dan nggak padu, seperti terlalu banyak yang ingin diceritakan tapi harus dipepes jadi film berdurasi satu setengah jam. 

Here's something funny, menurut gw Battle of Surabaya bagaikan sampel paling representatif dari seperti apa film Indonesia saat ini. Bahwa kita sudah sanggup secara teknis, bolehlah disejajarkan dengan negara lain berhubung teknologi semakin maju dan mudah diakses. Tapi, kita juga masih banyak PR dalam menyusun cerita. Untunglah, gw termasuk orang yang mudah terhibur dengan hanya melihat unsur teknis yang oke, seperti Battle of Surabaya ini. Biarpun penuturannya agak bikin keliyengan, gambar bagus dan beberapa bagian yang menghibur *termasuk bagian awkward-awkward-an ABG-nya =p* berhasil membuat gw tetap betah untuk mengikuti film ini hingga akhir. Yah, untuk "yang pertama", film ini nggak ancur banget, layak dijadikan threshold buat film-film sejenis selanjutnya. Maksudnya, kalau film-film animasi Indonesia sesudah ini kualitasnya di bawah film ini, ya bakal sulit untuk dimaafkan. 




My score: 7/10

Selasa, 01 September 2015

[Movie] Inside Out (2015)


Inside Out
(2015 - Disney/Pixar)

Directed by Pete Docter
Screenplay by Pete Docter, Meg LeFauve, Josh Cooley
Story by Pete Docter, Ronne del Carmen
Produced by Jonas Rivera
Cast: Amy Poehler, Phyllis Smith, Mindy Kaling, Bill Hader, Lewis Black, Richard Kind, Kaitlyn Dias, Diane Lane, Kyle MacLachlan


Pixar selama belasan tahun dikenal sebagai sebagai studio penghasil film-film animasi jaminan mutu. Mutu itu dinilai dari orisinalitas dan kreativitas cerita, teknologi animasi yang mutakhir, nilai-nilai hiburan, dan temanya yang mendalam sehingga tak hanya menyenangkan bagi penonton anak-anak saja. Sudah banyak yang kenal dengan trilogi Toy Story, Monsters Inc., Cars, juga film-film seperti Finding Nemo, The Incredibles, Ratatouille, WALL-E, dan Brave yang memenangkan banyak penghargaan dan laris di box office. Karena itu, ekspektasi terhadap film terbaru Pixar, Inside Out, pun menjadi tinggi.

Konsep yang ditawarkan Inside Out pun sepertinya memang menuntut ekspektasi yang tinggi. Film ini berangkat dari pertanyaan "apa yang ada di pikiran orang" ketika berkata dan bertingkah laku. Lalu, film ini mengandaikan bahwa di dalam alam pikiran manusia terdapat wujud-wujud karakter yang menentukan emosi seseorang lewat semacam mesin. Sebuah konsep yang sebenarnya cukup rumit untuk dieksekusi, apalagi untuk menghasilkan tontonan semua umur.

Inside Out berjalan dalam dua "dunia" yang berkesinambungan. Di alam nyata, seorang anak perempuan bernama Riley (diisi suara Kaitlyn Dias) tumbuh sebagai pribadi yang ceria di sebuah kota kecil di negara bagian Minnesota. Kehidupan bahagianya tiba-tiba harus berubah ketika orang tuanya (diisi suara oleh Kyle MacLachlan dan Diane Lane) memutuskan untuk pindah ke San Francisco, California, sebuah kota besar dengan orang-orang dan kebiasaan berbeda. Riley yang beranjak remaja jelas-jelas kesulitan untuk beradaptasi, karena apa yang ia senangi di rumah lamanya benar-benar hilang di tempat barunya.

Sementara itu, di dalam alam pikiran Riley, terdapat lima macam wujud emosi yang menentukan atas apa yang terjadi pada pribadi Riley. Mereka adalah Joy (Gembira, suara oleh Amy Poehler), Sadness (Sedih, suara oleh Phyllis Smith), Fear (Takut, suara oleh Bill Hader), Anger (Marah, suara oleh Lewis Black), dan Disgust (Jijik, suara oleh Mindy Kaling). Interaksi antara kelima emosi ini membentuk kepribadian Riley, bertanggung jawab atas kenangan-kenangan penting dalam hidup Riley—yang berwujud bola-bola menyala, juga menjaga agar Riley dapat menghadapi apa pun dengan baik.

Watak ceria Riley ternyata disebabkan sosok Joy dominan. Dengan sikapnya yang serba positif, kenangan-kenangan Riley pun sebagian besar sifatnya gembira. Tetapi, sejak pindahnya keluarga Riley ke kota baru, Sadness banyak bertingkah. Ia bahkan sering menyentuh kenangan-kenangan gembira Riley sehingga menjadi kenangan sedih. Belum tahu sebenarnya apa yang terjadi, sebuah "kecelakaan" membuat Joy dan Sadness terlempar keluar dari pusat kendali, bersama bola-bola kenangan penting Riley. Joy dan Sadness harus memulai perjalanan agar bisa kembali. Sementara dengan hanya ada Fear, Anger, dan Disgust di pusat kendali pikiran, sikap Riley pun jadi pemurung dan serba tak nyaman.

Setelah Monsters Inc. dan Up, sutradara Pete Docter sekali lagi mempersembahkan sebuah cerita yang diolah secara kreatif menjadi sebuah tontonan penuh makna. Ditambah lagi dengan desain karakter dan latar yang menarik dan terkonsep. Sulit untuk tidak terhibur dengan interaksi antara Joy, Sadness, Fear, Anger, dan Disgust, yang masing-masing punya kepribadian sesuai dengan namanya. Mereka pun diberikan dialog-dialog cerdas sehingga tak terkesan terlalu kartunis, walau mungkin beberapa humor dalam dialognya hanya bisa ditangkap oleh penonton yang dewasa.

Demikian pula pada gambaran bahwa pikiran manusia bak negeri ajaib. Memori Riley sendiri disimpan dalam bola-bola kenangan, dengan memori-memori yang terpenting akan disimpan di paling depan. Sementara yang lainnya akan disimpan dalam penyimpanan yang luas, dan kadang-kadang akan ada yang dibuang sehingga terlupakan. Perjalanan Joy dan Sadness pun membawa penonton menjelajah setiap sisi "negeri" pikiran Riley tersebut.

Tetapi, di balik segala warna-warni dan kreativitas tinggi dalam konsepnya, Inside Out sebenarnya sebuah film yang memuat pemikiran mendalam. Film ini ingin "menjawab" tentang apa yang terjadi saat seorang anak beranjak remaja—Riley digambarkan berusia 12 tahun. Namun, situasinya ditambahkan dengan sang anak yang pindah rumah ke tempat yang tidak diingingkan. Masa transisi ini sebenarnya sangat wajar terjadi pada setiap orang, namun film Inside Out memberikan sebuah cerita "di balik layar" tentang mengapa itu terjadi, dalam kemasan petualangan yang digarap apik.

Di sisi lain, dengan sorotan utama pada petualangan Joy dan Sadness dengan sifat yang saling bertolak belakang dalam alam pikiran Riley, film ini juga ingin kembali membenturkan mana emosi yang kerap dianggap baik dan yang kurang baik. Ini dicerminkan sikap Joy yang tidak akur dengan Sadness, dan ingin memastikan sebanyak mungkin memori Riley bersifat gembira. Kadang interaksi mereka menimbulkan kelucuan, tetapi juga menimbulkan pertanyaan, apakah memang kegembiraan itu selalu lebih baik dari kesedihan?

Hal-hal inilah yang mungkin hanya bisa ditangkap oleh penonton dewasa. Bahkan, film ini sebenarnya lebih kaya akan nilai-nilai tentang kedewasaan, transisi, dan kompleksitas emosi—termasuk dengan penggunaan gambar gaya realis dan shaky camera di adegan-adegan "dunia nyata", yang membuat orang-orang dewasa mengingat masa pertumbuhan anak-anak sekitarnya, atau pertumbuhan dirinya sendiri. Inside Out jelas bukan sebuah kisah petualangan lucu-lucuan, seperti Minions atau Madagascar, misalnya.

Bobot dan pemikiran-pemikiran itu sebenarnya membuat Inside Out punya banyak nilai yang bisa diserap dan menyentuh penontonnya, khususnya penonton dewasa. Namun, timbul pula pertanyaan apakah film ini akan memberikan efek yang sama besarnya bagi penonton cilik, yang mungkin belum paham benar tentang apa itu emosi.

Untunglah film ini tampil dengan visual memikat penuh warna, desain karakter jenaka, serta alunan musik yang dinamis, sehingga film ini masih bisa dinikmati banyak orang. Inside Out tetap sebuah film dengan kualitas tinggi yang diharapkan dari animasi keluaran Pixar. Walaupun, mungkin, dampak menghiburnya tidak sedominan bobot pemikiran yang ditimbulkan.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com