Senin, 31 Agustus 2015

[Movie] Love You...Love You Not... (2015)


Love You...Love You Not...
(2015 - MVP Pictures)

Directed by Sridhar Jetty
Screenplay by Mira Santika
Based on the Thai film I Fine...Thank You Love You released by GTH
Produced by Raam Punjabi
Cast: Chelsea Islan, Hamish Daud, Miller Khan, Kemal Palevi, Fico Fachriza, RR Melati Pinaring, Rizka Dwi Septiana, Ivanka Suwandi


Ada sesuatu yang, emm, "klasik", dari keberadaan film ini. Komedi romantis dengan premis yang cukup konyol dengan dua pemain utama yang good looking. Yang gw tangkap adalah memang film ini tidak dirancang sebagai film yang akan punya dampak secara artistik, tapi lebih kepada dampak komersial. Kalau bahasa gw, film lucu-lucuan. Diadaptasi dari film Thailand yang kebetulan belum gw tonton karena masalah selera telinga =p, Love You...Love You Not... sebenarnya bisa jadi sebuah film komedi menyenangkan, seandainya semua lini bersinergi dengan baik, atau setidaknya dalam kualitas rata-ratalah. Sayangnya, itulah masalah di film ini.

Premis film ini adalah soal pengajar bahasa Inggris cantik Amira (Chelsea Islan) yang dipaksa mengajar seorang pemuda kampung Juki (Hamish Daud) yang mau menyusul pacarnya ke Amerika. Tentu saja mereka kemudian akan saling suka, tapi akan selalu ada penghalangnya, kali ini berwujud pria lain Taufan (Miller Khan) yang naksir Amira. Premis ini kayaknya persis seperti film Thailand-nya, dan seharusnya sih nggak masalah ketika hendak di-Indonesia-kan. Harusnya.

Sayangnya, peralihan ke versi Indonesia-nya sama sekali nggak mulus. Ke-awkward-an orang Indonesia berbahasa Inggris tidak digali dengan benar dan alami, sehingga jadinya kurang lucu. Gw hakul yakin bahwa orang Indonesia akan lebih mudah berbahasa Inggris ketimbang orang Thailand yang bahkan nggak pake huruf alfabet dalam kesehariannya. Tapi bukan berarti kita nggak punya kelucuan-kelucuan yang bisa digali dari kesulitan berbahasa Inggris, mungkin beda bentuknya, tapi bisa sama lucunya, yang sayangnya tidak di-capture di film ini. I mean, kenapa nggak angkat kebiasaan kita niru quote film atau lagu tapi salah denger atau salah tulis? You know, side dish jadi set dish misalnya?

Tapi, sebenarnya permasalahan utama film ini bukan cuma di situ, tetapi juga dari keputusan-keputusan kreatifnya. Pengadeganan komedinya menurut gw masih sangat sinetron, sementara sex jokes-nya--yang ternyata banyak sekali--juga kurang kena di gw. Casting Hamish Daud sebagai pemuda Betawi berwajah bule memang berisiko, yang sayangnya tidak ditangani dengan baik ketika dia masih kelihatan lebih jago bahasa Inggris specifically logat Australia ketimbang bahasa rumpun Melayu, same thing buat sosok si pacar Jepangnya yang sorry to say tidak ada sama sekali jejak-jejak yang menunjukkan dia orang Jepang, bahkan dari gesturnya. Pemilihan dan pembawaan pemain di film ini yang kurang tepat atau kurang maksimal agak distracting buat gw. 

Gw juga merasa film ini terlalu banyak missing link dari penuturan ceritanya. Progres pelajaran bahasa Inggris Juki kayak kelupaan untuk diangkat padahal itu kan penting, demikian juga bangunan kedekatan Amira dan Juki yang hampir nggak ada, sehingga ketika tiba saatnya mereka menyadari saling suka, gw jadi mikir "sejak kapan?". Romance-nya pun jadi kurang keluar, padahal itu arah utama film ini. Gw curiga, film ini seperti kejar tayang sehingga setelah editing kayak nggak dicek dulu ada yang "ilang" atau tidak sebelum dirilis. Setelah pemilihan lelucon yang menurut gw kurang pas, eh ditambah lagi sama kesinambungan cerita dan emosinya yang seperti kurang diperhatikan.

Untunglah di film ini masih ada Chelsea Islan yang sebenarnya sangat cocok tampil santai seperti ini, selain bahwa gambar-gambar di film ini sangat jeli menangkap kerupawanannya hampir di setiap angle =). Dan, ada salah satu bagian yang menurut gw amusing, ketika film ini melakukan semacam homage terhadap sinetron-sinetron era 90-an awal 2000-an dari Multivision Plus dengan kehidupan glamor dan mewah dari keluarga si Taufan. Wow those furnitures, clothings, jewelries, wines, and sasakan, bring me straight to that Abad 21 or Dewi Fortuna era. Oh, selain tentu saja bahwa ternyata banyak adegan film ini mengambil lokasi di Bekasi, hahaha.

Film ini sebenarnya bisa lho jadi film lucu-lucuan yang menyenangkan. Tapi, sayangnya potensi itu tidak bisa dimaksimalkan, mungkin sejak dari skenario atau dari penyuntingan akhirnya, I guess I'll never know which. Terlalu banyak kurangnya jadi ya susah juga kalau dibilang gw menikmati film ini. Padahal mungkin yang dibutuhkan film ini cuma more time, waktu buat mantepin skenario, mantepin si Hamish jadi orang Betawi, mantepin casting, mantepin editing, mantepin, umm, well, semuanya sih, pada dasarnya.




My score: 5,5/10

Minggu, 23 Agustus 2015

[Movie] Ju On 4: The Final Curse (2015)


呪怨 ザ・ファイナル (Ju On: The Final)
Ju On 4: The Final Curse
(2015 - Showgate/Universal)

Directed by Masayuki Ochiai
Screenplay by Masayuki Ochiai
Produced by Toshinori Yamaguchi, Mikihiko Hirata
Cast: Airi Taira, Ren Kiriyama, Nonoka Ono, Yurina Yanagi, Miyabi Matsuura, RIMI, Kai Kobayashi, Misaki Saisho, Nozomi Sasaki, Kanan Nakahara


Konon katanya film horor Asia, khususnya Jepang itu serem banget dan lebih serem dari Hollywood walau mungkin kalah serem dari yang lokal (which of course, really really arguable). Gw nggak bisa membenarkan atau menyalahkan "pepatah" itu, karena seperti yang Anda semua ketahui, gw jarang banget nonton horor, let alone horor Jepang. Tapi, gw tahu bahwa itu cukup benar untuk film Ringu (atau The Ring, 1998), film horor yang cuma modal set, aktor sedikit, dan make up setan tapi udah bisa bikin kengerian paripurna. 

Lalu di awal hingga pertengahan dekade 2000-an datang Ju On yang katanya seseram Ringu. Katanya. Waktu nonton dulu, gw akui sih seremnya emang seram. Tapi, gw nggak suka karena konsepnya itu nggak jelas dan terlalu random. Soal satu tempat, lalu setiap orang yang ke sana akan diteror sampai ke manapun, dan orang-orang yang berinteraksi dengan orang itu akan kena teror dan seterusnya. Tanpa alasan, pokoknya mereka sial aja. Dan, anehnya teror yang ujung-ujungnya merenggut nyawa korbannya itu nggak langsung aja gitu pas korbannya lengah tapi musti pake acara teasing dulu beberapa kali baru deh dieksekusi sekian adegan kemudian tanpa alasan yang jelas kenapa harus begitu. Setannya pun nggak ada rules, apakah nembus tembok atau enggak, bisa berubah wujud atau nggak, ngebunuhnya pun metodenya apa, apakah bisa diusir atau enggak, apakah korbannya punya ciri tertentu atau nggak. Buat gw, the whole consept of this story adalah excuse yang stupid supaya menimbulkan adegan seram.

Tapi ya ternyata pada seneng aja tuh sama film ini sampe franchise-nya bertahan lama. Nah, kebetulan gw berkesempatan nonton Ju On: The Final Curse yang katanya sih ditekankan pada kata "final"-nya itu, bahkan judul Jepangnya lebih vulgar lagi, The Final. Ini sebenarnya lanjutan dari reboot yang dirilis tahun sebelumnya, Ju On: The Beginning of the End yang menceritakan ulang asal-usul pasangan setan ibu dan anak Kayako dan Toshio yang gengges itu, tapi gw belum nonton jadi gw nggak bisa bandingkan dengan yang ini. Tapi, yang bisa gw pastikan dari The Final Curse ini adalah...franchise ini masih se-nggakjelas dan se-random yang gw ingat. 

Seriously, nggak ada hal baru yang ditawarkan di film ini, cuma pengulangan-pengulangan dari yang lama dengan korban-korban baru yang dimainkan oleh para pemain nggak terkenal dengan seadanya. Bahkan kayaknya film ini lebih bodoh dari pendahulunya. Terornya semain random, penyajian non-linearnya kacau, dan adegan terornya pun masih dengan cara klasik "korban tertegun dan membeku melihat setan dan sekalipun setan menghampirinya dengan kecepatan 10 m per jam tapi korban lebih memilih menggunakan energinya untuk teriak atau ngoceh dari pada bangkit dan lari". Semua kayak gitu. Dan soal teasing-teasing tadi, ya masih kayak gitu. Wih serem banget, serem banget--eh--nggak jadi deing setannya udah ilang lagi, ketemu entar lagi deh ya. Begok.

Apakah film ini menguak lebih dalam Kayako dan Toshio? Nope. Apakah karakternya lebih menarik dan simpatik? Boro-boro. Bahkan judul "final" itu harusnya masuk dalam modus penipuan karena konklusi film ini yang bikin gw pengen gigit busa kursi. Untunglah polesan gambarnya nggak bikin filmnya terkesan cheap, dan kalau nyarinya serem-sereman, film ini masih bisa mengeksekusinya. Tapi ya, serem-serem nggak ada isi gitu. 




My score: 5,5/10

Jumat, 21 Agustus 2015

[Movie] Fantastic Four (2015)


Fantastic Four
(2015 - 20th Century Fox)

Directed by Josh Trank
Screenplay by Jeremy Slater, Simon Kinberg, Josh Trank
Based on the comic books by Stan Lee, Jack Kirby
Produced by Simon Kinberg, Gregory Goodman, Matthew Vaughn, Robert Kulzer, Hutch Parker
Cast: Miles Teller, Kate Mara, Michael B. Jordan, Jamie Bell, Toby Kebbell, Reg E. Cathey, Tim Blake Nelson


Tahun 2005, ketika adaptasi komik superhero mulai menggeliat lagi di Hollywood, Marvel Comics bekerja sama dengan studio 20th Century Fox menghasilkan film tentang tim superhero, Fantastic Four. Memasang bintang Jessica Alba, Ioan Gruffud, Michael Chiklis, dan Chris Evans, film garapan Tim Story itu dikonsep cukup komikal, dengan elemen fantasi dan humor yang kental, tak terlalu jauh dari tone versi komik atau kartunnya. Tak terlalu percuma, film ini meraih sukses di box office global, sehingga menghasilkan sekuel berjudul Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer (2007), walau kurang bisa menyamai prestasi film pertamanya.

Beberapa tahun kemudian, Marvel sudah punya studio film sendiri dan menghasilkan film-film superhero sukses seperti Iron Man dan The Avengers. Fantastic Four, yang masih "nyangkut" hak ciptanya di Fox (bersama dengan franchise X-Men), belum jelas kelanjutannya setelah respons film terakhirnya kurang menggembirakan. Apalagi, Chris Evans yang tadinya menjadi Johnny Storm alias Human Torch kini telah berganti citra menjadi pahlawan Marvel lainnya, Captain America. Tak hilang akal, Fox dan Marvel akhirnya sepakat membuat reboot Fantastic Four, dengan merekrut sutradara muda Josh Trank, yang sebelumnya sukses lewat film bertema superhero dengan gaya found-footage, Chronicle (2012).

Jauh-jauh hari, film ini dideskripsikan tak hanya mengulang cerita Fantastic Four dari awal, tetapi dikonsep secara berbeda, lebih gelap, realistis, dan membumi. Dari segi casting pun film ini memasang pemain yang relatif muda, yaitu Miles Teller sebagai Reed Richards (Mr. Fantastic), Kate Mara sebagai Sue Storm (Invisible Woman), Jamie Bell sebagai Ben Grimm (The Thing), dan Michael B. Jordan sebagai Johnny Storm (Human Torch), plusToby Kebbell sebagai Victor von Doom (Dr. Doom). Meski nama dan kekuatan supernya sama, tetapi bangunan latar belakang dan karakter mereka di film versi baru ini dibuat berbeda.

Asal muasal kekuatan super yang diperoleh para karakternya pun diubah. Dalam versi komik maupun film pendahulunya, mereka digambarkan sebagai peneliti dan penjelajah antariksa yang terpapar sebuah zat asing di luar angkasa. Namun, dalam film terbaru ini, mereka semua diplot sebagai sekelompok peneliti yang menemukan mesin antardimensi, dan kekuatan mereka didapat saat mereka pergi ke sebuah dimensi lain.

Reed Richards sejak kecil memang sangat tertarik pada pembuatan mesin teleportasi (perpindahan benda jarak jauh seketika), sampai akhirnya ia dan sahabatnya, Ben Grimm direkrut oleh Dr. Franklin Storm untuk mengembangkan sebuah mesin teleportasi antardimensi skala besar di institut pimpinannya, yang sebelumnya sudah dikembangkan oleh Victor von Doom. Didukung oleh kedua anak Storm, Sue dan Johnny, mereka berlima berhasil membuat mesin teleportasi itu berfungsi. 

Namun, keberhasilan ini tak lantas bisa dirayakan. Pihak institut ingin eksperimen ini diambilalih oleh pemerintah AS. Tak terima kerja keras mereka dimentahkan, para peneliti muda ini nekad menjadikan diri mereka orang-orang pertama yang mencoba mesin tersebut dan berkunjung ke dimensi lain. Percobaan ilegal ini pun membawa dampak yang besar. 

Tak hanya membuat Victor tertinggal di dimensi lain itu, mereka semua terpapar zat energi asing yang membuat kondisi tubuh mereka tak seperti manusia biasa lagi: Reed jadi bertubuh elastis bak karet, Johnny bertubuh api membara, Sue dapat jadi tak kasat mata, dan Ben menjadi monster bertubuh batu. Mereka pun akhirnya menjadi objek penelitian badan pemerintah, bahkan dimanfaatkan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan negara. Ada yang menerima, ada pula yang menolak. Namun, kembalinya Victor dalam bentuk yang nyaris tak dikenali memaksa keempat mantan koleganya itu untuk bertindak.

Mengutak-atik cerita komik superhero menjadi sebuah film dengan pendekatan lebih realis memang tidaklah haram dilakukan, terutama di Hollywood. Seri film X-Men dan trilogi The Dark Knight sudah membuktikan bahwa pendekatan sepert itu tetap bisa sukses dan diterima—sayangnya kurang berhasil buat Hulk (2003). Ketahuan sekali bahwa Fantastic Four versi baru ini hendak mengarah ke sana. Menggunakan karakter dari yang sudah dikenal, film ini berjalan layaknya sebuah drama sci-fi thriller yang lebih banyak menyorot pada karakter dan penelitian yang mereka lakukan sebagai penggerak plot, ketimbang aksi mereka sebagai superhero.

Tetapi, apakah pendekatan itu tepat diterapkan pada Fantastic Four, perlu dipertanyakan. Kesan cerah dan fun agak sulit dilepas dari Fantastic Four. Bukan hanya bagi yang sudah familier dengan komik, kartun, atau film-film pendahulunya, tetapi dari konsep kekuatan super mereka sendiri sebenarnya kurang cocok untuk "diseriuskan". Manusia karet, manusia api, manusia batu, dan manusia tak kasat mata, ditambah musuh yang bisa sihir, semua deskripsi tersebut sangat memenuhi syarat untuk sebuah film serba heboh dan, well, fantastis. Ketika mereka semua ditaruh dalam lingkungan yang lebih realis, ada kesan bahwa para nama-nama superhero ini terkhianati dengan dicabutnya unsur cerah dan fun-nya itu.

Pada awal film berjalan, Fantastic Four memang berhasil menunjukkan konsep yang dimaksud. Secara perlahan film ini memperkenalkan para anggota yang kelak disebut Fantastic Four dengan bersahaja layaknya sebuah film drama, dibumbui sedikit humor yang cukup bekerja dengan baik. Kemudian kisah dibawa pada penemuan sebuah dimensi baru yang mungkin bisa jadi jawaban atas krisis energi bumi, dan berujung pada soal siapa yang berhak untuk mengelolanya. Baru setelahnya, unsur superhero itu masuk. 

Sampai di sana, film ini berjalan lancar dan aman-aman saja. Masalahnya mungkin pada penempatan unsur superhero yang baru masuk nyaris satu jam setelah film bergulir. Ditambah absennya adegan laga selama itu, bagian ini memang akan terasa lebih panjang dari yang seharusnya.

Tetapi, setelah unsur superhero itu masuk, film ini menukik tajam berganti gaya, seolah pembuat filmnya menyesal dengan apa yang telah disajikan di paruh awal sehingga berubah pikiran. Ceritanya jadi dituturkan terburu-buru, bahkan eksplorasi kekuatan baru orang-orang ini seakan digampangkan dengan lompatan "satu tahun kemudian" dalam sekejap. Ketika paruh awalnya film ini ingin punya pendekatan lebih dramatis, paruh akhirnya kemudian dijejali dengan berbagai adegan laga, tak peduli apakah adegan-adegan itu jelas maksudnya atau tidak, yang penting ada adegan besar untuk melampiaskan "sepi"-nya film ini di awal. Perubahan corak ini sayangnya sangat tidak mulus dan terkesan dipaksakan.

Terlepas dari berbagai kisruh di balik layar—konon sutradara Trank berselisih dengan pihak studio sehingga tak merestui hasil akhir film ini, Fantastic Four versi baru memang berada dalam posisi sulit untuk bisa memuaskan semua pihak. Bagi yang mencari film full action, film ini bakal susah berkenan. Juga bagi yang menikmati drama realisnya—yang sebenarnya digarap baik, film ini justru diakhiri dengan kekacauan adegan dan dialog-dialog yang sangat klise dan merusak suasana, kalau tidak mau disebut malu-maluin.

Seandainya film ini memilih satu corak saja—drama realis seluruhnya atau action seluruhnya, mungkin film ini akan lebih mudah diterima, paling tidak karena konsistensinya. Entah bagaimana caranya merespons film ini, yang tadinya mau menanggalkan unsur-unsur fun (dan konyol) dari film-film sebelumnya, tapi malah ujung-ujungnya jadi lebih konyol dari yang sebelumnya. Jika yang membuat film saja kebingungan, bagaimana penontonnya?



My score: 6,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Selasa, 11 Agustus 2015

[Movie] Mission: Impossible - Rogue Nation (2015)


Mission: Impossible - Rogue Nation
(2015 - Paramount)

Directed by Christopher McQuarrie
Screenplay by Christopher McQuarrie
Story by Christopher McQuarrie, Drew Pearce
Based on the TV series created by Bruce Geller
Produced by Tom Cruise, J.J. Abrams, Bryan Burk, David Ellison, Dana Goldberg, Don Granger
Cast: Tom Cruise, Jeremy Renner, Simon Pegg, Rebecca Ferguson, Ving Rhames, Alec Baldwin, Sean Harris, Simon McBurney, Tom Hollander, Zhang Jingchu, Jens Hultén


Dengan respons dan hasil box office yang beragam, franchise film spionase Mission: Impossible versi layar lebar akhirnya tetap bertahan sampai 19 tahun. Tahun ini, dirilislah film terbarunya, Mission: Impossible - Rogue Nation, yang masih dibintangi Tom Cruise sebagai agen tangguh Ethan Hunt untuk kelima kalinya. Yang menarik, film garapan Christopher McQuarrie ini akhirnya berani untuk tidak lagi memusatkan cerita pada sosok Ethan saja. Film ini pun jadi yang relatif paling dekat dengan konsep dasar serial TV-nya dulu.

Jika ditilik kembali, empat film Mission: Impossible terdahulu memang lebih banyak menyorot sosok Ethan sebagai protagonis utama dan penggerak segala sesuatu. Ia yang menjadi motor dengan perencanaan dan pelaksanaan, termasuk aksi-aksi paling berbahaya. Sehingga, sekalipun ia memimpin sebuah tim mata-mata berkeahlian tinggi, ia terkesan jadi pahlawan dan harapan satu-satunya—mungkin juga karena tokoh ini diperankan oleh Cruise yang seorang superstar.

Kecenderungan ini agak menyimpang dari konsep Mission: Impossible versi TV sejak 1967, yang lebih mengutamakan kerja tim, bahwa kesuksesan misi tidak bergantung pada satu orang saja. Dalam versi layar lebarnya, nilai-nilai tim itu baru mulai terasa pada Mission: Impossible III (2006) dan Mission: Impossible - Ghost Protocol (2011). Namun, cerita kedua film ini masih berpusat pada Ethan, dengan memunculkan sisi kehidupan personalnya yang turut terseret dalam kehidupannya sebagai mata-mata.

Rogue Nation pun menjadi lebih menyegarkan karena plot film ini tidak lagi berpusat pada Ethan secara pribadi, sekalipun ia tetap jagoan utamanya. McQuarrie yang turut menulis skenario tampaknya beranggapan para penonton sudah cukup mengenal pribadi Ethan selama hampir 20 tahun, sehingga ini saatnya move on dan membiarkan Ethan berkonsentrasi pada misi dan timnya. Dan, inilah yang membuat bangunan cerita Rogue Nation menjadi lebih leluasa dalam menyorot pertempuran dan intrik kebaikan melawan kejahatan, tanpa terbeban bahwa segalanya harus berkaitan dengan pribadi Ethan. Sekarang, dorongan Ethan untuk beraksi murni menyangkut perdamaian dunia.

Akibat misi-misi rahasia berdampak besar yang dilakukan IMF (Impossible Mission Force), pemerintah AS akhirnya membekukan organisasi rahasia ini, dan segala operasinya dilimpahkan ke badan intelijen CIA, sebagaimana tuntutan sang direktur Alan Hunley (Alec Baldwin). Padahal, justru di saat ini agen terbaik IMF, Ethan Hunt mempunyai petunjuk kuat tentang keberadaan Syndicate, sebuah organisasi gelap yang menjadi dalang peristiwa terorisme kelas tinggi tanpa terdeteksi di berbagai tempat di dunia. Mengetahui pembekuan IMF dari agen William Brandt (Jeremy Renner), Ethan kemudian membangkang dan menjadi buronan CIA.

Enam bulan sejak IMF dibekukan, Ethan menemukan cara untuk menghubungi rekannya dari IMF, Benji Dunn (Simon Pegg) untuk membantunya menyelidiki lebih lanjut tentang Syndicate, dimulai dari sebuah percobaan pembunuhan kanselir Austria di Wina. Namun, di saat yang sama Ethan bertemu juga dengan Ilsa Faust (Rebecca Ferguson), seorang agen rahasia Inggris yang kini dekat dengan Solomon Lane (Sean Harris), yang disebut sebagai pemimpin Syndicate. Ethan dan Benji pun berusaha membongkar Syndicate melalui Ilsa, sekalipun tak sepenuhnya yakin wanita tersebut berada di pihak mana.

Secara kasat mata, Rogue Nation mudah saja dianggap sebagai satu lagi film blockbuster Hollywood yang tak boleh dilewatkan hanya karena ini adalah film blockbuster Hollywood. Apalagi, film ini dibintangi Cruise dan merupakan film dari franchise terkenal. Ditambah lagi, film ini merambah berbagai elemen internasional, seperti pengambilan gambar di Maroko, Inggris, Austria, sampai disebutnya Jakarta dalam dialog dan pertunjukan opera berlatar China kuno—mungkin berkaitan dengan Rogue Nation yang diproduksi Paramount bersama rumah produksi asal China, Alibaba Pictures.

Rogue Nation sendiri sebenarnya sangat memenuhi ekspektasi itu. Hampir setiap adegan laga di film ini sanggup meninggalkan kesan yang khas. Mulai dari Ethan bergelantungan di pesawat yang lepas landas, kebut-kebutan di Maroko, hingga penyusupan di komputer bawah air, yang digarap rapi dan timbulkan efek suspense. Terlebih lagi, sebagian besar adegan laga di film ini dieksekusi dengan tidak bergantung penuh pada CGI, sehingga tampak lebih meyakinkan. Dan, untungnya, McQuarrie dan timnya menampilkan adegan-adegan itu dalam takaran yang tepat, fantastis tapi tidak over-the-top, dan sesuai dengan prinsip IMF sebagai organisasi yang beroperasi secara rahasia.

Tetapi, Rogue Nation sebenarnya tidak hanya unggul di sana. Sebagaimana disinggung sebelumnya, Rogue Nation bisa dikatakan sebagai film Mission: Impossible yang paling adil dalam membagi porsi tokohnya. Meski Ethan masih dikedepankan, film ini memberi kesempatan bagi Benji, William, juga Luther (Ving Rhames, satu-satunya pemeran yang masih bertahan dari film pertama selain Cruise) untuk tampil dalam porsi signifikan dengan kepribadian masing-masing. Tokoh-tokoh baru seperti Ilsa, Hunley, dan Solomon berhasil dihadirkan dengan presence yang kuat, dimainkan oleh aktor-aktris yang berkarakter kuat pula.

Kekompakan performa para pemain turut memperkuat tuturan ceritanya. Tanpa pengungkapan-pengungkapan yang terlalu manipulatif, Rogue Nation dituturkan dengan ritme yang tepat. Film ini bisa saja larut dalam pembahasan politik tentang operasi rahasia pemerintah dan juga Syndicate yang menentang kapitalisme, tetapi film ini tetap fokus misi utama dari Ethan dan timnya dalam meringkus Syndicate. Penataan adegan Rogue Nation juga termasuk berkelas, bahkan puitis. Film ini tidak dijejali dengan banyak dialog, namun adegan-adegan yang ditampilkan mampu bercerita dengan efektif, tanpa memerlukan penjelasan panjang lebar.

Salah satu bukti paling nyata adalah adegan percobaan pembunuhan di gedung opera di Wina, yang nyaris tanpa dialog atau bahkan suara mulut. Gerak-gerik dari para tokoh ditata sedemikian rupa dengan latar belakang musik opera yang keras, seolah-olah mereka juga bagian dari opera tersebut. Hal yang sama juga dikatakan pada bagian klimaksnya, yang meskipun tidak se-ingar-bingar babak-babak sebelumnya, tetapi memperkuat poin bahwa Mission: Impossible adalah kisah sebuah tim.

Mungkin agak prematur bila menyatakan Rogue Nation adalah film Mission: Impossible terbaik. Setiap film di franchise ini dibuat oleh sutradara berbeda-beda dan sesuai dengan tuntutan zamannya, sehingga cara memandangnya pun bisa berbeda. Tetapi, satu hal yang pasti, dengan cerita yang kuat, gambar-gambar sedap dipandang (film ini syuting menggunakan media film seluloid), dan tata suara mumpuni, Rogue Nation berhasil menyajikan sebuah tontonan berkelas, seru, thrilling, sesekali lucu, dan juga respek terhadap konsep dasar franchise ini.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Senin, 10 Agustus 2015

[Movie] Catatan Akhir Kuliah (2015)


Catatan Akhir Kuliah
(2015 - Darihati Films)

Directed by Jay Sukmo
Screenplay by Johansyah Jumberan, Jay Sukmo
Based on the book by Sam Maulana
Produced by Johansyah Jumberan, Dedy Syah
Cast: Muhadkly Acho, Ajun Perwira, Abdur Arsyad, Anjani Dina, Elyzia Mulachela, Niken Ayu, Natasha Chairani, Aida Nurmala, Andovi Da Lopez, Rangga Moela, Budi Doremi


Catatan Akhir Kuliah mungkin terkesan "mencuri" judul dari film Indonesia yang lebih dahulu terkenal, Catatan Akhir Sekolah (2005). Namun, kedua film ini bentuknya sama sekali berbeda. Bagian "akhir" dari masa kuliah yang dimaksud di film Catatan Akhir Kuliah ternyata punya bentang waktu yang tidak pasti. Soalnya, film ini mengisahkan perjuangan seorang mahasiwa IPB (Institut Pertanian Bogor) yang tak lulus-lulus.

Mahasiswa itu adalah Sam Maulana (Muhadkly Acho), yang menuntut ilmu di Fakultas Ekologi Manusia (FAM). Di awal film penonton diperkenalkan pada Sam yang proposal topik skripsinya—sebagai langkah awal menuju lulus dan raih gelar sarjana—selalu ditolak oleh dosen pembimbingnya (Aida Nurmala).

Ia jelas frustrasi, sebab ia pernah membuat perjanjian sejak tahun pertama dengan dua sahabatnya Sobari (Ajun Perwira) dan Ajeb (Abdur Arsyad) untuk wisuda bersama-sama, sementara progres skripsi kedua sahabatnya itu sudah lebih maju. Tak hanya itu, penolakan ini juga menambah serangkaian penolakan yang dialaminya selama kuliah.

Dua penolakan yang paling diingat adalah dari seorang mahasiswi sekelasnya bernama Wibi (Elyzia Mulachela), yang hanya mau menganggapnya teman. Kemudian dari mahasiswi jurusan lain, Anisa alias Kodok (Anjani Dina). Hubungan Sam dan Kodok memiliki porsi yang lebih banyak dalam cerita film ini, terlebih karena usaha yang cukup besar yang dilakukan Sam untuk bisa mendekati mahasiswi yang selalu berpakaian hijau itu, mulai dari memberi kado rahasia, sampai membuat proyek bersama di kampus. Dan, Kodok pula yang jadi salah satu penyebab Sam gagal termotivasi lulus lebih cepat.

Dilihat dari segi manapun, Catatan Akhir Kuliah adalah sebuah film yang memang tidak punya nilai bombastis. Ini adalah sebuah kisah yang sebenarnya biasa dan sangat dekat dengan keseharian. Tapi, itulah yang kemudian dijadikan daya tarik utamanya. Film ini berangkat dari buku memoar Sam Maulana (di kehidupan nyata) yang berisi tentang pengalaman-pengalamannya saat jadi mahasiswa IPB yang telat lulus. Ketika diadaptasi menjadi film, tentu akan terlalu berlebihan bila menganggap semua yang ditampilkan di layar adalah persis dengan kenyataan yang dialami Sam. Tetapi, hal yang secara benar dilakukan sutradara Jay Sukmo dan timnya adalah menggambarkan kehidupan mahasiswa dengan cukup otentik dalam film ini.

Bisa dibilang Catatan Akhir Kuliah dengan baik mengintegrasikan tokoh-tokoh dan ceritanya dalam kehidupan perkuliahan yang riil. Bukan cuma persoalan tugas-tugas dan tahapan-tahapan kuliah—khususnya secara spesifik di IPB, serta pergaulan mahasiswa dan mahasiswinya, tetapi juga ditampilkannya hal-hal minor seperti keakraban para mahasiswa dengan tukang fotokopi atau pengelola warung, sehingga kesan riil pun muncul. Tidak ada penggambaran para mahasiswa yang berdiri di pinggir lorong atau berjalan sambil membaca buku, seperti sering ditampilkan secara keliru oleh film-film atau sinetron Indonesia berlatar kampus.

Menyaksikan film ini ibarat mendengarkan curhatan menarik dari seorang teman, sesuatu yang sederhana, ringan, tetapi menyenangkan karena dekat dengan keseharian—kesan yang sesuai juga dengan deretan musik dan lagu-lagu pop akustik yang dibawakan Budi Doremi yang mengiringinya. Film ini pun juga cukup sukses memasukkan sisi komedinya, terutama dari interaksi Sam dengan Sobari dan Ajeb, yang lagi-lagi terlihat khas mahasiswa pada umumnya. Mungkin tidak seluruhnya lucu, tapi setidaknya tak berlebihan.

Namun, di sisi lain, sisi fun dari film ini sebenarnya hanya bertahan di paruh awal saja. Ketika tiba saatnya Sam membuat keputusan tentang skripsi dan juga perasaannya dengan Kodok, semuanya jadi serba sendu dan "galau", dan memakan durasi yang cukup panjang. Mungkin diniatkan sebagai dinamika dalam cerita, dan kaitannya juga cukup logis, namun penyampaiannya tidak seimbang dengan corak film ini di awal yang ringan dan santai. Cukup mengherankan ketika di bagian awal terdapat adegan fantasi Sam tentang kelas Harry Potter (yang sebenarnya juga kurang berfungsi untuk ceritanya), tetapi di bagian lain seolah-olah film ini ingin jadi "dalam" dan terlalu serius. Padahal, untuk mencapai itu bukan berarti harus benar-benar menghilangkan unsur komedi dan fun-nya.

Keputusan film ini untuk membuat porsi khusus untuk kalimat-kalimat motivasi Mario Teguh (sekalipun konon sesuai dengan pengalaman Sam aslinya), serta kesimpulan dalam bentuk tulisan di bagian akhir, juga terkesan dipaksakan supaya film ini punya "kata-kata bermuatan moralitas" yang jelas dan bisa dikutip langsung. Seakan kurang percaya diri bahwa cerita yang dituturkan sepanjang film sudah memuat message dari pembuat filmnya.

Tapi sekali lagi, upayanya untuk menyajikan kehidupan mahasiswa dengan lebih otentik patut dihargai. Upaya para pemerannya dalam mewakili karakter masing-masing juga masih cukup bisa diterima, meskipun agak janggal melihat Muhadkly yang seorang stand up comedian tampak lebih luwes berakting daripada Ajun Perwira yang punya jam terbang lebih tinggi. Namun, secara keseluruhan, Catatan Akhir Kuliah bolehlah menjadi sajian yang cukup bisa dinikmati dengan santai, sambil mengingat-ingat masa perkuliahan bagi mereka yang sedang menjalani maupun para mantan mahasiswa.



My score: 6,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com