Selasa, 30 Juni 2015

[Movie] Minions (2015)


Minions
(2015 - Universal/Illumination Entertainment)

Directed by Pierre Coffin, Kyle Balda
Written by Brian Lynch
Produced by Christopher Meledandri, Janet Healy
Cast: Sandra Bullock, Jon Hamm, Michael Keaton, Steve Coogan, Jennifer Saunders, Alison Janney, Hiroyuki Sanada, Pierre Coffin, Geoffrey Rush


Despicable Me (2010)—dan sekuelnya, Despicable Me 2 (2013), adalah film animasi yang cukup punya keunikan. Pertama, film tersebut menjadikan seorang penjahat sebagai protagonis, walaupun dibuat konyol dan tetap punya hati dengan tema keluarga yang cukup kental. Kedua, tokoh-tokoh utama film itu malah kalah terkenal dari karakter-karakter pembantunya, yang disebut para minion. Dengan wujud, tingkah polah, dan bahasa yang lucu menggemaskan, para minion menjadi bintang baru di dunia animasi. Secara alamiah, peluang ini pun digunakan oleh studio animasi Illumination Entertainment untuk membuat film spin-off berjudul Minions, yang memberi tempat bagi para makhluk kuning ini tampil di depan.

Minions dikonsepkan sebagai prekuel dari Despicable Me, sekaligus kisah asal-usul dari para minion. Minions ternyata memang tercipta untuk mengabdi dan mengagumi siapa saja yang terkuat—yang biasanya adalah para penjahat. Mereka senantiasa mencari sosok-sosok demikian untuk dijadikan bos. Mulai dari Tyrannosaurus rex di zaman purba, Dracula di zaman pertengahan, sampai Napoleon Bonaparte di abad ke-19. Sayangnya, mereka sering kehilangan bos mereka karena kecerobohan mereka sendiri.

Hidup tanpa arti dan tujuan karena tak punya bos, tiga minion bernama Kevin, Stuart, dan Bob (semuanya diisi suara Pierre Coffin) melakukan pengembaraan mencari bos baru. Mereka sampai di Amerika Serikat, dan mengetahui ada sebuah konvensi para penjahat dari seluruh dunia, yang menampilkan Scarlett Overkill (Sandra Bullock), yang disebut-sebut sebagai penjahat terhebat saat ini. Tiga minion ini pun berusaha untuk menjadikan Scarlett sebagai bos mereka, meski harus melakukan syarat yang cukup berat: mencuri mahkota Ratu Inggris.

Minions adalah salah satu contoh film yang kebal kritik. Bagaimanapun kualitas filmnya, film ini tetap akan disambut ramai. Terus terang saja, cerita bukanlah bahan jualan utama dari keberadaan film ini. Illumination Entertainment (dan studio Universal Pictures) sudah tahu betul pangsa pasar properti mereka yang satu ini, yaitu anak-anak dan orang tua mereka, yang sudah pasti akan tertarik dengan hanya melihat para minion ini bertingkah di layar besar. Bagus ataupun jelek kualitasnya, yang penting eksistensi minions ini makin kuat dan terangkat lagi. Atau dalam bahasa lain, bisa jadi momentum menaikkan penjualan merchandise-nya.

Kisah asal-usul minion yang akhirnya bertemu dengan Gru (tokoh utama di Despicable Me) sebenarnya bisa selesai dengan singkat, bahkan mungkin muat dalam sebuah film pendek. Tetapi, karena value dari para minions yang sangat tinggi untuk dijual, tentu sayang jika hanya dibuat film pendek. Sayangnya, kesempatan membuat film yang lebih panjang tidak mendorong pembuatnya untuk membuat cerita yang lebih berisi.

Dengan kelucuan yang setara, film Despicable Me sebelumnya paling tidak berusaha memunculkan nilai-nilai kekeluargaan dan penerimaan antara Gru dengan kedatangan tiga anak yatim piatu. Sementara, Minions ini seolah hanya sekumpulan sketsa lawak dari para minion yang disambung-sambungkan, menghibur sesaat tanpa momen yang benar-benar layak diingat. Film ini tidak punya sesuatu yang bisa membuat para minion ini lebih disukai dari pada sebelumnya, selain tawa rutin setiap melihat kekonyolan mereka dengan humor slapstick-nya, yang sebenarnya juga tidak mengejutkan lagi.

Harus diakui bahwa beberapa kali humornya memang berhasil. Selain kelucuan minion, film ini juga menyelipkan humor mockery yang mungkin lebih mengena di penonton dewasa—khususnya bagaimana film ini membuat karikatur kebiasaan orang Inggris yang gemar minum teh dan bertutur sopan. Film ini juga dikemas dengan grafis animasi yang sangat mulus dan bersih, serta desain para karakter dan benda-benda yang menarik dan berwarna. Namun, layaknya minuman manis dengan pewarna dan gula buatan yang tidak menyehatkan tubuh, apalah artinya humor dan gambar menarik tanpa cerita dan karakterisasi yang kuat. Bahkan ketika ceritanya beranjak ke momen para minion diberi kekuasaan—dan ternyata tak sanggup karena sifat mereka adalah mengabdi—juga seakan menguap tanpa bekas.

Akan tetapi, sekali lagi, karena film ini memang jelas-jelas dibuat hanya untuk membuat penonton berbondong-bondong membeli tiket ke bioskop untuk tertawa dan merasa gemas semata, Minions tidak sepenuhnya "bersalah" atas kekurangannya. Minions berhasil secara kasat mata, menyenangkan dan menghibur ketika disaksikan, walaupun memang sensasi itu hanya sampai di sana. Film ini seperti berlalu begitu saja tanpa memberi jejak berarti, selain sugesti untuk membeli mainan dan hiasan minion saja.




My score: 6,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Senin, 29 Juni 2015

[Movie] The Age of Adaline (2015)


The Age of Adaline
(2015 - Lionsgate)

Directed by Lee Toland Krieger
Written by J. Mills Goodloe, Salvador Paskowitz
Produced by Sidney Kimmel, Gary Lucchesi, Tom Rosenberg
Cast: Blake Lively, Michiel Huisman, Harrison Ford, Ellen Burstyn, Kathy Baker, Amanda Crew, Lynda Boyd, Hugh Ross, Anthony Ingruber


Dengan semangat cerita mendayu-dayu ala novel Nicholas Sparks, film The Age of Adaline garapan Lee Toland Krieger tampil sedikit berbeda dari roman biasa. Ketimbang memasukkan "keajaiban cinta" dalam kehidupan biasa (yang sering kali membuat film roman jadi cheesy), film ini menampilkan keajaiban yang sesungguhnya. Benang merah utama film ini adalah bertemunya seorang wanita dan pria, namun sang wanita ternyata sudah berusia satu abad, walau masih terlihat muda. Film ini kemudian tak melulu membahas soal romansa, tetapi justru lebih menekankan topik soal usia dan rentang hidup manusia.

Adaline Bowman (Blake Lively) adalah seorang wanita Amerika biasa. Lahir di tahun 1908, ia tumbuh menyaksikan dibangunnya jembatan Golden Gate di San Francisco, menikah dengan pria baik-baik, dikaruniai seorang putri bernama Flemming, dan sayangnya harus menjanda di usia muda. Di suatu malam, Adaline mengalami kecelakaan yang membawa perubahan besar dalam hidupnya. Sebuah fenomena alam membuat sel-sel tubuhnya berhenti menua. Ia akan tetap terlihat seperti usianya saat itu, yaitu 29 tahun. Mencoba melanjutkan hidup seperti biasa, Adaline sadar bahwa keajaiban yang dialaminya suatu saat akan mengundang perhatian yang tak diinginkan. Karena itu, Adaline memutuskan untuk meninggalkan putrinya, berpindah-pindah setiap 10 tahun dengan identitas yang selalu baru.

Kehidupan Adaline pun berkutat pada siklus tersebut. Namun, memasuki era milenium, ada yang berbeda. Adaline bertemu dengan pengusaha muda, Ellis Jones (Michiel Huisman) yang cukup agresif mengejarnya. Kedekatan mereka menggoyahkan Adaline yang berprinsip tidak boleh berhubungan dekat dengan siapa pun—karena toh nantinya ia harus pergi lagi. Di saat ini, Adaline mulai mempertimbangkan untuk berhenti berkelana dan tetap bersama Ellis. Akan tetapi, bagaimana dengan rahasia bahwa ia bukanlah wanita usia 20-30-an seperti yang disangka orang-orang, dan pastinya oleh Ellis?

Seperti halnya karakter Adaline, film The Age of Adaline dituturkan dengan lembut dan bersahaja. Mungkin karena film ini berangkat dari konsep yang mengutamakan unsur roman. Andai diangkat dari sudut depresif, premis yang sama mungkin akan berkembang jadi kisah berbagai percobaan Adaline untuk bunuh diri, atau memanfaatkan kecantikannya untuk mempermainkan pria. Di lain pihak, konsep roman itu juga yang membuat sepanjang satu abad kehidupan Adaline, nyaris tidak ada peristiwa yang akbar dan menghebohkan layaknya film-film sci-fi. Hal ini sebenarnya terjelaskan dalam ceritanya, Adaline memang sengaja bersembunyi dan tak banyak tingkah supaya tidak dijadikan objek penelitian.

'Tak banyak tingkah' juga bisa dijadikan gambaran keseluruhan The Age of Adaline. Dengan premis yang mengandung unsur fantasi, satu-satunya hal yang membuat film ini agak eksentrik adalah penceritaan latar belakang Adaline yang dituturkan bak dongeng dengan suara narator dan kolase gambar yang mirip gaya sineas Zack Snyder. Selebihnya, film ini tergolong aman dan nyaman, dituturkan dengan lurus dan mudah untuk dipahami. Dikemas dengan gambar-gambar sejuk, sangat mudah untuk mengikuti film ini dari awal hingga akhir.

Ceritanya pun akhirnya lebih berkonsentrasi pada hubungan Adaline dengan orang-orang terdekatnya, khususnya Ellis dan Flemming yang kini sudah tampak seperti neneknya (Ellen Burstyn). Di sinilah Krieger bersama penulis J. Mills Goodloe dan Salvador Paskowitz mengangkat perenungan soal usia. Siapa yang tak ingin awet muda dan cantik seperti Adaline? Tetapi, sebagaimana telah dijalani Adaline, apakah itu sudah pasti mendatangkan kebahagiaan?

Adaline cukup bijak dengan memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar berbagai ilmu, seperti bahasa-bahasa asing, huruf Braille, menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, sampai meneliti fenomena yang terjadi pada dirinya. Ia menjadi wanita mandiri yang tahu betul apa yang harus dan tidak harus dilakukan, tanpa terhalang stamina fisik yang menurun karena termakan usia. Di sisi itu, kemudaan abadi jadi keuntungan. Di sisi lain, Adaline pada dasarnya kesepian. Selama berpuluh-puluh tahun Adaline "menyamar" jadi orang biasa. Ia hanya bisa jadi diri sendiri di hadapan putrinya yang hanya bisa sesekali ditemuinya, dan juga anjing peliharaannya. 

Adaline secara harafiah menyaksikan waktu berlalu di depan matanya, dan itu tidak menyenangkan. Anjingnya akan mati lebih cepat dari pada dirinya sehingga ia selalu memelihara lagi anjing jenis yang sama, dan Flemming—yang jadi alasan Adaline tetap teruskan hidup—telah jadi lebih tua, lebih tak berdaya, bahkan kelak mungkin mati lebih dulu dari dirinya. Hal yang sama pun akan terjadi kepada siapa pun yang dekat dengannya. Film ini pun akhirnya menekankan bahwa "berkah" cantik dan muda selamanya telah menjadi semacam penjara bagi Adaline.

Dengan titik berat cerita ada pada Adaline, kemampuan Blake Lively sebagai pemerannya tentu harus jadi tumpuan. Lively di sini tidak hanya tampil cantik sesuai tuntutan cerita, tetapi juga cukup berhasil menampilkan kedewasaan yang melebihi usianya. Dengan gestur dan tutur katanya, tidak sulit membayangkan ada jiwa seorang wanita tua di dalam tubuh semampai Lively. Tetapi, hal itu hanya berhasil ketika Adaline berada dengan tokoh yang sebaya. Ketika dihadapkan pada pemeran yang kenyataannya lebih tua, terutama Burstyn, Harrison Ford dan Kathy Baker (pemeran orang tua Ellis), mulai agak sulit dipercaya bahwa Lively sebagai Adaline lebih tua dari mereka. Mungkinkah ini karena Lively masih kalah karismatik dari aktor-aktris senior tersebut? Bisa jadi.

Dengan penuturannya yang lancar, The Age of Adaline mungkin agak kurang dalam segi inovasi. Dikedepankan sebagai roman, film ini sebenarnya sudah bisa ditebak akan berakhir manis, bagaimana pun caranya. Demi unsur manis itu pula, kecanggungan bahwa sebenarnya Ellis yang berusia 30-an tahun memadu kasih dengan nenek berusia 100-an tahun agak terpinggirkan dari ceritanya, supaya penonton tak perlu terlalu dalam membayangkannya. Bahkan, alasan mengapa Adaline mau membuka diri dengan Ellis juga tidak dikembangkan dengan lebih jauh, selain Adaline (atas saran Flemming) sudah lelah berlari.

Sebenarnya itu bisa disanggah dengan menunjukkan bahwa film ini—sekalipun membicarakan usia fisik manusia—lebih mengedepankan kualitas jiwa. Ellis digambarkan sebagai seorang peminat sejarah, sehingga pengetahuan dan "jiwa"-nya bisa dibilang sama tuanya dengan Adaline. Sebuah cara membangun karakter dan cerita yang sebenarnya memperdaya, tetapi masih cukup bisa diterima. Minimal, jika dipandang sebagai sebuah sajian hiburan yang menyenangkan dari sebuah cerita yang ajaib, film ini sudah menjalankan tugasnya dengan baik.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

[Movie] Pizza Man (2015)


Pizza Man
(2015 - Renee Pictures/Flicker Production)

Directed by Ceppy Gober
Written by Gandhi Fernando, R. Danny Jaka Sembada
Produced by Gandhi Fernando, Laura Karina
Cast: Yuki Kato, Joanna Alexandra, Karina Nadila, Gandhi Fernando, Dhea Ananda, Henky Solaiman, Babe Cabiita, Zerny Rusmalia, Chika Waode, Kemal Palevi


I'm not really sure apa yang membuat Pizza Man menarik. Mungkin logo dan komposisi warna dari posternya. Kesan yang gw tangkap dari sana adalah, sekonyol-konyol konsep komedinya, film ini nggak kelihatan cheap. Well, ketika nonton hasil akhirnya, sebenarnya film ini agak kelihatan dibuat dengan dana hemat (mungkin karena gw merasa gambarnya buram dan redup di adegan malam), tetapi untungnya digarap dengan cukup serius sehingga nggak pasrah sama hal itu. I'll give them that.

Pizza Man berpremis cukup sederhana dan nge-hook, tentang tiga cewek sohiban mengerjai seorang pengantar pizza yang kebetulan (sesuai deskripsi promo-promo awalnya) ganteng, lalu keisengan itu malah menimbulkan berbagai kekacauan. Nah, tinggal yang punya harus film mengisi sela-sela premis itu agar jadi sajian yang menarik. Salah satu yang gw cukup salut adalah film ini secara terang-terangan mengonsepkan film ini komedi dewasa...well...dewasa mudalah, bukan untuk bocah-bocah. Cewek-cewek yang pergaulannya kurang bagus ini ceritanya mabok-teler sendiri dan ketika sedang pengar *jiaah pengaaar* *ala teks terjemahan di tipi*, mereka menemukan si tukang pizza nggak sadarkan diri. Maka dimulailah usaha mereka untuk "bertanggung jawab" terhadap si tukang pizza, namun selalu menemukan kesialan-demi kesialan. Semuanya itu, ditambah dialog-dialog kasar dan menyerempat seksualitas, disajikan cukup natural dan lumayan proper. Konyol tetapi nggak canggung.

Tetapi, ada satu hal yang mengganjal gw untuk menikmati film ini secara keseluruhan. Ketika cewek-cewek teler ini berencana ngisengin cowok random--karena ketiganya, well, dua di antaranya ingin balas dendam sama kaum cowok--dengan niat memperkosa. Di sini gw masih nggak terlalu gimana gitu, karena gw maklumi mereka emosi dan teler. Tetapi, ketika topik ini muncul lagi di akhir film, entah kenapa gw merasa film ini terlalu mempermainkan salah satu bentuk kekerasan paling keji itu. Apalagi sebelumnya ada salah satu dari tokoh mengungkapkan punya trauma mendalam tentang topik itu. Ketika kemudian topik itu di-"main-mainin" oleh exactly tokoh yang sama, menurut gw jadi nggak pantas dan nggak pada tempatnya aja, dan nggak lucu lagi. Untunglah (?) itu udah di ujung film.

That being said, gw masih menghargai usaha film ini untuk membuat penyegaran di genre komedi Indonesia saat ini. Paling enggak, penggarapannya nggak ngasal, dan ketiga pemain utamanya bermain oke, menampilkan apa yang dituntut dari karakter masing-masing tanpa terlihat palsu. Dan, menurut gw, Yuki Kato musti main film lebih banyak lagi, karena di film ini performanya menunjukkan ia punya potensi, selain bisa tetap lovable as always =). Secara keseluruhan filmnya mungkin tidak sesegar materi promosinya, tapi most of the time film ini masih cukup enak diikuti dan masih bisa menghibur di sana-sini.




My score: 6,5/10

Senin, 22 Juni 2015

[Movie] Parasyte: Part 2 (2015)


寄生獣 完結編 (Kiseijuu Kanketsu-hen)
Parasyte: Part 2
(2015 - Toho)

Directed by Takashi Yamazaki
Screenplay by Ryota Kosawa, Takashi Yamazaki
Based on the comic book series "Parasyte" by Hitoshi Iwaaki
Produced by Genki Kawamura, Takahiro Satou, Keichirou Moriya
Cast: Shota Sometani, Sadao Abe, Eri Fukatsu, Ai Hashimoto, Tadanobu Asano, Kazuki Kitamura, Nao Omori, Hirofumi Arai, Jun Kunimura, Kosuke Toyohara


Dalam Parasyte Part 1, seorang siswa SMA biasa bernama Shinichi Izumi (Shota Sometani) mengetahui keberadaan serbuan diam-diam makhluk parasit yang mengambil alih tubuh manusia, lalu memangsa manusia lain sebagai makanannya. Ia tahu ini, karena ia juga dirasuki salah satu makhluk tersebut. Bedanya, parasit ini gagal mengambilalih tubuh Shinichi, melainkan hanya berhasil hidup di tangan kanannya, dan menamai diri Migi (suara oleh Sadao Abe). Kondisi mereka yang tak wajar itu membuat mereka jadi incaran parasit lain. Shinichi dan Migi pun mau tak mau harus kompak untuk mempertahankan diri.

Beranjak dari kisah tersebut, Parasyte Part 2 melangkah ke Shinichi yang telah berubah jadi sosok yang murung dan penuh dendam, setelah sebuah peristiwa memilukan di bagian pertama: serangan parasit di sekolahnya dan parasit yang menguasai ibunya. Kini ia berkonsentrasi untuk membasmi para parasit dengan tangannya sendiri. Lama-lama tindakannya ini menarik perhatian kepolisian, dan juga pihak kelompok parasit yang semakin gerah dengan segala yang menimpa sesamanya. Wajarlah bila Shinichi dan Migi akan mendapat perlawanan, khususnya dari parasit sakti, Goto (Tadanobu Asano). Walau di lain pihak, sang parasit peneliti, Ryoko Tamiya (Eri Fukatsu) justru ingin perjuangkan manusia dan parasit dapat hidup berdampingan, seperti yang terjadi pada Shinichi dan Migi.

Meski masih dalam satu benang merah, terlihat bahwa ada perbedaan tema antara Parasyte Part 1 dan Part 2. Part 1 sebagai kisah pendahuluan mencampurkan berbagai elemen, mulai dari horor, action, drama, hingga humor. Part 2 bisa dibilang lebih berfokus pada sisi drama dan thriller, nyaris tanpa unsur humor. Selain itu, dari konten cerita, Part 1 memunculkan tema bagaimana jadinya jika manusia, yang selama ini dianggap sebagai puncak rantai makanan, menjadi mangsa. Di Part 2, manusialah yang memangsa balik para pemangsa, sebagai reaksi atas serangan di Part 1.

Dengan demikian, topik yang secara gamblang ditekankan dalam Part 2 adalah pertanyaan "siapa yang layak disebut monster?". Pertanyaan ini sudah sempat muncul sedikit di Part 1, ketika Migi mencoba menalar pengertian "iblis", yang menurutnya lebih tepat ditujukan pada manusia. Sebab, manusia dalam sejarahnya penuh dengan kekerasan dan pengerusakan, baik terhadap sesamanya maupun makhluk lain. Dalam Part 2, topik ini diberi porsi sangat besar. Awalnya diwakili dengan kemunculan pembunuh berantai terpidana, Uragami (Hirofumi Arai), yang memenuhi definisi iblis tadi. Kemudian berkembang di titik ketika manusia sudah bisa mendeteksi siapa musuhnya, maka dengan sekuat tenaga mereka berusaha menghancurkannya. 

Di sinilah timbul peperangan nilai. Para parasit ini pada dasarnya hanya ingin bertahan hidup. Mengambil alih tubuh manusia dan makan daging manusia adalah satu-satunya cara yang mereka tahu untuk bisa hidup. Manusia juga sama, berjuang bertahan hidup dan melawan pihak-pihak yang menghalanginya adalah hal yang alamiah. Lalu siapa yang benar?

Pertanyaan itu kemudian dikontraskan dengan pertanyaan lain, "apa yang membuat manusia beda dari makhluk lain". Topik ini menjadi bagian Ryoko, parasit yang secara mendalam mulai memahami tentang manusia, salah satunya dengan cara memiliki anak. Ia perlahan tahu alasan di balik berbagai ekspresi manusia—tersenyum, tertawa, menangis, bukan hanya sekadar meniru seperti dilakukan parasit yang lain. Manusia punya rasa yang selama ini tidak bisa dipahami oleh para parasit. Rasa inilah yang terus bergelut melawan insting alamiah manusia untuk bertahan hidup. Rasa ini yang membuat manusia punya pilihan ketika berada dalam posisi memegang power, mencegah manusia berbuat keji, juga membuat manusia gelisah setelah melakukan kekejian.

Hal-hal tersebut tampak dimasukkan dalam film ini sebagai semacam kritik. Ketika ada satu pihak yang mengusahakan perdamaian, selalu ada pihak yang mengambil jalur kekerasan, hanya karena tidak tahu atau tidak percaya ada cara lain. Tetapi, selalu ada situasi yang membuat manusia mengalami dilema. Dalam satu adegan, Shinichi mulai membangun rasa kasihan terhadap para parasit, tetapi ia juga tahu bahwa parasit ini tidak punya rasa yang sama terhadapnya, dan malah akan menyerang diri dan orang-orang yang disayanginya. Mengalahkan musuh yang membuat hidupnya menderita ternyata sangat berat baginya. 

Di atas kertas, apa yang ingin disampaikan dalam Part 2 cukup provokatif dan mampu memancing diskusi, sekalipun topiknya bukan hal yang baru. Film ini sanggup menyampaikan niatnya untuk menyampaikan sebuah tontonan yang bukan sekadar seru-seruan, tetapi punya sesuatu yang ingin disampaikan dan patut dipikirkan, dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan moral yang tak terlihat jelas batas benar atau salahnya. Inilah yang membuat Parasyte agak sulit dianggap sebagai "film hiburan", yang bisa jadi pertanda baik bagi yang bisa menangkapnya, atau sebaliknya, terlalu aneh bagi yang tidak terbiasa dijejali materi-materi seperti itu.

Masalahnya, film ini terlalu banyak menyampaikannya dengan kalimat-kalimat panjang yang diujarkan, dan kerap diulang-ulang. Seakan kehabisan cara untuk menyampaikan nilai-nilai tersebut dalam bahasa visual dan adegan, topik-topik bagus tersebut sayangnya lebih banyak disampaikan dalam dialog-dialog statis, yang sebenarnya sangat menjemukan jika saja tidak terbantu musik dan pergantian angle gambar. Film ini hanya menebalkan, menggarisbawahi, dan memberi highlight terang-terang pada kata-kata bahwa film ini tidak mendukung perang dan kekerasan, sesuatu yang mungkin berhasil dalam literatur atau komik, tetapi terlalu melelahkan untuk sebuah film.

Meski demikian, harus diakui Part 2 masih menyimpan kekuatan dari film pertamanya. Mulai dari pengambilan gambar yang dinamis, efek visual yang mulus, serta penampilan para pemain yang meyakinkan sesuai porsinya. Adegan laganya mungkin tidak lebih banyak dari Part 1, tetapi yang sedikit-sedikit itu masih seru penataannya dan lebih besar skalanya. Namun, seperti halnya Part 1, adegan-adegan tersebut tidak ditunjukkan terlalu lama atau gamblang, karena sifatnya yang terlalu berdarah dan gory untuk sebuah film komersial, dan akhirnya berdampak pada porsi dialog panjangnya tadi yang terkesan "memangsa" sisi action dan horornya.




My score: 6,5/10


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

[Movie] Jurassic World (2015)


Jurassic World
(2015 - Universal)

Directed by Colin Trevorrow
Screenplay by Rick Jaffa, Amanda Silver, Colin Trevorrow, Derek Connolly
Story by Rick Jaffa, Amanda Silver
Based on the characters created by Michael Crichton
Produced by Frank Marshall, Patrick Crowley
Cast: Chris Pratt, Bryce Dallas Howard, Ty Simpkins, Nick Robinson, Vincent D'Onofrio, Irrfan Khan, Omar Sy, Jake Johnson, B.D. Wong, Judy Greer, Lauren Lapkus, Katie McGrath


Gw sebenarnya nggak tahu harus berekspektasi seperti apa sama Jurassic World. Jurassic Park di tahun 1993 itu film besar (dan gw akui bagus walau bukan terfavorit banget), tapi setiap attempt bikin sekuelnya itu selalu agak memble. Mungkin yang bikin agak exciting adalah di film ini, akhirnya taman hiburan dan bonbin makhluk purbanya beroperasi dan dibuka untuk umum...somehow. Terlepas segala yang terjadi di Jurassic Park DAN The Lost World, you know, dinonya lepas dan ngamuk. Yea, gw rasa idenya memang agak dungu, udah tahu dinosaurus tuh gitu ya keukeuh bikin dikloning dan bikin taman hiburannya. Tetapi, mungkin namanya manusia emang nggak pernah belajar, makanya kita sering dengar ungkapan bahwa sejarah seringkali berulang.

Jadi ya begitulah, Jurassic World ini kembali pada premis manusia berusaha bikin apa pun yang ingin dibikin dan ternyata harus menghadapi fakta bahwa tidak semua hal itu ada di bawah kendali manusia. Dari plotnya juga sebenarnya agak mirip dari film-film pendahulu, yaitu para manusia diteror sama hewan-hewan yang buas tapi intinya yang salah manusianya juga. Bahkan kalau dibilang Jurassic World ini macam pengulangan dari Jurassic Park, tapi dalam situasi yang agak berbeda, yaitu ketika park-nya itu benar-benar jadi. 

Nah, itu sih yang buat gw bikin film ini menarik. Film ini ceritanya udah 20 tahun sejak film pertama, dan bahwa sekarang semua orang sudah tahu dinosaurus bisa dihidupkan lagi pake teknologi kloning dan campur gen hewan lain, ke taman itu udah kaya ke Taman Safari pas liburan sekolah aja. Sepertinya semua sudah terbiasa, bahkan lupa bahwa hewan-hewan ini sangat fascinating dan pada titik tertentu, berbahaya. Jadi di film ini ada semacam dua sikap, ada *sedikit* yang masih merasa kagum, tapi lebih banyak yang udahlah biasa aja--dan mungkin, itu juga dua macam sikap penonton sama film ini, hehehe.

Ini semacam mencerminkan filmnya juga sih. Ketika dulu Jurassic Park bikin wow dan terkagum-kagum karena "menghidupkan" dinosaurus dengan teknologi yang sangat canggih (dan masih terlihat canggih sampai sekarang), Jurassic World sudah tidak punya itu lagi, ya karena been there done that, teknologinya juga udah nggak groundbreaking lagi. Lucunya, itu juga dimasukkan dalam ceritanya, sehingga kita sampai pada "masalah utama" film ini, Indominus rex, si dino jenis baru buatan manusia, yang dibuat karena dino-dino yang sudah ada udah terlalu mainstream. Sebuah usaha untuk senantiasa bikin yang lebih karena orang zaman sekarang yang mudah jenuh dan teralihkan. Bangunan ceritanya, menurut gw, kinda brilliant, actually, ngulang tapi tetap relevan dan lancar tersampaikan.

Tapi, yang jadi "bintang" utama dari Jurassic World bukanlah cerita atau karakter atau juga dinonya, tapi nilai entertainment-nya yang luar biasa tinggi. Ketegangan dan keseruan dari aksi dino vs manusia di sini bener-bener digarap dengan intensitas maksimal dan disajikan dalam takaran yang tepat. Tegang dan seru gilak! It's been a while gw ngumpat-ngumpat sampe angkat-angkat kaki gara-gara tahu ada makhluk berbahaya mengintai karakter-karakter yang ada di layar, dan pokoknya semua aksi para dino karnivora yang always mengancam dari blind-spot-nya manusia sekalipun dibilangnya udah "jinak". Dan, yang cukup matters buat gw adalah film ini nggak banyak-banyak adegan malam, tapi tetap berhasil membangun "horor" yang nendang *ini sih sebenarnya karena gwnya aja yang penakut*. Film ini bahkan dengan mulus menyamarkan unsur-unsur berdarahnya dengan classy. Gw berani bilang, kalaupun film ini kurang nilai orisinalitas dan wonder dari Jurassic Park pertama, tapi thrill-nya sangat bisa diadu, banget. Adegan "sepak bola" dan pertarungan klimaksnya juga sangat killer.

In short, Jurassic World dengan mudah jadi salah satu pengalaman nonton bioskop terbaik buat gw tahun ini. Segala predictability plotnya, juga karakter-karakter yang komikal (yang baik dibikin cool, yang jahat dibikin ngeselin) bisa dengan mudah gw lesapkan karena sajian film keseluruhan yang menyenangkan dan seru bingits dan bikin gw mengeluarkan genuine reactions yang jarang gw keluarkan. Menurut gw, ini sangat patut diapresiasi, karena how can you top THE Jurassic Park by THE Steven Spielberg? Film ini menjawabnya dengan sangat baik, sekaligus tetap "sowan" sama film pendahulunya. Mungkin bukan film yang mengoyakkan pikiran sedemikian rupa, tapi yang penting menghibur luar biasa. Kerenlah.




My score: 8/10

Minggu, 21 Juni 2015

[Movie] Ayat-Ayat Adinda (2015)


Ayat-Ayat Adinda
(2015 - MVP Pictures/Dapur Film/Mizan Productions/Argi Film/Studio Denny JA)

Directed by Hestu Saputra
Written by Salman Aristo
Produced by Raam Punjabi, Hanung Bramantyo, Putut Widjanarko, Salman Aristo
Cast: Tissa Biani Azzahra, Surya Saputra, Cynthia Lamusu, Deddy Sutomo, Badra Andhipani Jagar, Alya Shakila Saffana, Moh. Hasan Ainun, Chandra Malik, Marwoto, Yati Pesek, Susilo Nugroho, RAY Sitoresmi


Adinda, siswi SD yang punya bakat istimewa di bidang tarik suara. Ia kurang akur sama tim qasidah sekolah karena cenderung improvisasi sendiri, sampai akhirnya kepala sekolah memutuskan ikutkan Adinda ke lomba yang solo. Tapi, either way, Adinda sebenarnya dilarang untuk ikut lomba-lombaan itu sama bapaknya, Faisal. Adinda nggak ngerti apa sebenarnya alasan pelarangan ini, bapak, ibu, dan kakaknya juga masih enggan memberi penjelasan karena dia masih kecil *kira-kira begitu*. Tetapi, Adinda kemudian didorong oleh teman-teman dekatnya untuk ikut lomba MTQ, sesuatu yang--pikir mereka--nggak mungkin dilarang, toh ini membaca ayat Alquran. Ketika Adinda mulai mengaji sebagaimana ia biasa diajarkan orang tuanya, barulah mulai ketahuan bahwa ia mempraktikkan agamanya agak berbeda dari sekelilingnya.

Ayat-Ayat Adinda adalah sebuah film sederhana yang punya titipan cukup besar dan berat, kalau gw lihat ya. Bila hanya mengedepankan kisah seorang anak SD ikut lomba MTQ, film ini akan jadi terkesan so sweet and innocent layaknya film-film Aditya Gumay. Tetapi, film ini rupanya juga ingin mengangkat persoalan pelabelan dan keberpihakan yang sekarang makin sering terjadi di masyarakat, sehingga dimasukkanlah suatu poin bahwa keluarga Adinda dituduh sesat. Gw sih merasa cerita film ini dibawa dengan cukup baik dan lancar, khususnya dari segi perjalanan Adinda untuk bisa menyalurkan bakatnya dan ikut MTQ. Bagian ini dituturkan sangat clear dan bikin gw pun enak ngikutinnya, dari sembunyi-sembunyi latihan, sampai tujuan Adinda yang ingin jadikan keikutsertaannya untuk membanggakan orang tua. Kepolosan anak-anak di sini disajikan dengan cukup natural, mulai dari seneng-senengnya, sampai sebel-sebelannya. It's all good.

But, my problem with the rest of the movie adalah film ini sebenarnya sangat "untuk kalangan sendiri". Berhubung gw bukan muslim, gw agak kurang paham dengan detail-detail mengenai keistimewaan Adinda, khususnya tentang "nada" dalam mengaji, yang sebenarnya cukup menentukan arah cerita. Karena kurang pengetahuan itu, gw jadi cuma bergantung sama komentar dari tokoh-tokoh lain di sana, which is bikin sensasinya agak berkurang. 

Hal ini juga berlaku dari pemahaman gw tentang keluarganya Adinda ini "sesat"-nya di mana. Yang ini gw bener-bener blank. Kalau dari visual, cara berpakaian dan keseharian mereka yang ditunjukkan nggak berbeda dengan yang ditunjukkan oleh kelompok lain--kecuali ukuran jilbab ibunya Adinda. Sampai akhir film pun gw nggak tahu kenapa ada bapak-bapak ngumpul di rumah Adinda, atau motivasi kakak Adinda harus berjodoh dengan anak kiai besar setempat, karena memang tidak diungkapkan. Mungkin sengaja supaya innocence Adinda tetap terjaga, tapi I don't know if it's wise, karena jujur jadi mengganjal aja buat gw dalam memahami film ini secara menyeluruh.

Nevertheless, menurut gw film ini tetap berhasil bertahan dalam menyampaikan misinya hingga akhir. Walau harus ada tuntutan happy ending, gw suka penggarapan bagian akhir film ini nggak terlalu memberi angin surga, karena dunia memang tidak semudah itu. Terlepas dari beberapa kebingungan gw yang bikin kurang bisa menikmati film ini secara utuh, gw tetap bisa menikmati film ini anyway, minimal dari segi penggarapannya yang rapi, aktingnya yang oke-oke, dan inti ceritanya yang menitikberatkan pada keluarga.




My score: 7/10


Selasa, 09 Juni 2015

[Movie] Insidious: Chapter 3 (2015)


Insidious: Chapter 3
(2015 - Sony Pictures Releasing International/Focus Features)

Written & Directed by Leigh Whannell
Produced by Jason Blum, Oren Peli, James Wan
Cast: Stefanie Scott, Dermot Mulroney, Lin Shaye, Leigh Whannell, Angus Sampson, Tate Berney, Steve Coulter, Hayley Kiyoko, Ashton Moio, Jeris Pondexter, Phyllis Applegate, Adrian Sparks


Menanggung nama film horor yang dikenal sebagai salah satu yang terseram dalam beberapa tahun terakhir, Insidious: Chapter 3 jelas harus memenuhi ekspektasi yang cukup tinggi. Muncul setelah film Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013), keduanya disutradarai James Wan, Chapter 3 dikonsepkan sebagai sebuah prekuel, namun masih berkaitan dengan alam astral The Further yang sudah dikupas di dua film sebelumnya. Kali ini kursi sutradara diserahkan pada Leigh Whannell, yang tak lain adalah penulis skenario dua film Insidious sebelumnya, sekaligus pemeran anggota pemburu hantu bernama Specs.

Sebagaimana ditekankan dalam premis dan kalimat pembukanya, Chapter 3 tidak lagi menyorot kutukan yang menimpa keluarga Lambert di film pertama dan kedua. Chapter 3 beralih ke seorang remaja perempuan yatim yang melakukan kecerobohan sehingga diteror oleh makhluk gaib. Namun, sebenarnya film ini tidak melulu berfokus ke sana. Chapter 3 juga adalah origin story dari regu pemburu hantu yang muncul di seri Insidious, yaitu Elise (Lin Shaye), Specs (Leigh Whannell), dan Tucker (Angus Sampson).

Quinn Brenner (Stefanie Scott) masih merasa terpukul atas kematian ibunya akibat kanker. Hubungannya dengan sang ayah, Sean (Dermot Mulroney) yang kurang rukun juga tidak membantu. Quinn lalu berusaha menghubungi arwah ibunya, dan untuk itu ia mendatangi sang paranormal Elise. Elise tadinya ingin pensiun karena kengerian yang kerap timbul dari profesinya, namun ia sekali ini ingin membantu Quinn. Setelah mencoba, Elise menasihati Quinn agar tidak lagi mencoba memanggil ibunya, sebab panggilannya itu akan terdengar di dunia para arwah. Itu berarti yang merespons panggilannya belum tentu arwah ibunya. Tapi, layaknya remaja rapuh yang serba penasaran—dan namanya juga film horor, tidak mungkin Quinn menuruti nasihat itu.

Bagi yang telah mengikuti dua seri Insidious sebelumnya, pasti sudah kenal dengan konsep The Further dan mekanismenya. Berdasarkan itu, Chapter 3 tidak lagi menyajikan The Further sebagai suatu hal yang mengejutkan, sehingga hanya diberi penjelasan secukupnya. Yang cukup membedakan adalah makhluk-makhluk yang dimunculkan di The Further versi ini, karena ini berkaitan dengan kasus dan orang yang berbeda. Keuntungan dari penyusunan cerita seperti ini adalah bagi mereka yang pernah menonton versi sebelumnya akan semakin mengenal dunia yang dibangun di film ini. Sementara yang baru menonton dari Chapter 3 ini tidak akan kehilangan apa-apa dari dua film sebelumnya.

Harus digarisbawahi bahwa salah satu alasan Insidious—dan film horor pada umumnya—mampu menarik penonton adalah anggapan film-film ini punya adegan-adegan seram yang dapat menggedor jantung, karena itu adalah salah satu bentuk hiburan. Sepertinya itu disadari oleh Whannell, sehingga ia pun merancang makhluk-makhluk, dan cara-cara kemunculan mereka seseram mungkin dalam film ini. Usahanya bisa dibilang tidak gagal. Sekalipun kemunculan makhluk-makhluk seramnya sebenarnya sangat bisa diprediksi, dengan bantuan desain makhluk seram, tata artistik mencekam dengan pencahayaan temaram, musik menggetarkan dan timing yang baik, Chapter 3 masih punya taji untuk menakuti, atau paling tidak mengagetkan penontonnya.

Masalahnya, film ini tidak menawakan apa-apa lagi selain parade penampakan makhluk astral. Cerita film ini sendiri awalnya dituturkan dengan sangat hati-hati dan perlahan. Berawal dari seorang remaja dengan masalah keluarga, dan seorang paranormal pensiunan terpanggil untuk memanfaatkan kemampuannya lagi untuk membantu orang lain. Akan tetapi, ketika cerita semakin bergulir, nyaris tidak ada perkembangan berarti dari dasar itu, sampai pada bagian klimaks ketika Elise akhirnya dipertemukan dengan duo Specs dan Tucker, dan berusaha menyelesaikan masalah keluarga Brenner, itu pun sudah menjelang akhir.

Ini kemudian diperparah ketika bagian konklusinya seakan terlalu menggampangkan, terjadi secara tiba-tiba tanpa dibangun dulu di bagian-bagian sebelumnya. Mulai dari dapat bantuan dari "suara lain", rekonsiliasi Quinn dan ayahnya—yang ternyata tidak akur karena sama-sama sedih kehilangan, sampai kedatangan sang "roh penyelamat" entah dari mana, semua terjadi sangat kilat tanpa penjelasan dan rasa. Bagian konklusi yang overloaded ini yang menimbulkan kesan bahwa kelambanan dan kehati-hatian bertutur di di bagian awal hingga pertengahan film ini hanya buang-buang waktu saja.

Meski demikian, kekurangan itu mungkin tidaklah penting bagi penonton yang cari hiburan, asalkan film ini berhasil bikin kaget dan deg-degan. Bagaikan masuk wahana rumah hantu, tidak perlu pikirkan secara mendalam ceritanya, asal sudah paham konsepnya dan puas dikejut-kejutkan dan ditakut-takuti, itu sudah lebih dari cukup. Dan harus diakui, Chapter 3 menyajikan menu utamanya itu dengan baik-baik saja, ditambah unsur humor dan laga fisik di beberapa bagiannya yang membuatnya jadi tambah menghibur.

Hanya saja, sebagai sebuah film—bukan wahana, Chapter 3 tidak meninggalkan kesan lebih dan mendalam. Film ini hanya jadi suatu produk yang pandai menakut-nakuti, tetapi keteteran dalam bercerita, alih-alih memberikan kesegaran dan jejak berarti. Tidak salah, tetapi cenderung main aman saja, tanpa inovasi dan nilai yang mampu membuatnya jadi memorable.




My score: 6/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Senin, 08 Juni 2015

[Movie] Begin Again (2014)


Begin Again
(2014 - Exclusive Media Group/The Weinstein Company)

Written & Directed by John Carney
Produced by Anthony Bregman, Tobin Armbrust, Judd Apatow
Cast: Keira Knightley, Mark Ruffalo, James Corden, Hailee Steinfeld, Catherine Keener, Adam Levine, Yasiin "Mos Def" Bey, Rob Morrow, Cee Lo Green


Izinkan gw mengawali review ini dengan bilang bahwa Begin Again is a beautiful movie. Gw nggak bilang ini film sempurna atau terbaik sepanjang masa, tetapi mulai dari konsep sampai tampilan hasil akhirnya, indah banget buat gw. Setelah sekian bulan cuma tahu salah satu lagu soundtrack-nya--"Lost Stars" itu lho, akhirnya gw menonton juga filmnya, dan melihat bahwa film ini bukan cuma berisi soundtrack kece, tetapi bagaimana lagu itu benar-benar bagian dari film ini, sekalipun ini bukan film musikal.

Begin Again mungkin adalah versi teromantisasi dari perjuangan seorang artis penyanyi dalam menemukan big break-nya. Sang artis itu adalah Gretta James (Keira Knightley), seorang pencipta lagu yang hampir aja balik ke kampungnya di Inggris sebelum dicegah oleh Dan Mulligan (Mark Ruffalo), produser rekaman independen di New York yang mendengar potensi Gretta sebagai seorang artis. Film ini mengikuti keduanya menghasilkan sebuah album rekaman sendiri meski tanpa modal dan institusi resmi, tapi juga mencakup kehidupan pribadi masing-masing, dan hubungan mereka yang maybe-or-maybe-not menjurus ke kemesraan ini janganlah cepat berlalu.

Right, kalau ditulis jalan ceritanya agak cheesy ya. Belum lagi kalau gw tambahin bahwa Gretta ini baru aja putus cinta gara-gara cowoknya (Adam Levine) kena sindrom rock star, dan rumah tangga Dan sedang bermasalah, hehehe. Tapi, somehow ketika semua itu dijabarkan di layar depan mata gw, nggak kerasa tuh cheesy-nya. Mungkin karena itu digabungkan dengan konsep yang cantik, yaitu bagaimana para artis ini menyampaikan perasaannya lewat musik, baik itu cinta, senang, sedih, maupun marah. Dan bukan dengan cara lagunya sekadar diselipin atau jadi latar belakang. Pengungkapannya bukan secara verbal, tapi dari mereka bikin lagu, mengaransemen lagu, mengusahakan lagu, atau sekadar milih lagu. Adegan dengerin mp3 bareng pakai jack bercabang bisa jadi ide kencan yang brilian lho =D.

As silly as it sounds, film ini benar-benar bisa menerjemahkan bagaimana musik memang bisa jadi "bahasa" yang digunakan para musisi ini. Bagaimana musik dan sisi kehidupan lain dari mereka memang nggak terpisahkan. Film ini menunjukkan bagaimana antusiasme terhadap musik bisa menyatukan orang, dan itu dipresentasikan juga dengan mulus, nggak lebay atau kikuk. Bahkan, kalau gw mau simpulkan, film ini ingin menyampaikan bahwa kecintaan terhadap musik itu bisa lebih besar, lebih berarti, lebih menimbulkan kepuasan, dan lebih abadi daripada hasrat memiliki orang lain *aisssh*. Why? Karena itulah hidup mereka sebagai musisi, sebagai seniman sejati. Walau di dunia nyata nggak semua kayak begitu, tapi gw memandang cerita dan konsep film ini cakep aja untuk diresapi. Bagaimanapun keadaannya, you still have your music.

Mungkin kunci yang membuat semua itu enak dinikmati adalah pendekatan realistis yang dilakukan film ini. Segalanya dibuat sedemikian rupa seperti keseharian, bahkan interaksi dan nada bicara para aktornya pun begitu real. Konon katanya banyak bagian film ini yang dialognya diimprovisasi, which is cukup menjelaskan kenapa akting Adam Levine itu persis saat dia komentarin orang di The Voice, hahaha. Dan yang paling penting adalah film ini membuat gw senang dan sayang sama tokoh-tokohnya, apalagi mbak Keira yang menggemaskan from head to toe plus suara manjanya yang mirip Andrea-nya The Corrs. 

Begin Again adalah sebuah film yang begitu mudah membuat gw terlarut, dari ceritanya, penyampaian ceritanya, performa aktornya, gambarnya, musik-musiknya (hail Gregg Alexander!--abis nonton ini gw jadi dengerin album New Radicals lagi), sampai ke makna filmnya yang puitis hingga ke bagian penutupnya. Film ini juga nyinggung soal industri rekaman yang lamban terhadap perubahan zaman, yang sebenarnya agak klise, seklise bahwa seniman baru bisa bikin karya-karya bagus kalau sakit hati (Glenn Fredly and Adele would understand =p). Tapi, rasanya itu semua terintegrasi dengan indahnya dalam sebuah film musik "romantis" yang adalah Begin Again.




My score: 8/10


Minggu, 07 Juni 2015

[Movie] Tomorrowland (2015)


Tomorrowland
(2015 - Disney)

Directed by Brad Bird
Screenplay by Damon Lindelof, Brad Bird
Story by Damon Lindelof, Brad Bird, Jeff Jensen
Produced by Jeffrey Chernov, Brad Bird, Damon Lindelof
Cast: George Clooney, Britt Robertson, Hugh Laurie, Raffey Cassidy, Tim McGraw, Kathryn Hahn, Keegan-Michael Key, Thomas Robinson, Matthew MacCaull, Pierce Gagnon.


Film Tomorrowland sejak awal bikin orang-orang gemets gara-gara promosinya yang serba misterius, bahkan trailer dan sinopsisnya tidak membantu sama sekali. Padahal ini film berlabel Disney yang biasanya ringan dan fun dan mudah dicerna untuk seluruh keluarga. Tomorrowland sendiri ternyata tetaplah sebuah "film Disney" yang secanggih-canggihnya action dan adventure-nya tetap berorientasi keluarga, tapi benar juga bahwa film ini memang dirancang bermisterius-misterius ria layaknya karya-karya sang penulis, Damon Lindelof (serial Lost, Prometheus). 

Setelah menonton, pertama-tama gw akui gw intrigued sama konsep dan ide yang mau disampaikan. Film ini soal bagaimana usaha manusia mewujudkan mimpinya tentang masa depan lebih baik, tapi selalu dihalangi oleh sifat lain manusia yang senang merusak, dan rusaklah pula mimpi itu. Lalu para pemimpi dan inventor itu bikin Tomorrowland, sebuah kota di dimensi lain yang sudah lebih maju dari dunia "kita" sekarang karena tidak ditunggangi kepentingan politik dan kotornya motivasi manusia. Lalu ada pula ketika sekarang banyak yang "menakut-nakuti" soal masa depan suram manusia--termasuk film-film post-apocalytic, tapi ada satu orang yang tetap optimis ingin mengubahnya jadi lebih baik. Big ideas yang cukup tersampaikan dengan baik di film ini.

Plot filmnya sendiri sebenarnya sesederhana seorang anak remaja (yang tampak tua =p) "terpilih" untuk menemukan cara ke Tomorrowland sekalipun tidak tahu juga alasan dia harus ke sana. Untuk itu dia harus dibantu gadis kecil yang sebenarnya bukan gadis dan tidak kecil (?) dan seorang oom-oom yang ternyata pernah ke Tomorrowland tapi diusir balik lagi ke bumi, karena seindah-indahnya mimpi saat ia kecil, semuanya runtuh ketika ia "melihat dunia" dan kenal apa itu kepahitan dan kekecewaan. But still, alasan kenapa mereka harus ke sana dan berbuat apa tetap mengganggu gw. Well, karena ternyata itulah misteri yang baru terungkap di bagian akhir filmnya.

Anyway, all I'm trying to say is, gw kurang paham benar maksud dan tujuan keseluruhan film ini, hahaha. Kayak ada berbagai lapisan dalam ceritanya, tapi yang gw tangkap cuma dikit. Untungnya itu sudah termasuk love story-nya yang nggak wajar awkward berasa baca manga karya CLAMP. Tapi, kayaknya gw nggak bisa menangkapnya secara menyeluruh. Mungkin intinya ada satu pihak yang ingin biarlah manusia mencapai kehancurannya karena salah sendiri sementara yang lainnya membangun sesuatu yang baru, dan ada pihak lain yang ingin mencegah itu demi kebaikan bersama. Kayaknya sih, tapi nggak tahu juga deh itu memang begitu atau enggak. Bahkan ending film ini gw masih ragu apakah perkiraan gw bener bahwa itu memang maksudnya begitu *menghindari spoiler* *halah*. Ada perasaan mengganjal ketika menyerap apa yang gw tonton. Film ini seperti kagok antara pengen fun atau pengen absurd. Mungkin ada baiknya ini bukan jadi film Disney, karena agak sulit dicerna maksudnya. Tapi ya mau gimana lagi, judulnya aja diambil dari wahana Disneyland. 

Tapi, sebagai sebuah tontonan, gw nggak ragu mengatakan bahwa Tomorrowland ini menghibur. Gaya penyutradaraan Brad Bird yang nggak banyak omong itu tetap menyenangkan untuk dilihat (mungkin pengaruh doi tadinya sutradara animasi macam The Incredibles dan Ratatouille yang banyak pakai bahasa gambar), action-nya pun ditata oke--absurd tapi oke kok, dan visualisasi kota Tomorrowland-nya menimbulkan decak kagum, bikin gw bener-bener berharap dunia masa depan bisa seperti itu. Gambar-gambarnya cakep dipandang, gw sendiri nonton di IMAX dan filmnya cocok dalam format itu. So overall, walau nggak seratus persen puas, gw masih merasa nonton Tomorrowland itu worth my money, dan nilai-nilai yang mau disampaikan juga relevan dan bisa gw terima. Sebuah cara yang aneh (but somewhat cutting edge) untuk menyebarkan harapan dan optimisme, tapi anggap saja gw lebih suka memberi makan serigala yang baik, sehingga gw mau serap yang baik-baik saja dari film ini.

Ciailah.




My score: 7/10

Senin, 01 Juni 2015

[Movie] Doea Tanda Cinta (2015)


Doea Tanda Cinta
(2015 - Induk Koperasi Kartika/Benoa/Cinema Delapan)

Directed by Rick Soerafani
Screenplay by Jujur Prananto
Story by Hendra Yus, Satria Pringgodani, Hotnida Harahap
Produced by Alfani Wiryawan
Cast: Fedi Nuril, Rendy Kjaernett, Tika Bravani, Rizky Hanggono, Ernest Samudera, Ingrid Widjanarko, Albert Fakdawer, Trisa Triandesa, Kukuh Riyadi, Dimas Shimada, Tio Pakusadewo, Donny Kesuma, Aaliyah Massaid


Film Doea Tanda Cinta merupakan upaya terbaru mengangkat kehidupan anggota angkatan bersenjata Indonesia dalam sebuah sajian layar lebar, sesuatu yang cukup jarang ditemukan dalam film Indonesia, khususnya memasuki era 2000-an. Film arahan Rick Soerafani berdasarkan skenario dari Jujur Prananto ini berfokus pada dua taruna bersahabat di Akademi Militer (Akmil), yang mencintai seorang gadis yang sama. Situasi ini kemudian memengaruhi hubungan persahabatan mereka, juga berdampak saat tiba waktunya mereka menjalankan tugas negara.

Sebagai sebuah karya film, yang harus diperhatikan adalah Doea Tanda Cinta ini inisiatif dari Induk Koperasi Kartika, sebuah badan usaha yang terdiri dari para anggota TNI Angkatan Darat—kemudian menggandeng rumah produksi Cinema Delapan dan Benoa. Sehalus apa pun ungkapanya, film ini adalah sebuah upaya promosi, atau paling tidak public relation dari TNI-AD kepada khalayak. Cukup kentara bahwa film ini diniatkan menjangkau penonton generasi muda, sebagaimana terlihat dari pemilihan aktor populer Fedi Nuril dan pemeran lain yang relatif masih muda. Tidak ada salahnya, minimal film ini mengingatkan kembali bahwa di Indonesia ada sebuah profesi bernama tentara, yang mungkin bukan lagi jadi cita-cita utama anak-anak zaman sekarang.

Karena dibuat dari instansi terkait TNI-AD, selayaknyalah Doea Tanda Cinta tidak sekadar menampilkan karakter berprofesi tentara. Sumber informasi tentang kehidupan militer yang melimpah dan akurat, serta akses pada tempat dan peralatan militer yang tidak bisa dijangkau sembarang orang, harus dijadikan keunggulan utama. Untungnya, itu berhasil dimanfaatkan film ini. Doea Tanda Cinta menunjukkan berbagai sisi dari kehidupan militer, khususnya di lingkungan Akademi Militer (Akmil). Mulai ilmu yang diajarkan, kegiatan yang dijalankan, tanggung jawab yang harus diemban, juga gambaran bahwa institusi ini mempertemukan orang-orang dari berbagai penjuru Indonesia, dengan ragam motivasi dan tujuan.

Lebih dari separuh cerita film ini mengambil latar kehidupan Akmil di Magelang, Jawa Tengah. Diawali dengan dibangunnya hubungan persahabatan Bagus (Fedi Nuril) dan Mahesa (Rendy Kjaernett), lalu berlanjut dengan petemuan mereka dengan Laras (Tika Bravani). Pemilihan angle ini cukup sejalan dengan niat memperkenalkan dunia tentara kepada generasi muda, karena karakter yang masuk Akmil tentu saja masih di usia 17 s.d. 20-an (dan masih belum dicemari politik). Memang bagian akhir film ini menggambarkan tokoh-tokoh ini pada jenjang selanjutnya, tetapi relatif masih "menjual" bagi penonton muda, karena dibuat dalam adegan seru pembebasan sandera dari gerakan pengacau keamanan.

Hasil akhir Doea Tanda Cinta adalah 95 menit yang sama sekali tidak menyimpang dari maksud dan tujuan dibuatnya. Di satu sisi film ini secara detail dan natural "mempromosikan" kehidupan para taruna di Akmil. Di lain pihak film ini juga memberikan hiburan yang mudah terkoneksi dengan penonton luas, yaitu kisah persahabatan dan cinta, plus adegan perang. Belum lagi semuanya dikemas dengan kelengkapan teknis bernilai tinggi, khususnya dari penataan gambar dan suara.

Pertanyannya, mampukah itu semua membuat film ini jadi sebuah sajian yang istimewa? Jawabannya sangat relatif. Satu hal yang jelas, film ini dengan sangat baik menjalankan fungsinya sebagai film "promosi" tanpa melakukan hard-selling (terlalu kelihatan beriklan). Segala elemen di berhasil film ini ditampilkan sesuai konteks. Akan tetapi, sisi kisah persahabatan dan romansa yang sebenarnya jadi unsur penting, malah kalah karismatik dari paparan kehidupan militernya.

Salah satu titik yang lemah dari film ini adalah hubungan persahabatan Bagus dan Mahesa. Keduanya digambarkan memiliki sifat dan latar belakang yang berbeda—Bagus dari keluarga sederhana yang giat sementara Mahesa dari keluarga militer kaya yang manja. Keduanya jadi sahabat dekat karena posisi bersebelahan di barak, sama-sama meneruskan ke Angkatan Darat, dan sama-sama dari wilayah Jakarta (sehingga nyaman memakai sapaan "lo-gue").

Sayangnya, isyarat bahwa mereka punya ikatan persahabatan tidak diperdalam lagi. Persahabatan mereka tidak berbeda dari hubungan mereka dengan kawan-kawan seangkatan lain, hanya berbeda di jumlah kemunculan di layar. Akibatnya salah satu poin penting di adegan akhir—ketika Bagus melakukan aksi bak Rambo, kurang memiliki motivasi yang kuat.

Kisah cinta segitiga yang diusung film ini pun dituturkan begitu klasik, kalau tidak mau disebut klise. Bagus dan Mahesa berkenalan dengan Laras di saat yang sama, langsung jatuh cinta, kemudian sering jalan bertiga. Mahesa jadi pihak yang paling terpengaruh, karena ia lebih pushy dalam merebut cinta Laras, sementara Bagus tampak merelakan demi menjaga persahabatan dan kehormatan sesama rekan taruna. Laras juga yang memotivasi Mahesa untuk lebih rajin dan berprestasi dalam pendidikannya, sekalipun respons Laras terhadap perasaan Mahesa sejak awal sudah ragu-ragu.

Sebenarnya tidak ada yang salah dari sini, malah bagian ini masih realistis. Tetapi, saking realistisnya, jadi terasa kering untuk sebuah film yang dalam materi promosinya mengedepankan kisah cinta. Hal ini disebabkan terutama si pihak ketiga tidak memberikan dinamika apa-apa, lebih banyak diwarnai saling tunggu-tungguan dan kecanggungan.

Tetapi, itu juga sebenarnya bisa disanggah, karena para taruna masih dididik secara "tradisional". Interaksi para taruna dengan luar lingkungan Akmil sangat dibatasi, mungkin baru leluasa satu minggu sekali. Diperlihatkan juga di film ini, di waktu santai atau istirahat malam pun, para taruna tidak ada yang memakai handphone. Kekakuan interaksi Bagus dan Mahesa dengan Laras jadi cukup beralasan, karena cara hidup mereka memang berbeda dari orang-orang di lingkungan lain.

Secara keseluruhan, patut diakui bahwa Doea Tanda Cinta adalah sebuah film yang dibuat dengan kualitas produksi yang baik. Niat dan tujuannya yang tidak terlalu ambisius sukses diterjemahkan menjadi tontonan yang cukup menghibur, informatif, mudah diikuti, dan tidak buang-buang waktu. Film ini pun sebenarnya layak jadi sebuah penyegar, setelah sekian lama penonton Indonesia hanya bisa menikmati film yang kental belatar militer dari luar negeri.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.