Minggu, 31 Mei 2015

[Movie] Spy (2015)


Spy
(2015 - 20th Century Fox)

Written & Directed by Paul Feig
Produced by Paul Feig, Peter Chernin, Jessie Henderson, Jenno Topping
Cast: Melissa McCarthy, Jason Statham, Jude Law, Rose Byrne, Miranda Hart, Allison Janney, Bobby Canavale, Peter Serafinowicz, Morena Baccarin, Nargis Fakhri, Carlos Ponce, Will Yun Lee


Film Spy dirancang sebagai tontonan aksi spionase dengan perspektif baru, yaitu seorang mata-mata yang tidak kelihatan seperti mata-mata. Alih-alih menampilkan sosok tegap dan garang—yang di film ini diwakili Jude Law, Jason Statham, dan Morena Baccarin, Spy memasang aktris bertubuh plus size, Melissa McCarthy sebagai jagoan utamanya. Yang menarik, Spy bukan ingin menertawai ukuran tubuh McCarthy dan menjadikannya bulan-bulanan. Justru film yang ditulis dan disutradarai Paul Feig (Bridesmaids, The Heat) ini ingin melawan stereotipe masyarakat yang cenderung menilai orang dari tampilan luarnya.

Susan Cooper (Melissa McCarthy) cukup lama bekerja di badan intelijen Amerika Serikat, CIA, namun hanya dari dalam ruang kantornya. Ia menjadi tandem agen Bradly Fine (Jude Law) yang selalu melakukan aksi di lapangan. Namun, dalam sebuah misi menemukan senjata nuklir berbahaya, Fine ditaklukkan, dan Rayna Boyanov (Rose Byrne), anak dari penjual senjata nuklir, ternyata berhasil mengetahui identitas semua agen lapangan CIA. Demi melanjutkan misi tanpa mengambil risiko, CIA harus mengirim agen baru yang tidak bisa dikenali. Kesempatan ini diberikan kepada Susan, yang merupakan salah satu agen terbaik di atas kertas, tapi nol pengalaman.

Ya, sekilas Spy adalah satu lagi tiruan James Bond yang menggantikan posisi jagoannya dengan sosok yang kurang kompeten supaya timbul kelucuan. Ini mungkin benar untuk film seperti Johnny English atau The Tuxedo, tetapi tidak benar untuk Spy. Seperti disebutkan tadi, sosok Susan Cooper di sini bukannya tidak kompeten, ia bahkan punya kemampuan bela diri yang cukup brutal, tetapi ia tak pernah menggunakannya langsung di lapangan. Mengapa? Karena orang-orang di sekitarnya, termasuk Fine yang notabene mitranya sendiri, meremehkannya. Meski tidak disebutkan dengan gamblang, alasannya cukup jelas: karena penampilan luarnya dinilai tidak cocok jadi mata-mata.

Tema tentang imej tubuh sepertinya jadi benang merah dari film ini. Dalam satu adegan, Susan dan rekannya sesama agen perempuan yang kebetulan bertubuh tinggi besar, Nancy (Miranda Hart) berada di sebuah bar, dan melihat seorang mata-mata unggulan CIA, Karen Walker (Morena Baccarin)—yang cantik dan ramping, jadi pusat perhatian para pria. Tak hanya itu, Karen langsung mendapatkan minuman segera setelah ia pesan ke bartender, sementara Susan dan Nancy harus menunggu lama. Demikian juga adegan ketika Susan tiba di Roma, Italia, yang secara karikatural digambarkan pria-prianya sangat genit, Susan justru dapat perlakuan hening.

Walau bernada humor, ini adalah usaha film ini menggambarkan betapa kejamnya orang-orang memperlakukan orang lain yang tampilan luarnya dianggap kurang menarik. Tetapi, pernyataan yang paling lantang adalah kehadiran agen emosional bernama Rick Ford (Jason Statham) yang senantiasa membual tentang kehebatannya secara over-the-top di hadapan Susan. Jelas, Ford melakukan itu untuk menunjukkan superioritasnya sebagai seorang mata-mata dan laki-laki, berbeda dengan Susan yang perempuan, tak berpengalaman, dan berpenampilan (dianggap) kurang menarik.

Berangkat dari sana, film ini menggunakan sosok Susan bukan sebagai bahan tertawaan, melainkan sebagai pahlawan bagi siapa saja yang diremehkan karena tampilan luar. Ketika semua pihak tak percaya pada kemampuannya, Susan terdorong untuk semakin membuktikan bahwa ia mampu. Dan, inilah yang membuat sosok Susan mudah disukai dan mendapat simpati dari penonton. Ia tidak nelangsa—ia menumbuhkan imej tubuh yang positif, tidak juga obnoxious sebagaimana film-film komedi Hollywood menggambarkan sosok sepertinya. Perlahan-lahan membuat penonton peduli padanya bukan karena dia gemuk dan patut dikasihani, tetapi karena ia gigih dan keluar sebagai jagoan.

Secara keseluruhan, kisah film Spy diisi dengan aksi kucing-kucingan serta beberapa pengungkapan trik terorisme dan pengkhianatan, sesuatu yang sama sekali tidak asing dalam genre laga spionase. Sedikit perbedaannya adalah film ini dibungkus dengan humor dan suguhan laga yang cukup violent, tak kalah dari film Kingsman: The Secret Service atau film-film aksi khas Jason Statham. Tetapi, itu pun bukan barang baru. Spy jadi istimewa karena dimasukkannya elemen tentang body image dengan cukup jitu. Dan, perhatikan bahwa jagoan, sidekick, bos, dan penjahatnya semua adalah perempuan, layak dijadikan kontras dari film-film sejenis yang biasanya harus menempatkan laki-laki dalam posisi tersebut.

Sebagai komedi aksi, film ini sendiri mencoba memasukkan berbagai macam humor. Mulai dari yang slapstick, mesum, kasar, jorok, sampai yang cerdas, plus gag berkelanjutan tentang tikus yang mungkin dianggap lucu bagi pembuat filmnya. Paling tidak, jika penonton tidak terhibur oleh jenis humor yang satu, bisa terhibur dengan jenis yang lain. Terkadang dialog film ini juga tampak terlalu berusaha keras untuk melucu, khususnya dari ragam insult yang diujarkan McCarthy dan Statham. Tetapi, jika gaya khas komedi mainstream AS ini terbukti berhasil menghibur sebagian penonton, ya sah-sah saja.

Spy pada akhirnya hadir sebagai sebuah tontonan menghibur yang punya suatu misi, walau secara permukaan tidak tampak demikian. Masih ada kemungkinan tidak semuanya tersampaikan, baik itu dari misi yang diusung maupun dari segi humornya. Mungkin ada yang hanya peduli pada porsi aksinya, tetapi itu pun disajikan dengan apik dan tidak mengecewakan. Apa pun itu, Spy paling tidak punya nilai lebih dari sekadar film hiburan numpang lewat, film yang relevan dengan zamannya, dan tidak mustahil akan memunculkan tokoh Susan Cooper sebagai ikon komedi aksi yang baru.





My score: 7,5/10


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

[Movie] Mad Max: Fury Road (2015)


Mad Max: Fury Road
(2015 - Warner Bros.)

Directed by George Miller
Written by George Miller, Brendan McCarthy, Nico Lathouris
Produced by George Miller, Doug Mitchell, P.J. Voeten
Cast: Tom Hardy, Charlize Theron, Nicholas Hoult, Hugh Keays-Byrne, Josh Helman, Zoe Kravitz, Rosie Huntington-Whiteley, Riley Keogh, Abby Lee, Courtney Eaton, Nathan Jones, John Howard, Richard Carter, Megan Gale, Melissa Jaffer, iOTA


Mad Max: Fury Road sekilas seperti satu lagi korban wabah sekuel, reboot, spin-off, dan adaptasi yang masih melanda Hollywood. Fury Road adalah judul keempat dari Mad Max, franchise film post-apocalyptic action asal Australia yang semuanya digarap oleh sineas George Miller. Memanfaatkan perkembangan teknologi dan cara pandang masa kini, Miller nyatanya bukan hanya ingin mengulang kejayaan masa lalunya lewat Fury Road, tetapi juga membuat definisi baru dari film action.

Jarak antara tiga film sebelumnya dengan Fury Road bisa dibilang satu generasi. Film Mad Max pertama dirilis tahun 1979, Mad Max: The Road Warrior tahun 1981, dan Mad Max: Beyond Thuderdome di tahun 1985. Cukup adil bila dikatakan banyak penonton generasi sekarang tidak mengenal franchise ini, apalagi di era yang penuh dengan film-film superhero, Transformers, dan Fast & Furious. Dan, memang timbul kekhawatiran bahwa mereka yang kurang mengenal franchise Mad Max akan ragu untuk menghampiri Fury Road, sekalipun sudah memasang nama-nama bintang seperti Tom Hardy dan Charlize Theron.

Akan tetapi, apa yang diniatkan dalam film-film action masa kini sebenarnya masih sama dengan niat awal diciptakannya seri Mad Max: menampilkan deretan adegan laga spektakuler memacu adrenalin. Dalam hal ini adalah gabungan kejar-kejar mobil ditambah bumbu adu jotos dan senjata. Lagipula, itu juga formula yang sangat diterima luas penonton dunia, apapun bentuk ceritanya. Berdasarkan itu, Fury Road sebenarnya masih bisa dinikmati oleh penonton baru.

Film ini memang pada dasarnya sekuel dari trilogi orisinal Mad Max, tetapi kontinuitasnya tidak terlalu penting, sebab sosok Max Rockatansky sendiri sudah dirancang sebagai karakter yang muat di segala situasi. Seperti halnya franchise James Bond yang keterkaitan satu film dengan film yang lain sangat kecil, Fury Road bisa dianggap sebagai satu lagi perhentian dari pengembaraan Max, sang survivor sejati di bumi yang telah kolaps dan peradabannya mulai dari nol lagi.

Penonton yang akrab dengan trilogi orisinal Mad Max punya keuntungan kenal lebih dalam dengan sosok Max, lengkap dengan sejarah dan traumanya. Namun, yang baru kenal juga tidak akan terlalu kehilangan, karena sekilas latar belakang dan sosok Max yang ditampilkan di film ini sudah cukup mudah dimengerti—walau kemudian timbul kesan penokohannya kurang utuh di sini. Selanjutnya, tinggal duduk dan nikmati perjalanan seru dan brutal dari film ini, yang dijahit dengan plot Max (Hardy) membantu Furiosa (Theron) melarikan diri dengan truk yang disebut War Rig melintasi gurun demi mencari kehidupan baru.

Dengan konsep layaknya kejar-kejaran kereta kuda dalam film-film koboi, atau perang antarkapal di film-film bajak laut, Fury Road terbilang sangat berhasil menampilkan menu utamanya, yaitu keseruan tingkat tinggi lewat rangkaian peperangan di atas mobil-mobil modifikasi yang melaju kencang. Apalagi adegan-adegan laganya ditata sangat ekstrem, berani, menyerempet batas logika, dan banyak yang belum pernah ditampilkan di film-film lain. Fury Road pun terasa makin menyegarkan ketika terlihat bahwa fim ini tidak "manja" dalam penggunaan efek animasi CGI. Sekalipun tetap ada (seperti efek tangan buntung dari Theron), porsinya terbilang minim, halus, dan tidak dipamer-pamerkan, sehingga justru memberi dampak yang lebih dramatis.

Sulit untuk tidak kagum pada pencapaian teknis Fury Road, terutama dalam konsep dan penataan adegan laga, desain bidang-bidang artistik, penataan gambar dan komposisi warnanya yang sangat indah dipandang. Demikian juga dengan liarnya imajinasi, mulai dari dandanan tokoh-tokohnya sampai penggunaan gitaris metal sebagai penyemangat perang. Dan, perlu diperhatikan juga, Fury Road adalah film yang tidak banyak dialog. Saat digambarkan demikian, memang terkesan Fury Road adalah satu lagi film Hollywood remeh dan bodoh yang penting mata dan telinga dipuaskan. Akan tetapi, Miller dan krunya terbukti teliti untuk bisa menyampaikan sebuah cerita yang memuat banyak lapisan, sekalipun plot filmnya tampaknya sederhana.

Contohnya, film ini secara efektif memberi gambaran yang cukup lengkap tentang sebuah peradaban (kota) bernama Citadel, yang jadi titik awal plot film ini. Dari pembedaan kelas hingga penyalahgunaan kekuasaan—dalam bentuk monopoli air bersih, Citadel lambangkan segala yang keliru dari peradaban manusia. Immortan Joe (Hugh Keays-Byrne) yang sudah lemah harus menutupi kerentanannya dengan topeng dan pakaian yang tampak kokoh, demi ilusi bahwa ia adalah sosok yang dipuja. Padahal rakyat hanya memandangnya karena butuh air bersih. Keadaan itu juga menimbulkan ekstremisme buta dalam bentuk pasukan berani mati War Boys, secara khusus diwakili Nux (Nicholas Hoult), yang mau lakukan apa pun demi bisa "dianggap" oleh Immortan Joe yang menjanjikan surga (di sini disebut Valhalla) dan membebaskan mereka dari penderitaan duniawi. 

Tidak juga hanya dari tampilannya, Immortan Joe juga melengkapi ilusi kekuasaannya dengan anggapan hanya keturunannyalah yang boleh hidup layak. Ia mempergunakan banyak wanita—dengan ciri terbaik tak bercacat cela—sebagai pabrik anak. Walaupun ternyata banyak dari anak-anaknya lahir dengan cacat, entah karena radiasi dampak perang nuklir, atau memang gen dirinya ternyata tidak sebaik yang ia kira. Celah kelemahan inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Furiosa, juga Max, untuk akhirnya memberontak atas represi yang dilakukan Immortan Joe.

Namun, satu hal paling menarik dari Fury Road adalah kentalnya tema tentang perempuan. Tak sekadar ada tokoh Furiosa yang tangguh (dan dimainkan sangat garang oleh Theron) dan geng perkasa yang terdiri dari kaum perempuan senja, tidak juga hanya dilambangkan dari kehamilan beberapa tokohnya. Sebuah adegan menunjukkan bibit-bibit tanaman yang disimpan dan dirawat oleh perempuan, yang nantinya bisa ditumbuhkembangkan di tempat yang tepat. Film ini mengangkat perempuan sebagai cikal bakal peradaban, sebagai kontras terhadap perlakuan dari Immortan Joe kepada perempuan sebagai barang kepunyaan (termasuk para istrinya yang diberi pakaian eksploitatif). 

Dalam hal film yang (diam-diam) punya misi pemberdayaan perempuan, Fury Road pun melangkah lebih jauh dari sekedar perempuan bisa menang berkelahi. Di sini, perempuan juga jadi agen perubahan. Ini adalah statement yang membuat Fury Road jadi lebih istimewa, terutama sebagai film yang genrenya justru lebih banyak digemari kaum lelaki—kaum yang sebagiannya mungkin akan senang begitu saja dengan cara berpakaian para istri Immortan Joe tanpa mau tahu alasan di baliknya.

Yang patut dikagumi lagi, semua konten tersebut bisa muat dalam sebuah film action intensitas tinggi berdurasi hanya 120 menit, dan porsi dialog yang tidak banyak. Fury Road pun menjadi salah satu contoh film yang sukses membuat sajian yang sangat menghibur, namun tidak membodohi penontonnya. Dari tema, cerita, juga kemasannya, film ini berhasil keluar sebagai tontonan yang tak menuntut penontonnya banyak berpikir, tapi kalau mau berpikir pun film ini punya kekayaan yang bisa digali, lebih dari sekadar kebut-kebutan dan pertarungan bising.




My score: 8/10


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Sabtu, 30 Mei 2015

[Movie] LDR (2015)


LDR
(2015 - Maxima Pictures)

Directed by Guntur Soeharjanto
Written by Cassandra Massardi
Produced by Ody Mulya Hidayat
Cast: Mentari De Marelle, Verrell Bramasta, Al Ghazali, Aurellie Moeremans, Luthya Suri, Muhadkly Acho, Fahmi Bo


Lama-lama lelah juga gw sama cara-cara cheap oknum-oknum film Indonesia dalam jualan. Ada yang pake judul hebohlah, pemain sensasionallah, setting luar negerilah, cela-celaanlah, cari-cari gelarlah, sampai nayangin filmnya dengan cara nyicil (nggak sekali selesai). Masih ingat sama 99 Cahaya di Langit Eropa? Film itu produksi Maxima Pictures yang ternyata dibelah dua...walau kemudian dibikin ringkasannya dengan embel-embel The Final Edition yang tentu saja sangat diperlukan. SANGAT diperlukan *lagsung gumoh*. Lalu perusahaan yang sama membuat film roman remaja LDR. Sebuah paket lengkap untuk jualan: judulnya hits di kalangan muda, setting luar negeri, pemainnya anak-anak dari artis terkenal, dan filmnya dibelah dua. Yup, LDR ini bernama lengkap LDR Part 1, sebuah sajian kurang dari 90 menit yang nantinya akan disambung di film Part 2. Bahwa film ini nggak belajar dari kesuksesan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang panjangnya dua kali LDR tapi tetap bisa jual satu juta tiket lebih, dan ditambah extended version yang panjangnya 200 menit sekali jalan dan masih mengumpulkan ratusan ribu penonton, it's beyond me

Sebenarnya gw juga bingung gimana caranya nge-review film yang jalannya baru separoh. Maksud gw, premis film ini adalah kisah cinta muda-mudi segi-sekian, ditekankan seorang cewek penggemar kisah Romeo dan Juliet harus memilih siapa yang akan jadi Romeonya di antara dua pilihan, pas di suasana tempatnya di Italia. Tapi apa? LDR Part 1 ini bahkan belum sampai ke situ. Itu ternyata premis untuk Part 2! Agak penipuan ya. Nama Al Ghazali ada di paling depan, tapi tokohnya di sini barely there, tentu saja dengan dalih ia akan berperan besar di Part 2. Gw tahu karena sebelum film berakhir udah ada teaser untuk Part 2-nya yang tayang entah kapan. An old school "episode selanjutnya" in sinetrons style, which is more iritating karena ini film bioskop. Okelah, 99 Cahaya itu tokohnya banyak jadi ceritanya panjang. Okelah Perahu Kertas span waktunya juga panjang. Lha LDR ini? Tokohnya aja cuma empat, span waktunya juga nggak lama-lama amat. Excuse untuk dibelah jadi dua part apa lagi selain ngabis-ngabisin duit penonton? Gw ragu, sebenarnya mereka pada respek nggak sih sama penontonnya? Bahkan sound dan dubbing-nya low-quality bangat. Apa sih maunya?

Baiklah, kita fair aja, gw nggak bisa komentarin ceritanya, mau bilang sweet atau apa ya belum bisa juga, karena the whole movie ternyata cuma pendahuluan, tanpa akhiran, semi-akhiran, ataupun tanda-tanda mau ke mana arahnya, dan sebenarnya bisa aja selesai dalam setengah jam. Pemandangan? Well, dengan adanya INTERNET dan video demo yang ditayangin di display LED TV di toko-toko elektronik, pemandangan udah bukan lagi hal yang istimewa. Malah gw perhatikan editornya kayak sempet keblinger antara mana Roma mana Milan ketika harus selip-selipin the obligatory gambar-gambar pemandangannya. Tapi paling nggak, Mentari De Marelle bermain dengan menarik dan fresh, demikian juga Aurellie Moeremans. Mereka bermain lebih baik dari cowok-cowoknya karena mungkin lebih berpengalaman, atau simply karena punya actual talent sementara yang lainnya....err.... Anyway, gw juga masih nggak masalah sama pengarahan adegannya--I still have faith in Guntur Soeharjanto tapi sayangnya film-film dia selalu di-butchered sama kepentingan-kepentingan jualan. 

Gw bukannya sok galak atau gimana, cuma mungkin gw merasa udah nggak bisa lagi memaklumi produk dari pihak-pihak yang rajin bikin film, dan punya modal untuk bikin film yang benar (LDR jelas bukan produksi abal-abal), tapi seakan nggak punya the love for the art form itself, nggak peduli bentuk isi filmnya kayak gimana yang penting bisa jualan, laku ya bagus, nggak laku ya buang. Kayak nggak punya kebanggaan selain di nominal. Mohon maaf komentar itu terlontar, karena selama ini begitulah adanya, dan seperti tidak ada niatan untuk memperbaiki. Ya LDR ini jadi makin menguatkan kesan itu. Bagi gw, keberadaan film LDR dan cara-caranya untuk "menjual" lebih absurd daripada meng-casting Muhadkly Acho jadi pramugara maskapai internasional. Tersinggung saya.




My score: 5/10

[Movie] Epen Cupen The Movie (2015)


Epen Cupen The Movie
(2015 - Rapi Films)

Written & Directed by Irham Acho Bachtiar
Produced by Gope T. Samtani
Cast: Clemens Awi "Celo", Babe Cabiita, Edward Gunawan, Marissa Nasution, Fico Fachriza, Nato Beko, Temon Templar, Deddy Mahendra Desta, Pierre Gruno, Fadly Jackson, Hengky Henggise, Cesilia Birio, Maria Fan Gebze, Vera Minipko


Pertanyaan pertama saat gw mengetahui tentang film ini adalah: apakah ada Epen Cupen yang bukan the movie sampai-sampai harus ditambahin kata the movie di sini? Eh, ternyata emang gwnya yang kurang hits di dunia maya, sampai nggak tahu bahwa ada webseries (klip di internet) berjudul Epen Cupen yang (katanya sih) cukup terkenal. Webseries ini sendiri formatnya sketsa pendek memvisualisasikan cerita-cerita yang biasa dibawakan dalam lawak khas Papua, yang disebut mop. Jadi, Epen Cupen The Movie bisa dibilang versi panjangnya webseries itu, atau minimal meminjam konsep mop Papua dalam sebuah cerita panjang.

Jika nge-judge dari poster bahwa film ini ingin mengekor kesuksesan Comic 8, ada benernya juga. Film ini memang sebuah action komedi, tapi komedinya dengan dasar mop Papua. Alas, bagian yang paling menarik dari film ini adalah bagian komedinya....pas di Papua. Jadi begini, film ini ada di dua tempat, 1/3 ada di Papua, 2/3 lagi di Jakarta, karena ceritanya si Celo yang dari sebuah kampung  di Papua disuruh cari kembarannya yang hilang--dengan set-up yang cukup jenaka. Ia mulai dari Jayapura, dan di sana malah ketemu sama Babe yang bermasalah, dan singkat cerita terdampar di Jakarta. Bagian Jakarta inilah masuk segala macam hal, mulai dari kehidupan preman, tembak-tembakan, kejar-kejaran sampai demonstrasi parkour. That part is a mess.

Gw akui, terlepas dari penggarapan yang nggak fancy-fancy amat, plus emang tujuannya buat lucu-lucuan aja, Epen Cupen The Movie bikin gw cukup tertarik di awalnya, apalagi menyangkut keluarganya Celo. Karakter dan gaya lawaknya menarik dan bisalah bikin ketawa. Tapi sayangnya itu bertahan hanya sekitar setengah jam sampai 40 menit. Sisanya adalah lawak yang lama-lama maksa digabungkan dengan action-action-an yang nggak cool ataupun nyatu, seakan film ini lepas kendali. 

Tapi, paling enggak penampilan si debutan Celo--salah satu pemain utama Epen Cupen webseries--di layar lebar skala nasional cukup impressive, apalagi dia memainkan dua karakter yang emang berbeda karakter. Effort-nya oke--boleh diadu sama Shandy Aulia di Tarot, hehehe. Keputusan memasangkannya dengan Babe yang dari Medan (jadi ceritanya dari Barat dan Timur ketemu di tengah-tengah gitu) juga nggak ngawur-ngawur amat. Tampak kompak, tapi ya sayangnya filmnya nggak sekompak mereka.

Then again, gw melihat bahwa film ini adalah semacam mengangkat reputasi dari production house-nya, bahwa dia telah memberi panggung bagi seni lawak dari daerah Indonesia yang jarang diekspos ke layar lebar dan dipasarkan secara nasional. Not a bad intention, dan cukup tersampaikanlah. Tapi, sebagai sebuah tontonan, film ini masih jauh dari matang, inovatif juga nggak, menghibur pun tak tuntas.




My score: 5,5/10

Minggu, 24 Mei 2015

[Movie] Tarot (2015)


Tarot
(2015 - Hitmaker Studios)

Directed by Jose Poernomo
Written by Riheam Junianti
Produced by Rocky Soraya
Cast: Shandy Aulia, Boy William, Sara Wijayanto, Aurellie Moeremans, Zaneta Georgina


Wawasan film horor Indonesia gw sangat minim, jadi sebenarnya gw kurang tahu horor yang bagus sama yang enggak tuh gimana. Yang gw tahu kalo seram berarti filmnya berhasil, dan akan lebih baik kalau cerita dan production value-nya juga bagus. Tahun ini gw cukup impressed sama Tuyul Part 1 yang punya modal cerita dan produksi yang oke, tapi kurang berhasil bikin gw ketakutan. Kini hadir Tarot, yang sebenarnya gw agak skeptis karena film horor Jose Poernomo satu-satunya yang gw kenal, oo Nina Bobo itu nggak serem. But well, to be honest, untungnya Tarot nggak begitu.

Tentu saja sebagaimana gw memandang film horor, gw sudah meremehkan Tarot, apalagi track record sutradaranya yang (ke)sering(an) bikin horor dan juga PH-nya, selama ini film-filmnya kurang mengesankan teman-teman gw yang gemar horor. Dari premisnya juga nggak ada yang benar-benar bikin gw tergerak untuk nonton. Well, kecuali untuk melihat bagaimana film ini meng-handle Shandy Aulia jadi orang kembar. In the bright side, gw melihat keseriusan dari penggarapnya di film ini. Production value-nya udah menunjukkan ini bukan film abal-abal, khususnya dari efek (baik yang practical, make-up, dan CGI-nya. No, seriously) yang looked really well-made. Sajian visualnya oke sekali sehingga nggak menimbulkan komplain bahwa ini film murahan seadanya. 

Nah, yang mungkin di luar ekspektasi gw adalah ternyata film ini nggak terlalu lame dalam membangun suasana horornya, sebagaimana pengalaman gw sama filmnya Jose. Nggak umbar penampakan, tapi lebih pada apa yang dilakukan si dedemit terhadap para korbannya. For once setelah beberapa lama, gw merasakan tense dan teror (oke, ini sih mungkin karena gw penakut) dalam film horor Indonesia. Which is a good sign. Artinya, Tarot ini layak ditanggapi serius.

Tapi, ketika ditanggapi serius, gw melihat Tarot melakukan langkah yang menurut gw nggak perlu dalam penceritaannya, khususnya di "babak tambahan"-nya. Terlepas dari kisah yang sebenarnya bukan hal yang baru-baru banget (gw nggak bilang nyontek loh ya, cuma udah banyak film horor yang pakai elemen-elemen di film ini), ketika sajiannya udah oke di 3/4 awal, bagian penutupnya justru terkesan redundant, seolah-olah nggak pe-de bahwa penonton udah ngerti maksud dari ceritanya, musti ditambahin dengan penjelasan demi penjelasan dan juga sebuah syarat tambahan yang, yaelah, ngapain juga ada di situ. Udah tahu bahwa si itu tuh begitu *critanya biar nggak spoiler =p*, nggak usah lagi kali dijelas-jelasin ini itu ini itu, pake syarat untuk memastikan harus ini itu ini itu, pake dijelasin lagi sama lirik lagu soundtrack-nya. Duileeh, segitu nggak yakinnya sama ceritanya sendiri. 

So yeah, gw tetap rela memberi pujian bagi Tarot sebagai salah satu produksi film horor Indonesia yang paling niat, enak dilihat, dan sukses menampilkan "horor" yang lumayan. Tapi, sayangnya dia pada akhirnya kurang bisa mengimbangi sisi itu dari segi cerita, yang sebenarnya udah cukup oke tapi jadi ke-spoiled di akhirannya, simply karena lack of confidence. Nice try, though.




My score: 6,5/10

Kamis, 21 Mei 2015

[Movie] Toba Dreams (2015)


Toba Dreams
(2015 - TB Silalahi Center/Semesta Production)

Directed by Benni Setiawan
Screenplay by Benni Setiawan
Based on the novel by T.B. Silalahi
Produced by Rizaludin Kurniawan
Cast: Vino G. Bastian, Mathias Muchus, Marsha Timothy, Ramon Y. Tungka, Haikal Kamil, Tri Yudiman, Jajang C. Noer, Boris Bokir, Vinessa Inez, Jerio Jeffry, Julian Kunto, J.E. Sebastian, Ajil Ditto, Fadhel Reyhan, Paloma Kasia


Toba Dreams merupakan kumpulan kisah dramatis yang interesting, bagaikan saga tentang sebuah keluarga dengan berbagai lika-liku kehidupannya, apalagi film ini melibatkan anggota keluarga empat generasi. Film ini terbagi dari berbagai babak-babak dramatis layaknya sebuah film berskala besar, durasinya pun panjang sampai 2,5 jam. Well, dengan tambahan pesan-pesan moral khas "film-film inspiratif" mulai dari jangan durhaka sama orang tua, harta yang paling berharga adalah keluarga, jauhi narkoba, kasihan keluarga terpidana korupsi, semua agama ajarkan yang baik, bhinneka tunggal ika, sampai pesan injili seperti jangan timbulkan amarah pada hati anak-anakmu. Agak pretensius, tapi ya sudahlah.

But here's the thing, buat gw Toba Dreams bisa work well for me kalau dibuat tidak seperti film yang beredar ini. Toba Dreams bisa jadi sebuah drama apik tentang kehidupan ganda seorang anak tentara yang berkiprah di dunia kejahatan dan keluarganya yang tidak sadar kalau mereka pakai blood money hasil usahanya. Mungkin bayangan gw kayak film The Iceman. Bisa jadi heartbreaking, sekaligus bisa jadi tense. Bisa jadi, tapi tidak terjadi.

Yang gw lihat di Toba Dreams adalah sebuah sajian cerita yang punya materi potensial tetapi hanya sampai selangkah di bawah batas maksimalnya. Almost there, but not yet. Komplain pertama gw adalah film ini mulai masuk salah satu babak cerita yang sangat penting, yaitu tentang si Ronggur (Vino G. Bastian) masuk mafia, itu satu jam setelah filmnya berjalan. Satu jam! Satu jam pertama? Well, yang gw inget cuma bertengkar, bertengkar, bertengkar, dan kepeleset di sawah. Dan yang mungkin lebih membuat gw agak kurang bisa terima adalah film ini menyianyiakan potensi dari crime drama-nya, porsi ini hanya kebagian montase. Padahal, penataan adegan crime-nya cukup apik, mengusung tema yang besar, dan filmnya sendiri diakhiri dengan unsur itu juga. Mungkin ini supaya memberi ruang bagi porsi melodramanya, yang nyatanya memang disajikan jauh lebih banyak. Mungkin supaya filmnya bisa ditonton keluarga dengan less violence. Iya deh. Tapi ya gw merasa film ini jadi mengecilkan hal-hal besar, dan membesar-besarkan hal-hal kecil.

Gw juga menyaksikan beberapa inkonsistensi yang membuat gw nggak bisa menyukai film ini seutuhnya. Mulai dari dialog yang bisa dibilang klise (ini masalah selera sih), akting yang uneven dari beberapa pemeran pendukung tambahan, "infomercial" yang cukup panjang tentang SMA unggulan berbasis militer itu, sampai stereotipe pendeta harus selalu nenteng Alkitab dan memakai dasi kotak sekalipun baru masuk sekolah pendeta ataupun menemui saudara sendiri dalam situasi pribadi, among other things. Jadi ketika gw merasa ada adegan bagus, eh di berikutnya tampil adegan-adegan yang menganggu, dan itu nggak sekali dua kali. Daripada menikmati, gw lebih sibuk mikir "harusnya bisa begini harusnya bisa begitu".

But yeah, gw juga nggak tutup mata sama beberapa bagian yang memang work really well. Penggambaran budaya Batak di sini cukup representatif, demikian pula gambaran diversity-nya yang nggak asal-asalan (yes, there are indeed countless Batak soldiers married to Javanese women). Gw juga suka sama komposisi gambarnya, khususnya adegan ketika Sumurung (Haikal Kamil) ngobrol sama Sersan Tebe (Mathias Muchus) di tangga rumahnya dan di lantai atas kelihatan sang ibu memerhatikan dari belakang mereka. Plus adegan one continuous shot di rumah Tomy (Ramon Y. Tungka, who is quite outstanding in this film) yang gw akui jempolan. Oh, satu lagi, film ini juga menguatkan bahwa visual effects sudah mulai dianggap serius dalam perfilman Indonesia.

Ya begitulah. Gw tahu film ini akan gampang membuat luluh dari kisah tentang hubungan orang tua dan anak, atau hubungan antarkeluarga pada umumnya. Atau juga pesan-pesan yang berniat baik. Tapi kalau kebanyakan pesanan juga jadi too much nggak sih? Dan mungkin itu yang bikin durasi film ini jadi panjang banget, nget. Coba kalau satu jam pertama dijadiin 15 atau 20 menit aja, mungkin gw akan lebih enjoy. Tapi siapakah gw, jenderal bukan, ahli film bukan, gw bahkan nggak ada sebesar tetes air mata Marsha Timothy di dunia ini -.-.




My score: 6,5/10

Selasa, 12 Mei 2015

[Movie] Testament of Youth (2015)


Testament of Youth
(2015 - BBC Films/Lionsgate UK)

Directed by James Kent
Screenplay by Juliette Towhidi
Based on the memoir by Vera Brittain
Produced by David Heyman, Rosie Alison
Cast: Alicia Vikander, Kit Harington, Taron Egerton, Emily Watson, Dominic West, Colin Morgan, Miranda Richardson, Hayley Atwell, Alexandra Roach


Memasuki milenium baru, banyak film bertema perang yang punya misi menyampaikan pesan antiperang. Ternyata, pesan itu bukanlah pemikiran khas generasi sekarang. Seorang wanita terpelajar asal Inggris, Vera Brittain sudah menyuarakan pesan itu sejak Perang Dunia I di awal abad ke-20. Memoarnya yang berjudul Testament of Youth pun dianggap sebagai salah satu buku tentang perang yang dianggap paling penting. Kisah Brittain kini diangkat ke layar lebar oleh BBC Films, bekerja sama dengan Heyday Films, Screen Yorkshire dan BFI, di bawah arahan sutradara James Kent.

Vera Brittain (Alicia Vikander) berasal dari keluarga terhormat yang memegang nilai-nilai tradisional. Keadaan ini cukup merepotkan mengingat Vera yang terbukti cerdas ingin lanjut ke bangku kuliah. Sementara orang tuanya takut ia tak akan dapat suami jika berpendidikan terlalu tinggi. Namun, setelah diyakinkan oleh sang adik, Edward (Taron Egerton), Vera akhirnya diizinkan untuk berkuliah di fakultas khusus perempuan di Oxford. Ketakutan orang tuanya terhadap nasib Vera pun tidak terbukti, karena tak lama setelahnya, Vera menjadi calon istri dari Roland Leighton (Kit Harington), seorang pemuda dengan minat dan pemikiran yang sama dengan Vera.

Sayangnya, perjalanan menuju cita-cita itu penuh tantangan. Perang mulai pecah di tanah Eropa, dan menjalar sampai Inggris. Para pemuda, termasuk Edward dan Roland memutuskan ikut berperang. Vera turut merasakan kegelisahan dalam keadaan genting ini, sehingga ia menjadi perawat sukarela di rumah sakit, merawat para korban terluka akibat perang. Dalam keadaan ini, ia tetap menulis surat kepada adik dan kekasihnya, sekalipun tidak semua surat itu terbalaskan.

Film Testament of Youth secara rapi dan terstruktur hendak menyampaikan tentang siapa itu Vera Brittain, dan apa yang membuatnya istimewa untuk dibahas. Maka, film ini berpatokan pada memperkenalkan sosok Brittain, serta peristiwa-peristiwa yang membuat dirinya dengan tegas menentang perang, dan jadi salah satu aktivis antiperang di kemudian hari. Menentang perang mungkin bukan sebuah pemikiran hebat di zaman sekarang, namun bagi Brittain itu sesuatu yang harus diperjuangkan dengan keras. Terlebih lagi dia seorang perempuan, dari keluarga terpandang, di bangsa yang belum kenal persamaan hak pada zaman itu.

Di satu sisi, film ini ingin menekankan pada nilai-nilai yang harus dilawan Brittain pada zaman itu, demi memenuhi hasratnya untuk maju dan teremansipasi. Setelah mendapat izin untuk kuliah, ia harus bekerja keras untuk sukses di perkuliahan. Seperti diujarkan sang dosen, Miss Lorimer (Miranda Richardson), kaum perempuan mau tidak mau harus berjuang dua kali lebih keras dan jadi lebih baik dari kaum pria hanya supaya bisa dianggap setara. Pilihannya untuk jadi perawat pun mendapat tantangan karena status sosialnya, ketika Brittain dianggap terlalu "priyayi" untuk melakukan kerja kotor. 

Tak berhenti di situ, Brittain juga harus alami dilema moral ketika ditugaskan di medan perang, tepatnya di bangsal pengobatan bagi tentara musuh. Awalnya, ia memang bergabung sebagai perawat perang karena sebatas itulah sumbangsih maksimal bagi seorang perempuan seusianya dalam membela tanah air. Namun, belakangan peristiwa-peristiwa yang dialami akhirnya menggembleng mental Brittain, dan membawanya pada satu konklusi bahwa perang tak membawa kebaikan dalam bentuk apa pun, terhadap pihak mana pun.

Di sisi lain, film ini juga berusaha menggambarkan sisi emosional dari kehidupan Brittain, yang turut membentuk pemikirannya itu. Ini berkaitan dengan hubungannya dengan Roland dan juga Edward. Sisi ini sebenarnya berpotensi menjebak sosok Brittain di film ini menjadi terlalu lembek, bahwa ia menentang perang semata-mata karena hal-hal yang menimpa orang-orang yang dicintainya dan dekat secara pribadi. Penggambaran hubungan cinta Brittain dan Roland juga cukup intens dan menarik layaknya film-film roman, serta digunakan sebagai salah satu motivasi utama perjalanan Brittain sepanjang film.

Akan tetapi, film ini sukses menghindari jebakan itu. Meski hubungan cintanya punya peran besar, film ini memberi porsi yang sama banyaknya, bahkan lebih banyak, pada perjuangan Brittain di tengah peperangan. Keseimbangan dua sisi tersebut akhirnya yang menjadi keunggulan utama Testament of Youth ini. Bahwa cinta bukan satu-satunya motivasi Brittain, melainkan juga keadaan sekitarnya secara luas, yang mendorongnya untuk berkontribusi.

Memang, secara tema dan penggarapan, tidak ada yang spektakuler dari film ini. Penyusunan cerita dan penuturannya termasuk konvensional, sedangkan pesan antiperang-nya juga bukan hal yang baru lagi jika dilihat di masa sekarang. Adegan-adegan perangnya juga tidak diperlihatkan. Malah lebih banyak adegan yang atmosfernya mendayu-dayu—dengan pembacaan baris-baris puisi dan montase gambar bergerak layaknya film-film Terrence Malick (The Tree of Life, The New World), terutama di pertengahan menuju akhir film. 

Namun, secara garis besar Testament of Youth berhasil mengangkat nilai-nilai yang memang patut diketahui dan patut diserap dari Brittain, dengan cara menunjukkan hal-hal yang perlu dan meminimalisir yang tidak perlu. Penggambaran sosok Brittain sekilas terlalu heroik, namun sisi rapuh dan kesulitannya untuk bergaul juga ditunjukkan, sehingga membuatnya tidak terlalu komikal. Performa apik dari aktris cantik Swedia, Alicia Vikander pun memperkuat atas penyampaian tentang siapa dan bagaimana Brittain itu, sehingga bisa membuat yang menonton jadi ikut peduli, dan mungkin mendukung apa yang jadi perjuangannya.




My score: 7/10


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Senin, 04 Mei 2015

My Impression of Summarecon Mal Bekasi IMAX


Doaku terkabul ^o^.

Salah satu mal paling hot dan paling bahaya-bagi-keuangan-karena-buka-tenant-tenant-kece-nan-trendi-hanya-dalam-dua-tahun, yakni Summarecon Mal Bekasi sepertinya benar-benar berupaya supaya orang Bekasi nggak usah ke Jakarta lagi untuk merasa heits. Tepat tanggal 1 April 2015, bioskop layar besar IMAX akhirnya dibuka di bioskop XXI di sana. Kalau sering mampir blog ini sejak awal, pasti ingat bahwa format IMAX adalah salah satu format menonton film yang paling gw excited about. Bahwa sekarang teater IMAX sudah ada di di kota tempat tinggal saya dan jaraknya tidak jauh, bisa dibayangkan dong sukacita hatiku *joget-joget di kalimalang*.

Ngingetin sedikit, IMAX itu format pemutaran film dengan layar besar, dengan prinsip menonton dari letak mana pun duduknya akan kelihatan jelas dan nggak kehalang sehingga punya sensasi "immersive", whatever that means, makanya susunan bangkunya pun pakai geometri kayak stadion. Jelas ini bukan format baru, di Indonesia sendiri teater IMAX pertama dibangun di Keong Emas tahun 1980-an yang jadi ikon pusat rekreasi Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Itu layarnya guede dengan lebar nyaris 29 meter dan tinggi 21 meter, tapi itu konsepnya untuk wahana, jadi lebih banyak muter film dokumenter dan film komersialnya sesekali pas weekend, dan pastinya film-filmnya harus semua umur, dan mostly masih pakai proyektor film konvensional analog--the way Christopher Nolan likes it =p.

Dengan perkembangan teknologi, si IMAX pun mulai ekspansi ke alat digital dan buka teater di kompleks bioskop komersial, dan tahun 2012 akhirnya sampai di Indonesia kerja sama dengan 21/XXI. Saat itu bukanya di Gandaria City, Jakarta yang sayang sekali ukuran layarnya lebar 21 meter dan tinggi 10 meter, jomplang banget--hampir cuma separuhnya--dari Keong Emas, dan buat gw yang telanjur impressed sama Keong Emas (kecuali sound dan kenyamanan kursinya -.-) jadi agak terkecewakan. Untunglah, setahun kemudian agak terbayar oleh IMAX di Kelapa Gading yang lebih besar dan lebih sreg buat gw (konon ukuran lebar 24 meter dan tinggi 14 meter). Setahun kemudian lagi dibuka lagi IMAX Summarecon Serpong, Tangerang Selatan, Banten yang layarnya mirip-mirip sama Gandaria atau mungkin lebih gedean dikit, tapi gw nggak peduli juga karena letaknya half way around the world dari rumah gw *lebay* *becanda kali*.

Lalu sampailah di tahun ini dengan kedatangan IMAX Summarecon Bekasi, jelas gw sambut dengan hangat walau gak berharap terlalu banyak. Seperti IMAX di XXI sebelumnya, teater ini memutarkan film-film blockbuster terkini dalam layar besarnya, baik yang 2D ataupun 3D, tergantung filmnya. Info awal yang gw dapet jumlah bangkunya 394, nggak beda jauh dari Gandaria (391), dan lebih sedikit dari Gading (539) dan Serpong (452) jadi ada kemungkinan ukuran layarnya ya sekecil seukuran itu juga. Eh ketika gw coba masuk untuk pertama kalinya, wow, gw sumringah melihat layarnya terbilang cukup besar. Now, gw belum tahu ukuran layar pastinya (sepertinya emang confidential, biasalah kalo XXI mah), tapi gw perkirakan layarnya lebih lebar dan lebih tinggi dari Gandaria, mungkin ada sampai 2-3 meter bedanya *yaelah*.

Di dalam teater IMAX Summarecon Bekasi XXI, gw motret dari posisi di tengah baris E.
Entah ini cuma ilusi mata atau fikiran semata, tapi ya dari segala segi, IMAX Bekasi bakal jadi pilihan utama gw kalau mau nonton format IMAX *obviously*. Sejauh ini gw udah mencoba menonton film Fast & Furious 7 dan Avengers: Age of Ultron dalam format IMAX 3D di sana, dan rasanya ya seru-seru aja. 

Tentu sebagai manusia ada rasa nggak puasnya, karena buat gw dengan layar IMAX seperti ini paling pol adalah nonton dengan: 1. Tanpa 3D, karena buat gw 3D di layar apapun bikin layarnya terlihat mengecil, 2. aspect ratio pas 1.85:1 (seperti layar TV LCD/LED) atau mungkin lebih tinggi, dan 3. filmnya emang disyut pake kamera khusus IMAX. So far kedua film tersebut belum memenuhi syarat maksimal gw itu (filmnya 3D, konversi kamera biasa ke format IMAX, dan aspect ratio layar lebar 2.39: 1, yang artinya layar yang IMAX kepake nggak penuh). Film terakhir yang memenuhi ketiga syarat itu adalah Interstellar tahun lalu ketika belum ada IMAX di Bekasi, dan tampaknya emang belum ada film-film demikian dalam waktu dekat--mungkin sampai Star Wars: The Force Awakens (itu pun "terpaksa" 3D), so I'm looking forward to that to happen.

Untuk sementara ini, gw akan menahbiskan IMAX Summarecon Bekasi dengan cap "APPROVED"!


Summarecon Bekasi XXI IMAX
Summarecon Mal Bekasi lt. 3, Jl. Bulevar Ahmad Yani, Summarecon Bekasi, Kota Bekasi, Jawa Barat
Harga tiket per orang, 2D/3D (per 4 Mei 2015):
Rp 50.000,- (Senin-Kamis)
Rp 75.000,- (Jumat, hari sebelum tanggal merah)
Rp 100.000,- (Sabtu, Minggu, hari tanggal merah)
Parkir Mobil: Rp 3.000,- jam pertama dan kedua, Rp 2000 per jam selanjutnya
Informasi lengkap http://www.21cineplex.com/imax

Sabtu, 02 Mei 2015

[Movie] Avengers: Age of Ultron (2015)


Avengers: Age of Ultron
(2015 - Marvel Studios/Disney)

Written & Directed by Joss Whedon
Produced by Kevin Feige
Cast: Robert Downey Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth, Mark Ruffalo, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Samuel L. Jackson, James Spader, Aaron Taylor-Johnson, Elizabeth Olsen, Paul Bettany, Don Cheadle, Anthony Mackie, Cobie Smulders, Andy Serkis, Claudia Kim, Linda Cardellini, Hayley Atwell, Idris Elba, Stellan Skargård, Thomas Kretschmann, Julie Delpy 


Suka atau tidak, terima atau tidak terima, Avengers: Age of Ultron bagaikan event Piala Dunia yang demamnya menjangkiti semua orang. Film ini mempertemukan kembali para superhero Marvel yang sebelumnya sukses dengan film masing-masing: Iron Man, Captain America, Thor, Hulk, ditambah yang belum punya film sendiri seperti Hawkeye, Black Widow, dan Nick Fury. Apalagi, pertemuan pertama mereka di The Avengers (2012) sukses besar. Dengan riwayat seperti itu, tidak heran bila Marvel ingin menyajikan yang lebih besar, lebih ramai, dan lebih hebat di pertemuan yang kedua ini.

Lembaga pertahanan khusus S.H.I.E.L.D. telah runtuh, tim superhero Avengers kini harus berjuang lebih keras untuk menyelamatkan bumi. Salah satu hal pertama yang mereka lakukan adalah merebut kembali Scepter, batu sakti yang direbut dari Loki (diperankan Tom Hiddleston, di film The Avengers) dan disimpan S.H.I.E.L.D., yang akhirnya jadi milik HYDRA (bisa disaksikan di Captain America: The Winter Soldier). Yang tidak mereka ketahui, ada sebuah rencana hebat di balik benda ini.

Tony Stark (Robert Downey, Jr.) bersama Dr. Bruce Banner (Mark Ruffalo) mencoba membongkar rahasia di balik batu ini, yang ternyata dapat membangun sebuah komponen artificial intelligence (kecerdasan buatan) yang lebih pintar dari manusia. Tadinya, Stark ingin memakainya untuk membangun pasukan robot pelindung bumi, sehingga superhero tak perlu lagi bekerja terlalu keras. Akan tetapi, artificial intelligence itu malah melahirkan Ultron (diisi suara James Spader), yang punya kehendak sendiri, dan kehendak itu tidaklah menguntungkan bagi umat manusia. Di sisi lain, tindakan Stark dan Banner membangun artificial intelligence tanpa bilang-bilang, menimbulkan benih perpecahan di dalam tim Avengers.

Ramainya para tokoh superhero merupakan hal yang membuat film Avengers selalu dinanti. Di mana lagi bisa melihat aksi para superhero dengan kemampuan berbeda-beda beraksi bersama-sama menyelamatkan bumi. Bagusnya, penulis dan sutradara Joss Whedon tahu bagaimana cara untuk menampilkan aksi dan kepribadian masing-masing superhero ini dengan porsi adil dan tepat timing-nya. Hal tersebut nyata terlihat di The Avengers, dan kembali ditunjukkan di Age of Ultron, yang notabene jumlah tokohnya bertambah. Selain para superhero yang disebutkan di atas (plus Ultron), film ini juga menampilkan sosok sakti baru, seperti si kembar Maximoff, Pietro alias Quicksilver (Aaron Taylor-Johnson) dan Wanda alias Scarlet Witch (Elizabeth Olsen), ada pula sahabat Iron Man, War Machine (Don Cheadle), juga kemunculan The Vision (Paul Bettany)—yang tampilannya didesain dengan sangat anggun.

Jika para superhero ini sampai harus berkumpul, pastinya ada sesuatu yang sangat besar dan genting. Ketika The Avengers pertama mendatangkan musuh dari dimensi lain, maka Age of Ultron menampilkan musuh yang diciptakan oleh manusia (anggota Avenger) sendiri, sekalipun pertaruhannya tetap keutuhan bumi. Seberapa kuatnya Ultron sampai harus dilawan oleh sampai 10 superhero (sudah termasuk Hulk), memang agak tricky untuk diceritakan. Yang pasti, Ultron adalah sebuah kesadaran yang berbentuk software, bisa meretas data seluruh dunia, mudah berpindah "tubuh", sekaligus sanggup memproduksi pasukan robot canggih (meneruskan apa yang tadinya dilakukan Stark). Pasukan robot ini mungkin mudah dikalahkan, tetapi jumlah mereka yang tak habis-habis memang cukup bikin repot.

Age of Ultron bisa disebut versi gelap dari The Avengers, ataupun film superhero Marvel lainnya. Selain karena berbicara tentang kelangsungan umat manusia (The Avengers pertama justru ingin bumi tetap utuh), film ini juga berusaha memunculkan ketakutan terdalam dari para superhero kita. Akan tetapi, Age of Ultron tidak malah menjadi sajian yang murung dan depresif. Whedon tetap sanggup menyematkan humor yang cerdas di sana-sini, baik yang sanggup menimbulkan gelak tawa langsung, maupun yang berhubungan dengan rujukan film-film Marvel sebelumnya. Bahkan, sosok Ultron sendiri dibuat dengan kepribadian yang witty, dengan dialog dan tingkah polahnya yang mungkin mengingatkan pada tokoh-tokoh antagonis animasi Disney (misalnya Scar di The Lion King atau Hades di Hercules). Paling tidak unsur fun khas Marvel tetap terjaga di sini.

Di sisi lain, jika dimaksudkan sebagai film yang lebih ramai, lebih besar, dan lebih hebat dari The Avengers sebelumnya, Age of Ultron mungkin belum memenuhi semua itu. Lebih ramai dan lebih besar memang benar, tapi belum tentu lebih hebat. Masalahnya, keramaian dan kebesaran film ini sudah pernah dicapai oleh The Avengers sebelumnya, juga lewat film lain yang lebih "kecil" seperti Guardians of the Galaxy atau Captain America: The Winter Soldier. Bahwa musuhnya robot pun sepertinya masih kalah genting dengan kedatangan pasukan alien dari dimensi lain yang menyerang bumi. Bahkan kalau mau dibandingkan lebih detail, exposure tokoh Quicksilver di sini masih kalah keren dibandingkan kemunculannya di X-Men: Days of Future Past—yang memakai tokoh sama tapi tak berkaitan karena dibuat oleh studio lain.

Tetapi, mungkin itu bukan kesalahan Age of Ultron sepenuhnya. Film ini dibuat dengan plot yang exciting, juga memunculkan interaksi yang menarik antararakternya meski dalam waktu terbatas, termasuk memasukkan unsur drama. Setiap adegan laganya dibuat dengan apik dan ramai, dibantu dengan tata suara dan visual effects yang cermat dan nyaman disimak. Nilai-nilai kepahlawanan tiap superhero tetap sanggup ditonjolkan. Hanya saja, sebagai film yang seharusnya berskala lebih besar dari film Marvel lainnya, Age of Ultron tidak lagi se-fresh The Avengers pertama, tidak segila-gilaan Guardians of the Galaxy, dan tidak sesignifikan Captain America: The Winter Soldier—yang memuat pengungkapan yang mengubah keadaan seluruh semesta film Marvel.

Dan, yang mungkin paling memengaruhi adalah Age of Ultron seakan hanya jadi sebuah episode perantara dari kelanjutan visi Marvel Cinematic Universe (MCU), yang mengaitkan semua film superhero Marvel dalam satu benang merah besar. Film ini seolah tidak tuntas: bagian awalnya harus dibantu dengan film-film Marvel sebelumnya, dan bagian akhirnya masih akan dilanjutkan dengan film-film Marvel sesudahnya—memuncak pada Avengers: Infinity War di tahun 2018 dan 2019. Kalau mau diambil positifnya, Age of Ultron memuat beberapa kejadian yang mungkin jadi latar belakang peristiwa-peristiwa di film-film Marvel yang akan datang, walau belum jelas seberapa besar pengaruhnya.

Terlepas dari itu, Age of Ultron jelas bukan film buruk, mengecewakan pun tidak. Film ini hanya belum sanggup memenuhi ekspektasi yang telanjur sangat tinggi sejak kesuksesan The Avengers pertama dan film-film Marvel lain. Mungkin belum sampai mencengangkan, tapi paling tidak film ini masih bisa menyajikan hiburan sepanjang 2 jam 20 menit yang juga tidak terasa terlalu panjang.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

[Movie] Turis Romantis (2015)


Turis Romantis
(2015 - Mahaka Pictures/Spectrum Film)

Directed by Senoaji Julius
Written by Rahabi Mandra
Produced by Celerina Judisari, Hanung Bramantyo
Cast: Kirana Larasati, Shaheer Sheikh, Mike Lucock, Retno Yunitawati, Gunawan Maryanto, Alby Jufri


Menonton Turis Romantis harus dengan peringatan sejelas-jelasnya: harus santai, sesantai-santainya. I mean, seriously, dengan materi cerita dan pemain yang ada di film ini, ya kita nggak bisa mengharapkan ini jadi...emm...*bingung nyari komedi romantis Indonesia yang terkenal punya standar tinggi*, Habibie & Ainun misalnya *sorry guys, I'm lost*. Dengan memakai bintang sinetron Mahabharata dari India yang emang lagi sering banget nongol di TV kita, udah jelas bahwa film ini dibuat untuk memanfaatkan popularitas orang tersebut--he even sung the theme songs, plural. Premisnya sangat ekspres, syutingnya pun katanya nggak sampai 20 hari, jadi ya nggak bisa juga expect too much juga. Dan yang bikin tricky adalah film ini drop dead comedy yang mungkin nggak semua orang akan nyambung. O well, untungnya sih gw nyambung.

Gw rasa nggak ada yang memungkiri bahwa Turis Romantis ini sangat FTV material, you know, yang bisa ditonton pas lagi santai siang-siang. Pake setting Jogja pula. Ada si perempuan yang agak tomboi (Kirana Larasati) dibebani utang oleh bapaknya, lalu berusaha cari uang dengan jadi guide dadakan turis asal India (Shaheer Sheikh), dan bagaimana dua hal tersebut kemudian bersinggungan. Very cheesy, dan somehow kita sudah mengerti ke mana arah film ini, bahkan sebelum nonton filmnya. Karena itulah, pembuat filmnya harus kerja keras supaya cheesy-ness itu tetap enak dilihat bagi orang yang udah effort datang ke bioskop beli tiket ngantre panjang barengan sama yang mau nonton  Avengers. Supaya kelihatan-banget-cuma-pengen-jualan-nya film ini jangan sampah-sampah amat.

Untungnya itu benar-benar dilakukan. Penuturan film ini terbilang enak diikuti, urutan sebab akibatnya masih okelah, nggak out of thin air, dinamikanya juga asik, dan penyelesaiannya tidak terlalu gampangan. Karakterisasinya dan motivasinya juga terbilang bisa diterima, cewek yang nggak "cewek" dengan "pangeran" serba jago dari India yang bagaikan penyelamat. Norak sih tapi bisa diterimalah. Tapi yang jadi penghibur utama buat gw adalah humornya. Humornya memang bukan yang terpintar, misalnya ngajarin kata yang salah ke orang asing, beberapa slapstick sana-sini dengan bantuan sound effect, nempelin uang robek pake tensoplas, "ditampar uang segepok", yang mungkin sebagian besar orang lihatnya goblok atau garing atau lawakan orang tua. Tapi humornya buat gw punya timing yang pas, dan seringkali self-conscious juga, ngeledek ke-norak-an diri sendiri, terutama yang keluar dari karakter debt collector yang obsessive compulsive disorder yang dimainkan Gunawan Maryanto, dan peran si ibu nan polos yang dimainkan Retno Yunitawati. Gw juga melihat bahwa si sutradara suka menyelipkan humor hampir di setiap adegan sekalipun cuma di background. Mungkin itu siasat supaya yang penonton yang udah males sama ke-cheesy-an ceritanya jadi nggak terlalu bosan, hehe.

Ya, gw harus mengakui bahwa gw terhibur sama film ini. Jika ini jadi FTV, it would be very good one. Pun ternyata sekarang film ini tayangnya di bioskop, yah...nggak jelek-jelek amatlah. Paling nggak gw bisa menyaksikan film ini tanpa komplain berlebihan, mungkin karena gw nggak berharap yang enggak-enggak, tapi emang sih mungkin filmnya akan mudah tersapu dari ingatan. Still, gw sih berharap pak Senoaji Julius bisa garap film komedi lagi dalam level yang naik di masa mendatang, karena gw cukup suka sama humor-humor sederhananya di film ini. A little extra points gw kasih ke film ini karena satu momen di adegan klimaksnya bikin gw ngakak sentosa, bukti bahwa tujuan film ini untuk menghibur paling tidak sudah tercapai.




My score: 7/10

Jumat, 01 Mei 2015

[Movie] Bulan di Atas Kuburan (2015)


Bulan di Atas Kuburan
(2015 - Sunshine Pictures/MAV Production/FireBird Films)

Directed by Edo W. F. Sitanggang
Screenplay by Dirmawan Hatta
Based on the 1973 film written by Asrul Sani
Produced by Dennis Chandra, Tim Matindas, Leonardo A. Taher
Cast: Rio Dewanto, Donny Alamsyah, Tio Pakusadewo, Atiqah Hasiholan, Ria Irawan, Andre Hehanusa, Annisa Pagih, Arthur Tobing, Nungky Kusumastuti, Mutiara Sani, Remy Sylado, Otis Pamutih, Alfridus Godfred, Adi Kurdi, Monica Setiawan, Meriam Bellina, Ray Sahetapy


Remake bukanlah sesuatu yang sering dilakukan di blantika film Indonesia. Ketika ada sebuah film yang di-remake, tentu yang patut dipertanyakan adalah kenapa harus di-remake. Bulan di Atas Kuburan, remake dari film berjudul sama yang ditulis dan disutradarai Asrul Sani di tahun 1973, tentu tidak akan lolos dari pertanyaan itu. Namun, sutradara Edo W.F. Sitanggang dan penulis (juga tercantum sebagai ko-sutradara) Dirmawan Hatta tak perlu menjawab secara langsung pertanyaan itu, karena isi filmnya sendiri sudah menyuarakannya.

Film Bulan di Atas Kuburan versi asli mengambil judul dari puisi karya Sitor Situmorang berjudul Malam Lebaran, yang isinya cuma satu baris berbunyi "bulan di atas kuburan." Baris itu kemudian dikembangkan menjadi cerita tentang para pemuda dari sebuah kampung di pulau Samosir, Sumatra Utara yang nekad mengadu nasib di Jakarta. Sampai akhirnya mereka melihat kenyataan bahwa kesuksesan yang mereka cari tidak segampang itu diraih. Dalam versi barunya, esensi itu kemudian diangkat dalam setting yang kekinian. Lucunya, pesan yang diusung dalam film produksi 42 tahun yang lalu masih sangat berlaku sampai sekarang.

Fokus film ini tertuju pada dua tokoh pemuda yang baru pertama kali menginjakkan kaki di ibukota, Sahat (Rio Dewanto) dan Tigor (Donny Alamsyah dalam salah satu performa terbaiknya). Sahat adalah orang yang lebih terdidik dan dikisahkan piawai menulis. Ia ke Jakarta punya modal dan tujuan, yaitu menanyakan tentang nasib novel pertamanya yang telanjur diambil oleh sebuah penerbit. Berbeda dengan Tigor, yang modal keahlian dan tujuannya ke Jakarta tidak sejelas Sahat. Akhirnya, ia mengambil kesempatan yang ada saja, jadi tukang catat angkutan kota di sebuah terminal.

Perjalanan dua tokoh ini disajikan dengan kontras, walau kejadian-kejadian yang mereka lewati bersifat paralel. Sahat beruntung bisa masuk ke lingkungan kelas atas. Bakatnya dalam sastra membawanya bertemu dengan calon istrinya, Mona (Atiqah Hasiholan), yang tak lain adalah putri dari pemilik perusahaan penerbitan. Akan tetapi, sebagai harganya, ia harus menekan idealisme dan ikut mertuanya dalam kampanye salah satu calon presiden, termasuk menjadikan novelnya sebagai alat propaganda dalam bentuk film.

Di lain pihak, Tigor hidup masih pas-pasan dan berkutat di dunia bawah yang dikuasai preman. Kepolosan dan kegigihannya menarik perhatian para "penguasa". Ketika lahan pekerjaannya dialihfungsikan, ia akhirnya diterjunkan ke dunia kekerasan. Masalahnya, di dunia sepert itu, tidak ada hukum dan aturan yang dapat melindunginya. Rupanya, baik punya modal keahlian ataupun tidak, Jakarta selalu punya cara untuk membelokkan kehidupan orang.

Di luar Sahat dan Tigor, sebenarnya ada juga kisah Sabar (Tio Pakusadewo), rekan sekampung Sahat dan Tigor yang telah lebih dulu ke ibukota, dan yang jadi pendorong Sahat dan Sabar untuk mengikuti jejaknya. Dalam film ini ia tidak jadi fokus utama, melainkan lebih sebagai perekat antara Sahat dan Tigor yang berkutat dengan kehidupan dan perjuangan masing-masing. Sabar mungkin terlihat lebih perlente ketika pulang kampung, tetapi di Jakarta ia juga susah payah mencari penghidupan layak. Jadilah ia seorang pengurus tender proyek, sebuah bidang yang banyak "permainan".

Film Bulan di Atas Kuburan mungkin bukanlah film yang menuturkan narasi semata. Film ini bisa dipandang sebuah cara menyampaikan statement tertentu. Dan, ternyata statement itu bukan sekadar soal "mengadu nasib di ibukota tidak seindah angan-angan, maka pulanglah membangun kampung halaman". Ada satu lapisan lagi yang hendak disampaikan film ini, yaitu bagaimana kehidupan di kota besar—dalam hal ini Jakarta—dapat mengubah orang.

Di bagian awal ada sebuah karakter yang tampil singkat, diperankan oleh Ray Sahetapy. Ia digambarkan gemar membual tentang kehidupan jetset-nya, tapi belakangan diketahui ia naik bus tanpa bayar ongkos, dan makan siangnya dibayari oleh Sahat dan Tigor. Bagian singkat ini rupanya menjadi semacam prophecy bagi apa yang terjadi pada para karakter ini. Sahat akhirnya tidak lagi mampu berkarya secara murni setelah terkontaminasi rumitnya realita kehidupan kota besar. Sabar menjadi orang yang kebal dengan perbuatan yang melanggar hukum demi kesuksesan. Tigor yang tadinya ramah dan lembut pun akhirnya dipaksa untuk jadi alat kekerasan.

Film ini pun berhasil menyampaikan statement-nya itu itu secara perlahan dan menyatu dalam jalan cerita dan karakternya. Hampir tidak ada hal yang terlalu verbal dalam menyampaikannya, juga tidak terlihat memaksa untuk menekan filmnya menjadi depresif. Sesuai dengan spirit cara pandang masa kini, keadaan, peristiwa, dialog, dan perilaku yang ditunjukkan film ini tampak natural dan dekat dengan keseharian, tidak ada yang tampak dilebih-lebihkan atau karikatur. Gegar budaya Sahat dan Tigor saat datang ke Jakarta tidak digambarkan dengan tindakan-tindakan norak, melainkan dengan betapa mereka bingung melihat keriuhan dan keangkuhan kota. Mereka juga tidak menghakimi setelah melihat kehidupan Sabar yang ternyata tidak sesejahtera yang ia pamerkan, melainkan tetap respek karena Sabarlah orang pertama (mungkin satu-satunya) yang menunjukkan keramahan-tamahan di Jakarta.

Tokoh-tokohnya tidak sampai harus terlihat sesengsara mungkin demi menarik simpati, karena "kekejaman" ibukota bukan lagi sekadar persoalan susahnya cari uang, tetap lebih kepada ketidakpastian yang berkepanjangan, dan samarnya kawan dan lawan. Film ini juga dengan baik menyorot berbagai sisi Jakarta tanpa jadi sekadar kolase gambar. Gambaran kontras kemewahan dan keruwetan Jakarta, dan segala hal di antaranya, tampak menyatu dengan kehidupan karakternya, tanpa ada kesan sebagai kampanye pro atau anti-Jakarta. Tapi, unsur dramatisnya juga tidak hilang, terima kasih pada keberadaan karakter seperti Mona, Minar (Ria Irawan), dan Martin (Alfridus Godfred, yang tenar lewat The Raid) yang memberi dinamika dalam cerita yang sesuai porsinya.

Jika ada hal yang kurang, mungkin itu tertuju ada pada penuturan film ini yang terkesan lompat-lompat, seperti ada proses cerita yang terputus. Contohnya, film ini tidak menunjukkan bagaimana Tigor mendapat pekerjaan pertamanya di terminal. Yang ditunjukkan hanyalah bagaimana Tigor menyelamatkan Jantuk (Otis Pamutih) dari buruan preman, selanjutnya ada adegan Tigor sudah jadi pencatat di terminal dan mengobrol akrab dengan Jantuk. Bisa jadi itu adalah pilihan artistik para pembuat film ini—mirip dengan film-film garapan Dirmawan Hatta sebelumnya, seperti Optatissimus dan Kau dan Aku Cinta Indonesia. Tidak ada yang salah sebenarnya, karena pada akhirnya kaitan dari adegan-adegan tersebut selalu bisa terjelaskan sendirinya. Hanya saja, mungkin ini bukan cara penuturan yang membuat nyaman yang menontonnya.

Tapi, jangan bayangkan Bulan di Atas Kuburan adalah sebuah film yang "nyeni" dengan banyak simbol. Memang ada kecenderungan ke sana, tapi pada akhirnya film ini tetap sebuah sajian yang masih mudah dicerna lewat tata adegan dan dialog yang dekat dengan keseharian, dan di saat bersamaan mampu menyampaikan gagasan utamanya tanpa mengumbar kelewat lugas. Jika niatnya adalah untuk menyegarkan kembali gambaran dan gagasan tentang kejamnya ibukota, Bulan di Atas Kuburan versi baru ini sudah berhasil dengan caranya sendiri.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com