Senin, 27 April 2015

[Movie] Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) (2014)


Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)
(2014 - Fox Searchlight)

Directed by Alejandro González Iñárritu
Written by Alejandro González Iñárritu, Nicolás Giacobone, Alexander Dinelaris, Armando Bo
Produced by John Lesher, Arnon Milchan, James W. Skotchdopole, Alejandro González Iñárritu
Cast: Michael Keaton, Edward Norton, Emma Stone, Naomi Watts, Zach Galifianakis, Andrea Riseborough, Amy Ryan, Lindsay Duncan, Merritt Wever, Jeremy Shamos


Film Birdman—judul lengkapnya Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)—telah menjadi perbincangan para pecinta film bahkan sejak proyek film ini diumumkan beberapa tahun lalu. Ini adalah film berlabel komedi pertama dari sineas asal Meksiko, Alejandro González Iñárritu, yang biasanya membuat film-film tragis dan depresif seperti 21 Grams dan Babel. Dan, yang lebih bikin penasaran lagi, film ini berkonsep seolah-olah direkam dalam satu kali take tanpa putus. Konsep tersebut rupanya berhasil diterapkan dengan memanfaatkan keahlian dan teknologi masa kini. Namun, itu tidak menjadi distraksi terhadap cerita yang sebenarnya ingin diangkat.

Riggan Thomson (Michael Keaton) sempat jadi bintang film terkenal di seluruh dunia berkat peran superhero Birdman dalam tiga filmnya yang sukses besar. 20 tahun kemudian, Riggan berupaya mengangkat citra dirinya sebagai seniman sejati, dengan hijrah ke dunia drama teater di Broadway, New York. Tak hanya sebagai aktor, ia juga menulis naskah dan menyutradarainya. Ia pun mengadaptasi cerita pendek yang terkenal dari pengarang Raymond Carver, What We Talk About When We Talk About Love. Film ini sendiri berjalan mengikuti persiapan Riggan dan orang-orang sekitarnya untuk pertunjukan tersebut, mulai dari latihan, preview (pra-pertunjukan), sampai malam pertunjukan perdana.

Menerapkan konsep satu kali take, film ini bukannya hanya punya satu adegan berkepanjangan. Dengan mengangkat kisah berlatar belakang dunia panggung teater, penyajian film Birdman mengambil inspirasi dari salah satu prinsip pertunjukan panggung, khususnya dari penuturan cerita yang tak terputus. Film ini melakukan pergantian adegan serta transisi waktu dan tempat secara langsung dan di depan mata penonton, tanpa menggunakan teknik jump-cut yang biasa dipakai dalam film. Filmnya sendiri tidak benar-benar syuting dalam satu kali take, namun gambar-gambar yang ada disambung dengan transisi yang mulus seolah tidak terputus lewat trik editing dan visual effects.

Namun, dengan menggunakan konsep seperti itu, bukan berarti film ini jadi berutur monoton. Dari segi gambar, film ini dirancang sedemikian rupa supaya tetap terkesan dinamis. Pertama, kamera akan selalu bergerak dalam mencari sudut yang terbaik dari setiap adegan, tidak statis di satu sudut saja. Kedua, perpindahan adegan ditandai dengan warna tiap ruangan dan pencahayaan yang berbeda-beda. Alhasil, meski dituturkan tanpa putus, dinamika pergerakan cerita dan emosi pun tetap dirasakan. Inilah yang membuat konsep penuturan Birdman layak dipuji, sekalipun bukan film pertama yang menerapkannya (salah satu yang terkenal adalah film Rope karya Alfred Hitchcock di tahun 1948 juga dibuat seolah-olah tanpa putus).

Di sisi lain, Birdman tidak hanya bermodalkan teknik penuturan yang beda saja. Skenario yang teliti juga menjadi daya tarik penting dari film ini. Ini adalah cerita tentang upaya seorang mantan bintang yang mulai pudar untuk bangkit lagi, untuk membuat keberadaannya diakui. Dan, bukan sekadar diakui, tetapi dihargai. Riggan mau membuktikan Birdman bukanlah satu-satunya peran yang ia mampu lakoni, sekalipun itulah satu-satunya peran dalam kariernya yang dikenal orang. Pertaruhannya cukup besar, ia harus menanggung sendiri bila proyek ini berhasil ataupun gagal.

Proyek Riggan ini memang bisa dibilang untuk memuaskan egonya sebagai seorang aktor, yang harus dihadapkan pada realita di sekitarnya. Mulai dari pembiayaan yang terbatas, anggapan skepstis komunitas teater, perilaku aktor-aktris lain yang beraneka rupa—terutama Mike Shiner (Edward Norton) yang kerap mencuri sorotan publik dari Riggan, sampai hubungannya yang berjarak dengan sang putri sekaligus asisten pribadi, Sam (Emma Stone).

Tetapi, "pertarungan" utama Riggan justru melawan bayang-bayang sosok Birdman, yang masih terus mengganggunya lewat suara-suara di kepalanya (yang dibuat mirip dengan suara Batman versi Christian Bale). Semakin keras Riggan mau menyukseskan pertunjukan ini, si Birdman semakin keras menghalanginya. Di sisi lain, ada bagian dalam diri Riggan yang sepertinya setuju dengan si Birdman. Dalam imajinasi Riggan, ia merasa masih punya kekuatan super Birdman, seperti telekinesis dan terbang. Itu pula yang dianggapnya jadi penyebab kecelakaan yang menimpa salah satu aktor utama pertunjukkannya. Riggan juga tak kuasa mengakui, hanya dengan menjadi Birdman-lah ia dipandang dan dielu-elukan orang. 

Dalam percakapan dengan mantan istrinya (Amy Ryan), terungkap bahwa Riggan punya sedikit gangguan kejiwaan, yang menjadi penyebab perceraian mereka. Melihat keadaan ini, semakin jelas bahwa yang dilakukan Riggan bukan sekadar memuaskan ego untuk lepas dari bayang-bayang Birdman dalam hal karier, tetapi juga caranya untuk meredam, bahkan mungkin lepas dari sosok Birdman, yang merupakan "kepribadian lain" yang masih bersarang dalam dirinya. Itu pula yang membuat Riggan ngamuk ketika orang-orang menganggap proyek ini tidak serius, sebab baginya ini masalah hidup dan matinya sebagai seniman dan sebagai manusia.

Film Birdman pada akhirnya adalah sebuah kisah yang murung, tak terlalu jauh berbeda dari yang pernah dipersembahkan González dalam film-film sebelumnya. Boleh saja ini dikatakan film komedi, ditunjukkan lewat karakter-karakter yang berwarna, dialog witty, dan berbagai sindiran tentang dunia showbiz—dari film-film Hollywood tanpa makna yang laku keras hingga berbagai jenis wartawan yang meliput dunia hiburan. Namun, kisahnya sendiri justru menunjukkan betapa menyedihkan kehidupan orang-orang di balik gemerlap panggung hiburan. Riggan jadi contoh ekstrem seseorang yang terbuai terlalu lama dalam ketenaran dan keangkuhan, dan saat mencoba bangkit lagi ia justru mendapat tantangan yang lebih berat.

Birdman boleh saja dikenal karena menampilkan kerja tata kamera, tata artistik, tata suara, visual effects, tata musik, tata adegan, dan parade akting yang dahsyat. Toh, itulah yang membuat film ini menarik dan menyenangkan saat ditonton. Namun, Birdman pada kenyataannya bukan film yang hanya mengandalkan keandalan teknis. Film ini menyelami sisi terdalam dari orang-orang di balik panggung pertunjukan, yang terkadang lucu dan tragis di waktu bersamaan.




My score: 8,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Minggu, 26 April 2015

[Movie] Wewe (2015)


Wewe
(2015 - Rapi Film)

Directed by Rizal Mantovani
Screenplay by Anto Nugroho, Bayu Abdinegoro
Story by Rizal Mantovani
Produced by Gope T. Samtani
Cast: Nabilah JKT48, Agus Kuncoro, Inong Nidya Ayu, Khadijah Banderas,Yafi Tesa Zahara, Dian Nova


Cukup menarik melihat dua sutradara Rizal Mantovani dan Jose Purnomo yang sebelumnya sukses bikin heboh lewat film Jelangkung, kemudian berpisah dan punya style sendiri-sendiri dalam menggarap horor, khususnya dalam hal visual. Kalau Jose itu lebih clean dan simple, Rizal memilih jalur yang lebih heboh dan lebih nunjukkin "nih horor nih". Well, itu sih kira-kira gw aja karena film horor Jose yang baru gw tonton cuma oo Nina Bobo dan Rizal yang baru gw tonton cuma Wewe ini. Tapi ya sudahlah.

I'll keep this short. Film Wewe ini punya visual yang oke, baik dari artistik, kamera, make-up, sampai efek visual, mengingatkan gw sama video klip buatan Rizal di late 90's-early 2000's semisal AB Three yang "Nyanyian Cintamu". Yah, walaupun itu agak gugur sama inkonsistensi dari tampilan bagian depan rumah mereka yang beda antara shot dekat dan shot jauh =p. Film ini juga berhasil memunculkan beberapa momen jump-scare, sebuah syarat minimal film horor zaman sekarang.

Cuma, karena gw bukan pecinta horor cukup disenangkan dengan kaget-kagetan dan serem-sereman, gw nggak ngerti cerita film ini apa maunya. Konsep wewe gombel begitu samar, nggak jelas rule-nya, dan diceritakan lewat sebuah "buku cerita" yang tulisan sama VO-nya nggak sinkron *ha!*. Gw ngerti sih ketika si makhluk ini "terlepas" karena ortunya berantem, tapi gw nggak ngerti sama adegan-adegan setannya ngikut orang ke luar rumah itu apanya si wewe, anak yang diambil ada yang balik ada yang enggak, juga "alam gaib"-nya yang kurang rapih pengaturan urutan kejadiannya. Gw tahu, karena Nabilah juga terlihat bingung saat berakting di bagian itu, hehe. Dan orang kemasukan roh di tahun 2015 nyanyi "Lengser Wengi"? Seriously? Don't they update the song chart in there?

Anyway, Wewe paling nggak masih enak dipandang, konsep dasar soal kaitan Wewe dan orang tua yang tak memerhatikan anak juga masih baguslah. Dan film ini hoki bisa hire aktor bagus macam Agus Kuncoro dan Inong yang tampilnya juga nggak malu-maluin. Tapi, ya udah sih gitu aja.





My score: 6/10

Sabtu, 25 April 2015

[Movie] Filosofi Kopi (2015)


Filosofi Kopi
(2015 - Visinema Pictures)

Directed by Angga Dwimas Sasongko
Screenplay by Jenny Jusuf
Based on the short story by Dewi "Dee" Lestari
Produced by Anggia Kharisma, Handoko Hendroyono
Cast: Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Julie Estelle, Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer, Otig Pakis, Ronny P. Tjandra, Melissa Karim, Tara Basro, Joko Anwar, Baim Wong, Westny Dj


I think I'm outsmarted by this film. Entah mengapa, meskipun film ini tidak semembekas di hati seperti Cahaya dari Timur: Beta Maluku--film Angga Sasongko dan Chicco Jerikho sebelumnya, gw merasa film Filosofi Kopi ini lebih canggih. Canggihnya di mana? Well, canggih untuk meng-cater semua kepentingan dan keinginan menjadi satu tontonan yang enak dan menyenangkan. Contohnya, film ini memasang kopi Tora Bika di atas judul--kalau di event-event kampus itu artinya dia kasih sponsoran paling gede. Tapi, peran dari merek pemilik jingle asli "Kopi dapet minta"-nya mang Saswi Ini Talkshow ini cuma sebatas pasang produk di warung dan di iklan mobil yang lewat. Kayaknya gak ada adegan yang menunjukkan bahwa mereka minum kopi Tora Bika, karena filmnya sendiri tentang kopi jenis lain, bukan sachetan. Tapi, problem solved: klien dapat placement, tapi nggak ngrusak cerita. Angga might be one of the smartest filmmakers in the country right now.

Kepintaran yang lain adalah memilih Filosofi Kopi sebagai materi sumbernya. Selain karena nama pengarangnya hits banget, perlu diingat Filosofi Kopi adalah sebuah cerita pendek, yang berarti memberi ruang untuk bisa dikembangkan, yang berarti juga kalau ada tambahan-tambahan atau pergeseran dari cerita aslinya nggak akan terlalu menuai protes, toh ceritanya mungkin terlalu pendek untuk dibikin jadi feature film. Untungnya itu pun disertai dengan kemampuan meramu cerita dan menuturkan cerita yang baik. Lewat film ini, gw bisa melihat karakter-karakter utamanya secara utuh, dari sifat, latar belakang, pola pikir, gelagat, semua tersaji di sini dengan baik, tanpa terlalu bikin gw harus effort menebak-nebak, tidak juga terlalu memanjakan dengan deskripsi yang gampangan. Asiknya lagi, karakter-karakter ini dimainkan dengan sangat apik oleh pemerannya, terutama Chicco dan Rio. Sampai ke smallest gestures dan slightest speaking tone bisa mereka tampilkan dengan keren. Pemilihan pemeran pun menurut gw juga cerdas, dua orang ini bolehlah disebut idola (walau belum masif skalanya), tetapi juga memang aktor yang punya kemampuan bertanggung jawab.

Lalu kita sampai pada penuturan ceritanya yang menurut gw diam-diam brilian. Film ini dimulai asik banget, gimana exciting-nya punya usaha sendiri yang cool dan hip sesuai passion bareng sohib, lalu ditabrakkan pada realita bahwa coolness dan "hipsterism" nggak bisa buat bayar utang =p *makan tuh hipster*. Lalu masuklah plot device berupa tantangan berhadiah uang yang mampu mengatasi masalah mereka, yaitu bikin ramuan kopi terenak. Eh ditabrakkan lagi sama kedatangan seorang ahli kopi cuantik (Julie Estelle) yang menganggap kopi andalan mereka es-te-de, sehingga membuat kedua cowok ini penasaran mencari kopi terenak menurut si ahli tersebut. Pada satu titik gw merasa film ini trying too hard ketika menukikkan ritme penceritaan jadi agak melodrama, tapi langsung dibayar lunas ketika terungkap maksud dari ditampilkannya adegan-adegan itu. How do you make a brief trip that change your life? Film ini menunjukkan salah satu caranya, singkat tapi tidak sertamerta, dan dramatic turn seperti itu memang perlu untuk bikin penonton perhatian sama filmnya. Smart move. Dan satu lagi, meski film ini bisa saja melebar ke mana-mana membicarakan banyak topik, misalnya sisi kelam bisnis agraria kita, ia tetap memberi porsi dan posisi yang pas dan bersahaja, nggak sok tahu, sekalipun impact-nya tetap besar buat karakter dan ceritanya.

Ketika gw sempat merasa bahwa belokan dramatis yang diambil film ini agak sedikit too much, mungkin karena terlalu bertubi-tubi, gw sadar bahwa itu diperlukan untuk memperkuat gambaran dan motivasi karakter-karakternya. Seperti memastikan agar penonton tahu bahwa tindakan mereka selanjutnya harus dilakukan. I don't mind, karena itu bikin ceritanya lebih believable. I mean, ini film berangkat dari "pengangungan" kopi--sesuatu yang gw nggak ngerti karena gw nggak suka kopi. Di tangan filmmaker lain, materi yang bukan termasuk kebutuhan primer tersebut bisa saja ini selebay off-the-roof anime-anime kuliner Jepang macam Yoichi si Koki Cilik, atau jadi under-developed dan hambar macam Madre (which funny enough juga berdasarkan cerita pendek Dee). Contoh aja, quote-quote seperti "tergantung tangan yang bikin" dan "dibuat pake cinta" akan sangat terdengar lucu ketika dibicarakan dalam keseharian (karena itu memang mitos yang kita lumayan percaya tapi nggak yakin memang benar begitu, hehe), tapi begitu seamless ketika ditampilkan di film ini. Artinya, cara film ini untuk mengangkat itu semua dengan meyakinkan memang berhasil, paling nggak buat gw. Nggak sok cool, tapi nggak norak juga, formulanya tepat.

Kalo intip-intip media sosial, banyak yang langsung film ini lebih dari tentang kopi. Ada yang bilang tentang persahabatan, keluarga (ada tema father issues yang kental di sini), makna hidup, even cinta tanah air *what?*. Tapi buat gw, statement yang paling keras gw denger adalah "kompromi". Filmnya tentang kompromi yang harus dilakukan 2 sahabat/rekan bisnis untuk bisa maju, kompromi ego seorang (merasa) ahli untuk lihat dunia lebih luas dan dalam lagi, kompromi akan apa yang hip dan apa yang merakyat. Dan, yang paling kentara adalah kompromi para filmmaker untuk bisa membuat film yang mereka inginkan, tapi tetap bisa dapat modal dan bisa disukai penonton. Yang gw maksud disukai penonton merujuk pada unsur-unsur seperti background karakter sedih, percik-percik cinta, komedi, sampe ke "kata-kata quotable" yang tiba-tiba nempel di ujung film pun dalam rangka itu. Hebatnya kompromi itu menghasilkan sesuatu yang solid dan menyenangkan (hampir) semua pihak. Perpaduan yang pas antara apa yang perlu ditampilkan dan apa yang ingin dilihat oleh (sebagian besar) penonton, nggak berat ke salah satu, tapi juga nggak nanggung. I'm really impressed.





My score: 8/10

Rabu, 22 April 2015

[Movie] Tuyul: Part 1 (2015)


Tuyul: Part 1
(2015 - Renee Pictures)

Directed by Billy Christian
Written by Luvie Melati, Billy Christian, Gandhi Fernando
Produced by Gandhi Fernando, Laura Karina
Cast: Dinda Kanyadewi, Gandhi Fernando, Citra Prima, Ingrid Widjanarko, Karina Nadila, Dicky Topan, Dini Vitri


Film bergenre horor bisa dibuat dengan berbagai jenis cerita dan pendekatan. Namun, yang membuat sebuah film disebut "horor" pada prinsipnya adalah menimbulkan sensasi takut sesaat dalam penontonnya. Jika itu sudah dipenuhi, sekalipun dari segi konten ceritanya tidak istimewa, niscaya penontonnya (khususnya penggemar horor) akan tetap "terhibur". Kalaupun memang film tersebut punya muatan cerita yang kuat, tentunya bakal jadi nilai tambah. Untuk kasus film Tuyul: Part 1 garapan sutradara Billy Christian, setidaknya sudah mengarah ke nilai-nilai tersebut, meskipun mungkin tidak bisa disebut sukses besar.

Tuyul: Part 1 mengikuti Mia (Dinda Kanyadewi yang bermain simpatik) dan Daniel (Gandhi Fernando), pasangan muda yang sedang menantikan anak pertamanya lahir, pindah ke wilayah pegunungan demi proyek perkerjaan yang menjanjikan. Mereka pun pindah ke rumah mendiang ibu dari Mia, yang sudah lama tidak dikunjungi Mia sendiri. Sembari merawat kandungannya yang sudah besar, Mia kemudian mencoba menyesuaikan diri di rumah barunya yang indah namun misterius. Mia lebih banyak menghabiskan waktu sendiri di rumah, karena suaminya sibuk pergi bekerja di siang hari dan juga bekerja di loteng rumah di malam hari. Mia menyewa seorang pembantu rumah tangga yang tak kalah misterius, Bi Inah (Ingrid Widjanarko), namun itu pun tidak setiap hari.

Dalam kesendiriannya itu, Mia mengalami banyak hal-hal aneh. Mulai dari mendengar suara-suara, mainan anak kecil yang menggelinding, berpindahnya barang, juga bayangan-bayangan makhluk yang aneh dan mimpi-mimpi buruk. Di sisi lain, warga sekitar melaporkan banyak terjadi uang hilang secara misterius. Mia pun mencurigai semua itu berkaitan dengan tetangganya, Karina (Citra Prima), yang pernah dilihatnya melakukan ritual perdukunan. Namun, yang tidak Mia ketahui, pangkal dari peristiwa-peristiwa yang dialaminya bukan berasal dari luar rumahnya, ataupun di luar dirinya.

Menurut pengakuan para pembuat filmnya kepada media, Tuyul: Part 1 adalah sebuah upaya untuk mengangkat lagi "reputasi" sosok tuyul sebagai salah satu folklor asli Indonesia yang layak diperlakukan serius. Sebab, selama ini penggambaran dan penggunaan sosok tuyul di film-film maupun sinetron Indonesia nyaris tidak pernah menakutkan, bahkan tampak lucu karena tubuhnya seperti bayi. Modus operandi tuyul pun terdegradasi karena dianggap tidak sampai mengancam nyawa manusia, karena "hanya" mencuri uang. Oleh sebab itu, Tuyul: Part 1 ingin kembali melihat sosok tuyul tidak dengan sebelah mata lagi.

Niat tersebut pun terealisasi dengan baik dalam bangunan konsep dan cerita Tuyul: Part 1. Ini sudah bisa dilihat dari desain wujud tuyul yang tidak seperti bayi manusia, melainkan sesosok makhluk pendek kecil yang memang asing. Dari berbagai versi tentang tuyul, film ini kemudian mengambil angle tuyul bisa "dipelihara" untuk kepentingan manusia berdasarkan kesepakatan. Tentunya kesepakatan itu tidak ringan, sebab imbalan untuk makhluk gaib tidak pernah sesederhana pemikiran manusia. Semuanya itu untungnya bisa terjelaskan dengan baik tanpa harus dijelaskan secara terlalu verbal dan bertele-tele, bahkan cukup konsisten diterapkan dalam berbagai adegan.

Konsep tuyul tersebut ternyata bukan satu-satunya unsur yang ditekankan di Tuyul: Part 1. Film ini menggunakan pendekatan lebih melankolis, tentang seorang wanita dalam keadaan rentan—dalam hal ini sering sendirian di rumah dan tengah hamil besar, yang harus menyesuaikan diri di lingkungan baru, sekaligus menyingkap berbagai misteri di sekitarnya. Peralahan-lahan apa yang ada di sekitarnya bukan semakin mendukung, malahan semakin buruk, termasuk sikap suaminya yang jadi semakin uring-uringan.

Dalam film ini porsi kisah dramatis dari Mia bisa dikatakan lebih besar daripada soal tuyul itu sendiri. Ini bukan hal buruk, sebab apapun yang dialami Mia memang dipengaruhi dengan keberadaan si tuyul, sekalipun tuyulnya jarang terlihat—kebalikan dari film-film horor dengan hantu "doyan tampil" yang banyak dibuat di Indonesia. Justru unsur dramatis ini yang memberi nilai tambah dari Tuyul: Part 1. Sekalipun punya cap horor, film ini tidak cuma mau sibuk menakuti, melainkan juga peduli untuk menggali karakternya, serta menunjukkan secara mendetail kegelisahannya. Mungkin lajunya jadi cenderung lambat dan terseret, tapi sebagian besar adegan-adegannya memang tidak mubazir fungsinya.

Namun, di sisi lain, Tuyul: Part 1 justru kurang berani memaksimalkan unsur horornya. Meskipun setiap adegan sudah ditata untuk menimbulkan kengerian—dari gambar, pencahayaan, suara, musik, hingga gerak-gerik pemainnya, pada akhirnya kurang memberikan efek horor yang lunas. Contohnya, setiap kemunculan tuyul seakan sudah spoiled sebelum timbul kengerian, padahal musiknya sudah berkumandang se-"horor" mungkin. Atau juga hilangnya informasi tentang apa yang si tuyul lakukan terhadap sang majikan sampai-sampai sang majikan tak berdaya di bagian klimaks.

Meskipun sesekali sanggup memunculkan ketegangan atau thrill, film ini terkesan masih segan untuk menunjukkan kengerian yang lebih total di saat-saat yang paling diperlukan. Padahal itu yang dicari di film bercap horor. Kalaupun memang ingin menekankan "manusia lebih mengerikan dari makhluk gaib", seperti adegan perajaman Karina, horor itu tetap kurang muncul karena seakan masih malu-malu.

Pada akhirnya, Tuyul: Part 1 berhasil menyampaikan gagasan yang cukup kuat, dilengkapi juga dengan desain suara dan visual yang bagus, bahkan mungkin sangat bagus untuk film horor Indonesia yang kerap dipandang remeh. Pujian khusus harus diberikan pada tata artistik rumah yang tidak berusaha keras terlihat seram, namun tetap berhasil menimbulkan atmosfer seram pada saat diperlukan. Paling tidak, film ini tetap memikirkan cara untuk engage ke penonton lewat cerita dan karakter yang ditata logis. Hanya saja, film ini justru kurang sukses dalam menyajikan "horor" seperti yang diharapkan dari film seperti ini, sehingga membuatnya tidak semenghibur yang seharusnya.




My score: 6,5/10


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com


Selasa, 21 April 2015

[Movie] Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015)


Guru Bangsa: Tjokroaminoto
(2015 - Pic[k]lock Prictures/Yayasan Keluarga Besar HOS Tjokroaminoto/MSH Films)

Directed by Garin Nugroho
Screenplay by Erik Supit
Story by Garin Nugroho, Erik Supit, Sabrang Mowo Damar Panuluh, Ari Syarif, Kemal Pasha Hidayat
Produced by Christine Hakim, Dewi Umaya Rachman, Sabrang Mowo Damar Panuluh, Didi Petet, Nayaka Untara, Ari Syarif
Cast: Reza Rahadian, Putri Ayudya, Tanta Ginting, Ibnu Jamil, Deva Mahenra, Chelsea Islan, Christine Hakim, Sujiwo Tedjo, Maia Estianty, Alex Komang, Didi Petet, Egi Fedly, Alex Abbad, Ade Firman Hakim, Christoffer Nelwan, Jay Widjajanto, Gunawan Maryanto, Rendra Bagus Pamungkas, Arjan Onderdenwijngaard, Gerard Mosterd, Joanna Dudly


Film ini mengisahkan sosok Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, sesuatu yang mungkin bakal bermanfaat bagi kita yang cuma tahu nama itu sebagai nama jalan di kota-kota tempat tinggal kita. Dibesarkan di keluarga priyayi di Ponorogo, Jawa Timur, Tjokro (Reza Rahadian) telah lama menyaksikan ketidakadilan dan kekejaman yang menimpa kaum pribumi oleh para penguasa kolonial, dan umumnya para warga Belanda yang menduduki tanah Nusantara. Ia kemudian memulai gerakan kebangkitan rakyat pribumi menuntut keadilan dan kesejahteraan, yang dilakukannya lewat surat kabar yang dipimpinnya, juga mengepalai organisasi Sarekat Islam, yang menjadi wadah lahirnya pejuang-pejuang kebangsaan Indonesia generasi selanjutnya, di antaranya Agus Salim (Ibnu Jamil) dan Soekarno (Deva Mahenra).

Meski sudah melihat nama Garin Nugroho, deretan aktor cukup ternama, juga fakta bahwa ini biopic sejarah berdurasi 3 jam kurang 15 menit, gw tidak menyadari betapa besarnya film Guru Bangsa: Tjokroaminoto ini, setidaknya dari segi produksi. Gw tadinya cuma membayangkan seperti Soegija, yang menurut gw skala produksinya juga udah cukup gede, walau pemainnya lebih tidak terkenal. Untuk Tjokroaminoto, memang terlihat ada usaha untuk go bigger dan lebih komersil, dengan para pemainnya pun bukan nama-nama sembarangan. Namun, beberapa teaser trailer yang beredar ternyata tidak meng-spoiled skala film ini.

Oh how I have fallen in love with this production. Tata visualnya gilak men, gw seakan lupa bahwa Indonesia sanggup bikin desain produksi, kostum, make up, properti, dan casting yang detail.dan menyeluruh seperti yang ditunjukkan film ini (asal ada dananya, tentu saja). Tapi juaranya buat gw adalah sinematografi dari Ipung Rachmat Syaiful (he did the brilliant Kala and Rayya Cahaya di Atas Cahaya) yang bisa menangkap itu semua dengan sangat sangat cantik dan berdampak. Warna-warnanya, komposisinya, pergerakannya, astonishing-lah. Juga dipoles oleh visual effects yang paling seamless yang pernah gw lihat dalam film Indonesia (iya, ada visual effects-nya lho, dikira itu pelabuhan betulan?) yang membuktikan bahwa Tjoktoaminoto adalah film dengan produksi terhebat yang pernah ada di Indonesia. Tambahkan dengan akting para (cukup banyak) pemain yang bagus-bagus dan saling melengkapi--tak terkecuali pendatang baru Putri Ayudya sebagai istri Tjokro, Soeharsikin, rasa grand film ini pun semakin sempurna.

Tapi, ada satu hal yang bikin gw cukup heran, yaitu film.ini nggak se-aneh-aneh-Garin seperti yang gw kira. Yes, the story is actually cukup berstruktur jelas. Diawali masa Tjokro ditahan dan diinterogasi pihak kolonial karena dituduh mendalangi pemberontakan kaum buruh kebun di Garut, lalu kisah dimulai dengan bagaimana Tjokro sampai pada titik itu. Penuturannya memang tidak berkutat pada Tjokro, melainkan juga bagaimana pemikirannya yang dituangkan lewat surat kabar dan organisasi berhasil mendorong gerakan kebangsaan, yang menjangkau semua kelas sosial yang ada. Untuk itulah ada tokoh penjual dingklik (Gunawan Maryanto) dan Stella (Chelsea Islan) yang porsinya lumayan signifikan.

Yah, aneh-aneh-Garin-nya masih ada sih, terutama kesukaannya menampilkan adegan orang nyanyi yang sebenarnya nyambung banget sama cerita juga enggak, tapi justru jadi pelipur jenuh yang cukup segar. Filmnya hampir 3 jam cuy. Ada juga gw ngerasa penuturan filmnya cenderung lebih ingin menggambarkan dan membuat statement ketimbang menuturkan plot. Tapi, balik lagi ke alinea sebelumnya, paling nggak semua berada dalam lingkup memahami perjuangan Tjokro. Simbol-simbolnya masih (agak) mudah dibaca dan dimengerti, masih aneh tapi nggak seaneh itu.

Jika ada yang gw anggap kurang, itu adalah pilihan kata dalam dialog yang mungkin terlalu textbook, isinya kata-kata bijak semua, jadi believability *apa itu* yang udah dibangun oleh desain produksinya jadi terganggu sama dialog-dialognya. Gw bahkan nggak yakin makna "hijrah" yang terus diucapkan tokoh Tjokro sudah diterapkan dalam cerita filmnya atau tidak. Yah bisa aja itu disanggah dengan argumen bahwa film seperti ini nggak harus terlihat grounded dan sehari-hari asalkan maksudnya sampai. Tapi, well, jadinya gw kurang enjoy aja. But then again, bahwa sebenarnya yang mengganggu gw bukan lagi cara pak Garin bercerita dan menata adegan, itu adalah sebuah prestasi tersendiri *tinggi kali cakapmu nak*. Oh iya, gw juga terganggu sama main title-nya yang nyicil-nyicil makan waktu di awal film =p.

Di luar itu, sebenarnya ada satu poin yang bikin gw tetap "ada hati" sama film.ini, yaitu cara dalam memandang sosok Tjokro sebagai manusia. Betul, ia guru yang dihormati, tapi ia juga bisa galak sama anak-anaknya, dan yang terutama adalah gerakan yang ia mulai akhirnya terpecah-pecah karena murid-muridnya makin nggak mengerti jalan pikirannya, yang kemudian mencari jalan sendiri-sendiri dalam berjuang. I mean, wow, sebuah film yang diinisiasi oleh keluarga sang tokoh sendiri berani menampilkan adanya, bisa dibilang, satu bentuk kegagalan dari sang tokoh dalam memimpin dan mempertahankan organisasinya. That's kinda brave, and that's good. Filmnya jadi nggak cuma berdimensi tunggal, dan nggak terjebak pada pemujaan berlebihan terhadap satu sosok. Namun, yang pasti tetap menunjukkan hormat pada semangat perjuangannya untuk mempersatukan dan mengangkat harkat dan martabat bangsa ini.




My score: 7,5/10

Minggu, 19 April 2015

[Movie] Fast & Furious 7 (2015)


Fast & Furious 7
a.k.a. Furious 7
(2015 - Universal)

Directed by James Wan
Screenplay by Chris Morgan
Based on the characters created by Gary Scott Thompson
Produced by Neal H. Moritz, Vin Diesel, Michael Fottrell
Cast: Vin Diesel, Paul Walker, Michelle Rodriguez, Jordana Brewster, Dwayne Johnson, Jason Statham, Tyrese Gibson, Chris "Ludacris" Bridges, Kurt Russell, Djimon Honsou, Nathalie Emmanuel, Elsa Pataky, Tony Jaa, Ronda Rousey, Luke Evans, Sung Kang, Gal Gadot, Lucas Black, Shed "Bow Wow" Moss


Kebangkitan franchise film action kebut-kebutan Fast & Furious adalah sebuah fenomena menarik. Franchise ini seakan hampir kehilangan arah setelah dua sekuelnya, 2 Fast 2 Furious (2003) dan The Fast and the Furious: Tokyo Drift (2006)) tidak punya kesinambungan langsung dengan film pertamanya, The Fast and the Furious (2001) karena masalah di kontrak (dan honor) deretan pemainnya. Namun, franchise ini diberi napas baru lewat film keempat, Fast & Furious (2009), dan semakin meningkat di Fast Five (2011) dan Fast & Furious 6 (2013). Terbukti perolehan box office-nya yang semakin dahsyat. Itu juga yang membuat kehadiran Fast & Furious 7 tahun ini dirasa sangat wajar, sekalipun belum tentu benar-benar diperlukan.

Menumpas pemimpin geng asal London, Owen Shaw (Luke Evans) di Fast & Furious 6, rupanya masih menyisakan perkara bagi Dom dan kawan-kawan. Kakak Owen, Deckard Shaw (Jason Staham) hendak membalas dendam. Deckard bukan orang biasa, ia adalah orang berkeahlian khusus karena dulu sering disewa pemerintah Inggris untuk menuntaskan misi rahasia. Sementara itu, Dom dan Brian bertekad tidak mau lagi kehilangan kawan-kawannya, sehingga mau tidak mau mereka harus meladeni Deckard.

Seorang agen operasi rahasia pemerintah (Kurt Russell) menawarkan bantuan bagi Dom dan Brian dalam melawan Deckard. Namun, dengan syarat mereka harus membantu mengambil sebuah program peretasan komputer yang canggih dan berbahaya. Soalnya, program dan penciptanya ada di tangan teroris berbahaya, Jakande (Djimon Hounsou). Kini Dom, Brian, dan kawan-kawan mereka yang tersisa harus mengatasi dua problema ini, demi cita-cita kehidupan aman tenteram bagi mereka dan orang-orang yang mereka sayangi.

Sekadar mengingatkan, seri Fast & Furious berawal dari kisah tentang seorang agen FBI, Brian O'Conner (Paul Walker) menyusup ke sebuah geng mobil di Los Angeles yang dikepalai Dom Toretto (Vin Diesel), yang diduga terlibat dalam beberapa pembajakan—atau istilah kekiniannya, "pembegalan"—kendaraan niaga. Beberapa film kemudian, franchise ini menjadi kisah ala Mission: Impossible versi luar jalur hukum. Dom dan Brian beserta kawan-kawan sebagai satu tim menyelesaikan berbagai misi di berbagai tempat di dunia, umumnya yang berkaitan dengan kejahatan underworld, dan selalu terjadi di saat mereka berniat mundur dari dunia kekerasan. Apa pun itu, segalanya dibuat supaya bisa memfasilitasi adegan kebut-kebutan mobil-mobil cantik yang memacu adrenalin di tempat-tempat eksotik.

Dengan mengingat hal itu, akan sangat keliru bila menyaksikan Fast & Furious 7 dengan harapan akan ada inovasi, selain daripada adegan-adegan action-nya. Konten di Fast & Furious 7 hampir tidak ada bedanya dengan film-film sebelumnya. Yang diperlukan hanyalah perubahan formasi tokoh-tokohnya, tampilkan mobil-mobil keren baru, lokasi-lokasi baru, dan memunculkan tokoh antagonis yang baru—kebetulan kali ini ada dua orang. Terlihat nyata bahwa keberadaan dua tokoh antagonis sekaligus menyebabkan fokus cerita jadi terbelah dan berkepanjangan, serta keberadaan tokoh-tokoh yang baru jadi kurang menancap dan agak tersia-sia. Tetapi, itu semua jadi tidak relevan, sebab bukan itu yang dicari dari film ini.

Lalu apa yang dicari? Aksi kebut-kebutan dan pertarungan brutal yang membuat penonton terus terjaga selama filmnya diputar. Unsur-unsur tersebut disajikan dengan lezat di film ini, dengan laju yang cepat, gambar-gambar gemerlap, dan soundtrack menghentak. Apalagi di sini ada nama-nama besar seperti Diesel, Statham, Russell, Dwayne Johnson, hingga penampilan singkat dari petarung profesional Tony Jaa dan Ronda Rousey, yang identik dengan genre action. Mulai dari pertarungan satu lawan satu yang ditata rancak sampai adegan adu mobil—bahkan sampai terbang—yang masih ampuh dalam membangun excitement. Dan, untuk memuaskan penonton, adegan-adegan ini pun ditampilkan cukup panjang durasinya. Hal ini cukup impresif mengingat sutradara James Wan dahulu dikenal membuat film horor seperti Saw, Insidious, dan The Conjuring. Transisinya ke genre action terbukti cukup mulus.

Di sisi lain, Fast & Furious 7 memang punya satu nilai istimewa, yaitu salam perpisahan dari mendiang aktor Paul Walker. Walker meninggal dunia ketika sedang rehat syuting film ini, sehingga ia tidak menyelesaikan sebagian porsinya di sini, penyesuaian pun terpaksa dilakukan. Tampilan wajah Walker jauh lebih sedikit dari biasanya, sebagian hanya ditampilkan sekilas atau dari belakang saja, karena sebagian perannya diselesaikan oleh saudara-saudaranya, Cody dan Caleb Walker, yang wajahnya ditimpa dengan animasi CGI. Cerita film ini juga akhirnya dimodifikasi dengan mengarahkan tokoh Brian akan pensiun, setelah sekian tahun beraksi bersama Dom yang jadi sahabat dan saudaranya. Paling tidak, ini bakal jadi kenangan yang baik bagi para pengikut franchise ini, dan penggemar Walker.

Sekali lagi, keunggulan sekaligus kesalahan dari Fast & Furious 7 adalah menyajikan apa yang penonton ingin saksikan setelah membeli tiket di bioskop. Ceritanya mungkin hanya berputar-putar di situ saja, ditambah prinsip-prinsip sains yang diabaikan dan juga klimaks serba kebetulan. Tetapi, yang penting itu semua bisa menampilkan aksi-aksi seru yang memancing decak kagum dan hiburan sesaat. Tidak ada yang salah dengan itu, toh memang itu maksud dan tujuannya sedari awal.





My score: 7/10


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

NB: Adegan fight Michelle Rodriguez vs Ronda Rousey & tentara berjilbab dan mobil "nyebrang gedung" itu emang paling wahid dah.

[Movie] The Divergent Series: Insurgent (2015)


The Divergent Series: Insurgent
(2015 - Summit/Lionsgate)

Directed by Robert Schwentke
Screenplay by Brian Duffield, Akiva Goldsman, Mark Bomback
Based on the novel "Insurgent" by Veronica Roth
Produced by Douglas Wick, Lucy Fisher, Pouya Shahbazian
Cast: Shailene Woodley, Theo James, Ansel Elgort, Miles Teller, Kate Winslet, Jai Courtney, Mekhi Phifer, Zoë Kravitz, Naomi Watts, Octavia Spencer, Ray Stevenson, Daniel Dae Kim, Ashley Judd, Maggie Q, Janet McTeer, Keiynan Lonsdale, Suki Waterhouse, Jonny Weston


Walau sebenarnya seri Divergent itu bukan salah satu yang gw nanti-nantikan banget, ada semacam panggilan untuk tetap menonton film keduanya, Insurgent ini. Mungkin karena film pertamanya cukup menghibur dan menarik sekalipun ceritanya masih agak menye-menye. Gw pun sebenarnya masih agak bawahestimasi (berusaha cari padanan underestimate =p) bahwa Insurgent mungkin bakal lebih lame dari pendahulunya, maksud gw apa lagi yang mau diceritain? Etapi nggak tuh.

Insurgent adalah sebuah kelanjutan yang baik dari Divergent. Film pertama berhasil memikat gw dengan tatanan dunia masa depannya--tentang lima golongan utama, orang-orang di luar golongan, dan juga orang-orang yang mampu berada di semua golongan atau disebut Divergent. Modal itu rupanya tidak basi ketika gw menyaksikan Insurgent. Di seri kedua ini akhirnya memang lebih banyak berfokus pada action dan sci-fi-nya, termasuk dari tujuan utama membuka sebuah artefak tua tentang rahasia masa lalu dan masa depan kota Chicago masa depan itu yang bisa dibuka dengan melakukan ujian lima level ibarat video game virtual reality.

Itu juga berarti film ini mulai mengurangi romance gampangan dari seri pertama antara Tris (Shailene Woodley) dan Four (Theo James), dan lebih berkonsentrasi pada upaya mereka mengumpulkan sumber daya untuk melawan kelaliman kaum Erudite yang secara semena-mena menguasai pemeritahan setelah memperalat kaum Dauntless untuk menghabisi kaum Abnegation. Ada semacam kucing-kucingan, sekaligus petualangan melewati wilayah-wilayah kekuasaan tiap golongan demi menggalang kekuatan. Dan rupanya gambaran Chicago masa depan di seri ini bisa lebih dieksplor lagi di film yang kedua, termasuk the ghetto dari para factionless. Jadi tetap ada hal baru yang bisa dilihat.

Insurgent ini enak dinikmati karena visual yang oke (desain produksi maupun visual effects-nya) dan penuturan yang lajunya pas, ringkas, dan nggak susah dimengerti. Ditambah lagi bidang casting yang menarik. Bisa dibilang seri ini lebih rame dari film pertama, tapi nggak serta merta lebih gegabah. It's funny bahwa perubahan sutradara, arah cerita, dan perlakuan di sekuel Divergent ini nggak menimbulkan perasaan kehilangan seperti yang gw rasakan terjadi pada sekuel The Hunger Games dulu. Mungkin karena Divergent pertamam menurut gw nggak segitu bagusnya, sehingga ketika masuk ke film kedua yang ternyata agak lebih berwarna, gw enjoy aja (fyi, buat gw Catching Fire nggak bisa menyamai The Hunger Games dari segi tema dan drama yang lebih nohok).

Tapi mungkin buat gw yang bikin Insurgent tidak segitunya melebihi film pertamanya adalah orisinalitas ceritanya. Sama seperti Divergent, yang diutarakan di Insurgent itu been there done that lah, terutama kalau udah sering nonton sci-fi tentang utopia atau distopia dan sebagainya. Filmnya juga nggak menambah bobot emosional yang gimana gitu, sekalipun si Tris udah dikasih semacam rasa bersalah yang menghantuinya, rasa bersalah yang gw sendiri lupa gimana asal muasalnya hahaha. Cuma ya emang lebih seru sih, can't deny that. Jadi ceritanya itu gw anggap sebagai perekat aja buat adegan-adegan fantastisnya. 




My score: 7/10

Sabtu, 18 April 2015

[Movie] Ada Surga di Rumahmu (2015)


Ada Surga di Rumahmu
(2015 - Mizan Productions/Nava Productions)

Directed by Aditya Gumay
Screenplay by Oka Aurora
Inspired by the book by Ustaz Ahmad Al-Habsyi
Produced by Avesina Soebli, Nadjmi Zen
Cast: Husein Alatas, Nina Septiani, Zee Zee Shahab, Elma Theana, Khairul Budi, Raihan Khan, Ahmad Al-Habsyi, Qya Gus Ditra, Hendra Wirajaya, Diza Rafengga, Nyayu Nurjannah


Ada Surga di Rumahmu adalah film yang terinspirasi dari pengalaman salah seorang ustaz yang sering muncul di TV, Ustaz Al-Habsy. Tetapi instead of biografi, film ini lebih berfokus pada perjalanan seorang pemuda hingga akhirnya jadi seorang ustaz sebagaimana harapan orang tuanya. Dan perjalanan itu mencakup nyoba-nyoba jadi artis dan memilih antara dua wanita yang mencintainya.

Well, obviously gw bukan target penonton film ini. Masalahnya bukan karena filmnya agamawi dan penuh dengan petuah-petuah bijak dan pemain perempuannya berhijab semua (no kidding, all of them are), tetapi lebih kepada pengemasan dan penyampaiannya. Entah bagaimana ketahuan sekali bahwa film ini dibuat dengan "cara lama", menyampaikan kisahnya dengan serba verbal dan stereotipikal (teman tim hore, ibu tajir judes, pelanggan jahit marah-marah, dua cewek rival cinta dengan yang satu sudah dijodohkan dengan orang kaya sombong dan satu lagi memendam perasaan dan bisanya nangis, petugas pendaftaran casting yang sok cuek dan sok ngusir. Is this 2015?). Gw bahkan baru sadar kalau film ini sebenarnya mau menyampaikan tentang hubungan kasih sayang orang tua dan anak baru benar-benar di ujung, itu pun karena diujarkan.

Gw ngerti niat dan tujuan film ini untuk mengajarkan hal yang baik. Materinya juga sebenarnya baik, cukup menghibur malah, nggak ada yang salah di segi ini, paling nggak ini bukan roman picisan. Karakterisasinya dibangun cukup baik dan dimainkan dengan...well...fine-lah. Ketimbang menciptakan tokoh-tokoh serba sempurna, film ini masih mau menunjukkan sedikit sisi jeleknya, kayak kenakalan masa-masa di pesantren dan sebagainya. Cuma, sekali lagi, kemasannya itu lho yang benar-benar "tradisional", pengadeganannya, blocking-nya, dan beberapa jokes-nya pun masih terkesan sinetron banget (walau bukan dalam arti sejelek itu), yang tampaknya saja emosional tapi tidak berasa. Gw bahkan sampai geleng-geleng tertawa sama adegan pengajian yang diganggu preman mabok, saking "sederhana"-nya. Seolah-olah pembuat filmnya tidak tahu cara lain yang lebih baik dalam menyampaikan cerita ini.

Entahlah, gw sih merasa materi ini bisa dikemas dengan lebih menarik dan lebih nendang lagi. Hasil akhir film ini terlalu naif, dan bikin gw mempertanyakan kenapa gw harus nonton ini di bioskop dengan bayar tiket--well kecuali beberapa shot dari kameranya yang lumayan. Okelah kalau memang secara production value dan pengadeganannya memang nggak fancy, tapi setidaknya benang merah ceritanya diperjelaslah, apa sebenarnya yang mau ditekankan dari cerita ini, instead of menjejali adegan-adegan yang kesinambungannya diragukan dan berbagai-bagai petuah yang juga nggak diterapkan oleh tokoh-tokohnya dalam cerita. Mungkin ada orang yang nonton film cari petuah sehingga apa pun kata-kata bagus yang diucapkan (dan dituliskan. Serius, ada yang ditulis) akan diterima dengan baik, sehingga kesan dari film ini jadi baik. Sementara, bukan begitu cara gw untuk menikmati sebuah film sekaligus terinspirasi darinya. Maaf.




My score: 6/10

Minggu, 12 April 2015

[Movie] Kampung Zombie (2015)


Kampung Zombie
(2015 - Movie Eight/Rumah Satu Film/Popcorn Film)

Directed by Billy Christian, Helfi Kardit
Written by Baskoro Adi
Produced by Ody Mulya Hidayat
Cast: Luthya Sury, El Jalaluddin Rumi, Kia Poetri, Axel Matthew Thomas, Ali Mensan


Kampung Zombie adalah sebuah produk yang simpel sekali. Film ini tidak punya layer lain selain menakuti penonton dengan teror zombie. Ada sekelompok orang muda nahas yang harus terjebak di sebuah tempat penuh kengerian lalu tinggal tebak siapa yang mati dan siapa yang lolos. Mungkin karena ini semacam proyek coba-coba, jadi belum berani menaruh teror zombie-zombie-an dalam situasi yang lain.

So, dengan dasar itu, sebenarnya film ini sudah di jalan yang benar, yaitu rangkaian adegan orang-orang menghindari atau (kalau berani) membasmi zombie, semakin terancam akan semakin seru. Tinggal tambahkan zombie-zombienya seperti apa, orang-orangnya seperti apa, dan pengadeganan yang turut meneror penonton. Untuk poin pertama, film ini sudah punya konsep yang menarik tentang zombienya. Prinsip zombie 'kan kebalikan dari hantu: kalau hantu itu jiwa tanpa tubuh, maka zombie itu tubuh tanpa jiwa. Jadi sangat menarik buat gw ketika film ini coba menciptakan zombie-zombie yang terjebak oleh kesehariannya saat masih "punya jiwa", tapi sekarang ditambah dengan makan orang. 

Poin kedua juga udah lumayan, lumayan klise maksudnya hahaha. Ada tokoh yang lawak, ada yang cool, ada yang tough, ada yang spoiled, ada yang the other cool but doomed *oops*, dan saling terhubung dengan naksir-naksiran dan segala macam. Tapi ya sayangnya bagian ini juga kurang maksimal, mulai dari porsi dan pengadeganannya yang cukup kaku, juga aktingnya yang cukup seadanya saja (kecuali Ali Mensan yang seperti paling niat berakting). Tapi ya okelah, melihat mereka panik atau ketakutan di dekat zombie juga udah cukup kok.

Nah, kita masuk ke poin tiga, yang jadi permasalaan utama gue untuk sebuah film berlabel horor. Eksekusi kehororan film ini sangat loyo, bahkan nggak bikin gw yang penakut dan nggak suka horor ini bergidik, boro-boro terteror. Semua terasa safe dan soft, apalagi untuk konsumsi di bioskop. Film ini sangat minim darah, bahkan adegan tubuh ditusuk pun nggak diperlihatkan jelas. Gw akan memaklumi kalau filmnya ini buatan mahasiswa atau untuk konsumsi TV, tapi untuk bioskop, gw rasa pembuat filmnya belum benar-benar "lepas" untuk merancang teror yang lebih nendang. Ya untunglah ada beberapa adegan kagetan yang lumayan bisa bikin tetap terjaga.

Tapi, harus diakui juga eksekusi keseluruhannya emang cukup lemah, padahal harusnya bisa lebih baik, gw sih bisa lihat itu. Dengan konsep yang cukup punya bentuk, hasil akhirnya justru semacam kehilangan bentuk. Bahkan zombienya ini sensitif sama apa tidak diperlihatkan jelas--apakah nyamperin manusia karena melihat, membau, atau karena suara, atau mencium kebodohan mereka, anything works as long as it is explained and consistent. Dan, tentu saja mengapa mereka memilih satu orang untuk diritualkan jadi zombie juga kita nggak bakal tahu. 

There's quite a lot confussion to me here, entah itu pengaruh sutradaranya ada dua tapi nggak kerja sama (katanya ada bagian filmnya yang di-take-over karena produser nggak puas), atau editingnya, atau skripnya, atau ya sesimpel filmnya terlalu dini untuk dirilis sehingga nggak punya waktu untuk quality control (dubbingnya kacau). Yang pasti untuk sebuah film yang katanya film horor zombie pertama di Indonesia, dan juga punya konsep cerita dan visual yang sebenarnya punya potensi untuk jadi bagus, hasilnya ternyata nggak maksimal. Tapi, untuk menghadirkan sesuatu yang beda di tengah-tengah film-film horor kita yang cuma mentok di rumah hantu, dan juga karena dirancang nggak asal-asalan, gw kasih poin tambahan deh buat film ini.




My score: 6/10

[Movie] Chappie (2015)


Chappie
(2015 - Columbia)

Directed by Neill Blomkamp
Written by Neill Blomkamp, Terri Tatchell
Produced by Simon Kinberg, Neill Blomkamp
Cast: Sharlto Copley, Dev Patel, Hugh Jackman, Ninja, Yo-Landi Visser, Jose Pablo Cantillo, Sigourney Weaver, Brandon Auret


Gw dengar respons yang kurang baik terhadap film ini sebelum akhirnya gw nonton. Gw tetap memutuskan nonton karena gw punya kesan baik sama dua filmnya Neill Blomkamp sebelumnya, District 9 dan Elysium (Iya. Elysium juga). Chappie is kinda weird even from the concept, tentang robot dengan nama sok imoetz yang punya perasaan hidup di tengah kerasnya dunia yang tidak mengerti dirinya, terdengar sangat Spielberg-ian. Tapi karena ini buatan Blomkamp, jadi sudah pasti ada yang namanya metafora tentang kesenjangan sosial. Eh, ternyata bener.

Jadi di sebuah dunia--well, Johannesburg, Afrika Selatan tepatnya--ketika sudah diperbolehkan robot untuk dipakai untuk hal-hal menyangkut pertahanan dan keamanan, seorang inventor muda nekad membuat sebuah robot yang bisa punya kesadaran dan artificial intelligence, sehingga jadi berpikir dan bertindak layaknya manusia, bahkan mungkin lebih cerdas dari manusia karena lebih cepat belajar. Sayangnya, mengingat kesenjangan sosial dan banyaknya preman, si robot ini dicuri/diculik oleh sekelompok preman kecil-kecilan biar bisa bantu mereka ngerampok demi bayar utang ke preman lain. Mereka kemudian menamainya Chappie (mungkin kalo di Indonesia ekivalen dengan "Dede") dan merawatnya layaknya anak sendiri, diajarin dari berbahasa sampe ngerampok =p. Tetapi, Chappie pun semakin mempertanyakan tentang keberadaannya di dunia ini dan pada satu titik ia menemukan hidayah dan bertaubat terjebak dalam berbagai konflik antargeng dan sebagainya.

Menurut gw, meskipun ceritanya di atas kertas itu baik, dan agak provoking tentang "kenapa ciptakan saya untuk kemudian mati", atau tentang robot yang gerak sendiri gantiin manusia vs dan alat yang tetap dalam kendali penuh manusia. Konsep visualnya pun cukup oke, Blomkamp sekali lagi blew my mind dengan visual effects/animasi CGI untuk robot-robotannya yang sangat sangat tangible dan hidup. Tapi ketika film ini memunculkan unsur-unsur premannya, buset dah, kagak enak banget dilihatnya. Mau coba-coba jadi gangstas style, tapi dengan aksen membingungkan dan musik hiphop yang luar biasa annoying, bener-bener bikin nggak nyaman nontonnya, apalagi porsinya nggak sedikit. Dan ketika filmnya mau coba ke ranah emosional, jadinya kurang nancep ke gw, kurang lebih karena kepremanan film ini nggak bikin simpati *alasan yang aneh, I know*.

Tapi perlu diakui porsi action serta set-up karakternya cukup oke dan efektif untuk membangun konflik-konfliknya, jadi bukannya nggak penting juga. Mungkin penyelesaiannya akan sedikit mengernyitkan dahi karena sangat bersifat anime (hint, Ghost in the Shell atau Fullmetal Alchemist, hehe), tapi yang nggak membingungkan amat, karena itu adalah bentuk perkembangan dari si Chappie itu sendiri. Masih cukup menghibur untuk ditonton, tapi yang ganggu juga lumayan banyak. Kalo dibanding District 9 mah jauh.




My score: 6,5/10


[Movie] Kidnapping Freddy Heineken (2015)


Kidnapping Freddy Heineken
a.k.a. Kidnapping Mr. Heineken
(2015 - Informant/Global Film Partners/Embankment Films)

Directed by Daniel Alfredson
Screenplay by William Brookfield
Based on the book "The Kidnapping of Alfred Heineken" by Peter R. de Vries
Produced by Judy Cairo, Howard Meltzer, Michael A. Simpson
Cast: Jim Sturgess, Sam Worthington, Ryan Kwanten, Mark van Eeuwen, Anthony Hopkins, Jemima West, Thomas Cocquerel, David Dencik


Gw tahu pasti ada beberapa orang yang males ketika tahu film berlatar dan bertokoh di negara Belanda ini jadi berbahasa Inggris—karena produksi patungan Eropa untuk konsumsi internasional. Tapi ada juga orang yang nggak peduli. Sementara gw sih antara peduli nggak peduli, asalkan konsisten aja. Nggak kayak 99 Cahaya apalah itu. Anyway, all I’m saying is, bahasa bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah di film Kidnapping Freddy Heineken ini...karena masalahnya ada di bidang lain =P. 

Sesuai judulnya, film ini berkaitan dengan penculikan seorang pendiri perusahaan bir terkenal yang logonya dicontek bir Bintang. Ini emang bener kejadian, dicatat sebagai penculikan dengan tuntutan tebusan terbesar saat itu, apalagi sosok yang diculik cukup high profile (plus sopirnya). Film ini sendiri mencoba rekonstruksi penculikan dari sisi pelakunya, mulai dari latar belakang, motivasi, eksekusi, hingga yang terjadi setelahnya. Cerita ini sangat-sangat menarik, deretan pemainnya juga sebenarnya menarik, apalagi ada Anthony Hopkins yang dijamin akan tetap oke sekalipun tampil santai sesantai bikin Pop Mie. 

Tapi buat gw daya tariknya hanya berhenti di situ, karena sisanya kayak nggak bisa gw nikmati, khususnya dari segi penyampaian. Somehow, karena di dalamnya ada unsur heist dan action, film ini seakan berusaha keras agar filmnya bisa seseru film-film sejenis asal Hollywood. Sayangnya, itu diterjemahkan hanya dengan kamera gerak terlalu cepat dan editing tergesa-gesa, tanpa engagement. Gambarnya pun menurut gw nggak enak dilihat karena kebanyakan gelap dan dipasir-pasirin tapi artifisial. Emangnya krupuk goreng pasir.

Sayang sih, materi sebagus ini ternyata hasilnya kurang nendang dan bahkan kurang enjoyable. Ketika harusnya kita simpati sama karakternya pun nggak bisa, karena ngeliatnya aja udah nggak nyaman. Lihat muka datar Worthington dan muka nelangsa Sturgess lama-lama mbonsenin juga. Untunglah sebagai penyeimbang ada Hopkins dan si aktor Belanda, Mark van Eeuwen yang agak lebih baik. Ya begitulah. Setidaknya ada pengetahuan yang bisa gw dapet, orang Belanda ada yang susah juga ternyata =p.




My score: 5,5/10

[Movie] 20 Once Again (2015)


重返20岁 (Chóng fǎn èrshí suì)
20 Once Again
(2015 - CJ Entertainment/Media Asia Films)

Directed by Leste Chen
Screenplay by Shin Dong-ick, Hong Yoon-jeong, Dong Hee-sun, Hwang Dong-hyeuk
Chinese adaptation by Lin Xiaoge, Ren Peng
Produced by Tina Shi, Roy Hu
Cast: Yang Zishan, Grace Guei, Wilson Chen Bolin, Lu Han, Yang Deshun, Zhao Lixin, Li Yijuan, Yin Hang



Film 20 Once Again adalah versi China dari film Korea, Miss Granny. Bukan semata-mata remake, emang konon mereka (si CJ Entertainment-nya) bikinnya satu cerita dibuat di dua negara sekaligus, tapi akhirnya yang Korea yang muncul duluan. So yeah, pada dasarnya ceritanya sama, seorang nenek cerewet secara ajaib fisiknya berubah jadi usia 20-an, cuma mungkin konteks budayanya agak beda. Gw sendiri belum nonton Miss Granny, jadi gw nggak bisa bandingin, tapi ya gw coba aja menilai dari film yang ini aja.

Buat gw 20 Once Again itu tontonan yang cukup oke. Banyak kelucuan-kelucuan universal yang muncul di sana-sini, ada musik-musik yang lumayan, yang jadi nenek versi mudanya cakep, yang jadi nenek versi neneknya mirip Jessica Lange, ada awkwardness tentang si nenek yang ditaksir para pemuda termasuk cucunya sendiri, dan juga menyinggung rerun sinetron Putri Huan Zhu (untunglah sinetron itu terkenal di Indonesia, kalo nggak ya jadi kurang lucu) (tapi mungkin akan lebih lucu kalo yang nonton emang lebih tua dan tahu siapa itu Teresa Teng) (kalo aku kan masih belia jadi nggak tau sama sekali) (=p). Ceritanya juga belakangan cukup mengharukan, terutama yang berhubungan dengan keluarga.

Tapi kalau buat gw, ada dua problem yang bikin gw nggak terlalu merasa film ini sampai bagus banget. Yang pertama adalah babak perkenalannya yang puanjang dan cukup melelahkan, seakan-akan susah banget untuk menunjukkan sifat-sifat slebor dan ngeselin dari si nenek. Walaupun itu semua paid-off di bagian-bagian cerita selanjutnya, tapi ya gw harus mengeluarkan jurus kesabaran ekstra untuk melewati babak ini sampai akhirnya si nenek jadi muda dan plot bergulir dari sana. Yang kedua adalah canggungnya gw melihat dari dunia yang ditampilkan di sini. Mungkin ada semacam pengaruh Korea di sana, tapi emang mungkin gw belum terbiasa dengan imaji bahwa kehidupan kontemporer di RRC sekarang se-luxurious itu. Rumah anaknya si nenek itu kayak baru dibikin banget jadi kayak kurang natural. Cuma itu ya dari gwnya aja sih.

Secara keseluruhan film ini juga masih menghibur dan nggak rugi-rugi amat ditonton, walaupun mungkin nggak seemosional film-film Korea. Gw juga lumayan bisa menangkap "budaya dan kearifan lokal"-nya =p, mulai dari community centre untuk lansia—tempat nyanyi-nyanyi dan main mahjong, kebanggaan terhadap anak yang sukses secara di sana punya anak rata-rata cuma bisa satu, kontras rock festival ingar bingar dengan pedesaan, things like that. Salah satu yang jadi highlight buat gw adalah bagaimana Yang Zishang bisa tampak cantik meski pakai baju-baju cheongsam yang direpresentasikan sebagai busana zaman nenek lo.




My score: 7/10


Minggu, 05 April 2015

[Movie] The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water (2015)


The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water
(2015 - Paramount/Nickelodeon Movies)

Directed by Paul Tibbit, Mike Mitchell
Screenplay by Jonathan Aibel, Glenn Berger
Story by Stephen Hillenburg, Paul Tibbit
Based on the series "SpongeBob SquarePants" created by Stephen Hillenburg
Produced by Paul Tibbit, Mary Parent
Cast: Tom Kenny, Antonio Banderas, Bill Fagerbakke, Mr, Lawrence, Clancy Brown, Carolyn Lawrence


SpongeBob adalah perlambang dari segala keanehan yang bisa ditampung dalam sebuah kreasi kartun, tapi jatuhnya tetap lucu. I mean, konsep si SpongeBob aja uda aneh banget, dia harusnya spesies porifera tapi bentuknya malah kayak spons Scotch yang buat nyuci piring. Gw cukup jarang nonton kartunnya, tapi dari beberapa kali nonton gw udah cukup familiar sama tokoh-tokohnya dan gag masing-masing--Patrick yang ultra-oon, Squidward yang sinis, Mr Krab mata duitan, Sandy yang lincah, Plankton yang cerdas tapi sial terus, juga Gary si siput mengeong *geleng-geleng*. Yang gw nggak terlalu sangka adalah para kreatornya ternyata masih punya amunisi untuk nampilin gags dari tokoh-tokoh ini untuk konsumsi layar lebar.

The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water berkisah tentang seorang "bajak laut" bernama Burger Beard (Antonio Banderas) yang mencuri resep rahasia dari burger terkenal di kota bawah laut Bikini Bottom, Krabby Patty. Restoran Krusty Krab pun panik, karena tidak bisa lagi membuat Krabby Patty--berhubung si selalu-ceria SpongeBob sebagai tukang masaknya tidak menghapalnya karena, err, setia *wth*, maka timbul kekacauan di Bikini Bottom yang jadi brutal layaknya chaos di film-film dystopian future lengkap dengan penduduk bakar ban dan pakaian nge-punk *ngakak dulu sebentar*. SpongeBob dkk, termasuk si rival utama Mr. Krab, Plankton harus merebut kembali resep Krabby Patty, sekalipun itu harus naik ke daratan.

Seperti film pertamanya, The SpongeBob SquarePants Movie di tahun 2004, film ini kembali menggunakan resep Krabby Patty sebagai penggerak plot (dan usaha Plankton untuk mencurinya). Cuma mungkin bedanya film ini lebih banyak memasukkan unsur parodi, plus menambahkan adegan "live action" yang lebih banyak, sekitar 30 persen. Honestly, I laugh my ass off gara-gara gags yang ditampilkan di sini, mulai dari "perang perkenalan" Plankton vs Krab, sampai parodi-parodi yang menyentuh tema post-apocalypse, si Sandy jadi ilmuwan gila yang suka ngomong sendiri kayak di film-film sci-fi, time travel, long journey ala The Lord of the Rings, aksi superhero, bahkan T-Rex. Yang gw suka adalah, meskipun humor dan gags-nya itu seperti kacau-kacauan dan bodoh-bodohan, tetap ada kecerdasan di baliknya, because that makes a good parody.

Buat gw SpongeBob Movie yang ini adalah sebuah hiburan yang mungkin memang gw butuhkan akhir-akhir ini. Dan bagusnya film ini dibuat dengan value yang sangat baik dan rapih. Ada perkenalan kembali karakter-karakternya yang pas sehingga penonton newbie pun nggak akan terlalu bertanya-tanya, timing humor yang oke, jenis humor yang cukup komplet dan cerdas (tetep ada slapstick-nya kok, jadi anak-anak masih bisa nikmati), animasinya bagus, dan yang terpenting--dan terlucu--adalah film ini tidak merusak kisah-kisah keseharian SpongeBob yang sudah dan akan tayang di TV, dan caranya ngehek banget sih. Sayangnya buat gw, adegan "live action" yang jadi klimaksnya agak terlalu formulaic dan tidak selucu menit-menit sebelumnya ketika masih animasi 2D, tapi memang cukup seru dan menggelegar, jadi ya sudahlah. Well, mungkin butuh belasan tahun untuk bisa bikin film sebesar ini untuk tokoh SpongeBob dkk, dengan humor dan cerita yang gila tapi nggak kelepasan dan nggak melelahkan. 




My score: 7/10

[Movie] Shaun the Sheep Movie (2015)


Shaun the Sheep Movie
(2015 - StudioCanal/Aardman Animation)

Written & Directed by Mark Burton, Richard Starzak
Produced by Julie Lockhart, Paul Kewley
Cast: Justin Fletcher, John Sparkes, Omid Djalili


Shaun the Sheep Movie mungkin adalah treatment terbaik dari sebuah acara TV populer yang masih on-going. Prinsipnya sih ini just another adventure of Shaun and the gang, sebagaimana setiap episode Shaun the Sheep di TV, tetapi dibuat lebih panjang dan lebih besar skalanya. Of course, akan sangat masuk akal jika maksud dan tujuan itu diwujudkan dengan petualangan ke kota besar.

Jadi ceritanya Shaun dkk udah jenuh sama keseharian mereka di peternakan, sehingga suatu hari mereka ingin mengerjai si Peternak dengan membuatnya tidur lebih cepat di sebuah karavan. Sayangnya, mereka tak mengantisipasi bahwa karavan itu bisa bergerak, sehingga sebuah kecelakaan menyebabkan Peternak meluncur sampai ke Big City, dan kena amnesia. Shaun harus bertanggungjawab mencari sang Peternak, tetapi di kota ada seorang penangkap hewan liar yang akan dengan senang hati meringkus hewan-hewan yang bekeliaran di jalan.

Gw sebenarnya bukan penggemar Shaun the Sheep yang gimana gitu, cuma gw emang selalu menikmati ketika kebetulan nonton acaranya di TV. Rasanya pengen memuji banget humor yang disampaikan--yang gayanya antara cerdas banget dan nggak penting =D--yang emang bikin cengar-cengir, dan bagaimana itu bisa disampaikan tanpa dialog. Semua itu perfectly dipertahankan di versi movie-nya, sekalipun kisahnya lebih panjang. Itu prestasi lho. Filmmaker-nya pun bisa cukup memberi value lebih. Bukan hanya dengan visual yang lebih kaya (lebih banyak animasinya karena di perkotaan banyak orang), dan sebuah kisah kejar-kejaran yang slapstick (namanya juga kartun), tetapi juga dengan disuntikkannya unsur hati di sana. Siapa yang sangka bahwa kedekatan dan rasa saling memiliki dari Shaun dan Peternak yang harus terhalang oleh amnesia bisa begitu menyentuh.

Biar begitu, film ini juga nggak terlalu berusaha terlalu keras untuk jadi menyentuh atau deep atau whatever, dan gw rasa itu yang bikin film ini tetap semenyenangkan serialnya. Buntut-buntutnya tetep aja ada kekonyolan khas Shaun dkk yang emang klimaks, dan tentu saja ada si babi-babi gangstas itu =D. Overall mungkin film ini nggak termasuk brilian banget, tetapi dengan tetap mempertahankan unsur fun dari materi aslinya, itu sudah cukup kok.




My score: 7/10

Sabtu, 04 April 2015

[Movie] Run All Night (2015)


Run All Night
(2015 - Warner Bros.)

Directed by Jaume Collet-Serra
Written by Brad Ingelsby
Produced by Roy Lee, Michael Tadross, Brooklyn Weaver
Cast: Liam Neeson, Ed Harris, Joel Kinnaman, Vincent D'Onofrio, Common, Nick Nolte, Bruce McGill, Genesis Rodriguez, Boyd Holbrook, Holt McCallany, Aubrey Joseph


Pekerjaan gw sekarang ini di media punya perk yang amat sangat lumayan, yaitu bisa nonton film-film sebelum rilis di bioskop. Hanya saja, itu juga berarti gw harus nonton film yang gw sebenarnya nggak pengen nonton. Run All Night ini salah satu yang demikian. I have nothing against Liam Neeson whatsoever, dia aktor yang bagus dan keren, tetapi melihat dia kicking ass di Star Wars Episode 1 dan Batman Begins dan Taken rasanya sudah cukup buat gw. Sekarang saking seringnya dia maen di film action kriminal yang mengekploitasi kekerenannya di usia tua, film-film itu jadinya kayak nggak punya tawaran lebih lagi, sama aja semua.

Run All Night pun jadinya sama. Sebenarnya film ini punya beberapa tawaran selain orang-orang saling membunuh. Ada unsur tentang keluarga dan persahabatan yang diciderai, sehingga terpaksa diselesaikan dengan senjata, ya karena keluarga dan persahabatan itu terjadi di sebuah lingkungan mafia di New York. Gw bisa lihat bahwa film ini punya potensi sebagai film drama yang cukup kuat dengan adegan action sebagai bumbu yang menggigit. 

Tapi hasilnya, film ini hanya berkonsentrasi di bagian action, sedang sisanya ya seadanya saja. Padahal, deretan aktornya itu keren-keren, cuma somehow filmnya tidak menohok emosi sebagaimana seharusnya, performa mereka jadi kayak mubazir. Naskah film ini sudah mengarah ke sebuah drama yang emosional dan mungkin depresif, yang bisa menghasilkan film yang punya depth ketimbang tembak-tembakan dan kejar-kejaran semata. Tapi, ya gitu, ternyata pada akhirnya film ini nggak disajikan dengan baik sehingga potensi kedalaman rasa itu alpa *aih, 'alpa'*. Sebaliknya, dengan judul yang terdengar sangat cemen, cerita tersebut bikin film ini jadinya terlalu serius untuk sebuah action tembak-tembakan dan kejar-kejaran, kagak ada fun-nya sama sekali. Action-nya juga nggak epic-epic amat. Untuk sebuah film tentang dunia kekerasan, rasanya kurang nonjok aja. Palingan yang paling boleh adalah adegan bertarung di kamar apartemen terbakar. Itu keren sih. 

Tapi sisanya, yah, nggak meninggalkan impresi yang baik buat gw. Mau berbobot ternyata enggak, mau mengasyikkan juga enggak. Yang tersisa hanya potensi, baik dari cerita dan pemain, yang disia-siakan. Eh tapi bahwa film ini disyut pake film seluloid lumayan bikin gimana gitu, itu sih nilai lebihnya.




My score: 5,5/10