Selasa, 31 Maret 2015

[Movie] Cinderella (2015)


Cinderella
(2015 - Disney)

Directed by Kenneth Branagh
Screenplay by Chris Weitz
Produced by Simon Kinberg, Allison Shearmur, David Barron
Cast: Lily James, Cate Blanchett, Richard Madden, Helena Bonham Carter, Stellan Skarsgård, Derek Jacobi, Holliday Granger, Sophie McShera, Nonso Anozie, Ben Chaplin, Hayley Atwell


Kegemaran baru studio Disney untuk membuat versi live action dari film-film animasi klasiknya kembali dibuktikan dengan hadirnya film Cinderella di tahun 2015 ini. Tetapi, berbeda dengan Alice in Wonderland (2010) atau Maleficent (2014) yang membuat berbagai modifikasi agar tampak kekinian, Cinderella garapan Kenneth Branagh (Thor, Mary Shelley's Frankenstein) ini justru melakukan hal sebaliknya, dan tetap pada pakem dongengnya. Bagusnya, justru itu yang membuat film ini lebih kuat daripada adaptasi animasi Disney yang sudah ada.

Masih berdasarkan dongeng versi Charles Perrault, Cinderella versi baru ini mengikuti kisah seorang gadis yatim piatu bernama Ella (Lily James) yang hidup teraniaya oleh ibu tiri (Cate Blanchett) dan dua saudari tirinya (Holliday Grangerdan Sophie McShera). Namun, ia kemudian mendapat peluang mengubah nasib ketika jatuh cinta dengan pangeran Kit (Richard Madden). Di sini masih ada peran ibu peri (Helena Bonham Carter) yang membantu Ella pergi ke pesta, demikian pula sepatu kaca yang menjadi kunci yang mempersatukan Ella dengan pangeran tetap dimunculkan. Secara garis besar, cerita film ini tidak berbeda dengan versi dongeng Cinderella yang sudah ada, termasuk versi animasi Disney di tahun 1950.

Akan tetapi, bukan berarti Cinderella versi baru ini tidak memberikan pembaruan sama sekali. Mungkin titik-titik ceritanya tidak berubah, tetapi ada satu hal yang membuat film ini tetap memikat ditonton di masa-masa penonton sudah lebih kritis seperti saat ini. Skenarionya yang dikerjakan Chris Weitz bukan hanya copy paste dongeng klasiknya, tetapi memberi bobot lebih yang membuat kisah dan tokoh-tokohnya punya motivasi dan sebab akibat yang lebih bisa diterima akal. Menambah dimensi meski format gambarnya sendiri tidak 3-dimensi.

Contohnya, film ini memberi penjelasan mengapa Ella terkesan pasrah terhadap perlakuan ibu dan saudari tirinya, mengapa ia jatuh cinta pada pangeran (bukan hanya karena tampan, kaya, dan seorang pangeran), mengapa ia akrab dengan hewan-hewan, mengapa sepatu kaca hanya muat di kakinya, dan mengapa ia disebut Cinderella (cinder artinya abu). Tokoh ibu tiri dan pangeran pun diberi perlakuan yang sama. Sang ibu tiri punya alasan tersendiri dengan perlakuannya terhadap Ella, dan bahwa pangeran ternyata dituntut untuk tidak menikahi sembarang gadis, apalagi yang bukan ningrat.

Cinderella ini bukan cuma menceritakan seorang perempuan teraniaya lalu mendapat "anugerah" berupa laki-laki tampan dan kaya dan semua masalah selesai dengan menikah. Sebab, masalah di film ini bukan cuma bagaimana caranya Cinderella dan pangeran bisa jadian, tetapi bagaimana mereka mengatasi niat-niat jahat di sekitar yang hendak menghalangi mereka menemukan kebahagiaan sejati. Dengan mendengung-dengungkan jargon "have courage and be kind" di sepanjang film, Cinderella versi ini ingin lebih menggarisbawahi bahwa kebaikan pasti tidak akan sia-sia—tidak hanya diucapkan, tetapi dibuktikan, bahkan dijadikan klimaks.

Sekali lagi, nilai-nilai tersebut tetap bisa disampaikan tanpa mengubah pakem dongeng dari Cinderella. Tidak ada "cinta" yang diterjemahkan berbeda layaknya di Frozen dan Maleficent, tidak ada perang-perangan pamungkas seperti di Alice in Wonderland, tidak juga meninggalkan unsur magic-nya. Itulah yang membuat film ini masih bisa memikat sekalipun ceritanya sudah didengar sejak berabad-abad, klasik namun tidak ketinggalan zaman. Meramu semua itu tentu butuh ketangkasan, yang terbukti dipunyai oleh sutradara Branagh dalam film ini.

Cerita dan penuturan film ini pun didukung oleh elemen-elemen lainnya yang membentuk Cinderella versi baru ini jadi sebuah tontonan yang menghibur. Mulai dari tata artistik minim efek digital, desain kostum yang mencolok, tata musik mendayu-dayu, termasuk penampilan para pemain yang tanpa cela. Penerjemahan adegan-adegan khas dongengnya berhasil disajikan dengan indah memanjakan mata dan telinga. Dimasukkannya unsur humor pun tidak merusak jalan cerita film ini, malah menjadi bumbu yang pas, menegaskan bahwa film ini tidak berusaha jadi pretensius dalam menceritakan ulang sebuah dongeng klasik. Di era ketika banyak film berlomba-lomba ke arah "realistis" dan "dark", keberanian film ini untuk back to basics patut diberi jempol.

Prinsip untuk setia pada jalan cerita dongengnya bisa jadi sebuah kekuatan sekaligus kekurangan. Bisa jadi kekurangan, karena tidak adanya inovasi. Cerita Cinderella ini jadi hanya semacam pengulangan dari yang sudah ada, sehingga mungkin kurang merangsang bagi penikmat film berjiwa petualang. Namun, hal itu bisa jadi kekuatan, karena ternyata film ini melakukan "pengulangan" itu dengan baik dan benar. Walau tanpa inovasi, asalkan digarap dengan benar saja, sudah cukup untuk membuat film ini jadi tontonan memikat.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Kamis, 26 Maret 2015

[Movie] American Sniper (2014)


American Sniper
(2014 - Warner Bros.)

Directed by Clint Eastwood
Screenplay by Jason Hall
Based on the book "American Sniper: The Autobiography of the Most Lethal Sniper in U.S. Military History" by Chris Kyle, Scott McEwen, James Defelice
Produced by Clint Eastwood, Bradley Cooper, Robert Lorenz, Andrew Lazar, Peter Morgan
Cast: Bradley Cooper, Sienna Miller, Keir O'Donnell, Luke Grimes, Jake McDorman, Sam Jaeger, Navid Negahban, Eric Close, Sammy Sheik, Mido Hamada


Sutradara dan mantan bintang action Clint Eastwood kini berusia 84 tahun, dengan pengalaman yang panjang dan beragam. Dari drama, action, komedi, roman, olahraga, sampai musikal sudah pernah ia jalani. Namun, kesuksesannya yang terbesar justru didapat dari karya terbarunya, American Sniper, yang "hanya" sebuah biografi. Sejauh ini, film yang dibintangi Bradley Cooper ini jadi film rilisan tahun 2014 terlaris di AS (total lebih dari 340 juta dolar AS), dan berhasil masuk ajang Piala Oscar dengan enam nominasi, termasuk Best Picture.

Kesuksesan itu mungkin bisa terbaca dari materi yang diangkat di film ini. American Sniper adalah biografi seorang sosok istimewa, anggota pasukan elit US Navy S.E.A.L. yang disebut-sebut paling mematikan yang pernah ada. Sebagai penembak jitu, Chris Kyle dilaporkan telah menewaskan 160 target (yang terkonfirmasi) selama bertugas empat putaran di Irak sampai tahun 2008. Berkat reputasinya itu, ia dianggap legenda oleh rekan-rekannya, sekaligus jadi buruan pihak musuhnya. Singkatnya, ia adalah pahlawan rakyat AS di dunia nyata.

Film American Sniper pun mencoba mengulik tentang kehidupan sang pahlawan dari awal. Film dibuka dengan adegan Chris Kyle (Bradley Cooper) harus menentukan pilihan terhadap nasib seorang wanita dan anak kecil yang membawa hulu ledak ke hadapan rekan satuannya. Momen ini bakal jadi tembakan pertamanya di medan perang. Lalu penonton diajak kembali melihat masa kecil Chris di Texas, melihat ia dan adiknya, Jeff (versi dewasa diperankan Keir O'Donnell) dibesarkan oleh orang tua yang cukup konservatif dan keras.

Chris kemudian tumbuh sebagai penunggang rodeo yang sering beraksi di beberapa tempat, namun ia mulai merasakan kejenuhan. Di saat yang sama, ia terdorong oleh banyaknya aksi terorisme di berbagai tempat yang mencelakakan warga AS. Chris pun bergabung di kemiliteran, walaupun usianya sudah 30 tahun. Dengan karier yang baru ini pula, Chris menemukan cinta sejatinya, Taya (Sienna Miller). Usai serangan terhadap gedung World Trade Center di New York, 11 September 2001, panggilan untuk Chris ke medan perang pun datang juga. Tak lama setelah melangsungkan pernikahan dengan Taya, Chris menjalani tugas putaran pertamanya di Irak.

Kesan pertama yang timbul dari film American Sniper adalah ringkas dan padatnya penyampaian film ini tentang sosok Chris Kyle. Ini tentu bukan hal buruk, sebab tidak mudah meringkas kehidupan seseorang menjadi tontonan dua jam saja. Film ini secara cepat dan tepat merangkum perjalanan hidup dan memperkenalkan sosok Kyle dengan cukup menyeluruh, menunjukkan poin-poin yang terpenting, baik sisi positif maupun negatifnya (ia dibesarkan konservatif tetapi mempraktikkan kumpul kebo). Keputusan untuk tidak menambahkan ilustrasi musik pun tidak menurunkan kadar dramatisasi adegan-adegan yang ditunjukkannya.

Untungnya, American Sniper sebagai film drama biografi punya lebih darisekadar menceritakan perjalanan hidup seseorang dari awal sampai akhir. Film ini juga menggaris bawahi dualisme rasa yang dialami Chris sebagai prajurit. Bagaimana semangatnya yang menggebu-gebu di awal seakan menguap setiap kali ia menarik pelatuk senapannya. Benar bahwa ia berhasil melindungi rekan-rekan seperjuangan, juga bangsa dan negaranya, sebagaimana tugas dan niatnya di sejak awal. Tetapi, di saat bersamaan itu tidak membuatnya tenang. Pada perjalanannya, kerasnya medan perang membuatnya jadi orang berbeda setiap kali pulang ke rumah. Belakangan Chris pun harus bolak-balik pusat veteran perang untuk terapi.

Ditekankannya konflik antara kebanggaan dengan trauma dalam film ini memang cukup menarik. Sekalipun dimasukkan unsur action yang cukup intens, film ini memang lebih banyak bertumpu pada sosok Chris pribadi, dan seakan pembuat filmnya ingin menegaskan bahwa perang tidak punya dampak baik. Bahkan, akhir hidup Chris pun berkaitan dengan topik tersebut.

Masalahnya, nilai tersebut sama sekali tidak baru. Memasuki era milenium, sudah bergelimpangan judul film perang yang ingin membuat pernyataan serupa. Sudah ada Saving Private Ryan (1998), Black Hawk Down (2001), Green Zone (2010), juga lewat film Eastwood sendiri, Letters from Iwo Jima (2006). Bahkan, bisa dikatakan apa yang disampaikan di American Sniper agak ketinggalan dari film The Hurt Locker (2009). Film garapan Kathryn Bigelow tersebut juga membuat gambaran perang yang mencekam dalam sudut pandang pribadi, dan tentang tokoh yang tetap terpengaruh oleh perang sekalipun sudah aman nyaman di rumah, malah akhirnya lebih pilih terjun perang.

Namun, yang membuat American Sniper berbeda adalah sumber ceritanya yang nyata (sementara The Hurt Locker fiktif). Film ini pun bisa ditangkap dengan dua cara berlawanan, entah itu bangga terhadap betapa hebatnya Chris (kemungkinan itu yang membuat film ini laris di AS) yang memang ada di dunia nyata, atau sebaliknya, rasa iba karena Chris seolah-olah terus menyangkal bahwa ia tertekan akibat perang.

Apapun itu, American Sniper tetap sebuah sajian film yang engaging, baik sebagai tontonan hiburan maupun substansi yang ingin disampaikannya. Mungkin pesan yang disampaikannya terkesan "basi", tetapi tidak menutupi fakta bahwa film ini ditata dengan nilai produksi yang tinggi, rapi, punya unsur action yang tidak main-main, dan berhasil mengeluarkan penampilan terbaik dari aktor Bradley Cooper. Well, mungkin pengecualian pada efek bayi yang terlihat sekali palsu dan efek digitalnya yang (secara cukup mengherankan) bukan di level teratas Hollywood.





My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Sabtu, 21 Maret 2015

[Movie] Love & Faith (2015)


Love & Faith
(2015 - E-Motion)

Directed by Benni Setiawan
Written by Bagus Bramanti, Benni Setiawan
Produced by Frans Limsanax
Cast: Rio Dewanto, Laura Basuki, Dion Wiyoko, Ferry Salim, Iszur Muchtar, Epy Kusnandar, Verdi Solaiman, Teuku Rifnu Wikana, Irina Chiu Yen, Desy Limsanax, Landung Simatupang, Henky Solaiman


Film Love & Faith garapan Benni Setiawan mengisahkan perjalanan cinta sepasang tokoh yang memang ada di dunia nyata. Dalam hal ini, sosok yang dimaksud adalah Karmaka Surjaudaja alias Kwee Tjie Hoei dan istrinya, Lim Kwei Ing. Karmaka sendiri dikenal sebagai salah satu pemilik Bank NISP, yang sekarang dikenal dengan nama OCBC NISP. Dengan gambaran seperti itu, bisa ditebak bahwa Love & Faith juga bakal menuturkan kisah sukses tokoh tersebut.

Kwee Tjie Hoei (Rio Dewanto) tumbuh di kota Bandung dalam keadaan ekonomi sulit di masa peralihan kemerdekaan Indonesia. Lulus SMA di 1950-an, Hoei memutuskan untuk bekerja di toko jasa reparasi elektronik serta jadi guru olah raga di SMA, supaya adiknya, Ong (Dion Wiyoko) bisa kuliah. Tak disangka, perjalanan dramatis dalam kehidupan Hoei bermula di sekolah itu.

Di sana, Hoei bertemu dengan Lim Kwei Ing (Laura Basuki), seorang murid yang kemudian jadi cinta sejatinya. Meski dari latar belakang berduit, Ing dan keluarga rupanya tidak keberatan untuk menerima Hoei yang hidup pas-pasan. Singkat cerita, hubungan mereka direstui, sekalipun Hoei memberi nafkah keluarga hanya dengan bekerja jadi pegawai biasa di sebuah pabrik.

Masuk era 1960-an, sebuah polemik terjadi di bank milik ayah Ing. Hoei pun diberi mandat untuk menggantikan posisi mertuanya di bank tersebut sekaligus menyelesaikan permasalahan di sana. Ini jelas bukan perkara mudah, karena bidang ini sama sekali tidak pernah disentuh Hoei. Yang ia punyai hanyalah niat baik dan tekad untuk melindungi keluarganya.

Niat mengangkat kisah hidup seorang tokoh di layar lebar patutlah dihargai. Apalagi, sosok yang diangkat memang punya value dan pengaruh yang cukup di bidangnya. Belum lagi perjalanan kisahnya dibuat dalam bentuk zero to hero, dari kesusahan menuju kesuksesan, sesuatu yang sering disebut sebagai "inspiratif" dan "motivasional", yang tentu akan disambut hangat oleh penonton kita.

Niat tersebut untungnya tidak diperlakukan dengan sembarangan. Film Love & Faith paling tidak sukses menunjukkan nilai produksi yang baik, yang diperlukan untuk film-film sejenis. Apalagi, film ini mengambil setting waktu sekitar 50 tahun yang lalu. Nuansa vintage itu dihidupkan dengan cukup baik lewat tata artistik, kostum, dan tata rias, lalu ditangkap dengan sinematografi yang nyaman dan polesan visual effects pendukung. Singkatnya, film ini enak dilihat.

Tetapi, Love & Faith tak hanya punya pemandangan yang baik. Salah satu kekuatan utama film ini adalah akting dari dua bintangnya, Rio Dewanto dan Laura Basuki. Ketika Laura sukses menunjukkannya sebagai aktris berkualitas lewat gestur dan ekspresi yang meyakinkan (termasuk transisi dari anak SMA ke dewasa), Rio justru berhasil melebihi ekspektasi. Bahkan, bisa jadi ini adalah penampilan terbaik Rio di layar lebar. Upaya Rio dalam menghayati karakter Hoei dengan tutur kata dan segala emosi yang menyertainya, terutama transisi dari sosok yang kalem ke keadaan menjurus depresi, membuat kehadirannya di layar benar-benar nyata, tanpa sekalipun ada kesan berlebihan.

Sayangnya, penampilan bagus kedua pemain ini tidak bisa dinikmati lama. Soalnya, film ini seakan dipaksa berakhir terlalu cepat. Itupun kalau layak disebut "berakhir". Pada dasarnya film ini ingin menggambarkan bagaimana Hoei, juga berkat kesabaran Ing, bisa bangkit dari keterpurukan yang melandanya. Masalahnya, ketika sebab musabab keterpurukan itu ditunjukkan dengan dramatis dan cukup menyita waktu bahkan sampai titik terbawah (atau anggap saja begitu), penyelesaiannya tidak ada.

Ibarat perjalanan yang panjang dan berliku, tiba-tiba dipaksa berhenti ketika sudah tinggal lima menit mencapai tujuan. Film ini justru distop pada bagian Hoei mulai bangkit, sedangkan sisanya dijelaskan lewat tulisan. Dengan cara demikian (entah keputusan di editing atau memang dari skenarionya), film ini tak hanya terkesan tanggung, tetapi juga abai dalam menyelesaikan misi inspirasinya dalam bahasa gambar. 

Apakah hasil dari kebangkitan Hoei hanya senyam-senyum di taman? Padahal, menurut keterangan ia jadi sering sakit-sakitan. Ini saja sebenarnya berpotensi jadi babak tersendiri, ketika cinta mereka diuji cukup berat, yang sayangnya tidak dijamah dalam filmnya. Apakah dari kebangkitan itu pula perlahan-lahan masalah di bank bisa diselesaikan? Bahkan keterangan itu tidak tercantum di tulisan. Pokoknya, banknya masih ada sampai sekarang. Cuma itu. 

Cerita yang ditampilkan memang punya banyak kekuranglengkapan, dan potensi-potensi yang ada tidak dimaksimalkan. Masih ada beberapa kekurangan informasi tentang sebab akibatnya (mengapa ayah Ing tak bisa kembali ke Indonesia, lolosnya Hoei dari penculikan). Juga detail-detail menarik seperti cara kerja perbankan dan persoalan nama orang keturunan Tionghoa yang ditampilkan selewat saja. Kesempatan untuk memberi pengetahuan tambahan pun disia-siakan.

Alhasil, Love & Faith secara keseluruhan tak seenak tampilan visual dan akting pemainnya. Ada indikasi filmnya dibuat terburu-buru (bisa dilihat koreksi penyebutan ayah Hoei yang ditimpa dubbing), dan bisa jadi di situ letak masalahnya. Film ini bisa lebih bagus asal ceritanya lebih dilengkapi, dan mungkin itu butuh waktu. Well, barangkali supaya tidak terlalu kecewa, anggap saja film ini bersambung.




My score: 6/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Minggu, 15 Maret 2015

[Movie] Focus (2015)


Focus
(2015 - Warner Bros.)

Written & Directed by Glenn Ficarra, John Requa
Produced by Denise di Novi
Cast: Will Smith, Margot Robbie, Rodrigo Santoro, Adrian Martinez, Gerald McRaney, BD Wong, Brennan Brown


Terakhir gw inget nonton film yang menyatukan tema con-artist (penipu, kok dalam bahasa Inggris istilahnya jadi keren ya?) dengan romance, adalah The Tourist, which is a bad film. Focus sedikit banyak mengarah ke tema itu, tetapi buat gw sih film in agak lebih mending. Focus lebih bisa mengangkat sisi romance-nya bahkan sejak memilih pemainnya yang rupawan-rupawati, juga lebih jelas dalam membawakan tema light comedy dalam plot kriminal yang cukup membuat penasaran.

Jalannya film ini juga cukup oke sih. Dari awal ada seorang wanita muda yang termotivasi untuk jadi kaya dengan jadi penipu kelas atas (jangan ditiru ya, adik-adik), lalu kecantol kepada penipu kelas berat dan karismatik. Kecantol ini dalam arti ingin menyerap ilmu dan tentu saja kecantol dalam hal asmara. Cuma, apakah benar ketertarikan mereka berdua itu tulus mengingat pada dasarnya dua-duanya adalah penipu?

Tetapi, gw juga nggak bisa menganggap film ini bagus banget juga. Gw bahkan cukup struggling buat menikmatinya. Mungkin karena dari awal gw nggak terlalu nangkep apa tujuan utama film ini. Baru di akhir gw menyadari, oh mungkin maunya bagaimana senior dan junior akhirnya bersaing tetapi diselingi cinta juga...or something like that. Like I said, gw kurang nangkep =p. Dan berhubung ini film tentang penipuan, plotnya juga akan dipenuhi oleh tipu-tipu muslihat dan twist-twist yang buat gw sih lama-lama bikin capek karena diulang-ulang terus. Bukannya makin takjub malah makin gw mikir "ah ada aja sih, kagak kelar-kelar dah." Gw sendiri tidak merasakan ledakan yang terlalu kuat dalam hal keserasian antara Will Smith dan Margot Robbie--dan gw sepertinya kurang bisa diyakinkan sama performa Robbie, kayak masih ketahan-tahan apanya gitu--sehingga unsur romance-nya masih dalam batas nanggung buat gw *tapi tetep masih mending daripada The Tourist =p*.

Secara kemasan juga sebenarnya film ini kurang membuat gw merasa excited. Tetapi mungkin itu karena memang filmnya bukan action atau thriller sekalipun bertema kriminal. Dengan penekanan pada romance, film ini memang kayak sengaja disajikan agak "remang-remang", chilled out, nggak terlalu heboh. Gw juga cukup bisa sih menikmati beberapa bagian film ini, semisal pengambilan gambar di tempat-tempat eksotis macam New Orleans, Buenos Aires, dan wajah Margot Robbie. Cukup seger. Satu adegan yang berhubungan dengan tabrakan pun cukup impresif. Tetapi, overall, apa yang disajikan dan bagaimana disajikannya film Focus ini mungkin...emm...gw belum bisa terbiasa, dan kurang bikin tertarik juga. Sedang-sedang saja. Gw tidak mengerti arah sebenarnya dari ceritanya, dan ketika tahu pun gw nggak dipuaskan juga. Jadi yah, jelek banget sih nggak, cuma bukan jadi, ehem, fokus perhatian gw aja.





My score: 6/10


[Movie] The Wedding Ringer (2015)


The Wedding Ringer
(2015 - Screen Gems/Miramax)

Directed by Jeremy Garelick
Written by Jeremy Garelick, Jay Lavender
Produced by Adam Fields, William Packer
Cast: Kevin Hart, Josh Gad, Kaley Cuoco-Sweeting, Olivia Thirlby, Ignacio Serricchio, Mimi Rogers, Cloris Leachman, Jorge Garcia, Affion Crocket, Dan Gill, Corey Holcomb, Colin Kane, Ken Howard, Alan Ritchson, Aaron Takahashi, Jenifer Lewis


It's a no-brainer for me, ini adalah jenis film yang gw tahu gw nggak bakalan suka bahkan dari liat posternya. Komedi ala Amrik gitulah, yang bikinnya emang untuk senang-senang saja. Taruh orang-orang yang terkenal lucu ditambah beberapa tokoh aneh dan bodoh dan mengesalkan, jadilah film komedi rame-ramean santai, syukur-syukur mendatangkan uang. Gw nggak bilang itu salah, gw cuma bilang gw bukan ada di segmennya. Ya sama kayak gw nggak suka The Hangover dan ogah nonton film-film Adam Sandler terbaru.

Premis The Wedding Ringer memang cukup fresh, tentang best man (pengiring pengantin kalau di sini) sewaan, bagi para cowok yang mau menikah tapi baru menyadari nggak punya temen sehingga nggak punya pendamping, apalagi dalam kasus ini si orangnya udah yatim. Di sini ada semacam unsur "kearifan lokal" bahwa bagi orang Amerika, best man atau bridesmaid itu big deal banget dalam pernikahan bahkan mungkin melebihi orang tua. Tapi buat gw pengembangannya di film ini ya gitu-gitu aja, karena ditimpalin satu lagi "kearifan lokal" khas film sana soal definisi pecundang. Dan in the end, film ini lebih ke buddy comedy sih daripada romantic comedy sih. Nggak ada yang salah, cuma ya udah gitu aja.

Film ini pun kayak nggak punya usaha lebih untuk dikemas dengan value yang lebih. Kesannya tinggal suruh komedian yang lagi terkenal (dalam hal ini Kevin Hart, yang terkenal di sono), biarkan dia lakukan apa yang menurutnya lucu di depan kamera. Sementara cerita dan karakternya sendiri ya gitu-gitu aja. Nah, celakanya, yang menurut film ini lucu bukanlah yang gw anggap lucu. Sex jokes, drunk jokes, dan slapsticks yang lama-lama melelahkan, disandingkan dengan buddy comedy yang nggak istimewa, diselipin "pesan moral" yang yah, juga kurang mengena.

The Wedding Ringer buat gw adalah film yang mungkin akan lebih menghibur kalau nontonnya nggak pake effort, misalnya kebetulan lagi nonton TV di rumah karena di channel lain lagi nggak ada acara yang lebih bener. Well, ketika dua tokoh utama kita lagi break into contemporary lyrical dance di sebuah resepsi pernikahan itu lucu sih.




My score: 5/10


Minggu, 08 Maret 2015

[Movie] 2014 (2015)


2014
(2015 - Mahaka Pictures/Dapur Film)

Directed by Rahabi Mandra, Hanung Bramantyo
Written by Ben Sihombing, Rahabi Mandra
Produced by Hanung Bramantyo, Celerina Judisari
Cast: Ray Sahetapy, Rizky Nazar, Maudy Ayunda, Donny Damara, Atiqah Hasiholan, Rio Dewanto, Rudy Salam, Donna Harun, Wiwing Dirgantara, Fadika R., Fauzan Smith, Deddy Sutomo, Akri 'Patrio', Ozzol Ramdan, Trisa Triandesa


Setelah perjalanan panjang—selesai tahun 2013, lalu di-reshoot dan re-edit, dan tertunda satu tahun penayangannya—film action thriller politik Indonesia, 2014 akhirnya hadir juga. Dengan latar menyangkut pemilihan presiden Indonesia, sekilas apa yang diangkat film garapan sutradara Rahabi Mandra dan Hanung Bramantyo ini terdengar agak usang. Namun, adalah sebuah penyangkalan semu bila memandang apa yang disampaikan film ini tidak relevan dengan keadaan negara kita sebenarnya.

Dengan segala keberadaannya, film 2014 punya satu keunggulan istimewa. Sampai sekarang mungkin belum ada film Indonesia yang mengangkat politik dengan cara seperti di film ini, yaitu dalam kemasan thriller dan action. Bahkan di milenium baru ini, baru film 2014 yang mengangkat politik negara sebagai sorotan utama tidak dalam bentuk sindiran. Film terakhir yang mendekati tema dan kemasan 2014 adalah Hari Ini Pasti Menang di tahun 2013. Namun, film tersebut lebih bergerak dalam lingkup sepakbola (termasuk mafia dan perjudian) ketimbang lingkup negara.

Kisah 2014 bermuara pada satu kasus pembunuhan seorang staf departemen keuangan. Bagas Notolegowo (Ray Sahetapy) tepergok berada di tempat kejadian, dan ia segera ditetapkan jadi tersangka. Namun, akan sangat naif bila kasus ini dianggap kasus kriminal biasa. Sebab, Bagas adalah salah satu calon presiden yang nilai polling-nya selalu paling tinggi. Dengan tersandung pelanggaran kriminal berat, posisinya pun terancam.

Curiga bahwa ayahnya dijebak, Ricky Bagaskoro (Rizky Nazar dalam penampilan film layar lebar pertamanya), putra sulung Bagas yang masih SMA, mencoba meminta bantuan seorang ahli hukum ternama, Krishna Dorojatun (Donny Damara) untuk membebaskan ayahnya. Akan tetapi, masalah tidak berhenti pada Bagas yang jadi tersangka. Disinyalir ada upaya agar kasus ini tidak tuntas. Penyelidik Iptu Astri (Atiqah Hasiholan) mendapati banyak bukti kasus ini dibuat tidak lengkap, ditambah lagi munculnya sosok pria misterius (Rio Dewanto) di berbagai tempat yang berkaitan dengan kasus tersebut.

Melihat kejanggalan dalam kasus ayahnya, Ricky pun nekad mencari tahu kebenaran di baliknya, bersama Laras (Maudy Ayunda), putri dari Krishna. Pencarian itu pun membawanya masuk pada sebuah konspirasi besar yang didalangi oleh seseorang berpengaruh, bahkan melebihi presiden.

Meski dibuat tahun 2013—berarti sebelum Pemilu 2014 berlangsung, film 2014 rupanya sudah bisa membaca iklim politik Indonesia saat ini. Apa yang ditampilkan di sini mungkin tidak lagi mengejutkan bagi kita yang sering membaca berita. Konflik utamanya berpusat pada kasus kriminal yang kental motif politik, termasuk pihak berwajib yang ternyata disusupi kepentingan pihak tertentu. Sounds familiar? Bukan berarti kisahnya mengangkat kasus nyata, tetapi film ini berhasil menangkap sifat-sifat dunia politik negeri ini dan menuangkannya dalam sebuah kisah baru yang bukan tak mungkin terjadi.

Di luar itu, film 2014 menyajikan kisahnya dalam kemasan yang captivating dan menghibur. Bahkan penggunaan kamera high definition (yang sering digunakan untuk TV) tidak membuatnya kelihatan murahan. Sebagai political thriller dengan unsur action, film berhasil dikemas dengan presentasi yang menegangkan dan seru, disertai intrik cerita yang masih masuk akal.

Terlihat juga bahwa film ini banyak belajar dari film-film sejenis dari luar. Misalnya, penuturan dan lajunya yang ringkas dan dinamis seperti gaya Hollywood, juga adegan-adegan action yang memang digarap serius layaknya film-film action Hong Kong. Namun, bukan berarti film ini meniru mentah-mentah. Ini terbukti dari cerita dan dialog-dialognya yang dirangkai sesuai dengan mindset dan situasi Indonesia. Tidak ada istilah-istilah terlalu rumit yang digunakan di sini, dan ini konsisten juga dengan sosok tokoh utama yang masih SMA, sebagai pemandu penonton dalam memahami konspirasi yang ada di film ini.

Namun, memang ada satu gaya yang cukup eksentrik di penyajian film ini, yaitu gambar di-freeze dan jadi hitam-putih pada saat-saat paling dramatis—mirip dengan yang dilakukan serial NCIS sebelum break iklan. Mungkin tujuannya adalah mempertegas momen-momen yang dimaksud. Di atas kertas gaya ini terkesan agak norak, apalagi terus diulang-ulang, padahal hakikatnya film ini punya tone serius. Untunglah frekuensinya belum sampai tahap berlebihan, dan mungkin cukup efektif sebagai momen penonton bisa sejenak menyerap apa yang baru ditampilkan di layar. Anggap saja begitu.

Film ini tentu masih punya beberapa kelemahan. Beberapa titik cerita mungkin butuh penjelasan lebih. Misalnya, bagaimana polisi bisa langsung memergoki Bagas di TKP, sejak kapan polisi punya informan di sekitar TKP, atau juga cara salah satu tokoh menyimpan data rahasia dalam bentuk yang sangat rentan. Namun, ini justru secara tak langsung (mungkin tanpa sengaja) menggambarkan situasi hukum dan politik kita yang memang "ajaib". Tiba-tiba ada kasus lalu terlupakan, tiba-tiba orang muncul dan menghilang, segalanya serba tiba-tiba. Mungkin ada penjelasan dari semua itu yang tidak ditampilkan di layar, sebagaimana di dunia nyata tidak semua sisi sebuah masalah ditampilkan di media massa.

Paling tidak, kekurangan itu tidak mengganggu sisi hiburan dari film ini. Tidak hanya dari adegan-adegannya, tetapi juga gambaran Indonesia di dalam ceritanya yang cukup mengusik, karena mungkin sekali terjadi di kehidupan nyata. Bahkan, mungkin sudah, atau sedang terjadi.





My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

[Movie] Kingsman: The Secret Service (2015)


Kingsman: The Secret Service
(2015 - 20th Century Fox)

Directed by Matthew Vaughn
Screenplay by Jane Goldman, Matthew Vaughn
Based on the comic book "The Secret Service" by Mark Millar and Dave Gibbons
Produced by Adam Bohlin, David Reid, Matthew Vaughn
Cast: Colin Firth, Taron Egerton, Samuel L. Jackson, Mark Strong, Michael Caine, Sophie Cookson, Sofia Boutella, Mark Hamill


Sebelum akhirnya mengetik review ini, gw punya pergumulan batin tentang apa yang bisa gw katakan sama film ini. Pertama, gw nontonnya telat lima menit *Jakarta macet bung*. Kedua, film yang tayang di bioskop sini menyensor satu adegan full. SATU ADEGAN FULL! Plus beberapa potongan gambar lain atas nama sensor. Jadi, gw ragu apakah penilaian gw akan fair mengingat kekuranglengkapan gw dalam menyaksikannya.

Tapi okelah, gw akan coba menilai apa yang telah gw lihat di film  ini. I don't like it that much, tapi gw akui apa yang ditampilkan cukup menghibur dan penataan adegannya seru. Gw kagum sama beberapa adegan laganya yang smooth sekali tampilan visualnya (bahkan meski gw tahu adegan Colin Firth menghajar orang di bar itu pake body double yang mukanya digitally replaced, tetap kelihatan cukup seamless). Idenya pun nggak jelek, macam film mata-mata versi absurd tapi versi kekinian, dan motivasi penjahatnya oke juga macam anime-anime sok berat gitu.

But still, I don't like it that much, somehow. Nggak tahu ya, gw rasa nggak ada yang salah dari ceritanya, karakterisasinya, visualnya, visual effects-nya, action-nya, secara garis besar nggak ada masalah. Bagus. Tapi, entah kenapa gw merasakan ada sesuatu yang menahan gw untuk bilang wow sama film ini. Sebenarnya juga itu perasaan yang sudah muncul di dua film buatan Matthew Vaughn sebelumnya yang gw udah tonton, Kick-Ass dan X-Men: First Class. Bagus, rame, tapi....apa ya? Gw nggak bisa bilang kemasannya berlebihan, karena film doi lebih enak dilihat daripada filmnya Michael Bay. Tapi dibilang kurang seru juga sama sekali tidak. 

Ada sesuatu, tapi gw nggak tahu pasti itu apa. Tebakan terbaik gw saat ini adalah cara presentasi filmnya yang emang rebek dan serba cepet dan serba "gejolak kawula muda" lengkap dengan musik penuh distorsi, yang entah kenapa tidak ditangkap dengan terlalu baik oleh gw. Seru, yes, nggak bikin ngantuk, yes, lucu, yes, tapi berasa pet-pet-pet lewat aja gitu. Gaya generasi MTV? Barangkali. Aneh aja sih, padahal film-film Edgar Wright (Shaun of the Dead, Scott Pilgrim vs. the World) selalu punya pacing yang mungkin lebih cepet tapi gw bisa menerimanya dengan baik. Entahlah, mungkin sense of humor dan sense of action Wright yang lebih fantastical lebih cocok sama gw daripada Vaughn yang lebih violent dan "grounded" tapi maunya tetap bernuansa Hollywood (the mother took forever to destroy the bathroom door?).

Anyway, setidaknya itu penilaian dari apa yang gw lihat, karena, yah, gw lihatnya kurang lengkap juga. Kingsman tetap sebuah film yang cukup menghibur, terutama dengan action dan humornya yang oke, dan beberapa adegan yang ditata asyik (di awal, si tokoh utamanya bawa kabur mobil orang terus balik lagi karena ketahuan polisi, all in one steady shot). Sayangnya gw belum bisa menganggap film ini benar-benar keren, walaupun sebenarnya mau...or maybe not, I don't know. Nggak jadi favorit, dan nggak segitu membekasnya. Yang paling membekas justru betapa absurdnya film yang penuh kekerasan dan humor kasar ini ternyata theme song-nya dibawain boyband uzur Take That.




My score: 6,5/10

Kamis, 05 Maret 2015

[Movie] Ode to My Father (2014)


국제시장 (Gukjesijang)
Ode to My Father

(2014 - CJ Entertaiment)

Directed by J.K. Youn
Written by Park Su-jin, J.K. Youn
Produced by Sangzik Lee, J.K. Youn
Cast: Hwang Jung-min, Yunjin Kim, Oh Dal-su, Jung Ji-young, Jang Young-nam, Ra Mi-ran, Kim Seul-ki, Jung Yun-ho


Film Korea terbaru, Ode to My Father karya sutradara J.K. Youn (Haeundae, Sex Is Zero) diniatkan sebagai media yang menuturkan peristiwa-peristiwa bersejarah di Korea Selatan dengan cara yang mudah diserap. Sebagai penggerak cerita, dipakailah seorang tokoh fiktif yang harus berjuang melewati peristiwa-peristiwa besar dari tahun 1950-an sampai 1980-an. Sebuah upaya yang menarik yang didukung dengan kelengkapan teknis yang luar biasa, walaupun pada akhirnya terlihat terlalu berusaha untuk terkesan "besar".

Film dengan judul asli Gukjesijang (Gukje Market) ini dibuka dengan kemunculan sosok pria manula bernama Yoon Deok-soo (Hwang Jung-min, dalam makeup effects yang sangat bagus). Ia mengelola sebuah kios di pasar internasional Gukje di kota Busan, dan ia terkenal galak. Bersama istrinya, Young-ja (Yunjin Kim), Deok-soo mengenang kembali perjalanan hidupnya sampai beranak-cucu di masa kini.

Deok-soo bukanlah asli Busan, sebab ia berasal dari Hungnam, wilayah yang sekarang berada di bawah kekuasaan Korea Utara. Deok-soo sendiri mengungsi dari sana tepat ketika perang pecah di tahun 1951, dengan menaiki kapal perang AS bersama ibu (Jang Young-nam) dan dua adiknya. Sayang, di tengah chaos pengungsian, ia terpisah dari ayah (Jung Jin-young) dan adik perempuan pertamanya, Mak-soon. Deok-soo kemudian memulai hidup baru di Busan berkat bantuan bibinya (Ra Mi-ran) di kawasan Gukje. Sesuai pesan sang ayah, Deok-soo jadi tulang punggung keluarga, sekuat tenaga berusaha meningkatkan taraf hidup keluarganya, hingga terpaksa menunda kuliah.

Dalam usahanya tersebut, Deok-soo kemudian ikut dalam program pengiriman tenaga kerja tambang ke Jerman, mewarisi toko dari bibinya, sampai ikut jadi kontraktor di tengah perang Vietnam. Ia juga akhirnya membina rumah tangga bersama Young-ja yang ditemuinya di Jerman. Namun, ia masih belum bisa melupakan bahwa ia masih punya ayah dan adik yang tak diketahui rimbanya. Lewat sebuah program tali kasih massal, Deok-soo pun mencoba menemukan keduanya.

Sebenarnya, sangat mudah untuk terpikat dengan Ode to My Father. Film ini sudah diformulasikan untuk dapat jadi tontonan yang menghibur sekaligus menyentuh banyak orang secara emosional. Dari tawa hingga sedih disampaikan bergantian di film ini dengan rapi—dan mungkin menggelitik bagi penonton Korea karena dimasukkannya unsur dan tokoh sejarah yang terkenal di sana sini. Babak demi babak cerita juga dirancang sedemikian rupa sehingga mudah diikuti. Ditambah lagi kemasan dan nilai produksinya yang sangat tinggi.

Hal itu mungkin memang bisa diduga dari J.K. Youn yang pernah menggarap film bencana tsunami, Haeundae (2009). Adegan-adegan seperti pengungsian Hungnam, pekerjaan di tambang batu bara, dan reka ulang lapangan tempat pencarian anggota keluarga yang hilang adalah contoh nyata besarnya skala film ini. Mulai dari tata artistik, kostum, sinematografi, visual effects, hingga makeup effects digarap dengan sangat serius dan jelas-jelas mahal.

Meski demikian, saking hebatnya unsur-unsur teknis tadi, sampai-sampai berhasil mengkamuflase bahwa film ini sebenarnya punya inkonsistensi dalam cerita. Sesungguhnya, lumayan butuh waktu untuk menyimpulkan apa inti besar dari film ini. Ditilik dari judul aslinya, film ini mungkin ingin dijadikan tribute bagi para pengungsi Perang Korea yang banyak bermukim di kawasan pasar Gukje. Dalam perspektif tersebut, film ini menjalankannya dengan baik. Apakah tokoh Deok-soo benar-benar bisa mewakili, itu perlu diteliti lagi.

Tetapi, kebingungan timbul ketika judul internasionalnya diputuskan Ode to My Father, yang kira-kira berarti sebuah penghormatan bagi ayah. Masalahnya, topik "keayahan" itu hanya muncul di bagian awal dan di bagian akhir saja. Sementara, semua adegan di antaranya nyaris tidak disinggung lagi. Ketika topik keayahan itu muncul lagi di penghujung film, terkesan ada pemaksaan dan tempelan saja. Seakan segala tetes keringat, darah, dan air mata Deok-soo sebelumnya tidak cukup untuk membuat film ini jadi dramatis dan menyentuh, sehingga perlu dimasukkan lagi topik yang sempat terlupakan selama dua jam sebelumnya.

Problem tersebut juga mungkin diakibatkan konsentrasi film ini lebih kepada menampilkan adegan-adegan spektakuler di setiap babaknya. Adegan akbar pengungsian Hungnam memang menggugah. Namun, ketika ditambahkan lagi kecelakaan di tambang batu bara bawah tanah Jerman, lalu ditambah lagi pengeboman dan perang gerilya di Vietnam, seolah-olah tokoh Deok-soo tidak diizinkan pergi ke suatu tempat jika tanpa terjadi sesuatu yang dahsyat. Bukannya tidak boleh, tetapi mungkin akan lebih berdampak kalau ternyata itu memang kisah nyata. Karena ini fiksi, timbul kesan terlalu berambisi untuk memasukkan adegan-adegan seheboh mungkin.

Untunglah, meski hampir tertutupi oleh semua itu, film ini tidak melupakan unsur emosional dari cerita dan tokohnya. Karakterisasi Deok-soo dibangun dengan baik sehingga mudah menarik simpati penonton, demikian pula tokoh Young-ja, dan sahabat Deok-soo sejak kecil, Dal-goo (Oh Dal-su). Unsur ini berfungsi dengan sangat baik ketika sampai pada peristiwa pamungkas Deok-soo ikut program tali kasih yang disiarkan di TV dan menimbulkan suasana haru yang optimal.

Jadi, dengan mahalnya nilai produksi dan hebohnya adegan-adegan yang ditampilkan, setidaknya film ini tidak lalai terhadap hati. Inilah yang membuat Ode to My Father jadi sebuah sajian yang tidak sia-sia, sekaligus sangat menghibur. Terlepas dari beberapa inkonsistensinya, film ini tetap sebuah penghormatan yang cukup baik bagi mereka yang telah berjuang keras untuk sintas dan membangun hidup yang lebih baik melewati berbagai kesulitan.





My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com


Minggu, 01 Maret 2015

[Movie] Kapan Kawin? (2015)


Kapan Kawin?
(2015 - Legacy Pictures)

Directed by Ody C. Harahap
Written by Monty Tiwa, Ody C. Harahap, Robert Ronny
Produced by Robert Ronny
Cast: Adinia Wirasti, Reza Rahadian, Adi Kurdi, Ivanka Suwandi, Feby Febiola, Erwin Cortez, Firman Ferdiansyah, Ellis Alisha, Gogot Suryanto, Yayu Unru


Only a few years ago, gw nggak ngebayangin bahwa ketika tahun baru dimulai, akan muncul segera film-film Indonesia yang berpeluang jadi favorit sampai akhir tahun (well, a few years before that, I doubt I will have a favorite at all). Tahun ini, film komedi romantis Kapan Kawin? dengan mudah nyelip jadi salah satu kandidat terbaik tahun ini. Yes you read that right. Kapan ya terakhir gw suka sebuah film komedi romantis, khususnya dari Indonesia? Udah lupa saking udah lama (atau malah nggak ada), karena genrenya juga bukan favorit gw. Itu cuma sedikit gambaran bahwa Kapan Kawin? adalah sebuah film yang memang nggak bisa dipandang sebelah mata. Gw tahu, sekilas filmnya terlihat nggak penting dan terkesan shallow, tetapi percayalah, kesan itu kemudian menguap dengan cepat ketika film ini mulai menggelitik sensor tawa kita ketika menontonnya sejak detik terawal.

Memang tidak bisa disalahkan ada anggapan bahwa Kapan Kawin? ini seperti film-film numpang lewat produksi Starvision *eh*. Seorang perempuan in her 30s diminta ortunya untuk bawa pasangan/calon suami ke pertemuan keluarga, dan akhirnya menyewa seorang aktor untuk pura-pura jadi pacarnya. Premisnya menarik sih (yang dengan luar biasa bisa disimpulkan dari judulnya saja), tapi biasanya di film bioskop Indonesia era milenium, premis yang ringan itu digarapnya juga jadi terlalu ringan. 

Untungnya film ini nggak begitu. Di sini bukan hanya membahas seorang anak yang kelabakan terjebak pertanyaan kapan menikah, tetapi gw juga lihat bahwa ini tentang pihak orang tua dan anak yang saling khawatir pihak satu sama lain tidak bahagia, menurut standar mereka masing-masing tentu saja. Ini jelas sangat relevan sama masyarakat kita sekarang. Biar TV udah puluhan channel, handphone canggih, pendidikan tinggi, ladang pekerjaan makin beragam, tetap aja ukuran kebahagiaan sebagian besar orang, selain duit, adalah bekeluarga. Kesannya, yang nggak punya pasangan itu hidupnya menyedihkan dan kastanya paling rendah dan tidak pantas membuat keputusan dan tidak ada fungsinya di masyarakat *sabar pak, sabar*.

Menurut gw, Kapan Kawin? berhasil menyerap formula film komedi romantis yang sudah telah ada dan mengolahnya menjadi rasa lokal yang dewasa. Tone komedi film ini sudah ditentukan sejak adegan awal, bahwa memang film ini akan konyol dengan karakter-karakter yang konyol juga. Itu pun dipertahankan sampai akhir. Bahkan adegan yang terkesan dramatis pun masih bisa diselipkan kekonyolan tanpa harus jadi film "bermuka dua", film ini sekalipun tidak lupa bahwa ini komedi. Buat gw, di situlah salah satu letak keberhasilan film ini. Penyusunan dan penyampaian kelucuannya dalam timing yang baik. Di saat bersamaan, film ini nggak melupakan sisi perkembangan hubungan dua tokoh utamanya dan lapisan lain yang menghindarkannya jadi roman picisan. Situasi dan bahasannya tetap sederhana dan membumi, tetapi tetap bisa menimbulkan efek yang siginifikan secara emosi. Nggak terlalu tiba-tiba dan "sok dalem", tetapi juga nggak serba menggampangkan.

Tetapi, tentu saja kekuatan utama film ini terletak dari akting dan interaksi Reza Rahadian dan Adinia Wirasti, dua aktor muda (well, untuk ukuran perkotaan ya, mungkin di wilayah lain mereka udah kakek nenek =/) kelas berat yang bisa memberi value lebih sama film yang terkesan ringan banget ini. Gw sendiri sangat impressed sama akting konyol tapi cerdas dari Reza, yang kadang memasukkan unsur 'meta' tentang dunia keaktoran Indonesia. Kadang kita lupa bahwa aktor yang hebat adalah yang bisa babat semua genre, dan Reza sanggup melakukannya tanpa beban. I mean, gw lebih suka lihat Reza berakting komikal di film komedi ketimbang berakting serupa di film seperti Habibie & Ainun =p *haterz*. Hal yang sama juga dicapai Asti, yang membuktikan dedikasinya sebagai aktor dengan bisa fit in dengan sebuah film komedi (this is her first comedy, CMIIW) tanpa menanggalkan bobot aktingnya yang luwes.

Well, di sisi lain, segi akting juga jadi salah satu titik kelemahan film ini. Dari cerita dan karakterisasi udah oke (banget), tetapi kadang dari segi akting ensemble-nya kurang padu dan uneven. Reza, Asti, dan Adi Kurdi adalah highlight film ini, tetapi gw juga melihat akting Febiola dan yang jadi suaminya itu masih sangat sinetron, agak jomplang gitu deh jadinya. Dan, di bagian klimaks (if i can call it so) ada satu titik adegan yang dibuat dramatis tapi buat gw agak too much dan menyinetron--sialnya adegannya juga yang melibatkan kedua orang itu. Untungnya saja, adegan ini singkat, ditangkap dengan nggak lebay, dan minimal ada fungsi dalam ceritanya. In the end, nggak merusak cerita secara keseluruhan.

Kesimpulan mudahnya, film ini berhasil menghibur gw tanpa komplain berarti. Gw bisa tertawa lepas baik karena dialog, karakterisasi, akting, juga tata adegannya. Dari segi teknisnya pun gw sangat salut karena digarap dengan serius sekaligus terlihat menyenangkan hasilnya. Mulai dari sinematografi (suka banget adegan dayung "odong-odong" malem hari di Jogja), set artistik, kostum, dan sampai ke original song yang dibawakan Reza di film ini. Bener-bener menyegarkan untuk dilihat dan dinikmati. Gw senang bahwa film ini bisa mengajak penontonnya bersenang-senang ketimbang filmnya seneng-seneng merasa lucu sendiri. Plus, bisa tetap menyampaikan sisi romance dan family-nya dengan baik dan terpadu, dan yang penting bisa menyentuh.

But of course, salah satu yang bikin film ini tambah oke adalah pemakaian kota BEKASI sebagai salah satu lokasi syutingnya, hehehe. Sedikit penjelasan, hotel tempat tokohnya Asti adalah hotel betulan dan salah satu yang terkemuka di Bekasi--and yes, that's including the pool =p, ada juga satu shot perempatan Jl. Ahmad Yani dan Kalimalang di Bekasi (deket hotel itu juga), dan tentu saja adegan negosiasi harga sewa si aktor yang dilakukan di salah satu mal terdekat rumah gw. Wow, bisa bikin paket tur film di Bekasi nih gw =p.




My score: 8/10