Senin, 23 Februari 2015

WINNERS of the 87th Oscars


Woookay, the moment of truth. Perhelatan Oscar ke-87 baru saja kelar 23 Februari pagi tadi, dan mari kita (kita?) cek hasil tebakan gw beberapa hari lalu. Seperti biasa, ini adalah daftar lengkap pemenang Oscar tahun ini, sementara tanda O artinya tebakan gw kemarin benar dan X salah. Here we go.



best picture
BIRDMAN (O)
Yeaaay...seneng karena tebakan bener, bukan karena filmnya, toh belum nonton =p




directing
BIRDMAN (O)
Yeaaay, setelah Alfonso Cuarón tahun lalu menang di Gravity, kini giliran sohibnya, Alejandro González Iñárritu yang karya-karya sebelumnya (21 Grams, Babel) gw kagumi. Giliran Guillermo del Toro kapan nih? =D


actor in a leading role
Eddie Redmayne, THE THEORY OF EVERYTHING (X)
Ah salah kan. Okay, tahun depan, kalau SAG dan BAFTA udah kompak, artinya udah lock di Oscar *selfnote*


actress in a leading role
Julianne Moore, STILL ALICE (O)
Finally, tantenya dapat Oscar *senyum bangga*.



actor in a supporting role
J.K. Simmons, WHIPLASH (O)
J. Jonah Jameson of Spider-Man no more, but Oscar winning actor.


actress in a supporting role
Patricia Arquette, BOYHOOD (O)
I'm already seeing "Oscar winning Actress" label in the forthcoming CSI: Cyber promo...


animated feature film
BIG HERO 6 (X)
Poor DreamWorks.


cinematography
BIRDMAN (O)
Yeaay Emmanuel Lubezki! Tahun lalu dapat untuk yang visual effects driven (Gravity), sekarang dapat untuk yang lebih tradisional. Brava!




costume design
THE GRAND BUDAPEST HOTEL (O)
Tuh kan


film editing
WHIPLASH (X)
Salah tapi pleasant surprise. Tetap senang (sekali) =))


makeup and hairstyling
THE GRAND BUDAPEST HOTEL (X)
Opa-opa Academy memang masih anggap film superhero/blockbuster (eq Guardians of the Galaxy) kurang gengsi buat dapat Oscar. Hih.


original score
THE GRAND BUDAPEST HOTEL (O)
Yeaaay, finally Alexandre Desplat!


original song
"Glory", SELMA (O)
Tuh kan.


production design
THE GRAND BUDAPEST HOTEL (O)
Tuh kan.


sound editing
AMERICAN SNIPER (O)
Tuh kan.


sound mixing
WHIPLASH (O)
Wow, sebenarnya gak nyangka bisa tebak benar. Tapi seneeeeng


visual effect
INTERSTELLAR (X)
Salah tapi pleasant surprise, so tetap senang =))


adapted screenplay
THE IMITATION GAME (X)
Lagi-lagi pleasant surprise. Ternyata banyak yang pemenangnya menyenangkan gw walau tak sesuai tebakan, hehe.


original screenplay
BIRDMAN (O)
As I told you, yang menang di sini bakal menang Best Picture. Fufufu *kagum sama diri sendiri* *takabur*


foreign language film
IDA (O)
Tuh kan.


documentary feature
CITIZENFOUR (O)
Tuh kan.


documentary short
CRISIS HOTLINE: VETERAN PRESS 1 (O)
Wah, jarang-jarang tebak ngasal ternyata bener di kategori ini.


animated short film
FEAST (O)
Tuh kan.


live-action short film
THE PHONE CALL (X)
Ternyata temanya sama dengan pemenang Documentary Short. Ya meneketehe.


Ada sedikit sukacita dari Oscar tahun ini, karena hasil tebakan gw akhirnya menembus batas atas terbanyak! Sebelumnya gw cuma bisa benar 16 dari 24, sekarang gw bisa benar....17 =.=. Ya lumayanlah, jadi tingkat kejituannya sudah 70% *sumringah*

As for my comment for the whole show, tahun ini lagi-lagi acara Oscar yang safe saja. Dengan host Neil Patrick Harris yang menjalankan tugasnya dengan baik sesuai skrip yang diberikan, tidak hebat tapi nggak jelek juga. Dari segi acara keseluruhan ada beberapa momen oke di dalamnya, mulai dari Lego Oscar yang diberikan kepada beberapa tamu selebritis, nice performances dari para nomine Original Song (Adam Levine, Tim McGraw, Tegan and Sara dan The Lonely Island feat. "Batman", Rita Ora, dan John Legend & Common), Alejandro González Iñárritu naik panggung tiga kali, juga desain VT-nya yang keren-keren.

Tapi sebenarnya momen paling gong adalah hadirnya Lady Gaga. Dan, gw rasa performa doi medley lagu-lagu film The Sound of Music dalam cara se"normal" mungkin (dan bahwa dia bisa nyanyi serius layaknya aktris musikal) terbilang mengejutkan dan, actually, mengagumkan. Momen itu tambah gong gong dengan hadirnya legenda dan pemain dari The Sound of Music, Julie Andrews hadir dan memberi pujian pada Gaga. Best moment of the year, what a way to uplift the ratings while the nominated films are mostly not famous.

Dengan hasil yang tidak terlalu menimbulkan apa gimana gitu, Oscar tahun ini berjalan aman terkendali dengan hasil yang lebih kurang memuaskan. Kurang memuaskannya paling karena sebagian besar filmnya kagak tayang di sini hahaha. Anyway, congrats kepada pemenangnya. Eh, btw, pemenang Best Foreign Language Filmnya kali ini dari Polandia, yang notabene benderanya putih merah. Yang benderanya merah putih kapan nih? =D


Minggu, 22 Februari 2015

[Movie] Whiplash (2014)


Whiplash
(2014 - Sierra Affinity/Sony Pictures Classics)

Written & Directed by Damien Chazelle
Produced by Michel Litvak, David Lancaster, Jason Blum, Helen Estabrook
Cast: Miles Teller, J.K. Simmons, Paul Reiser, Melissa Benoist, Austin Stowell, Nate Lang


Kesan inspiratif harus dibuang jauh-jauh dari Whiplash, sebuah film independen Amerika Serikat yang ditulis dan disutradarai Damien Chazelle. Premisnya memang "cuma" tentang seorang pemuda yang berusaha keras menggapai impiannya di dunia musik. Tetapi, proses menuju ke sana tidak bisa dikatakan inspiratif, apalagi memotivasi. Sebab, untuk menggapainya, tokoh utama kita harus membangkitkan sisi gelap dari dirinya.

Dari set up-nya, Whiplash sangat simpel dalam bertutur. Film ini tidak membuat kehidupan tokohnya ribet hanya untuk menambah dramatisasi. Sang tokoh utama, Andrew (Miles Teller) adalah drummer berbakat di sebuah sekolah musik (fiktif) Shaffer Conservatory di New York. Ia anak tunggal dari keluarga berada. Yang disebut "keluarga" pun hanyalah sang ayah (Paul Reiser). Ia tak punya beban apa-apa, tak ada nasib yang harus diubah, hanya ada cita-cita jadi yang terhebat. Memang ada taruhan lain, yaitu hubungan cintanya dengan Nicole (Melissa Benoist), tetapi itu pun tak terlalu menambah beban cerita film ini.

Keseluruhan film ini hanya ingin bercerita tentang Andrew, pemuda 19 tahun yang ingin jadi drummer jazz terhebat. Bagi Andrew, itu bisa digapai bila ia berada di bawah ajaran Fletcher (J.K. Simmons), pengajar paling killer di sekolah itu. Itu saja. Tetapi, dari sana pun dramatisasinya tetap bisa dihidupkan. Sebab, satu orang Fletcher saja sudah merupakan perwujudan segala macam hal yang mungkin bisa jadi penghalang bagi Andrew. Ajaran keras Fletcher yang tak ragu memaki dan tak ingin dibantah benar-benar menguras emosi Andrew, bahkan membuatnya perlahan jadi orang yang berbeda.

Apa yang ditampilkan di film Whiplash mungkin agak asing bagi kita di Indonesia, yang terbiasa melihat para musisi bisa sukses dan kaya hanya lewat teknik-teknik sederhana yang dipelajari otodidak. Bahkan, mungkin konsep "pendidikan musik" akan lebih diasosiasikan dengan kursus dan ekstrakurikuler ketimbang sekolah tinggi. Memangnya ada orang yang begitu kerasnya ingin jadi pemusik sampai stres, berkeringat, dan berdarah-darah, serta harus tahan ajaran keras menyerempet bullying dari pelatihnya? Jawabannya, bisa saja, setidaknya menurut film ini.

Whiplash pada dasarnya mengajak penontonnya menyelami sisi terdalam dari Andrew, khususnya sebagai musisi bercita-cita besar. Andrew memang bukan orang yang paling sosial, tidak bisa dibilang ramah, dan itu pula yang menyebabkannya tak punya teman. Namun, itulah yang membuatnya makin terobsesi untuk jadi yang terhebat. Ia tak mudah terima jika dirinya diremehkan atau disaingi, apalagi menyangkut dunia musik yang jadi kebanggaan satu-satunya.

Kebanggaan itu pun makin timbul ketika ia diajak masuk band jazz asuhan Fletcher. Siapa yang tak bangga, Fletcher si dosen killer malah memberi pujian pada bakat Andrew. Namun, tentu saja itu tak bertahan lama. Kebanggaan yang terangkat itu malah dijatuhkan dengan cepat oleh metode Fletcher yang keras. Semakin Andrew berusaha keras, semakin tak akan pernah cukup bagi Fletcher. Kebanggaan itu berganti jadi kebencian, menggerogoti Andrew dan berimbas orang-orang terdekatnya yang tidak banyak itu. Padahal, di sisi lain, cara mengajar Fletcher tampaknya tidak sejauh itu pengaruhnya bagi anggota band lain. Mungkin masalahnya ada pada Andrew?

Fokus Chazelle pada apa yang dirasakan tokoh Andrew terbilang sangat menarik. Ia menunjukkan bahwa tanpa hal-hal bombastis pun, sebuah film tentang seseorang menggapai cita-cita juga tetap bisa mengaduk-aduk emosi. Tidak ada yang terlalu dilebih-lebihkan di sini, hanya proses Andrew berlatih dan bermain drum, ditabrakkan dengan karakter Fletcher yang menggemblengnya tanpa ampun. Well, ada sedikit aksesori tambahan seperti tangan berdarah-darah dan kecelakaan, tetapi semuanya hanya untuk menunjukkan betapa besar tekad Andrew.

Hal yang juga menarik adalah bagaimana film ini memaksimalkan sesi latihan dan pertunjukan di panggung untuk adegan-adegan pentingnya, termasuk di adegan pamungkasnya. Lagi-lagi sebenarnya tidak ada yang berlebihan atau menyimpang secara logika dari adegan-adegan itu, tapi tetap punya dampak luar biasa lewat intensitas dialog dan gestur, serta permainan emosinya. Ini terutama dibantu oleh performa bagus dari Teller (yang memang punya dasar bermain drum) dan Simmons. Seolah-olah, ketika Simmons sebagai Fletcher mendamprat Andrew, penonton juga ikut tertampar. Ketika Andrew berlaku ceroboh, penonton bisa ikut waswas.

Ditambah kemasan audio visual yang lincah—serta alunan musik jazz yang asyik, akan sangat mudah untuk menikmati Whiplash dari awal hingga akhir. Sebuah film yang sederhana, clean and simple, tak terlalu banyak bicara, tak terlalu panjang lebar juga. Tetapi, bisa langsung mengena berkat keterampilannya dalam mempermainkan emosi, menuturkan plot, dan memasukkan unsur black comedy tanpa merusak mood keseluruhan filmnya.

Problem film ini cuma satu, yaitu dari permukaan mungkin kurang bisa menarik minat orang banyak. Premisnya terdengar sangat tidak istimewa, seseorang belajar main musik dari guru galak. Apalagi, jenis musik yang diangkat di sini adalah jazz, yang bisa dikatakan punya segmen tidak terlalu luas. Dan, tentu saja, anggapan "main musik kok begitu amat?" mungkin masih menimbulkan keraguan bagi beberapa orang untuk coba menonton film ini. Padahal, isi filmnya sendiri sanggup mematahkan keraguan itu.

Well, mudah-mudahan fakta bahwa film ini masuk lima nominasi Oscar tahun ini (Best Picture, Best Adapted Screenplay, Best Film Editing, Best Sound Mixing, dan Best Supporting Actor untuk Simmons), juga menang penghargaan tertinggi dari juri dan penonton sekaligus di Sundance Film Festival tahun lalu, bisa cukup meyakinkan lebih banyak orang untuk menyaksikannya. Menyaksikannya entah untuk menikmati ceritanya, performa pemainnya, atau pun musiknya. Semoga bukan untuk terinspirasi Andrew.




My score: 8/10


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

[Movie] Unbroken (2014)


Unbroken
(2014 - Universal)

Directed by Angelina Jolie
Screenplay by Joel Coen, Ethan Coen, Richard LaGravenese, William Nicholson
Based on the book by Laura Hillenbrand
Produced by Matthew Baer, Erwin Stoff, Clayton Townsend, Angelina Jolie
Cast: Jack O'Connell, Domhnall Gleeson, Garrett Hedlund, Miyavi, Finn Wittrock, Jai Courtney, Alex Russell, John Magaro, Luke Treadaway


Harus diakui, daya tarik utama film Unbroken adalah sutradaranya, Angelina Jolie. Ini memang bukan film pertama dari aktris pemenang Oscar tersebut sebagai sutradara. Tetapi, ini adalah film "Hollywood" pertamanya (film pertamanya, In the Land of Blood and Honey memakai bahasa Bosnia dan Serbia). Untungnya, Jolie sanggup mempertanggungjawabkan ekspektasi tersebut dengan sebuah sajian dengan nilai produksi tinggi. Namun, di sisi lain Jolie sedikit terhanyut dalam ceritanya sendiri, sehingga kurang bisa menyampaikan poinnya dengan jelas.

Unbroken diangkat dari sebuah buku karangan Laura Hillenbrand, berdasarkan kisah nyata dari seorang mantan atlet nasional AS cabang atletik di Olimpiade Berlin 1936, Louis "Louie" Zamperini. Zamperini tidak hanya menarik karena punya prestasi kelas dunia, tetapi ia jadi salah satu prajurit AS yang sanggup bertahan hidup sebagai tahanan perang Jepang di Perang Dunia II. Setelah perang berakhir, ia pun membagi berbagai pengalamannya yang luar biasadalam berbagai kesempatan sebagai pembicara inspirasional berbasis religi Kristen.

Dari sana, film Unbroken mengambil episode paling dramatis dari kehidupan Zamperini. Saat menjalankan misi di Samudera Pasifik di tahun 1943, pesawat militer yang dinaiki Zamperini mengalami kecelakaan, membuat Zamperini dan dua rekan lain yang selamat terapung-apung selama lebih dari 40 hari. Mereka berhasil ke darat, namun karena diangkut oleh tentara Jepang, mereka dijadikan tahanan perang hingga tahun 1945.

Dalam menuturkan kisah Zamperini, film ini rupanya tidak hanya ingin memperlihatkan secara lebih dekat bagaimana ia mampu terus bertahan di tengah penderitaan yang begitu panjang. Film ini juga sepertinya ingin menghormati status Zamperini (yang baru wafat pertengahan tahun 2014) sebagai sosok inspirator religius. Alhasil, film ini bisa juga dipandang dalam perspektif iman Zamperini itu. Atau, setidaknya itulah niatnya.

Sayangnya, Unbroken kurang bisa menyatukan niat-niat itu menjadi sebuah tontonan yang terintegrasi. Film ini awalnya disajikan layaknya biografi Hollywood lazimnya, yaitu perkenalan sosok Louie Zamperini (Jack O'Connell) dari kecil hingga jadi atlet Olimpiade, lalu beranjak pada pengalaman luar biasa di Samudera Pasifik dan di kamp tahanan Jepang. Namun, film ini jadi tersandung ketika masuk dalam niat menjadikan film ini inspiratif dan memotivasi.

Memang ada khotbah di gereja tentang pengampunan, ada doa penyerahan diri, ada pula ucapan motivasional dari kakak Louie, Pete (Alex Russell), "If you can take it, you can make it". Tetapi, semuanya itu ditampilkan bak tempelan saja, hanya diucapkan tanpa benar-benar kentara penerapannya dalam adegan-adegan selanjutnya di film. Yang lebih banyak ditunjukkan secara detail di film ini justru bagaimana pesawat Louie jatuh, bagaimana Louie dan kawan-kawan bertahan hidup di laut lepas, dan bagaimana Louie disiksa di kamp tahanan dan disuruh kerja paksa. Nilai-nilai motivasi yang sudah dicoba ditanam di awal, seakan tenggelam.

Alhasil, film ini baru ketahuan sebuah "film inspiratif" ketika muncul teks keterangan di akhir film. Bahwa poin dari semua cerita ini adalah bagaimana Zamperini pantang menyerah untuk hidup, lalu kemudian mempersembahkan hidupnya untuk melayani Tuhannya, dan bahwa ia mau berdamai dan mengampuni semua anggota tentara Jepang yang menyiksanya sedemikian rupa. Termasuk pemimpinnya, Watanabe (dimainkan bintang rock Jepang, Miyavi), yang entah kenapa selalu menjadikan Zamperini target kekejamannya. Padahal, petunjuk bahwa film ini mengarah ke poin tersebut nyaris tak ada.

Akan tetapi, di luar kurang sinkronnya cerita yang dituturkan dengan niat yang mau disampaikan, Unbroken bukanlah sebuah persembahan yang buruk. Bila dipandang sebagai sebuah kisah deskriptif tentang masa-masa penderitaan Zamperini, film ini menjalankannya dengan baik. Dari adegan-adegannya pun, bisa ditangkap rasa pedih dan miris yang harus dirasakan Zamperini kala itu, sekalipun penyajiannya tidak terlalu vulgar. Hal ini kemudian diperkuat oleh akting para pemainnya, serta presentasi gambar yang cantik dari penata sinematografi Roger Deakins, yang menambah nilai melankolisnya.

Film ini pun cenderung tidak mau terjebak pada glorifikasi perang. Meski digambarkan tentara Sekutu dieksploitasi habis-habisan oleh Jepang, tetapi film ini juga memperlihatkan dampak buruk perang di sisi Jepang, terutama setelah perang dinyatakan usai. Ini mungkin bisa dimengerti bila mengenal Jolie yang memang sering terlibat dalam kegiatan misi kemanusiaan. Adegan perang di film ini pun termasuk minim, hanya ada adegan perang di udara di awal film yang ditata intens.

Film ini pada akhirnya lebih banyak berfokus pada dampak perang, khususnya bagi Zamperini. Film ini sudah cukup baik hanya dengan itu. Seandainya penanaman nilai-nilai "inspiratif"-nya lebih baik dan mulus, mungkin film ini bisa lebih sempurna.





My score: 6,5/10


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

[Movie] Jupiter Ascending (2015)


Jupiter Ascending
(2015 - Warner Bros.)

Written & Directed by The Wachowskis
Produced by Andy Wachowski, Lana Wachowski, Grant Hill
Cast: Mila Kunis, Channing Tatum, Eddie Redmayne, Douglas Booth, Sean Bean, Tuppence Middleton, Maria Doyle Kennedy, Gugu Mbatha-Raw, Nikki Amuka-Bird, Doona Bae, David Ajala, Kick Gurry, James D'Arcy, Jeremy Swift


It's something new and it's from The Wachowskis duo. Gimana nggak excited? Tapi excited-nya gw juga tetap dengan kewaspadaan. Dari lima film yang mereka yang udah gw tonton (Trilogi The Matrix, Speed Racer, Cloud Atlas), ada kecenderungan bahwa film-film mereka itu "harus" ngejlimet dalam bercerita sehingga sulit untuk dinikmati secara total. Walaupun, semuanya terbayar dengan cara mereka menampilkan tata visual dan adegan laga yang pasti keren. Karena itu, gw cukup surprised bahwa Jupiter Ascending adalah karya The Wachowskis yang paling nggak ribet. Film ini bagaikan dongeng ringan dengan berbagai aksesori mewah sana-sini, tidak ada metafora filosofi bla-bla-bla yang terlalu fancy, hanya sebuah cerita action adventure yang sedap dipandang. But, I like it.

Sedikit sinopsis ya. Jupiter Jones (Mila Kunis) adalah wanita biasa yang hidup struggling sebagai seorang imigran ilegal di AS, dengan kerja jadi tukang bersih-bersih di rumah-rumah. Tetapi, yang dia nggak tahu adalah jati dirinya begitu penting di jagad raya, bahwa ia adalah "perulangan" dari seorang ratu yang telah meninggal dari keluarga antariksa, Abrasax. Jupiter pun ditetapkan sebagai penerus tahta dan kekuasaan ratu tersebut. Cuma, ketiga anak ratu tidak semuanya sependapat, sehingga dengan tujuan masing-masing mereka ingin sabotase Jupiter. Menghadapi semua ini, Jupiter didampingi oleh seorang tentara  dengan gen separuh gen serigala, Caine (Channing Tatum). Apakah Jupiter kemudian berhasil memperoleh (atau menerima?) tahta itu atau tidak, that's kinda the point of the film.

Bisa dibilang Jupiter Ascending sedikit melebihi harapan gw, atau mungkin lebih tepatnya masih di bawah kekhawatiran gw terhadap karya The Wachowskis. Ya itu tadi, gw sih nggak menyangka bahwa The Wachowskis yang bikin otak panas sembari menyajikan visual gila di The Matrix bisa-bisanya nyomot pakem cerita princess-princess-an, telenovela, sampe Shakespearean (ini sotoy aja sih gw biar kesannya gw berwawasan luas =p) yang bener-bener light, dan dikemas dalam dunia layaknya Star Wars, Star Trek, dan sejenisnya--sebutannya space opera. I mean, ternyata mereka bisa juga nyantai. 

Bukti tambahannya lagi adalah film ini adalah yang paling humoris dari film-film Wachowskis, baik dari situasi maupun dialog-dialognya. Imagine that, The Wachowskis bikin film dengan unsur komedi yang intentional (bukan bikin ketawa pasrah kayak Speed Racer =p). Itu dan tentu saja adegan-adegan laga yang intens dan cool yang jadi keahlian Wachowskis, bagaikan menyatakan, bahwa mereka tidak ingin penontonnya thinking too hard dalam menonton film ini seperti yang terjadi di karya-karya mereka yang lain. So why should we?

Tapi dibilang ringan-ringan banget juga nggak sih. Wachowskis belum terlalu melepaskan kecenderungan mereka menempatkan berbagai lapisan dalam ceritanya. Rancangan dunia di Jupiter Ascending ini terbilang menarik, karena bukan soal alien atau magis, tetapi sejauh mana teknologi bisa mempengaruhi manusia, baik dari cara hidup maupun cara pandangnya. Diceritakan, saking canggihnya pengetahuan manusia yang menguasai semesta seperti keluarga Abrasax, mereka bisa "membudidayakan" manusia bikinan di planet lain, serta mengendalikannya bagai ternak, tanpa disadari oleh si ternak sendiri. Ketika para pemburu kesulitan mencari Jupiter di bumi, gw juga menangkap bahwa itu seperti kita punya ternak ayam kemudian harus mencari satu individu ayam dengan ciri spesifik. 

Ada yang bilang ini seperti sindiran kapitalisme, ada juga yang bilang ini semacam pengulangan dari The Matrix (emang agak gitu sih). Tapi gw rasa justru ada poin lebih dari ide ini, bahwa mungkin sejauh itulah manusia bisa memanfaatkan manusia lain yang dianggap lebih nggak bernilai demi keuntungan diri sendiri. Atau apalah.

Balik lagi, buat gw Jupiter Ascending adalah sebuah tontonan harmless yang menghibur, baik dari penataan adegan maupun rancangan visual yang luar biasa. As in luarrr biasa. Ide gravity boots dan adegan kejar-kejaran di langit Chicago itu breathtaking sekali buat gw. Adegan upacara kawin-kawinan itu juga gokil, detil hiruk pikuk planet Orous, dan setiap desain makeup-nya bikin geleng-geleng. Yang paling bikin "nggak terima" adalah betapa visual effects-nya benar-benar tampak effortless sekalipun gw tahu itu bikinnya pasti rumit. Cakep bener deh nggak bohong.

Well, bukan berarti film ini tanpa gangguan sih. Gw punya sedikit masalah untuk memahami kode etik dan hukum yang dianut para makhluk "khayangan" sehingga ada yang namanya "royalty" dan juga "polisi" dan sebagainya. Mungkin karena kurang waktu atau gimana, semuanya diceritakan sambil lalu aja, jadi sekali nonton gw nggak bisa nangkep (pas kedua kali nonton agak mending sih). Tapi mungkin yang paling fatal adalah bagaimana dibangunnya romansa Jupiter dan Caine yang benar-benar lemah. Jatuh cinta karena si cowok menyelamatkan si cewek dari ancaman, deuh Twilight banget sih. Gw mencoba positip tingking bahwa itu disengaja untuk menguatkan kesan "klise" agar filmnya jadi agak ringan, tapi sayangnya itu diterjemahkan juga secara lemah oleh Kunis dan Tatum yang menurut gw pairing-nya maksa. 

Tapi, yaaaaah *nada tinggi* tetap aja, gw nggak bisa memungkiri gw sungguh menikmati film ini. Down to it's ridiculousness in some points, hehe. Paling nggak, film ini sukses memamerkan skalanya yang besar lewat audio visualnya, konsepnya nggak sulit dimengerti, dan, lagi-lagi, adegan action-nya yang menggelegar. Salah satu film yang kembali mengingatkan kenapa gw butuh nonton film di layar besar bioskop.





My score: 7,5/10

Jumat, 20 Februari 2015

Tebak-Tebakan Pemenang The 87th Oscars

Hey, it's that time of the year again. Walau gw akhir-akhir ini ngeblognya kudet kurang update *berasa Raditya Dika*, event besar seperti Oscar ya nggak boleh ketinggalan dong. Of course, postingan tebakan gw untuk pemenang Oscar juga harus jalan.

Oscar yang tahun ini masuk penyelenggaraan ke-87 sebenarnya kurang exciting bagi penonton arus utama seperti gw. Sebab, unggulan-unggulan utamanya sebagian besar belum gw tonton, entah itu emang belum tayang, pas tayang gw ketinggalan, atau emang gw nggak niat mengunduh secara ilegal karena nggak bisa sediain waktu buat nonton. Di AS sendiri, film-film unggulan utamanya juga emang kurang melejit di box office. Well, that explains kenapa acara Oscar nanti bintang tamu musiknya agak jor-joran, dari Adam Levine, Tim McGraw, sampe Lady Gaga.

Tetapi, seperti yang pernah gw kemukakan, nebak pemenang Oscar sebenarnya gak perlu nonton filmnya dulu. Tinggal ikuti saja pemberitaan film di Hollywood, dan dari situ bisa kira-kira harus menebak ke arah yang mana. Tapi emang ada unsur hokinya juga sih kalau menebak dengan tepat. Gw aja paling sukses bisanya tebak benar dua pertiganya aja, belum pernah lebih. Udah coba tambah pengetahuan, ngecek kebiasaan para voters di Academy of Motion Pictures, Arts and Sciences (AMPAS) yang rata-rata udah bapak dan opa, dan bertapa siang malam, tetep aja gw masih kurang andal *curhat* *single tear*.

But anyway, menebak pemenang Oscar itu selalu menyenangkan dan walau tebakan gw belum pernah mendekati 100 persen, I just keep doing it. Tapi kali ini agak pasrah sih, gak ada target apa-apa, wong film-filmnya juga dikit banget yang dikenal. Untuk nominasinya bisa dilihat di sini. Sedangkan untuk tebakan gw, here they are...




Kamis, 19 Februari 2015

[Movie] Nada untuk Asa (2015)


Nada untuk Asa
(2015 - MagMA Entertainment/Sahabat Positif Komsos KAJ)

Written & Directed by Charles Gozali
Produced by Hendrick Gozali
Cast: Marsha Timothy, Acha Septriasa, Darius Sinathrya, Nadila Ernesta, Mathias Muchus, Inong Nidya Ayu, Wulan Guritno, Butet Kertaradjasa, Tri Yudiman, Donny Damara, Irgi Fahrezi, Pongki Barata


Kisah tentang pengidap HIV yang harus berjuang melawan penyakitnya, sekaligus bertahan dari pandangan miring dari orang-orang sekitar. Sekilas premis film Nada untuk Asa tersebut terdengar seperti film melodrama Indonesia yang lagi-lagi memanfaatkan penyakit untuk meminta belas kasihan dari penontonnya. Tetapi, Nada untuk Asa rupanya menawarkan lebih daripada air mata. Bahkan, ada satu informasi yang di dunia nyata mungkin luput dari perhatian banyak orang: HIV bukan berarti vonis mati.

Ditulis dan disutradarai oleh Charles Gozali (Finding Srimulat), Nada untuk Asa dituturkan dengan cara yang cukup berbeda dari film drama biasa. Alurnya mengikuti dua tokoh berbeda dalam dua masa yang berbeda pula—namun ditampilkan selang-seling. Yang pertama adalah Nada (Marsha Timothy) seorang janda dengan tiga anak yang baru mengetahui ia positif HIV. Yang kedua adalah Asa (Acha Septriasa), seorang perempuan muda yang hidup dengan HIV sejak kecil, dan mendapat perlakuan tak adil karena penyakitnya itu. Asa adalah anak bungsu dari Nada.

Meski punya kaitan, dua alur ini memang dibuat cukup kontras. Kisah Nada adalah tentang sebuah keluarga yang awalnya kokoh, tiba-tiba terguncang oleh kenyataan bahwa seseorang mengidap penyakit yang sangat ditakuti. Satu per satu, ikatan keluarga yang tadinya erat menjadi kendor, terutama akibat stigma tertanam bahwa HIV adalah "penyakit orang nggak benar".

Belum lama suaminya meninggal, Nada kemudian tahu suaminya (Irgi Fahrezi) pernah selingkuh dan positif HIV. Lalu belakangan menularkan virus itu pada diri dan putri mereka, Asa. Bagian inilah yang mungkin paling mirip dengan kisah melodrama pada umumnya. Air mata Nada, dan orang-orang di sekitarnya, benar-benar diperas di sini. Bakal terasa melelahkan juga melihat bahwa hampir di setiap adegan Nada ditampilkan menangis. Bahkan, dua atau tiga adegan di antaranya, orang-orang di sekitar Nada satu per satu juga ikutan menangis.

Tetapi, perlu dipahami bahwa tangisan di film ini memang bukannya dipaksakan. Kesedihan dan keterpurukan yang digambarkan pada bagian kisah Nada memang berfungsi untuk menyampaikan rasa yang dialami Nada sendiri. Lebih dari persoalan penyakit, tetapi bagaimana ia berjuang untuk menerima keadaannya, dan juga bisa dirangkul oleh keluarganya sendiri. Perlakuan yang diterima Nada memang heartbreaking, namun tidak dikemas mengada-ada. Inilah yang membuat mellow-nya kisah Nada cukup acceptable, meskipun belum tentu mudah dinikmati.

Sebaliknya, kisah Asa terlihat lebih cerah dan manis. Sikapnya pun jauh berbeda dengan Nada, karena Asa digambarkan sudah pada tahap menerima keadaannya, dan sudah terbiasa menguatkan diri ketika mendapat perlakuan diskriminatif. Ketimbang meratapi penyakit, ia berkonsentrasi mewujudkan mimpinya dalam hidup. Lalu datanglah Wisnu (Darius Sinathrya), pemuda yang perhatian pada Asa. Kebetulan, Wisnu mengerti betul tentang orang-orang positif HIV seperti Asa. Namun, ini justru membuat Asa tak yakin Wisnu tahu betul apa yang ia lakukan dengan mendekati Asa.

Pada dasarnya kedua alur ini ingin menyampaikan nilai-nilai yang sama. Keduanya berbicara tentang beratnya perlakuan yang diterima oleh orang-orang positif HIV, yang mungkin jadi persoalan yang lebih kompleks ketimbang pengobatannya. Ditunjukkan pula bahwa, sekalipun sudah lewat satu generasi, stigma dan pengetahuan masyarakat tentang HIV belum kunjung berubah.

Kedua tokoh ini punya pergulatan yang sama, namun dengan sikap yang berbeda: Nada adalah masa rapuh, Asa adalah masa tegar. Kisah Asa bisa saja disederhanakan sebagai penyeimbang porsi melodrama kisah Nada, dan itu adalah cara yang sangat baik untuk tidak membuat film ini jatuh terlalu cengeng. Bayangkan saja ada berapa tokoh lagi yang bakal "ketularan" menangis jika hanya ada kisah Nada di film ini.

Meski punya materi cerita yang baik, di saat bersamaan Nada untuk Asa mungkin belum terasa sempurna sebagai sebuah sajian sinematik. Walau film ini memerhatikan detail artistik seperti kostum dan properti yang menandakan perbedaan zaman dengan efektif, film ini memang hanya berskala kecil, dan production value-nya sangat sederhana untuk ukuran film bioskop. Dialog yang preachy di beberapa tempat mungkin masih bisa dimaklumi, mengingat tujuan awal film ini adalah inspirasional. Namun, beberapa penataan adegan masih terbawa pada dramatisasi "gaya lama"—seperti bercakap-cakap tanpa saling berhadapan, dan satu adegan yang maunya sekadar mengundang senyum jatuhnya seperti sketsa komedi di TV.

Otomatis, Nada untuk Asa harus mengandalkan cerita dan akting pemainnya untuk mengangkat nilai keseluruhan film ini. Untunglah, hal itu bisa disanggupi. Penampilan Marsha dan Acha patut mendapat pujian, terutama karena sanggup mengangkat karakter mereka secara dramatis tanpa harus jadi over-the-top.

Satu lagi hal lagi yang membuat Nada untuk Asa punya nilai lebih adalah caranya menyampaikan "penyuluhan" yang mulus tentang HIV/AIDS. Seakan mematahkan kebiasaan film dan sinetron Indonesia dalam menggambarkan penderita penyakit berat, film ini lebih menunjukkan tokoh-tokoh utamanya menderita karena sikap orang-orang di sekitarnya, bukan penyakitnya. Bahkan mereka tidak terlihat sakit. Film ini mengingatkan bahwa HIV—walaupun belum bisa disembuhkan—bisa ditangani dengan pengobatan dan pola hidup sehat. Alhasil, pengidapnya bisa tetap hidup bugar. Mungkin bukti yang paling populer bisa dilihat di mantan pebasket NBA, Magic Johnson yang postif HIV selama 20 tahun lebih tapi tidak pernah terlihat kurus. Jadi, walau tidak sempurna, setidaknya Nada untuk Asa berhasil untuk tidak keliru.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Rabu, 18 Februari 2015

[Movie] Foxcatcher (2014)


Foxcatcher
(2014 - Sony Pictures Classics/Annapurna Films)

Directed by Bennett Miller
Written by E. Max Frye, Dan Futterman
Produced by Megan Ellison, Jon Kilik, Anthony Bregman, Bennett Miller
Cast: Channing Tatum, Steve Carell, Mark Ruffalo, Sienna Miller, Vanessa Redgrave, Anthony Michael Hall


Film Foxcatcher bukanlah film olahraga, bukan pula film biografi seperti dalam pengertian umum. Film ini dibuat berdasarkan sebuah kasus kriminal yang cukup besar terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1996, dengan latar belakang bidang olahraga gulat (gaya romawi, bukan WWE) tingkat nasional. Sutradara Bennett Miller dan timnya mengambil penceritaan yang berangkat dari pertanyaan "mengapa" dan "bagaimana" kasus itu terjadi. Dengan berpatokan demikian, Foxcatcher yang ritme ceritanya cukup lambat ini akan lebih mudah dipahami maksudnya.

Kasus yang dimaksud adalah terbunuhnya seorang mantan atlet gulat peraih medali emas Olimpiade Los Angeles 1984—yang jadi pelatih gulat, Dave Schultz, oleh miliarder John du Pont, yang tak lain adalah pemilik dan pemberi dana pusat pelatihan gulat Foxcatcher. Kasus ini terbilang cukup mengusik, selain karena Dave adalah atlet yang pernah mengharumkan bangsa AS, du Pont sendiri berlatarbelakang  keluarga kaya terhormat, dan hubungan di antara mereka diketahui tidak bermasalah. Film Foxcatcher pun mencoba menganalisis bagaimana itu tersebut bisa terjadi.

Film diawali dengan perkenalan kakak beradik Schultz, Mark (Channing Tatum) dan Dave (Mark Ruffalo). Keduanya adalah juara gulat di kelas berbeda di Olimpiade 1984, namun keduanya punya imej yang berbeda. Kelihatan sekali bahwa Dave, yang memang lebih ramah dan diandalkan, memiliki hidup yang lebih mapan, dan menikmati perannya sebagai pelatih gulat di kotanya. Sementara Mark yang masih muda dilanda kejenuhan, karena hidup sebagai peraih medali emas Olimpiade tidak memberinya kesejahteraan yang diharapkan.

Kesempatan hidup lebih baik datang lewat tawaran John du Pont (Steve Carell), yang telah membangun fasilitas pelatihan gulat termutakhir di tanah milik keluarganya, yang disebut Foxcatcher. Mengaku sebagai penggemar olahraga gulat namun tak bisa jadi atlet, John menawarkan Mark untuk menggunakan fasilitas itu dan melatih atlet-atlet gulat lain, dengan target meraih juara lagi di Olimpiade Seoul 1988. Tentu saja, Mark juga diberi bayaran dan fasilitas mewah.

John sendiri tadinya ingin Mark mengajak Dave, tetapi Dave menolak dengan alasan tidak ingin pindah kota demi anak-istrinya. Mark sendiri tidak terlalu berusaha meyakinkan Dave, toh inilah saatnya Mark bisa bersinar tanpa bayang-bayang kakaknya.

OBSERVASI KARAKTER

Secara perlahan, Foxcatcher membuat paparan terhadap sisi psikologis para tokohnya. Ada Mark yang sedang menghidupi impiannya, ada pula John yang akhirnya bisa bersentuhan langsung dengan dunia gulat yang dicintainya, bahkan menyandang  panggilan coach. Namun, keduanya seperti tidak siap untuk itu.

Mark terlena dengan kehidupan mewah bahkan terjerembab dalam narkotika. Demikian juga John yang punya hubungan yang kompleks dengan ibunya (Vanessa Redgrave), yang menganggap gulat bukan olahraga berkelas. Segala tindakan dan kepedulian John bermuara pada hasratnya untuk membuktikan bahwa ia bisa jadi kebanggaan lewat hal yang digemarinya. Ketika itu tak berjalan sesuai kemauannya, John pun menunjukkan gelagat yang janggal, dan turut berpengaruh terhadap Mark dan sasana gulatnya. Segalanya bertambah rumit ketika Dave ikut terseret.

Dengan pilihan angle cerita dan penggarapannya, Foxcatcher nyatanya tidak ingin terpaku pada teknik procedural—penyelidikan tentang terjadinya sebuah kejahatan. Miller memilih mengajak penonton untuk mengamat-amati karakaternya dengan saksama (lewat adegan-adegan yang cukup panjang), dan kemudian membaca apa yang menyebabkan kasus itu terjadi dari segi psikologis. Ini seperti yang dilakukan Miller dalam film Capote (2005), hanya saja tanpa sosok Truman Capote yang menjadi wakil penonton dalam mengamati sisi psikologis seorang terpidana kasus pembunuhan.

Dengan kata lain, Foxcatcher ini termasuk tidak mudah untuk dinikmati. Apalagi, sudah terbaca bahwa film berdurasi 129 menit ini akan semakin kelam di belakangnya. Walaupun sebenarnya, secara struktur dan estetis, tidak ada masalah dengan film ini. Apa yang ditunjukkan di sepanjang film bukannya tidak mudah dipahami, segalanya punya pay off pada akhirnya.

Demikian juga para aktornya bermain dengan sangat baik dalam menyampaikan apa yang ada di benak tokohnya meski tanpa banyak kata, menguatkan fokus film ini yang lebih banyak ke karakter. Tak sulit untuk bisa melihat bahwa Mark mengalami depresi, John yang perlahan termakan oleh obsesinya agar bisa jadi "seseorang" yang berarti, juga Dave yang punya empati luar biasa, baik terhadap Mark maupun John. Semuanya disajikan lewat adegan-adegan yang dirancang dengan teliti, agar bisa dilihat tanpa perlu penjelasan lagi.

Film ini bukannya sulit untuk dipahami. Hanya saja, dengan penyampaian yang tanpa unsur keceriaan atau hampir tak punya ledakan emosi, bisa dibilang butuh konsentrasi lebih untuk bisa mengikuti film ini hingga akhir.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

[Movie] Rock N Love (2015)


Rock N Love
(2015 - Apollo Pictures)

Directed by Hedy Suryawan
Written by Syamsul Hadi
Produced by Hedy Suryawan, Ayu Indirawanty, Sandy Tanarius
Cast: Tantri "Kotak", Cua "Kotak", Cella "Kotak", Denny Sumargo, Vino G. Bastian, DJ Una, Ganindra Bimo, Erwin Moron, Shae, Dicky Otoy, Spencer Jeremiah


To be honest gw nggak ngerti maksud dan tujuan dibuatnya film ini apa. Biografi (seperti Slank Nggak Ada Matinya) bukan, dokumenter (kayak Noah Awal Semula) bukan, film lucu-lucuan (seperti Purple Love atau film-filmnya Cherrybelle) pun bukan. Well, it depends definisi "lucu-lucuan" seperti apa sih. Oke, dari segi jualan bisalah ini film untuk menggaet penggemar band Kotak ke bioskop menonton idola mereka. Tapi, buat apa juga? Kalau penampilan musik mereka nggak segitu banyak, dan kisah pribadi yang ditawarkan juga cuma re-enactment yang belum tentu sesuai fakta. Entah fanservice macam apa yang hendak ditampilkan film ini. Cuma ada beberapa cerita yang sebenarnya biasa saja, masukin band Kotak, udah nggak diapa-apain lagi.

So, sepenangkapan gw, Rock N Love ingin mengkompres beberapa pengalaman (katanya) nyata band Kotak dan masing-masing personelnya menjadi sebuah tontonan fiksi di bioskop. Secara grup--di sini ceritanya belum dapat label tapi sudah manggung di mana-mana, mereka hendak bertarung untuk mendapat tempat di final rock show bergengsi, tapi dapet intimidasi dari band saingan yang demen bilang anjing, banci, jongos, dan variasi fuck sambil teriak-teriak sok-sok galak. Katanya sih bagian ini ingin menunjukkan bahwa Kotak tidak sama dengan band itu. Meski kadang terprovokasi, mereka tetap cinta damai dan...yah...akan mendapat berkahnya suatu saat nanti.

Lalu, ada persoalan cinta masing-masing personelnya (hence the title). Ada Tantri yang selalu cranky gara-gara tunangannya yang berwujud Vino G. Bastian lebih mementingkan pekerjaan daripada memerhatikan dirinya. I mean like, wow, seriously, vokalis band rock marah-marah sama kekasihnya yang punya a day job, a job with tunjangan dan asuransi? That is unacceptable. Makanya gw langsung nge-judge bahwa Tantri di film ini (entah di dunia nyata seperti apa) egois setengah mati, marah-marahnya juga jadi nggak beralasan. Anyway, ada pula si gitaris dan anak motor Cella yang ditolak lamarannya kepada kekasihnya karena orang tua si cewek risih sama jati diri Cella. Tak berapa lama, Cella mulai menemukan cinta lagi dengan gadis berjilbab fan Kotak. Lalu sebagai comic relief, ada kisah Cua yang di-stalk sama seorang fan culun, tapi kemudian jatuh cinta....sama cowok lain yang ganteng. Yakali sama fan culunnya =p.

On the high note, gw harus mengakui usaha dari para personel Kotak yang baru pertama main film ini oke. Mereka bertiga kelihatan berusaha untuk bisa berakting, baik saat keadaan dramatis maupun santai, sehingga tidak ada kekakuan yang berarti. Well, kalau batas bawahnya adalah Elsa Syarief di film Mursala, Kotak ini masih jauh di atasnya =p. Segi akting di film ini juga dibantu banget sama kehadiran Vino dan *surprisingly* the singer we all didn't know is famous (?) named Shae. Gw akui, dari sisi ini filmnya bisa memberi hiburan tersendiri. Oh, film ini juga nggak segan membiarkan personel Kotaknya saling bercanda dan mengumpat ketika marah. Ada sedikit nilai agak realistislah.

Tetapi sisanya, gw cuma bisa geleng-geleng kepala. Ceritanya sangat uninspiring dan disusun tanpa visi dan niat yang jelas, seperti gw singgung di awal. Tidak ada nilai plus dari menyaksikan film ini, entah itu pengetahuan tentang Kotak atau seluk beluk dunia musik Indonesia. None. Beberapa dialog disusun dan ditempatkan dengan menggelikan walau maksudnya "memberi pesan moral". 

Namun, menurut gw masalah utama film ini kebingungan menggabungkan kisah "lucu-lucuan" dengan image rock yang sangar. Aneh rasanya melihat sebuah film semacam zero to hero dan sports movie yang klise (soal persaingan di sebuah kompetisi dengan happy ending), tapi ditabrakkan dengan kata-kata sok kasar dan adegan-adegan sok keras (semisal kata-kataan dan berantem) yang nggak menambah nilai apa-apa, malah bikin mubazir. Dan gw belum menyebut unsur komedi dari tiga asisten Kotak yang sama sekali tidak lucu tapi diberi ruang yang sangat besar untuk itu, bahkan lebih besar dari sosok additional drummer-nya yang bisa dibilang invisible padahal selalu ada. 

So, no, I don't enjoy this at all. Kotak sudah bagus sebagai band--gw bahkan menganggap Tantri adalah salah satu penyanyi terbaik di Indonesia saat ini. Tak perlu lagi diperlakukan seperti di film ini. Buatlah film yang pantas bagi mereka. Apa kek, film konser 3D kek, dokumenter tur 20 kota kek, sejarah terbentuknya band ini kek. Toh itu pun tetap bisa menunjukkan personality setiap anggotanya. Apa pun asal bukan film tanpa tujuan jelas seperti Rock N Love ini.




My score: 5,5/10

Minggu, 15 Februari 2015

[Movie] Annie (2014)


Annie
(2014 - Columbia)

Directed by Will Gluck
Screenplay by Will Gluck, Aline Brosh McKenna
Based on the musical book by Thomas Meehan
Based on the comic strip "Little Orphan Annie" by Harold Gray
Produced by Will Smith, Jada Pinkett Smith, Caleeb Pinkett, Tyran Smith, Will Gluck, James Lassiter, Jay Brown, Shawn "Jay Z" Carter
Cast: Quvenzhané Wallis, Jamie Foxx, Cameron Diaz, Rose Byrne, Bobby Cannavale, Adewale Akinnuoye-Agbaje


Pertunjukkan dan film musikal Annie mungkin jadi klasik di Amerika, tapi kayaknya di sini agak kurang (well, semua jenis musikal Amerika di sini sih emang gitu, kecuali The Sound of Music). Gw sendiri cuma kenal sama lagu "Tomorrow" entah bagaimana, mungkin pernah diputer di radio Sonora or something. Sementara lagu "It's a Hard Knock Life" taunya pas dijadiin hook lagunya Jay Z. Untungnya di era sewa VCD gw pernah menemukan FTV Annie yang digarap Rob Marshall (sutradara Chicago dan Memoirs of Geisha), jadi lumayan familiar sama ceritanya, soal anak yatim piatu miskin yang menemukan keluarga baru di seorang oom-oom kaya baik hati *wait, that's sounds wrong*.

Lalu hadirlah Annie versi 2014 yang dimodernkan, dan sosok anak yang tadinya bule berambut merah jadi berkulit hitam, pun lagu-lagunya dijadiin urban pop gitu. Gw sih tidak menolak gagasan itu, cuma apakah ini bakal membuat Annie versi ini sejajar dengan status judul Annie yang terbilang klasik, gw nggak yakin. Sekarang tinggal masalah pembuatnya untuk bikin versi alternatif ini minimal menghibur. Nah, kalau soal itu, Annie 2014 berhasil.

Tapi memang cara menghiburnya berbeda dengan versi-versi sebelumnya. Gw melihat Annie ini lebih ke sebuah film komedi keluarga yang cukup oke dalam menampilkan unsur komikalnya dengan gaya zaman sekarang. Malah film ini bisa dibilang semi parodi dengan beberapa gurauan yang self-conscious, baik dari karakternya maupun keadaannya. Mungkin yang paling kelihatan ketika format "musikal" itu dipertanyakan salah satu karakternya, hahaha. Bagian itulah yang menurut gw paling menghibur dari film ini. 

Ceritanya tidak persis seperti musikal Annie, tetapi lebih menekankan pada proses penyatuan Annie (Quvenzhané Wallis) dan Will Stacks (Jamie Foxx) oleh kasih sayang dan kepedulian. Terdengar sweet dalam bentuk kata-kata tapi saat ditampilkan di film prosesnya agak lama. Mungkin karena diselingin nyanyi-nyanyi. Nah, satu hal yang mungkin mengusik gw adalah pemodernan lagu-lagunya. Lagu-lagu klasiknya mungkin nggak masalah, tetapi ketika itu harus bersanding dengan lagu-lagu baru (atau lagu lama yang ditambahin bagian baru), kelihatan jomplangnya. Lagu-lagu itu nggak bisa setara sama lagu-lagu yang sudah klasik, bedanya kelihatan banget. Dan rasanya, itulah yang membuat film ini agak uneven.

Tapi sekali lagi, menghibur sih menghibur. Film ini mengingatkan gw bahwa sesengak-sengaknya Foxx, dia itu aktor yang oke banget. Dan juga mengingatkan gw bahwa Cameron Diaz adalah aktris yang tidak takut terlihat konyol--bahkan di film ini kayaknya terlalu konyol. Film ini juga merepresentasikan adegan musikalnya sebagian besar tidak out-of-place, cukup menyatu dan menyenangkan, sekalipun kalau diperhatikan cerita film ini tuh agak sedih sebenarnya. Tapi ya film ini cuma sampe situ aja. Boro-boro mau jadi klasik.




My score: 6,5/10

Rabu, 04 Februari 2015

[Movie] Seventh Son (2014)


Seventh Son
(2014 - Universal)

Directed by Sergey Bodrov
Screenplay by Charles Leavitt, Steven Knight
Screen Story by Matt Greenberg
Based on the novel "The Spook's Apprentice" by Joseph Delaney
Produced by Basil Iwanyk, Thomas Tull, Lionel Wingram
Cast: Jeff Bridges, Ben Barnes, Julianne Moore, Alicia Vikander, Antje Traue, Djimon Hounsou, Olivia Williams, Kit Harrington, Jason Scott Lee


Film-film kayak Seventh Son gini nih yang bikin gw bingung kalo ditanya sukanya film genre apa. Gw biasanya suka dengan fantasi, terutama kalau ada desain karakter dan ruang yang lucu-lucu. Tapi suwer, nggak ada satu pun unsur dari Seventh Son yang bikin gw tertarik. Not even the title. Dan si tokoh utamanya berprofesi sesuatu yang disebut Spook. Seriously? Spook? 

Dari ide dasarnya aja gw nggak ngerti maunya film ini apa. Apakah berdasarkan exorcism, pemburu hantu, witch hunter, monster slayer, atau apa? (apparently semuanya sih, serakah). Dunianya tak semenarik yang seharusnya, tokoh-tokohnya apalagi, ceritanya apalagi, basi deh. Gw nggak merasakan ada keseriusan dalam membangun dunia dan karakternya. Bahkan adegan laganya jadi ikut menjemukan dan pointless. Ini seperti Buffy the Vampire Slayer berkostum lebih aneh. Semua dibuat asal jadi ntar dipoles visual effects biar calon penontonnya mengira film ini keren. Dan emang cuma bagian visual effects yang kerjanya paling bener di film ini.

Hal yang paling bikin frustrasi adalah banyaknya nama-nama reputable yang terlibat, tapi kok hasilnya kayak begini, tanpa ada nyawa, tanpa ada keseriusan. Ada penulis skenario Oscar-nominated Steven Knight (Locke, Dirty Pretty Things), editor Oscar-winning  Michael Kahn (film-film Spielberg)--walau mencurigakan juga dia salah satu dari tiga editor, desainer produksi Oscar-winning Dante Ferreti (Hugo, Sweeney Todd), komposer Oscar-nominated Marco Beltrami (The Hurt Locker, I Robot) yang musiknya di sini sangat overused, dan sutradaranya juga pernah bikin the Oscar-nominated movie Mongol. Oh, gw belum nyebut the Oscar-winning Jeff Bridges, dan Oscar-nominated Julianne Moore, dan Oscar-nominated Djimon Hounsou. Gelar-gelar itu berasa nguap aja ketika melihat hasil akhir film ini yang bener-bener nggak ada engagement terhadap gw sebagai penonton. Jeff Bridges ngomongnya aja susah bener kayaknya, padahal dia nggak perlu mengganti aksen secara semua orang di film ini pakai aksen Amerika.

So, as you can guess, gw merasa film ini adalah film paling "nggak" yang pernah gw tonton di bioskop, bahkan dalam hitungan satu-dua tahun belakangan ini. Apapun yang mau disampaikan oleh orang-orang di film ini, nggak sampai sama sekali ke gw. Keren nggak, seru nggak, mau fun juga abselutely not. 'Ancur' mungkin istilah yang terlalu strong, tapi yang pasti film ini hampir sama sekali tidak bisa mengeluarkan reaksi positif dari gw. Nggak semua novel fantasi berseri dan status "laris" layak difilmkan, so stop it already. Pelipur laranya mungkin hanya Alicia Vikander. She's Swedish. Tanpa massage.




My score: 4,5/10

Senin, 02 Februari 2015

[Movie] Parasyte: Part 1 (2014)


寄生獣 (Kiseijuu)
Parasyte: Part 1
(2014 - Toho)

Directed by Takashi Yamazaki
Screenplay by Ryota Kosawa, Takashi Yamazaki
Based on the comic book series by Hitoshi Iwaaki
Produced by Genki Kawamura, Takahiro Satou, Keichirou Moriya
Cast: Shota Sometani, Sadao Abe, Eri Fukatsu, Ai Hashimoto, Kimiko Yo, Masahiro Higashide, Jun Kunimura, Takashi Yamanaka, Mansaku Ikeuchi, Kazuki Kitamura, Tadanobu Asano, Kosuke Toyohara


Ide yang yang ditawarkan Parasyte memang sama sekali tidak baru. Diangkat dari komik karya Hitoshi Iwaaki, Parasyte berangkat dari ide makhluk asing yang mencaplok dan mengendalikan tubuh manusia. Ide tersebut beberapa kali pernah diangkat dalam literatur dan film—sebut saja Animorphs, The Puppet Masters, The Faculty, sampai The Host karya Stephenie Mayer. Akan tetapi, dalam Parasyte ide tersebut dikembangkan menjadi sebuah kisah yang lebih absurd, kadang lucu, seru, juga berdarah. Hal itu pula yang kemudian ditampilkan dalam adaptasi filmnya, setidaknya dalam paruh pertama yang berjudul Parasyte: Part 1 ini.

Suatu waktu, alien menyerupai cacing berhasil masuk ke dalam otak orang-orang di Jepang, dan menguasai tubuhnya sesuai kehendaknya. Mereka juga mampu memanipulasi bentuk dari tubuh yang mereka dapatkan sesuai kebutuhan, entah itu ketika bertarung ataupun makan. Makanan utama mereka? Daging manusia. Akibatnya, temuan potongan mayat dengan kematian "tak terjelaskan" jadi marak. 

Namun, ada satu alien (diisi suara Sadao Abe) yang gagal menjalankan prosedur tersebut terhadap seorang remaja biasa-biasa bernama Shinichi Izumi (Shota Sometani yang bermain sangat baik), karena jalan masuk ke otaknya terhalang oleh earphone. Demi bisa hidup, alien tersebut terpaksa menguasai hanya tangan kanan Shinichi, dan sejak itu menamai dirinya Migi (artinya "kanan"). Yang terjadi kemudian adalah kedua makhluk ini harus hidup berdampingan demi menghadapi alien lain yang menganggap mereka sebagai pengganggu.

Parasyte kembali melanjutkan tren adaptasi komik dan animasi populer Jepang ke layar lebar dalam bentuk live action dalam satu dekade terakhir. Film Parasyte bisa dibilang salah satu yang paling ambisius. Tak hanya karena mengadaptasi materi yang sedang naik daun, tetapi juga terlihat dari nilai produksi yang serius dan visual effects yang semakin kompleks. Dilihat dari hasil akhir Parasyte: Part 1, sutradara dan spesialis visual effects Takashi Yamazaki (ALWAYS: Sunset on the Third Street, Space Battleship Yamato, Stand by Me Doraemon) sekali lagi membuktikan ia sanggup menangani materi seperti ini, menyajikan film dengan teknis audio visual yang mulus dan bisa jadi terdepan di negaranya. 

Selain hal teknis, yang menarik dari film ini adalah bagaimana mengadaptasi sebuah materi yang sebenarnya segmented menjadi tontonan massal. Terlepas dari popularitas komiknya, Parasyte pada hakikatnya adalah kisah sci-fi campur horor yang menampilkan visual grotesque (contoh bentuk aliennya) dan kisah yang cukup disturbing, apalagi melibatkan bagian-bagian tubuh manusia yang dimakan sekalipun saat masih hidup.

Dalam Parasyte: Part 1, terlihat ada usaha untuk menurunkan kadar darah dan potongan tubuh di sini, mulai dari penekanan pada sisi drama, hingga penampakan wujud aliennya yang tidak pernah terlalu lama. Tetapi, itu tetap tidak menutupi bahwa film ini termasuk violent dan mungkin akan membuat beberapa penontonnya tak nyaman. Di sisi lain, itu adalah juga suatu bentuk keberhasilan, bahwa film ini masih mampu membangun atmosfer yang mencekam sekalipun tidak terlalu vulgar.

Namun, di luar itu, tidak ada lagi tawaran yang menonjol dari Parasyte: Part 1. Meski sudah disajikan dengan berbagai lapisan cerita, menggabungkan tema alien invasion (dalam versi perlahan-lahan), buddy movie, kasus misteri, dark humour, hingga keluarga, film ini belum punya sesuatu yang membuatnya stand out. Bahkan, karakterisasi Migi sang alien pun masih terlihat lemah, entah memang dari skenarionya atau mungkin animasi tokoh berbentuk absurd ini yang kurang ekspresif. Pemikiran tentang betapa anehnya pemikiran dan perilaku manusia dari sudut pandang alien pun hanya disajikan sambil lalu—atau mungkin memang sengaja supaya film ini tidak jadi terlalu serius.

Satu hal yang mungkin paling berhasil dari film ini selain teknik visualnya, adalah ketika sampai pada saat Shinichi diuji rasa kemanusiaannya. Ini ditandai dengan adegan Shinichi harus menghadapi kenyataan bahwa alien yang ingin membunuhnya menguasai tubuh orang yang disayanginya. Meski agak klise, bagian ini berhasil menibulkan dampak tanpa ditunjukkan terlalu berlebihan. Ini pun bukan hal baru, sebab penonton yang akrab dengan film horor zombi pun pasti sering menemukan hal serupa. Akan tetapi, setidaknya poin itu bukan cuma tempelan, dan sangat berfungsi dalam perubahan karakter Shinichi di bagian akhir film, yang nantinya akan berlanjut ke Part 2-nya.

Ngomong-ngomong soal Part 2, pembagian kisah ini jadi dua film akhirnya juga berpengaruh pada porsi penceritaan tokoh-tokoh film ini. Maka, harap maklum kalau beberapa tokoh yang "kelihatannya penting" seperti para detektif polisi dan juga alien misterius yang naik ke panggung politik, seakan ditampilkan tidak tuntas. Perlu dimaklumi pula kalau peristiwa-peristiwa yang ditampilkan di sini juga bukan dalam skala spektakuler (baru tahap "tingkat sekolah"), karena ini baru awal. Mudah-mudahan, permakluman itu benar-benar terbayar di Parasyte: Part 2 nanti.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Minggu, 01 Februari 2015

[Movie] Hijab (2015)


Hijab
(2015 - Dapur Film Indonesia/Ampuh Entertainment/MVP Pictures)

Directed by Hanung Bramantyo
Written by Hanung Bramantyo, Rahabi Mandra
Produced by Hanung Bramantyo, Zaskia Adya Mecca, Haykal Kamil
Cast: Carissa Puteri, Zaskia Adya Mecca, Tika Bravani, Natasha Rizky, Nino Fernandez, Mike Lucock, Ananda Omesh, Dion Wiyoko, Meriam Bellina, Marini Soerjosoemarno, Ingrid Widjanarko, Epy Kusnandar


Film Hijab menurut gw adalah perayaan atas fenomena hijab dan fakta bahwa cara berpakaian bagi perempuan muslim ini telah masuk ranah mainstream. Bahkan gw yang bukan pemakai *wait, that sounds wrong* jadi ikut terekspos sama fenomena itu, thanks to timeline Facebook gw yang isinya kalo nggak jualan kain jilbab ya debat soal cara berhijab yang paling benar--walaupun kemudian ketutup sama isu vaksin vs no vaksin, ASI vs susu pabrikan, dan tentu saja Wowo vs Wiwi *ketauan deh pergaulan gw masuk usia berapa*.

Satu hal yang gw salut sama film Hijab ini adalah keberaniannya menjadikan tokoh-tokoh yang berhijab kelihatan seperti manusia. You know, walaupun gw nggak gaul-gaul amat, gw banyak teman yang berhijab dan hampir gak ada tuh yang sifat-sifatnya bak tokoh-tokoh nelangsa di FTV Indosiar. Film ini menurut gw cukup mewakili itu, bukan mewakili "harusnya seperti ini", tapi "ada yang seperti ini". Bahwa perempuan berhijab itu juga punya opini, kritis, bisa bercanda, bisa bergaul, even talk about ranjang--at least di kalangan sendiri. Kegelisahan yang dimiliki juga sama dengan orang-orang kebanyakan, karena di balik jilbab (which, I heard, is a title of a song =)) ada manusia juga. Lagipula, alasan mereka berhijab di film ini memang kesannya dikonyol-konyolin, tapi bahwa mereka kepikiran untuk pakai jilbab--bukan benda lain--dan tidak dilepas lagi, itu bisa jadi bentuk hidayah juga to? 

Anyway, di film ini kata "hijab"-nya lebih merujuk pada kata benda yang kemudian jadi alat untuk menggerakkan cerita, bukan inti ceritanya. Empat perempuan bersahabat, tiga di antaranya berhijab aneka ragam, dan mereka sepakat bikin usaha jualan barang-barang fashion hijab. Yang kemudian bergulir adalah cara mereka menyeimbangkan kehidupan keluarga dengan usaha hijab ini, apalagi bertabrakan dengan pasangan-pasangan mereka masih punya ego tradisional tentang siapa yang berhak menafkahi keluarga *yaelah hare gene*.

Jujur aja, sebenarnya hijab di sini bisa diganti dengan apa aja. Bisa tentang usaha lain, barang lain, atau MLM. Pada akhirnya film ini lebih banyak menyinggung fenomena bisnis UKM, teknologi, gender, konvensi sosial, dan tentu saja problema rumah tangga dan hubungan pertemanan. Tapi gw nggak menyalahkan juga kalau yang diambil di sini adalah hijab, karena ya itu tadi, emang lagi hits. Dan karena Zaskia jualan line hijab bermerek Meccanism =D. Okay, itu mungkin agak memosisikan film ini pakai judul Hijab cuma buat gimmick jualan aja (dan juga gw curiga yang protes sama film ini adalah para toko kompetitor =P), tapi ya buat gw nggak masalah juga, karena pada akhirnya film ini lebih jualan cerita daripada jualan pakaian.

Untunglah, segalanya dibuat ringan di film ini. Bahwa sejak awal digadang-gadang bahwa film ini komedi, terbayar oleh hasil akhirnya. Ritmenya lincah, pengadeganannya pun cerdas dalam membangun kelucuan. Gw bisa sampai ngakak ketika adegan sambutan pembukaan butik, juga "ledekan" terhadap film-film nyeni yang diprotes di Indonesia tapi disukain sama orang Prancis XD. Sentilan di film ini cukup ngena tetapi dibawa fun, dan para pemainnya pun memainkannya dengan santai tanpa beban. Enak sekali mengikuti film ini.

Akan tetapi, sepertinya lagi-lagi gw belum bisa memberi skor "bagus" sama filmnya Hanung. Gw nggak suka sama penyelesaiannya yang...apa ya...kehabisan ide dalam penyampaiannya. Terlalu gampang dan verbal, agak kontras dengan depan-depannya yang menyasikkan. Itu sama persis kayak gw bikin naskah drama Natal yang di bagian akhirnya harus ada segmen pesan moral. For some people, mungkin itu diperlukan, tapi buat gw itu malah menurunkan keasyikan yang sudah dicapai film ini di bagian lain. Sayang.




My score: 7,5/10