Selasa, 27 Januari 2015

AJIRENJI MINDSTREAM REVIEWS 6th ANNIVERSARY


Wow. 6 tahun. Akhirnya ngeblog menjadi satu hal terlama yang gw lakukan secara berkelanjutan selama hidup gw, selain sekolah SD. 

Gw bersyukur bisa sampai sejauh ini, meski di tengah jalan banyak halangan karena harus menyesuaikan diri dengan pola hidup di dunia nyata. Jadi ya itulah sebabnya review-review gw agak telatan jadinya, hehe.

Anyway, walau tidak bakal se-update dulu, gw sendiri tidak berencana berhenti ngeblog, karena--seperti yang gw sering ungkit di postingan ulang tahun--it took me to places, and meet with people, even bring me closer to my dreams.

Karena blog inilah gw mulai masuk ke media, dan sekarang kerja di media film. Secara beruntun, ketika bertahun-tahun lalu cuma lihat film, jadi bisa tatap muka dengan pemain dan sineas. Dulu cuma bisa lihat acara award-award-an macan FFI dan misah-misuh di depan TV, jadi bisa ngeliput dan hadir langsung di acara tersebut...dan tetep misah-misuh hehehe.

Biarlah anniversary kali ini bisa jadi penyemangat gw untuk terus berusaha bersuara dengan gaya gw di blog ini. Terima kasih juga para pembaca yang sudi mampir selama ini. Moga tetap sudi dan mohon maaf jika ada salah-salah dari tulisan saya yang mungkin kurang berkenan.

Let's continue to blog *masih banyak utang postingan ternyata TvT*

Sabtu, 24 Januari 2015

[Movie] Blackhat (2015)


Blackhat
(2015 - Universal)

Directed by Michael Mann
Written by Morgan Davis Foehl
Produced by John Jashni, Thomas Tull, Michael Mann
Cast: Chris Hemsworth, Wang Leehom, Tang Wei, Viola Davis, Holt McCallany, Ritchie Coster, Yorick van Wageningen, John Ortiz, William Mapother


Sejak Collateral, gw termasuk selalu menantikan karya-karyanya Michael Mann. Itu diperkuat setelah nonton Heat, The Insider, dan Public Enemies. Well, gw kurang suka Miami Vice, tetapi gayanya yang agak "lain" ternyata lumayang ngangenin. Jadi, itulah latar belakang gw menantikan Blackhat, bukan semata-mata karena syutingnya di Jakarta--dan kayaknya Mann kesengsem sama Jakarta sampe dibikin sebagai tempat buat adegan klimaks dan ada potongan gambarnya di poster. But, you know, bahwa film ini rilis di bulan Januari itu agak pertanda bahwa ini bukan karya yang diunggulkan oleh distributornya. Penjelasannya: ini adalah bulan ketika lebih banyak orang di USA nontonnya film-film nominasi Oscar, jadi film-film baru yang tayang di Januari biasanya yang nggak terlalu butuh sambutan besar gitu. Bahwa ternyata Blackhat yang notabene karya Mann yang seorang respectable dan nomine Oscar, agak mencurigakan sih. Dan, ternyata, kecurigaan itu terbukti.

Langsung saja, Blackhat bukanlah karya terbaik Mann. Film ini masih punya ide yang hebat dan punya production value besar nggak main-main, ditambah aktor-aktris nggak sembarangan, tapi sebagai sebuah karya dari spesialis film kriminal sebesar Heat, Collateral, dan Public Enemies, Blackhat ini macam pengen jalan-jalan ke daerah tropis tapi daripada cuma nganggur ya skalian deh bikin film. Bukan nuduh atau apa, tapi lihat hasilnya, memang terasa begitu. Yah sisi positifnya, hasil bikin film sambil jalan-jalannya nggak jelek-jelek amat sih.

Bagian cyber crime-nya sebenarnya oke. Terlihat cukup realistis (atau at least meyakinkan), baik cara maupun motifnya. Nggak ngarang-ngarang terlalu bebas. Demikian juga sama konsep bahwa peretas itu bisa dari dan di mana aja, sehingga bahwa film ini jalan-jalan dari Amerika ke Hong Kong, Malaysia dan Indonesia juga lumayan make sense. Oh, even ada mbak-mbak secakep Tang Wei tinggal di rumah susun dan naik taksi dari Tanah Abang juga lumayan make sense sih, rumah susun kan nggak ada sekuriti jadi gampang untuk sembunyi ataupun ho'oh-ho'oh-an =p. Dan, nggak lupa juga satu hal dari Mann yang paling gw suka, yaitu adegan-adegan action-nya, baik perkelahian, tembak-tembakan, maupun kejar-kejaran yang sangat intens almost documentary-style. Adegan-adegan itulah yang bikin gw masih bisa (mem)betah(kan diri) untuk menikmati film ini.

Yeah, well, selain yang itu, film ini agak draggy sih. It's fancy and stuff, tapi menurut gw film ini terlalu banyak ambil gambar pemandangan yang menguatkan dugaan motif pembuatan film ini adalah supaya si Mann cs bisa jalan-jalan. Tapi, itu bukan masalah utamanya. Film ini kelihatan maksa banget dalam memasukkan unsur "emosi" dalam cerita, dan celakanya itu in the end jadi motif utamanya. Pokoknya, biar udah di-setting supaya ada unsur ikatan persahabatan dan cinta, tapi jadinya bland dan kelihatan maksa aja, malah nambah-nambahin durasi. Maksudnya baik tapi...yah...kurang nempel aja sih. Kalau tanpa adegan-adegan aksi dan adanya Indonesia di film ini, udah bakal menjemukanlah film ini.

Menurut gw juga Jakarta versi film ini cukup representatif dan menarik sudut pandangnya. Emang kayaknya filmnya mengesankan Jakarta kumuh, tapi emang Jakarta kumuh kok cuma pada in denial aja =p. Dan dari film ini jadi kelihatan banget bedanya produksi Hollywood sama Indonesia. Ketika film Indonesia capek-capek ke syuting ke luar negeri demi minjem lokasi terkenal bahkan bangga kalau dapetnya sembunyi-sembunyi (ada yang kayak gitu, ada banget), tim Blackhat ke Jakarta harus musti juga bikin pasar sendiri, festival-festivalan sendiri, taksi sendiri, bank sendiri, bahkan ATM sendiri, sampe se-nama-namanya dan se-logo-logonya yang fiktif. Iya, segitunya. Ayo kita belajar.

Anyway, di tahun segini gw agak heran Mann masih gemar sama kamera digital HD biasa. Daripada pake kamera digital kayak buat TV gitu kenapa nggak pake HFR aja skalian ya?




My score: 6/10

Senin, 19 Januari 2015

[Movie] Di Balik 98 (2015)


Di Balik 98
(2015 - MNC Pictures)

Directed by Lukman Sardi
Written by Samsul Hadi, Ifan Ismail
Produced by Affandi Abdul Rachman
Cast: Chelsea Islan, Donny Alamsyah, Ririn Ekawati, Boy William, Teuku Rifnu Wikana, Bima Azriel, Amoroso Katamsi, Agus Kuncoro, Alya Rohali, Fauzi Baadila, Verdi Solaiman, Marissa Puspitasari, Iang Darmawan, Asrul Dahlan, Elkie Kwee


Film Di Balik 98 sejak awal promosinya ditegaskan sebagai sebuah kisah fiksi berlatar sejarah peristiwa Mei 1998 di Jakarta. Cukup membingungkan bahwa sebuah film yang plot utamanya adalah fiktif menggunakan judul yang mengesankan bakal mengungkap fakta di balik peristiwa penting itu. Tapi, terserahlah, mungkin ada pertimbangan lain dari yang empunya film. Toh, peristiwa Mei 1998 memang berperan cukup penting bagi tokoh-tokoh fiktif di film ini. Untungnya, penggambaran situasi saat itu digambarkan dengan baik dalam film debut penyutradaraan Lukman Sardi ini.

Di Balik 98 bisa dikatakan sebagai film dengan interwoven storyline, beberapa plot terpisah yang punya keterkaitan di beberapa titik, digerakkan oleh beberapa tokoh dengan porsi berimbang (tidak ada tokoh yang paling utama). Ketika situasi memanas dan kemudian timbul kerusuhan yang tersulut oleh tewasnya beberapa mahasiswa Trisakti saat berunjuk rasa, tokoh-tokoh ini berada dalam tempat terpisah. Masing-masing pun harus menghadapi pergolakan sendiri-sendiri, dan berusaha survive dari situasi yang serba tak pasti agar dapat bersatu kembali.

Perhatian utama film ini ada pada sebuah keluarga muda yang terdiri dari Bagus (Donny Alamsyah), istrinya Salma (Ririn Ekawati), dan adik Salma, Diana (Chelsea Islan). Komposisi keluarga ini pun dramatis: Bagus adalah seorang prajurit TNI, Salma adalah staf dapur Istana Negara yang tengah hamil (artinya pasti ada satu titik di film ini ia bakal melahirkan), sedangkan Diana adalah salah satu mahasiswa Universitas Trisakti yang aktif mengikuti aksi menuntut reformasi pemerintahan. Bisa dibayangkan, ada dua pandangan berseberangan dalam satu rumah. Ditambah lagi, ada sosok Daniel (Boy William), kekasih Diana yang berasal dari keluarga keturunan Tionghoa, yang juga harus merasakan dampak dari kerusuhan Mei 1998.

Namun, tak berhenti di situ saja, untuk memperkuat gambaran situasi pada masa itu, Di Balik 98 juga menyajikan kisah-kisah lain yang tak berkaitan langsung dengan keempat tokoh tadi. Ada sepasang ayah dan anak pemulung (Teuku Rifnu Wikana dan Bima Azriel), sebagai perwakilan rakyat kecil yang tak tahu tentang situasi politik, tetapi langsung terkena dampak dari krisis. Demikian pula film ini menggambarkan beberapa proses pengambilan keputusan lewat tokoh- tokoh di parlemen dan pemerintahan saat itu. Yang paling banyak porsinya adalah interaksi Presiden Suharto (Amoroso Katamsi) dan Wakil Presiden saat itu, B.J. Habibie (Agus Kuncoro).

Satu hal yang perlu diapresiasi dari film ini adalah caranya dalam menggambarkan zaman itu secara visual. Walaupun selalu ditekankan bahwa ini bukan film sejarah, tetapi tim produksinya terlihat sangat berupaya dalam menggambarkan situasi sedekat mungkin dengan kenyataan kala itu. Tak bergantung sepenuhnya pada footage media yang sudah ada, film ini cukup serius pula dalam mereka ulang kejadian dan suasana di masa itu.

Tidak hanya dari hal-hal besar, seperti gambaran demonstrasi, kerusuhan, penjarahan, serta bentuk dari interior Istana negara dan skyline Jakarta saat kerusuhan (dengan sedikit bantuan efek CGI). Tetapi juga dari hal-hal kecil, seperti bentuk logo stasiun TV saat itu, model kendaraan, sampai pada film apa yang sedang tayang di bioskop. Memang ada sedikit ganjalan pada beberapa bagian—kamera menangkap produk-produk masa kini di sebuah warung, atau poster film bioskop yang dibuat dengan digital printing—tetapi secara keseluruhan, tampak jelas film ini tidak meremehkan penggambaran sebuah masa yang terbilang recent history.

Namun, dengan banyaknya tokoh dan bagian cerita yang hendak disajikan, Di Balik 98 belum sanggup mengatasi risiko dalam membuat film model ini, yaitu fokus cerita yang terlalu melebar. Ini terlihat dari pergeseran fokus ketika ingin menceritakan tahap-tahap mundurnya Presiden Suharto. Saat berada di sana, tokoh-tokoh fiktif yang jadi perhatian di awal utama hilang agak lama, digantikan dengan situasi di gedung DPR/MPR dan Istana Negara. Ditambah lagi ada kecenderungan film ini menunjukkan sebuah adegan dengan durasi yang panjang, sebut saja adegan kerusuhan dan penjarahannya. Sehingga, laju film ini jadi terkesan bergerak lambat.

Di sisi lain, film ini juga kelihatan cukup berhati-hati dalam memaparkan situasi yang tercatat dalam sejarah. Sebagaimana disinggung sebelumnya, film ini bisa diklaim hanya memakai peristiwa Mei 1998 sebagai latar yang ditempati para tokoh-tokoh fiktifnya. Porsi sejarahnya memang tidak sedikit, namun bila diperhatikan film ini memang hanya menampilkan apa yang sudah diketahui publik. Sehingga, adalah keliru bila mengharap Di Balik 98 adalah pengungkapan di balik layar peristiwa tersebut.

Akan tetapi, ada semacam inkonsistensi dengan prinsip itu, ketika dalam adegan-adegan yang melibatkan tokoh-tokoh terkenal (walau sebatas cameo), mereka semua diperkenalkan lewat keterangan nama yang terang-terangan. Padahal, bila tidak mau dikatakan film sejarah, biarkan saja identitas mereka dijadikan trivia di balik layar. Keputusan untuk menandai tokoh-tokoh dengan nama jelas pun jadi backfired ketika aktor yang memerankannya sangat jauh dari imej sosok yang sudah dikenal orang. Sebut saja pemeran Amien Rais (Eduwart Soritua) yang hampir tak punya kesamaan fisik, atau Dian Sidik yang terlalu muda untuk jadi Wiranto, dan Pandji Pragiwaksono sebagai Susilo Bambang Yudhoyono. Reaksi tawa dari penonton pun adalah sebuah keniscayaan. Padahal ini film serius.

Satu lagi sandungan kecil dari film ini, sementara sudah berusaha menggambarkan ulang peristiwa masa lalu, film ini malah teledor dalam menggambarkan masa sekarang. Saat ingin menunjukkan keadaan tokoh di masa sekarang, film ini "memaksa" tahun yang ditunjukkan adalah 2015. Padahal, situasi yang digambarkan sama sekali berbeda dari kenyataan. Demonstrasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jelas tidak terjadi di 2015 yang baru berjalan dua pekan ini. Seperti diketahui, harga BBM justru diturunkan di tahun 2015.

Pada akhirnya, Di Balik 98 bukan gambaran sempurna tentang sebuah peristiwa yang penting bagi negeri ini. Akan tetapi, jika tujuannya adalah mengenang kembali rasa yang timbul ketika peristiwa itu terjadi, film ini jauh dari gagal. Diwakili oleh para tokoh yang mengalami hal-hal yang banyak dialami orang-orang masa itu, memori tentang kegelisahan, kebingungan, kepedihan, juga harapan yang timbul dari dinamika yang terjadi di Mei 1998, bisa ditangkap dari sini. Bukan potret sejarah yang akurat, tetapi lebih kepada potret emosi dari mereka (dan kita) yang pernah melewatinya.




My score: 7/10


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Minggu, 11 Januari 2015

[Movie] Garuda (2015)


Garuda
(2015 - Putaar Films/Sultan Sinergi Indonesia)

Written & Directed by x.Jo
Produced by H.R. Dhoni Al-Maliki Ramadhan
Cast: Rizal Al Idrus, Slamet Rahardjo, Agus Kuncoro, Alexa Key, Robby Sugara, Kia Poetri, Tya Arifin, Diaz Ardiawan, Wiwing Dirgantara, Rudy Salam, Panca Prakoso, Piet Pagau, Inzalna Balqis, Jacob Maugeri, Roy Chunonk


Bangsa Indonesia kayaknya masih mengidap kompleksitas berkepanjangan dari hegemoni penjajah. Kita seperti punya cara pandang turunan mendarahdaging bahwa apapun yang kita punya dan hasilkan tidak akan bisa mendekati, setara, atau boro-boro melebihi apa yang dipunya dan dihasilkan bangsa lain yang kita anggap kastanya lebih tinggi, let's say, yang penduduknya berkulit lebih terang. Honestly, itu sebenarnya harus diakhiri, and nobody wants that to end more than me. Khususnya di dunia film, gw pingin sekali Indonesia nggak minderan lagi untuk bermimpi besar dan menghasilkan karya yang kelas dunia. Nggak ada yang nggak mungkin.

For that, gw salut sama itikad, tekad, dan nekad dari pembuat film superhero Garuda ini. Menciptakan sosok superhero baru *wuttt? Indonesia punya superhero? mau kayak apa coba?* *itulah pemikiran hasil penjajahan*, yang belum muncul dalam iterasi apapun, dan langsung dilempar ke layar lebar. Risiko film ini terlalu banyak, mulai dari nggak laku hingga dikata-katain. Fakta bahwa para pembuatnya tetap berhasil memunculkan ini di pasaran, adalah sebuah "kelancangan" yang perlu diapresiasi. Meskipun premisnya tuh sangat biasa banget dalam dunia per-superhero-an, tapi kalau ditaruh di tengah-tengah iklim film nasional yang marak dengan kisah cinta segibanyak bersetting luar negeri, yang ditawarkan film ini seriously sebuah angin segar. Dream, believe, and make it happen indeed.

Tetapi, susah juga kalau ambisi dan impian besar itu hanya dilakukan dan diyakini oleh segelintir orang, dan berimbas pada kenyataan bahwa modal yang dimiliki tidaklah cukup. Yang gw maksud "modal" di sini bukan cuma soal duit--yang kemudian diakali dengan konsep bahwa film ini nyaris 100% pake digital backlot (jadi sebagian besar gambar adalah CGI kecuali orangnya) macam Sin City dan 300, walau gw sendiri ngelihat Garuda ini lebih mirip Casshern. Tapi juga modal skill. Yang gw maksud "skill" pun bukan cuma kemampuan membuat efek visual meyakinkan (yang sayang sekali memang masih di tingkat iklan ban ketimbang ILM), tetapi justru skill yang paling mendasar: storytelling.

Di antara segala yang (kita semua sudah tahu pasti) kurang dari film Garuda, dari akting, efek visual, hingga product placements =P, yang paling fatal adalah bagaimana film ini bercerita. Kacau. Beneran. Bahkan dengan logika film kartun pun (which is logika yang gw pakai saat nonton film semacam ini, gak boleh terlalu serius) film ini nggak masuk, nggak bisa dinikmati. Seolah-olah yang bikin tuh dipepet deadline saat editing jadi pas udah mau jadi nggak dicek lagi jalan ceritanya saling nyambung atau enggak. Bahkan nama pemain pun banyak typo. Coba gw tanya, aksi bombastis serangan alien di awal film itu buat apa? Kenapa kata-kata "kisah ini berawal" itu berada sebelum, instead of sesudah adegan itu? Jika ini origin story, kenapa kelebihan-kelebihan Garuda (dan gadget-nya) nggak diekspos? Lalu bapak-bapak bule yang melumpuhkan penjahatnya itu dari manaaaa? Saat menyaksikan ini gw berulang kali berseru di otak gw, "Man, what are you doing?!" ditujukan kepada para pembuat filmnya, saking gw nggak tega sebuah ide dan niat yang baik dinodai sendiri oleh cara penyampaian yang sangat mentah.

Yes, gw bilang ide film ini bagus. Agak comot sana-sini, tetapi ide bahwa sebuah asteroid akan menimpa bumi dan Indonesia jadi titik pertama jatuhnya, tapi Indonesia juga punya satu-satunya senjata untuk menghancurkannya itu adalah ide yang keren. Bahwa kemudian ada penjahat gila berkekuatan super yang kecewa terhadap dunia menyandera senjata itu sehingga butuh sosok seperti Garuda untuk menghalanginya, dan bahwa orang yang menciptakan penjahat itu juga orang yang kemudian menciptakan Garuda juga adalah sebuah ide yang cukup kuat untuk sebuah film superhero. Gw bisa punya sense bahwa cerita film ini disusun dengan semangat yang baik dan memang berpotensi, asalkan eksekusinya benar. Sayangnya, justru di eksekusi itulah masalahnya. Konsistensi penggunaan digital backlot-nya pun dipertanyakan. Banyak pencahayaan yang ngawur, dan--padahal udah tahu teknologinya belum se-advanced itu, ada adegan-adegan yang diambil di di set asli tapi juga diselipkan yang set digital di angle berbeda, bedanya 'kan jadi kelihatan banget. Jadinya, kelihatan maksanya.

Film ini buruk, gw setuju. Tapi sepenuhnya buruk, itu adalah pemikiran prematur. Sekali lagi gw katakan, idenya sama sekali tidak buruk. Cuma ya itu, kurang modal, kurang pengalaman, kurang kemampuan dalam mengolah dan mempresentasikannya. Alhasil, yang bekerja dengan baik dari hasil akhir Garuda hanyalah tata musik, tata suara, (beberapa) koreografi fight, dan *surprise* adegan-adegan di set asli non-digital-backlot-nya.

Bukannya pereus atau apa, tapi dengan genre yang jarang dibuat di Indonesia, gw tuh pengen banget mendukung film ini, bisa jadi IP (intelectual property) asli Indonesia baru yang mungkin bisa berumur panjang. Tapi filmnya sendiri, sebagai produk utamanya, really doesn't help. Gw nggak benci, lebih ke iba. Dengan waktu dan modal yang lebih, materi film ini bisa jadi oke. Akhirnya gw hanya berharap film ini di-remake dengan cara yang lebih benar, mungkin oleh orang-orang yang lebih "tahu film". Sayang banget kalau di-dump begitu saja. Atau, paling nggak film ini bisa jadi pembelajaran, jadi batas bawah, bahwa kalau ada film sejenis lebih jelek daripada ini, berarti itu film sampah.

Tapi harus diakui, setidaknya logonya kinda cool.




My score: 5,5/10

[Movie] Paddington (2014)


Paddington
(2014 - StudioCanal)

Written & Directed by Paul King
Story by Hamish McColl, Paul King
Based on the character Paddington Bear created by Michael Bond
Produced by David Heyman
Cast: Ben Whishaw, Sally Hawkins, Hugh Bonneville, Nicole Kidman, Peter Capaldi, Julie Walters, Jim Broadbent, Madeleine Harris, Samuel Joslin, Imelda Staunton, Michael Gambon


Gw nggak yakin sejak kapan dan bagaimana gw kenal sama Paddington Bear. Mungkin dia ada di salah satu suvenir yang pernah gw liat di toko pernak-pernik, or something, pokoknya cukup familiar buat gw walaupun samar-samar. Tapi, rupanya dia adalah salah satu tokoh literatur anak yang cukup dikenal di negara Inggris, dan menular ke beberapa produk dan merchandise, sampai akhirnya sekarang diangkat jadi film bioskop dengan production value yang nggak main-main. 

Di masa sekarang ini, menampilkan sosok beruang kecil yang memakai baju dan berperilaku layaknya penduduk London mungkin terlalu sederhana untuk diangkat ke layar lebar. Tapi, film Paddington versi live action-campur-animasi ini rupanya punya "rencana". Yaitu, menjadikan film ini sebagai duta budaya Inggris hahahahaha. Well, kalau menonton film ini pasti bisa ngerti apa maksudnya. Dengan menggunakan sosok Paddington si beruang yang Inggris-enthusiast, film ini jadi sangat menonjolkan (dan mungkin mengolok-olok sedikit) kebiasaan orang Inggris yang ingin dipelajarinya. Dari basa-basinya, gesturnya, sopan santunnya, juga kelakarnya. Menurut gw itu adalah highlight yang supermenyenangkan dari film ini. Dan tentu saja pemandangan kota London, if that's still your cup of tea even after all those Sherlocks and Harry Potters and Downton Abbeys.

Kalau soal cerita mungkin sekilas standar film keluarga ya. Ada beruang bertualang sendirian dari hutan Peru ke tempat impiannya London, ketemu sebuah keluarga yang mau menampung tapi ada penolakan tapi ya of course di akhir film mereka akan saling menerima. Dan to shake things up ada pihak yang ingin berbuat jahat sama si beruang. Tapi, pinternya film ini adalah betapa mereka self-conscious bahwa cerita yang mereka bangun itu standar banget. Makanya, film ini memainkannya dari segi penyampaian yang jadi dibuat lebih fun dan rada ngeledek diri sendiri. Unsur fantasi bahwa ada beruang bisa ngomong di kota London gampang aja dibangun dengan kalimat, "Ada beruang, jangan-jangan dia sales." XD. Dari humor slapstik hingga pelesetan kata-kata, tawa pun kayak nggak habis hingga akhir. Mulai dari Paddington yang mempraktikkan 46 cara orang Inggris mengungkapkan cuaca hujan, hingga ke "turn our backs".

Menyenangkan sekali menonton Paddington. Film ini penuh dengan humor, yang sebagian besar sangat berhasil memancing gw tertawa. Beberapa mungkin terlalu maksa (Hugh "Lord Grantham" Bonneville in drag? Really?), dan kayaknya film ini banyak cameo komedian lokal Inggris yang mungkin akan lebih kena kepada orang sono juga atau pemerhati kultur pop Inggris. Tetapi, dengan kemasan yang smart dan pacing yang lincah, juga digarap dengan semangat dan kehangatan yang tulus soal arti keluarga, film ini sangat mudah dinikmati. Semudah para aktornya yang sangat santai dalam membawakan karakter masing-masing, dan semudah kita bisa sayang sama si Paddington Bear yang kiyut dan edorebel.

Bear left.




My score: 7,5/10