Jumat, 11 Desember 2015

[Movie] The Tale of Princess Kaguya (2013)


かぐや姫の物語 (Kaguya-hime no monogatari)
The Tale of Princess Kaguya
(2013 - Studio Ghibli)

Directed by Isao Takahata
Screenplay by Isao Takahata, Riko Sakaguchi
Based on the Japanese folktale "The Tale of the Bamboo Cutter"
Produced by Yoshio Okubo
Cast: Aki Asakura, Kengo Kora, Takeo Chii, Nobuko Miyamoto, Atsuko Takahata, Tomoko Tabata, Tatekawa Shinosuke, Takaya Kamikawa, Hikaru Ijuuin, Ryudo Uzaki, Isao Hashizume, Tamaki Kojo, Nakamura Shichinosuke II


Sebagai penyuka jejepangan sejak agak kecil, gw sudah cukup familier dengan dongeng Putri Kaguya. How? Karena dalam beberapa komik Jepang, dongeng ini sering di-mention. Misalnya di Sailor Moon dan sebuah komik komedi goblok yang judulnya di Indonesia juga Putri Kaguya (pengarangnya Mayumi Muroyama *abis nge-search*), dan gw juga sempat beli buku cerita bergambar tentang Kaguya terbitan Elex. Sepengetahuan gw, dongeng Kaguya ya cuma gitu aja: ada putri muncul dari dalam bambu lalu dibesarkan oleh sepasang kakek nenek yang nggak punya anak, lalu besar jadi cantik dan jadi incaran banyak laki-laki, ajukan syarat mustahil sampe nggak ada yang bisa menikahi dia, lalu ternyata terungkap dia berasal dari bulan dan harus meninggalkan bumi. You see, dari dulu ternyata orang Jepang lebih suka sad ending daripada segalanya =P.

Anyway, ketika dengar Ghibli mau bikin Kaguya, hati gw cukup girang. Apalagi, filmnya digarap oleh Isao Takahata (yang sukses bikin gw "trauma" sama Grave of the Fireflies) dan pakai konsep visual mirip lukisan kuno, yang garisnya agak nggak rapi dan warnanya kayak nggak selesai gitu, hehe. Jadi, yah, ketika tempo hari ada event Japan Film Festival di Jakarta ternyata muter film ini, harus gw bela-belainlah. Jarang-jarang toh lihat anime Ghibli di layar lebar di sini.

Film The Tale of Princess Kaguya versi Ghibli ini rupanya tidak terlalu lari dari jalan cerita dongengnya. Bahkan bisa dibiliang poin-poin ceritanya persis sama. Lantas, kenapa gitu durasinya ampe dua jam lebih? Well, karena opa Takahata ingin memberi depth dan konteks dari semua titik-titik cerita dalam dongengnya itu. And I think it works really well. Dalam film ini, kita bisa melihat langkah-langkah perkembangan karakter si kakek dan nenek dan karakter Kaguya sendiri dengan lebih dalam dan manusiawi, sekalipun tidak meninggalkan unsur-unsur ajaibnya. Cukup bikin nyengir ketika hal-hal ajaib yang terjadi di film ini direspons secara sederhana oleh para karakternya sebagai "perbuatan dewa" lalu mereka move on ke kegiatan selanjutnya. Nggak pake ribet =D.

Jadi, ya, Kaguya di sini masih putri dari khayangan, dalam hal ini bulan, yang turun ke bumi, dan ditemukan ketika si kakek saat menebang bambu ajaib. Hanya saja di film ini urutan antara satu momen ke momen lainnya dibuat lebih detail. Sebelum sampai jadi gadis cantik yang tinggal di istana, ada bagian cerita pertumbuhan Kaguya dari kecil hingga besar di kampungnya yang dibuat menarik. Lalu, kebebasannya di kampung terenggut ketika kakek dan nenek memutuskan untuk pindah ke ibukota dan menjalani hidup laksana bangsawan--karena sejak merawat Kaguya, kakek juga mendapat kepingan emas melimpah setiap menebang bambu. Kaguya pun dilatih untuk menjadi sosok putri terhormat, sekalipun itu membuat hatinya bimbang dan terkungkung. Lebih bimbang lagi ketika datang lima orang laki-laki yang punya jabatan mau melamarnya.

Detail dan konteks yang disajikan di film ini pun berhasil menimbulkan makna baru yang mungkin tak bisa langsung didapat dari dongeng aslinya, sekalipun tanpa mengkhianati cerita yang sudah dikenal. Bagaimana hubungan Kaguya dan dua orang tua yang merawatnya disajikan penuh dinamika, bahkan ada penolakan dari Kaguya atas segala sesuatu yang menimpanya. Gw juga menemukan bahwa film ini semacam membuat perumpamaan tentang anak yang dipaksa dewasa terlalu cepat. You know, masa kecil Kaguya di kampung literally sangat singkat, karena dia udah remaja hanya dalam satu tahun (ya udah sih, namanya dongeng), lalu saat dewasa pun dia tak bisa menentukan pilihannya sendiri. Seolah-olah kesempatannya untuk bisa bebas dan berbahagia di dunia ini nyaris tak ada.

Nah, apakah ujung-ujungnya film ini akan memberikan kepada Kaguya apa yang dia mau? No, of course not =P. Sekali lagi, film ini boleh saja memberi tambahan dan improvisasi cerita, tapi nggak menyimpang dari kisah aslinya. Gw mungkin nggak akan cerita detail di sini, tapi yang bikin gw hampir menyerukan sumpah serapah saat nonton ini adalah saat film ini secara jelas membuat statement bahwa sekalipun some people believe nasib ditentukan oleh diri sendiri, tapi kenyataannya memang nggak semua hal ada di bawah kendali kita. Saat membuat satu pilihan, harus terima konsekuensinya, there's no "undo". Apalagi di film ini konteksnya adalah khayangan, lo mau apa dan gimana juga, ya nggak bisa dilawan. Yang tersisa dari situ hanyalah kenangan, yang harus dijaga baik-baik. Agak antitesis Disney deh di sini, tapi gw suka pengungkapannya yang smooth tapi nggak perlu pake simbol aneh-aneh *uhuk Miyazaki*.

That being said, The Tale of Princess Kaguya dengan mudah menjadi salah satu film animasi Jepang terbagus yang pernah gw tonton. Itu bahkan gw belum menyinggung desain animasinya yang luar biasa indah dan penataan adegannya yang lumayan banyak jenakanya, jadi enak sekali nontonnya dan menghibur gw. Tapi, visual yang agak "bold" itu tidak menghalangi gw untuk menyerap ceritanya yang justru membumi dan sangat komunikatif. Pemilihan angle untuk lebih mendalami karakter Kaguya dan orang-orang terdekatnya juga membuat film ini jadi lebih emosional daripada sekedar straight fairy tale.

Komplain gw satu-satunya mungkin dari durasinya sampai 2 jam 10-an menit, mungkin karena efek penceritaan yang cukup detail. Salah satu yang gw agak pertanyakan adalah adanya sosok Sutemaru--yang dari pertama kali liat aja udah langsung tahu dia bakal jadi cemcemannya Kaguya karena matanya gede berbinar =D--yang closure-nya agak gimana gitu. Tapi, paling nggak keberadaan dia memperkuat konteks film ini serta mendukung karakterisasi Kaguya, khususnya tentang Kaguya yang seakan kehabisan waktu untuk berbahagia seperti dengan yang ia mau, karena beda jalan hidup, strata sosial, dan jarak.

Bagaimanapun, gw tetap merasa bahwa film ini istimewa, karena keberhasilannya menohok rasa gw baik dari cerita, penceritaan, visualnya, sampai nilai-nilai yang hendak disampaikan. Film animasi yang cukup liar berimajinasi tapi nggak harus jadi bizzare dan menyimpang. Cara film ini untuk tetap setia pada cerita aslinya, sekaligus memberi tambahan-tambahan yang sangat relevan bahkan memperkuatnya, rasanya akan sulit disaingi oleh adaptasi dalam bentuk apa pun. Terkesan "kuno" tapi seolah dirancang untuk jadi everlasting. Keren banget!




My score: 8,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar