Minggu, 06 Desember 2015

[Movie] Nay (2015)


Nay
(2015 - Rumah Karya Sjuman)

Written & Directed by Djenar Maesa Ayu
Produced by Djenar Maesa Ayu
Cast: Sha Ine Febriyanti, Cinta Ramlan, Niniek L. Karim, Paul Agusta, Joko Anwar, Farishad Latjuba


Well, dari konsepnya aja film ini sudah merupakan challenge. Semacam eksperimen bercerita lewat satu sudut pandang, satu ruang (atau paling nggak si tokohnya cuma dalam mobil lagi nyetir), satu waktu, dan hanya satu tokoh yang terlihat di layar. Plot-nya sendiri bergerak dari percakapan si tokoh dengan tokoh-tokoh lain lewat telepon saja. Tentu saja ini bukan pertama kalinya dilakukan. Beberapa tahun lalu sudah ada film Locke-nya Tom Hardy yang gayanya sama. Atau film Buried-nya Ryan Reynolds juga begitu, tapi setting-nya di peti mati instead of mobil.

Jadi, apa yang beda ditawarkan dalam Nay? Kalau gue bilang sih dari topiknya. Di film ini ada Nay (Ine Febriyanti yang kini pake 'Sha' di depan namanya, somehow), seorang artis yang baru saja mendapat kesempatan ikut proyek internasional di usianya yang masuk kepala tiga. Tapi, di saat bersamaan, Nay baru tahu kalau dia hamil--kebetulan di luar nikah, dan pacarnya, Ben (suara Paul Agusta) kayak enggan menindaklanjuti langkah mereka ke depan. Pilihan antara meneruskan kehamilan atau menggugurkan demi karier menjadi pergumulan Nay sepanjang malam sambil menyetir dan bercakap lewat telepon antara lain dengan pacarnya, manajernya, mantan pacarnya, sampai ngomong sendiri dengan ibunya seolah-olah ada di kursi sebelah sopir padahal orangnya nggak ada.

Gw sebenarnya belum pernah menyimak karya-karya Djenar Maesa Ayu, baik sebagai penulis novel maupun sineas (dia bikin film Mereka Bilang Saya Monyet)--karena yang lebih nancep di gw adalah dia salah satu presenter pertama acara !nsert di Trans TV =P. Tapi beberapa kali gw sempat ngintip sinopsis novel-novelnya, yang memang banyak bercerita tentang kekerasan atau abuse yang dialami perempuan. Topik itu kemudian dibicarakan lagi oleh Djenar lewat Nay. Mulai dari topik pengaruh abuse dari kecil saat sudah dewasa, hingga pandangan yang telanjur berakar di masyarakat bahwa perempuan selalu dianggap salah atas setiap abuse yang dialaminya sendiri. Dalam pandangan gw, film Nay berhasil mengangkat topik itu dengan cukup utuh sekalipun tanpa peragaan visual, hanya lewat dialog ataupun monolog, yang untungya nggak terlalu gegabah dalam mengujarkan informasi-informasinya. 

Satu-satunya sisi visual yang ditunjukkan adalah ekspresi Nay setiap topik itu muncul. Ine Febriyanti itu jarang main film atau sinetron sehingga kadang kita lupa bahwa dia aktris bagus. Sepanjang film kita cuma disuguhi mukanya dia doang, tapi ia berhasil menunjukkan dinamika karakter Nay dan gw believe sama berbagai beban kehidupan Nay yang menahun, hanya dari sekitar satu setengah jam melihat Ine nyetir Mini Cooper malem-malem. Dan yang paling penting, semua itu dilakukan Ine dengan tetap meyakinkan bahwa dia beneran nyetir. How? Matanya selalu lihat ke jalan. Kalau ngelirik atau nengok pun nggak sampai berapa detik dia lihat jalan lagi. Itu namanya akting.

Tapi, dari banyak hal yang gw admire dari film ini, bukan berarti gw bisa mengabaikan berbagai gangguan dalam film ini. Story-wise gue nggak masalah, justru yang masalah dari segi teknikal. Pertama, bagaimanapun gw terpikat sama akting Ine, gw nggak bisa mengatakan hal yang sama teradap para voice cast-nya. Gw masih merasakan bahwa percakapan mereka tidak berada dalam semesta yang sama, karena sebagian besar kurang "tektok" sama Ine, bahkan banyak kali terdengar "membaca" banget ketimbang bercakap. Dan, satu lagi, sebagai orang yang juga sering nyetir di Jakarta, man, editing rute perjalanan Nay di film ini nggak make sense. Gw tahu ini sebenarnya no big deal, tapi ya gimana, itu jalan-jalan gw lewatin hari-hari, agak aneh aja dalam satu percakapan si Nay lagi jalan di jalan Sudirman lalu shot selanjutnya di jalan Rasuna Said, padahal harusnya itu mengalir real time. Nggak penting tapi gimana dong *sedih*.

Anyway, itulah kesan gw terhadap Nay. Film ini cukup berhasil menyampaikan apa yang mau disampaikan, entah itu dari topiknya, maupun ekshibisi akting Ine, dan gw cukup berhasil menikmati keduanya. Not perfect, dan certainly not original, tapi ya masih punya suatu daya tarik yang nggak bisa diremehkan. Dan, kalau dibandingkan sama Locke, suara dering telepon yang berulang-ulang berbunyi di Nay untungnya nggak sengeselin di Locke.




My score: 7/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar