Minggu, 13 Desember 2015

[Movie] In the Heart of the Sea (2015)


In the Heart of the Sea
(2015 - Warner Bros.)

Directed by Ron Howard
Screenplay by Charles Leavitt
Story by Charles Leavitt, Rick Jaffa, Amanda Silver
Based on the book "In the Heart of the Sea: The Tragedy of the Whaleship Essex" by Nathaniel Philbrick
Produced by Brian Grazer, Ron Howard, Joe Roth, Will Ward, Paula Weinstein
Cast: Chris Hemsworth, Benjamin Walker, Cillian Murphy, Ben Whishaw, Brendan Gleeson, Tom Holland, Michelle Fairley, Charlotte Riley, Frank Dillane, Joseph Mawle, Paul Anderson, Edwar Ashley, Donald Sumpter


Novel klasik Moby Dick karangan Herman Melville didaulat sebagai salah satu karya sastra terbaik yang dimiliki Amerika Serikat. Novel ini mengisahkan sekelompok pelaut dalam memburu seekor paus raksasa demi membalas dendam, karena paus tersebut telah menenggelamkan beberapa kapal penangkap paus. Memang sulit dipercaya bahwa seekor paus punya akal dan kehendak untuk menyerang balik para penyerangnya seperti diceritakan dalam novel itu, tetapi ternyata kisah tersebut pernah terjadi di kehidupan nyata.

Film In the Heart of the Sea mengangkat peristiwa nyata yang menginspirasi Melville dalam menulis Moby Dick. Tahun 1840-an, Herman Melville (Ben Whishaw) tergelitik untuk menggali kebenaran di balik tenggelamnya kapal pemburu paus bernama Essex. Kesempatan untuk menemui satu-satunya awak Essex yang masih hidup, Tom Nickerson (Brendan Gleeson) pun tak dilewatkannya. Dengan berbagai cara, termasuk menawarkan uang, Herman akhirnya berhasil meyakinkan Tom untuk menceritakan peristiwa itu dengan sebenar-benarnya.

Kisah pun mundur ke tahun 1820, ketika Tom masih berusia 14 tahun (Tom Holland). Ia menjadi salah satu awak termuda dari kapal Essex, di bawah kapten George Pollard (Benjamin Walker) yang tak berpengalaman, dan mualim satu Owen Chase (Chris Hemsworth). Owen adalah pemburu paus andal yang belum berkesempatan jadi kapten kapalnya sendiri, karena bukan dari keluarga terpandang. Namun, ia dijanjikan oleh pemilik kapal Essex akan dijadikan kapten bila berhasil membawa pulang 2.000 barel minyak paus—yang menjadi bahan bakar kebutuhan sehari-hari pada zaman itu.

Ketika kesulitan menemukan paus di samudera Atlantik, kapal Essex bergerak ke Barat setelah mendengar adanya kumpulan ratusan paus sperma yang hidup di tengah samudera Pasifik. Peringatan bahwa ada seekor paus monster yang mampu menyerang balik para penangkap paus pun dianggap sambil lalu. Padahal, itu bukan isapan jempol belaka. Ketika para awak hendak memanen paus di tengah lautan, paus 'monster' itu muncul dan berhasil menyerang kapal Essex hingga karam. Namun, itu hanya permulaan dari perjuangan para awak untuk bisa selamat dan kembali pulang.

Sesuai premisnya, kisah yang dituturkan di film ini adalah peristiwa nyata, yang kemudian pernah dibuat versi dramatisasinya di novel Moby Dick. Di satu sisi, film ini seolah dihadirkan untuk menyatakan bahwa kisah nyatanya tak kalah dramatis dari kisah fiksinya. Tetapi, kenyataannya film ini toh jatuhnya fiksi juga, pastinya butuh tambahan dramatisasi, yang membuatnya kurang valid disebut "lebih nyata" dari Moby Dick. Sehingga, sulit dibaca juga apa sebenarnya tujuan dibuatnya film In the Heart of the Sea ini, ketika yang ditawarkan belum tentu lebih baik dari versi yang pernah ada.

Film ini sebenarnya terlihat ingin menyampaikan banyak muatan dalam ceritanya. Selain interpretasi atas fakta tragedi kapal Essex yang diserang paus, film ini juga hendak memberi porsi besar untuk konflik yang dialami oleh manusianya. Sejak awal film, telah dibangun unsur rivalitas antara George sebagai kapten dan Owen sebagai mualimnya. Bahkan, itu pula yang mengawali penuturan Tom saat bercerita kepada Herman, seolah persaingan itu yang akan jadi tema besar film ini.

Tetapi, perkembangannya malah tidak terlihat jelas. Dualisme kepemimpinan yang berakibat pada kebingungan dan keberpihakan para awak tidak digali. Bahkan hubungan keduanya setelah segala peristiwa yang terjadi pun susah disimpulkan, apakah akhirnya saling menghargai atau tetap ada persaingan. Ekspektasi bahwa film ini akan bergulir dari interaksi kedua orang tersebut jadi tak terpenuhi, lantaran fokus terhadap bagian tersebut timbul tenggelam.

Tak cukup dengan itu, film ini juga kelihatan ingin memasukkan unsur dilema moral. Pada satu titik, Owen dan George mengesampingkan perbedaan demi mendapat tujuan yang sama, yaitu mengambil minyak paus sebanyak-banyaknya, sekalipun dengan risiko yang mengancam seluruh awak. Demikian juga ditunjukkan dilema saat mereka terlunta-lunta di tengah lautan tanpa persediaan makanan, yang kemudian berujung pada kanibalisme. Bagian ini pun ditunjukkan secara jinak saja, mungkin demi mengejar target usia penonton remaja.

Ditambah lagi, film ini mau mengungkap sebuah metafora modern tentang kecenderungan industri dalam menghalalkan segala cara demi kelangsungan bisnis, termasuk merusak alam dan berdusta demi citra. Padahal, bisnis mereka tidaklah abadi karena minyak paus kemudian digantikan dengan minyak bumi dan sumber energi lain. Sayangnya, bagian-bagian ini ditampilkan bak tambahan yang tak punya korelasi kuat dengan kisah utamanya, dan hanya menyentuh permukaan saja.

Terlepas dari semua itu, ada satu hal yang jelas ditunjukkan dari film ini, yaitu keseriusan dalam menggambarkan petualangan dan tragedi yang dialami kapal Essex dan awaknya saat mengarungi samudra. Penataan desain produksi, sinematografi, hingga efek visual berhasil menyajikan sebuah pengalaman dramatis baik di permukaan maupun di bawah air, khususnya saat adegan kapal Essex diserang oleh paus raksasa hingga karam.

Detail tentang cara kerja para pelaut ini pun ditunjukkan cukup komprehensif dan informatif. Dari cara menangkap paus, lalu diambil lemak dari tubuhnya dan minyak dari dalam kepalanya, sampai langkah-langkah tindakan darurat untuk menyelamatkan diri saat kapal mulai tenggelam. Paling tidak suasana dan cara hidup orang-orang AS pada abad ke-19 bisa digambarkan dengan baik di film ini.

Sebagai sebuah tontonan, In the Heart of the Sea sesungguhnya tetaplah memikat. Visual film ini dirancang megah, dan unsur ketegangan dari 'permusuhan' awak kapal Essex melawan paus raksasa juga dibangun dengan efektif. Tetapi, mungkin karena terlalu banyak muatan yang mau diceritakan, kedalaman karakter dan konflik antarkarakternya jadi agak terbengkalai.

Film ini boleh saja disebut versi realistis dari novel Moby Dick, tetapi itu jadi percuma jika tidak ada emosi yang terasa nyata keluar dari karakter-karakternya. Pada akhirnya, akan lebih nyaman menyaksikan film ini sebagai kisah petualangan saja, ketimbang sebuah kisah nyata yang diharapkan lebih dramatis daripada versi fiksinya.





My score: 6,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

2 komentar:

  1. wah belum nonton... apakah paus sperma yang digambarkan dalam posternya sebesar itu juga dalam filmnya, mas? secara banyak yg mengklaim ukuran paus itu tidak ilmiah.

    nice review

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo bang, kalau di filmnya sih nggak sebesar di poster, tapi lebih besar dikit dari kapal Essex (yang itungannya juga nggak gede-gede amat), hehe.

      Thanks sudah mampir =)

      Hapus