Rabu, 25 November 2015

[Movie] The Hunger Games: Mockingjay - Part 2 (2015)


The Hunger Games: Mockingjay - Part 2
(2015 - Lionsgate)

Directed by Francis Lawrence
Screenplay by Peter Craig, Danny Strong
Story Adaptation by Suzanne Collins
Based on the novel "Mockingjay" by Suzanne Collins
Produced by Jon Kilik, Nina Jacobson
Cast: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Woody Harrelson, Donald Sutherland, Julianne Moore, Philip Seymour Hoffman, Willow Shields, Sam Claflin, Elizabeth Banks, Mahershala Ali, Jena Malone, Jeffrey Wright, Natalie Dormer, Michelle Forbes, Patina Miller, Gwendoline Christie, Evan Ross, Elden Henson, Wes Chatham, Omid Abtahi, Stanley Tucci


Diangkat dari trilogi novel karya Suzanne Collins, seri film The Hunger Games menjadi salah satu sensasi beberapa tahun belakangan. Tiga film sudah dirilis, yakni The Hunger Games (2012), The Hunger Games: Catching Fire (2013), dan The Hunger Games: Mockingjay - Part 1 (2014), seri ini sukses mengumpulkan miliaran dolar AS di box office dunia, sekaligus meroketkan Jennifer Lawrence sebagai bintang Hollywood bersinar. Tahun 2015, The Hunger Games: Mockingjay - Part 2 dirilis untuk menuntaskan kisah berlatar dystopian future ini.

Menengok cerita sebelumnya, seri ini kisahkan sebuah negara di masa depan bernama Panem, yang dipimpin secara totaliter oleh Presiden Snow (Donald Sutherland). Untuk memperkokoh kuasanya sekaligus meredam pemberontakan, pemerintah merancang sebuah permainan maut tahunan bernama The Hunger Games, yang mengadu kekuatan dan keterampilan para remaja dari setiap distrik negara, sampai tersisa satu orang juara yang masih hidup sebagai juaranya. Pertandingan berbentuk survival game ini disiarkan ke penjuru negeri layaknya reality show, membuat pemenangnya akan jadi selebriti, lalu dijadikan alat propaganda negara agar rakyat tetap tunduk.

Kisah Mockingjay berkutat pada juara The Hunger Games dari distrik 12, Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) yang diajak bergabung oleh gerakan pemberontak distrik 13 pimpinan Presiden Alma Coin (Julianne Moore), untuk menggulingkan pemerintahan Snow di ibukota Capitol. Ini merupakan kelanjutan dari keberanian Katniss untuk melawan pemerintah saat memenangkan The Hunger Games, yang menjadikannya simbol perlawanan rakyat. Kala itu, aturan permainan terpaksa dilanggar dengan adanya dua orang pemenang, yaitu Katniss dan rekannya dari distrik 12—yang juga mencintainya—Peeta Mellark (Josh Hutcherson), karena Katniss mengancam akan mati bersama Peeta daripada membunuhnya.

Dalam film Mockingjay - Part 1, Katniss telah ditunjuk sebagai duta perlawanan dengan menggunakan popularitasnya. Ia ditugaskan melakukan kunjungan ke berbagai distrik demi menggalang dukungan, termasuk membintangi berbagai tayangan propaganda buatan distrik 13. Part 1 pun terhenti ketika distrik 13 berhasil membebaskan Peeta dari sekapan Snow di Capitol, namun Peeta ternyata sudah dicuci otak untuk membenci dan membunuh Katniss.

Dari sana, Mockingjay - Part 2 langsung memulai tuturannya ketika distrik 13 hanya beberapa langkah lagi untuk menyerang Capitol. Tekanan ini membuat Presiden Snow menitahkan berbagai perangkap yang biasa dipakai untuk The Hunger Games dipasang di seluruh penjuru Capitol, demi menghalangi pasukan pemberontak. Katniss sendiri dilarang oleh Presiden Coin untuk terjun ke lapangan, karena ia dibutuhkan untuk tetap hidup sebagai simbol. Namun, Katniss tak bisa tinggal diam, karena ia sudah bertekad untuk memusnahkan Snow yang jadi sumber penderitaan terhadap diri dan keluarganya seumur hidup mereka.

Seri The Hunger Games memang punya daya magis sendiri. Novel aslinya ditujukan untuk pembaca muda, menggabungkan unsur fantasi, fiksi ilmiah, action, thriller, dan tentu saja kisah cinta antara muda-mudi. Tetapi, film ini juga menyimpan kompleksitas dengan dimasukkannya tema politik dan sosial dalam bentuk metafora dan satir. Semua unsur tersebut dengan baik diterjemahkan dalam bentuk film layar lebar pertama kali oleh Gary Ross di film The Hunger Games pertama, yang ternyata juga sukses besar di box office, sekalipun skala produksinya terbilang sederhana bila dibandingkan film-film blockbuster Hollywood lain. Seri ini pun diteruskan dengan layak dalam sekuel-sekuelnya yang digarap Francis Lawrence.

Dari film-film yang ada, seri The Hunger Games memang lebih dari sekadar adegan-adegan akbar khas Hollywood yang membelalak mata. Ada dua hal yang sebenarnya menjadi titik kekuatan seri ini. Pertama, karakterisasi Katniss yang dimainkan tanpa cela oleh Jennifer Lawrence, yang berhasil menjadi panutan baru, baik bagi rakyat Panem maupun penonton, sehingga perjalanannya terus dinanti. Dan yang kedua, film ini masih bisa menampilkan lapisan tema sosial dan politik yang kuat dan mengena. Unsur itu pula yang membuat segala keputusan dan tindakan para tokohnya lebih kompleks daripada soal kebaikan melawan kejahatan.

Ini semakin terbukti di Mockingjay - Part 2, ketika semakin samar siapa yang benar dan yang salah. Sebelumnya, status selebriti Katniss dan Peeta sebagai juara Hunger Games membuat mereka jadi alat propaganda pemerintahan Snow. Kini, Katniss jadi alat propaganda kepentingan distrik 13, sementara Peeta digunakan oleh Snow untuk propaganda tandingan. Keduanya terjebak dalam permainan politik dua pihak, yang menggunakan media sebagai medan perang untuk memengaruhi rakyat. Dalam situasi demikian, dua film Mockingjay berfokus pada upaya Katniss untuk akhirnya bisa benar-benar memegang kendali atas hidupnya sendiri, terlebih saat dirinya sudah telanjur jadi "milik publik".

Harus diakui bahwa skala cerita Mockingjay memang yang terbesar dari dua judul sebelumnya, melibatkan banyak karakter dan adegan-adegan yang juga lebih besar. Namun, menariknya film ini tetap digarap dengan tetap berpegang pada sudut pandang Katniss. Dengan cakupan cerita yang semakin luas, film ini tetap setia pada tujuan utama Katniss sejak awal seri ini, yaitu melindungi keluarga dan orang-orang yang dicintainya, yang menurutnya hanya bisa terwujud jika Snow tewas.

Karena itu pula, adegan-adegan peperangan dan yang ditunjukkan pun hanya dari sisi Katniss yang ada di garis belakang. Dampaknya, film ini jadi terkesan lebih sunyi dari yang diekspektasi terhadap sebuah "kisah penutup", dan berpotensi menimbulkan kejenuhan. Mungkin ini juga dipengaruhi bahwa kisah ini dipecah jadi dua film, sehingga terasa banyak detail yang dipanjang-panjangkan, khususnya ketika Katniss ikut pasukan menyusup ke Capitol.

Akan tetapi, cara itu juga memunculkan kelebihan di tempat lain. Ketika Katniss berada dalam sebuah peristiwa yang besar dan ramai, kamera tetap menyorot Katniss dan apa yang dilihat dari sudut pandangnya, sehingga intensitas situasinya lebih terasa nyata. Cukup menyimpang dari film-film blockbuster Hollywood yang biasanya tak kuasa ingin memamerkan besarnya skala produksi mereka secara panorama, film ini memilih jalan berbeda. Sebab, sejak awal tujuan kisah ini bukanlah adegan perang besar-besaran, tetapi kembali lagi pada kisah Katniss dan perjuangannya dalam membuat perubahan, yang dalam film ini dituturkan dengan lancar.

Mockingjay - Part 2 pun pada akhirnya menjadi sebuah penutup yang cukup pantas bagi seri The Hunger Games. Mungkin kemasannya dan penyajiannya sebagai tontonan hiburan kurang sempurna, terutama dari laju cerita yang cenderung lambat di paruh awal, dan kenyataan bahwa harus menunggu sampai dua film berdurasi masing-masing dua jam untuk mencapai akhirannya. Namun, film ini berhasil menutup rangkaian kisah Katniss secara utuh. Bahkan, lapisan-lapisan tema yang membuat seri film The Hunger Gamespunya daya tarik lebih, juga ciri khasnya memunculkan kelegaan dan kegetiran di saat bersamaan, sanggup dipertahankan hingga akhir.





My score: 7/10

Artikel ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar