Kamis, 19 November 2015

[Movie] Badoet (2015)


Badoet
(2015 - DT Films)

Directed by Awi Suryadi
Screenplay by Agasyah Karim, Khalid Kashogi, Awi Suryadi
Story by Daniel Topan
Produced by Daniel Topan, Haresh Kemlani
Cast: Daniel Topan, Christoffer Nelwan, Aurellie Moeremans, Ratu Felisha, Tiara Westlake, Fernandito Raditya, Ronny P. Tjandra, Marcel Chandrawinata


Selama berbulan-bulan, proyek film horor Badoet mendapat sorotan dari penggemar genre ini, berkat trailer dan posternya yang cukup menjanjikan beredar di media sosial. Kini, film garapan sutradara Awi Suryadi ini telah beredar di bioskop, saatnya dibuktikan apakah film ini memang menampilkan sebuah tontonan yang dinanti-nanti, yaitu film horor Indonesia yang digarap layak dan memang seram. Untuk syarat tersebut, film Badoet termasuk berhasil memenuhinya.

Kehidupan di sebuah rumah susun tampak berjalan seperti biasa. Orang-orang menjalani keseharian rumah tangga, anak-anak bermain ke sana ke mari, serta interaksi yang cukup akrab antara penghuni unit yang satu dengan yang lain. Keakraban itu pula yang membuat kabar seorang anak tewas tergantung di kamarnya menjadi menggemparkan. Terlebih lagi, tak lama sesudahnya, dua anak lain juga meninggal dengan cara yang tak kalah tragis. Kini tersisa satu teman sepermainan dari para korban, Vino (Fernandito Raditya), dan ia pun kini berperangai aneh, membuat sang ibu, Raisa (Ratu Felisha) jadi semakin gelisah.

Di sisi lain, adalah Donald (Daniel Topan), Farel (Christoffer Nelwan), dan Kayla (Aurellie Moeremans), tiga mahasiswa tetangga Raisa yang juga terpengaruh atas tragedi di lingkungan mereka. Mereka kemudian bersedia membantu mengumpulkan barang-barang peninggalan korban untuk disumbangkan. Namun, saat melakukan itu mereka menemukan bahwa masing-masing korban menyimpan gambar satu sosok badut yang sama. Padahal, di lingkungan mereka hampir tidak pernah terlihat adanya badut, termasuk di pasar malam yang sedang dibuka di dekat rumah susun tersebut. Ketiganya terdorong untuk mengungkap misteri sosok badut ini, dan di waktu bersamaan, mereka mulai alami teror yang tak terjelaskan.

Untuk sebuah film horor komersial, film Badoet termasuk matang dalam penyajiannya. Film ini mengambil badut sebagai momok dalam ceritanya, yang dibangun sebagai sosok yang seram sekaligus intimidatif, sekalipun frekuensi kemunculannya di layar tidak sering. Hal ini berhasil karena terlihat ada detail yang digarap rapi dari sosok badut tersebut, didukung oleh permainan apik Ronny P. Tjandra dan rancangan kostum dan tata riasnya. 

Bangunan ceritanya secara keseluruhan pun ditata dengan baik. Penonton dibuat dekat terlebih dahulu dengan karakter serta plot misterinya, sebelum dibombardir dengan adegan-adegan seram. Pilihan untuk menempatkan cerita di rumah susun juga tergolong efektif. Rumah susun yang ditampilkan memang terlihat biasa saja, tanpa ditambah-tambahi dengan unsur-unsur yang menambah angker. Akan tetapi, dengan pengambilan sudut gambar, pencahayaan, serta bantuan tata suara dan musik, atmosfer mencekam itu tetap bisa tercipta, sebagaimana dibutuhkan dalam sebuah film bergenre horor.

Bahwa cerita Badoet mampu menyimpangkan diri dari premis klise yang biasa ditampilkan dalam film-film horor umumnya juga patut mendapat perhatian. Film ini tidak mengisahkan sekelompok anak muda yang "cari gara-gara" dengan mendatangi sebuah tempat yang jelas-jelas angker. Setiap kejadian di Badoet diletakkan di situasi yang dekat dengan keseharian, tempat-tempat yang memang biasa didatangi dan dihuni orang-orang biasa tanpa prasangka macam-macam. Justru karakter-karakternyalah yang didatangi oleh teror. Penempatan cerita seperti ini paling tidak bisa memudahkan penonton untuk bersimpati pada karakternya, bahwa mereka hanyalah korban dari hal-hal yang tidak mereka ketahui.

Bukan berarti Badoet benar-benar lepas dari hal-hal klise. Bagian pengungkapan misteri di paruh akhir terbilang memakai jalan yang terlalu gampang dengan kemunculan sosok Nikki (Tiara Westlake), yang digambarkan memiliki kepekaan supranatural. Nikki hadir sebagai sosok yang mampu mengetahui segala hal di balik misteri badut—ditunjukkan dengan memakai flashback—sehingga bisa menuntun jalan mencari solusi. Untungnya penataan adegan di bagian ini tetap bisa dibuat dengan konsep yang menarik sehingga keklisean itu bisa sedikit dimaafkan.

Terlebih lagi, sosok Nikki bisa dibaurkan dengan mulus sekalipun muncul belakangan. Ia tidak ditampilkan sebagai dukun atau paranormal bermetode misterius dan jadi penyelamat satu-satunya, melainkan dibuat lebih membumi dengan perilaku yang tergolong biasa saja—hanya sedikit emosional dan berpenampilan punk, yang justru membuat karakternya lebih believable dan mudah meraih simpati penonton sebagaimana protagonis yang lain.

Cerita dan konsep seperti dalam film ini mungkin tidak benar-benar baru, tetapi dengan cara penggarapannya, Badoet bisa menyusun dan menyajikannya sebagai tontonan yang tetap fresh. Film ini tidak bertumpu pada seberapa sering sosok menyeramkan itu muncul, tetapi lebih peduli pada pengungkapan misteri dan membangun atmosfer ngeri terlihat tanpa harus terlihat overdone. Jika bermaksud membuktikan bahwa film horor Indonesia tidak harus "murahan", film ini sudah melakukannya dengan baik.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar