Selasa, 27 Oktober 2015

[Movie] Sicario (2015)


Sicario
(2015 - Lionsgate)

Directed by Denis Villeneuve
Written by Taylor Sheridan
Produced by Basil Iwanyk, Edward L. McDonnel, Molly Smith, Thad Luckinbill, Trent Luckinbill
Cast: Emily Blunt, Benicio Del Toro, Josh Brolin, Daniel Kaluuya, Victor Garber, Jon Bernthal, Jeffrey Donovan, Maximiliano Hernández, Raoul Trujillo, Julio Cedillo


Call me sotoy, tapi kayaknya dari hanya dua film buatan Denis Villeneuve yang gw tonton, gw melihat doi cenderung membuat segala sesuatu seintim dan sesunyi mungkin sekalipun skala ceritanya sebenarnya besar dan ramai. Itu gw rasakan ketika gw nonton Prisoners yang agak bikin geregetan karena kasus kriminal yang jadi (mungkin gw salah kira) plot utamanya digulirkan dengan lelet demi menyorot sisi emosi karakter-karakternya. Sicario juga ternyata punya kecenderungan sama. Emang sih film ini menampilkan karakter polisi dan latarnya adalah "perang" narkoba di perbatasan AS dan Meksiko, tapi kalau mengharapkan akan ada aksi seru menegangkan memacu adrenalin ya sorry sorry jek. Again, semua itu dikecilkan porsinya in favour of memunculkan sisi emosi karakternya.

Dengan penyajian seperti itu, gw mencoba menyerap apa yang mau disampaikan film ini. Sicario itu punya semesta cerita yang berpotensi epic. Ada polisi, FBI, gangster, mafia, imigran gelap, sampai ke CIA, baik yang baik-baik maupun yang korup. Gw bisa membayangkan ke-epic-an film ini bisa seperti film Traffic. Tapi, something familiar happened, karena yang gw lihat justru Sicario memakai skala sunyi, seperti serial The Bridge (bisa-bisanya gw menyamakan dua film dari seorang sineas kelas Cannes dengan serial TV, lancang sekali *gantung diri*). 

Anyway, film ini gw lihat lebih berfokus pada seorang agen FBI bernama Kate (Emily Blunt) yang lurus dan tangguh dan kebetulan wanita, yang harus "melihat dunia nyata" dengan praktik-praktik jahanam yang dilakukan oleh pihaknya sendiri untuk melawan bandelnya bandar narkoba di AS-Meksiko. Jadi, metode untuk meringkus target operasi dan sebagainya itu nggak terlalu ditonjolkan. Isinya adalah si agen FBI ngikutin si agen pembasmi kartel narkoba bernama Matt (Josh Brolin) dan pria misterius bernama Alejandro (Benicio Del Toro) untuk "jalan-jalan" antara Amerika dan Meksiko tanpa tahu tujuannya apa. Pokoknya mereka ingin mancing salah satu petinggi kartel untuk membawa mereka ke markas dedengkot kartelnya, tapi pertanyaannya tetap sama: ngapain si agen FBI baru ini diajak-ajak? Tapi ya dalam perjalanannya si Kate melihat dan mengalami banyak hal sehingga ia disadarkan bahwa memberantas kejahatan dan menegakkan keadilan belum tentu sama pengertiannya.

Terus terang gw tertarik nonton ini karena ada nama sinematografernya, Roger Deakins, yang terkenal mampu membuat gambar-gambar cakep dalam berbagai situasi. Dalam film ini pun nggak terkecuali, dan itu yang bikin film ini enak banget dilihat. Rupanya kerja para aktor pun nggak kalah mumpuni, Emily Blunt bisa menyamai kharisma Brolin dan the always-viciously-cool Del Toro sehingga gw cukup betah menyaksikan film ini. Yang mungkin absen di sini adalah nilai entertainment-nya, karena mungkin arahnya nggak ke sana. Film ini akan lebih banyak menampilkan adegan-adegan panjang sebelum masuk dalam momen yang seru dan violent, ini istilahnya slow-burn. Nah, karena momen violent nan serunya itu dikit, ya jadinya film ini berasa berpanjang-panjang aja, sambil ngliatin pemandangan gurun Amerika (seriously, gambar pemandangannya banyak banget nggak kalah sama tayangan Discovery World HD atau NHK *anaknya TV berlangganan banget*). Bahkan adegan penyerbuan puncak di sebuah lokasi rahasia dibikin panjaaaang banget, gelap-gelapan yang hampir nggak ngapa-ngapain, sebelum 5 menit kemudian *akhirnya* ada tembak-tembakan.

Terlepas dari kurang terhiburnya gw sama film ini, gw tetap mengerti kok arah film ini mau ke mana *hasek, biar kesannya cerdas =P*. Ketika film-film lain (yang sama-sama bertema kriminal, terutama) yang lebih pop sering mengglorifikasi kejagoanan--tindakan protagonis melakukan kekerasan terhadap antagonis se-violent apa pun asalkan dia di pihak yang baik jadinya ya "gakpapa", film ini mengaburkan mana antagonis dan protagonis itu serta memandang bahwa tindakan violent ya violent aja, mau menimpa "protagonis" kek "antagonis" kek, pokoknya nggak enak dilihat dan sulit untuk dibuat pembenarannya. Sebuah statement yang oke dan mengena. Tapi, ya kadang-kadang "kesunyian" dalam penyajian film ini lho yang bikin nggak kuat, padahal ini film "perang" lho.




My score: 7/10

1 komentar:

  1. Um. Agak bingung, karena emosi sih sebenernya dapet, tapi rasanya tetep ada yang kurang. KeLuar studio pun kaya'nya ga 100% puas. One thing for sure, though: EmiLy BLunt is my new queen.

    BalasHapus