Minggu, 20 September 2015

[Movie] Lily: Bunga Terakhirku (2015)


Lily: Bunga Terakhirku
(2015 - 700 Pictures)

Directed by Indra Birowo
Written by Priesnanda Dwisatria, Ilya Sigma
Produced by Ninin Musa
Cast: Baim Wong, Salvita Decorte, Wulan Guritno, Verdi Solaiman, Tanta Ginting, Abdurrahman Arif, Mike Lucock


Banyak hal yang disturbing buat gw dari film Lily: Bunga Terakhirku, entah itu sesuatu yang baik atau tidak. Kita mulai dari judulnya yang terdengar sangat nggak penting, font-nya yang "klasik" antara telenovela Meksiko 90-an dan undangan nikahan, posternya yang kayak promo sinetron. Tapi, film ini dibikin sama 700 Pictures, yang setahu gue film-filmnya punya production value yang oke, kayak Catatan Harian Si Boy dan Noah Awal Semula, jadi agak membingungkan juga jika mereka benar-benar membuat film yang remeh. Oh, dan bahwa ini directorial debut feature dari Indra Birowo yang setahu gue juga reputasinya nggak sembarangan sebagai aktor. Jadi agak gimana gitu melihat dua kontras ini.

Perasaan disturbing itu pun ternyata berlanjut ke filmnya. Film ini mengusung genre thriller dan roman, harusnya nggak ada ceria-cerianya. Tapi, pada kenyataannya desain dan warna-warna di film ini ditampilkan dengan cukup...err...norak, sekalipun tema thriller-nya tetap jalan. Di sini, gw akhirnya membaca bahwa ada kesengajaan timbulnya kontras-kontras tersebut dari pihak yang bikin film. 

Film ini kisahkan semacam brutal romance, antara seorang tukang bunga penyendiri dan seorang hostess berkodenama Lily di sebuah rumah pelacuran kelas elit *or so it seems despite the norakness of the wall paint*. Si tukang bunga juga adalah pembunuh berantai yang suka menculik tersangka pemerkosaan, meracuni sampai lumpuh, dan di-"kremasi" di rumahnya. Ketika dia mulai deket sama Lily, lalu mendengar kata "perkosa" untuk gambarkan pelanggan Lily yang main kasar, si tukang bunga akhirnya bertindak demi cintanya: mencari pelanggan yang menyakiti kekasihnya dan membuat nasib mereka sama dengan korban lain.

Entah kenapa gw bisa segitu terpengaruhnya sama kontras cerita dan tampilan gambar film ini. Kisahnya dark dan dituturkan dengan dark pula, tapi dari cara film ini memilih warna sampai perabotan (yang luar biasa vintage-nya) kurang bisa membuat gw masuk dalam atmosfer dark itu. Kontrasnya menarik, tapi kurang nyaman buat gw, ditambah pacing yang cukup slow juga bikin gw lebih agak nggak nyaman mengikuti film ini. Gw baru merasa engaged ketika film ini sampai pada titik paling suspense-nya, which is di menjelang akhir, dan itulah yang menurut gw cukup mencegah rasa tidak nyaman terus-terusan.

Nevertheless, masih banyak yang bisa gw apresiasi dari film ini. Pertama adalah ide dan cerita yang sebenarnya cukup unik, beda, dan berani, dan disusun dengan baik, gw nggak menemukan hal-hal vital yang tak terjelaskan di sini, semua berjalan dengan logika cerita yang okelah. Perlakuan terhadap ide cerita yang "sakit" juga oke, ibarat novel-novel dark romance *if there are such things =p*. Film ini juga memanfaatkan cukup maksimal dari skalanya yang kecil dan set-nya yang sedikit, nuansa intimate-nya dapetlah. Lalu penampilan mbak Salvita Decorte sebagai Lily yang ciamik sekaligus cantik, nggak ada kecanggungan sama sekali dan bakatnya aktingnya lebih benar-benar terpancar ketimbang debutnya di Mantan Terindah =p, mudah-mudahan karier aktingnya bagus setelah ini ^_^. 

Tapi memang secara keseluruhan gw juga kesulitan untuk sepenuhnya suka sama film ini. Dan, gw juga nggak bisa mengungkapkan secara konkret apa yang bikin begitu, selain rasa "nggak nyaman ngelihat-nya". Padahal mungkin rasa nggak nyaman itu memang disengaja, menekankan bahwa ini bukan roman biasa, bukan juga straight thriller atau horor, tapi ya efeknya di gw nggak nyaman tidak dalam artian menyenangkan. Namun, untuk sebuah film debut dari Indra Birowo, gue harus bilang ini jauh dari kata payah. Dari pilihannya untuk menggarap cerita seperti ini dan disajikan tidak dengan cara seadanya, plus menemukan dan mengarahkan para pemain yang hasilnya bermain oke (termasuk Baim), he's getting there-lah.  




My score: 6,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar