Minggu, 27 September 2015

[Movie] Everest (2015)


Everest
(2015 - Universal Pictures)

Directed by Baltasar Kormákur
Screenplay by William Nicholson, Simon Beaufoy
Produced by Tim Bevan, Eric Fellner, Baltasar Kormákur, Nicky Kentish Barnes, Tyler Thompson, Brian Oliver
Cast: Jason Clarke, Josh Brolin, John Hawkes, Emily Watson, Sam Worthington, Keira Knightley, Michael Kelly, Elizabeth Debicki, Martin Henderson, Jake Gyllenhaal, Robin Wright, Thomas M. Wright, Ingvar Eggert Sigurðsson, Naoko Mori, Ang Pula Sherpa


Judul Everest, yang notabene nama puncak tertinggi di dunia, mengesankan bahwa film garapan Baltasar Komákur ini haruslah tampil megah dan grand. Apalagi, film ini menampilkan aktor-aktris Hollywood bereputasi tinggi, dan mengangkat sebuah peristiwa nyata tentang tragedi yang melanda sejumlah pendaki Everest pada tahun 1996. Dengan demikian, tak salah bila timbul ekspektasi bahwa mungkin film ini akan lebih engaging dari film-film bertema serupa yang kisahnya fiktif, seperti Cliffhanger (1993) atau Vertical Limit (2000). Tetapi, kenyataannya tidak selalu demikian.

Film ini berfokus pada sebuah kelompok pendakian gunung Everest, pegunungan Himalaya, Nepal yang memakai jasa pemandu Adventure Consultants pimpinan Rob Hall (Jason Clarke) asal Selandia Baru. Rob memimpin tim pemandu dan pelatihan untuk para pendaki amatir dari berbagai bangsa dan profesi. Niat sederhana para pendaki untuk menyentuh titik puncak tertinggi di bumi memang butuh persiapan panjang, bahkan lebih dari satu bulan. Namun, segala persiapan yang dilakukan seakan tak cukup ketika pada hari pendakian yang ditunggu-tunggu, kondisi alam berbicara lain.

Everest pada dasarnya adalah film yang baik. Film ini menuturkan sebuah kisah nyata yang tragis dengan sensitivitas, informatif, dan dikemas dengan nilai produksi tinggi. Film ini terbilang mendetail dalam mendeskripsikan situasi pendakian ke Everest. Segala macam tahapan latihan, hal-hal yang perlu dipersiapkan para pendaki, sulitnya medan, pengaturan pengamanan, hingga kenyataan bahwa tidak semua pendaki sanggup sampai ke puncak—ataupun kembali pulang—dengan berbagai alasan, digambarkan dengan begitu lancar di sini.

Jika mendaki Everest di kenyataan memang sangat berat dan penuh risiko, film ini sudah menyampaikan informasi itu dengan baik. Kualitas audio visual yang mumpuni—khususnya production design dan visual effects, berhasil mendukung gambaran dari situasi-situasi tersebut sehingga tampak meyakinkan.

Film Everest juga seperti berniat membuat rekonstruksi ulang sekaligus pemeriksaan terhadap penyebab tragedi 1996 yang menjadi poin utama film ini. Cuaca ekstrem, kondisi beberapa peserta, dan membludaknya jumlah pendaki—yang berimbas pada manajemen jalur pendakian dan perlengkapannya, ditekankan sebagai penyebab utama dari tewasnya sejumlah pendaki saat itu. Dituturkan cukup detail secara kronologis, bagian ini pun menjadi nilai tambah tersendiri dari film ini.

Namun, ketika kekuatan film Everest ada dalam menggambarkan kondisi dan penuturan kronologi peristiwa, film ini justru loyo dalam menimbulkan dinamika antar karakternya. Memang benar bahwa film ini menyorot beberapa tokoh dengan watak yang cukup kuat, seperti Jan (Keira Knightley) yang adalah istri Rob, pengurus base camp Helen (Emily Watson), miliuner AS Beck Weathers (Josh Brolin) dan istrinya Peach (Robin Wright), tukang pos Doug Hansen (John Hawkes), jurnalis Jon Krakauer (Michael Kelly), hingga pendaki profesional yang memimpin kelompok lain, Scott Fischer (Jake Gyllenhaal). Tetapi, nyaris tidak ada gejolak berarti di antara mereka.

Terbaca ada kecenderungan film ini ingin netral terhadap para tokohnya, berhubung semuanya berdasarkan tokoh nyata, dan menghindari fiksionalisasi terlalu banyak, misalnya mengantagonisasi tokoh tertentu ataupun menambahkan unsur humor. Dan, mungkin kecenderungan itu pula yang jadi penyebab interaksi para tokoh sangat datar. Para tokoh ini hanya menarik secara individual dengan kisah-kisahnya, tak diperkaya dengan interaksi dengan tokoh lain. Jika ada yang benar-benar disorot, mungkin hanya hubungan Rob dan Jan yang diolah emosional, sekalipun penyajiannya tidak istimewa.

Karena itu, dari segi cerita Everest lebih terlihat seperti sebuah reka ulang di sebuah program acara dokumenter di National Geographic Channel atau Discovery Channel, ketimbang sebuah film yang dramatis yang menguras emosi. Dengan penyajiannya yang sangat lempeng itu, film ini mungkin tidak akan mendapat perhatian besar seandainya pemerannya bukan aktor-aktris Hollywood kelas A. Keterbatasan ruang karakterisasi pun agak menghambat para pemain ini untuk tampil maksimal, walaupun tak satu pun yang bermain buruk.

Akan tetapi, sekali lagi, Everest tetap sebuah film yang baik bila dilihat bahwa film ini mencoba menuturkan selengkap mungkin tentang sebuah peristiwa nyata. Unsur emosi dan thrill mungkin agak dikorbankan, tetapi film ini tetap berhasil dalam menyampaikan gambaran kondisi dan informasi tentang apa yang perlu diketahui dari tragedi ini, dalam bentuk film naratif. Jika ternyata niat pembuat filmnya adalah tidak membuat dramatisasi berlebihan, maka film ini sudah melakukan tugasnya. Namun, untuk menjadi sebuah tontonan yang bernilai hiburan, film ini masih kurang menggigit.





My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar