Kamis, 24 September 2015

[Movie] Bidadari Terakhir (2015)


Bidadari Terakhir
(2015 - Ganesa Perkasa Films/Im-a-gin-e)

Directed by Awi Suryadi
Screenplay by Priesnanda Dwisatria, Fauzan Adisuko
Based on the novel by Agnes Davonar
Produced by Chetan Samtani, Mashal Kishore, Dheeraj Kishore
Cast: Maxime Bouttier, Whulandary Herman, Stella Cornelia, Ikang Fawzi, Julian Jacob, Meirayni Fauziah, Ayu Diah Pasha, Monica Oemardi, Totos Rasiti


Dalam genre drama roman, seakan ada konvensi bahwa hanya ada dua jalan untuk mengakhirinya: bahagia atau sedih. Untuk akhir sedih, cara paling umum yang dilakukan adalah dengan membuat salah satu tokohnya meninggal, entah tiba-tiba karena tragedi, atau perlahan karena penyakit. Di film Indonesia, mungkin sudah hampir tak terhitung film yang mengangkat kisah cinta tragis karena salah satu tokoh utamanya berakhir meninggal karena penyakit berat. Sebuah formula yang sangat predictable tapi masih sering dilakukan, termasuk di film Bidadari Terakhir garapan Awi Suryadi.

Bukan bermaksud spoiler, tetapi untuk sebuah kisah adaptasi dari novel karya Agnes Davonar (juga menulis Surat Kecil untuk Tuhan, Ayah Mengapa Aku Berbeda, My Last Love, My Idiot Brother), kisah semacam itu bisa dibilang sudah terpola, apalagi ketika unsur penyakit itu disebutkan di sinopsisnya. Secara garis cerita, Bidadari Terakhir juga masih dalam pola yang sama. Kini tinggal masalah apakah film ini akan menuturkan cerita dengan cara dan pola yang predictable juga. Untungnya itu tidak terjadi.

Rasya (Maxime Bouttier) adalah siswa SMA di kota Balikpapan yang lurus-lurus saja. Atas tuntutan ayahnya (Ikang Fawzi), ia sangat fokus dalam sekolahnya demi mewujudkan rencana masa depannya bekerja di bidang migas, dan dia juga tidak keberatan menjalani itu. Namun, suatu malam Hendra (Julian Jacob), sahabat Rasya mengajaknya ke klub malam yang juga pusat pelacuran, dalam rangka merayakan ulang tahun Hendra. Rasya yang tak nyaman memilih untuk menunggu di luar. Dalam situasi yang kikuk, Rasya diajak ngobrol dengan Eva (Whulandary Herman), salah seorang pekerja seks di sana. Pertemuan dengan Eva yang bertuturkata cerdas rupanya berdampak besar bagi Rasya.

Rasya mulai mencari cara agar bisa bertemu lagi dengan Eva, bukan untuk tujuan seksual. Ia mulai dengan membayar Eva untuk menemaninya di kamar hotel untuk belajar. Lama-lama, kebersamaan mereka lebih dari sekadar transaksi, perasan cinta pun muncul. Rasya mulai mencoba membantu Eva, dari membiayai pengobatan ibu Eva (Ayu Diah Pasha), sampai mencarikan pekerjaan baru. Eva sebenarnya tersentuh, tetapi ia juga tidak nyaman dengan sikap Rasya, apalagi dengan kehidupannya yang keras dan rahasia besar yang ia pendam dari orang-orang terdekatnya.

Kembali pada pernyataan di awal, film Bidadari Terakhir terlihat berupaya untuk menyajikan cerita yang sebenarnya sangat klise ini menjadi tidak terlalu predictable, baik dari gaya bertutur maupun teknisnya. Salah satu hal yang paling kentara adalah bagaimana film ini pandai menyembunyikan topik penyakitnya, yang biasanya dipakai jadi jalan pintas untuk menarik simpati penonton sejak awal di film-film sejenis. Di bagian awal memang sempat disinggung desas-desus bahwa tokoh Eva mengidap penyakit sehingga tak banyak pelanggan yang mau menyewanya, tetapi itu tidak sampai mendistraksi ceritanya. Sebagai gantinya, film ini lebih mengutamakan romansa Rasya dan Eva, yang lebih terhalang oleh perbedaan status sosial daripada mengungkit-ungkit soal penyakit.

Dengan jalan demikian, Bidadari Terakhir berhasil lolos dari jeratan tontonan drama roman cengeng yang klise. Ketimbang berusaha memaksa penonton untuk menangis dengan adegan-adegan sedih, film ini lebih memilih jalan agar penonton simpati dengan karakternya, lewat pembangunan karakter yang cukup masuk akal, dan pertukaran dialog yang natural. Film ini ingin menyorot seorang Rasya yang melihat dunia di luar dunianya, dan seakan mendapat dorongan untuk mengikuti kata hatinya lewat pertemuannya dengan Eva. Sementara Eva sendiri berhasil digambarkan sebagai seorang perempuan yang berjuang di tengah kesulitan hidup. Bisa dibilang, film ini juga menyerempet ke cerita coming-of-age, meskipun tidak terlalu digali lebih dalam. Walaupun dari segi cerita keklisean masih (sangat) ada, tetapi setidaknya film ini sudah berupaya untuk tidak menyampaikannya dengan cara biasa-biasa.

Upaya itu juga tercermin dari penyampaian audio visual yang jauh dari sifat melankolis. Awi Suryadi yang sebelumnya sering menggarap film-film beratmosfer urban seperti Street Society dan Viva JKT48, tampaknya juga menerapkan gaya tersebut dalam Bidadari Terakhir. Ketimbang dengan gaya lemah lembut mendayu-dayu, hampir semua gambar di film ini diambil oleh kamera secara hand-held, dan penyuntingannya juga cepat tanpa harus memusingkan. Ditambah lagi, film ini menggunakan tata musik masa kini—gabungan indie rock dan elektronik. Kemasan yang lincah dan dinamis inilah yang mengurangi potensi kejenuhan dari cerita ini.

Film ini sebenarnya masih belum bisa terlepas dari romantisasi hal-hal yang sebenarnya cukup violent—seperti persoalan kemiskinan dan pekerja seks, juga keberadaan 'orang ketiga' yang sebenarnya sangat bisa disingkirkan dari cerita keseluruhan. Akan tetapi, itu masih bisa dimaklumi mengingat film ini tetaplah sebuah produk drama roman dengan target penonton muda. Terlepas dari itu, Bidadari Terakhir tetap sanggup mencapai tujuannya untuk menjadi film drama roman berunsur penyakit mematikan yang cukup berbeda dari biasanya, dan itu perlu diapresiasi.





My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar