Jumat, 21 Agustus 2015

[Movie] Fantastic Four (2015)


Fantastic Four
(2015 - 20th Century Fox)

Directed by Josh Trank
Screenplay by Jeremy Slater, Simon Kinberg, Josh Trank
Based on the comic books by Stan Lee, Jack Kirby
Produced by Simon Kinberg, Gregory Goodman, Matthew Vaughn, Robert Kulzer, Hutch Parker
Cast: Miles Teller, Kate Mara, Michael B. Jordan, Jamie Bell, Toby Kebbell, Reg E. Cathey, Tim Blake Nelson


Tahun 2005, ketika adaptasi komik superhero mulai menggeliat lagi di Hollywood, Marvel Comics bekerja sama dengan studio 20th Century Fox menghasilkan film tentang tim superhero, Fantastic Four. Memasang bintang Jessica Alba, Ioan Gruffud, Michael Chiklis, dan Chris Evans, film garapan Tim Story itu dikonsep cukup komikal, dengan elemen fantasi dan humor yang kental, tak terlalu jauh dari tone versi komik atau kartunnya. Tak terlalu percuma, film ini meraih sukses di box office global, sehingga menghasilkan sekuel berjudul Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer (2007), walau kurang bisa menyamai prestasi film pertamanya.

Beberapa tahun kemudian, Marvel sudah punya studio film sendiri dan menghasilkan film-film superhero sukses seperti Iron Man dan The Avengers. Fantastic Four, yang masih "nyangkut" hak ciptanya di Fox (bersama dengan franchise X-Men), belum jelas kelanjutannya setelah respons film terakhirnya kurang menggembirakan. Apalagi, Chris Evans yang tadinya menjadi Johnny Storm alias Human Torch kini telah berganti citra menjadi pahlawan Marvel lainnya, Captain America. Tak hilang akal, Fox dan Marvel akhirnya sepakat membuat reboot Fantastic Four, dengan merekrut sutradara muda Josh Trank, yang sebelumnya sukses lewat film bertema superhero dengan gaya found-footage, Chronicle (2012).

Jauh-jauh hari, film ini dideskripsikan tak hanya mengulang cerita Fantastic Four dari awal, tetapi dikonsep secara berbeda, lebih gelap, realistis, dan membumi. Dari segi casting pun film ini memasang pemain yang relatif muda, yaitu Miles Teller sebagai Reed Richards (Mr. Fantastic), Kate Mara sebagai Sue Storm (Invisible Woman), Jamie Bell sebagai Ben Grimm (The Thing), dan Michael B. Jordan sebagai Johnny Storm (Human Torch), plusToby Kebbell sebagai Victor von Doom (Dr. Doom). Meski nama dan kekuatan supernya sama, tetapi bangunan latar belakang dan karakter mereka di film versi baru ini dibuat berbeda.

Asal muasal kekuatan super yang diperoleh para karakternya pun diubah. Dalam versi komik maupun film pendahulunya, mereka digambarkan sebagai peneliti dan penjelajah antariksa yang terpapar sebuah zat asing di luar angkasa. Namun, dalam film terbaru ini, mereka semua diplot sebagai sekelompok peneliti yang menemukan mesin antardimensi, dan kekuatan mereka didapat saat mereka pergi ke sebuah dimensi lain.

Reed Richards sejak kecil memang sangat tertarik pada pembuatan mesin teleportasi (perpindahan benda jarak jauh seketika), sampai akhirnya ia dan sahabatnya, Ben Grimm direkrut oleh Dr. Franklin Storm untuk mengembangkan sebuah mesin teleportasi antardimensi skala besar di institut pimpinannya, yang sebelumnya sudah dikembangkan oleh Victor von Doom. Didukung oleh kedua anak Storm, Sue dan Johnny, mereka berlima berhasil membuat mesin teleportasi itu berfungsi. 

Namun, keberhasilan ini tak lantas bisa dirayakan. Pihak institut ingin eksperimen ini diambilalih oleh pemerintah AS. Tak terima kerja keras mereka dimentahkan, para peneliti muda ini nekad menjadikan diri mereka orang-orang pertama yang mencoba mesin tersebut dan berkunjung ke dimensi lain. Percobaan ilegal ini pun membawa dampak yang besar. 

Tak hanya membuat Victor tertinggal di dimensi lain itu, mereka semua terpapar zat energi asing yang membuat kondisi tubuh mereka tak seperti manusia biasa lagi: Reed jadi bertubuh elastis bak karet, Johnny bertubuh api membara, Sue dapat jadi tak kasat mata, dan Ben menjadi monster bertubuh batu. Mereka pun akhirnya menjadi objek penelitian badan pemerintah, bahkan dimanfaatkan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan negara. Ada yang menerima, ada pula yang menolak. Namun, kembalinya Victor dalam bentuk yang nyaris tak dikenali memaksa keempat mantan koleganya itu untuk bertindak.

Mengutak-atik cerita komik superhero menjadi sebuah film dengan pendekatan lebih realis memang tidaklah haram dilakukan, terutama di Hollywood. Seri film X-Men dan trilogi The Dark Knight sudah membuktikan bahwa pendekatan sepert itu tetap bisa sukses dan diterima—sayangnya kurang berhasil buat Hulk (2003). Ketahuan sekali bahwa Fantastic Four versi baru ini hendak mengarah ke sana. Menggunakan karakter dari yang sudah dikenal, film ini berjalan layaknya sebuah drama sci-fi thriller yang lebih banyak menyorot pada karakter dan penelitian yang mereka lakukan sebagai penggerak plot, ketimbang aksi mereka sebagai superhero.

Tetapi, apakah pendekatan itu tepat diterapkan pada Fantastic Four, perlu dipertanyakan. Kesan cerah dan fun agak sulit dilepas dari Fantastic Four. Bukan hanya bagi yang sudah familier dengan komik, kartun, atau film-film pendahulunya, tetapi dari konsep kekuatan super mereka sendiri sebenarnya kurang cocok untuk "diseriuskan". Manusia karet, manusia api, manusia batu, dan manusia tak kasat mata, ditambah musuh yang bisa sihir, semua deskripsi tersebut sangat memenuhi syarat untuk sebuah film serba heboh dan, well, fantastis. Ketika mereka semua ditaruh dalam lingkungan yang lebih realis, ada kesan bahwa para nama-nama superhero ini terkhianati dengan dicabutnya unsur cerah dan fun-nya itu.

Pada awal film berjalan, Fantastic Four memang berhasil menunjukkan konsep yang dimaksud. Secara perlahan film ini memperkenalkan para anggota yang kelak disebut Fantastic Four dengan bersahaja layaknya sebuah film drama, dibumbui sedikit humor yang cukup bekerja dengan baik. Kemudian kisah dibawa pada penemuan sebuah dimensi baru yang mungkin bisa jadi jawaban atas krisis energi bumi, dan berujung pada soal siapa yang berhak untuk mengelolanya. Baru setelahnya, unsur superhero itu masuk. 

Sampai di sana, film ini berjalan lancar dan aman-aman saja. Masalahnya mungkin pada penempatan unsur superhero yang baru masuk nyaris satu jam setelah film bergulir. Ditambah absennya adegan laga selama itu, bagian ini memang akan terasa lebih panjang dari yang seharusnya.

Tetapi, setelah unsur superhero itu masuk, film ini menukik tajam berganti gaya, seolah pembuat filmnya menyesal dengan apa yang telah disajikan di paruh awal sehingga berubah pikiran. Ceritanya jadi dituturkan terburu-buru, bahkan eksplorasi kekuatan baru orang-orang ini seakan digampangkan dengan lompatan "satu tahun kemudian" dalam sekejap. Ketika paruh awalnya film ini ingin punya pendekatan lebih dramatis, paruh akhirnya kemudian dijejali dengan berbagai adegan laga, tak peduli apakah adegan-adegan itu jelas maksudnya atau tidak, yang penting ada adegan besar untuk melampiaskan "sepi"-nya film ini di awal. Perubahan corak ini sayangnya sangat tidak mulus dan terkesan dipaksakan.

Terlepas dari berbagai kisruh di balik layar—konon sutradara Trank berselisih dengan pihak studio sehingga tak merestui hasil akhir film ini, Fantastic Four versi baru memang berada dalam posisi sulit untuk bisa memuaskan semua pihak. Bagi yang mencari film full action, film ini bakal susah berkenan. Juga bagi yang menikmati drama realisnya—yang sebenarnya digarap baik, film ini justru diakhiri dengan kekacauan adegan dan dialog-dialog yang sangat klise dan merusak suasana, kalau tidak mau disebut malu-maluin.

Seandainya film ini memilih satu corak saja—drama realis seluruhnya atau action seluruhnya, mungkin film ini akan lebih mudah diterima, paling tidak karena konsistensinya. Entah bagaimana caranya merespons film ini, yang tadinya mau menanggalkan unsur-unsur fun (dan konyol) dari film-film sebelumnya, tapi malah ujung-ujungnya jadi lebih konyol dari yang sebelumnya. Jika yang membuat film saja kebingungan, bagaimana penontonnya?



My score: 6,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar