Selasa, 07 Juli 2015

[Movie] SPL 2: A Time for Consequences (2015)


殺破狼II (Sha po lang II/Saat po long II)
SPL 2: A Time for Consequences
(2015 - Bravo Pictures/Sun Entertainment Culture/Sil-Metropole/Bona Film/Maximum Gain Kapital)

Directed by Soi Cheang
Written by Jill Yeung, Huang Ying
Produced by Wilson Yip, Paco Wong
Cast: Tony Jaa, Wu Jing, Simon Yam, Zhang Jin, Louis Koo, Unda Kunteera Thordchanng, Ken Lo, Jun Kung, Dominic Lam, Babyjohn Choi, Wilson Tsui, Philip Keung


Tidaklah berlebihan bila menyangkut film yang dibintangi aktor-aktor laga, penonton mengharapkan rangkaian aksi seru yang memacu adrenalin. Deretan nama yang ditampilkan dalam film Hong Kong, SPL 2: A Time for Consequences, pun sudah memberi isyarat itu: ada bintang laga Thailand, Tony Jaa (Ong-Bak, Tom-Yum-Goong), juga dua nama aktor Mandarin yang dikenal jago bela diri, Wu Jing (Twins Mission, Shaolin) dan Zhang Jin (The Grandmaster). Adu kelahi pamungkas antara ketiganya pasti paling dinanti-nantikan. Akan tetapi, sutradara Soi Cheang juga sanggup memberi nilai tambah dalam SPL 2, yaitu cerita yang bukan hanya sekadar pengisi waktu di antara adegan-adegan laganya.

SPL 2 mungkin tidak bisa dipandang sebagai film genre action biasa. Film ini adalah follow-up dari kesuksesan film berjudul SPL: Sha Po Lang di tahun 2005, yang dibintangi Donnie Yen dan Sammo Hung. Film tersebut dinilai sukses menyajikan gabungan aksi khas sinema Hong Kong dengan thriller kriminal modern. SPL 2 sebenarnya sama sekali tidak ada kaitan cerita maupun karakter dengan film pertamanya itu, hanya "meminjam" judulnya saja. Namun, konsep menggabungkan aksi dengan drama kriminal rupanya masih mendasari film yang baru ini. SPL 2 kini menyorot bisnis hitam perdagangan organ tubuh manusia, ditambahkan dengan aneka pertarungan fantastis khas film silat.

Polisi Hong Kong, Chan Kwok Ah (Simon Yam) memimpin penyelidikan terhadap serangkaian kasus penculikan dan pedagangan organ manusia, yang mengarah pada seorang pengusaha kaya, Hung (Louis Koo). Kesempatan meringkus Hung mulai terbuka, ketika Hung yang berjantung lemah (dan bergolongan darah langka) berniat menjadikan adiknya sendiri, Man Piu (Jun Kung) sebagai donor jantung.

Ketika Man Piu berusaha kabur, Chan menugaskan Kit (Wu Jing), anak buah sekaligus kemenakannya yang menyamar di dunia mafia, untuk membawa Man Piu ke polisi. Namun, penyamaran Kit terbongkar, ia ditangkap orang-orang Hung dan diselundupkan ke sebuah penjara di Thailand.

Di Thailand, Chai (Tony Jaa) mesti bekerja keras demi pengobatan putri kecilnya, Sa (Unda Kunteera Thordchanng) yang menderita leukemia. Donor sumsum tulang belakang yang cocok dengan Sa tak bisa dihubungi sampai sekarang, sementara obat-obatan yang dibutuhkan sangat mahal. Chai kini bekerja sebagai sipir di penjara yang dipimpin oleh Ko Chun (Zhang Jin). Chai beberapa kali melihat hal yang tak beres dengan penjara ini, terutama Ko yang menyimpan banyak rahasia. Kecurigaan itu semakin besar ketika Ko memasukkan Kit ke penjara itu. Belakangan, Kit dan Chai menemukan cara untuk saling membantu, baik itu meringkus komplotan Hung, juga menyelamatkan putri Chai.

Seperti disinggung di awal, keberadaan Tony Jaa, Wu Jing, dan Zhang Jin dalam satu film yang memosisikan mereka jadi pihak yang bertikai memang menjanjikan adegan baku hantam yang "pecah". Yang menggembirakan, SPL 2 tidak hanya bergantung pada itu. Film ini menyajikan banyak lagi adegan action yang digarap apik, baik pertarungan satu lawan satu, satu lawan banyak, banyak lawan banyak, ataupun baku tembaknya. Seolah tak ingin menyia-nyiakan talenta yang ada, sutradara dan tim penata laga film ini berusaha menyajikan adegan-adegan berteknik tinggi, sebut saja adu tembak di pelabuhan dan kekacauan di penjara—beberapa menggunakan teknik one continuous shot yang mulus. Memang ada saatnya adegan-adegan tersebut terlihat terlalu fantastis (dengan bantuan visual effects), tetapi dampaknya tetap maksimal dalam memenuhi syarat sebuah sajian aksi yang sangat menghibur.

Selain itu, cukup di luar dugaan bahwa SPL 2 tampilkan cerita yang tidak kalah menonjol dari sisi action-nya. Sekilas cerita film ini seperti terbebani dengan konflik yang jamak, mungkin bahkan terlalu ribet untuk sebuah film aksi hiburan. Namun, pada akhirnya semuanya dapat dituturkan dengan jelas, menyatu, dan ringkas. Penggambaran latar belakang serta motivasi para tokohnya disusun sedemikian rupa, sehingga berbagai adegan baku hantam dan tembak-tembakan yang dilakukan bisa beralasan kuat, bukan supaya sekadar seru saja. 

Film ini juga tidak menjadikan topik seserius perdagangan organ tubuh menjadi sisipan belaka. Topik ini tetap bisa dibawa sebagai gambaran dunia hitam yang mencekam dan keji, bukan sekadar latar belakang yang digarap main-main. Film ini pun bisa mengatur cara untuk memasukkan unsur hubungan antar keluarga di berbagai sisi, yang tidak mengganggu penuturan film ini sebagai aksi dan thriller. Entah itu cinta kasih mengharukan ayah dan anak Chai dan Sa, ataupun persaudaraan tragis antara Hung dan Man Piu, yang justru menambah lapisan hiburan dari film ini.

Makin ke belakang, SPL 2 juga sebenarnya bukan tanpa cela. Segala bentuk kebetulan di sana sini, dan stamina para tokoh yang bak manusia super membuat film ini tak lepas dari kesan "film banget" pada akhirnya. Tetapi, boleh dibilang hanya itu yang menjadi ganjalannya. Selebihnya, SPL 2 justru membuktikan bahwa untuk menyajikan sebuah tontonan laga yang menghibur bukan berarti harus mengabaikan unsur lainnya, khususnya cerita. Adegan laganya memang hebat dan cenderung brutal, tetapi semakin kuat karena direkatkan oleh cerita dan ritme yang selaras.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar