Kamis, 23 Juli 2015

[Movie] Lamaran (2015)


Lamaran
(2015 - Rapi Film)

Directed by Monty Tiwa
Written by Cassandra Massardi
Produced by Gope T. Samtani
Cast: Acha Septriasa, Reza Nangin, Arie Kriting, Sacha Stevenson, Mak Gondut, Cok Simbara, Wieke Widowati, Dwi Sasono, Mongol Stres, Tora Sudiro, Restu Sinaga, Ozzol Ramdan, Marwoto, Dharty Manulang, Eka D. Sitorus, Project Pop


Membuat sebuah film yang menarik terkadang hanya diperlukan satu konsep yang sederhana. Ini kembali dibuktikan oleh Lamaran, film terbaru dari sineas Monty Tiwa (Get Married 3 dan 4, Test Pack, Aku Kau & KUA). Film ini mengambil premis cinta terhalang perbedaan adat, sebuah hal yang sangat dekat dan sering terjadi di masyarakat Indonesia, yang kemudian dikembangkan dalam bentuk komedi. Dalam hal ini, Lamaran "menabrakkan" budaya Batak dan Sunda, yang tipologi adatnya sering dianggap bertolak belakang.

Tiar Sarigar (Acha Septriasa) adalah seorang pengacara muda berdarah Batak yang baru mendapat kasus high-profile pertamanya, dan membuatnya masuk TV. Ia juga lajang, yang berarti ia menjadi kebanggaan keluarga yang tidak boleh sembarangan dalam memilih jodoh. Namun, kasus yang ditanganinya dianggap sangat berbahaya, sehingga dua agen pengawal rahasia (Arie Kriting dan Sacha Stevenson) membuat strategi khusus menempatkan seseorang untuk terus ada bersama Tiar. Orang yang dipilih adalah Aan (Reza Nangin), resepsionis di kantor Tiar, yang harus berpura-pura menjadi pacarnya.

Persoalan ini menjadi rumit ketika Aan juga harus diperkenalkan Tiar di depan keluarga besar Sarigar. Pertama, Aan berasal dari keluarga Sunda, bukan Batak sebagaimana harapan keluarga Tiar. Kedua, Aan jujur mengaku ia seorang resepsionis, membuatnya terkesan lebih rendah levelnya dari Tiar, padahal ia seorang pria. Keluarga Sarigar serta merta tak setuju dengan hubungan mereka, kecuali memang terbukti keduanya serius akan menikah. Demi meneruskan sandiwara ini, Aan menuruti syarat-syarat adat yang diajukan untk menikahi Tiar, yang tentu saja menimbulkan masalah lagi ketika hal ini dibawa ke keluarga Aan. Gesekan keluarga berbeda adat ini pun tak terhindarkan.

Bila ditelaah, Lamaran sendiri sebenarnya tidak hanya mengangkat perbedaan adat sebagai rintangan dua tokoh utamanya. Kerumitan hubungan mereka ditambahi dengan perbedaan profesi, persepsi gender, unsur kriminal (dari kasus yang ditangani Tiar), dan yang utama adalah bahwa mereka bukan pasangan sungguhan. Unsur-unsur tersebut tentu menarik untuk dibahas dan memperkaya warna film ini. Namun, pada akhirnya benturan adat dan romansanya yang lebih menonjol di 95 menit durasinya.

Tidak terlalu masalah sebenarnya, karena kedua unsur tersebut tetap bisa menimbulkan hiburan. Siapa yang tidak gemas melihat perselisihan ibu Tiar (Lina "Mak Gondut" Marpaung) dan ibu Aan (Wieke Widowati) tentang menu makanan, hingga perbedaan cara Tiar dan Aan saat menerima telepon. Porsi komedi pun ditambah dengan kehadiran para komedian yang tengah naik daun di era internet saat ini, seperti Arie Kriting dan Sacha Stevenson yang bermain-main dengan stereotipe "orang Indonesia Timur" dan "orang bule", juga Mongol yang lagi-lagi harus keluarkan jurus lawakan bancinya.

Tetapi, yang patut untuk dipertanyakan adalah bahwa film ini menampilkan karakter-karakternya secara karikatural, seperti yang banyak digunakan di banyak sinetron atau lawakan klasik TV kita. Film ini berlatar di Jakarta, tetapi entah mengapa hampir setiap karakter di film ini diwajibkan menonjolkan kedaerahannya. Orang Batak harus berlaku "sangat Batak" (kecuali tokoh Raymond (Restu Sinaga)), orang Sunda harus "sangat Sunda", demikian seterusnya. Termasuk tokoh-tokoh LGBT juga harus menunjukkan cirinya secara spesifik demi memunculkan humor.

Untungnya, film ini masih menyelipkan humor-humor cerdas dalam beberapa dialognya dan adegannya, sehingga secara umum film ini masih akan menimbulkan tawa. Tetapi, rancangan karakter-karakter yang karikatural itu membuat mereka jadi kurang believable, dan komedi yang ditampilkan seakan sudah bisa diduga.

Ditambah lagi, walau sudah membuat semua karakter berciri spesifik berdasarkan adat, film ini seakan mengabaikan unsur yang cukup erat dengan adat, yaitu perbedaan agama. Bagian ini hanya muncul sekelumit, misalnya dari pakaian dan salam Islami dari keluarga Aan, serta bahwa keluarga Tiar makan daging anjing dan babi yang menunjukkan mereka nonmuslim—dan memang tidak ditunjukkan jelas identitas agamanya. Tetapi, isu yang tak kalah sensitif ini seakan dilesapkan begitu saja, mungkin karena tak ingin timbulkan polemik. Atau mungkin justru sebaliknya, memang sengaja dihindari tetapi "kecolongan" di hasil akhir filmnya. Apa pun itu, ini menunjukkan bahwa Lamaran sebenarnya belum terlalu berani mengangkat hubungan beda budaya dengan lebih menyeluruh, dan lebih memilih untuk membuatnya lebih ringan dan dari permukaan saja.

Yang juga dilesapkan dari cerita film ini adalah bagian kasus hukum yang ditangani Tiar, sekalipun kasus ini yang menjadi cikal bakal kedekatan Tiar dan Aan. Secara struktur cerita, bagian ini tampak mulai ditelantarkan di tengah-tengah film dengan penyelesaian yang kurang menggigit. Tetapi, sebenarnya kasus ini sudah dijauhkan dari cerita sejak sepertiga awal, ketika kedua agen rahasia Arie dan Sacha lebih sibuk mengurusi persiapan pernikahan Tiar dan Aan ketimbang 24 jam nonstop mengamankan Tiar yang konon nyawanya terancam, padahal pernikahannya pun pura-pura. Namun, mungkin demi komedi, logika seperti itu memang ingin dibelokkan.

Terlepas dari itu, Lamaran masih cukup berhasil dalam membangun unsur yang menjadi dasarnya, yaitu romansa. Konsep "dari pacar pura-pura jadi sungguh-sungguh" memang tampak klise, tetapi penataan adegan-adegan yang membangun kisah cinta Aan dan Tiar, serta pembawaan kedua pemeran utamanya yang terlihat nyaman, membuat romantisme itu tetap muncul. Toh, memang film ini dibuat sebagai sebuah kisah cinta, dengan tambahan humor di sana-sini. Pada akhirnya memang Lamaran berhasil untuk tetap setia pada tujuannya sebagai komedi romantis, sekalipun hampir tertutupi oleh ide-ide besar yang tidak tergarap dengan sempurna.




My score: 6,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar