Senin, 29 Juni 2015

[Movie] Pizza Man (2015)


Pizza Man
(2015 - Renee Pictures/Flicker Production)

Directed by Ceppy Gober
Written by Gandhi Fernando, R. Danny Jaka Sembada
Produced by Gandhi Fernando, Laura Karina
Cast: Yuki Kato, Joanna Alexandra, Karina Nadila, Gandhi Fernando, Dhea Ananda, Henky Solaiman, Babe Cabiita, Zerny Rusmalia, Chika Waode, Kemal Palevi


I'm not really sure apa yang membuat Pizza Man menarik. Mungkin logo dan komposisi warna dari posternya. Kesan yang gw tangkap dari sana adalah, sekonyol-konyol konsep komedinya, film ini nggak kelihatan cheap. Well, ketika nonton hasil akhirnya, sebenarnya film ini agak kelihatan dibuat dengan dana hemat (mungkin karena gw merasa gambarnya buram dan redup di adegan malam), tetapi untungnya digarap dengan cukup serius sehingga nggak pasrah sama hal itu. I'll give them that.

Pizza Man berpremis cukup sederhana dan nge-hook, tentang tiga cewek sohiban mengerjai seorang pengantar pizza yang kebetulan (sesuai deskripsi promo-promo awalnya) ganteng, lalu keisengan itu malah menimbulkan berbagai kekacauan. Nah, tinggal yang punya harus film mengisi sela-sela premis itu agar jadi sajian yang menarik. Salah satu yang gw cukup salut adalah film ini secara terang-terangan mengonsepkan film ini komedi dewasa...well...dewasa mudalah, bukan untuk bocah-bocah. Cewek-cewek yang pergaulannya kurang bagus ini ceritanya mabok-teler sendiri dan ketika sedang pengar *jiaah pengaaar* *ala teks terjemahan di tipi*, mereka menemukan si tukang pizza nggak sadarkan diri. Maka dimulailah usaha mereka untuk "bertanggung jawab" terhadap si tukang pizza, namun selalu menemukan kesialan-demi kesialan. Semuanya itu, ditambah dialog-dialog kasar dan menyerempat seksualitas, disajikan cukup natural dan lumayan proper. Konyol tetapi nggak canggung.

Tetapi, ada satu hal yang mengganjal gw untuk menikmati film ini secara keseluruhan. Ketika cewek-cewek teler ini berencana ngisengin cowok random--karena ketiganya, well, dua di antaranya ingin balas dendam sama kaum cowok--dengan niat memperkosa. Di sini gw masih nggak terlalu gimana gitu, karena gw maklumi mereka emosi dan teler. Tetapi, ketika topik ini muncul lagi di akhir film, entah kenapa gw merasa film ini terlalu mempermainkan salah satu bentuk kekerasan paling keji itu. Apalagi sebelumnya ada salah satu dari tokoh mengungkapkan punya trauma mendalam tentang topik itu. Ketika kemudian topik itu di-"main-mainin" oleh exactly tokoh yang sama, menurut gw jadi nggak pantas dan nggak pada tempatnya aja, dan nggak lucu lagi. Untunglah (?) itu udah di ujung film.

That being said, gw masih menghargai usaha film ini untuk membuat penyegaran di genre komedi Indonesia saat ini. Paling enggak, penggarapannya nggak ngasal, dan ketiga pemain utamanya bermain oke, menampilkan apa yang dituntut dari karakter masing-masing tanpa terlihat palsu. Dan, menurut gw, Yuki Kato musti main film lebih banyak lagi, karena di film ini performanya menunjukkan ia punya potensi, selain bisa tetap lovable as always =). Secara keseluruhan filmnya mungkin tidak sesegar materi promosinya, tapi most of the time film ini masih cukup enak diikuti dan masih bisa menghibur di sana-sini.




My score: 6,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar