Senin, 22 Juni 2015

[Movie] Parasyte: Part 2 (2015)


寄生獣 完結編 (Kiseijuu Kanketsu-hen)
Parasyte: Part 2
(2015 - Toho)

Directed by Takashi Yamazaki
Screenplay by Ryota Kosawa, Takashi Yamazaki
Based on the comic book series "Parasyte" by Hitoshi Iwaaki
Produced by Genki Kawamura, Takahiro Satou, Keichirou Moriya
Cast: Shota Sometani, Sadao Abe, Eri Fukatsu, Ai Hashimoto, Tadanobu Asano, Kazuki Kitamura, Nao Omori, Hirofumi Arai, Jun Kunimura, Kosuke Toyohara


Dalam Parasyte Part 1, seorang siswa SMA biasa bernama Shinichi Izumi (Shota Sometani) mengetahui keberadaan serbuan diam-diam makhluk parasit yang mengambil alih tubuh manusia, lalu memangsa manusia lain sebagai makanannya. Ia tahu ini, karena ia juga dirasuki salah satu makhluk tersebut. Bedanya, parasit ini gagal mengambilalih tubuh Shinichi, melainkan hanya berhasil hidup di tangan kanannya, dan menamai diri Migi (suara oleh Sadao Abe). Kondisi mereka yang tak wajar itu membuat mereka jadi incaran parasit lain. Shinichi dan Migi pun mau tak mau harus kompak untuk mempertahankan diri.

Beranjak dari kisah tersebut, Parasyte Part 2 melangkah ke Shinichi yang telah berubah jadi sosok yang murung dan penuh dendam, setelah sebuah peristiwa memilukan di bagian pertama: serangan parasit di sekolahnya dan parasit yang menguasai ibunya. Kini ia berkonsentrasi untuk membasmi para parasit dengan tangannya sendiri. Lama-lama tindakannya ini menarik perhatian kepolisian, dan juga pihak kelompok parasit yang semakin gerah dengan segala yang menimpa sesamanya. Wajarlah bila Shinichi dan Migi akan mendapat perlawanan, khususnya dari parasit sakti, Goto (Tadanobu Asano). Walau di lain pihak, sang parasit peneliti, Ryoko Tamiya (Eri Fukatsu) justru ingin perjuangkan manusia dan parasit dapat hidup berdampingan, seperti yang terjadi pada Shinichi dan Migi.

Meski masih dalam satu benang merah, terlihat bahwa ada perbedaan tema antara Parasyte Part 1 dan Part 2. Part 1 sebagai kisah pendahuluan mencampurkan berbagai elemen, mulai dari horor, action, drama, hingga humor. Part 2 bisa dibilang lebih berfokus pada sisi drama dan thriller, nyaris tanpa unsur humor. Selain itu, dari konten cerita, Part 1 memunculkan tema bagaimana jadinya jika manusia, yang selama ini dianggap sebagai puncak rantai makanan, menjadi mangsa. Di Part 2, manusialah yang memangsa balik para pemangsa, sebagai reaksi atas serangan di Part 1.

Dengan demikian, topik yang secara gamblang ditekankan dalam Part 2 adalah pertanyaan "siapa yang layak disebut monster?". Pertanyaan ini sudah sempat muncul sedikit di Part 1, ketika Migi mencoba menalar pengertian "iblis", yang menurutnya lebih tepat ditujukan pada manusia. Sebab, manusia dalam sejarahnya penuh dengan kekerasan dan pengerusakan, baik terhadap sesamanya maupun makhluk lain. Dalam Part 2, topik ini diberi porsi sangat besar. Awalnya diwakili dengan kemunculan pembunuh berantai terpidana, Uragami (Hirofumi Arai), yang memenuhi definisi iblis tadi. Kemudian berkembang di titik ketika manusia sudah bisa mendeteksi siapa musuhnya, maka dengan sekuat tenaga mereka berusaha menghancurkannya. 

Di sinilah timbul peperangan nilai. Para parasit ini pada dasarnya hanya ingin bertahan hidup. Mengambil alih tubuh manusia dan makan daging manusia adalah satu-satunya cara yang mereka tahu untuk bisa hidup. Manusia juga sama, berjuang bertahan hidup dan melawan pihak-pihak yang menghalanginya adalah hal yang alamiah. Lalu siapa yang benar?

Pertanyaan itu kemudian dikontraskan dengan pertanyaan lain, "apa yang membuat manusia beda dari makhluk lain". Topik ini menjadi bagian Ryoko, parasit yang secara mendalam mulai memahami tentang manusia, salah satunya dengan cara memiliki anak. Ia perlahan tahu alasan di balik berbagai ekspresi manusia—tersenyum, tertawa, menangis, bukan hanya sekadar meniru seperti dilakukan parasit yang lain. Manusia punya rasa yang selama ini tidak bisa dipahami oleh para parasit. Rasa inilah yang terus bergelut melawan insting alamiah manusia untuk bertahan hidup. Rasa ini yang membuat manusia punya pilihan ketika berada dalam posisi memegang power, mencegah manusia berbuat keji, juga membuat manusia gelisah setelah melakukan kekejian.

Hal-hal tersebut tampak dimasukkan dalam film ini sebagai semacam kritik. Ketika ada satu pihak yang mengusahakan perdamaian, selalu ada pihak yang mengambil jalur kekerasan, hanya karena tidak tahu atau tidak percaya ada cara lain. Tetapi, selalu ada situasi yang membuat manusia mengalami dilema. Dalam satu adegan, Shinichi mulai membangun rasa kasihan terhadap para parasit, tetapi ia juga tahu bahwa parasit ini tidak punya rasa yang sama terhadapnya, dan malah akan menyerang diri dan orang-orang yang disayanginya. Mengalahkan musuh yang membuat hidupnya menderita ternyata sangat berat baginya. 

Di atas kertas, apa yang ingin disampaikan dalam Part 2 cukup provokatif dan mampu memancing diskusi, sekalipun topiknya bukan hal yang baru. Film ini sanggup menyampaikan niatnya untuk menyampaikan sebuah tontonan yang bukan sekadar seru-seruan, tetapi punya sesuatu yang ingin disampaikan dan patut dipikirkan, dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan moral yang tak terlihat jelas batas benar atau salahnya. Inilah yang membuat Parasyte agak sulit dianggap sebagai "film hiburan", yang bisa jadi pertanda baik bagi yang bisa menangkapnya, atau sebaliknya, terlalu aneh bagi yang tidak terbiasa dijejali materi-materi seperti itu.

Masalahnya, film ini terlalu banyak menyampaikannya dengan kalimat-kalimat panjang yang diujarkan, dan kerap diulang-ulang. Seakan kehabisan cara untuk menyampaikan nilai-nilai tersebut dalam bahasa visual dan adegan, topik-topik bagus tersebut sayangnya lebih banyak disampaikan dalam dialog-dialog statis, yang sebenarnya sangat menjemukan jika saja tidak terbantu musik dan pergantian angle gambar. Film ini hanya menebalkan, menggarisbawahi, dan memberi highlight terang-terang pada kata-kata bahwa film ini tidak mendukung perang dan kekerasan, sesuatu yang mungkin berhasil dalam literatur atau komik, tetapi terlalu melelahkan untuk sebuah film.

Meski demikian, harus diakui Part 2 masih menyimpan kekuatan dari film pertamanya. Mulai dari pengambilan gambar yang dinamis, efek visual yang mulus, serta penampilan para pemain yang meyakinkan sesuai porsinya. Adegan laganya mungkin tidak lebih banyak dari Part 1, tetapi yang sedikit-sedikit itu masih seru penataannya dan lebih besar skalanya. Namun, seperti halnya Part 1, adegan-adegan tersebut tidak ditunjukkan terlalu lama atau gamblang, karena sifatnya yang terlalu berdarah dan gory untuk sebuah film komersial, dan akhirnya berdampak pada porsi dialog panjangnya tadi yang terkesan "memangsa" sisi action dan horornya.




My score: 6,5/10


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar