Selasa, 09 Juni 2015

[Movie] Insidious: Chapter 3 (2015)


Insidious: Chapter 3
(2015 - Sony Pictures Releasing International/Focus Features)

Written & Directed by Leigh Whannell
Produced by Jason Blum, Oren Peli, James Wan
Cast: Stefanie Scott, Dermot Mulroney, Lin Shaye, Leigh Whannell, Angus Sampson, Tate Berney, Steve Coulter, Hayley Kiyoko, Ashton Moio, Jeris Pondexter, Phyllis Applegate, Adrian Sparks


Menanggung nama film horor yang dikenal sebagai salah satu yang terseram dalam beberapa tahun terakhir, Insidious: Chapter 3 jelas harus memenuhi ekspektasi yang cukup tinggi. Muncul setelah film Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013), keduanya disutradarai James Wan, Chapter 3 dikonsepkan sebagai sebuah prekuel, namun masih berkaitan dengan alam astral The Further yang sudah dikupas di dua film sebelumnya. Kali ini kursi sutradara diserahkan pada Leigh Whannell, yang tak lain adalah penulis skenario dua film Insidious sebelumnya, sekaligus pemeran anggota pemburu hantu bernama Specs.

Sebagaimana ditekankan dalam premis dan kalimat pembukanya, Chapter 3 tidak lagi menyorot kutukan yang menimpa keluarga Lambert di film pertama dan kedua. Chapter 3 beralih ke seorang remaja perempuan yatim yang melakukan kecerobohan sehingga diteror oleh makhluk gaib. Namun, sebenarnya film ini tidak melulu berfokus ke sana. Chapter 3 juga adalah origin story dari regu pemburu hantu yang muncul di seri Insidious, yaitu Elise (Lin Shaye), Specs (Leigh Whannell), dan Tucker (Angus Sampson).

Quinn Brenner (Stefanie Scott) masih merasa terpukul atas kematian ibunya akibat kanker. Hubungannya dengan sang ayah, Sean (Dermot Mulroney) yang kurang rukun juga tidak membantu. Quinn lalu berusaha menghubungi arwah ibunya, dan untuk itu ia mendatangi sang paranormal Elise. Elise tadinya ingin pensiun karena kengerian yang kerap timbul dari profesinya, namun ia sekali ini ingin membantu Quinn. Setelah mencoba, Elise menasihati Quinn agar tidak lagi mencoba memanggil ibunya, sebab panggilannya itu akan terdengar di dunia para arwah. Itu berarti yang merespons panggilannya belum tentu arwah ibunya. Tapi, layaknya remaja rapuh yang serba penasaran—dan namanya juga film horor, tidak mungkin Quinn menuruti nasihat itu.

Bagi yang telah mengikuti dua seri Insidious sebelumnya, pasti sudah kenal dengan konsep The Further dan mekanismenya. Berdasarkan itu, Chapter 3 tidak lagi menyajikan The Further sebagai suatu hal yang mengejutkan, sehingga hanya diberi penjelasan secukupnya. Yang cukup membedakan adalah makhluk-makhluk yang dimunculkan di The Further versi ini, karena ini berkaitan dengan kasus dan orang yang berbeda. Keuntungan dari penyusunan cerita seperti ini adalah bagi mereka yang pernah menonton versi sebelumnya akan semakin mengenal dunia yang dibangun di film ini. Sementara yang baru menonton dari Chapter 3 ini tidak akan kehilangan apa-apa dari dua film sebelumnya.

Harus digarisbawahi bahwa salah satu alasan Insidious—dan film horor pada umumnya—mampu menarik penonton adalah anggapan film-film ini punya adegan-adegan seram yang dapat menggedor jantung, karena itu adalah salah satu bentuk hiburan. Sepertinya itu disadari oleh Whannell, sehingga ia pun merancang makhluk-makhluk, dan cara-cara kemunculan mereka seseram mungkin dalam film ini. Usahanya bisa dibilang tidak gagal. Sekalipun kemunculan makhluk-makhluk seramnya sebenarnya sangat bisa diprediksi, dengan bantuan desain makhluk seram, tata artistik mencekam dengan pencahayaan temaram, musik menggetarkan dan timing yang baik, Chapter 3 masih punya taji untuk menakuti, atau paling tidak mengagetkan penontonnya.

Masalahnya, film ini tidak menawakan apa-apa lagi selain parade penampakan makhluk astral. Cerita film ini sendiri awalnya dituturkan dengan sangat hati-hati dan perlahan. Berawal dari seorang remaja dengan masalah keluarga, dan seorang paranormal pensiunan terpanggil untuk memanfaatkan kemampuannya lagi untuk membantu orang lain. Akan tetapi, ketika cerita semakin bergulir, nyaris tidak ada perkembangan berarti dari dasar itu, sampai pada bagian klimaks ketika Elise akhirnya dipertemukan dengan duo Specs dan Tucker, dan berusaha menyelesaikan masalah keluarga Brenner, itu pun sudah menjelang akhir.

Ini kemudian diperparah ketika bagian konklusinya seakan terlalu menggampangkan, terjadi secara tiba-tiba tanpa dibangun dulu di bagian-bagian sebelumnya. Mulai dari dapat bantuan dari "suara lain", rekonsiliasi Quinn dan ayahnya—yang ternyata tidak akur karena sama-sama sedih kehilangan, sampai kedatangan sang "roh penyelamat" entah dari mana, semua terjadi sangat kilat tanpa penjelasan dan rasa. Bagian konklusi yang overloaded ini yang menimbulkan kesan bahwa kelambanan dan kehati-hatian bertutur di di bagian awal hingga pertengahan film ini hanya buang-buang waktu saja.

Meski demikian, kekurangan itu mungkin tidaklah penting bagi penonton yang cari hiburan, asalkan film ini berhasil bikin kaget dan deg-degan. Bagaikan masuk wahana rumah hantu, tidak perlu pikirkan secara mendalam ceritanya, asal sudah paham konsepnya dan puas dikejut-kejutkan dan ditakut-takuti, itu sudah lebih dari cukup. Dan harus diakui, Chapter 3 menyajikan menu utamanya itu dengan baik-baik saja, ditambah unsur humor dan laga fisik di beberapa bagiannya yang membuatnya jadi tambah menghibur.

Hanya saja, sebagai sebuah film—bukan wahana, Chapter 3 tidak meninggalkan kesan lebih dan mendalam. Film ini hanya jadi suatu produk yang pandai menakut-nakuti, tetapi keteteran dalam bercerita, alih-alih memberikan kesegaran dan jejak berarti. Tidak salah, tetapi cenderung main aman saja, tanpa inovasi dan nilai yang mampu membuatnya jadi memorable.




My score: 6/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

1 komentar:

  1. boleh ya mas tukeran blog link.
    link saya di : iza-anwar.blogspot.com

    terima kasih dan salam kenal

    BalasHapus