Senin, 29 Juni 2015

[Movie] The Age of Adaline (2015)


The Age of Adaline
(2015 - Lionsgate)

Directed by Lee Toland Krieger
Written by J. Mills Goodloe, Salvador Paskowitz
Produced by Sidney Kimmel, Gary Lucchesi, Tom Rosenberg
Cast: Blake Lively, Michiel Huisman, Harrison Ford, Ellen Burstyn, Kathy Baker, Amanda Crew, Lynda Boyd, Hugh Ross, Anthony Ingruber


Dengan semangat cerita mendayu-dayu ala novel Nicholas Sparks, film The Age of Adaline garapan Lee Toland Krieger tampil sedikit berbeda dari roman biasa. Ketimbang memasukkan "keajaiban cinta" dalam kehidupan biasa (yang sering kali membuat film roman jadi cheesy), film ini menampilkan keajaiban yang sesungguhnya. Benang merah utama film ini adalah bertemunya seorang wanita dan pria, namun sang wanita ternyata sudah berusia satu abad, walau masih terlihat muda. Film ini kemudian tak melulu membahas soal romansa, tetapi justru lebih menekankan topik soal usia dan rentang hidup manusia.

Adaline Bowman (Blake Lively) adalah seorang wanita Amerika biasa. Lahir di tahun 1908, ia tumbuh menyaksikan dibangunnya jembatan Golden Gate di San Francisco, menikah dengan pria baik-baik, dikaruniai seorang putri bernama Flemming, dan sayangnya harus menjanda di usia muda. Di suatu malam, Adaline mengalami kecelakaan yang membawa perubahan besar dalam hidupnya. Sebuah fenomena alam membuat sel-sel tubuhnya berhenti menua. Ia akan tetap terlihat seperti usianya saat itu, yaitu 29 tahun. Mencoba melanjutkan hidup seperti biasa, Adaline sadar bahwa keajaiban yang dialaminya suatu saat akan mengundang perhatian yang tak diinginkan. Karena itu, Adaline memutuskan untuk meninggalkan putrinya, berpindah-pindah setiap 10 tahun dengan identitas yang selalu baru.

Kehidupan Adaline pun berkutat pada siklus tersebut. Namun, memasuki era milenium, ada yang berbeda. Adaline bertemu dengan pengusaha muda, Ellis Jones (Michiel Huisman) yang cukup agresif mengejarnya. Kedekatan mereka menggoyahkan Adaline yang berprinsip tidak boleh berhubungan dekat dengan siapa pun—karena toh nantinya ia harus pergi lagi. Di saat ini, Adaline mulai mempertimbangkan untuk berhenti berkelana dan tetap bersama Ellis. Akan tetapi, bagaimana dengan rahasia bahwa ia bukanlah wanita usia 20-30-an seperti yang disangka orang-orang, dan pastinya oleh Ellis?

Seperti halnya karakter Adaline, film The Age of Adaline dituturkan dengan lembut dan bersahaja. Mungkin karena film ini berangkat dari konsep yang mengutamakan unsur roman. Andai diangkat dari sudut depresif, premis yang sama mungkin akan berkembang jadi kisah berbagai percobaan Adaline untuk bunuh diri, atau memanfaatkan kecantikannya untuk mempermainkan pria. Di lain pihak, konsep roman itu juga yang membuat sepanjang satu abad kehidupan Adaline, nyaris tidak ada peristiwa yang akbar dan menghebohkan layaknya film-film sci-fi. Hal ini sebenarnya terjelaskan dalam ceritanya, Adaline memang sengaja bersembunyi dan tak banyak tingkah supaya tidak dijadikan objek penelitian.

'Tak banyak tingkah' juga bisa dijadikan gambaran keseluruhan The Age of Adaline. Dengan premis yang mengandung unsur fantasi, satu-satunya hal yang membuat film ini agak eksentrik adalah penceritaan latar belakang Adaline yang dituturkan bak dongeng dengan suara narator dan kolase gambar yang mirip gaya sineas Zack Snyder. Selebihnya, film ini tergolong aman dan nyaman, dituturkan dengan lurus dan mudah untuk dipahami. Dikemas dengan gambar-gambar sejuk, sangat mudah untuk mengikuti film ini dari awal hingga akhir.

Ceritanya pun akhirnya lebih berkonsentrasi pada hubungan Adaline dengan orang-orang terdekatnya, khususnya Ellis dan Flemming yang kini sudah tampak seperti neneknya (Ellen Burstyn). Di sinilah Krieger bersama penulis J. Mills Goodloe dan Salvador Paskowitz mengangkat perenungan soal usia. Siapa yang tak ingin awet muda dan cantik seperti Adaline? Tetapi, sebagaimana telah dijalani Adaline, apakah itu sudah pasti mendatangkan kebahagiaan?

Adaline cukup bijak dengan memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar berbagai ilmu, seperti bahasa-bahasa asing, huruf Braille, menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, sampai meneliti fenomena yang terjadi pada dirinya. Ia menjadi wanita mandiri yang tahu betul apa yang harus dan tidak harus dilakukan, tanpa terhalang stamina fisik yang menurun karena termakan usia. Di sisi itu, kemudaan abadi jadi keuntungan. Di sisi lain, Adaline pada dasarnya kesepian. Selama berpuluh-puluh tahun Adaline "menyamar" jadi orang biasa. Ia hanya bisa jadi diri sendiri di hadapan putrinya yang hanya bisa sesekali ditemuinya, dan juga anjing peliharaannya. 

Adaline secara harafiah menyaksikan waktu berlalu di depan matanya, dan itu tidak menyenangkan. Anjingnya akan mati lebih cepat dari pada dirinya sehingga ia selalu memelihara lagi anjing jenis yang sama, dan Flemming—yang jadi alasan Adaline tetap teruskan hidup—telah jadi lebih tua, lebih tak berdaya, bahkan kelak mungkin mati lebih dulu dari dirinya. Hal yang sama pun akan terjadi kepada siapa pun yang dekat dengannya. Film ini pun akhirnya menekankan bahwa "berkah" cantik dan muda selamanya telah menjadi semacam penjara bagi Adaline.

Dengan titik berat cerita ada pada Adaline, kemampuan Blake Lively sebagai pemerannya tentu harus jadi tumpuan. Lively di sini tidak hanya tampil cantik sesuai tuntutan cerita, tetapi juga cukup berhasil menampilkan kedewasaan yang melebihi usianya. Dengan gestur dan tutur katanya, tidak sulit membayangkan ada jiwa seorang wanita tua di dalam tubuh semampai Lively. Tetapi, hal itu hanya berhasil ketika Adaline berada dengan tokoh yang sebaya. Ketika dihadapkan pada pemeran yang kenyataannya lebih tua, terutama Burstyn, Harrison Ford dan Kathy Baker (pemeran orang tua Ellis), mulai agak sulit dipercaya bahwa Lively sebagai Adaline lebih tua dari mereka. Mungkinkah ini karena Lively masih kalah karismatik dari aktor-aktris senior tersebut? Bisa jadi.

Dengan penuturannya yang lancar, The Age of Adaline mungkin agak kurang dalam segi inovasi. Dikedepankan sebagai roman, film ini sebenarnya sudah bisa ditebak akan berakhir manis, bagaimana pun caranya. Demi unsur manis itu pula, kecanggungan bahwa sebenarnya Ellis yang berusia 30-an tahun memadu kasih dengan nenek berusia 100-an tahun agak terpinggirkan dari ceritanya, supaya penonton tak perlu terlalu dalam membayangkannya. Bahkan, alasan mengapa Adaline mau membuka diri dengan Ellis juga tidak dikembangkan dengan lebih jauh, selain Adaline (atas saran Flemming) sudah lelah berlari.

Sebenarnya itu bisa disanggah dengan menunjukkan bahwa film ini—sekalipun membicarakan usia fisik manusia—lebih mengedepankan kualitas jiwa. Ellis digambarkan sebagai seorang peminat sejarah, sehingga pengetahuan dan "jiwa"-nya bisa dibilang sama tuanya dengan Adaline. Sebuah cara membangun karakter dan cerita yang sebenarnya memperdaya, tetapi masih cukup bisa diterima. Minimal, jika dipandang sebagai sebuah sajian hiburan yang menyenangkan dari sebuah cerita yang ajaib, film ini sudah menjalankan tugasnya dengan baik.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

1 komentar:

  1. Permisi.
    Blog Anda sudah saya follow.
    Bila berkenan silakan untuk follback di [iza-anwar.blogspot.com]

    Terima kasih

    BalasHapus