Kamis, 21 Mei 2015

[Movie] Toba Dreams (2015)


Toba Dreams
(2015 - TB Silalahi Center/Semesta Production)

Directed by Benni Setiawan
Screenplay by Benni Setiawan
Based on the novel by T.B. Silalahi
Produced by Rizaludin Kurniawan
Cast: Vino G. Bastian, Mathias Muchus, Marsha Timothy, Ramon Y. Tungka, Haikal Kamil, Tri Yudiman, Jajang C. Noer, Boris Bokir, Vinessa Inez, Jerio Jeffry, Julian Kunto, J.E. Sebastian, Ajil Ditto, Fadhel Reyhan, Paloma Kasia


Toba Dreams merupakan kumpulan kisah dramatis yang interesting, bagaikan saga tentang sebuah keluarga dengan berbagai lika-liku kehidupannya, apalagi film ini melibatkan anggota keluarga empat generasi. Film ini terbagi dari berbagai babak-babak dramatis layaknya sebuah film berskala besar, durasinya pun panjang sampai 2,5 jam. Well, dengan tambahan pesan-pesan moral khas "film-film inspiratif" mulai dari jangan durhaka sama orang tua, harta yang paling berharga adalah keluarga, jauhi narkoba, kasihan keluarga terpidana korupsi, semua agama ajarkan yang baik, bhinneka tunggal ika, sampai pesan injili seperti jangan timbulkan amarah pada hati anak-anakmu. Agak pretensius, tapi ya sudahlah.

But here's the thing, buat gw Toba Dreams bisa work well for me kalau dibuat tidak seperti film yang beredar ini. Toba Dreams bisa jadi sebuah drama apik tentang kehidupan ganda seorang anak tentara yang berkiprah di dunia kejahatan dan keluarganya yang tidak sadar kalau mereka pakai blood money hasil usahanya. Mungkin bayangan gw kayak film The Iceman. Bisa jadi heartbreaking, sekaligus bisa jadi tense. Bisa jadi, tapi tidak terjadi.

Yang gw lihat di Toba Dreams adalah sebuah sajian cerita yang punya materi potensial tetapi hanya sampai selangkah di bawah batas maksimalnya. Almost there, but not yet. Komplain pertama gw adalah film ini mulai masuk salah satu babak cerita yang sangat penting, yaitu tentang si Ronggur (Vino G. Bastian) masuk mafia, itu satu jam setelah filmnya berjalan. Satu jam! Satu jam pertama? Well, yang gw inget cuma bertengkar, bertengkar, bertengkar, dan kepeleset di sawah. Dan yang mungkin lebih membuat gw agak kurang bisa terima adalah film ini menyianyiakan potensi dari crime drama-nya, porsi ini hanya kebagian montase. Padahal, penataan adegan crime-nya cukup apik, mengusung tema yang besar, dan filmnya sendiri diakhiri dengan unsur itu juga. Mungkin ini supaya memberi ruang bagi porsi melodramanya, yang nyatanya memang disajikan jauh lebih banyak. Mungkin supaya filmnya bisa ditonton keluarga dengan less violence. Iya deh. Tapi ya gw merasa film ini jadi mengecilkan hal-hal besar, dan membesar-besarkan hal-hal kecil.

Gw juga menyaksikan beberapa inkonsistensi yang membuat gw nggak bisa menyukai film ini seutuhnya. Mulai dari dialog yang bisa dibilang klise (ini masalah selera sih), akting yang uneven dari beberapa pemeran pendukung tambahan, "infomercial" yang cukup panjang tentang SMA unggulan berbasis militer itu, sampai stereotipe pendeta harus selalu nenteng Alkitab dan memakai dasi kotak sekalipun baru masuk sekolah pendeta ataupun menemui saudara sendiri dalam situasi pribadi, among other things. Jadi ketika gw merasa ada adegan bagus, eh di berikutnya tampil adegan-adegan yang menganggu, dan itu nggak sekali dua kali. Daripada menikmati, gw lebih sibuk mikir "harusnya bisa begini harusnya bisa begitu".

But yeah, gw juga nggak tutup mata sama beberapa bagian yang memang work really well. Penggambaran budaya Batak di sini cukup representatif, demikian pula gambaran diversity-nya yang nggak asal-asalan (yes, there are indeed countless Batak soldiers married to Javanese women). Gw juga suka sama komposisi gambarnya, khususnya adegan ketika Sumurung (Haikal Kamil) ngobrol sama Sersan Tebe (Mathias Muchus) di tangga rumahnya dan di lantai atas kelihatan sang ibu memerhatikan dari belakang mereka. Plus adegan one continuous shot di rumah Tomy (Ramon Y. Tungka, who is quite outstanding in this film) yang gw akui jempolan. Oh, satu lagi, film ini juga menguatkan bahwa visual effects sudah mulai dianggap serius dalam perfilman Indonesia.

Ya begitulah. Gw tahu film ini akan gampang membuat luluh dari kisah tentang hubungan orang tua dan anak, atau hubungan antarkeluarga pada umumnya. Atau juga pesan-pesan yang berniat baik. Tapi kalau kebanyakan pesanan juga jadi too much nggak sih? Dan mungkin itu yang bikin durasi film ini jadi panjang banget, nget. Coba kalau satu jam pertama dijadiin 15 atau 20 menit aja, mungkin gw akan lebih enjoy. Tapi siapakah gw, jenderal bukan, ahli film bukan, gw bahkan nggak ada sebesar tetes air mata Marsha Timothy di dunia ini -.-.




My score: 6,5/10

1 komentar:

  1. salam pecinta film.

    permisi, saya mau promosi blog review film juga.

    [ iza-anwar.blogspot.com ]

    mohon tambahkan dalam daftar blogroll Anda dan follow juga blog saya.

    maaf bila review saya masih amatiran dan saya ucapkan terima kasih sebelumnya :).

    BalasHapus