Selasa, 12 Mei 2015

[Movie] Testament of Youth (2015)


Testament of Youth
(2015 - BBC Films/Lionsgate UK)

Directed by James Kent
Screenplay by Juliette Towhidi
Based on the memoir by Vera Brittain
Produced by David Heyman, Rosie Alison
Cast: Alicia Vikander, Kit Harington, Taron Egerton, Emily Watson, Dominic West, Colin Morgan, Miranda Richardson, Hayley Atwell, Alexandra Roach


Memasuki milenium baru, banyak film bertema perang yang punya misi menyampaikan pesan antiperang. Ternyata, pesan itu bukanlah pemikiran khas generasi sekarang. Seorang wanita terpelajar asal Inggris, Vera Brittain sudah menyuarakan pesan itu sejak Perang Dunia I di awal abad ke-20. Memoarnya yang berjudul Testament of Youth pun dianggap sebagai salah satu buku tentang perang yang dianggap paling penting. Kisah Brittain kini diangkat ke layar lebar oleh BBC Films, bekerja sama dengan Heyday Films, Screen Yorkshire dan BFI, di bawah arahan sutradara James Kent.

Vera Brittain (Alicia Vikander) berasal dari keluarga terhormat yang memegang nilai-nilai tradisional. Keadaan ini cukup merepotkan mengingat Vera yang terbukti cerdas ingin lanjut ke bangku kuliah. Sementara orang tuanya takut ia tak akan dapat suami jika berpendidikan terlalu tinggi. Namun, setelah diyakinkan oleh sang adik, Edward (Taron Egerton), Vera akhirnya diizinkan untuk berkuliah di fakultas khusus perempuan di Oxford. Ketakutan orang tuanya terhadap nasib Vera pun tidak terbukti, karena tak lama setelahnya, Vera menjadi calon istri dari Roland Leighton (Kit Harington), seorang pemuda dengan minat dan pemikiran yang sama dengan Vera.

Sayangnya, perjalanan menuju cita-cita itu penuh tantangan. Perang mulai pecah di tanah Eropa, dan menjalar sampai Inggris. Para pemuda, termasuk Edward dan Roland memutuskan ikut berperang. Vera turut merasakan kegelisahan dalam keadaan genting ini, sehingga ia menjadi perawat sukarela di rumah sakit, merawat para korban terluka akibat perang. Dalam keadaan ini, ia tetap menulis surat kepada adik dan kekasihnya, sekalipun tidak semua surat itu terbalaskan.

Film Testament of Youth secara rapi dan terstruktur hendak menyampaikan tentang siapa itu Vera Brittain, dan apa yang membuatnya istimewa untuk dibahas. Maka, film ini berpatokan pada memperkenalkan sosok Brittain, serta peristiwa-peristiwa yang membuat dirinya dengan tegas menentang perang, dan jadi salah satu aktivis antiperang di kemudian hari. Menentang perang mungkin bukan sebuah pemikiran hebat di zaman sekarang, namun bagi Brittain itu sesuatu yang harus diperjuangkan dengan keras. Terlebih lagi dia seorang perempuan, dari keluarga terpandang, di bangsa yang belum kenal persamaan hak pada zaman itu.

Di satu sisi, film ini ingin menekankan pada nilai-nilai yang harus dilawan Brittain pada zaman itu, demi memenuhi hasratnya untuk maju dan teremansipasi. Setelah mendapat izin untuk kuliah, ia harus bekerja keras untuk sukses di perkuliahan. Seperti diujarkan sang dosen, Miss Lorimer (Miranda Richardson), kaum perempuan mau tidak mau harus berjuang dua kali lebih keras dan jadi lebih baik dari kaum pria hanya supaya bisa dianggap setara. Pilihannya untuk jadi perawat pun mendapat tantangan karena status sosialnya, ketika Brittain dianggap terlalu "priyayi" untuk melakukan kerja kotor. 

Tak berhenti di situ, Brittain juga harus alami dilema moral ketika ditugaskan di medan perang, tepatnya di bangsal pengobatan bagi tentara musuh. Awalnya, ia memang bergabung sebagai perawat perang karena sebatas itulah sumbangsih maksimal bagi seorang perempuan seusianya dalam membela tanah air. Namun, belakangan peristiwa-peristiwa yang dialami akhirnya menggembleng mental Brittain, dan membawanya pada satu konklusi bahwa perang tak membawa kebaikan dalam bentuk apa pun, terhadap pihak mana pun.

Di sisi lain, film ini juga berusaha menggambarkan sisi emosional dari kehidupan Brittain, yang turut membentuk pemikirannya itu. Ini berkaitan dengan hubungannya dengan Roland dan juga Edward. Sisi ini sebenarnya berpotensi menjebak sosok Brittain di film ini menjadi terlalu lembek, bahwa ia menentang perang semata-mata karena hal-hal yang menimpa orang-orang yang dicintainya dan dekat secara pribadi. Penggambaran hubungan cinta Brittain dan Roland juga cukup intens dan menarik layaknya film-film roman, serta digunakan sebagai salah satu motivasi utama perjalanan Brittain sepanjang film.

Akan tetapi, film ini sukses menghindari jebakan itu. Meski hubungan cintanya punya peran besar, film ini memberi porsi yang sama banyaknya, bahkan lebih banyak, pada perjuangan Brittain di tengah peperangan. Keseimbangan dua sisi tersebut akhirnya yang menjadi keunggulan utama Testament of Youth ini. Bahwa cinta bukan satu-satunya motivasi Brittain, melainkan juga keadaan sekitarnya secara luas, yang mendorongnya untuk berkontribusi.

Memang, secara tema dan penggarapan, tidak ada yang spektakuler dari film ini. Penyusunan cerita dan penuturannya termasuk konvensional, sedangkan pesan antiperang-nya juga bukan hal yang baru lagi jika dilihat di masa sekarang. Adegan-adegan perangnya juga tidak diperlihatkan. Malah lebih banyak adegan yang atmosfernya mendayu-dayu—dengan pembacaan baris-baris puisi dan montase gambar bergerak layaknya film-film Terrence Malick (The Tree of Life, The New World), terutama di pertengahan menuju akhir film. 

Namun, secara garis besar Testament of Youth berhasil mengangkat nilai-nilai yang memang patut diketahui dan patut diserap dari Brittain, dengan cara menunjukkan hal-hal yang perlu dan meminimalisir yang tidak perlu. Penggambaran sosok Brittain sekilas terlalu heroik, namun sisi rapuh dan kesulitannya untuk bergaul juga ditunjukkan, sehingga membuatnya tidak terlalu komikal. Performa apik dari aktris cantik Swedia, Alicia Vikander pun memperkuat atas penyampaian tentang siapa dan bagaimana Brittain itu, sehingga bisa membuat yang menonton jadi ikut peduli, dan mungkin mendukung apa yang jadi perjuangannya.




My score: 7/10


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar