Minggu, 12 April 2015

[Movie] Kampung Zombie (2015)


Kampung Zombie
(2015 - Movie Eight/Rumah Satu Film/Popcorn Film)

Directed by Billy Christian, Helfi Kardit
Written by Baskoro Adi
Produced by Ody Mulya Hidayat
Cast: Luthya Sury, El Jalaluddin Rumi, Kia Poetri, Axel Matthew Thomas, Ali Mensan


Kampung Zombie adalah sebuah produk yang simpel sekali. Film ini tidak punya layer lain selain menakuti penonton dengan teror zombie. Ada sekelompok orang muda nahas yang harus terjebak di sebuah tempat penuh kengerian lalu tinggal tebak siapa yang mati dan siapa yang lolos. Mungkin karena ini semacam proyek coba-coba, jadi belum berani menaruh teror zombie-zombie-an dalam situasi yang lain.

So, dengan dasar itu, sebenarnya film ini sudah di jalan yang benar, yaitu rangkaian adegan orang-orang menghindari atau (kalau berani) membasmi zombie, semakin terancam akan semakin seru. Tinggal tambahkan zombie-zombienya seperti apa, orang-orangnya seperti apa, dan pengadeganan yang turut meneror penonton. Untuk poin pertama, film ini sudah punya konsep yang menarik tentang zombienya. Prinsip zombie 'kan kebalikan dari hantu: kalau hantu itu jiwa tanpa tubuh, maka zombie itu tubuh tanpa jiwa. Jadi sangat menarik buat gw ketika film ini coba menciptakan zombie-zombie yang terjebak oleh kesehariannya saat masih "punya jiwa", tapi sekarang ditambah dengan makan orang. 

Poin kedua juga udah lumayan, lumayan klise maksudnya hahaha. Ada tokoh yang lawak, ada yang cool, ada yang tough, ada yang spoiled, ada yang the other cool but doomed *oops*, dan saling terhubung dengan naksir-naksiran dan segala macam. Tapi ya sayangnya bagian ini juga kurang maksimal, mulai dari porsi dan pengadeganannya yang cukup kaku, juga aktingnya yang cukup seadanya saja (kecuali Ali Mensan yang seperti paling niat berakting). Tapi ya okelah, melihat mereka panik atau ketakutan di dekat zombie juga udah cukup kok.

Nah, kita masuk ke poin tiga, yang jadi permasalaan utama gue untuk sebuah film berlabel horor. Eksekusi kehororan film ini sangat loyo, bahkan nggak bikin gw yang penakut dan nggak suka horor ini bergidik, boro-boro terteror. Semua terasa safe dan soft, apalagi untuk konsumsi di bioskop. Film ini sangat minim darah, bahkan adegan tubuh ditusuk pun nggak diperlihatkan jelas. Gw akan memaklumi kalau filmnya ini buatan mahasiswa atau untuk konsumsi TV, tapi untuk bioskop, gw rasa pembuat filmnya belum benar-benar "lepas" untuk merancang teror yang lebih nendang. Ya untunglah ada beberapa adegan kagetan yang lumayan bisa bikin tetap terjaga.

Tapi, harus diakui juga eksekusi keseluruhannya emang cukup lemah, padahal harusnya bisa lebih baik, gw sih bisa lihat itu. Dengan konsep yang cukup punya bentuk, hasil akhirnya justru semacam kehilangan bentuk. Bahkan zombienya ini sensitif sama apa tidak diperlihatkan jelas--apakah nyamperin manusia karena melihat, membau, atau karena suara, atau mencium kebodohan mereka, anything works as long as it is explained and consistent. Dan, tentu saja mengapa mereka memilih satu orang untuk diritualkan jadi zombie juga kita nggak bakal tahu. 

There's quite a lot confussion to me here, entah itu pengaruh sutradaranya ada dua tapi nggak kerja sama (katanya ada bagian filmnya yang di-take-over karena produser nggak puas), atau editingnya, atau skripnya, atau ya sesimpel filmnya terlalu dini untuk dirilis sehingga nggak punya waktu untuk quality control (dubbingnya kacau). Yang pasti untuk sebuah film yang katanya film horor zombie pertama di Indonesia, dan juga punya konsep cerita dan visual yang sebenarnya punya potensi untuk jadi bagus, hasilnya ternyata nggak maksimal. Tapi, untuk menghadirkan sesuatu yang beda di tengah-tengah film-film horor kita yang cuma mentok di rumah hantu, dan juga karena dirancang nggak asal-asalan, gw kasih poin tambahan deh buat film ini.




My score: 6/10

1 komentar: