Sabtu, 18 April 2015

[Movie] Ada Surga di Rumahmu (2015)


Ada Surga di Rumahmu
(2015 - Mizan Productions/Nava Productions)

Directed by Aditya Gumay
Screenplay by Oka Aurora
Inspired by the book by Ustaz Ahmad Al-Habsyi
Produced by Avesina Soebli, Nadjmi Zen
Cast: Husein Alatas, Nina Septiani, Zee Zee Shahab, Elma Theana, Khairul Budi, Raihan Khan, Ahmad Al-Habsyi, Qya Gus Ditra, Hendra Wirajaya, Diza Rafengga, Nyayu Nurjannah


Ada Surga di Rumahmu adalah film yang terinspirasi dari pengalaman salah seorang ustaz yang sering muncul di TV, Ustaz Al-Habsy. Tetapi instead of biografi, film ini lebih berfokus pada perjalanan seorang pemuda hingga akhirnya jadi seorang ustaz sebagaimana harapan orang tuanya. Dan perjalanan itu mencakup nyoba-nyoba jadi artis dan memilih antara dua wanita yang mencintainya.

Well, obviously gw bukan target penonton film ini. Masalahnya bukan karena filmnya agamawi dan penuh dengan petuah-petuah bijak dan pemain perempuannya berhijab semua (no kidding, all of them are), tetapi lebih kepada pengemasan dan penyampaiannya. Entah bagaimana ketahuan sekali bahwa film ini dibuat dengan "cara lama", menyampaikan kisahnya dengan serba verbal dan stereotipikal (teman tim hore, ibu tajir judes, pelanggan jahit marah-marah, dua cewek rival cinta dengan yang satu sudah dijodohkan dengan orang kaya sombong dan satu lagi memendam perasaan dan bisanya nangis, petugas pendaftaran casting yang sok cuek dan sok ngusir. Is this 2015?). Gw bahkan baru sadar kalau film ini sebenarnya mau menyampaikan tentang hubungan kasih sayang orang tua dan anak baru benar-benar di ujung, itu pun karena diujarkan.

Gw ngerti niat dan tujuan film ini untuk mengajarkan hal yang baik. Materinya juga sebenarnya baik, cukup menghibur malah, nggak ada yang salah di segi ini, paling nggak ini bukan roman picisan. Karakterisasinya dibangun cukup baik dan dimainkan dengan...well...fine-lah. Ketimbang menciptakan tokoh-tokoh serba sempurna, film ini masih mau menunjukkan sedikit sisi jeleknya, kayak kenakalan masa-masa di pesantren dan sebagainya. Cuma, sekali lagi, kemasannya itu lho yang benar-benar "tradisional", pengadeganannya, blocking-nya, dan beberapa jokes-nya pun masih terkesan sinetron banget (walau bukan dalam arti sejelek itu), yang tampaknya saja emosional tapi tidak berasa. Gw bahkan sampai geleng-geleng tertawa sama adegan pengajian yang diganggu preman mabok, saking "sederhana"-nya. Seolah-olah pembuat filmnya tidak tahu cara lain yang lebih baik dalam menyampaikan cerita ini.

Entahlah, gw sih merasa materi ini bisa dikemas dengan lebih menarik dan lebih nendang lagi. Hasil akhir film ini terlalu naif, dan bikin gw mempertanyakan kenapa gw harus nonton ini di bioskop dengan bayar tiket--well kecuali beberapa shot dari kameranya yang lumayan. Okelah kalau memang secara production value dan pengadeganannya memang nggak fancy, tapi setidaknya benang merah ceritanya diperjelaslah, apa sebenarnya yang mau ditekankan dari cerita ini, instead of menjejali adegan-adegan yang kesinambungannya diragukan dan berbagai-bagai petuah yang juga nggak diterapkan oleh tokoh-tokohnya dalam cerita. Mungkin ada orang yang nonton film cari petuah sehingga apa pun kata-kata bagus yang diucapkan (dan dituliskan. Serius, ada yang ditulis) akan diterima dengan baik, sehingga kesan dari film ini jadi baik. Sementara, bukan begitu cara gw untuk menikmati sebuah film sekaligus terinspirasi darinya. Maaf.




My score: 6/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar